Tulisan yang ditandai ‘pendidikan’

Asal Tahu: Tips dan Trik Untuk Menyontek

Kecil Menyontek, Besar Plagiat,

Mungkin Saja!

Dengan sengaja saya menulis judul tulisan kecil ini seperti di atas, karena menurut hemat saya, seorang plagiator ‘mungkin’ saja ketika masih di pendidikan dasar sudah belajar menyontek dan menjiplak. Ini masih satu kemungkinan, lebih tepat disebut sebagai salah satu sebab yang mungkin terjadi, karena  mengapa (juga) seorang guru besar (sekali pun) berani-beraninya melakukan plagiat, jika bukan karena sebuah ‘keseringan’, sebuah cara ‘belajar’  yang timpang dan berangkat dari pengalaman?

Ugh…menyakitkan memang, mendengar merebaknya kasus plagiat/penjiplakan yang seharusnya tidak pantas menimpa seorang guru besar. Tetapi mau apa dikata, inilah fakta,  solusi mentah dan  masih terbuka untuk diperdebatkan coba saya sampaikan di sini. Bahwa FONDASI PENDIDIKAN DASAR HARUS KUAT. Artinya,

pertama, berikanlah kebebasan kepada peserta didik untuk mengeksplorasi pengetahuan. Guru atau pendidik menfasilitasinya secara benar (berdasarkan hakikat pendidikan yang dianut). Contoh kongkret untuk hal ini adalah berikan ruang yang terbuka kepada peserta didik untuk menulis dan membaca, menganalisis masalah dan memahami konteks. Hindari pula soal-soal pertanyaan yang ‘membodohkan’ siswa semisal soal pilihan ganda, tetapi perkaya siswa dengan penerapan pisau analisis melalui soal-soal essay.

Kedua, hakikat pendidikan sejatinya adalah mencerahkan bukan sebaliknya membuatakan mata hati nurani manusia.  Itu artinya, baik peserta didik maupun pendidik harus belajar dan berguru pada dan untuk KEBENARAN. Tujuan pendidikan sejatinya bukan supaya seorang anak didik mendapat nilai 10 atau A+, atau sebuah universitas mendapat nilai A+ atau terakreditasi. Tujuan pendidikan sejatinya adalah menciptakan manusia-manusia unggul yang nantinya dapat  mempertanggungjawabkan kehidupan bagi dirinya sendiri, lingkungan dan Tuhan.

Ketiga, hemat saya, mengapa seorang anak didik menyontek/menjiplak, dan seorang guru besar ‘berani’ melakukan plagiat,  adalah karena sang pelaku tidak memahami content dan hakikat pendidikan yang sesungguhnya. Lantas pertanyaan lebih lanjut, bagaimana seharusnya kita memulainya? jawabannya sangat sederhana. Mulailah dari diri sendiri. Titik. Jika masih bertanya bagaimana? maka bergurulah kepada KEBENARAN. Titik.

Seseorang, masih duduk di Sekolah Menengah, sebut saja dia adalah Si Tukang Nyontek. Pagi-pagi buta, baru saja saya membuka jendela facebook, tiba-tiba dia sudah nongol berbasa-basi, tapi ternyata ujung-ujungnya meminta tips dan trik bagaimana cara menyontek yang baik, tanpa diketahui oleh guru/pengawas dan tentu saja dapat menjawab soal secara benar.

Lantaran saya tidak punya resep untuk itu, saya memintanya untuk menceritakan trik-trik apa saja yang sudah pernah ia lakukan selama ini ketika menghadapi ulangan, kuis dan  atau ujian. Dengan penuh semangat ia membeberkan sederetan tips dan trik tersebut. Di bawah ini saya mencatat tips dan trik yang sudah digunakannya.

  1. Selama ini aku bikin catatan kecil di kertas yang aku buka ketika lagi ulangan, kuis, ujian dan lain-lain. Habis mau kerjasama nyontek sama teman susah sekali dan takut aku ketahuan sama bapak ibu guru yang jaga ujian.
  2. Kadang aku taruh kertas contekan di bawah kertas jawaban, lkemudian taruh contekannya waktu guru membagikan kertas jawaban atau soal ke murid yang lain. Nah wktu mulai ujian aku  tinggal geser dikit kertas jawaban buat ngeliat contekannya,tp smbil hati2 jgn sampai ketauan.
  3. Kadang aku taruh buku buat contekan di kamar mandi sekolahan. Tapi aku naruh di tempat yang ama. Nah waktu ujian mulai aku tinggal minta ijin ke kamar mandi. Aku bilang saja kalau mau buang air kecil. Tapi gak keseringan ke kamar mandinya nanti guru bisa curiga.
  4. Atau kadang untuk lebih efisien, akukerjasama degan teman yang lain, jadi bisa berbagi. Misalnya, aku bagian soal nomor 1 dan 2. Nah aku ke kamar mandi mencari jawaban untuk soal nonor 1 dan 2. Selanjutnya adalah giliran teman lain yang sudah mendapat jatah nomor selanjutanya, kemudian di-share.
  5. Kadang kalau ujiannya adalah pilihan ganda, aku kadang tanya teman yang lebih pintar. Caranya pake kode. Misalnya kalau jawaban A, kode jarinya angkat 1 jari. Kalau jawabannya B, angkat 2 jari dan seterusnya.
  6. Bahkan aku ama kawan-kawan sempat meeting sebelum ujian atau ulangan untuk menemukan resep jitu saat menyontek.  Rapat itu sebenarnya hanya untuk menyepakati tempat duduk yang paling strategis, yakni di dekat jendela. Biar kalau nyontek bisa awasi guru.
  7. Kadang sebelum ulangan aku  tanya anak-anak kelas lain yang uadah ulangan duluan dan kadang memaksanya untuk membocorkan jawaban. Imbalannya biasanya ajak jalan atau traktir makan.
  8. Lucunya ada yang lebih gila, pernah pas ujian kawan satu pura-pura  bikin rusuh. Ketika kelas lagi panic, mulailah kami bergentayangan mencari jawaban.

Demikianlah saya mencatat kurang lebih delapan (8) poin yang dikisahkan si Tukang Nyontek. Saya tidak hanya tersintak, terperanjat, tetapi juga kagum dengan pelajar tersebut. Mengapa bisa punya tips dan trik serupa itu, sangat kreatif dan brillian.

Namun sayang, di akhir chatingan, saya tidak memberikan tips dan trik apa pun selain mengatakan kepadanya bahwa coba lakukan lagi delapan trik di atas, atau bila perlu dikolaborasikan antara tips yang satu dengan trik yang lain.

Perlu dicatat bahwa tips dan trik menyontek seperti ini sudah menjadi wajar terjadi dalam ruang kelas baik di pendidikan dasar, menengah maupun perguruan tinggi. Namun demikian pesan penting yang disampaikan dalam dan melalui tips dan trik ini bukan untuk ditiru, diikuti dan apalagi diterapkan, tetapi sebaliknya adalah untuk sekedar tahu bahwa menyontek itu perbuatan yang tidak baik dan tidak benar.

Untuk Apa Sekolah? Waduh…

Pertanyaan yang mengejutkan. Tidak disangka pertanyaan itu akan datang tiba-tiba dari seorang pelajar yang masih mengenakan seragam sekolah dengan tas di punggung penuh buku pelajaran, yang jika tidak salah kedua hal itu wajib dikenakan dan dimiliki oleh seluruh pelajar di Indonesia. Sebab jika tidak, maka tidak tepat disebut sebagai pelajar.

Mengapa? Aku mencoba mengejarnya dengan tanya ‘Tidak memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan diri, sedikit-sedikit langsung dipotong, katanya program gak bagus dan uang gak ada lah…terus uang sekolah yang kami bayar pada ke mana semua, huffffff” jawabnya mengeluh, dahinya mengerut.

Ia membuka baju putihnya, disepakkan ke samping, sedikit terlihat logo biru langit bertuliskan ‘Tut Wuri Handayani’ terkulai. Sementara tas sekolahnya yang penuh buku dibantingnya ke lantai. Beberapa buku terpental keluar tas, terbaca sepintas judul pada salah satu buku ‘Panduan Persiapan Mandiri Ujian Nasional & Ujian Sekolah SMA/MA IPS 2010/2011’.

“Untuk apa sebenarnya sekolah?” tanyanya. “Sekolah adalah sebuah proses belajar untuk menjadi diri sendiri, dimana kita diberi kesempatan untuk menjadikan baju sekolah sebagai kain pel lantai, dan belajar bagaimana supaya buku-buku pelajaran dapat dijadikan sebagai bungkusan tomat di pasar’ jawabku. Dia tersenyum. Rupa-rupanya sang pelajar tahu maksudku, kemudian dia menanggapi “Betul, sekolah sebenarnya harus membantu kita menjadi diri sendiri, dan apa pun mata pelajarannya harus bisa menjawab situasi kongkret”

Tanggapan yang masuk akal dan jarang ditemui. Namun, tentang keluhan sebenarnya sudah sangat lumrah. Keluhan yang sama bagiku tidak hanya dialami pelajar yang satu ini, tetapi juga hampir merata di seluruh negeri ini. Bahwa ruang kelas dan sekolah hanya dijadikan sebagai tempat pen-jagal-an pengetahuan, sementara hakikat sekolah dan roh ruang kelas dicerabut oleh sistem dan kelaziman yang timpang. Entah karena terlalu mendewakan kurikulum yang baku bagai kitab suci, maupun pada sistem pengajaran yang tidak memihak pada kebutuhan pelajar itu sendiri.

Tidak hanya itu, proses pendidikan yang seharusnya menekankan pada pembangunan kemanusiaan manusia pelajar justru diabaikan lantaran lebih menekankan pada angka-angka kelulusan. Lantaran itu tidak heran jika para pelajar ‘seperti kerbau dicocok hidung’ mengikuti irama yang ada, belajar yang segiat-giatnya, mengerjakan pekerjaan rumah sebaik-baiknya, menjawab soal ujian sebenar-benarnya dan bersikap sesantun-santunya di hadapan guru. Agar dengan demikian sang pelajar akan disebut sebagai yang baik dan berprestasi.

Serupa itukah hakikat pendidikan, sesungguhnya sekolah dan situasi ruang kelas? Keluhan sang pelajar tentang ‘tidak memberikan ruang bagi siswa untuk berkreativitas’ adalah jawaban sekaligus protes. Selanjutnya pertanyaan ‘untuk apa sekolah?’ merupakan tamparan keras sekaligus refleksi yang menarik bagi kultur pendidikan di negara ini. Program pendidikan di negeri kita selalu harus ditagih untuk dievaluasi.

Pelajar Tidak Hanya Punya Kepala

Kebiasaan bahwa pelajar tugasnya adalah belajar di ruang kelas dengan setumpuk buku panduan berbagai mata pelajaran, diajarkan dan diberi tugas pekerjaan rumah, dijejali dengan pelajaran sore, selanjutnya memberi penilaian berdasarkan pilihan ganda pada kertas ujian, rupa-rupanya tidak hanya harus dievaluasi tetapi juga direfleksi dan diberi catatan kritis.

Bahwa sesungguhnya, sistem dan model belajar yang demikian bukan hanya menempatkan murid/siswa/pelajar pada sekedar ‘gentong air’ yang selalu harus diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan, tetapi juga memosisikan mereka hanya sekedar sebagai ‘kepala’ tanpa ‘kaki dan tangan’.

Ukuran keberhasilan, patokan kecerdasan murid/siswa/pelajar lantas beranjak pada hasil ujian pilihan ganda. Dan (mungkin) juga soal essay yang dangkal eksplorasi. Sisi kemanusiaan seorang murid/siswa/pelajar, termasuk didalamnya sisi psikologis, humaniora, bakat dan talenta lantas diabaikan dan bukan menjadi prioritas proses dan arah pendidikan.

Murid/siswa/pelajar tidak hanya punya ‘kepala’ yang dituntut banyak dalam kurikulum pendidikan kita, tetapi juga mereka punya ‘kaki’ dan ‘tangan’ yang dapat terlibat dan melibatkan diri dalam dan di tengah lingkungan sosial mereka. Tidak salah sebagai seorang murid/siswa/pelajar diminta untuk tekun belajar berdasarkan kurikulum yang ada. Namun, jika hanya melulu sistem dan model pendidikan itu yang diprioritaskan, dan bahkan menjadi kebiasaan, maka sudah barang tentu bukan hanya akan terjadi ketimpangan dalam proses dan arah pendidikan, tetapi juga sejatinya mengabaikan hakikat pendidikan itu sendiri.

Ki Hadjar Dewantara menguraikan lima asas dan hakikat pendidikan dengan amat menarik. Pertama, asas kemerdekaan; Memberikan kemerdekaan kepada anak didik, tetapi bukan kebebasan yang leluasa, terbuka (semau gue), melainkan kebebasan yang dituntun oleh kodrat alam, baik dalam kehidupan individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kedua, asas kodrat Alam; Pada dasarnya manusia itu sebagai makhluk yang menjadi satu dengan kodrat alam, tidak dapat lepas dari aturan main (Sunatullah), tiap orang diberi keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang secara wajar menurut kodratnya.

Ketiga, asas kebudayaan; Berakar dari kebudayaan bangsa, namun mengikuti kebudyaan luar yang telah maju sesuai dengan jaman. Kemajuan dunia terus diikuti, namun kebudayaan sendiri tetap menjadi acauan utama (jati diri). Keempat, asas kebangsaan; Membina kesatuan kebangsaan, perasaan satu dalam suka dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap menghargai bangsa lain, menciptakan keserasian dengan bangsa lain. Kelima, asas kemanusiaan; Mendidik anak menjadi manusia yang manusiawi sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk Tuhan.

Berangkat dari asas di atas dengan berkaca pada fakta rupa-rupanya kita pantas berefleksi. Apakah sesungguhnya pendidikan? Ke manakah arah pendidikan kita? Dan bagaimana seharusnya kita mendidik dan dididik? Selanjutnya masih banyak pertanyaan turunan lain yang menyertainya. Jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya tidak hanya dipahami tapi juga dilaksanakan dalam keseharian pendidikan kita. Agar pendidikan bukan menjadi ‘ladang penjagalan pengetahuan’ tetapi menjadi medan bagi murid/siswa/pelajar untuk semakin menjadi diri sendiri. Artinya memanfaatkan semua potensi, bakat dan kelebihan untuk dikembangkan, dan juga menyadari kekurangan, ketidakmampuan untuk dievaluasi dan diperbaharui. Dengan demikian ukuran dan patokan keberhasilan sebuah sistem dan metode pendidikan tidak lagi melulu pada kualitas isi ‘kepala’ murid/siswa/pelajar tetapi juga mencakup semua, meliput segala segi dan dimensi kemanusiaan mereka sebagai manusia.

Sekolah bukan ‘Rumah Pejagalan Pikiran’

Ada tiga thesis utama yang dikemukakan Bapak Pendidikan Modern, John Amos Comenius tentang pendidikan. Pertama, pendidikan merupakan daya pemersatu uamt manusia. Comenius yakin bahwa pendidikan universal dapat turut memelihara perdamaian dunia. Kedua, Comenius juga mengaitkan pengetahuan keilahian. Ia percaya bahwa dengan memperoleh pengetahuan, umat manusia pada akhirnya diarahkan kepada Allah. Dan ketiga, para siswa hendaknya tidak terlalu dibebani dengan pelajaran yang tidak cocok dengan usia, daya pemahaman, dan keadaan pada saat itu.

Tiga thesis utama di atas merupakan jawaban Comenius atas kesemrawutan, disorientasi, dan ‘ketidakbecusan’ pendidikan Eropa pada zamannya. Dimana menjamurnya fakta bahwa hanya pria yang dianggap layak mendapat pendidikan, kecuali yang berasal dari keluarga miskin. Pengajaran di dalam kelas sebagian besar dilakukan dengan menjejalkan kata, kalimat, dan tata kalimat untuk semua ilmu pengetahuan.

Guru pun tampil superior sebagai yang cerdas, sementara murid atau para siswa dipandang sebagai ‘tong air’ yang mesti diisi dan atau sebuah ‘alat rusak’ yang mesti diperbaiki. Di hadapan guru, murid atau para siswa tidak dapat mengeksplorasi diri (minat dan bakat). Murid atau para siswa dipandang hanya terdiri atas ‘kepala’  yang tidak punya ‘kaki dan tangan’.

Tidak hanya itu, sistem pendidikan yang ketat dengan tingkat disiplin yang tinggi, kadang-kadang kejam, ditambah suasana moralnya sangat mengerikan, membuat Comenius geram. Menurutnya, sekolah telah mengambil alih peran dan fungsi rumah pejagalan sebagai roh pendidikan. Protes itu amat terang dalam kalimatnya bahwa sekolah-sekolah telah berubah menjadi “rumah pejagalan pikiran”

Protes Comenius sebagai buah dari refleksi atas situasi pendidikan pada zamannya menginspirasi banyak orang. Tidak hanya di negeri kelahirannya Republik Ceko, tetapi hampir ke seluruh penjuru Eropa. Melalui ketiga bukunya yang terkenal yakni  The School of Infancy, selanjutnya The Visible World, dan The Great Didactic Comenius memelopori model pendidikan yang kontekstual. Melalui karya dan kiprahnya, Comenius tidak hanya dielu-elukan sebagai jenius, tetapi juga ditahbiskan sebagai Bapa Pendidikan Modern.

Menurut Comenius pendidikan harus menekankan pada metode pengamatan alami dan langsung terhadap dunia. Pengindraan merupakan metode mengajar yang tepat karena segala sesuatu diketahui melalui kegiatan mengindrai. Agar mencapai tujuan pendidikan yang ideal, pengajaran harus mencakup tiga hal mendasar, yakni pertama, meyakinkan dan cermat. Kedua, pasti dan jelas, serta yang ketiga, mudah dan menyenangkan.

Selanjutnya menurut Comenius pendidikan atau mengajar akan menjadi mudah dan menyenangkan apabila mengikuti proses yang terjadi dalam alam. Hal itu terjadi apabila, pertama, memulai sedini mungkin sebelum jiwa dan kepribadian peserta didik, murid atau siswa dirusak oleh berbagai kepentingan. Kedua, jiwa dan kepribadian harus dipersiapkan sebaik mungkin untuk menerima pendidikan. Situasi dan iklim pendidikan harus diciptakan secara kondusif. Ketiga, pendidikan harus berlangsung dari hal-hal yang umum ke hal-hal yang khusus, dengan memulai dari hal-hal yang mudah dan berproses menuju ke hal-hal yang sukar. Keempat, murid atau pelajar tidak dibebani dengan banyaknya mata pelajaran.

Kelima, penekanan ada pada proses. Kemajuan tidak dipaksakan, tetapi berproses secara berangsur-angsur. Keenam, tidak memaksakan pengetahuan yang berat. Menurut Comenius, intelektualitas jangan dipaksakan, tetapi berkembang sesuai dengan usia dan menggunakan metode yang alami. Ketujuh, dan terakhir adalah pendidikan harus terlibat dan melibatkan diri di tengah realitas sosial. Para pelajar atau siswa harus diikutsertakan dalam pembangunan masyrakat, dengan menyertakan mereka dalam situasi sosial masyarakat yang ada.

Belajar dari Comenius dengan merefleksikan situasi pendidikan di tanah air, kita mestinya tergugah. Kita mestinya sadar untuk selalu harus mengevaluasi sistem, metode dan iklim pendidikan kita. Apakah kita telah sungguh menjadikan sekolah sebagai ‘ruang kehidupan’ atau sebaliknya menjadi ‘rumah pejagalan pikiran’. Selamat berefleksi. (Dari berbagai sumber)

Pendidikan Seharusnya Membebaskan

Seorang pelajar mengeluhkan tentang tugas sekolah (baca: belajar) yang kian padat. Setiap hari, pada pagi hingga siang hari, mereka dijejali dengan berbagai ilmu pengetahuan yang ‘dituangkan’ seperti mengisi air ke dalam gentong kosong. Sore hari, mereka dipadatkan lagi dengan pelajaran sore, dengan alasan pendalaman materi dan pengembangan diri. Selanjutnya pada malam hari, mereka harus berkutat dengan pekerjaan rumah yang diberikan guru, dan keesokan harinya harus segera dikumpulkan.

Hari minggu, seharusnya hari libur, satu-satunya hari ‘keselamatan’ bagi mereka. Tetapi ketika kaki hendak melangkah sekedar mencari angin segar, orang tua melarangnya, “Mendingan kamu belajar, biar cepat pintar. Tidak ada gunanya jalan-jalan, hanya buang-buang waktu saja’. Pelajar tersebut terdiam. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Tidak membantah. Perlahan ia melepas napas panjang. Antara tidak tahu, kesal dan kesetiaan pada kebiasaan.

“Kak, apakah memang seperti itu pendidikan?”. Pertanyaannya serius. Hal itu tampak dari kerut dahinya. Aku tersintak. Aku mencoba untuk mengembalikan dengan tanya “Terus menurut kamu sendiri?”. “Ternyata berat sekali kak, seperti gimana ya…kerjanya hanya belajar itu menjenuhkan. Kami bagai dipenjara. Dilema juga kak…di satu sisi pendidikan itu katanya membebaskan, tetapi di sisi lain kami merasakan seperti ditekan” jawabnya jelas dan padat.

Atas pertanyaan itu, aku tidak segera menjawab. Sebab sesungguhnya sang pelajar tidak sedang membutuhkan jawaban, tetapi sebaliknya alasan rasional dari apa yang sedang dipikirkannya. Lantaran itu, aku kembali mengejarnya dengan tanya ‘pendidikan itu katanya membebaskan’ apa artinya itu?

Sang pelajar menjawabnya dengan panjang lebar. Dari apa yang dijelaskannya aku dapat menyimpulkan empat hal penting. Pertama, sang pelajar tersebut mengatakan ‘sepertinya tidak ada waktu kosong’. Rupa-rupanya sang pelajar membutuhkan kesempatan atau saat untuk berpikir sendiri. Berpikir sendiri yang saya maksudkan adalah momen refleksi. Pengendapan.

Selanjutnya, Kedua, ‘terlalu banyak teori’. Berbagai ilmu pengetahuan yang memenuhi ruang kepalanya telah menyiksanya. Sang pelajar rupanya sadar benar bahwa, sebagai pelajar, ia tidak hanya terdiri atas ‘kepala’ tetapi juga punya kaki dan tangan. Sang pelajar rupa-rupanya butuh pelepasan dalam praktik-pratik lapangan.

Ketiga, ‘saya sampai merasa agak ganjil, apa sih yang dimaksud dengan pintar?’. Pertanyaan ini sesungguhnya merupakan sebuah pernyataan bahwa seseorang disebut pintar atau pandai tidak hanya karena pengetahuan secara intelektual, tetapi juga berkaitan pengelolaan atas rasa. Sang pelajar rupanya sadar benar bahwa ada yang keliru dalam memahami ‘pintar’ dan atau ‘cerdas’. Dan saya menduga sang pelajar tersebut punya konsep tersendiri tentang itu. Dan itu baik.

Dan yang terakhir, Keempat, ‘susah sih untuk memilih’. Ini merupakan kesimpulan yang tidak terbantahkan dari pelajar mana pun. Hampir semua pelajar mengalami pilihan ini. Bahwa mereka telah terjebak dalam sebuah system dan kultur belajar yang ‘tidak memberi ruang refleksi dan eksplorasi’ (hal pertama), ‘banyak bicara’ (hal kedua), dan ‘agak ganjil (hal ketiga). Atas hal-hal tersebut mereka, termasuk sang pelajar tersebut dengan ‘terpaksa’ memilih untuk tetap berenang dalam ‘penjara’.

Menutup sekaligus menjawab semua keluhan, penjelasan dan alasan tentang problema belajar yang dialaminya, aku hanya memberikan satu kalimat singkat tentang apa sejatinya pendidikan sejauh yang saya tahu dan pahami, bahwa pendidikan adalah ‘sebuah proses untuk menemukan dan menjadi diri sendiri’. Itu saja.

Rupanya, sang pelajar tidak mengerti maksud perkataan itu. Jawabanku rupa-rupanya membuatnya bingung. Tetapi jika dia hendak memahami sungguh, sejatinya ‘kebingungan’ adalah induk dari segala ilmu pengetahuan. Namun untuk menyudahi kebingungannya, aku menyodorkan ‘Pendidikan Kaum Tertindas’-nya Paulo Freire. Aku yakin, daripada aku yang meberikan jawaban, adalah baik jika sang pelajar menemukan jawabannya sendiri. Bukankah demikian adanya dia sebagai sebagai seoarang yang sedang ‘belajar’?

Haha…aku mungkin kakak yang pongah baginya. Itu terbaca dari senyum sinisnya. Tetapi dalam hati kecil, aku bisa menebak kalau dia akan menemukan jawaban itu setelah ‘berdiskusi’ dengan Freire. Jika ya, maka jangan pernah salahkan pelajar jika mereka menjadi kian kritis, membongkar kemapanan kekakuan kurikulum, menampar guru-guru mereka dengan tanya-tanya yang cerdas, mengurai system dan kultur belajar yang menyiksa, serta membiarkan pekerjaan rumah mereka terbengkalai demi sebuah ruang refleksi yang sulit mereka dapat.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: