Tulisan yang ditandai ‘perempuan’

Cerita Dari Jakarta 1, Satu Jam Bersama Perempuan-Perempuan Liar

Menjelang pukul lima sore, Sabtu 5 November 2011, secarik karcis seharga lima ribu rupiah muncul dari balik jendela kaca buram. Aku mengambilnya segera, sambil tidak menghiraukan senyum laki-laki setengah perempuan di balik meja jaga itu. Di belakangku mengekor seorang perempuan muda tiga puluhan ber-rok jeans mini dengan lilitan sal abu-abu di lehernya. Sesekali perempuan berlipstik bening itu melepas batuk kecil. Aku membalas senyumnya setelah Ia melepas senyum manja.

Namun aku segera melupa, memembiarkan senyumnya pergi, mungkin lebih tepat menyapa mereka yang lain, yang akan datang membutuhkan jasanya. Kuayunkan langkah menaiki anak tangga selanjutnya akan menuju tempat yang menurutku paling nyaman. Jika bukan paling belakang, maka di bagian tengah, di sayap kiri atau kanan.

Belum juga ujung langkahku melewati batas pintu, tiba-tiba aku disergap tawaran yang menggiurkan dari perempuan muda usia dua puluhan ‘’Mas, mau ditemani?” Tawaran serupa itu tidak membuatku tersintak. Sudah kuduga dari gerak tubuhnya. Dia bukan perempuan biasa. Seharusnya aku tidak menolak ajakan itu, karena memang aku tidak ditemani siapa-siapa, tetapi karena aku tidak hendak merusak rencana yang sudah kugariskan, maka sambil menepuk bahunya aku melepas kata “Terima kasih, teman saya sudah tunggu di dalam”.

Ruangannya  gulita, baunya menyengat, dan entah suara apa, mungkin suara kipas, bisingnya terdengar jelas. Aku duduk di bangku paling belakang, pandanganku menyapu ruangan tapi tidak melihat apa-apa. Hanya seperti aku sendiri, walau sesekali terdengar  berisik bisik dan suara cekekikan yang entah datang dari mana.

Tuntas sudah sunyiku. Tiba-tiba sebuah suara pecahkan ruangan, bersamaan dengan itu, layar gulita yang berjarak sepuluh meter di hadapanku terang benderang. “Perempuan-Perempuan Liar” yang disutradarai Rako Prijanto yang pertama kali dirilis pada 13 Oktober 2011 itu jelas terbaca pada layar. Sebuah tontonan yang bagiku luar biasa, selain karena judulnya yang menantang juga tempatnya yang sepertinya menjelaskan dengan amat gamblang seperti apa kisah yang selanjutnya akan ditampilkan.

Mataku jelas menyapu ruangan. Menyembul pasangan-pasangan kepala dari kursi-kursi yang tidak tertata. Sepasang kepala tampak di pojok kanan depan. Sepasang lagi di sampingnya. Jauh di sebeluh kiri sepasang kepala menyembul dari balik kursi yang setengah patah. Di barisan tengah tampak sepasang kepala, berjarak empat kursi dari mereka sepasang kepala yang lain sedang asyik lepaskan pandangan ke arah layar. Di barisan paling belakang, sederatan denganku, tampak dua pasang kepala. Walau duduk agak berjarak, namun apa yang mereka lakukan jelas tampak.

Aku tidak menyimak benar apa kisah di layar lebar. Mataku lekat mengarah ke setiap pasang kepala, mencoba menjawab tanya yang selama ini memendam dalam kepala. Bahwa Grand Theatre Senen atau yang biasa disebut Bioskop Pasar Senen adalah sarangnya ‘makhsiat’. Apakah kisah itu benar? Apakah bioskop yang pada masa silam punya nama besar itu, kini, dalam kesehariannya tidak lebih sebagai kubangan lendir?

Cerita aneka orang ternyata tidak luncas. Tampak jelas pada pasangan-pasangan kepala itu yang tidak pernah serius menonton kisah, serupa apa “Perempuan-Perempuan Liar”. Kisah yang seharusnya ditonton dan disimak, ternyata di-fakta-kan sepanjang satu jam dari dan di atas kursi yang berantakan.

Bibir-bibir mereka mengadu-serbu, suara-suara desah-bisik sesekali lepas. Rambut, baju dan celana seperti koyak diobok-obok tangan-tangan mereka yang sebenarnya tidak sekedar saling sapa-sentuh. Sepasang kepala yang berjarak tiga kursi di sampingku tanpa takut dan malu mengumbar nafsu. Sebuah kepala yang ditutupi rambut panjang sembul menyembul di antara selangkangan lelaki yang asyik mengangkang.

“Perempuan-Perempuan Liar” sudah sedang diterjemahkan, pun pula laki-laki hidung belang datang menafsirkannya dalam birahi. Lima ribu rupiah yang  disodorkan di loket karcis adalah pintu masuk untuk tumpahkan rasa yang entah mau dilukiskan sebagai apa.  Siapa menonton apa, apa menghasilkan apa, tak berkisah di ruangan setengah gelap itu.

Satu jam bersama “Perempuan-Prempuan Liar” baik yang terpijar pada layar, maupun yang bertubuh-daging di sekitarku adalah pengalaman perjumpaan yang jika mau jujur menjelaskan dengan amat terang serupa apa liar-nya Jakarta. Bahwa di tengah kepungan berisik kota, serunya diskusi dan berisik berita sempurna, pun  kecemasan dan kesemrawutan ibu kota dengan embel-embel modern-nya sesungguhnya dari grand theatre Senen aku menyaksikan pasangan-pasangan manusia tidak berdaya, manusia-manusia kalah, yang akhirnya menggunakan tubuh dan hasratnya untuk melawan kejamnya ibu kota.

Perawan

Seorang perempuan menampar pacarnya yang baru seminggu jadian, lantaran sebuah pertanyaan konyol “Apakah kamu masih perawan?”. Tidak hanya itu, segelas minuman dengan campuran cream kental mengenai sebagian wajah sang kekasih yang dalam sekejap berubah menjadi mantan.

Wajah sang mantan yang setengah basah itu merah padam. Sambil menahan malu, dia berlalu di antara belasan pasang mata. Mata-mata para perempuan. Pandangan mereka menembus redup malam itu. Bahkan sampai membunuh kejantanan pria tertampar. Sang pria yang ketiban malu, jalan menunduk, terdengar suara menggerutu, entah umpat dan atau entah apa, sebelum menghidupkan sepeda motornya dan menghilang di balik malam.

Tinggalah perempuan itu seorang diri di sudut meja dengan segelas minuman cokelat tua. Di bawah percikan lampu kelap kelip, perempuan itu tampak melepas senyum legah. “Engkau mencintaiku atau sebagian daging dari tubuhku” kata perempuan itu sambil beranjak dari tempat duduknya dan kemudian ikut menghentak-hentakkan tubuhnya. Hentakkannya lebih dasyat dari suara music yang bagiku tampat terdengar pecah berantakan.

Aku mendekat  mencoba menyapa “Hi, sendiri?” Dia tersenyum. “Ya, sendiri”. Balasnya. “Rendy” aku memperkenalkan diri dengan suara setengah teriak, mencoba mengalahkan berisik music. “Mawar” dia pun balas memperkenalkan diri tapi dengan berbisik. Kedua belah bibirnya menempel di telinga kananku “Jangan teriak, aku bisa dengar koq” suaranya terasa hangat.

“Bisa aku temani” bisikku di samping kupingnya. Bau mawar terasa begitu lembut. “Jangan, aku sudah tidak perawan lagi?” timpalnya. “Sepertinya kamu salah menilaiku” aku mencoba menggoda, walau sebenarnya aku kesal karena menyamakan aku dengan mantannya. “Berarti kamu adalah pria yang berpura-pura jujur dan atau berpura-pura untuk terima apa adanya”. Jelasnya masih dengan kecewa penuh sinis.

Suara music belum juga menepi. Suara yang sama, pecah yang sama dan gemuruh yang sama, membuatku menafsirkan tubuh dalam gerak yang sama pula. Kaku. Jawaban Mawar dan suara music membuatku gundah. Hendak kusudahi obrolan, tetapi rasa mengajakku untuk tidak menyerah.

Tetapi tidak bagi Mawar. Gadis cantik itu begitu pandai padukan tubuh di antara bunyi yang suntuk. Gerakannya suluk dalam melodi. Hentakkan kakinya menyapa gemuruh bass. Desisnya nyaris seirama tamparan piringan. Matanya sesekali berkedip serupa lampu warna-warni.

“Rendy, perempuan sebagai dirinya dalam eksistensinya sebagai manusia perempuan, tidak hanya diukur dengan masih perawan dan atau tidak perawan. Jika anda mencintai seorang perempuan hanya karena masih perawan maka anda hanya mencintai sebatas ‘vagina’”

Malam hari itu, Mawar benar-benar menjadi dirinya sendiri seperti yang ditafsirkannya tentang apa itu kehidupan bagi seorang perempuan. Tentang itu ia meringkas dalam dalam penjelasannya yang sempurna “Rendy, perempuan sebagai dirinya dalam eksistensinya sebagai manusia perempuan, tidak hanya diukur dengan masih perawan dan atau tidak perawan. Jika anda mencintai seorang perempuan hanya karena masih perawan maka anda hanya mencintai sebatas ‘vagina’”

Penjelasan tiba-tiba itu membuatku tersintak. Kemudian Mawar melanjutkan “Dan karena sang lelaki  rupa-rupanya hanya mencintai sang perempuan hanya sebatas ‘vagina’ maka…” plak….. Aku terperanjat. Tidak kusangka Niken akan menamparku. Tamparan itu membuat belasan pasang mata yang sama memandangiku. Mereka memandangi berulang. Di bawah redup lampu itu, di tengah suasana gemuruh music yang tidak menentu , aku dihakimi oleh mata para perempuan. Walau sesungguhnya aku sadar, aku tidak berbuat salah.

Hendak aku mengejar Mawar untuk menanyakan alasan mengapa ia menamparku. Tapi langkahku terpaku. Mata-mata para perempuan di kafe malam itu terlalu tangguh. Pandangan mereka benar-benar menusuk rasaku, membuatku tidak hanya malu, tetapi juga ciut. Tiba-tiba seseorang datang mendekat, membisikkan dengan lembut di kupingku “Pergilah, namun agar kau tahu perempuan itu Mawar, sesungguhnya dia adalah bunga sekalipun kau mengingingi yang tidak berduri”.

Vagina Dentata

Saya tersintak ketika seorang sahabat yang mengatakan bahwa perlu ada ‘celana besi’ untuk kaum perempuan. Ia mengajukan ‘ide gila’ itu lantaran, katanya, terlalu lelah membaca berita surat kabar yang sepertinya tiada hari tanpa ada berita pemerkosaan dan atau pelecehan seksual. Dia juga menambahkan, jika bukan ‘celana besi’ maka ‘raja kecil’ kaum lelaki harus dipindahkan ke dahi, agar semua orang tahu karena banyak mata memandang, termasuk maka sang pemiliknya.

***

Anjuran sahabat saya termasuk kategori ringan. Ada sebuah kisah klasik, mytos mengisahkan tentang ‘Vagina Dentata’ atau tentang perempuan dengan ‘vagina bergigi’. Ini tentu saja lebih mengerikan, sekalipun sekedar mytos.  Tentang ‘Vagina dentata’, Erich Neumann meringkaskannya dalam The Great Mother-nya (1955), di mana “seekor ikan mendiami vagina Wanita Monster; sang pahlawan adalah pria yang mengalahkan wanita tersebut, mematahkan gigi-gigi dalam vaginanya, dan membuatnya menjadi seorang wanita.

Pesan moral yang mau disampaikan dalam dan melalui ‘Vagina dentata’ adalah agar setiap laki-laki tidak ‘main-main dengan alat kelaminnya’ dengan dan pada saiapapun perempuan. Hal lain dimaksudkan adalah sebagai ‘tamparan’ bagi kaum laki-laki agar tidak melakukan aksi dan atau tindakan pemerkosaan. Sebab, apabila berani melakukan tindakan tersebut, maka bersiap-siaplah kaum laki-laki kehilangan ‘raja kecilnya’ lantaran akan direnggut kunyahan barisan gigi ‘ tuan putri’.

 ***

Sepintas, anjuran gila sahabat saya, pun mytos ‘Vagina dentata’ dipandang sebagai kisah yang ‘ada-ada saja’, menggelikan dan tidak masuk akal, namun jika dicerna-pikirkan secara saksama, sesungguhnya anjuran dan mytos tersebut lahir sebagai ledakan atas endapan kemarahan yang ditutupi sedemikian panjang dan lama.  Sebuah amukan situasi yang benar-benar parah. Sebuah pemberontakan ‘terakhir’ setelah semua cara untuk mempertahankan indentias, keberadaan dan martabat kaum perempuan ‘dinyatakan gagal’.

Tepatlah sejarah mencatat bahwa perempuan menjadi objek yang diremeh-sepelekan sudah setua umur dunia. Sudah sejak Hawa disebut sebagai biang dari dosa asal, hingga hawa-hawa baru yang selalu distigma sebagai biang dari nafsu. Anekdot yang menyebutkan bukan Adam yang menjadi sumber birahi, tetapi Hawa serupa sebuah pembenaran. Nafsu lahir dari hawa, maka disebut hawa nafsu, bukan dari adam sehingga menjadi adam nafsu. Anekdot itu tidak hanya sekedar lucu, tetapi juga menjadi bukti bahwa kaum perempuan selalu saja dicederai.

‘Pemberontakan’ pun lahir. Upaya untuk itu pun sudah setua umur dunia. Segala seruan dan gerakan moral dikumandangkan untuk mencegah dan bahkan melawan berbagai ketimpangan dan penindasan terhadap kaum perempuan. Namun sayang, persoalan itu tidak pernah sudah dibahas dan diperjuangkan hingga hari ini dan mungkin hingga entah waktu. Pertanyaanya adalah apakah mytos ‘vagina dentata’ harus sungguh menjadi nyata agar segala soal tentang penindasan perempuan menjadi sudah?

***

Tentu saja tidak. Sebab pelecahan terhadap kaum perempuan tidak hanya melulu akibat nafsu birahi, bahwa perempuan adalah objek seksual semata. Tetapi lebih dari itu adalah bahwa stigmatisasi dan habituasi perilaku yang menempatkan perempuan sebagai objek yang selalu diremeh-sepelekan sudah melekat, membekas dalam ingatan jadi budaya. Sebagai misal adalah pertama, adanya anggapan yang memandang bahwa perempuan itu irasional, emosional, maka ia tidak bisa memimpin dan oleh karena itu harus ditempatkan  pada posisi yang tidak penting sehingga melahirkan apa yang disebut Women Exclusion. Women Exclusion dapat dimaknai sebagai upaya dalam kebijakan yang terlihat “meminggirkan kaum perempuan” dalam banyak aspek.

Kedua  adanya marginalisasi terhadap kaum perempuan. Marginalisasi berarti sama juga dengan proses kemiskinan dan pemiskinan. Meskipun dalam definisi umum dipahami bahwa kemiskinan merupakan pengalaman hidup yang dialami oleh siapa saja, namun dalam konteks ini, pemiskinan secara sistemik justru dialami oleh jenis kelamin tertentu, yaitu perempuan. Kebijakan negara, keyakinan dan tradisi, tafsir agama, atau asumsi-asumsi ilmu pengetahuan, bisa jadi merupakan biang keladi dari penistaan kaum perempuan ini.

Ketimpangan-ketimpangan inilah yang mesti dibongkar. Upaya pembongkarannya dimulai dengan dan dari dalam diri sendiri, keluarga, sekolah, lingkungan social dan agama kita. Bukan sebaliknya memproduksi ‘celana besi’ dan apalagi menghadir-adakan ‘Vagina dentata’.

Martabat Perempuan, Catatan Dari Rohot Sikka

Aku tidak pernah membayangkan kalau suatu saat aku akan tiba di sebuah kampung kecil di Nita Maumere yang bernama Rohot. Sebuah kampung dengan sedikit rumah yang terletak di bukit kecil. Sebuah kampung yang bagai tidak berpenghuni, sepi, tetapi pada sebaris-deret kubur tua di kampung berundak itu jelas tampak kehidupan yang nyaman dan tenteram. Ya, sekurang-kurangnya pada nyala lilin di puncak nisan yang memendar bagai senja ketika itu terlukis sebuah harmoni. Paduan akrab kehidupan.

Di Rohot itulah aku merekam tentang siapakah sesungguhnya perempuan Sikka-Lela. Tentang martabat dan derajatnya. Seorang lelaki paruh baya dengan wajah selalu dibalut senyum mengisahkan tentang semuanya. Aku mencatat dua penggal kalimat yang hingga kini masih tersimpan dalam catatan yang nyaris kusam. Dan menurutku dua penggalan kalimat ini sudah sangat lazim diungkap-tutur-wariskan dalam keseharian masyarakat Sikka-Lela.

Penggalan pertama adalah “Du’a naha nora ling, nora weling, Loning dua utang ling labu weling. Dadi ata lai naha letto wotter Kalimat bahasa Sikka ini artinya kurang lebih demikian: Setiap wanita mempunyai nilai, mempunyai harga, sedangkan sarung dan bajunya juga mempunyai nilai dan harga, sehingga setiap lelaki harus membayar.

Penggalan kalimat obrolan lain yang sempat terekam adalah “Ine io me tondo, Ame io paga saga, Ine io kando naggo, Ame io pake pawe” yang artinya kurang lebih “Ibulah yang memelihara dan membesarkannya. Ayah yang menjaga dan mendewasakannya. Dan ibu pula yang memberikannya perhiasan. Ayah memberikannya sandang”

Dua penggalan kalimat di atas menurutku merangkum-ringkas tentang martabat gadis Sikka-Lela di mata masyarakat. Melampaui dari sekedar perempuan itu harus dihargai dan dihormati karena tamparan kelam yang dialami kaum perempuan di tengah kepungan feodalistis-paternalistis sejarah Sikka-Lela, sesungguhnya perempuan itu pada dirinya sendiri adalah bermartabat. Perempuan tidak hanya bermartabat karena sekedar sebagai makhluk Tuhan, tetapi juga makhluk Tuhan yang sama, yang bernama perempuan itu, memiliki peran vital dalam tubuh social dan kehidupan.

Salah satu fakta yang mencerminkan bahwa perempuan Sikka-Lela bermartabat dan berharga dalam kehidupan social adalah melalui dan dalam belis yang mencengangkan. Catatan ringkas tentang belis di Sikka-Lela biasa seorang gadis dibelis dalam enam bagian yakni Kila, belis cicin kawin; djarang sakang, (pemberian kuda); wua taa wa gete, bagian belis yang paling besar dan mahal (termasuk gading gajah); inat rakong, belis lelah untuk mama; bala lubung, untuk nenek; ngororemang (mereka yang menyiapkan pesta). Fakta ini tentu saja membuat sebagian orang yang baru mendengarnya tidak masuk akal, lantaran dua hal, yakni di Flores tidak terdapat gajah lantas mengapa harus membelis dengan gading gajah? Selanjutnya adalah pertanyaan terkejut yang sering muncul ‘Koq perempuan seperti ditukar dengan harta?”.

Namun jika merunut pada sejarahnya kita (baru) menjadi tahu dan bahkan selanjutnya memberi keyakinan bahwa martabat wanita sangat dihargai. Perempuan pantas untuk ditempatkan pada tempat yang bermartabat dalam kehidupan social, sebagaimana halnya kita menghargai kaum yang bernama laki-laki.

Mendengar, merekam dalam catatan semua kisah tentang perempuan Sikka-Lela aku menjadi sadar sungguh bahwa pada setiap tempat, daerah atau wilayah tertentu terdapat peristiwa dan atau momen yang melahirkan refleksi tentang kehidupan yang bermartabat. Tidak hanya tentang penghargaan dan menghargai perempuan, tetapi lebih dari itu adalah menghargai kehidupan. Bahwa sesungguhnya kehidupan itu bermartabat.

Amazing Love

Aku dibiarkan terlunta di kesendirian. Menjawab sejuta tanya di lautan kehidupan yang kian tidak menentu. Sebagai perempuan aku tersiksa. Sebagai perempuan aku terluka. Andai tidak ada janji yang diberikan pada ketika itu, mungkin aku menjadi perempuan yang tidak mengapa. Tetapi sejarah tidak dapat diulang. Tentang segala luka dan semua derita, terpaksa aku harus mencari penyembuhan. Dengan ikhlas aku mencoba untuk melupakan semua, walau sesungguhnya tentang segala kenangan masih membekas begitu indah dan jelas.

Aku bukan perempuan yang ditinggalkan. Hanya sepatah kata itu yang menyisahkan gembira dalam dadaku. Aku perempuan yang kuat. Hanya sepatah kata itu yang memberikan aku terang. Aku perempuan yang tegar. Hanya sepatah kata itu yang memberikan aku jalan keluar. Andai tidak, aku mungkin menjadi perempuan paling sial karena tidak dapat menjawab kepungan kegundahan.

Aku tidak akan pernah mengutukmu sebagai lelaki pecundang, karena telah melepaskan aku dengan sia-sia. Aku menyadari itu sungguh, bahwa pilihanmu bukan untukku. Aku bukan wanita terindah bagimu. Kendati dalam janjimu dulu, engkau mengatakan aku adalah mawar dalam kehidupanmu. Tapi, itu kisah yang dulu. Sekarang, semuanya sudah berubah, jadi debu.

Dengan tulus, aku telah memaafkanmu. Dengan ikhlas, aku pun menerima seluruh diriku sebagai perempuan yang berbahagia. Bahwa sesungguhnya aku bukan perempuan yang ditinggalkan, tetapi manusia bermartabat yang telah engkau tempatkan pada tempat yang benar. Aku mau menjadi diriku sendiri. Menjadi seperti yang kurindu, menjadi seperti yang kuimpi.

Aku menyadari sungguh, bahwa perpisahan bukan akhir dari segala cerita. Bukan ujung dari sebuah perjumpaan. Tetapi sebaliknya nyawa bagi sebuah permulaan. Awal dari sebuah perjumpaan yang lain. Aku merefleksikan banyak hal tentang pengalaman perjumpaan itu. Sesungguhnya setiap kisah harus dimulai dari diri sendiri. Aku harus suluk ke dalam diri sendiri. Aku harus memasuki relung terjauh dari kalbuku. Aku harus menyibak semak-semak soalku, mengurainya jadi jalan menuju perjumpaan yang lain.

Tidak ada kata yang lebih tepat selain ucapan terima kasih penuh ikhlas untuk sebuah perpisahan yang sakit. Karena perpisahan itu, karena sakit itu, aku semakin mengalami bahwa kian hari aku kian matang. Selalu setiap sempat dan saat, aku serupa disembuhkan selalu dan lagi. Semakin aku suluk dengan diriku sendiri, semakin aku menemukan diriku bermartabat, bukan hanya untukku tetapi juga untuk hidup dan kehidupan. Itulah aku, aku bukan perempuan yang ditinggalkan, tetapi sebaliknya aku perempuan yang kau tempatkan pada tempat yang tepat dan bermartabat. Untuk dan tentang ini, aku tidak pernah sudah mengatakan ‘aku sayang kamu’ sekalipun kau pergi meninggalkan aku untuk seterusnya.

Amazing……..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: