Tulisan yang ditandai ‘nurillah’

Azzahra, Perempuan Bercadar Mawar (6)

Tidak seperti biasa Nurillah terlambat memulai aktivitas rutinnya. Para santriwati sudah berkumpul. Dari ruangan terpisah Azam sesekali menyembulkan kepalanya, mencoba memastikan Nurillah sudah hadir atau belum. Namun, hingga  tiga puluh menit berlalu, Nurillah belum juga menunjukkan dirinya.

“Ya Allah, kemana Nurillah”

Azam mencoba menebak. Mungkin karena peristiwa kemarin sore. Mungkin Nurillah sudah mengetahui semuanya. Mungkin Nurillah kecewa. Sehingga memutuskan untung mengurung diri di dalam kamar, atau mungkin saja pergi ke Al Hikam.

“Asalamuallaikum adik-adik”

“Wallaiukum salam kakak”

Azam tersenyum. Nurillah akhirnya datang juga. Tetapi tidak seperti biasanya. Wajah Nurillah pagi itu tampak sembab, seperti baru saja menitihkan iar mata. Penampilannya pun biasa, tidak secantik hari-hari sebelumnya. Tampak seperti tidak berdandan.

Tetapi di hadapan santriwati, Nurillah tetap tampil seperti biasa. Ia meminta maaf atas keterlambatannya dan memberikan alasan yang cukup masuk akal, bahwa ia sedang mencari buku pelajaran yang entah di mana ia letakkan. Para santriwati memaklumi itu.

Sedang, di sebelah ruangan,  Azam menjadi tidak tenang.  Ia was-was. Hingga pelajaran pagi itu usai 30 puluh menit kemudian, Azam masih tampak cemas. Pun ketika Nurillah pergi meninggalkan para santriwati  tanpa mengucapkan salam kepadanya, hati Azam menjadi kian gundah.

Azam menyusulnya  hingga ke perpustakaan. Meminta Nurillah untuk mendengarkan duduk masalah yang sebenarnya. Azam semakin yakin jika karena peristiwa kemarin sore yang membuat Nurillah tampak tidak ramah pagi hari itu.

“Nurillah” sapanya.

Namun Nurillah tidak menjawab. Ia berdiri mematung. Matanya menatap lekat wajah Azam. Tampak jelas kemarahan di matanya.

“Nurillah”

Nurillah berlalu, menyisir rak-rak buku. Mencai-cari. Tidak peduli.

“Nurillah…Abang ingin mengatakan sesuatu tentang kemarin sore”

Nurillah berhenti.  Ia memalingkan wajah. Tetapi ia mencoba mengelak.

“Sudah jelas bang…Nurillah tahu apa yang terjadi antara bang Azam dan Zahra. Yang membuat Nurillah ingin tahu adalah mengapa abang tidak pernah jujur kepada Nurillah sebelumnya?”  wajahnya memerah. Kelembutannya seketika hilang.

“Nurillah, Zahra adalah kisah masa lalu abang. Sekarang  antara abang dan Zahra sudah tidak ada apa-apa lagi. Tetapi mengapa Nurillah menjadi marah seperti ini?” Azam mencoba menjelaskan.

“Jika benar Zahra adalah masa lalu abang, mengapa abang selalu cemas ketika berhadapan dengan Zahra. Mengapa tingkah dan tutur kata abang menjadi berbeda ketika berhadapan dengan Zahra. Mengapa Zahra meneteskan air matanya ketika Nurillah mengatakan akan menikah dengan Abang…Nurillah mohon suapaya abang jujur, sebelum semuanya terlanjur bang?”  pinta Nurillah memohon.

Azam  terdiam beberapa saat.  Mencoba  untuk tenang.

“Nurillah…dulu antara abang dan Zahra saling mencintai. Tetapi kemudian karena alasan keyakinan abang meninggalkannya. Nurillah tahu kan…kalau Zahra bukan seorang muslimah. Tidak mungkin abang memilihnya menjadi  kekasih. Namun, yang membuat abang selalu merasa cemas ketika berhadapan dengan Zahra adalah karena abang meninggalkan Zahra dalam ketidakpastian” Azam mencoba menjelaskan semuanya.

“Jangan pernah membohongi hati seorang wanita bang…Nurillah adalah juga seorang wanita. Nurillah tahu kalau abang masih mencintai Zahra. Apalagi sekarang Zahra sudah menjadi seorang muslimah. Bukankah itu semua karena abang? Abang telah memberi harapan yang besar kepadanya?”

Azam terdiam. Nurillah menghujamnya dengan bertubi pertanyaan.

“Nur….”

“Cukup bang…penjelasan abang sudah cukup buat Nurillah” Nurillah memotongnya

“Sekarang Nurillah minta kepada abang, supaya jujur kepada  Nurillah…apakah abang masih mencintai Zahra atau tidak?” lanjutnya dengan tanya.

“Nur…”

“Jawab bang….ya atau tidak” kejar Nurillah.

Nurillah tampak tidak sabar. Ia begitu gusar. Kelembutannya benar-benar hilang. Kecantikannya tiba-tiba raib.  Sifat asalinya sebagai wanita yang keras tampak begitu nyata.

Azam menatapnya lekat.  Bibirnya bergetar.  Ada kekesalan yang muncul dalam dadanya setelah melihat ketidaksabaran Nurillah. Ia tidak menyangka, kalau Nurillah begitu gusar. Karenanya, Azam mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Nurillah.

Azam membalikkan badannya kemudian pergi. Nurillah ditinggalkannya sendiri. Azam tidak peduli.

Azzahra, Perempuan Bercadar Mawar (5)

Malam tiba. Dengan tanya yang masih merasuk. Azam, Zahra dan Nurillah jatuh dalam pelukan malam dan berstereu dengan tanya-tanya itu. Tidak tenang. Ketiganya bergulat dengan diri mereka sendiri dalam sepi dan kesendirian. Ketiganya bergulat dengan rasa, tentang satu soal, cinta. Azam bergualat dengan ketakutan dan kecemasan. Nurillah bergulat dengan penasaran. Sedang Zahra bergulat dengan kenangan dan kepahitan.  Malam itu ketiga bersama berharap menemukan jalan.

***

Azam tak dapat lagi menyembunyikan rahasianya yang terdalam. Bahwa ia masih mencintai Zahra. Dan ia harus mengatakan itu dengan jujur kepada Zahra, bukan cuma supaya segala rasa terpendam itu lepas, tetapi juga supaya segala rahasia menjadi nyata. Namun, pada saat yang sama, Nurillah adalah kekasihnya. Dan tentang itu, ia tidak hanya telah memberikan harapan yang besar kepada Nurillah, tetapi karena relasi cinta yang sama, silatarim Al Hidayah dan Al Hikam tetap terjaga.

Pergulatannya kian memuncak ketika ia harus mengatakan semua rahasia ini kepda Zahra dan Nurillah.

“Ya Allah…aku tidak tahu apa yang mesti aku perbuat” Azam berpasrah. “Aku tidak akan melukai Nurillah, dan aku pun tidak akan membuat Zahra tetap menderita”  lanjutnya.

“Nurillah sedang berbahagia. Kelompak cintanya sedang mekar. Ia bagai bunga yang tumbuh segar dalam taman yang tepat. Dan karenanya, aku tidak hendak melukai kebagiaannya” Azam menimbang dengan rasa.

“Dan kau Zahra…cintamu masih tetap menyala, walau dalam ketidakpastian. Engkau telah melewati dengan sabar, melampaui apa yang dipikirkan manusia. Cintamu tulus, sayangmu lapang. Dan aku tidak hendak membuatmu terus menderita. Karena aku tahu semuanya adalah karena aku”

Nurillah dan Zahra, dua pribadi yang dengan caranya masing-masing memberikan keajaiban bagi Azam. Melukai dan atau menambah luka bagi salah seorang dari keduanya, adalah dosa yang tak terampuni. Dia bukan hanya disebut pecundang, tetapi juga lelaki tidak berguna.

“Haruskah aku memilih?” Tanya Azam kepada dirinya sendiri.

Tidak. Aku tidak sedang dihadapkan pada pilihan. Aku sedang diuji untuk menjadi ribadi yang tegas. Mengatakan tidak kepada yang satu, dan mengakui cinta kepada yang lain. Cinta memang tidak untuk dimiliki dan memiliki. Tetapi aku harus mengakui bahwa dalam diri keduanya, baik Zahra maupun Nurillah ada cinta yang menyala.

***

Di seberang kamar. Nurillah tampak murung. Ada sebuah rahasia dalam dadanya yang belum tuntas dijawab. Siapakah Zahra bagi Azam. Siapakah Azam bagi Zahra. Mengapa antara keduanya begitu dekat. Pandangan mata mereka begitu menyatu. Adakah keduanya punya masa lalu yang indah kemudian terluka.

Nurillah mencoba memutar kembali ingatannya. Ia melepaskan semua ingatan itu dalam tanya. Mengapa Zahra meminta Azam menjadi pendampingnya ketika menjadi seorang muslimah. Mengapa Zahra mengunjungi Al Hidayah dan ingin menjumpai Azam.  Mengapa, dalam saat-saat tertentu sikap Azam begitu dingin terhadapnya. Mengapa Azam selalu memancarkan wajah bersalah ketika berjumpa Zahra. Mengapa Zahra memandang Azam dengan begitu berharap.

“Astaqfirullahalazim” Nurillah beristiqfar.

Tidak. Nurillah mencoba mengusir semua dugaannya. Ia merasa bersalah telah mencurigai Zahra dan Azam, sebelum mengetahui segala rahasia. Azam tidak mungkin melukainya, demikian juga Zahra. Jika keduanya punya masa lalu yang indah. Itu adalah masa lalu mereka.

“Ya, itu bukan menjadi urusanku. Jika mereka pernah jatuh cinta. Itu adalah masa lalu mereka. Sekarang adalah sekarang. Dan itu tak akan pernah kembali” Nurillah mencoba menguatkan hatinya.

***

Malam yang kian larut, dari balik jendela kamar, Zahra melepas pandang ke langit lepas. Dingin gerimis menyapu wajahnya yang lunglai. Tapi ia tidak beranjak. Bersama gerimis yang jatuh perlahan, ia menitihkan air mata.

“Ya Allah..ya Rabb…terlalu sakit bagiku untuk melalui semuanya ini. Kau mengujiku bertubi. Kau mencobaiku berulang. Aku tahu itu. Aku meyakini itu dengan sungguh. Dari karena aku percaya kepada-Mu, bahwa Engkau pasti akan menolongku, maka aku berani memilih jalan ini”

Zahra membayangkan semuanya. Masa lalunya ketika kanak-kanak. Masa indahnya bersama Azam, juga dukanya. Kegembiaraan dan kebahagiaanya menjadi muslimah, juga air matanya melelwati pilihannya itu. Semuanya melebur menjadi satu dalam sakit.

“Ya Allah…Ya Rabb…bagaimana aku harus melupakan semua kisah indahku bersama Azam. Sudah kucoba untuk meninggalkannya dalam malam-malamku. Tetapi dalam mimi-mimpiku ia hadir menjadi nyata. Ia begitu dekat”

Wajah Zahra ian baswah, bukan hanya karena gerimis yang diterpa angin malam, tetapi juga karena air matanya yang berguguran. Hendak ia melupakan semua, melenyapkan segala duka. Tetapi duka itu serupa kian mendekat, menghujam-hujam dadanya.

“Ya Allah..Ya Rabb…berikan aku keikhlasan dan kerelaan untuk melupakan Azam. Biarkan Engkau mengajariku bagaimana aku harus mencintai-Mu, tanpa ia hadir mengganjal hari-hariku. Aku mau mencintai-Mu dengan tulus hati, tanpa harus diintip dengan masa lalu yang ngeri”

“Ya Allah…”

***

Malam itu, dalam kesendirian mereka. Ketiganya berseteru dengan rasa. Masing-masing melukiskan kisah mereka. Azam bergualat dengan ketakutan dan kecemasan. Nurillah bergulat dengan penasaran. Sedang Zahra bergulat dengan kenangan dan kepahitan.  Namun ketiganya punya jalan, ketiganya berpasrah kepada Allah.

Azzahra, Perempuan Bercadar Mawar (4)

Seusai jam kuliah, Zahra langsung menemui Azam di Al Hidayah. Namun yang dijumpainya hanya Nurillah yang baru saja membubarkan anak-anak seusai belajar sore.

“Bang Azam, Abi dan Umi sedang dalam perjalanan pulang dari Al Hikam” jelas Nurillah “Jadi, Zahra bisa tunggu sebentar” lanjutnya

Zahra mengangguk. Kemudian mereka larut dalam cerita, entah tentang keseharian Nurillah di Al Hidayah, maupun tentang keseharian Zahra setelah menjadi muslimah. Tidak luput pula keduanya becerita tentang mimpi-mimpi mereka, termasuk tentang sosok pendamping hidup yang mereka idam-idamkan.

“Isnyaallah, sebelum Azam berangkat ke Cairo, kami akan melangsungkan pernikahan” jelas Nurillah. “Studi Azam ditunda sampai pertengahan tahun depan, jadi mungkin nanti pada Maret atau April kami melangsungkan pernikahan”

Wajah Zahra tiba-tiba berubah. Ia bagai disambar petir. Rasanya menyengat-nyengat. Hendak berteriak sekeras-kerasnya “Tidakkkkkkkk!!” tetapi ia tak kuasa. Ia tidak hendak kebahagiaan Nurillah pecah berantakan.

Ia tidak sudi Nurillah mengetahui segalanya. Tentang masa lalunya bersama Azam, walau sebenarnya dari hatinya yang paling dalam, hendak ia mengatakan itu denga jujur, agar semuanya menjadi lepas.

“Oh..” hanya sepatah kata itu yang terontar dari kedua belah bibirnya. Bagai tak percaya, ia melanjutkan dengan tanya.

“Mengapa harus Azam?”

“Bang Azam adalah segalanya bagi Nurillah. Dia tidak hanya tampan dan cerdas. Tetapi juga penuh perhatian dan kasih sayang. Tutur katanya lembuh, itu meneduhkan buat Nurillah” Jelas Nurillah memberi alasan.

“Bang Azam adalah juga pribadi yang ramah dan soleh. Nurillah sangat berbahagia memiliki pendamping seperti bang Azam” puji Nurillah berulang.

Wajah Zahra memerah. Ia merasa kalah ditimpa-timpa oleh rasa yang kian gundah. Matanya berkaca, hendak ia menumpahkan air matanya. Namun, ia mencoba memendamnya. Ia tidak hendak mengusik senyum Nurillah.

Dalam hati kecilnya yang paling dalam, Zahra hanya dapat memanjatkan harap “Ya Allah, mengapa rasa ini belum juga pergi. Haruskah aku terus menanti tentang sesuatu yang sepertinya tidak pasti. Sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain”

Zahra melepaskan pandangannya jauh ke dalam rasa. Ia melihat masa lalunya dengan layu. Tentang kenangannya bersama Azam, entah ketika di bawah purnama maupun ketika dalam cengkerama di beranda rumahnya. Semuanya terekam jelas. Zahra mengingat semuanya.Tapi semuanya bagai melayang, ergi entah ke mana.

“Ya Allah, mengapa semuanya pergi begitu cepat, dan mengapa pula aku harus menanti dalam ketidakpastian. Azam…andai kau tahu rasa hati ini…dan andai kau pun jujur dengan kata hatimu. Semuanya menjadi sempurna. Antara kita tidak ada jarak tersiksa. Kita tidak akan bergulat dengan duka. Dan hari-hari hidup kita tidak melulu berlinang air mata. Tapi…”

“Zahra” Lamunan Zahra buyar.

Nurillah memandangnya penuh tanya. Sembab mata Zahra membuat Nurillah bertanya. Garis-garis wajah Zahra, membuat Nurillah cemas. Ada sebuah rahasia yang terekam di balik jilbab jingga Zahra.

Apakah tentang Azam? Mengapa wajah Zahra tiba-tiba berubah ketika dirinya bercerita tentang Azam? Mengapa Zahra terperanjat? Nurillah mencoba menebak-nebak. Wajahnya pun tiba-tiba berubah. Ada rahasia yang membuatnya tidak melanjutkan cerita. Keduanya jatuh dalam diam yang sama. Zahra menjadi tak berdaya. Sementara Nurillah menjadi kian cemas.

“Zahra…mengapa ngelamun?” Nurillah mencoba memberanikan diri.

“Tidak…tidak apa-apa” Jawab Zahra mengada-ada. “Hanya kepalaku sedikit sakit..sepertinya migren” Tambahnya memberi alasan.

Tapi Nurillah tidak lekas percaya. Nurillah menyimpan semua rahasia itu dalam dadanya. Ia memendamkan semuanya. Mungkin dia salah menebak. Mungkin pula benar. Tetapi semuanya dibiarkan, dilepaskan. Hanya dirinya sendiri yang mengetahui kegundahan itu.

“Oh…itu mereka sudah datang” Kata Nurillah kepada Zahra. Keduanya memandang ke arah pintu gerbang Al Hidayah. Azam, Umi Umayah dan Habib Ridzki mendekat, mengucapkan salam dengan senyum tertebar.

Tetapi tidak bagi Azam. Dadanya bagai sesak. Rasanya gundah. Ia terperanjat. Ada sesuatu yang sudah terjadi antara Zahra dan Nurillah. Ia memperhatikan keduanya dengan saksama. Wajah Zahra yang sembab, seperti sedang menumpahkan duka. Tatapan Nurillah yang cemas dan sinis, seperti menagih kejujuran.

Tanpa kata terucap, Nurillah tiba-tiba meninggalkan mereka. Azam mengikuti langkah Nurillah dengan padangan yang cemas. “Ya Allah…apa yang sudah terjadi. Apakah Zahra sudah menumpahkan semua rasanya?” kata Azam dalam hatinya. Ia begitu cemas dan gugup. Ia menjadi ciut.

“Abi..Umi…Zahra pamit, hari sudah sore” Zahra mengucapkan salam dan pamit. Ia tampak tergesa-gesa. Kepada Azam pun ia tidak tinggalkan pesan. Di depan teras rumah Habib Ridzki, segala tanya berkecamuk. Umi Umayah dan Habib Ridzky tampak kebingungan. Azam sudah bisa menduga, jika semuanya akan menjadi berantakan. Dadanya kian sesak.

“Aku harus mengatakan semuanya…aku harus jujur denga kata hatiku…Nurillah maafkan aku..” katanya dalam hati, kemudian pergi meninggalkan teras rumahnya yang sepi. Habib Rizky dan Umi Umayah menyusulnya masih dengan segenggam tanya. Keduanya berpandangan. Menggelengkan kepala.

“Mmmm…”

Azzahra, Perempuan Bercadar Mawar (3)

“Assalamualaikum”  ucapan salam Zahra membuyarkan konsentrasi Azam dan Nurillah, yang sedang serius mendengarkan nasehat Habib Ridzki. Keduanya berpaling.

“Waallaikumsalam” jawab ketiganya serempak.

“Hy, Zahra…silahkan masuk” Sapa Nurillah ketika membukakan pintu. Keduanya berpelukan bagai kawan lama yang tak pernah bersua. Habib Ridzki meyambutnya dengan senyum, sedang Azam membisu dengan wajah bingung.

“Maaf Abi kalau kedatangan Zahra mengganggu, karena sepertinya Abi, Azam dan Nurillah sedang serius”  Zahra memandangi Abi dengan memohon.

“Tidak apa-apa Zahra. Abi  hanya memberikan nasehat-nasehat kecil  buat Azam dan Nurillah. Buat anak-anak muda. Supaya mereka benar-benar setia dan taqwa kepada Allah, bukan hanya dalam kata, tetapi juga dalam tindakan, dalam pergaulan keseharian hidup mereka” jelas Habib Ridzki.

“Amin”  Zahra mengangguk sambil melepas senyum.

“Ya, termasuk Zahra juga. Tetapi, Abi pikir Ustaz Zainudin sudah mengajarkan banyak hal kepada Zahra, bukan begitu Zahra?”

“Alhamdulillah Abi. Tapi selama satu minggu ini Ustaz Zainudin sedang ke Solo, jadi Zahra untuk sementara tidak mendapat bimbingannya”

“Oh ya, tidak apa-apa, Zahra bisa datang ke sini untuk sementara waktu, Abi bisa bantu. Tetapi kalau Abi lagi sibuk atau keluar kota, kan masih ada Azam atau Nurillah”

“Insyaallah” jawab Azam dan Nurillah serempak.

“Terima kasih banyak Abi, Azam dan Nurillah yang mau menolong Zahra” puji Zahra tulus.

“Tetapi, sebenarnya kalau Abi mau tahu, sebenarnya ada maksud apa Zahra datang kemari?” tanya Habib Ridzi ingin tahu. “Karena sudah hampir dua bulan kita tidak bertemu.  Sepertinya ada sesuatu yang penting” lanjutnya.

“Pertama-tama Zahra mau meminta maaf kepada Abi, maksud kedatangan Zahra sebenarnya mau bertemu dengan Azam, karena ada hal kecil yang hendak Zahra sampaikan kepada Azam” jawab Zahra. Zahra mencoba berbohong, karena ia tidak mau merepotkan Habib Ridzki dengan masalahnya.

Habib Rizki mengangguk-angguk. Sementara Azam tampak mengernyitkan dahinya. Nurillah yang persis berada di samping Zahra hanya tersenyum.

“Jadi bukan dengan Abi ya? Ha..ha” Habib Ridzi melepas canda. “Oke kalau begitu. Zahra, Abi tinggal dulu ya. Sebentar lagi jam lima dan Abi harus menjemput Umi di Al-Hikam…” Pamit Habib Ridzki.

Zahra berdiri memberikan salam. Mengangguk sambil melepas senyum. Sedang Azam  yang masih duduk terpaku tampak bingung. Azam tidak mengira jika  kehadiran Zahra adalah ingin menjumpainya. Nurillah yang duduk persis di samping Zahra tampak sangat bahagia. Tidak ada kecemasan pada raut wajahnya. Bahkan, ia pun sengaja pergi meninggalkan Zahra dan Azam, agar keduanya dapat dengan leluasa berbicara.

“Zahra” sapa Azam.

“Ya Azam” jawab Zahra.

Hanya itu. Tidak ada tanya, pun tidak ada jawaban lagi. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Di hadapan Azam, mulut Zahra bagai terkunci. Ia duduk mematung. Walau pandangannya lekat menatap Azam. Demikian juga dengan Azam. Hendak ia menanyakan maksud dan tujuan kedatangan Zahra. Tetapi kedua belah bibirnya terasa berat. Ia tidak hanya terpaku oleh keraguan, tetapi juga oleh rasa bersalahnya.

“Zahra…apakah ada yang dapat saya bantu?”

Azam mencoba memberanikan diri. Ia mencoba berani mengalahkan tatapan mata Zahra. Sebab ia tahu, di balik mata Zahra ada harapan. Tetapi harapan itu jauh lebih besar dari sekedar harapan akan cinta darinya.

“Ya Azam, Zahra mau Azam membantu memberi solusi, walau untuk sekali ini saja” jawab Zahra. Kemudian Zahra menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya. Menjelaskan segala resiko dan tantangan yang nantinya dihadapinya. Dan berharap semoga Azam memberikan solusi dan dan jala keluar untuk masalah yang dihadapinya.

“Maafkah Zahra, karena Zahra sudah memberikan beban bagi Azam untuk berpikir”

“Astaqfirullahalazim…” Azam melepaskan istiqfar setelah mendengar semua penjelasan Zahra. “Zahra, Azam akan mencoba berusaha membantu Zahra sejauh kemampuan Azam”

“Namun, jika Zahra tidak keberatan, besok kita bisa bertemu lagi  untuk mendiskusikan tentang hal ini. Azam bukan tidak mau membantu Zahra sejarang, tetapi sebentar lagi akan segera magrib”. Jelas Azam.

Bagi Azam, permintaan Zahra adalah kesempatan baginya untuk mengobati semua rasa bersalahnya kepada Zahra. Ia menyambut permintaan Zahra dengan antusias. Kecemasan di raut wajahnya tiba-tiba menghilang. Ia tampak sangat berbahagia. Walau sebenarnya dari hati kecilnya yang paling dalam kembali terbersit api cinta. Namun, sengaja ia sembunyikan itu dengan alasan yang masuk akal. Agar Nurillah tidak curiga dan ia pun bisa membantu Zahra dengan lebih leluasa.

“Alhamdulillah” Zarah memanjatkan syukur kepada Allah “Terima kasih Azam, sudah mau mendengar dan bersedia memembantu Zahra”  kata Zahra lebih lanjut. Kemudian ia  mengucapkan salam dan pamit.

Dalam perjalanan pulang, Zahra tak henti melepas senyum, seakan-akan segala beban hilang seketika. Ia hanya berharap semoga Azam dapat mengurangi beban yang akan dideritanya. Walau sebenarnya, dari heti kecilnya yang paling dalam kembali terbersit api cinta. Namun, sengaja ia sembunyikan itu dengan alasan yang masuk akal. Agar Nurillah tidak curiga dan ia pun bisa  dengan lebih leluasa berjumpa Azam.

Azzahra, Perempuan Bercadar Mawar (2)

Kebahagiaan itu seperti akan segera sudah. Sesuatu yang mengganjal ruang dadanya tiba-tiba  menyeruak ke permukaan. Hatinya  gundah.  Alur  duka sepertinya mulai datang menggelombang.  Zahra menyadari itu, bahwa segala duka akan menghadangnya. Duri-duri kehidupan akan dilaluinya.

“Ya Allah…hanya Engkau yang  tahu tentang segala rahasia hidupku”  Zahra melepas keluh dengan harap.

Di depan pintu gerbang Zahra termangu. Ia menatap lekat rumahnya, sambil perlahan menanggalkan jilbabnya. Selalu seperti  itu, ia menyembunyikan dirinya dari perhatian keluarganya.  Ia tak hendak kakek dan neneknya mengetahui statusnya. Bahwa sudah hampir dua bulan ia menjadi muslimah.

“Di sini di rumah ini aku tak dapat menjalankan semuanya.  Aku mengalami secara perlahan kalau rumah ini bagai penjara”

Ia melangkahkan kakinya perlahan. Tapaknya  berat.  Ia seperti memasuki sebuah tempat yang tidak lagi memberikan kebahagiaan.  “Ya Allah…” Pintunya  dibukakan  perlahan. Penuh  hati-hati. Ia tidak hendak mengagetkan kakek dan neneknya yang sedang asyik bercengkarama di seberang taman. Selalu  seperti itu ketika hari menjelang senja. Jika bukan mengisahkan tentang keagungan budaya Tionghoa, maka yang diksahkan adalah tentang masa lalu mereka.

“Opa, oma, maafkan Zahra”

Zahra menaiki tangga, menuju kamarnya. Di atas tempat tidurnya yang rapi tertata, ia merebahkan raganya yang lelah. Dalam dadanya masih berkecamuk rasa yang belum tuntas dijawab.

“Ya Allah Ya Rabb…bagaimana aku harus jujur mengatakan tentang semuanya ini. Bagaimana aku harus jujur mengatakan kepada opa dan oma, juga kepada papa dan mama yang berada nun jauh di sana”

Zahra merenungkan semuanya. Ia berada dalam saat yang berat. Hendak ia mengatakan dengan terang kepada keluarganya, maka kehidupannya akan berantakan. Ia tidak hanya diumpat, tetapi juga dimarahai dan dibenci. Ia tidak hanya tidak diakui sebagai anggota keluarga, tetapi akan diusir dari keluarganya sebagai pecundang, pengkhianat dan anak durhaka.

“Oma opa, mama papa, aku sayang kalian semua. Aku mencintai kalian semua. Aku tak mau ninggalkan kalian semua” Mata Zahra berkaca.

Dari hati kecilnya yang paling dalam. Zahra sebenarnya takut. Rasanya ciut di hadapan keluarganya. kakeknya adalah seorang yang berpendirian keras. Biacaranya meledak-ledak. Kesehariannya memang tampak tidak mempedulikan keluarga. Kakeknya lebih setia mengurusi bunga dan taman, tetapi sesungguhnya dia adalah seorang kakek yang penyayang.

Kepada Zahra pun ia rela memberikan apa pun yang diminta, jika itu bertujuan untuk kuliah dan masa depan. Demikain juga dengan Neneknya. Neneknya adalah pribadi sabar dan penuh perhatian. Tidak banyak kata keluar dari mulutnya. Neneknya adalah seorang yang tenang. Tetapi senyum dan matanya memberikan kebahagiaan yang besar buat Zahra.

“Ya Allah….” Zahra benar-benar pasrah. Ia benar-benar berada dalam situasi yang sulit. “Mengapa aku harus melalui semuanya, ya Allah…berikan petunjuk-Mu ya Allah agar aku dapat mengatakannya semua. Ya Allah, apakah harus sekarang?”

Cemas, ragu dan takut kian berkecamuk. Kendatipun ia menyadari bahwa mengatakan semuanya secara jujur adalah tindakan yang berbahaya. Tetapi akan lebih berbahaya jika harus berlarut-larut dalam beban yang tak memberikannya jalan keluar.

“Ya Allah, aku tidak sanggup mengatakan semuanya sekarang. Aku tidak sanggup. Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakan ini. Aku takut dengan diriku sendiri…Ya Allah, berikan petunjuk-Mu”

Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Kemudian turun menyapu dinding-dindingnya. Matanya menatap sekelilingnya. Tak ada tanda yang memberikannya jalan keluar. Semuanya kaku, bisu dan sepi. Ia pejamkan mata. Meresapi semua tanya, menyelami segala segala cemas, mendalami seluruh takut. Ia memaknai pilihanya.

“Ya Allah, Zahra yakin dan percaya bahwa Engkau akan memberikan aku hidayah-Mu”

Sepenggal harap itu adalah doanya. Ia memanjatkan itu dengan air mata. Dengan penuh pasrah dari balik dada yang lapang dan tulus.

“Aku yakin Ya Allah, aku adalah Az-Zahra”

Perlahan ia membuka matanya. Kembali ia melepas pandang menyapu sekitar. Matanya memandang pigura-pigura dengan lukisan-lukisan masa lalunya yang penuh kenangan. Di kamarnya ia menyaksikan dunianya. Di kamarnya ia menuliskan sejarah hidupnya. Dari dan dalam kamar segala cerita ada setiap harinya bermula, tidak hanya tentang kisah-kisah bahagia, tetai juga tentang cerita-cerita duka.

Pandangannya tiba-tiba berhenti di atas meja belajarnya. “Azam”. Ia menatap lekat ke arah bingkai perak itu. Senyum Azam seperti memberikannya tanda. Memberikannya jalan keluar. Memanggilnya untuk membagi beban.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: