Tulisan yang ditandai ‘politik’

Because Of Facebook

PENGANTAR. Sebuah Negara yang menjunjung tinggi demokrasi mau atau tidak mau harus ‘melek politik digital’. ‘Melek politik digital’ artinya harus selalu meng-up to date demokrasi, disesuaikan dengan konteks dan perubahan media komunikasi dan informasi, kendatipun tidak harus kebablasan. Lantaran itulah, adalah baik jika di era ‘politik digital’ sebuah Negara tidak hanya dituntut untuk tampil terbuka, jujur, transparan, menyapa dan merakyat, tetapi juga perlu adanya ‘piranti’ undang-undang yang bisa membuat awas warganya agar demokrasi yang dikumandangkan tidak balik menjadi belati.

Pada kesempatan ini saya sarikan dari berbagai sumber perihal kekuatan politik digital. Dalam tiga tulisan terpisah tentang ‘Mubarak Di Mesir, Ambruk!’, ‘Barack Di Amerika, Populer!’ dan ‘Demokrasi’ saya mencoba untuk menunjukkan perihal kekuatan fenomena tersebut. Tulisan kecil ini tidak memberikan thesis tertentu, selain sebuah pemaparan informasi mentah yang masih bisa untuk diperdebatkan.

MUBARAK DI MESIR, AMBRUK. “We are all Khaled Said” adalah salah satu grup facebook paling populer selama revolusi Mesir berlangsung. Grup tersebut mengadopsi nama seorang pemuda di Kota Alexandria yang dipukul hingga mati oleh polisi tahun 2010. Grup online itu membawa pesan solidaritas melawan aparat keamanan yang semena-mena atas kaum muda. Dengan cepat, grup itu diakses oleh ratusan ribu pengguna Facebook di Mesir. Lantaran popularitasnya dalam membangun aspirasi arus bawah dan massa, maka tidak hanya kaum muda dan remaja serta masyarakat biasa yang ikut pola ini dalam menyampaikan pesan ke banyak orang tetapi juga kaum oposisi tradisional.

Sebab seperti diketahui, selama revolusi berlangsung. para aktivis dan kubu oposisi bisa dengan mudah memobilisasi massa dan melakukan koordinasi gerakan unjuk rasa melalui akun di Facebook dan Twitter. Mereka juga bisa menjadi media alternatif dengan menayangkan video-video bentrokan yang segera tersebar ke seluruh dunia melalui laman YouTube dan blog. Data dari laman pemantau media sosial, Social Bakers, menunjukkan bertambahnya jumlah pengguna Facebook di Mesir. Enam bulan lalu, jumlah pengguna jejaring sosial itu tidak sampai 3,2 juta. Namun, hingga pekan lalu, pengguna Facebook di Negeri Piramid ini berjumlah lebih dari lima juta orang. Sekitar 85 persen pengguna masuk dalam angkatan usia produktif, yaitu 18 hingga 44 tahun.

Berdasarkan data tersebut, tidak heran bila jejaring sosial seperti Facebook menjadi alat perjuangan para aktivis untuk berkoordinasi dan memobilisasi massa. Namun, pada  Kamis, 27 Januari 2011 sial datang menimpa ribuan nitizen (pengguna internet) Mesir. Husni Mubarak yang kian ciut dengan amukan demontrasi massa justru menutup akses Facebook dan jaringan social lainnya di negeri piramida tersebut.

Akibat penutupan akses internet tersebut, massa tidak hanya tambah beringas, justru hacker pun lahir-tumbuh-kembang dengan liarnya. Seorang kolumnis Computerworld, Jaikumar Vijayan menilai rezim Mubarak rupa-rupanya tidak ingin mengulang kejadian di Tunisia sekaligus ingin mengadopsi langkah-langkah China dan Iran dalam membendung gerakan populer yang dibantu oleh media-media sosial di internet, lantaran itu salah satu caranya adalah dengan menutup akses internet.

 

BARACK DI AMERIKA: POPULER. Jauh sebelum revolusi Mesir bergulir sampai berhenti ketika Husni Mubarak menyatakan mundur pada Jumat  11 Februari  pukul 18.45, di Amerika Serikat  justru terjadi situasi yang berbeda. Ketika itu dalam kampanye pencalonan Barak Obama menjadi presiden Amerika ke-44 internet dan berbagai jaringan social menjadi kiblat utama kampanye. Di tangan David Ploufie, salah seorang tim sukses Obama, calon presiden kulit hitam pertama ini menjadi sangat populer. Ploufie, seperti dilansir berbagai media massa telah menyulap Obama menjadi pemuda yang gaul karena berani turun menyapa massa melalui berbagai jejaring social: Facebook, MySpace, Linkedin, YouTube, Friendster, hingga Twitter.

Lantaran itu tidaklah heran jika pada ketika itu, dalam sekejap Obama memiliki lebih dari 1,7 juta sahabat di Facebook, beberapa di antaranya warga negara Indonesia, dan 510.000 teman di MySpace. Sebaliknya, ‘lawan tanding’-nya McCain punya 309.000 teman di Facebook dan 88.000 di MySpace. Di jejaring sosial Twitter, Obama memiliki lebih dari 45.000 pengikut. Semua aktifitasnya diinformasikan melalui jejaring sosial tersebut langsung kepada sahabat-sahabatnya. Jutaan orang di dunia, tidak hanya di Amerika, dapat menyaksikan pidato Obama melalui YouTube. Obama juga memiliki blog pribadi, mengajak pendukungnya berperan serta dalam pengumpulan dana melalui online.

Tidak seperti pesaingnya, McCain, Obama menulis surat elektronik (e-mail) pribadinya dan menciptakan video-video eksklusif untuk pendukung online-nya. Yang menarik juga, video musik Yes We Can yang ditayangkan di YouTube, dengan bintang tamu antara lain Jesse Dylan, Will.i.am, Common, Scarlett Johansson, Tatyana Ali, John Legend, Herbie Hancock, Kate Walsh, Kareem Abdul Jabbar, Adam Rodriguez, Kelly Hu, Amber Valetta, Eric Balfour, Aisha Tyler, Nicole Scherzinger, dan Nick Cannon, dalam dua hari setelah dirilis diklik 698.934 kali.

Phil Noble menyebutkan, dua juta pendukung Obama bertindak sebagai sukarelawan selama masa kampanye, itu kunci penting kemenangan bersejarah ini. Prof. Thomas Patterson dari Universitas Harvard, Inggris memperkirakan, popularitas Obama dalam jejaring sosial menarik para pemilih muda dan kalangan terdidik Amerika. Obama dan tim suksesnya telah mengubah cara politisi menarik publik Amerika, termasuk mengumpulkan dana kampanye melalui online.

Obama dan tim suksesnya telah mengubah cara politisi menarik publik Amerika, termasuk mengumpulkan dana kampanye melalui online. Obama telah memindahkan politik kepresidenan masuk ke abad digital. Dia adalah salah satu calon presiden yang populer dan akhirnya menjadi presiden yang juga populer. Jejaring social digital melempangkan jalannya menuju Gedung Putih.

DEMOKRASI. Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Begitulah pemahaman yang paling sederhana tentang demokrasi, yang diketahui oleh hampir semua orang. Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan). Istilah ini berasal dari bahasa Yunani δημοκρατία – (dēmokratía) “kekuasaan rakyat”, yang dibentuk dari kata δῆμος (dêmos) “rakyat” dan κράτος (Kratos) “kekuasaan”, merujuk pada sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di negara kota Yunani Kuno, khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM.

Berbicara mengenai demokrasi adalah memburaskan (memperbincangkan) tentang kekuasaan, atau lebih tepatnya pengelolaan kekuasaan secara beradab. Ia adalah sistem manajemen kekuasaan yang dilandasi oleh nilai-nilai dan etika serta peradaban yang menghargai martabat manusia. Pelaku utama demokrasi adalah kita semua, setiap orang yang selama ini selalu diatasnamakan namun tak pernah ikut menentukan. Menjaga proses demokratisasi adalah memahami secara benar hak-hak yang kita miliki, menjaga hak-hak itu agar siapapun menghormatinya, melawan siapapun yang berusaha melanggar hak-hak itu. Demokrasi pada dasarnya adalah aturan orang (people rule), dan di dalam sistem politik yang demokratis warga mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama di dalam mengatur pemerintahan di dunia publik. Sedang demokrasi adalah keputusan berdasarkan suara terbanyak.

Di Indonesia, pergerakan nasional juga mencita-citakan pembentukan negara demokrasi yang berwatak anti-feodalis, anti-imperialisme, dengan tujuan membentuk masyarakat sosialis. Bagi Gus Dur, landasan demokrasi adalah keadilan, dalam arti terbukanya peluang kepada semua orang, dan berarti juga otonomi atau kemandirian dari orang yang bersangkutan untuk mengatur hidupnya, sesuai dengan apa yang dia ingini. Jadi masalah keadilan menjadi penting, dalam arti dia mempunyai hak untuk menentukan sendiri jalan hidupnya, tetapi harus dihormati haknya dan harus diberi peluang dan kemudahan serta pertolongan untuk mencapai itu.

PENUTUP. Demikianlah demokrasi dalam arti yang sesungguhnya. Nah…jika demokrasi dipahami dalam arti dan perpsektif perkembangan arus informasi dan teknologi. Rupa-rupanya demokrasi harus up to date. Demokrasi harus selalu dan mau menyesuaikan diri di tengah era modern.  Karena, sekali lagi seperti yang saya sebutkan pada bagian awal tulisan ini, sebuah Negara yang menjunjung tinggi demokrasi mau atau tidak mau harus ‘melek politik digital’. ‘Melek politik digital’ artinya harus selalu meng-up to date demokrasi, disesuaikan dengan konteks dan perubahan media komunikasi dan informasi, kendatipun tidak harus kebablasan. Lantaran itulah, adalah baik jika di era ‘politik digital’ sebuah Negara tidak hanya dituntut untuk tampil terbuka, jujur, transparan, menyapa dan merakyat, tetapi juga perlu adanya ‘piranti’ undang-undang yang bisa membuat awas warganya agar demokrasi yang dikumandangkan tidak balik menjadi belati.

 

Sumber:

http://www.lintasberita.com/Dunia/Berita-Dunia/musuh-baru-rezim-mesir-facebook-dan-twitter

http://www.asnawi.com/blog/barack-obama-menang-karena-memanfaatkan-kekuatan-internet/

http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi

 

Tidak Ada Buku ‘Lebih Dekat dengan SBY: Peduli Pendidikan’

Kontroversi seputar beredarnya buku ‘Lebih Dekat Dengan SBY’ masih belum tuntas. Berbagai kalangan mendesak agar pemerintah segera menarik kembali 10 seri buku tersebut, lantaran tidak ada hubungannya dengan kurikulum dan materi pembelajaran di sekolah. Bahkan ada yang menilai beredarnya buku-buku tersebut sebagai bagian dari bentuk kampanye terselubung kubu SBY. Sekjen PKS Anis Matta misalnya, meminta peredaran buku presiden yang tersebar di beberapa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Tegal segera ditarik. Anis menduga penyebaran buku tersebut sebagai kampanye terselubung. “Ini bisa dianggap sebagai personal campaign,” kata Anis Matta kepada INILAH.COM, Jakarta, Kamis (27/1/2011).

Sementara itu, seperti dilansir Kompas.Com, Jumad (28/1/2011) pihak Kementerian Pendidikan Nasional memastikan sepuluh buku seri SBY berjudul ‘Lebih Dekat Dengan SBY’ sudah lolos dari uji kelayakan dari tim ahli. Hal ini disampaikan oleh Wakil Menteri pendidikan Nasional, Fasli Jalal saat konfrensi pers di Gedung Kementrian Pendidikan Nasional, Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (28/1/2011).

Menurutnya buku SBY sudah memenuhi 4 syarat komponen kelayakan. Keempat komponen itu meliputi materi, penyajian, bahasa dan grafika. “Buku ini dinyatakan lolos seleksi karena nilainya atau skornya diatas 140 dengan kategori baik, kalau yang tak lolos seleksi nilainya kurang dari 100-122, buku dengan skor di atas 140 berhak menyandang predikat sangat bagus,” ucapnya.

Berikut ini buku serial profil SBY terdiri dari 10 jilid:

  1. Lebih Dekat dengan SBY: Jalan Panjang Menuju Istana.
  2. Lebih Dekat dengan SBY: Merangkai Kata Menguntai Nada.
  3. Lebih Dekat dengan SBY: Memberdayakan Ekonomi Rakyat Kecil.
  4. Lebih Dekat dengan SBY: Jendela Hati.
  5. Lebih Dekat dengan SBY: Adil Tanpa Pandang Bulu.
  6. Lebih Dekat dengan SBY: Peduli Kemiskinan.
  7. Lebih Dekat dengan SBY: Diplomasi Damai.
  8. Lebih Dekat dengan SBY: Menata Kembali Kehidupan Bangsa.
  9. Lebih Dekat dengan SBY: Indahnya Negeri Tanpa Kekerasan.

10. Lebih Dekat dengan SBY: Berbakti untuk Bumi.

Terlepas dari kontroversi tersebut di atas, sebenarnya yang menjadi pertanyaan sentral tulisan sederhana ini adalah mengapa tidak ada buku tentang SBY dan pendidikan, sebagai misal ‘Lebih Dekat dengan SBY: Peduli Pendidikan’. Sebab menurut hemat saya, 10 seri buku di atas tidak terlalu penting untuk disebarluaskan bahkan sampai harus sampai masuk sekolah dan menjadi bacaan wajib pelajar Indonesia.

Jika memang SBY peduli terhadap pendidikan yang mesti dan lebih mendesak dilakukan adalah membangun indfrastruktur, kapasitas dan kualitas guru, khususnya bagi guru dan sekolah-sekolah di pedasaan. Jika memang SBY peduli terhadap pendidikan yang mesti dan mendesak dilakukan adalah dengan mengontrol penggunaan dana-dana BOS khususnya untuk sekolah-sekolah di pedesaan. Jika memang SBY peduli terhadap pendidikan yang mesti dan mendesak dilakukan adalah menfasilitasi beasiswa bagi murid dan pelajar yang tidak mampu, khususnya di sekolah-sekolah pedesaan.

Jika memang SBY peduli terhadap pendidikan yang mesti dilakukan bukan bagi-bagi buku, apalagi buku yang tidak berkaitan langsung dengan kurikulum dan materi pembelajaran di sekolah. Tapi rupa-rupanya sulit memang, bayangkan, dari sepuluh seri buku ‘Lebih Dekat Dengan SBY’ tidak ada satu pun yang membahas tentang pendidikan, apalagi melakukan kegiatan yang berkaitan dengan mencerdaskan kehidupan bangsa dan Negara melalui pendidikan?

Siapa Bilang Bu Bambang Mau Jadi Presiden?

“Apapun orang mengatakan saya akan jadi presiden adalah salah besar. Karena kebanggaan buat saya jika berhasil mengantarkan SBY menyelesaikan tugasnya sampai 2014. Setelah itu pangkat saya hanya satu yakni tetap isteri SBY, Bu Bambang.” Demikian  pernyataan Kristiani Herawati atau yang biasa dikenal sebagai Ibu Ani Yudoyono, dalam biografinya ‘Kepak Sayap Putri Prajurit’

Dalam biografi setebal setebal 305 halaman tersebut, sang penulis biografi Alberthiene Endah mengatakan bahwa Bu Ani Yudoyono bahkan disarankan oleh SBY sendiri untuk jangan berbisnis dan berpolitik.

“Kalau minta pertimbangan dalam bidang politik tidak ada. Ani meralat anggapan orang bahwa dia mempengaruhi. Dulu pernah Ani membantu SBY membuat paper saat mendapat tugas. Ani membantu mengetikan. Sampai sekarang sebelum SBY maju berpidato, dengan spontan Ani akan mencatat poin yang penting. Misalkan saat kunjungan, ada gubernur yang pidato. Ani akan mencatat dan diberikan kepada SBY. Ini bahan untuk SBY memberikan kilas balik dan tanggapan. Buat dia itu bantuan yang wajar. Sejak SBY berpangkat letnan, Ani banyak memberikan bantuan. Termasuk saat SBY membuat Partai Demokrat. Ani membantu mencarikan warna biru untuk lambangnya, menyusun manifesto politik. Tapi saat SBY menjadi Presiden, SBY membedakan mana urusan politik antara SBY dan menteri, Ani tidak boleh tahu dan mana yang Ani boleh tahu. SBY memberi saran bidang apa saja yang pantas diurusi Ibu Negara. Intinya ada dua hal jangan berbisnis dan berpolitik” Demikian dikisahkan Endah dalam wawancaranya dengan Tempo pada selasa 03 Agustus tahun lalu.

Namun, di awal tahun ini berita seputar pencalonan Bu Bambang jadi presiden untuk Pilpres 2014 kian kencang. Banyak tanggapan pun bermunculan. Salah satu politisi partai Demokrat, Ruhut Sitompul yang juga jubir partainya pak SBY itu dengan lantang mengatakan bahwa jika dicalonkan jadi presiden di 2014, Ibu Ani Yudoyono akan lebih kuat dari Aburizal Bakrie. (Tempo, 22/01/2011).

“Jelas akan lebih kuat Ibu Ani, pada tahun 2004 Ibu Ani itu salah satu Ketua PD dan Ibu Ani selalu ikut Pak SBY kemana-mana. Jangan lupa Ibu Ani adalah putri dari tokoh nasional Bapak Sarwo Edhie Wibowo, dimana Ibu Ani sejak gadisnya sudah aktif mendampingi ayahnya. Makanya sudah jelas pooling LSI Bu Ani yang tertinggi setelah Pak SBY,”

Ada pula yang menanggapinya dengan sinis. Seorang kompasianer, T Eva Christine Rindu Mahaganti, bahkan dengan terang-terangan mengatakan bahwa sungguh sangat menggelikan jika Bu Ani Yudoyono dicalonkan menjadi presiden pada 2014.

“Geli sendiri. Itulah tanggapan saya mendengar berita bahwa Ani Yudhoyono hendak dicalonkan menjadi Presiden untuk Pilpres tahun 2014 mendatang. Maaf, beribu-ribu maaf, bukan bermaksud merendahkan beliau, tetapi tolong jawab kebingungan saya, mengapa Ani Yudhoyono layak dicalonkan menjadi presiden? Siapa dia sehingga orang bisa berpikiran dia layak untuk dicalonkan menjadi Presiden? Apa kontribusinya untuk negara ini? Atau apakah ia punya latar belakang dan pengalaman pernah memimpin organisasi besar atau massa? Atau apa yang telah dilakukannya, yang telah membawa perubahan positif pada bangsa ini? Tolong jelaskan”

Di tengah pusaran pro-kontra tersebut di atas, sebagai warga bangsa adalah baik jika kita tidak turut terpengaruh di dalamnya, apalagi memberikan pernyataan-pernyataan  yang tidak memberi dampak positif pada perkembangan politik bangsa. Jika kita tahu dan sadar serta memahami apa yang sudah diucapkan Bu Ani Yudoyono bahwa beliau tidak hendak mencalonkan diri jadi presiden pada Pilpres 2014, mengapa kita harus meributkannya? Apakah dalam politik memang harus demikian, harus ada provokasi yang harus dapat menggoyahkan konsistensi? Apakah dalam politik memang harus berciri terburu-buru dan tumpah tindih, belum tuntas sebuah soal muncul soal lain yang remeh temeh tetapi menyita perhatian? Apakah memang demikian ciri politik bangsa kita? Selalu suka membicarakan yang tidak penting dan tidak berguna ketimbang menyoal yang lebih prioritas dan mendesak untuk pembangunan bangsa?

Okelah…pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan pernah tuntans untuk dijawab. Namun yang pasti bahwa Bu Bambang tidak mau mencalonkan diri menjadi presiden pada pilpres 2014. “Apapun orang mengatakan saya akan jadi presiden adalah salah besar. Karena kebanggaan buat saya jika berhasil mengantarkan SBY menyelesaikan tugasnya sampai 2014. Setelah itu pangkat saya hanya satu yakni tetap isteri SBY, Bu Bambang.” Jelas bukan? Siapa Bilang Bu Bambang Mau Jadi Presiden? Bu Bambang saja mengatakan tidak.

Matematik(it)a Kita

Politik adalah medan pengabdian dan keberpihakan kepada kesejahteraan warga bangsa

Apakah itu politik? Jika aku mau jujur, sejauh yang aku tahu, politik adalah panggung pengabdian. Lantaran itu, siapa pun atau lembaga mana pun yang berkecimpung dalam dunia politik dipastikan terpanggil untuk mengabdi. Mengabdi bukan pertama-tama untuk diri mereka sendiri, tetapi pertama dan terutama adalah untuk masyarakat, warga bangsa demi tujuan yang sangat mulia: kesejahteraan.

Seharusnya aku dan anda sudah cukup puas dengan jawaban ini. Karena jawaban ini sudah cukup menjadi rel juga arah dan tujuan bagaimana seharusnya berpolitik dan seorang politisi berkiprah dalam dunia tersebut. Namun, jika pertanyaan yang sama terlontar untuk kesekian kalinya, seperti sedang menodongku dan anda untuk menjawab dengan jawaban yang lain, maka bagiku, pertanyaan yang sama sudah menjadi tidak lazim. Jika jawabannya adalah bukan sebagai gelanggang pengabdian, lantas bagaimana aku harus menjawabnya.

Sebagai warga bangsa yang kesehariannya turun ke ladang, atau mendayung perahu ke laut, atau mencuci pakaian tuan dan nyonya, atau melacur diri di malam hari, atau memikul bata membangun rumah, atau mengayuh sepeda mengantar penumpang, dan atau mengemis di jalanan kota, pertanyaan tentang ’apakah itu politik?’ bukan hanya membutakan isi kepalaku, tetapi juga mengunci pintu nuraniku. Sebagai warga bangsa, aku lelah.

Namun, dalam kelelahan aku masih mencoba untuk bangun dan sadar. Aku masuh mau mencoba untuk untuk menjawab. Lantaran karena jawaban yang harus dijawab adalah tentang sesuatu yang tidak seperti yang aku jawab, maka yang terjadi adalah mereka-reka, menebak-nebak. Dalam ketidakpastian jawaban itu aku menemukan jawabannya, bahwa sesungguhnya selain sebagai gelanggang pengabdian, politik juga adalah sebuah matematik(it)a.

Sebagai misal, aku punya sebuah contoh soal. Berapakah hasil akhir dari soal berikut ini: Negeri lentur demokrasi diselingkuh, tambah tiada hukum dipatuh, bual dan gertak sambal pelipur beradu. Ditambah lapar yang berteriak minta makan dan jumlah mereka yang mengemis di jalan-jalan. Ditambah lagi bencana mengguncang dan kematian yang terkubur tanpa nisan

ditambah pekik merdeka di ujung sana ujung sini yang seperti bara dalam sekam. Ditambah harga bahan bakar yang mahal dengan mulut bual penuh janji kesejahteraan?

Hasilnya sama dengan aku ditambah kau: KITA. Inilah matematik(it)a politik di tanah air ini. Dalam contoh soal yang sama, jika rumusnya diganti dengan perkalian, pengurangan dan atau pembagian, hasilnya akan tetap sama: KITA. Apakah itu politik? Sudah barang tentu sebagai warga bangsa, aku akan menjawab KAU, dan jika KAU balik bertanya KAU? Maka aku akan menjawabnya dengan kata KITA, dan jika KAU kebingungan karena aku menjawab KITA. Di situlah hakikatnya politik dalam teori matematik(it)a.

Bangsa(t) Kata

Thomas Hobbes, 1588 – 1679, Malmesbury – Hardwick. Hobbes menulis Leviathan (1651) ekoran muhasabahnya terhadap perang 30 tahun di era emperisme, yang di sana lahirnya tokoh-tokoh perintis sains moden, seperti Newton, Galileo, Kepler, Kopernigk, dll. Leviathan itu, merupakan cerapannya terhadap dorongan survival para egois dalam penglibatannya pada negara. Justeru, ditemui dalam karya besar filsafat politik ini, konsep pemeliharaan diri dan menjaga kepentingan peribadi. Hobbes sendiri, tidak takut pada tirani, sebaleknya lebih gusarkan anarkisme. Dari satu sudut, Leviathan ada bau-bau machiavellian, namun tetap ada perbezaannya. Pada Leviathan, Hobbes menekankan sistem yang ampuh, serta kecerdasan para para/politikus. Sebab itu, dikatakan pemikiran Hobbes ini telah mengawali sistem pemikiran politik secara sistematik. (Keterangan naskah: http://selak.blogspot.com/2010/02/filsafat-politik-buku-buku-besar.html)

Kupingmu merah ketika seorang politisi melontarkan kata ’Bangsat’. Dan hidungmu mengembang manakala seorang tokoh politik yang lain mengatakan ’Apa yang anda buat benar, karena sejatinya sebuah kebijakan tidak pernah salah’. Di hadapan umpatan reaksi kita tegas bersikap; pun di hadapan sanjungan kita bersikap yang sama. Harus. Seolah-olah politik itu hanya berkutat di ranah hitam putih, benar salah.

Namun, bukan pula politik itu harus berada di wilayah abu-abu. Anda dan juga aku, mungkin agak malu-malu kucing ketika seorang politisi mengajak politisi yang lain berunding ’Sekarang kita koalisi atau kolusi”. Pun bisa saja terjadi sampai kepada anda dan aku, semisal menjadi sangat bernafsu, dengan berpura-pura tidak mau ketika diajak menandatangani sepucuk surat tabu ”koorporasi korupsi”. Seolah-olah politik itu lentur tarik ulur. Selalu bermain di wilayah bimbang nan ragu.

Menjadi lebih pilu jika politik itu dikurung. Jika dikekang kurung. Sumpal mulut. Segala suara dibeku. Kau tahu apa yang bakal terjadi? Akan kumat umpat dan memaki. Kebinatangan politisi mewujut dalam kata bahasa bangsa(t). Pun akan menjadi bangsa(t) jika sumpal mulut dibuka, lantas melontar umpat tanpa ada cita rasa bahasa. Dan nan menyakitkan, jika sudah bebas isyarat kurung. Segala berita menjadi perlu. Kabar burung pun disambut. Tetapi yang terjadi adalah tetap bangsa(t) bukan kebangsawanan.

Lihatlah sekumpulan binatang yang dibawa para politisi jalanan. Ada kerbau SiBuYa, ada babi Budiono, ada Cicak KPK, ada Buaya Polisi, ada pula Gurita keluarga Cikeas. Lantaran itu, antara kebangsawanan dan kebangsa(t)an tidak ada beda. Sampai kadang aku bertanya: Politik dan politisi Indonesia. Apakah mereka bersikap kebangsawanankah ataukah kebangsa(t)an?

Karena itulah politik dan politisi lantas didefinisikan. Politik itu bobrok. Politik itu kotor. Politik itu menjijikkan. Politik itu nafsu. Politik itu penipuan. Politik itu culas. Politik itu garang. Politik itu permaian. Politik itu gombal. Politik itu seni. Politik itu cita rasa. Politik itu dedemit. Politik itu pocong. Politik itu drakula. Politik itu malaikat. Politik itu Tuhan. Politik itu penguasa. Politik itu rakyat. Politik itu pejabat. Politik itu gembel. Politik itu orang. Politik itu sekumpulan orang.

Politisi itu pelacur. Politisi itu setan. Politisi itu loba. Politisi itu santun. Politisi itu dewa penyelamat. Politisi itu dewa pencabut nyawa. Politisi itu kentut. Politisi itu omong besar. Politisi itu tepat waktu. Politisi itu tidur. Politisi itu pengemis. Politisi itu pelayan. Politisi pengabdi. Politisi itu pemberontak. Politisi pengayom. Politisi itu pembela kebenaran. Politisi itu sialan. Politisi itu amnesia.

Tentang politik dan politisi dalam seabrek definisi serupa ini sudah sedang dan masih akan terbentang dari, sudah sejak, polis di Athena sampai ke altar kota paling mutakhir. Dari Aristoles entah sampai siapa. Dalam kebingungan definisi serupa ini, politik sejatinya ditarik kembali ke posisinya yang paling arkhaik. Dan politisi seharusnya tahu menempatkan jati diri dengan perilaku politiknya. Seperti yang diakatakan Aristoteles bahwa politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Dalam definisi itu politik adalah panggung pengabdian dan politisi adalah pengabdi yang mengarahkan bangsa dan negara ini ke arah yang lebih baik, ukan sebaliknya membuat bangsa ini menjadi bangsa(t).

Sumber gambar: http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Destruction_of_Leviathan.png

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: