Because Of Facebook
PENGANTAR. Sebuah Negara yang menjunjung tinggi demokrasi mau atau tidak mau harus ‘melek politik digital’. ‘Melek politik digital’ artinya harus selalu meng-up to date demokrasi, disesuaikan dengan konteks dan perubahan media komunikasi dan informasi, kendatipun tidak harus kebablasan. Lantaran itulah, adalah baik jika di era ‘politik digital’ sebuah Negara tidak hanya dituntut untuk tampil terbuka, jujur, transparan, menyapa dan merakyat, tetapi juga perlu adanya ‘piranti’ undang-undang yang bisa membuat awas warganya agar demokrasi yang dikumandangkan tidak balik menjadi belati.
Pada kesempatan ini saya sarikan dari berbagai sumber perihal kekuatan politik digital. Dalam tiga tulisan terpisah tentang ‘Mubarak Di Mesir, Ambruk!’, ‘Barack Di Amerika, Populer!’ dan ‘Demokrasi’ saya mencoba untuk menunjukkan perihal kekuatan fenomena tersebut. Tulisan kecil ini tidak memberikan thesis tertentu, selain sebuah pemaparan informasi mentah yang masih bisa untuk diperdebatkan.
MUBARAK DI MESIR, AMBRUK. “We are all Khaled Said” adalah salah satu grup facebook paling populer selama revolusi Mesir berlangsung. Grup tersebut mengadopsi nama seorang pemuda di Kota Alexandria yang dipukul hingga mati oleh polisi tahun 2010. Grup online itu membawa pesan solidaritas melawan aparat keamanan yang semena-mena atas kaum muda. Dengan cepat, grup itu diakses oleh ratusan ribu pengguna Facebook di Mesir. Lantaran popularitasnya dalam membangun aspirasi arus bawah dan massa, maka tidak hanya kaum muda dan remaja serta masyarakat biasa yang ikut pola ini dalam menyampaikan pesan ke banyak orang tetapi juga kaum oposisi tradisional.
Sebab seperti diketahui, selama revolusi berlangsung. para aktivis dan kubu oposisi bisa dengan mudah memobilisasi massa dan melakukan koordinasi gerakan unjuk rasa melalui akun di Facebook dan Twitter. Mereka juga bisa menjadi media alternatif dengan menayangkan video-video bentrokan yang segera tersebar ke seluruh dunia melalui laman YouTube dan blog. Data dari laman pemantau media sosial, Social Bakers, menunjukkan bertambahnya jumlah pengguna Facebook di Mesir. Enam bulan lalu, jumlah pengguna jejaring sosial itu tidak sampai 3,2 juta. Namun, hingga pekan lalu, pengguna Facebook di Negeri Piramid ini berjumlah lebih dari lima juta orang. Sekitar 85 persen pengguna masuk dalam angkatan usia produktif, yaitu 18 hingga 44 tahun.
Berdasarkan data tersebut, tidak heran bila jejaring sosial seperti Facebook menjadi alat perjuangan para aktivis untuk berkoordinasi dan memobilisasi massa. Namun, pada Kamis, 27 Januari 2011 sial datang menimpa ribuan nitizen (pengguna internet) Mesir. Husni Mubarak yang kian ciut dengan amukan demontrasi massa justru menutup akses Facebook dan jaringan social lainnya di negeri piramida tersebut.
Akibat penutupan akses internet tersebut, massa tidak hanya tambah beringas, justru hacker pun lahir-tumbuh-kembang dengan liarnya. Seorang kolumnis Computerworld, Jaikumar Vijayan menilai rezim Mubarak rupa-rupanya tidak ingin mengulang kejadian di Tunisia sekaligus ingin mengadopsi langkah-langkah China dan Iran dalam membendung gerakan populer yang dibantu oleh media-media sosial di internet, lantaran itu salah satu caranya adalah dengan menutup akses internet.
BARACK DI AMERIKA: POPULER. Jauh sebelum revolusi Mesir bergulir sampai berhenti ketika Husni Mubarak menyatakan mundur pada Jumat 11 Februari pukul 18.45, di Amerika Serikat justru terjadi situasi yang berbeda. Ketika itu dalam kampanye pencalonan Barak Obama menjadi presiden Amerika ke-44 internet dan berbagai jaringan social menjadi kiblat utama kampanye. Di tangan David Ploufie, salah seorang tim sukses Obama, calon presiden kulit hitam pertama ini menjadi sangat populer. Ploufie, seperti dilansir berbagai media massa telah menyulap Obama menjadi pemuda yang gaul karena berani turun menyapa massa melalui berbagai jejaring social: Facebook, MySpace, Linkedin, YouTube, Friendster, hingga Twitter.
Lantaran itu tidaklah heran jika pada ketika itu, dalam sekejap Obama memiliki lebih dari 1,7 juta sahabat di Facebook, beberapa di antaranya warga negara Indonesia, dan 510.000 teman di MySpace. Sebaliknya, ‘lawan tanding’-nya McCain punya 309.000 teman di Facebook dan 88.000 di MySpace. Di jejaring sosial Twitter, Obama memiliki lebih dari 45.000 pengikut. Semua aktifitasnya diinformasikan melalui jejaring sosial tersebut langsung kepada sahabat-sahabatnya. Jutaan orang di dunia, tidak hanya di Amerika, dapat menyaksikan pidato Obama melalui YouTube. Obama juga memiliki blog pribadi, mengajak pendukungnya berperan serta dalam pengumpulan dana melalui online.
Tidak seperti pesaingnya, McCain, Obama menulis surat elektronik (e-mail) pribadinya dan menciptakan video-video eksklusif untuk pendukung online-nya. Yang menarik juga, video musik Yes We Can yang ditayangkan di YouTube, dengan bintang tamu antara lain Jesse Dylan, Will.i.am, Common, Scarlett Johansson, Tatyana Ali, John Legend, Herbie Hancock, Kate Walsh, Kareem Abdul Jabbar, Adam Rodriguez, Kelly Hu, Amber Valetta, Eric Balfour, Aisha Tyler, Nicole Scherzinger, dan Nick Cannon, dalam dua hari setelah dirilis diklik 698.934 kali.
Phil Noble menyebutkan, dua juta pendukung Obama bertindak sebagai sukarelawan selama masa kampanye, itu kunci penting kemenangan bersejarah ini. Prof. Thomas Patterson dari Universitas Harvard, Inggris memperkirakan, popularitas Obama dalam jejaring sosial menarik para pemilih muda dan kalangan terdidik Amerika. Obama dan tim suksesnya telah mengubah cara politisi menarik publik Amerika, termasuk mengumpulkan dana kampanye melalui online.
Obama dan tim suksesnya telah mengubah cara politisi menarik publik Amerika, termasuk mengumpulkan dana kampanye melalui online. Obama telah memindahkan politik kepresidenan masuk ke abad digital. Dia adalah salah satu calon presiden yang populer dan akhirnya menjadi presiden yang juga populer. Jejaring social digital melempangkan jalannya menuju Gedung Putih.
DEMOKRASI. Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Begitulah pemahaman yang paling sederhana tentang demokrasi, yang diketahui oleh hampir semua orang. Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan). Istilah ini berasal dari bahasa Yunani δημοκρατία – (dēmokratía) “kekuasaan rakyat”, yang dibentuk dari kata δῆμος (dêmos) “rakyat” dan κράτος (Kratos) “kekuasaan”, merujuk pada sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di negara kota Yunani Kuno, khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM.
Berbicara mengenai demokrasi adalah memburaskan (memperbincangkan) tentang kekuasaan, atau lebih tepatnya pengelolaan kekuasaan secara beradab. Ia adalah sistem manajemen kekuasaan yang dilandasi oleh nilai-nilai dan etika serta peradaban yang menghargai martabat manusia. Pelaku utama demokrasi adalah kita semua, setiap orang yang selama ini selalu diatasnamakan namun tak pernah ikut menentukan. Menjaga proses demokratisasi adalah memahami secara benar hak-hak yang kita miliki, menjaga hak-hak itu agar siapapun menghormatinya, melawan siapapun yang berusaha melanggar hak-hak itu. Demokrasi pada dasarnya adalah aturan orang (people rule), dan di dalam sistem politik yang demokratis warga mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama di dalam mengatur pemerintahan di dunia publik. Sedang demokrasi adalah keputusan berdasarkan suara terbanyak.
Di Indonesia, pergerakan nasional juga mencita-citakan pembentukan negara demokrasi yang berwatak anti-feodalis, anti-imperialisme, dengan tujuan membentuk masyarakat sosialis. Bagi Gus Dur, landasan demokrasi adalah keadilan, dalam arti terbukanya peluang kepada semua orang, dan berarti juga otonomi atau kemandirian dari orang yang bersangkutan untuk mengatur hidupnya, sesuai dengan apa yang dia ingini. Jadi masalah keadilan menjadi penting, dalam arti dia mempunyai hak untuk menentukan sendiri jalan hidupnya, tetapi harus dihormati haknya dan harus diberi peluang dan kemudahan serta pertolongan untuk mencapai itu.
PENUTUP. Demikianlah demokrasi dalam arti yang sesungguhnya. Nah…jika demokrasi dipahami dalam arti dan perpsektif perkembangan arus informasi dan teknologi. Rupa-rupanya demokrasi harus up to date. Demokrasi harus selalu dan mau menyesuaikan diri di tengah era modern. Karena, sekali lagi seperti yang saya sebutkan pada bagian awal tulisan ini, sebuah Negara yang menjunjung tinggi demokrasi mau atau tidak mau harus ‘melek politik digital’. ‘Melek politik digital’ artinya harus selalu meng-up to date demokrasi, disesuaikan dengan konteks dan perubahan media komunikasi dan informasi, kendatipun tidak harus kebablasan. Lantaran itulah, adalah baik jika di era ‘politik digital’ sebuah Negara tidak hanya dituntut untuk tampil terbuka, jujur, transparan, menyapa dan merakyat, tetapi juga perlu adanya ‘piranti’ undang-undang yang bisa membuat awas warganya agar demokrasi yang dikumandangkan tidak balik menjadi belati.
Sumber:
http://www.lintasberita.com/Dunia/Berita-Dunia/musuh-baru-rezim-mesir-facebook-dan-twitter
http://www.asnawi.com/blog/barack-obama-menang-karena-memanfaatkan-kekuatan-internet/
http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi















































