Tulisan yang ditandai ‘romba’

“Puki mak, koq jadi begini…”

Pengalamannya begini

Ketika masih di Aceh, dalam berbagai kesempatan, secara spontan saya kadang melatah “Astaqfirullahalazim”, dan atau “Masyallah”. Sebagian sahabat saya yang muslim, yang mendengar kadang melontar kata-kalimat “Ah gaya lo, pake istiqfar-istiqfar segala lo?”.  Saya merenung, dan mereka tersenyum. Sungguh, saya tidak sadar. Berdosakah saya? Salahkah saya? Tidak baik-kah saya? Kurang ajarkah saya? Tidak sopankah saya?

Menjawab sederetan pertanyaan reflektif itu saya termengong-mengong, namun lantas berkesimpulan (tentu saja sebuah kesimpulan sementara) bahwa ini bukan sekedar dan melulu latah, sebuah kata-kalimat lepas spontan, tetapi sebuah tanda yang mau dimakna sebagai entah.

Lalu begini

Merefleksikan kata-kalimat yang lepas latah dalam keseharian komunikasi-relasi serupa berikut ini: “Mama mia!”, “Astaqfirullahalazim”, “Masyallah”, “Oh, Ibu!”, ‘Jesus Christ”, “Oh my God!”, “Puki mak”, “Ampun Tuhan”, “Aduh!”, “Ole…”, dan atau “Ampun DJ”, “Oi…mama!”, “Oh, No!” dan seterusnya sungguh menarik minat saya. Minat itu membuncah lantaran dua hal, pertama saya pernah mengalaminya dan kedua, saya dan juga anda tidak pernah menyadarinya dengan tanya ‘mengapa?”

Padahal selalu, setiap kita, saya dan anda, sadar atau tidak, pernah melepas salah satu dari kata-kalimat tersebut di atas dalam perjumpaan-perjumpaan kita dengan yang ‘asing’. Bukan hanya ketika berhadapan dengan situasi atau peristiwa yang mengejutkan, tetapi juga orang atau subjek yang ‘tidak biasa’. Entah  yang ‘tidak biasa’ atau ‘asing’ itu hadir sebagai yang mengagumkan, mempesona dan atau (maupun) yang aneh dan ‘bejat’ sekalipun.

Namun, lantaran hanya sekedar sebagai ungkapan ke-terkejut-an/keter-perajat-an, saya dan juga anda lantas tidak menyuluk-masuk untuk mencoba mencerna-maknainya. Apa yang mau saya katakan bukan perihal sadar atau tidak ketika kata-kalimat latah itu dilepas-lontar. Bukan pula lantaran kata-kalimat latah itu dilepas-lontar baik atau buruk dalam ber-komunikasi (perihal ini bisa ditelisik lebih jauh, namun lebih merupakan sebagai dampak).

Yang hendak ditelisik dalam dan melalui catatan kecil ini adalah kata-kalimat latah itu sebagai symbol dan tanda (tanda dan symbol yang dimaksudkan di sini bukan symbol dan tanda linguistis). Simbol dan tanda kepribadian, sejauhmana seseorang sebagai pribadi otonom berproses dalam hidup dan kehidupan. Jika hendak diringkas, latahan di atas merupakan salah satu letupan dari puncak-puncak internalisasi diri seseorang di hadapan dan dalam lingkungannya.

Mungkin begini

Ada debat yang menghebat dan tampaknya tak pernah berujung perihal factor-faktor pembentuk kepribadian manusia, sebagian pakar (lebih-lebih para sosiolog dan psikolog) menyebut pribadi manusia ditentukan oleh warisan biologis, sebagian lagi menyebut lingkungan fisik, sebagian lagi menyebut kebudayaan, yang lain pengalaman kelompok dan lain lagi menyebut pengalaman unik. Dua yang paling hebat, dalam mendebat bahkan sampai memakan waktu berabad-abad adalah perihal proses pembentukan kepribadian manusia antara apakah dipengaruhi ‘bawaan’ (bilogis-genetikal) ataukah oleh ‘asuhan’ (lingkungan social).

Amatan dan pengalaman personal penulis, pun dalam perjumpaan-perjumpaan dengan orang-orang dengan peristiwa-peristiwa kehidupan mereka memberikan kurang lebih gambaran kesimpulan demikian: bahwa factor biologis-genetikal tidak berperan penting dalam pembentukan kepribadian manusia. Justru yang mendominasi proses perkembangan kepribadian dan karakteristik manusia sebagai pribadi adalah sosialisasi (penyesuaian diri) yang berulang dengan lingkungan.

Perihal itu, penulis sependapat dengan dua sosiolog Paul B. Horton dan Chester L. Hunt (1994) yang menyatakan seorang bayi lahir ke dunia ini sebagai suatu organism kecil yang egois yang penuh dengan segala macam kebutuhan fisik. Kemudian ia menjadi seorang manusia dengan seperangkat sikap dan nilai, kesukaan dan ketidaksukaan, tujuan serta maksud, pola relasi, dan konsep yang mendalam serta konsisten tentang dirinya. Semua orang memperoleh semua itu melalui suatu proses yang kita sebut sosialisasi, yakni sebuah proses belajar yang mengubahnya dari seekor ‘binatang’ menjadi pribadi dengan kepribadian manusiawi. Ringkasnya adalah sebuah proses dengan mana seseorang menghayati (mendarah-dagingkan) norma-norma kelompok di mana ia hidup sehingga timbul-lahirlah diri yang unik.

“Puki Mak, Koq Jadi Begini”

Lantas demikian, jika direfleksikan sungguh letupan-lepasan kata-kalimat latah semisal “Puki Mak” dan atau “Mama mia!”, “Astaqfirullahalazim”, “Masyallah”, “Oh, Ibu!”, ‘Jesus Christ”, “Oh my God!”, “Anjing, babi, bangsat”, “Ampun Tuhan”, “Aduh!”, “Ole…”, dan atau “Ampun DJ”, “Oi…mama!”, “Oh, No!” dan seterusnya merupakan buah-buah dari proses internalisasi diri seseorang dengan lingkungannya.

Semakin buruk dan bobroknya sebuah lingkungan social dan atau lingkungan keluarga (sebagai unit social terkecil), bukan tidak mungkin akan membentuk kepribadian yang buruk pula. Penulis menjumpai sebuah keluarga yang setiap harinya mendiamkan pertentangan dan konflik internalnya dengan caci maki dan umpatan-umpatan kasar. Seorang suami memaki istrinya, istrinya membalasnya. Kepada anak-anaknya, mereka diamkan dengan maki. Dan karena takut ketahuan, anak-anaknya membalas seperti berbisik dengan makian yang sama.

Sebaliknya dalam lingkungan social yang bersih, yang menjunjung tinggi norma-norma kesopanan, kesantunan dan nilai-nilai agama, menjadi hal yang lazim kita dengar latahan-latahan yang santun sekalipun dikejutkan oleh peristiwa ‘asing’ yang amoral. Penulis menjumpai dan bahkan suluk ke dalam lingkungan social yang demikian ketika untuk sementara menetap di Meulaboh Nanggroe Aceh Darusallam. Sampai-sampai, kadang dengan tanpa sadar penulis melatah “Astaqfirullahalazim”, “Masyallah”.

Latahan yang demikian bahkan terbawa sampai ke Flores yang mayoritas penduduknya beragama Katholik. Sesama saudara penulis yang katholik termengong-mengong ketika mendengar latahan itu. Hal itu bisa dimaklumi, lantaran bukan hanya karena tidak terbiasa mendengarnya, tetapi juga lebih karena tidak pernah larut dalam perjumpaan-perjumpaan sebagaimana yang penulis alami.

Di antara lingkungan social seperti yang dilukiskan di atas, terdapat lingkungan social dan budaya profan. Bias modernitas menawarkan persentuhan-persentuhan dengan norma-norma moral universal, yang di satu sisi bukan hal yang buruk, dan di sisi yang lain tidak bersinggungan langsung dengan Tuhan dan atau agama mana pun. Letupan latahan semisal “Aduh!”, “Ole…”, dan atau “Ampun DJ”, “Oi…mama!”, “Oh, No!” menurut hemat penulis adalah buah-buah dari persinggungan seseorang dengan lingkungan yang demikian.

Begitukah?

“Astaqfirullahalazim, eh maaf”. Penulis tidak berani menjawab apakah amatan-pengalaman-analisis penulis persis atau tidak, berdasar atau tidak pada pengalaman mayoritas orang. Namun yang pasti bahwa, apa pun kata-kalimat latahan sebenarnya merupakan bukan sekedar sebagai latahan semata, tetapi merupakan buah dari internalisasi-sosialiasi diri. Sekalipun kita dilahirkan dari seorang ulama besar atau mantan pendeta, tetapi jika dalam persentuhan dan perjumpaan kita larut dalam lingkungan yang buruk secara social, maka bukan tidak mungkin kita akan didewasakan di dalamnya. Sebaliknya sekalipun kita dilahirkan oleh seorang pelacur atau dari ibu tidak berayah, tetapi lantaran dibesarkan dalam lingkungan yang menjunjung tinggi norma kesantunan, kita akan didewasakan sebagai pribadi yang matang.

Berhadapan dengan semua penjelasan di atas, secara khsus berangkat dari sebuah kisah latahan yang sederhana, sebagai pribadi yang sudah sedang berkembang mematang-dewasakan diri adalah penting untuk selalu awas dan bijak dalam menempatkan diri, menjumpai relasi dengan persentuhan-persentuhan social, agar sesuatu yang sederhana yang disebut latah tidak asal me-latah.

Cantiknya Gadis Aceh (bag. 1)

Seperti apakah gadis Aceh? Yang saya bayangkan sebagai sebuah jawaban sementara adalah bahwa gadis Aceh tidak hanya tangguh di medan laga dan cerdas di ruang kelas/kuliah, tetapi juga anggun di ruang public dan cantik di ranah privat/keluarga.

Pertanyaan dan juga bayangan atas jawabannya sudah muncul ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar jauh di pelosok Flores Nusa Tenggara Timur. Guru sejarah yang merangkap segala bidang studi pada ketika itu menunjukkan kepada kami anak-anak kelas lima dua gambar pahlawan nasional perempuan dari Aceh: Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia.

“Perempuan Aceh itu cantik-cantik, santun dan anggun karena selalu pake jilbab ” demikian kata guruku ketika itu. Dia tersenyum. Kawan-kawan saya yang muslim spontan berteriak “Nah makanya pake jilbab, biar cantik”. Teriakan itu membuat belasan gadis kecil lugu tampak tersipu malu. Kami terkekeh. “Tapi kenapa di dua gambar itu, Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia tidak pake jilbab?” tanya seorang teman perempuan. “Oh, ini rupanya bukan foto aslinya, ini kan lukisan” jawab guru mengelak “Tapi biasanya perempuan Aceh itu pake jilbab” lanjutnya. Kami mengangguk.

Itu kisah kecil masa lalu. Dan lantaran kisah itu dan dua wajah perempuan itu, entah mengapa membuat saya bangga dan kagum pada perempuan Aceh. Bagaimana tidak, terlukis dari wajah-wajah mereka, tidak hanya secara fisik terpendar aura kecantikan alami, tetapi juga ketangguhan dan kekokohan.

Yang membuat saya lebih kagum adalah bahwa keesokan harinya, setelah melihat dua gambar itu, belasan teman kelas saya yang kemudian mengenakan jilbab. Wajah mereka imut-imut, lucu-lucu membuat guru sejarah kami tersenyum dan guru agama geleng-geleng kepala.

Sebagai murid yang beragama katolik, bersama dua teman yang lain, kami bangga pada teman-teman sekolah dasar kami yang yang mayoritas muslim. Dua gambar, dan satu teriakan ternyata cukup ampuh menyadarkan sekaligus menegaskan tentang siapa sesungguhnya mereka.

Sekalipun itu pantulan sementara yang melahirkan motivasi yang mungkin belum sempurna, namun sesungguhnya itu modal penting untuk perubahan yang lebih besar. Gadis-gadis kecil yang lugu dari pelosok Flores Nusa Tenggara Timur telah menahbiskan diri. Mereka telah menunjukkan diri bahwa ‘kami juga mau seperti Cut Nyak Dhien, seperti Cut Meutia. Kami juga mau cantik dan tangguh seperti mereka, apalagi kami seagama, seiman dan sekeyaninan’

Bagian kedua di SINI

Hari Kelahiranku

Hidup dan kehidupan adalah proses pencarian tanpa henti, perjuangan tanpa kenal lelah, penemuan tanpa kenal tepi atas sesuatu yang disebut sebagai makna hidup. Dalam pada itu, hidup dan kehidupan disaji-hadapkan, bukan hanya dengan kemudahan-kemudahan, kesenangan, kebahagiaan dan kegembiraan, tetapi juga dengan duka lara, pilu nestapa, sengsara kelam, pun derita gulita bahkan kematian.

Di hadapan sajian kehidupan itu aku tidak diminta untuk memilih, tetapi diharuskan untuk terjun, lantas melewati—melaluinya. Hidup dan kehidupan menuntutku untuk bergulat dengan semuanya.  Bergulat dengan kebahagiaan dan suka cita, pun mengalami duka dan nestapa.

Dalam pencarian akan makna kehidupan, penderitaan dan duka tidak dipandang sebagai hambatan dan apalagi kekalahan. Tetapi sebaliknya merupakan refleksi atas kekurangan-kekurangan yang ada dalam diri sendiri dan juga dalam kehidupan. Semua kekurangan dan keterbatasan itu selanjutnya dievaluasi, diperbarui dan diperbaiki. Hal yang sama adalah untuk kebahagian yang dialami dalam kehidupan. Kegembiraan dan kebahagiaan yang kita alami bukan merupakan puncak dari keberhasilan pencarian atas makna hidup, tetapi merupakan refleksi atas kebahagiaan dan kesempurnaan yang abadi.

Bagiku, dalam hidup dan kehidupan tidak ada kebahagiaan dan kegembiraan yang sesungguhnya. Semuanya adalah bagian dan gambaran dari kebahagiaan dan kegembiraan yang hanya ada dalam alam kebabadian. Namun demikian, semuanya itu harus disyukuri. Lantaran itu, hidup dan kehidupan harus dilalui dan dimaknai dengan sungguh. Kegagalan dan penderitaan adalah berkah dan karunia demikian juga dengan kegembiraan dan kebahagiaan.

Merefleksikan perjalanan panjang kehidupan seorang manusia, seperti juga perjalanan kehidupanku, kelahiran seharusnya dirayakan selalu. Hari kelahiran, termasuk hari kelahiranku dan juga kau adalah selalu pada setiap hari baru, bukan hari ini dan atau ketika itu. Karena pada setiap hari baru setiap kita diminta-tuntut untuk menjadi manusia baru. Manusia yang tidak hanya merefleksikan keterbatasan selanjutnya bermetanoia diri untuk perubahan ke arah yang lebih baik tetapi juga memupuk-suburkan keberhasilan, mengembangkan potensi dan memaknai kebahagiaan dan kegembiraan secara sungguh.

Ketika Kubur Menjadi Ruang Publik

Pernahkah anda tidur sejenak di atas kubur sambil mengkhayal tentang masa depan? Atau menjadikan  kubur sebagai meja saji minuman dan makanan? Atau untuk meletakkan speaker berkuatan sekian watt untuk berkaroke dan memperdengarkan lagu? Atau untuk membanting kartu jika bersama sahabat bermain poker? Ringkasnya menjadikan kubur bukan sebagai sesuatu yang menakut-seramkan, tetapi sebagai tempat bermain dan bercerita tentang peristiwa-peristiwa, tempat menyimpul segala kisah tentang hidup dan kehidupan. Apakah anda pernah mengalami dan melakukan itu?

Gila. Aneh. Pun juga unik. Di Manila Utara, pernah dikisahkan (ini fakta) bahwa lebih dari 10.000 orang tinggal di pekuburan. Tidur, makan, bermain, berkaroke, pesta dan apa pun jenis tindakan dan kegiatan manusia di lakukan di atas, di samping kiri dan kanan bahkan di dalam kubur. Kemiskinan dan ketiadaan tempat tinggal memaksakan mereka  untuk menetap dan hidup di pekuburan. Bergenerasi mereka abaikan ketakutan, keseraman, kecekaman hanya untuk dan demi ‘perut’ .

Berbeda dengan di Manila Utara, di Kerawang Jawa Barat, di atas lahan seluas 500 Ha, PT Lippo Karawaci Tbk membangun San Diego Hills, Memorial Park and Funeral Homes, sebuah tempat pemakaman/peristirahatan terakhir yang mewah. Kemewahannya tidak hanya diukur dari mahalnya biaya penguburan, lengkapnya fasilitas ibadah dan juga rekreasi, tetapi juga pada rancang-bangun arstitekturnya. Seperti diketahui San Diego Hills dibangun dalam tiga kategori areal yaitu Earth (wilayah kuburan yang dirancang dengan posisi kiblat yang sempurna ke Mekkah), Physical Homes (area kuburan yang memperbolehkan struktur yang dirancang dengan perhitungan yang sesuai dengan keharmonisan lingkungan), dan Universal (area kuburan modern yang banyak dilakukan di negara-negara maju dengan sistem rapi, efisien dan mementingkan kualitas lingkungan yang tinggi).

Memasuki San Diego Hills kita serupa diajak masuk untuk turut menafsirkan tentang sesuatu yang disebut sebagai surga. Sebuah situasi yang tenteram dan damai, aman dan nyaman, penuh senyum dan  bahagia, sekalipun ada air mata yang tertinggal. Fakta kebanyakan orang memang serupa itu, bahwa San Diego Hills adalah mimpi manusia tentang surga. Namun jauh dari mimpi itu, saya menyebutnya sebagai ‘Taman Nisan’. Sebuah taman dimana objek wisatanya adalah jasad dan nisan yang didesign sedemikian rupa sehingga menjadi elok untuk dipandang, nyaman untuk dialami, dan membuat berdecak kagum jika dikenang. Tiada surga di San Diego Hills, pun tiada neraka.

Lain di Manila Utara, Lain di Kerawang, lain pula di Flores Nusa Tenggara Timur. Di Flores Nusa Tenggara Timur, kendatipun tidak se-dasyat kisah di Manila Utara, pun tidak se-elok di Kerawang, tetapi ada sebagian masyarakat-komunitas, lebih-lebih komunitas pedesaan yang menjadikan kubur keluarga atau keluarga tetangga mereka sebagai ruang publik. Jika di Manila Utara semua berkumpul di pekuburan untuk mendapatkan 50 pesso perhari, di Kerawang untuk melihat dan mengalami ‘surga’ sekaligus berekreasi, sementara di Flores kubur adalah medan jumpa manusia bebas, tanpa kepentingan apa pun yang secara bebas pula membangun integrasi.

Mungkin saya terlalu berlebihan untuk hal ini. Tetapi ada dua fakta yang membuat saya yakin untuk mengatakan ini sebagai yang benar. Fakta pertama adalah pengalaman perjumpaan saya dengan komunitas pedesaan yang terentang dari Mbay sampai memasuki perbatasan Sikka-Maumere. Dalam sebuah perjalanan darat saya menjumpai sepanjang jalan pantai utara itu ada kebiasaan yang menjadikan kubur (yang kebetulan selalu ada di depan rumah dan pinggir jalan) sebagai medan sosialisasi. Anak-anak, orang dewasa, orang tua, laki-laki dan perempuan, keluarga, tetangga dan bahkan orang asing melakukan berbagai aktivitas seperti diskusi, belajar, tidur, bermain, makan, bahkan sampai menunggu mobil/bus di kubur.

Di sana segala kisah rupa-rupanya dibentangkan, di kubur yang sama mungkin mereka memperbincangkan tentang musim tanam, harga sembako yang melonjak, listrik yang belum masuk, jalan yang rusak, biaya sekolah/pendidikan, anak yang baru lahir, orang mati, bola yang pecah, sandal yang dicuri, celana yang sobek dan apa pun peristiwa. Kubur, ya kubu…tampaknya telah menjadi ruang public yang paling tepat untuk mengakomodir segala cerita tentang manusia yang hidup, yang semuanya ditutur-bentangkan dalam situasi tanpa tekanan dan desakan apa pun selain hanya kerena desakan kemanusiaan manusia yang bernama sosialisasi.

Fakta kedua adalah yang terjadi di kampung saya, di Romba Maunori Keotengah Flores NTT, persisnya di rumah saya sendiri. Di samping rumah terdapat empat kubur yang sengaja dibangun berapatan agar dapat dijadikan sebagai tempat duduk. Di kubur kakek dan nenek saya itu aorang dari manapun dan agama manapun duduk. Saya kadang heran, mengapa ayah saya tidak mengajak tamu-tamunya untuk duduk di ruang tamu dan atau mencoba untuk menegur siapa pun yang mencoba duduk di sana. Jawabannya cuma satu ‘kita semua adalah saudara’.

Jawaban yang bagi saya kadang merasa terlalu tidak terlalu masuk akal, tapi pada saat-saat tertentu membuat saya kagum. Inilah fakta yang disebut ruang publik. Di mana semua orang dan peristiwa diperjumpakan tanpa ada kepentingan apa-apa selain karena desakan kemanusiaan manusia yang bernama sosialisasi. Saya lantas berpikir ‘Kita semua adalah saudara’ merupakan hakikat dari ruang public itu sendiri. Dan dalam peristiwa inilah, menurut hemat saya, tentang sesuatu yang disebut surga lebih terang tergambar.

Jika saya kembali ke sederetan pertanyaan di awal catatan ini: Pernahkah anda tidur sejenak di atas kubur sambil mengkhayal tentang masa depan? Atau menjadikan  kubur sebagai meja saji minuman dan makanan? Atau untuk meletakkan speaker berkuatan sekian watt untuk berkaroke dan memperdengarkan lagu? Atau untuk membanting kartu jika bersama sahabat bermain poker? Ringkasnya menjadikan kubur bukan sebagai sesuatu yang menakut-seramkan, tetapi sebagai tempat bermain dan bercerita tentang peristiwa-peristiwa, tempat menyimpul segala kisah tentang hidup dan kehidupan. Apakah anda pernah mengalami dan melakukan itu? Orang di kampungku pasti akan menjawab ya.

Pendekatan Etnometodologi untuk Pembangunan NTT, Sebuah Tawaran

This slideshow requires JavaScript.

Nusa Tenggara Timur Itu Khas dan Unik

Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu propinsi yang khas dan unik. Kekhasan dan keunikannya terletak bukan hanya karena secara geografis, NTT merupakan sebuah propinsi kepulauan, (yang terdiri atas tiga pulau besar: Flores, Timor, dan Sumba, serta puluhan pulau kecil lainnya) tetapi juga karena secara cultural NTT dilatari oleh beragam etnis, suku, kebiasaan, budaya dan bahkan bahasa daerah. Tidak hanya itu, secara topografis pun terdapat perbedaan yang mencolok (iklim, hasil bumi dan sumber daya alam) antara pulau yang satu dengan yang lain.

Kekhasan dan keunikan karena keberagaman dan kemajemukan ini bukan hanya menjadi sebuah khasanah budaya bangsa yang pantas untuk diapresiasi, tetapi juga, serentak itu pula merupakan sebuah tantangan. Di satu sisi, kita mengaguminya sebagai potensi, tetapi di sisi yang lain kita menjadi awas karena mengandung resiko. Resiko terbesar dari dari sebuah kemajemukan atau keberagaman adalah ego ‘sektoral’ (pengabaian atas kemejemukan, dan bahkan penolakan atas kebersamaan lantaran menahbiskan suku, etnik, daerah masing-masing (sendiri-sendiri) baik secara politis maupun kultural sebagai yang ‘lebih baik’)

Etnometodologi, Sebuah Alternatif

Lantaran itu, satu hal yang penting untuk digarisbawahi, sebagai bagian dari upaya menghindari dan meminimalisir resiko adalah strategi intervensi arah pembangunan yang tidak hanya komprehensip, tetapi juga mampu melihat dengan hati selanjutnya memetakan potensi kekhasan dan kemajemukan itu sebagai arah dan titik tolak pembangunan. Dengan kata lain, arah pembangunan harus berangkat dari kekhasan dan keunikan masing-masing sektor (walayah, suku, bahasa dan budaya). Sebab, pembangunan dalam berbagai aspek kehidupan yang mengedepankan pada penyeragaman dan atau menyeragamkan imput intervensi (kegiatan pembangunan), indicator intervensi dan hasil, pun pula target dan hasil yang mau dicapai adalah sebuah tindakan yang bukan hanya salah arah, tetapi juga merupakan sebuah’dosa’ atas proses pembangunan.

Lantaran itu, saya menawarkan alternative metode pendekatan untuk strategi pembangunan di NTT, yakni melalui metode pendekatan Etnometodologi. Sebelum menjelaskan metode pendekatan ini lebih lanjut, saya mau menggarisbawahi dua hal. Pertama, metodologi ini merupakan tawaran, bukan merupakan sebuah keharusan.Kedua, metodologi ini merupakan pemetaan awal untuk melihat problem dan potensi pembangunan berdasarkan konteks dan situasi yang terjadi pada suatu lingkungan tertentu. Dan di tengah ragam metode, penulis melihat metode ini relevan untuk menjadi titik awal dalam me-rancang bangun pembangunan NTT.

Etnometodologi

Etnometodologi mucnul pada 1950 ditelurkan oleh Harold Garfinkel. Garfinkel memunculkan etnometodologi sebagai bentuk ketidaksetujuannya terhadap pendekatan-pendekatan sosiologi konvensional yang dianggapnya mengekang kebebasan peneliti. Penelitian konvesional selalu dilengkapi asumsi, teori, proposisi dan kategori yang membuat peneliti tidak bebas di dalam memahami kenyataan sosial menurut situasi di mana kenyataan sosial tersebut berlangsung. Penolakannya atas berbagai pedekatan sosiologi kenvensional tersebut melahirkan etnometologi yang kita kenal hingga hari ini. Menurut Garfinkel etnometodologi merupakan penyelidikan atas ungkapan-ungkapan indeksikal dan tindakan-tindakan praktis lainnya sebagai kesatuan penyelesaian yang sedang dilakukan dari praktek-praktek kehidupan sehari-hari yang terorganisir. (dlm. Arief Furchan, Pengantar Metode Penelitian Kualitatif, Penerbit Usaha Nasional, Surabaya, 1992: hal. 39-41)

Mendalami definisi Garfinkel, etnometodologi sesungguhnya mengusung sebuah kerinduan yang mendalam akan sebuah kualitas kajian. Tentang kerinduan itu, Paul ten Have dalam Understanding Qualitative Research and Ethnomethodology (Sage Publications: 2004, hal. 17) menjelaskan bahwa Etnometodlogi berkeinginan untuk melakukan suatu studi ilmiah yang bertujuan untuk memahami alam pikir individu (local rationalities)dalam tindakannya di kehidupan sehari-hari. Dari apa yang dimaksudkan Garfinkel dan disebut-jelaskan lebih lanjut oleh Have, sesungguhnya etonometodologi adalah sebuah metode penilitian sosial yang tidak diartikan sebagai sekedar pengumpulan data, tetapi lebih dari itu merupakan bagaimana kita memilih pokok persoalan yang mau dibedah, diteliti dan direproduksi.

Penekanan yang lebih pada dimensi kualitatif penelitian meletakkan etnometodologi sebagai kajian, yang menurut L. Dyson P. dalam tulisannya yang berjudul Etnometodologi sebagai yang ‘peka’ terhadap isu. (dlm. Bagong Suyanto dkk (ed), “Metode Penelitian Sosial, Berbagai Alternatif Pendekatan, Kencana Predana Media Group: 2006, hal. 201). Lebih lanjut, Dyson menjelaskan etnometodologi berusaha memahami masyarakat, bagaimana anggota masyarakat itu berpikir tentang dirinya, tentang apa yang dilakukan oleh mereka (cultural behavior), apa yang mereka ketahui baik tentang dunia di sekitar dirinya maupun dunia di luar lingkungan mereka berada (cultural knowledge) dan benda-benda apa saja yang dibuat dan dipergunakan (cultural artifaks)(Ibid, hal. 202).)

Relevansi Etnometodologi Untuk Me-rancang Bangun Pembangunan NTT

Tiga hal terakhir, seperti yang disebut-jelaskan Dyson adalah poin penting sebagai basis analisis untuk memetakan pembangunan NTT ke depan. Seluruh eleman masyarakat, secara khusus pemerintah sebagai pembuat kebijakan rupa-rupanya perlu untuk memulai strategi intervensi dengan bertitik tolak pada basis analisis etnometodologi.

Pertama-tama seperti yang sudah saya sebutkan pada awal tulisan ini bahwa kekhasan dan keunikan karena keberagaman dan kemajemukan NTT, bukan hanya menjadi sebuah khasanah budaya bangsa yang pantas untuk diapresiasi, tetapi juga, serentak itu pula merupakan sebuah tantangan. Di satu sisi, kita mengaguminya sebagai potensi, tetapi di sisi yang lain kita menjadi awas karena mengandung resiko. Resiko terbesar dari dari sebuah kemajemukan atau keberagaman adalah ego ‘sektoral’ (pengabaian atas kemejemukan, dan bahkan penolakan atas kebersamaan lantaran menahbiskan suku, etnik, daerah masing-masing (sendiri-sendiri) baik secara politis maupun kultural sebagai yang ‘lebih baik’)

Dan tentang hal itu, ego sektoral dan penyeragaman metode pendekatan dalam intervensi pembangunan adalah nyata. Padahal kemajemukan, keberagaman adalah kekayaan yang dapat berdiri sendiri, dan lantaran itu harus dihargai. Bentuk penghargaan kita atas kemejemukan dan keberagaman tersebut adalah dengan meletakkan arah pembangunan yang berdasarkan pada basis kebutuhan masing-masing daerah. Dimana kita, dalam hal ini pemerintah harus memahami masyarakat, bagaimana anggota masyarakat itu berpikir tentang dirinya, tentang apa yang dilakukan oleh mereka(cultural behavior), apa yang mereka ketahui baik tentang dunia di sekitar dirinya maupun dunia di luar lingkungan mereka berada (cultural knowledge) dan benda-benda apa saja yang dibuat dan dipergunakan (cultural artifaks).

http://sosbud.kompasiana.com/2010/12/02/pendekatan-etnometodologi-untuk-pembangunan-ntt-sebuah-tawaran/

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: