Tulisan yang ditandai ‘sajak’

Kisah Di Ujung Jalan

Ke ujung jalan itu, dekat mesjid yang bersebelahan dengan gereja, kami berjalan bergandengan tangan. Jari-jari kami saling mengunci. Bilah tapak tangan kami saling genggam. Seperti tak akan terpisahkan, seperti tak akan terpatahkan. Walau di ujung jalan itu, setelah kami tetapkan hati, semuanya mungkin bisa akan berubah.

***

Di ujung jalan itu, ketika aku hendak menuju pintu mesjid dan ia menuju pintu gereja, genggaman tangan kami lepas perlahan, walau terasa berat. “Aku akan bersimpuh di bawah kubah” kataku. “Di depan tabernakel aku akan meminta restu” katanya. “Di atas sajadah akan kutumpahkan rasa” kataku lagi. “Dalam tunduk yang khusuk aku akan curahkan semua” katanya lagi. Lalu kami berpisah.

Dalam rasa genggaman kami masih terasa hangat. Masih kurasa sapa tapaknya, senyum jermarinya. Namun entah mengapa, kami berpaling bersamaan. Mata kami saling pandang. Dalam jarak yang seperti sejengkal. Oh Tuhan…!

Pandangan kami jauh lebih menyapa dari kedua tapak tangan, jauh lebih tersentuh dari sentuhan jari-jari terkunci. Desah napasnya, bau tubuhnya, senyum sapanya, lentik matanya serupa tak berjarak. Kami seperti sudah sedang bersatu, suluk dalam satu kata ‘cinta’.

Dalam kalut, dalam harap aku hanya bisa berdoa “Ya Allah, apakah cinta harus meliku begitu pelik, sampai aku harus tunduk pada kitab suci-Mu”. Dari kejauhan, di antara tangga-tangga gereja, ia meneteskan air mata. Seperti sebuah pertanda, bahwa memang cinta tidak lebih dasyat dari sebuah lingkup keyakinan.

***

Aku tak yakin kami saling doa. Di bawah kubah, di atas sajadah aku tak kuat panjatkan harap, tumpahkah rasa. Melintang dalam benak dan bayang, dalam rasa dan senyap kalbu hanya tentang air matanya. Air mata pengharapan, air mata cinta. Demikain juga dia. Sepertinya dia tidak sedang berdoa. Mungkin di depan taberkanel dia hanya mengumpat “Tuhan, harus serupa itukah jika aku jatuh cinta, haruskah Kau yang menentukan pula”. Kutahu dia larut dalam kalut, seperti aku yang membiarkan doa dan harap menggelantung berayun-ayun.

Dalam waktu yang sekian, kami sudahi harap dan doa. Perlahan kuberanjak ke luar menuju pintu mesjid. Di sana, di depan pintu gereja aku melihat dia telah menunggu. Mengejutkanku, ia menungguku dengan senyum mekar, dengan mata berbinar, dengan kedua tapak tangan memanggil.

“Aku sudah menemukan jawaban” katanya sambil perlahan mendekat. “Bahwa memang engkaulah cintaku, engkaulah kekasihku, engkaulah tumpuan dan harapanku. Tapi semuanya akan terjadi pada ketika kita sudah berada dalam dunia yang sesungguhnya”.

Seperti ditimpa lelah yang panjang, aku jatuh menumbuk anak tangga. Aku tak kuasa melepas kata. Dalam mata yang berkaca-kaca aku hanya berulang serukan istiqfar “astafirulazim…astafirulazim…astafirulazim…”

***

Semuanya berubah. Jawaban yang terlalu singkat untuk sebuah perjalanan perjumpaan rasa yang panjang. Berlarut dalam tahun-tahun yang panjang, pada kami bersama kisahkan rasa. Namun semuanya sudah. Semuanya tuntas di depan pintu keyakinan, di antara anak-anak tangga kepercayaan, di ujung jalan yang jauh lebih sepi dan senyap kubah mesjid dan sepi menara gereja.

 

 

 

Puisi atau Sajak Tidak Sekedar Sekumpulan Kata Indah

Demikian juga bukanlah sekedar menghiraukan pesan, isi, dan tema. Itu kata-komentar penyair O, Amuk, Kapak, Sutardji Calzoum Bachri dalam esai pendeknya yang berjudul ‘Perihal sajak yang tidak dimuat’ dalam Bentara Kompas (Gelak Esai & Ombak Sajak Anno, Bentara Kompas, 2001). Katanya, meskipun sudah ribuan sajak yang sampai ke ‘Bentara’, namun sangat sedikit yang layak dimuat. Karena sajak, hanya semacam ‘sekumpulan’ kata indah, pun pula hanya semacam potret.

Sajak atau puisi boleh semacam potret, namun bukan sekedar potret datar. Harus selalu ada nilai plus yang ditawarkan. Yang plus itu adalah memberikan perhatian maksimal pada cara pengungkapan bahasanya. Artinya, puisi harus menghiraukan puisi itu sendiri, dan harus meraih roh puisi itu sendiri.

“Jika engkau sengaja meniatkan puisimu kosong dari tema dan pesan, sekedar elaborasi ungkapan atau kata-kata, bahkan sekedar bunyian dari kata-kata namun jika engkau membuatnya padu, intens, terkontrol, menarik dan cantik serta unik dan luar biasa, saya yakin pembaca akan segera sibuk mencarikan tema atau pesan untuk sajakmu yang kau klaim kosong tema atau tanpa makna itu. Engkau tinggal ongkang-onkang senyum dan ketawa, sementara pembaca dan kritikus ikhlas gembira memeras keringat hati dan otaknya untuk mencarikan pesan atau makna pada sajakmu itu” demikian kata Sutardji.

Sekedar sebagai contoh saya mengangkat dua sajak di bawah ini, yang menurut hemat pembaca ‘tidak laku’ (kurang lebih begitu). Dua sajak itu adalah sajak-sajak saya sendiri. Kedua sajak itu saya tulis pada 2004, tetapi oleh seorang sahabat yang ‘jago bikin’ sajak mengatakan ‘Puisi apa itu?” dan seorang sahabat yang lain lagi, yang juga jago bikin sajak mengatakan ‘’kenapa engkau suka sekali dengan lendir. Sedikit-sedikit sanggama, sedikit-sedikit ngentot, sedikit-sedikit nafsu birahi’’ katanya.

Ya Shallam

Anjing kau!

Babi  kau!

Bangsat kau!

Biadab kau!

Setan kau!

Puki mak kau!

Ngentot kau!

Dilempar mengepung diriku

Aku merinding

Nurani berapi

Meletuskan kata-kata mati

Yang lebih tajam dari belati

(Pebruari 2004)

 

Setubuh Malam

Pada malam menggigil

Dan menjadi hangat diselimut mimpi

Aku ditindih bugil putih

Leleh lendirnya terasa hangat

Membasahi selangkanganku

Kami bersatu di ruang sepi

Menyantap nafsu birahi

Tanpa cinta,

Tanpa ikatan

Tanpa dosa

Hingga kubangun esok pagi

Mandi basah membaptisku

Di ruang sadar seperti sedia kala

(April 2004)

Pada 2004, saya merasa, apa yang saya sebut sebagai puisi sudah seperti itu. Sekumpulan kata ‘berpesan’, tetapi membacanya lagi dan lagi, rupa-rupanya tidak cukup mengandung ‘pesan’ saja. Sebuah puisi harus, meminjam kalimat Sutardji, memiliki nilai plus. Yakni serangkai kata yang padu, intens, terkontrol, menarik dan cantik serta unik dan luar biasa.

Jujur saja, sebagai seorang ‘anak manusia’ yang lahir tanpa bakat bikin sajak, tetapi yang baru mau belajar menulis sajak atau puisi, untuk sampai ‘menggenapkan titah tuan Sutardji’ butuh waktu dan proses yang panjang.

Well, untuk itu, sebagai bagian dari proses belajar menulis sajak, simak baik-baik tiga sajak Sutardji berikut ini:

 

Pot ( 1970 )

Pot apa pot itu pot kaukah pot aku

Pot pot pot

Yang jawab pot pot pot pot kaukah pot itu

Yang jawab pot pot pot pot kaukah pot aku

Pot pot pot

Potapa potitu potkaukah potaku ?

Belajar Membaca

Kakiku luka
Luka kakiku
Kakikau lukakah
Lukakah kakikau
Kalau kakikau luka
Kakiku luka
Lukakaukah kakiku
Kalau lukaku lukakau
Kakiku kakikaukah
Kakikaukah kakiku
Kakiku luka kaku
Kalau lukaku lukakau
Lukakakukakiku lukakakukakikaukah
Lukakakukakikaukah lukakakukakiku

Sepisaupi

Sepisau luka sepisau duri
Sepikul dosa sepukau sepi
Sepisau duka serisau diri
Sepisau sepi sepisau nyanyi

Sepisaupa sepisaupi
Sepisapanya sepikau sepi
Sepisaupa sepisaupi
Sepikul diri keranjang diri

Sepisaupa sepisaupi
Sepisaupa sepisaupi
Sepisaupa sepisaupi
Sampai pisauNya ke dalam nyanyi

Simak-baca-cerna tiga sajak di atas. Adakah pesan yang mau disampaikan kepada pembaca dengan sajak-sajak tersebut? Adakah yang dapat menjelaskan arti atau makna dari sekuplet ini ‘‘Potapa potitu potkaukah potaku?’’ atau sekuplet ini ‘‘Lukakakukakiku lukakakukakikaukah//Lukakakukakikaukah lukakakukakiku” atau sekuplet yang ini “Sampai pisauNya ke dalam nyanyi”.

Sebagaimana anda yang sudah sedang belajar, seperti itulah saya. Namun yang pasti bahwa belajar menulis sajak adalah belajar menuliskan rasa kata yang tidak hanya indah didengar, punya pesan yang mendalam, dan atau mengantarkan tema tertentu ke pembaca, tetapi juga harus sampai menangkap roh kata itu sendiri. Serangkai kata yang padu, intens, terkontrol, menarik dan cantik serta unik dan luar biasa. Seperti apakah itu, berpuisilah…

Menulis Sastera itu Mudah, Ini Kata Mereka

Sebagian besar dari kita mengeluhkan tentang sulitnya kegiatan yang disebut menulis sastera seperti puisi, cerpen, novel atau roman. Alih-alih ingin menulis, justru yang dialami adalah sulitnya menemukan topik dan tema. ‘Lagi bad mood’ kata sebagian orang. Pun jika sudah menemukan tema atau topik tertentu, masih pula sulit menemukan kata dan atau kalimat pembuka ‘Lagi cari-cari kata-kata pertama’ kata sebagian yang lain. Tidak hanya itu, sekalipun sudah menulis tentang sesuatu keluhan itu tidak juga lekas lalu “Wah tulisan ini kacau sekali”. Lantaran itu, tidak heran jika, berlembar-lembar kertas disobek-campak ke dalam tempat sampah. Namun tidak jadi-jadi juga. Kemudian putus asa “Malas, kalau begini terus”.

Lalu bagaimana dan mengapa seseorang atau sebagian orang yang lain bisa menulis dengan begitu mudah gampang. Inilah pendapat dan komentar mereka: para penulis kenamaan tanah air yang saya ringkas-rangkum dari Pamasuk Eneste (ed) ‘Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang’ KPG: 2009.

Apa Kata Mereka:

Sutan Takdir Alisjahbana

“Tentu menulis karangan sastera itu ada waktunya segala sesuatu berjalan lancar, tetapi sering pula kita berjuang amat lama untuk sebaris, satu alinea ataupun satu halaman. Beberapa kali kertas-kertas disobekkan, dan kita memulai dari semula. Dan meski bagaimana pun kita berusaha untuk mencapai sebaik-baiknya, di sisi bagian-bagian yang menyenangkan kita, yang senantiasa kita menghadapi bagian-bagian dari ciptaan kita menimbulkan perasaan tak puas. Terhadap bagian-bagian yang memuaskan itu yaitu yang menggemakan getaran jiwa kita sesungguhnya, saya sering bersifat sebagai seorang Adonis yang girang menikmati baying-bayang wajahnya dalam cermin. Si penulis bukan saja menjadi pembaca pertama, tetapi pembaca yang berulang-ulang membaca ciptaannya sendiri. Kira-kira umur 15 tahun saya mulai menulis….”

Subagio Sastrowardoyo

“Di dalam penulisan sajak, keterpukauan saya pada nilai-nilai keindahan yang kekal tidak saja merupakan desakan untuk menulis, tetapi juga mempengaruhi pemilihan pokok karangan, bermacam-macam tema mendasari sajak-sajak saya, seperti tema kesepian, cinta jasmaniah atau nasib yang tak menentu….ketika saya mendapat ilham, kata-kata dengan sendirinya menetes dari bathin saya dan menyusun sendiri kalimat-kalimat sajak. Kerapkali saya merasa seperti mabuk kata-kata dan pedoman yang saya pakai dalam menguasai desakan aliran kata-kata adalah irama yang melekat padanya”

A.A. Navis

“Bagi saya menulis tidaklah begitu mudah. Bahasa Indonesia saya tidak lancar. Sejak kecil, selama sebelas tahun saya tidak diajarkan untuk menulis. Saya pun tidak mempunyai pengalaman yang ovuntur, aneh-aneh sehingga saya tidak mempunyai bahan yang luar biasa untuk diberitakan kembali dalam ciptaan-ciptaan saya. Lalu mengapa saya menjadi pengarang? Sejak sekolah rendah saya sudah gemar membaca. Dan karena gemar membaca, saya menjadi suka menulis. Inspirasi tulisan-tulisan saya bisa lahir karena membaca cerpen orang lain, ada yang setelah menonton film adan yang setelah mendengar cerita orang lain, ada pula yang karena melihat tingkah laku orang orang”

N.H Dini

“Adapun cara saya memilih tema dan bagaimana saya mengarang, saya rasa mulai dari waktu masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas sampai sekarang tidaklah berubah. Munculnya pikiran atau ide biasanya disebabkan karena pancaindra. Saya banyak sekali mengamati dan mendengakan kejadian di lungkungan saya. Semua yang saya tulisa saya angkat dari kehidupan yang sebenarnya. Kejadian yang satu saya kaitkan dengan atau saya tambahi dengan kejadian yang lain. Di sana sini saya tambah dengan imajinasi setting atau dialog, sesuati dengan kepribadian dan pendapat atau prinsip saya terhadap hidup. Saya bisa mempergunakan seorang tokoh sebagai corong ide saya”

Budi Darma

“Saya tidak tahu apakah saya beruntung atau tidak, mempunyai imajinasi yang kadang-kadang ganas dan melonjak-lonjak. Imajinasi adalah sesuatu yang tidak ada kemudian menjadi ada dalam alam pikiran saya. Mungkin saya beruntung, karena imajinasi adalah salah satu modal kepengarangan saya. Tanpa imajinasi, mungkin saya hanyalah seorang ayah yang baik, seorang dosen yang jempolan, dan seorang pejabat perguruan tinggi yang dihormati. Ini kalau saya boleh menilai diri saya sendiri demikian”

Ajib Rosidi

“Menulis bagi saya bukanlah pertama-tama karena dorongan ingin memperoleh kepuasan bathin, lantaran telah melahirkan sesuatu yang indah atau ganjil. Ia lebih merupakan dorongan untuk membuat kesaksian. Kesaksian hidup”

Putu Wijaya

“Saya menulis karena ada kebutuhan untuk mengemukakan gagasan, hasil pengamatan, saran dan pendapat yang sama atau berbeda dengan orang lain…saya memilih hal yang kecil-kecil. Yang lucu tapi unik. Yang tak menyakiti orang lain. Yang tidak diutak-atik orang lain. Kadangkala saya memancing dan merangsang, kadangkala menunjukkan pendapat secara samar, kemudian mengelak, karena bukan pendapat saya yang penting, tetapi pendapat orang lain itu yang penting”

Kalau Saya…

Bagi saya pribadi kegiatan menulis merupakan kegiatan belajar dan berlatih yang dilakukan secara berulang. sebuah proses belajar tanpa henti. Sekedar berbagi, saya menuliskan tentang apa yang saya pikirkan seperti apa yang saya katakan atau ucapkan. Memang menulis butuh energi ekstra, karena bagi saya menuliskan sesuatu seperti apa yang saya katakan/ucapkan tidak sekedar mengucapkan atau menuliskan. Sebaliknya, saya mengucapkan dengan benar dan baik, demikian juga harus pula menuliskan secara benar dan baik.

Mengucapkan, lebih-lebih menuliskan secara baik dan benar artinya: pertama, sesuai dengan kaidah dan tata bahasa yang baik dan benar. Menggunakan pilihan kata yang tepat. gaya bahasa yang pas. Menggunakan simbol dan tanda baca yang tepat. Walau pun sebenarnya untuk ini saya sudah sedang belajar, dan terus belajar. Karena di sana sini masih saya temukan kekurangan dan bahkan kesalahan.

Kedua adalah baik dan benar dalam artian sesuai dengan kesantunan dalam bertutur kata dan berbahasa. Saya berusaha menjunjung tinggi etika dan nilai-nilai. Menuliskan kemarahan dengan santun. Saya menuliskan ketidakpuasan bukan dengan nada mengejek, tetapi mencoba untuk menyampaikan kritik secara kritis.

Ketiga adalah baik dan benar dalam artian sesuai dengan situasi. Setelah saya membaca banyak tulisan para penulis besar, sekurang-kurangnya yang ada di tanah air ini, saya menyimpulkan bahwa jika mau menulis, saya harus menuliskan tentang sesuatu yang benar-benar menyapa pembaca, kontekstual dan harus pula bersifat pemberitaan.

Sabda Zarathustra Selalu Kembali

Nietzsche dilahirkan di kota Röcken, di wilayah Sachsen. Orang tuanya adalah pendeta Lutheran Carl Ludwig Nietzsche (1813-1849) dan istrinya Franziska, nama lajang Oehler (1826-1897). Ia diberi nama untuk menghormati kaisar Prusia Friedrich Wilhelm IV yang memiliki tanggal lahir yang sama. Adik perempuannya Elisabeth dilahirkan pada 1846. Setelah kematian ayahnya pada 1849 dan adik laki-lakinya Ludwig Joseph (1848-1850) keluarga ini pindah ke Naumburg dekat Saale.

“Agama, yang mungkin engkau memeluknya. Tetapi engkau tidak mengenalnya. (Agama), yang mungkin engkau mempercayainya. Tetapi engkau dijauhkan olehnya” Ini adalah sekuplet dari ‘Palung Laut Merah Darah’ Alaxander Aur. Dan jauh sebelum sajak ini lahir. Dalam Also sprach Zarathustra, Nietzsche mengejutkan ruang rasa dan pikir kita dengan teriakannya: “Lihatlah, aku mengajarkan Ubermensch kepadamu. Ubermensch adalah makna dunia ini. Biarkanlah kehendakmu berseru. Hendaknya Ubermensch menjadi makna dunia ini”

***

Sekuplet sajak Aur dan sepenggal ‘sabda’ Zarathustra di atas jelas tak terbantahkan.  Bahwa bukan hanya kepada agama kita mengambil jarak dan perlahan menjauhinya, tetapi pula kepada Tuhan, yang disabdakan para Nabi dalam Zabur, Taurat, Injil  dan al-Quran. Kita tidak hanya tidak mengetahui apa dan siapa yang kita imani, tetapi juga kita telah menampik dan melupakannya. Kita tidak hanya telah mengabaikan Tuhan seperti yang sudah kita yakini sekian lama, tetapi telah menggantikannya dengan ‘Tuhan’ yang lain.

Masih dalam Also sprach Zarathustra, melalui mulut orang gila, Nietzsche mengumandangkan kematian Tuhan “Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu”

Membaca sajak Alexander Aur, lantas mendiamkannya sesaat untuk suluk di dalamnya dengan berkaca pada apa yang dikumandangkan Nietzsche, aku jadi yakin bahwa sesungguhnya Zarahustra itu ‘telah’ kembali. Dia selalu kembali manakala menusia hanya berkutat dengan agama yang hanya sekedar memandang agama hanya sekedar dogma. Memandang setiap lembaran kitab suci sebagai sekedar lembaran hukum yang begerigi.

“Orang-orang beragama di negeri ini, tak pernah puas mengelabuimu dengan doktrin-doktrin tiranik”

Dia selalu kembali manakala kita memandang dogma sebagai sekedar senjata kebenaran yang buas dan galak, yang kadang berseru-seru meminta cipratan darah.

“Dan atas nama agama, sekali lagi atas agama, engkau dibawa ke tempat pembantaian, lalu engkau diseret ke palung laut merah darah dengan perahu-perahu kematian”

Zarahustra selalu kembali ketika manusia menemukan ‘Tuhan’ yang lain, sesosok Ubermensch. Dan pada zaman ini Ubermensch itu adalah kapitalisme dan neoliberalisme pun sekularisme. Dalam bahasa yang ringkas, Aur menyebutnya sebagai modal.

“Atas nama pemilik modal, negeri ini menugaskanmu untuk membela modal. Modal? engkau tidak tahu bentuknya. Tetapi engkau dipaksa untuk membelanya. ah…negeri ini hanya mengakui, agama-agama tiranik yang haus darah. Hanya berteman dengan pemilik modal rakus yang selalu memangsamu”

***

Kita manusia mungkin menolak ini sebagai arus besar yang sedang mendera. Tetapi berbagai fakta telah membiacarakan, dari kasus pelarangan ajaran agama sampai pada kasus terorisme. Bahwa sesungguhnya “Agama, yang mungkin engkau memeluknya. Tetapi engkau tidak mengenalnya. (Agama), yang mungkin engkau mempercayainya. Tetapi engkau dijauhkan olehnya” Ini adalah sekuplet dari ‘Palung Laut Merah Darah’ Alaxander Aur. Dan jauh sebelum sajak ini lahir. Dalam Also sprach Zarathustra, Nietzsche mengejutkan ruang rasa dan pikir kita dengan teriakannya: “Lihatlah, aku mengajarkan Ubermensch kepadamu. Ubermensch adalah makna dunia ini. Biarkanlah kehendakmu berseru. Hendaknya Ubermensch menjadi makna dunia ini”

Aku Pada Rimba Bayang-Bayang

Malam belum benar-benar larut, waktu itu kira-kira pukul dua puluh dua. Suasana malam tampak senyap. Di luar hujan jatuh satu-satu. Di langit jauh terdengar gemuruh guntur. Sesekali bilah-bilah sinar membelah malam. Ketika itu mataku masih berjaga. Sebab, aku sedang melumat ‘Suara-Suara’ Mochtar Pobotinggi pada halaman dua puluh delapan “Dalam Rimba Bayang-Bayang”-nya

“Selalu dari rahim malam engkau bangkit mengusik aku hai suara-suara” demikian kuplet pertama dan terakhir ‘Suara-Suara’. Hendak aku suluk dalam pemaknaan menemukan sari yang disampaikan Pobotinggi, tiba-tiba seekor kodok rawa melewati celah pintu kamar, lalu meloncat ke atas kasur, akhirnya menghilang di lipatan selimut di sisi sebelah kiri bantal.

Tentang kodok rawa itu. Sudah selalu, setiap malam, seperti malam-malam kemarin, ia meloncat masuk ke dalam kamar. Walau tampa suara, locatannya sangat menyita ruang perhatianku. Makna ‘Suara-Suara’ menjadi lenyap ditelan malam, yang terekam hanya sejempol ukuran kodok rawa dan lima kali loncatannya.

Masih tentang kondok rawa itu. Sudah selalu aku mengusirnya, seperti malam-malam kemarin. Suatu ketika, aku pernah menangkap dan membuangnya ke luar jendela, tetapi entah mengapa, ia kembali mencari celah. Selanjutnya ia kembali meloncat untuk bermalam di samping bantal tidurku.

Mataku kembali menuju ke halaman ‘Suara-Suara’ yang ditulis Pobotinggi pada seribu sembilan ratus delapan puluh enan. Aku hendak memaknainya. Sudah kugenggam sebatang pena untuk melesatkan aksara. Tetapi serupa bayang-bayang, yang terdengar hanya suara-suara. Pena runcing itu tak mampu menetaskan kata.

“Jadi duka belantara, jadi lengking gerapai, lalu aku pun bersimpuh di pusar aksara, yang tak tertuliskan” Demikian kuplet yang lain dari ‘Suara-Suara”. Lima kali loncatan kodok rawa pada malam itu, kemudian keselaluannya untuk bermalam di samping bantal tidurku, walau tampa bersuara adalah sebenarnya suara-suara. Suara-suara yang tak terkisahkan dengan kata. Suara-suara yang melampaui aksara. Hendak aku menuliskan itu dengan berkaca pada ‘Suara-Suara’, tanganku pun bergetar. Kata-kata pun terlepas tampa jejak.

Malam itu, aku menjadi serupa manusia penyendiri, sepi. Hendak aku menuliskan kata tentang suara tampa suara. Tentang kodok rawa berteriak-teriak dalam diam. Tentang ukurannya yang sebesar jempol jari tangan. Tentang lima kali loncatannya. Tentang mengapa ia memilih lipatan selimut di samping kiri bantalku untuk bermalam.

Meminjam sekuplet yang lain dari Pobotinggi, masih dalam “Suara-Suara”-nya: “Selalu aku tahan untuk menangkapmu, memelukmu, relung-relung tak kunjung musim, memupusku larorn, luluh dalam nyala”. Serupa itu kata-kataku terbang, hilang tak berbekas. Ujung pena runcingku tak menetas hijau sajak sepenggal pun.

Walau selalu, tidak hanya pada malam itu, ketika mataku berjaga bersama “Suara-Suara” dan perhatianku tersita pada lima loncatan kodok rawa “dari rahim malam” sesuatu tentang makna selalu mengusikku untuk dituliskan entah serupa apa.

Catatan: Sumber prosa sajak ini dilatari oleh dua hal: 1) Sajak “Suara-Suara” Mohctar Pobotinggi, dalam kumpulan puisinya “Dalam Rimba Bayang-Bayang” (Penerbit Buku Kompas 2003), dan 2) sebuah pengalaman unik yang terjadi di rumah kontrakanku di Meulaboh Aceh Barat. Banyak kodok rawa yang masuk dan berlindung di dalam rumah. Sesuatu, yang bagiku selalu menimbulkan Tanya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: