Tulisan yang ditandai ‘maunori’

“Puki mak, koq jadi begini…”

Pengalamannya begini

Ketika masih di Aceh, dalam berbagai kesempatan, secara spontan saya kadang melatah “Astaqfirullahalazim”, dan atau “Masyallah”. Sebagian sahabat saya yang muslim, yang mendengar kadang melontar kata-kalimat “Ah gaya lo, pake istiqfar-istiqfar segala lo?”.  Saya merenung, dan mereka tersenyum. Sungguh, saya tidak sadar. Berdosakah saya? Salahkah saya? Tidak baik-kah saya? Kurang ajarkah saya? Tidak sopankah saya?

Menjawab sederetan pertanyaan reflektif itu saya termengong-mengong, namun lantas berkesimpulan (tentu saja sebuah kesimpulan sementara) bahwa ini bukan sekedar dan melulu latah, sebuah kata-kalimat lepas spontan, tetapi sebuah tanda yang mau dimakna sebagai entah.

Lalu begini

Merefleksikan kata-kalimat yang lepas latah dalam keseharian komunikasi-relasi serupa berikut ini: “Mama mia!”, “Astaqfirullahalazim”, “Masyallah”, “Oh, Ibu!”, ‘Jesus Christ”, “Oh my God!”, “Puki mak”, “Ampun Tuhan”, “Aduh!”, “Ole…”, dan atau “Ampun DJ”, “Oi…mama!”, “Oh, No!” dan seterusnya sungguh menarik minat saya. Minat itu membuncah lantaran dua hal, pertama saya pernah mengalaminya dan kedua, saya dan juga anda tidak pernah menyadarinya dengan tanya ‘mengapa?”

Padahal selalu, setiap kita, saya dan anda, sadar atau tidak, pernah melepas salah satu dari kata-kalimat tersebut di atas dalam perjumpaan-perjumpaan kita dengan yang ‘asing’. Bukan hanya ketika berhadapan dengan situasi atau peristiwa yang mengejutkan, tetapi juga orang atau subjek yang ‘tidak biasa’. Entah  yang ‘tidak biasa’ atau ‘asing’ itu hadir sebagai yang mengagumkan, mempesona dan atau (maupun) yang aneh dan ‘bejat’ sekalipun.

Namun, lantaran hanya sekedar sebagai ungkapan ke-terkejut-an/keter-perajat-an, saya dan juga anda lantas tidak menyuluk-masuk untuk mencoba mencerna-maknainya. Apa yang mau saya katakan bukan perihal sadar atau tidak ketika kata-kalimat latah itu dilepas-lontar. Bukan pula lantaran kata-kalimat latah itu dilepas-lontar baik atau buruk dalam ber-komunikasi (perihal ini bisa ditelisik lebih jauh, namun lebih merupakan sebagai dampak).

Yang hendak ditelisik dalam dan melalui catatan kecil ini adalah kata-kalimat latah itu sebagai symbol dan tanda (tanda dan symbol yang dimaksudkan di sini bukan symbol dan tanda linguistis). Simbol dan tanda kepribadian, sejauhmana seseorang sebagai pribadi otonom berproses dalam hidup dan kehidupan. Jika hendak diringkas, latahan di atas merupakan salah satu letupan dari puncak-puncak internalisasi diri seseorang di hadapan dan dalam lingkungannya.

Mungkin begini

Ada debat yang menghebat dan tampaknya tak pernah berujung perihal factor-faktor pembentuk kepribadian manusia, sebagian pakar (lebih-lebih para sosiolog dan psikolog) menyebut pribadi manusia ditentukan oleh warisan biologis, sebagian lagi menyebut lingkungan fisik, sebagian lagi menyebut kebudayaan, yang lain pengalaman kelompok dan lain lagi menyebut pengalaman unik. Dua yang paling hebat, dalam mendebat bahkan sampai memakan waktu berabad-abad adalah perihal proses pembentukan kepribadian manusia antara apakah dipengaruhi ‘bawaan’ (bilogis-genetikal) ataukah oleh ‘asuhan’ (lingkungan social).

Amatan dan pengalaman personal penulis, pun dalam perjumpaan-perjumpaan dengan orang-orang dengan peristiwa-peristiwa kehidupan mereka memberikan kurang lebih gambaran kesimpulan demikian: bahwa factor biologis-genetikal tidak berperan penting dalam pembentukan kepribadian manusia. Justru yang mendominasi proses perkembangan kepribadian dan karakteristik manusia sebagai pribadi adalah sosialisasi (penyesuaian diri) yang berulang dengan lingkungan.

Perihal itu, penulis sependapat dengan dua sosiolog Paul B. Horton dan Chester L. Hunt (1994) yang menyatakan seorang bayi lahir ke dunia ini sebagai suatu organism kecil yang egois yang penuh dengan segala macam kebutuhan fisik. Kemudian ia menjadi seorang manusia dengan seperangkat sikap dan nilai, kesukaan dan ketidaksukaan, tujuan serta maksud, pola relasi, dan konsep yang mendalam serta konsisten tentang dirinya. Semua orang memperoleh semua itu melalui suatu proses yang kita sebut sosialisasi, yakni sebuah proses belajar yang mengubahnya dari seekor ‘binatang’ menjadi pribadi dengan kepribadian manusiawi. Ringkasnya adalah sebuah proses dengan mana seseorang menghayati (mendarah-dagingkan) norma-norma kelompok di mana ia hidup sehingga timbul-lahirlah diri yang unik.

“Puki Mak, Koq Jadi Begini”

Lantas demikian, jika direfleksikan sungguh letupan-lepasan kata-kalimat latah semisal “Puki Mak” dan atau “Mama mia!”, “Astaqfirullahalazim”, “Masyallah”, “Oh, Ibu!”, ‘Jesus Christ”, “Oh my God!”, “Anjing, babi, bangsat”, “Ampun Tuhan”, “Aduh!”, “Ole…”, dan atau “Ampun DJ”, “Oi…mama!”, “Oh, No!” dan seterusnya merupakan buah-buah dari proses internalisasi diri seseorang dengan lingkungannya.

Semakin buruk dan bobroknya sebuah lingkungan social dan atau lingkungan keluarga (sebagai unit social terkecil), bukan tidak mungkin akan membentuk kepribadian yang buruk pula. Penulis menjumpai sebuah keluarga yang setiap harinya mendiamkan pertentangan dan konflik internalnya dengan caci maki dan umpatan-umpatan kasar. Seorang suami memaki istrinya, istrinya membalasnya. Kepada anak-anaknya, mereka diamkan dengan maki. Dan karena takut ketahuan, anak-anaknya membalas seperti berbisik dengan makian yang sama.

Sebaliknya dalam lingkungan social yang bersih, yang menjunjung tinggi norma-norma kesopanan, kesantunan dan nilai-nilai agama, menjadi hal yang lazim kita dengar latahan-latahan yang santun sekalipun dikejutkan oleh peristiwa ‘asing’ yang amoral. Penulis menjumpai dan bahkan suluk ke dalam lingkungan social yang demikian ketika untuk sementara menetap di Meulaboh Nanggroe Aceh Darusallam. Sampai-sampai, kadang dengan tanpa sadar penulis melatah “Astaqfirullahalazim”, “Masyallah”.

Latahan yang demikian bahkan terbawa sampai ke Flores yang mayoritas penduduknya beragama Katholik. Sesama saudara penulis yang katholik termengong-mengong ketika mendengar latahan itu. Hal itu bisa dimaklumi, lantaran bukan hanya karena tidak terbiasa mendengarnya, tetapi juga lebih karena tidak pernah larut dalam perjumpaan-perjumpaan sebagaimana yang penulis alami.

Di antara lingkungan social seperti yang dilukiskan di atas, terdapat lingkungan social dan budaya profan. Bias modernitas menawarkan persentuhan-persentuhan dengan norma-norma moral universal, yang di satu sisi bukan hal yang buruk, dan di sisi yang lain tidak bersinggungan langsung dengan Tuhan dan atau agama mana pun. Letupan latahan semisal “Aduh!”, “Ole…”, dan atau “Ampun DJ”, “Oi…mama!”, “Oh, No!” menurut hemat penulis adalah buah-buah dari persinggungan seseorang dengan lingkungan yang demikian.

Begitukah?

“Astaqfirullahalazim, eh maaf”. Penulis tidak berani menjawab apakah amatan-pengalaman-analisis penulis persis atau tidak, berdasar atau tidak pada pengalaman mayoritas orang. Namun yang pasti bahwa, apa pun kata-kalimat latahan sebenarnya merupakan bukan sekedar sebagai latahan semata, tetapi merupakan buah dari internalisasi-sosialiasi diri. Sekalipun kita dilahirkan dari seorang ulama besar atau mantan pendeta, tetapi jika dalam persentuhan dan perjumpaan kita larut dalam lingkungan yang buruk secara social, maka bukan tidak mungkin kita akan didewasakan di dalamnya. Sebaliknya sekalipun kita dilahirkan oleh seorang pelacur atau dari ibu tidak berayah, tetapi lantaran dibesarkan dalam lingkungan yang menjunjung tinggi norma kesantunan, kita akan didewasakan sebagai pribadi yang matang.

Berhadapan dengan semua penjelasan di atas, secara khsus berangkat dari sebuah kisah latahan yang sederhana, sebagai pribadi yang sudah sedang berkembang mematang-dewasakan diri adalah penting untuk selalu awas dan bijak dalam menempatkan diri, menjumpai relasi dengan persentuhan-persentuhan social, agar sesuatu yang sederhana yang disebut latah tidak asal me-latah.

Agar Remaja NTT Klepek-Klepek Dengan Tenun Ikat Daerahnya

Seorang gadis remaja berwarna kulit eksotik, usianya delapan belas tahun, tubuhnya tinggi, berleher jenjang menopang bulatan wajahnya yang jelita. Gadis Flores Nusa Tenggara Timur itu tampak kian cantik lantaran ber-long dress cantik dengan motif tenun ikat Sikka Maumere. Seorang gadis remaja yang lain, mengenakan baju rajutan, di lehernya melintang selembar tais (selendang) ber-motif tenun ikat Tubaki Atambua. Senyumnya terpancar gembira. Seorang gadis remaja yang lain berkulit bening, kelahiran Kodi Sumba Barat. Remaja 15 tahun itu tidak membiarkan rambut lurusnya jatuh bergerai. Dengan kuncir bermotif kain tenun ikat asal daerahnya, ia satukan helai-an rambutnya.

Ketiganya tidak pernah berjanji untuk bertemu dalam satu panggung pementasan, sebagai idol baru Nusa Tenggara Timur. Ketiganya dihadirkan oleh rasa dan niat untuk menunjukkan identitas mereka. Bahwa mereka punya bakat dan datang dari latar cultural dan social yang kaya pesan dan makna. Dari sana mereka datang untuk menunjukkan kepada dunia, setidaknya di Indonesia, bahwa apa yang sudah sedang mereka hadirkan tidaklah klasik dan apalagi kolot  atau ‘kampungan’.

“Bukan berarti Batik tidak bagus, tetapi karena aku dilahirkan di Nusa Tenggara Timur, mengapa tidak aku menunjukkan keunikan dan kekhasan budayaku” jelas Arin, remaja kelahiran Sikka Maumere. “Sama, sudah sejak kecil saya suka dengan motif tenun ikat Timor” tambah Andya, remaja kelahiran Kupang. “Jika bukan kita yang harus menunjukkan siapa kita, lalu mau siapa lagi?” tutup Lola, remaja kelahiran Sumba dengan tanya.

Maaf beribu maaf, kisah yang dirangkum dalam tiga paragraph di atas bukanlah kisah reportase nyata, tetapi sebuah rekaan, imajinasi penulis semata. Penulis hanya mencoba untuk membayangkan perihal kegandruangan remaja-remaja Nusa Tenggara Timur yang begitu jatuh cinta pada tenun ikat daerah asalnya. Bahwa dengan penuh percaya diri dan tanpa malu-malu, remaja-remaja Nusa Tenggara Timur mengenakan kain tenun ikat dalam beragam jenis modifikasi. Mereka tidak hanya mengenakan ketika harus mengikuti kegiatan-kegiatan adat dan budaya, pekerjaan kantoran, keagamaan tetapi juga sampai pada ketika ke pasar, rekreasi, atau pun sedang tidur.

Suatu ketika, penulis mencoba bertanya kepada beberapa orang remaja putri dan kepada yang lain bertanya melalui pesan pendek telephone (SMS), rata-rata menjawab malu, tidak percaya diri dan belum biasa. Bahkan ada yang secara terang-terangan mengatakan “Gak gaul”.

Penulis memaklumi beragam jawaban para sahabat, termasuk beberapa remaja di atas. Alasannya bukan hanya karena tidak pernah untuk dibiasakan atau belum ada yang memulai dan mempromosikan secara serius, tetapi juga yang jauh lebih mendasar adalah lantaran lemahnya pendidikan identitas budaya. Modernitas dan ‘kegaulan’ kian merasuk, sampai-sampai untuk mendefinisikan identitas budaya menjadi kabur. Gawatnya, di satu sisi terhadap sesuatu yang lain, yang baru (walaupun belum tentu buruk) diterima tanpa timbang, dan di sisi yang lain, sesuatu yang melekat sebagai ‘tradisi sehat’ distigma kolot dan kampungan.

Tidak sedikit memang yang berupaya untuk mempromosikan kekhasan dan keunikan budaya Nusa Tenggara Timur, secara khusus pesona tenun ikat-nya. Tetapi ke mana sasar promosi itu di arah tidak pernah menjawab kebutuhan generasi muda Nusa Tenggara Timur. Kebanyakan promotor mempromosikan kekhasan dan keunikan itu ke luar daerah, ke daerah lain sampai ke manca Negara. Lalu kapan ke anak-anak sendiri?

Tidak sedikit memang yang berupaya untuk menyelenggarakan event pementasan seni dan budaya, fashion show tenun ikat Nusa Tenggara Timur. Tetapi di mana dan kepada siapa semua itu dipertonton-tunjukkan? Bisa dihitung dengan jari event-event serupa itu dipertonton-tunjukkan kepada anak-anak sendiri dan di kampung-kampung sendiri. Untuk dibilang terkenal, khas dan unik, maka tidak tanggung-tanggung dipentaskan ke Amerika dan mungkin ke galaksi lain?

Catatan kecil ini sebenarnya adalah mimpi dan juga rindu yang mendalam perihal: Pertama, generasi muda Nusa Tenggara Timur klepek-klepek dengan hasil karya budaya dan adatnya sendiri, setidaknya tenun ikat. Kedua, dan itu dilakukan dengan cara membudayakan (mempromosikan) secara intensif lebih-lebih mulai dari kampung sendiri, kemudian ke kampung tetangga. Ketiga, segenap elemen masyarakat Nusa Tenggara Timur, (termasuk penulis) yang concern dengan ini, harus bersama-sama dengan cara kita masing-masing membantu memperkenalkannya kepada generasi muda, tidak hanya dengan teori tetapi juga dan kesaksian. Kenakan itu (tenun ikat) sebagai kenangan akan budaya sendiri.

Cantiknya Gadis Aceh (bag. 1)

Seperti apakah gadis Aceh? Yang saya bayangkan sebagai sebuah jawaban sementara adalah bahwa gadis Aceh tidak hanya tangguh di medan laga dan cerdas di ruang kelas/kuliah, tetapi juga anggun di ruang public dan cantik di ranah privat/keluarga.

Pertanyaan dan juga bayangan atas jawabannya sudah muncul ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar jauh di pelosok Flores Nusa Tenggara Timur. Guru sejarah yang merangkap segala bidang studi pada ketika itu menunjukkan kepada kami anak-anak kelas lima dua gambar pahlawan nasional perempuan dari Aceh: Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia.

“Perempuan Aceh itu cantik-cantik, santun dan anggun karena selalu pake jilbab ” demikian kata guruku ketika itu. Dia tersenyum. Kawan-kawan saya yang muslim spontan berteriak “Nah makanya pake jilbab, biar cantik”. Teriakan itu membuat belasan gadis kecil lugu tampak tersipu malu. Kami terkekeh. “Tapi kenapa di dua gambar itu, Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia tidak pake jilbab?” tanya seorang teman perempuan. “Oh, ini rupanya bukan foto aslinya, ini kan lukisan” jawab guru mengelak “Tapi biasanya perempuan Aceh itu pake jilbab” lanjutnya. Kami mengangguk.

Itu kisah kecil masa lalu. Dan lantaran kisah itu dan dua wajah perempuan itu, entah mengapa membuat saya bangga dan kagum pada perempuan Aceh. Bagaimana tidak, terlukis dari wajah-wajah mereka, tidak hanya secara fisik terpendar aura kecantikan alami, tetapi juga ketangguhan dan kekokohan.

Yang membuat saya lebih kagum adalah bahwa keesokan harinya, setelah melihat dua gambar itu, belasan teman kelas saya yang kemudian mengenakan jilbab. Wajah mereka imut-imut, lucu-lucu membuat guru sejarah kami tersenyum dan guru agama geleng-geleng kepala.

Sebagai murid yang beragama katolik, bersama dua teman yang lain, kami bangga pada teman-teman sekolah dasar kami yang yang mayoritas muslim. Dua gambar, dan satu teriakan ternyata cukup ampuh menyadarkan sekaligus menegaskan tentang siapa sesungguhnya mereka.

Sekalipun itu pantulan sementara yang melahirkan motivasi yang mungkin belum sempurna, namun sesungguhnya itu modal penting untuk perubahan yang lebih besar. Gadis-gadis kecil yang lugu dari pelosok Flores Nusa Tenggara Timur telah menahbiskan diri. Mereka telah menunjukkan diri bahwa ‘kami juga mau seperti Cut Nyak Dhien, seperti Cut Meutia. Kami juga mau cantik dan tangguh seperti mereka, apalagi kami seagama, seiman dan sekeyaninan’

Bagian kedua di SINI

Hari Kelahiranku

Hidup dan kehidupan adalah proses pencarian tanpa henti, perjuangan tanpa kenal lelah, penemuan tanpa kenal tepi atas sesuatu yang disebut sebagai makna hidup. Dalam pada itu, hidup dan kehidupan disaji-hadapkan, bukan hanya dengan kemudahan-kemudahan, kesenangan, kebahagiaan dan kegembiraan, tetapi juga dengan duka lara, pilu nestapa, sengsara kelam, pun derita gulita bahkan kematian.

Di hadapan sajian kehidupan itu aku tidak diminta untuk memilih, tetapi diharuskan untuk terjun, lantas melewati—melaluinya. Hidup dan kehidupan menuntutku untuk bergulat dengan semuanya.  Bergulat dengan kebahagiaan dan suka cita, pun mengalami duka dan nestapa.

Dalam pencarian akan makna kehidupan, penderitaan dan duka tidak dipandang sebagai hambatan dan apalagi kekalahan. Tetapi sebaliknya merupakan refleksi atas kekurangan-kekurangan yang ada dalam diri sendiri dan juga dalam kehidupan. Semua kekurangan dan keterbatasan itu selanjutnya dievaluasi, diperbarui dan diperbaiki. Hal yang sama adalah untuk kebahagian yang dialami dalam kehidupan. Kegembiraan dan kebahagiaan yang kita alami bukan merupakan puncak dari keberhasilan pencarian atas makna hidup, tetapi merupakan refleksi atas kebahagiaan dan kesempurnaan yang abadi.

Bagiku, dalam hidup dan kehidupan tidak ada kebahagiaan dan kegembiraan yang sesungguhnya. Semuanya adalah bagian dan gambaran dari kebahagiaan dan kegembiraan yang hanya ada dalam alam kebabadian. Namun demikian, semuanya itu harus disyukuri. Lantaran itu, hidup dan kehidupan harus dilalui dan dimaknai dengan sungguh. Kegagalan dan penderitaan adalah berkah dan karunia demikian juga dengan kegembiraan dan kebahagiaan.

Merefleksikan perjalanan panjang kehidupan seorang manusia, seperti juga perjalanan kehidupanku, kelahiran seharusnya dirayakan selalu. Hari kelahiran, termasuk hari kelahiranku dan juga kau adalah selalu pada setiap hari baru, bukan hari ini dan atau ketika itu. Karena pada setiap hari baru setiap kita diminta-tuntut untuk menjadi manusia baru. Manusia yang tidak hanya merefleksikan keterbatasan selanjutnya bermetanoia diri untuk perubahan ke arah yang lebih baik tetapi juga memupuk-suburkan keberhasilan, mengembangkan potensi dan memaknai kebahagiaan dan kegembiraan secara sungguh.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Saya teringat dengan dua pengalaman unik yang terjadi belasan tahun silam, yang terjadi ketika saya masih Sekolah Dasar. Dua pengalaman tersebut adalah Pertama, pada awal dan akhir pelajaran, kami awali dengan doa bersama. Kadang kami awali doa-doa pendek agama dalam katolik, kadang pula dengan melafalkan ayat-ayat pendek dalam Al-Quran. Demikian pula sebaliknya pada setiap akhir pelajaran. Dalam kisah kecil masa kecil saya sudah mengisahkan tentang ini.

Kedua adalah tradisi sehat mengucapkan salam pada awal dan akhir setiap perjumpaan, baik dalam ruang kelas maupun dalam pergaulan sehari-hari. Kami dibiasakan untuk mengucapkan salam kepada siapa dan kapan saja. Lantaran, saya hidup di tengah mayoritas kaum muslim saya dan kawan-kawan yang beragama Katolik yang lain menjadi terbiasa untuk mengucapkan salam pada setiap awal perjumpaan dengan “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” atau membalasnya dengan  “Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh”.

Situasi ini bisa dipahami. Sebab, mayoritas teman sekolah dasar saya adalah kaum muslim, demikian juga dengan guru-gurunya, kendatipun di papan nama sekolah tertera dengan huruf kapital ‘Sekolah Dasar Katolik’. Lantaran pengalaman unik itulah, saya mendapatkan banyak manfaat dalam relasi dan pergaulan saya, secara tidak sadar dan tidak langsung saya diajarkan tentang sikap toleran, sikap saling peduli,  sikap saling menghargai dan menghormati. Namun ketika menamatkan sekolah dasar, persisnya ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama sampai masuk Perguruan Tinggi, kebiasaan itu hilang begitu saja. Dalam praksisnya saya tidak pernah lagi mempraktikkannya.

Namun demikian sebagai sebuah kenangan dia membekas-mengkristal. Saya mengalaminya dalam proses pematangan (olah) rasa dan dalam bangunan penajaman pikiran atau pemahaman saya sadar betul bahwa saya termasuk anak yang beruntung. Saya bisa berelasi dengan bebas dan dapat membangun hubungan yang baik tanpa rasa takut. Saya tidak hanya merasa aman dan nyaman dalam pergaulan, tetapi juga saya merasa yakin bahwa saya dapat diterima dan dihargai.

Keyakinan akan kenangan, pengalaman dan pemahaman itulah yang akhirnya menjadi kekuatan bagi saya ketika saya menetap (untuk sementara) di Meulaboh Aceh Barat. Keyakinan itu tidak hanya memperkokoh pemahaman dan konsep tentang cara berelasi dan bergaul sebagai minoritas di tengah mayoritas Muslim, tetapi juga dalam praksisnya saya serupa kembali ke masa usia Sekolah Dasar. Walau pun dalam banyak hal berbeda.

Satu kenangan yang membekas dan akhirnya selalu berulang pada hari-hariku di Meulaboh Aceh Barat adalah kembali terbiasa untuk mengucapkan salam “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”. Selalu dan senantiasa saya mengucapkan salam itu dalam perjumpaan-perjumpaan saya dengan siapa dan kapan saja. Demikian juga sebaliknya jika saya kedatangan tamu, baik yang belum saya kenal maupun para sahabat, jika dari depan pintu ucapan salam itu meluncur, maka spontan saya akan membalasnya “Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh”.

Terlepas dari kebiasaan saya ini, sekarang ini, dinilai-lihat sebagai yang benar atau yang salah dalam perspektif hukum Islam, namun saya saya sebagai yang minoritas, mengalami melalui dan dalam perjumpaan yang diawali dengan salam tersebut sebagai sebuah pengalaman yang  indah dan penuh emosional. Ada hasrat yang lebih dalam dada tentang keteduhan, kesejukan, kedamaian dan kebahagiaan. Ada situasi dimana tercipta keharmonisan, bahwa tidak ada perbedaan dalam hal menebar cinta, melepas sayang, menabur cinta.

Jika saya dan juga anda mengalaminya sungguh arti salam itu, kepada siapa pun dan kapan pun, baik sahabat maupun orang asing kita serupa dipangku-peluk jadi satu sebagai saudara sebagai makhluk Allah yang meluap-luap gairah cinta.

Saya membayangkan, andai saja sebagai sebuah bangsa kita belajar dan menghayati tentang makna, sekali lagi tentang makna salam ini, saya yakin kita akan selalu hidup rukun dan damai. Sebagai warga bangsa yang majemuk dan hidup dalam kemajemukan, sepantasnya kita saling belajar dan memaknai. Kita harus menjunjung tinggi moralitas universal, tanpa harus meninggalkan keyakinan dan kepercayaan kita masing-masing. Salam.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: