Tulisan yang ditandai ‘nanggroe aceh darusallam’

Merakayan Paskah Di Pasantren Babul Mukarammah Beutung Ateuh

Di Nanggroe Aceh Darusallam, mendengar nama tempat Beutung Ateuh Nagan Raya, secara khusus pasantren Babul Mukarammah yang terletak di desa Blang Meurandeh (salah satu desa di antara empat desa di pemukiman tersebut), yang terlintas dalam benak kebanyakan orang Aceh adalah dua hal. Pertama, tentang  pembantain terhadap Abu Bantaqiah dan 55 santri yang dilakukan aparat TNI pada 23 Juli 1999 lantaran ‘dituduh’ terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka.  Peristiwa ini dikenal dengan sebutan ‘Tragedi Beutung Ateuh’. Dan kedua adalah tentang gerakan jubah putih yang digagas Abu Bantaqiah sudah sejak 1988 yang oleh Majelis Ulama Aceh dianggap sebagai aliran sesat dalam Islam.

Dengan dua peristiwa dan kenangan tersebut sudah barangtentu membicarakan dan apalagi mengunjungi Beutung Ateuh adalah  sebuah tindakan yang awas. Awas lantaran ‘takut salah bicara’ dan pula awas nanti di-omong ikut ‘aliran sesat’. Sampai-sampai ketika saya hendak menuliskan sejarah singkat pemukiman Beutung Ateuh, putra almarhum Abu Bantaqiah, yakni Abu Malikun Saleh penerus pengasuh pondok Pasantren Babul Mukarammah meminta untuk “Lebih baik jangan, saya tidak mau kalian terlibat jauh dengan urusan tentang Beutung Ateuh, biarkan saya yang menanggung semuanya jika sesuatu terjadi”.

Cemas, ragu, awas dan bahkan takut. Demikian perasaan yang timbul di bulan-bulan pertama di tahun 2008 ketika mengunjungi Pasantren Babul Mukarammah. Dengan dua kejadian di atas siapa pun, apalagi termasuk saya yang beragama Kristen Katolik, berani tinggal untuk beberapa hari, apalagi beberapa minggu tentu akan beresiko besar terhadap keselamatan jiwa. Namun tentang kecemasan-kecemasan yang muncul itu, secara perlahan akhirnya hilang jua. Kata Abu Malikun Saleh “Sejauh kalian berbuat yang benar, untuk apa takut. Kita hanya harus takut kepada Allah” itu saja pesan pengingatnya.

Well…Bukan isi catatan ini untuk menarasikan sederetan kisah menarik di Beutung Ateuh. Catatan ini coba fokuskan isi pada kisah tentang pengalaman saya sebagai seorang Kristen Katolik ‘merayakan misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus (bisa disebut Paskah) di sebuah Pasantren’ pada 2009; dan pasantren itu adalah Pasantren Babul Mukarammah yang sudah digambarkan sedikit pada bagian awal.

Hari Kamis Putih

Kamis Putih adalah hari Kamis sebelum Paskah, pada hari raya pecan suci ini umat Kristen mempunyai ‘kebiasaan sehat’ (tradisi) untuk memperingati Perjamuan Malam Terakhir yang dipimpin oleh Yesus. Hari ini adalah salah satu hari terpenting dalam kalender Gereja Katolik Roma. Ini adalah hari pertama dari hari raya Paskah, yang dimulai pada pukul 6 sore, dan berlangsung 7 hari.Hari Kamis Putih ini juga disebut Kamis Suci.

Ritus Perjamuan Malam setelah ini pada setiap misa atau kebaktian diperingati perayaan ekaristi atau perjamuan kudus. Pada misa malam yang sama, seorang pemimpin ibadat (pastor) juga mencuci kaki umat sebagai peringatan Yesus yang mencuci kaki para murid-Nya dalam perjamuan terakhir-Nya, sebuah bentuk pelayanan Yesus di dunia sebelum kematian-Nya.

Dan pada Kamis Putih atau Kamis Suci itu, kurang lebih pukul tiga sore hari, berasama dua orang teman Adi AR dan Ismail Majid (keduanya adalah teman kantor) kami tiba di Pasantren Babul Mukarammah Beutung Ateuh. Kami disambut balutan kabut putih, suara lari arus aliran sungai Beutung yang berwarna jernih, dan senyum-senyum  yang terbit dari barisan dua belah bibir yang ramah berhati.

“Wah, tidak ke Gereja untuk paskah ya?” tanya Abu Malikun Saleh menyambut kedatangan kami. “Abu, saya mau merakayan paskah di kebun saja”. Mendegar jawaban itu Abu terkekeh. “Berarti kebun itu jemaatmu?” tanya Abu lagi. “Bukan Abu, saya umatnya dan segala sesuatu di kebun itu pemimpin perayaan”. Dengan agak serius, Abu menimpal “Betul, beriman kepada Allah jauh lebih penting daripada beragama, walaupun punya agama itu bukan tidak perlu”. Saya termenung. “Pening lo sekarang” ceplos Ismail Majid sambil tertawa. Tampak Adi AR senyum-senyum.

Kemudian sambil mencicipi kopi khas Aceh dan sepiring umbi goreng, seabrek cerita lepas berlanjut hingga makan malam. Abu Malikun menceritakan banyak hal, walaupun sebagian besar poin-nya adalah tentang bagaimana seharusnya dunia Islam dan Kristen itu hidup bersalaman dan berkeselamatan. Sambil menunjuk ke pojok kiri dinding, ke arah gambar silsilah para Nabi Allah sudah sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW, Abu menjelaskan

“Tiga agama besar di dunia ini: Yahudi, Kristiani dan Islam punya satu keturunan yang sama, yakni dari Adam. Kitab Zabur, Injil dan Al-Quran menuliskan tentang ajaran Allah yang sama. Lalu, untuk apa kita berperang membawa agama, lalu menyebut atas nama Allah. Allah tidak mengajarkan kita untuk berperang, tetapi memberi pengampunan dan melayani”

“Jadi, kalau pak Kris misalnya datang ke Pasantren, kami terima. Sekalipun pak Kris beragama Katolik. Karena Allah yang diimani pak Kris sama dengan Allah yang saya imani. Hanya, memang jalan kita berbeda. Agamamu, agamamu, agamaku, agamaku. Mari kita hidup rukun dan damai, jalan sama-sama, sambil saling belajar dan menerima satu sama lain”

Pengalaman Kamis Putih yang menarik, sebuah perayaan kamis suci yang menurut saya paling menyentuh rasa. Seorang Abu Malikun Saleh, pemimpin pondok pasantren yang distigma sebagai salah satu pencetus ‘aliran sesat’ ternyata punya pandangan yang terbuka dan damai. Tidak membeda-bedakan apa agamamu dan apa agamaku. Dalam Allah kita adalah satu ‘darah dan daging sama’.

Inilah momen perjumpaan yang menurut hemat saya harus dengan jiwa besar untuk diterima. Mengakui keyakinan dan kepercayaan agama lain, sambil tetap setia menjalankan agama masing-masing. Inilah yang disebut sebagai pelayanan yang sesungguhnya. Mau merendah dan menerima, mau berbagi dan mendengar. Ya, seperti Yesus yang mau membasuh kaki para murid-Nya. Yesus tahu dan mau bahwa pelayanan yang sesungguhnya adalah menjadi bagian dari kehidupan umat manusia. Tanpa itu, pelayananan adalah ‘omong kosong’.

Hari Jumad Agung

Hari Jumad, pada ketika makan siang. “Pak Kris tidak boleh makan daging, karena hari ini hari jumad puasa”. Saya terperanjat. Mengapa tidak. Abu Malikun Saleh kurang lebih tahu tentang jumad puasa. Sebuah jumad yang dalam masa prapaskah yang sering saya langgar, bukan karena mau lupa, tetapi karena kadang lupa-lupa ingat. “Abu, mau makan daging atau tidak, selama saya di pasantren ini, sepertinya setiap hari adalah hari puasa”. Tampak Abu mengangguk-angguk.

“Inti puasa bagi saya” jelas Abu “adalah makan apa adanya. Jangan meminta lebih dari kemampuan dan keadaan yang kita punyai. Kalau kita hanya punya cabe dan nasi, ya makan itu. Jangan menunggu harus ada daging ayam. Kalau mau daging ayam, ya, pelihara ayam”. Penjelasan yang singkat, padat dan jelas. Mudah dimengerti dan masuk akal.

“Inti dari puasa juga adalah juga supaya mengurangi perbuatan dosa” kata Abu lebih lanjut “Karena kalau kita punya kesediaan hanya seperti ini, hanya ada cabe dan nasi, tetapi mau makan daging ayam, lalu kadang hanya supaya makan daging ayam, orang pergi curi ayam. Jangan membuat Allah menderita hanya karena dosa-dosa kita yang disengaja”

Wow…penjelasan sekaligus nasehat Abu bagi saya sesungguhnya adalah jantung dari Jumad Agung. Dalam tradisi Gereja Katolik, Hari Jumad Agung merupakan hari mengenangkan wafat Tuhan Yesus Kristus di kayu salib. Pada hari Jumad Agung, Gereja tidak merayakan Ekaristi, karena Gereja meyakini bahwa Ekaristi merupakan sakramen Paskah Kristus, sakramen keselamatan, artinya dalam Ekaristi Gereja mengenangkan/merayakan wafat dan kebangkitan Kristus yang menyelamatkan manusia dari dosa dan maut.

Yesus mati di Kayu Salib karena dosa-dosa manusia. Yesus mau menjadi manusia sama seperti saya dan manusia yang lain, salah satunya adalah karena mau menyelamatkan dosa yang telah saya dan sesama manusia yang lain perbuat. Kalimat Abu “Jangan membuat Allah menderita hanya karena dosa-dosa kita yang disengaja” membuat saya memahami sungguh bahwa sadar atau tidak, disengaja atau tidak melakukan kesalahan dan dosa bukan hanya merugikan diri kita sendiri, tetapi juga merugikan relasi kita dengan Allah.

“Membuat Allah menderita” saya maknai sebagai membuat jarak dengan Allah. Meninggalkan Allah. Melupakan-Nya. Dan yang membuat jarak, meninggalkan dan melupakan Allah adalah karena kalalaian, kesalahan dan dosa kita. Dan Puasa adalah salah satu solusinya bagaimana kita mendekatkan jarak dengan Allah. Kita menyadari siapa kita di hadapan Allah, sambil bersyukur atas anugerah yang diberikan-Nya kepada kita.

Pernyataan yang lain dan terakhir dari Abu yang membuat saya merasa Jumad Agung di Pasantren menjadi lebih bermakna adalah ini “Hidup kita ini puasa, kalau kita menyadari bahwa sebenarnya kita tidak punya apa-apa di hadapan Allah. Segala kekayaan yang diberikan kepada manusia adalah titipan Allah saja. Tidak lebih. Dan kalau ada yang mengatakan kekayaan adalah miliknya. Dia bukan hanya berdosa, tetapi juga merebut hak Allah yang seharusnya diberikan kepada orang lain. Bahasa manusianya adalah mencuri” Tak butuh penjelasan tambahan apalagi penafsiran lebih lanjut. Sudah cukup jelas.

Minggu Paskah

Hari Minggu Paskah. Pada ketika kecil, masih kanak-kanak, saya sudah di gereja dan duduk paling depan di barisan anak-anak. Ketika umat berlutut, kami berlutut. Ketika umat duduk kami duduk, sebagian yang lain lanjutkan tidur. Dan ketika semua umat berdiri, kami pun turut berdiri. Seperti itu. Selalu. Katanya, ajaran Gereja sudah begitu. Begitu sudah.

Sampai ketika saya di Aceh, pengalaman ke Gereja menjadi jarang. Bukan lantaran di Aceh, secara khusus tidak terdapat kapela atau gereja, tetapi saya mengucapkan maaf terlebih dalu bahwa “Saya tidak merasa bertemu Allah seperti yang saya imani jika harus ke gedung gereja”. Allah tersentuh dan menyentuh saya adalah dalam relasi dengan sesama umat Muslim. Ketika saya mendengarkan mereka, memahami mereka, menjadi bagian dari mereka, saya seakan-akan menemukan Yesus sebagaimana yang saya imani. Yesus yang membicarakan ikan, lembu, jala,  yang suka ke danau, yang suka ke kebun, yang suka ke bukit dan makan bersama, singkatnya Yesus yang terlibat dan mau melibatkan diri saya temukan di di luar Gereja di Aceh.

Salah satunya adalah di Beutung Ateuh. Dan pada hari Minggu Paskah itu, Abu Malikun Saleh mengajarkan saya bagaimana seharusnya menyebut dan mengingat nama Allah. Yakni dalam dan melalui ‘Zikir Nabi Isa’. “Jangan pernah menyangka bahwa Islam tidak mengingat Nabi Isa. Kami pun berzikir kepadanya” katanya.

Namun sebelum saya akan menceritakan serupa apa bunyi zikir itu, terlebih dahulu saya menjelaskan secara singkat perihal zikir itu sendiri. Zikir (atau Dzikir) artinya mengingat Allah di antaranya dengan menyebut dan memuji nama Allah. Zikir adalah satu kewajiban. Dalilnya adalah: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” [QS Al Ahzab 33:41]

Dalam Islam, tidak berzikir akan mengakibatkan seseorang jadi orang yang rugi. “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” [QS Al Munaafiquun 63:9]

Allah mengingat orang yang mengingatNya. “Karena itu, ingatlah Aku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” [Al Baqarah:152]

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS Ali 'Imran 3:190-191]

Dengan berzikir hati menjadi tenteram. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [QS 13:28]

Di antara zikir yang utama adalah Laa ilaaha illallahu (Tidak ada Tuhan selain Allah). “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Zikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallahu” [HR Turmudzi]

‘Rasulullah bersabda : ‘Sesungguhnya aku berkata bahwa kalimat : ‘Subhanallah, wal hamdulillah, wa Laa Ilaaha Illallah, wallahu akbar’ (Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan Allah Maha Besar) itu lebih kusukai daripada apa yang dibawa oleh matahari terbit.’ (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam Islam, Zikir yang umum setelah salat wajib 5 waktu adalah tasbih (“Subhanallahu”) 33x, tahmid (“Alhamdulillah”) 33x, dan takbir (“Allahu akbar”) 33x. tentang Zikir.

Well… Demikianlah landasan teologis dari Zikir dalam Islam. “Jadi sekalipun kalian Katolik, kalian sesungguhnya harus juga mengingat dan menyebut nama nabi Isa dalam keseharian hidup” kata Abu. “Nabi Isa diyakini diciptakan dari Roh Kudus” kata Abu mulai menjelaskan “Jadi, zikir nabi Isa adalah “Ya hailailalah, nabi Isa Ruhul Allah” (demikian kurang lebih sejauh yang saya rekam)

Saya mencoba dengan senang hati untuk melafalkan zikir itu secara berulang. Walaupun pada awal-awal harus melipat kaki hingga pegal ketika saya melafalkan itu. Sungguh sangat menarik dan menyentuh rasa. Terlepas dari Gereja Katolik Roma menganggap ini tidak pantas atau pantas, saya mengalami sungguh bahwa dalam dan melalui Islam saya menemukan Yesus sebagaimana yang saya imani, sekalipun saya tidak harus menjadi seorang muslim.

“Tapi jangan dipraktekkan ya di luar pasantren, dengan mengingat Allah-mu, hatimu pasti tenang” Demikian pesan Abu suatu ketika.

Senyumenangis

Gambar ini diambil pada Februari 2010. Seorang peserta didik pendidikan perdamaian di Pasantren babul Mukarammah Beutung Ateuh, Nagan raya, nanggroe Aceh Darusallam

Senyumenangis. Saya menunggu berhari-hari hanya untuk mendapatkan gambar yang menurut saya paling menyentuh. Di balik gambar ini sebenarnya ada kisah yang ‘sakit’. Pendidikan dasar di Beutung Ateuh Nagan raya benar-benar jauh dari jamahan pembanguan. Banyak anak usia sekolah dasar belum bisa membaca dan menulis. Tetapi satu kebanggaan yang saya alami selama perjumpaan saya dengan mereka adalah optimisme dan keyakinan untuk terus berbenah dan berubah.

Merah Putih Jendela

Tidak semua fakta bisa dilukiskan dengan kata. Kadang saya tidak bisa melukiskan sebuah peristiwa yang paling gampang sekalipun. Sepuluh jari saya rupa-rupanya tidak cukup menumpahkan realitas, tetapi hanya melalui mata, saya dapat menemukan yang seharusnya saya katakan. Melalui ‘Jendela’ saya dapat melihat dengan amat benderang perihal apa sejatinya kehidupan.

"Merah Putih Jendela" diambil pada Minggu 21 Februari 2010 di desa Mugo Rayeuk Kec. Kawai XVI, Kab. Aceh Barat, NAD. Seorang pekerja paruh waktu pada sebuah tempat pemotongan kayu di pedalaman Aceh Barat ini mewakili para pekerja Indonesia, yang setia menunggu perubahan untuk kesahteraan.

Menunggu Malam

Seorang nelayan tua di Padang Seurahet Aceh Barat sedang melepas lelah setelah seharian menjala ikan. Gambar diambil pada awal Februari 2010.

Kekasihku adalah senja

Yang selalu kujumpa

Pada setiap tepi siang

Jika aku datang menjumpa

Senjaku selalu berkerudung jingga

Jingga itu lugunya

Juga damainya

Dalam shallat

Kami jumpa

Dan ia selalu berpesan

“tiada Tuhan selain Allah”

Dalam shallat

Kami berpisah

Dan ia selalu berpesan

“jangan kau nodai malam

Karena malam itu suci”

Bocah Bocah Padang Seurahet

”Laut dan ikan itu bukan milik orang-orang kaya, tetapi milik orang-orang kecil, milik para janda, anak yatim piatu, dan mesjid” demikian kata Panglima Laot.

Siang hari, awal Februari 2010. Hari itu hari Minggu tanggal 7, tampak empat bocah mendayun sebuah sanpan kecil. Keempatnya menambatkan sampan kayu itu pada sebuah perahu motor, kemudian menaikinya. Di atas perahu motor sepanjang 12 meter itu keempatnya berunding. Entah. Yang pasti salah satu dari mereka lebih banyak bicara, telunjuknya menunjuk ke tepi perahu motor, ke dasar muara yang dalammnya kurang lebih dua setengah meter. Ketiga kawannya yang lain mengangguk. Tidak lama berunding, keempatnya menanggalkan pakaian, lalu mencemburkan diri ke dalam muara.

Beberapa detik kemudian, keempatnya menyeruak ke permukaan muara dengan napas terengah-engah. ”Dapat” teriak yang seorang . ”Tiga” yang seorang laigi. ”Dua” seorang yang lain. ”Selam lagi” pinta yang lain. Keempatnya kembali menghilang. Entah apa yang mereka cari di bawah lumpur muara gelap itu. Tetapi yang pasti mereka menemukan sesuatu. Mereka bergembira. Mereka berteriak-teriak. Tanpa lelah, mereka menyelam, menyelam lagi dan lagi

”Bang itu kerang bang, sekantong sepuluh ribu bang, mau beli?” pinta salah seoarang dari mereka yang memperkenalkan dirinya dengan nama Chairul. Tubuhnya kurus, kulitnya hitam. Usianya kurang lebih dua belas tahun. Saya menduga usia tiga kawannya yang lainnya pun sama. Namun saya tidak lekas menjawab tawaran Chairul. Mata saya lantas tertuju pada setumpukan kerang muara di atas sampan kayu itu. Dari balik dada saya mengagumi bocah-bocah nelayan ini. Luar biasa.

Chairul dan ketiga kawannya adalah segelintir bocah yang luput dari terjangan gelombang tsunami yang menghantam Nanggoroe Aceh Darusallam pada 26 Desember 2004. Keempat bocah ini adalah segelintir bocah yang terhempas dari Padang Seurahet Meulaboh Aceh Barat. ”Setelah tiga bulan tsunami, kami baru kembali lagi” kisah Chairul. ”Waktu itu kami masih kecil” tambah yang seorang.

Padang Seurahet adalah salah satu wilayah di Meulaboh Aceh Barat. Sebagian besar dari penduduk Padang Seurahet adalah para nelayan. Ketika gelombang tsunami menghantam Nanggroe Aceh Darusallam banyak dari antara mereka yang menjadi korban. Namun setelah kehidupan kembali normal, kebiasaan melaut kembali menjadi pekerjaan utama mereka.

”Setiap hari kami cari kerang bang, kami kumpul, terus jual” kisah salah seorang dari mereka. ”Ya, lumayan buat beli jajan” tambah Chairul disambut anggukan kawan-kawannya. ”Bang, beli ya bang” pinta Chairul lebih lanjut.

Melihat permintaan tulus dan semangat bocah-bocah telanjang yang ada di hadapan saya, juga menyaksikan keuletan para nelayan Padang Seurahet di bawah panasnya terik matahari, saya lantas teringat dengan wejangan Panglima Laot Padang Seurahet beberapa saat sebelum saya menjumpai bocah-bocah itu. ”Laut dan ikan itu bukan milik orang-orang kaya, tetapi milik orang-orang kecil, milik para janda, anak yatim piatu, dan mesjid” demikian kata Panglima Laot.

Tanpa berpikir panjang dan mengira untung rugi, saya lantas menarik selembar uang dua puluh ribu dan memberikan kepada empat bocah itu. Keempat bocah itu menerimanya dengan senang hati. Chairul memberikan sekantong kerang, tetapi saya menolaknya. Saya memintanya untuk membaginya kepada ketiga kawannya yang lain. Dia pun mengangguk.

”Terima kasih ya bang” mereka pun pergi, seusai mengemas pakaiannya masing-masing. Menaiki sampan kecil itu, melepaskan tambatan lalu menghilang pergi di balik barisan perahu motor. Esok hari, seusai jam sekolah, mereka pasti akan kembali lagi. Mengadu nasib dengan sekantong dua kantong kerang. Sebab kata Chairul ”itu lumayan buat jajan”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: