Saya teringat dengan dua pengalaman unik yang terjadi belasan tahun silam, yang terjadi ketika saya masih Sekolah Dasar. Dua pengalaman tersebut adalah Pertama, pada awal dan akhir pelajaran, kami awali dengan doa bersama. Kadang kami awali doa-doa pendek agama dalam katolik, kadang pula dengan melafalkan ayat-ayat pendek dalam Al-Quran. Demikian pula sebaliknya pada setiap akhir pelajaran. Dalam kisah kecil masa kecil saya sudah mengisahkan tentang ini.

Kedua adalah tradisi sehat mengucapkan salam pada awal dan akhir setiap perjumpaan, baik dalam ruang kelas maupun dalam pergaulan sehari-hari. Kami dibiasakan untuk mengucapkan salam kepada siapa dan kapan saja. Lantaran, saya hidup di tengah mayoritas kaum muslim saya dan kawan-kawan yang beragama Katolik yang lain menjadi terbiasa untuk mengucapkan salam pada setiap awal perjumpaan dengan “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” atau membalasnya dengan  “Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh”.

Situasi ini bisa dipahami. Sebab, mayoritas teman sekolah dasar saya adalah kaum muslim, demikian juga dengan guru-gurunya, kendatipun di papan nama sekolah tertera dengan huruf kapital ‘Sekolah Dasar Katolik’. Lantaran pengalaman unik itulah, saya mendapatkan banyak manfaat dalam relasi dan pergaulan saya, secara tidak sadar dan tidak langsung saya diajarkan tentang sikap toleran, sikap saling peduli,  sikap saling menghargai dan menghormati. Namun ketika menamatkan sekolah dasar, persisnya ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama sampai masuk Perguruan Tinggi, kebiasaan itu hilang begitu saja. Dalam praksisnya saya tidak pernah lagi mempraktikkannya.

Namun demikian sebagai sebuah kenangan dia membekas-mengkristal. Saya mengalaminya dalam proses pematangan (olah) rasa dan dalam bangunan penajaman pikiran atau pemahaman saya sadar betul bahwa saya termasuk anak yang beruntung. Saya bisa berelasi dengan bebas dan dapat membangun hubungan yang baik tanpa rasa takut. Saya tidak hanya merasa aman dan nyaman dalam pergaulan, tetapi juga saya merasa yakin bahwa saya dapat diterima dan dihargai.

Keyakinan akan kenangan, pengalaman dan pemahaman itulah yang akhirnya menjadi kekuatan bagi saya ketika saya menetap (untuk sementara) di Meulaboh Aceh Barat. Keyakinan itu tidak hanya memperkokoh pemahaman dan konsep tentang cara berelasi dan bergaul sebagai minoritas di tengah mayoritas Muslim, tetapi juga dalam praksisnya saya serupa kembali ke masa usia Sekolah Dasar. Walau pun dalam banyak hal berbeda.

Satu kenangan yang membekas dan akhirnya selalu berulang pada hari-hariku di Meulaboh Aceh Barat adalah kembali terbiasa untuk mengucapkan salam “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”. Selalu dan senantiasa saya mengucapkan salam itu dalam perjumpaan-perjumpaan saya dengan siapa dan kapan saja. Demikian juga sebaliknya jika saya kedatangan tamu, baik yang belum saya kenal maupun para sahabat, jika dari depan pintu ucapan salam itu meluncur, maka spontan saya akan membalasnya “Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh”.

Terlepas dari kebiasaan saya ini, sekarang ini, dinilai-lihat sebagai yang benar atau yang salah dalam perspektif hukum Islam, namun saya saya sebagai yang minoritas, mengalami melalui dan dalam perjumpaan yang diawali dengan salam tersebut sebagai sebuah pengalaman yang  indah dan penuh emosional. Ada hasrat yang lebih dalam dada tentang keteduhan, kesejukan, kedamaian dan kebahagiaan. Ada situasi dimana tercipta keharmonisan, bahwa tidak ada perbedaan dalam hal menebar cinta, melepas sayang, menabur cinta.

Jika saya dan juga anda mengalaminya sungguh arti salam itu, kepada siapa pun dan kapan pun, baik sahabat maupun orang asing kita serupa dipangku-peluk jadi satu sebagai saudara sebagai makhluk Allah yang meluap-luap gairah cinta.

Saya membayangkan, andai saja sebagai sebuah bangsa kita belajar dan menghayati tentang makna, sekali lagi tentang makna salam ini, saya yakin kita akan selalu hidup rukun dan damai. Sebagai warga bangsa yang majemuk dan hidup dalam kemajemukan, sepantasnya kita saling belajar dan memaknai. Kita harus menjunjung tinggi moralitas universal, tanpa harus meninggalkan keyakinan dan kepercayaan kita masing-masing. Salam.