Tulisan yang ditandai ‘manusia’

Bugil

Pernah kucatat dalam kertas sejumlah ratusan halaman sebagai BUGIL. Tepatnya kumpulan catatan tentang perjalanan menjadi diri sendiri yang dialami oleh siapa pun, apa pun dan yang kualami sendiri. Kisah-catatan itu dijilid manual, tidak diperjualbelikan, karena terlalu riskan untuk ditampil-tonjolkan ke hadapan public, lantaran pandangan kita tentang BUGIL masih sebatas ‘Penis’ dan ‘Vagina’. Walaupun sejujurnya , tidak semua orang berpandangan demikian. Namun sebagian besar orang di negeri ini masih berpandangan tentang BUGIL sebagaimana yang saya cemaskan.

Ringkasnya, sebagai mana yang dikisahkan dalam BUGIL adalah proses perjalanan kehidupan manusia untuk semakin menjadi dirinya sendiri. Bahwa perjalanan menjadi diri sendiri adalah perjalanan menuju mengatakan dan berbuat sejauh ‘inilah aku’. ‘Inilah aku’ yang sejujurnya setelah melihat segala potensi-kelebihan juga kekurangan dan keterbatasan.

Bugil adalah sebuah perjalanan pulang menuju kepolosoan yang sesungguhnya, ketika setiap dari kita berkutat-seteru dengan waktu dan kesibukan, gambaran-gambaran tentang orang lain, pantulan-pantulan idoa, dan juga selimut kabut kesenangan-kesenangan  untuk menjadi pribadi yang sadar vahwa sesungguhnya setiap dari kita diberikan Tuhan talenta.

Bugil yang serupa itu, sesungguhnya adalah roh dari waktu, jiwa dari sejarah. Waktu yang terus berproses, sejarah yang tampaknya seperti berulang adalah proses perjalanan panjang menuju hakikatnya yakni sebagai kehidupan yang sesungguhnya, apa adanya, sebagaimana yang dianugerah-ciptakan Tuhan. Bahwa kehidupan sesungguhnya adalah polos, telanjang dan atau BUGIL.

Serupa kafan putih, muasal kehidupan manusia, muasalah kehidupan alam semesta sesungguhnya adalah polos. Namun dalam prosesnya kehidupan bersentuhan dengan banyak ragam peristiwa, pengalaman. Pun berjumpa dengan beragam orang dan kepentingan. Dalam persentuhan dan perjumpaan itu, tanpa disadari kita disandera oleh orang lain dan atau apa pun. Dalam persentuhan dan perjumpaan itu kita ditarik oleh gambaran-gambaran umum tentang kesenangan-kesenangan yang akhirnya berubah menjadi kebutuhan-kebutuhan palsu.

Dalam dan melalui Bugil, sebagaimana yang kita pahami sebagai yang telanjang dan polos, kita diajak untuk kembali bertanya siapa sesngguhnya kita atau aku atau saya. ‘Who am I”. Sebuah ajakan yang tidak berdasarkan pada teori mana pun, tetapi berangkat dari pengalaman-pengalaman kehidupan yang memang tanpa disadari adalah contoh kongkret dari proses menuju BUGIL.

Kita mengenal proses kembali kepada BUGIL itu sebagai REFLEKSI. Berefleksiklah.

Mendambakan Pasangan Sempurna?

Dikisahkan dalam sejarah keyakinan bahwa manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Dan memang demikianlah adanya, bahwa manusia tidak diciptakan untuk melampaui penciptanya sendiri. Sekalipun di antara semua makhluk hidup yang ada manusia disebut dan diyakini sebagai makhluk yang sempurna, namun di mata Allah, manusia adalah sama seperti makhluk hidup yang lain. Manusia adalah debu tanah.

Mengapa? Karena demikianlah sejatinya Allah menciptakan manusia dalam hidup dan kehidupan. Hidup dan kehidupan untuk semua makhluk hidup, termasuk di dalamnya adalah manusia merupakan sebuah proses panjang menuju kesempurnaan. Sebuah pencarian tanpa henti menuju kesempurnaan sejati. Manusia dituntut oleh Sang Pencipta agar dalam ketidaksempurnaannya manusia senantiasa mencari dan menemukan hakikat kehidupan itu sendiri.

Faktanya bahwa manusia diciptakan Allah, tidak hanya laki-laki dan atau pria saja, tetapi juga ada perempuan dan atau wanita menunjukkan secara amat jelas perihal ketidaksempurnaan itu. Pada kedua jenis manusia ini terdapat kelebihan-kelebihan dan pula kekuarangan-kekurangan dalam segala hal termasuk secara kodrati bahwa yang satu diciptakan sebagai laki-laki dan yang lain sebagai perempuan, atau sebaliknya.

Ada benarnya kata Shakespeare dalam Hamlet-nya bahwa “Manusia adalah inti sari alam semesta, pemimpin segala makhluk” Namun manusia mesti sadar bahwa di mata dan di hadapan Allah, Sang Pencipta, manusia bukanlah makhluk yang sempurna.

Sesungguhnya, dalam hidup dan kehidupan, manusia dituntut untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Lantaran itu mendambakan pasangan – seorang laki-laki untuk seorang wanita, atau seorang wanita untuk seorang laki-laki – yang sempurna dalam hidup dan kehidupan adalah sesuatu yang mustahil. Jika pun ada seorang laki-laki yang dipandang sempurna di mata seorang perempuan, atau sebaliknya, seorang perempuan menjadi tampak begitu sempurna di mata seorang laki-laki itu hanyalah sebuah kesan.

Namun demikian, jauh dari sekedar sebuah kesan yang biasa, kesan tersebut sesungguhnya adalah kesesuaian dan atau kesamaan prinsip, pandangan, dan arah perjalanan hidup dan kehidupan menuju kesempurnaan yang sesungguhnya. Dalam kesan tersebut, yang menjadi titik tolak pencarian hakikat kehidupan, antara seorang laki-laki dan seorang perempuan adalah melakukan penyesuaian-penyesuaian, kesamaan-kesamaan, penyelarasan-penyelarasan dengan tanpa saling memaksakan kehendak.

Dalam proses pencarian tersebut antara laki-laki dan perempuan direkatkan oleh tali cinta kasih yang memungkinkan relasi perjumpaan dan pencarian akan makna kehidupan tidak ternodai dan atau terkotori oleh kemunafikan dan pengkhianatan, pengabaian hak, pemaksaan kehendak dan apalagi saling meniadakan dan membunuh. Sebaliknya dalam ikatan cinta sepasang manusia diarah-tuntun melalui dan menuju kebenaran-kebenaran yang sesungguhnya merupakan jalan menuju kesempurnaan itu sendiri.

Dalam cinta kasih antara seorang laki-laki dan seorang perempuan belajar untuk tidak hanya menjadi diri sendiri, tetapi juga menjadi bagian bagi pasangannya. Di sinilah letaknya kesempurnaan cinta. Tanpa ada pemahaman dan saling pengertian bukan tidak mungkin, jalinan cinta yang dibangun akan ambruk diamuk keraguan dan bahkan ditelantarkan oleh pengkhianatan. Sebaliknya dengan kebenaran: kejujuran, saling pengertian dan saling menghargai, cinta kasih yang dibangun karena kesusuaian-kesusuaian akan kokoh, kuat menuju kesempurnaan yang sesungguhnya.

Jangan Melupakan Sidalupa!

Dua sosok menyeramkan bagai orang hutan tiba-tiba meyeruak masuk ke pentas. Sebagian penonton terperanjat, sebagian yang lain melepas senyum dan tawa. Di hadapan penonton, keduanya bergoyang-goyang, sesekali menggeleng dan menganggukkan kepala, sesekali bergoyang seperti hendak melompat. Tepuk tangan pecah mengusir senyap malam itu. Tepuk tangan ter-riuh yang didengar sepanjang pementasan berlangsung. Kehadiran dua sosok itu begitu istimewa lantaran tampilannya yang unik dan khas. Bertopeng. Sebagian penonton yang mayoritas remaja lantas melempar tanya: tarian apakah ini?

Itulah tarian Sidalupa yang dibawakan oleh dua penari dari desa Cot Murong dan Suak Trieng kecamatan Woyla Aceh Barat pada Desember 2006. Sudah sejak itu, (di belahan Aceh Barat) saya tidak pernah mendengar dan bahkan menyaksikan lagi Sidalupa ditampil-pentaskan. Sidalupa tampaknya sudah dilupakan, sementara jika itu ditampil-pentaskan selalu generasi penerus Aceh menjadi ingat akan sejarah kehidupan manusia. Tidak hanya sejarah kehidupan manusia Aceh tetapi juga sejarah kehidupan manusia pada umumnya.

Dalam hikayat Aceh, Sidalupa berulang kali disebut sebagai gambaran tentang kemalangan nasib seseorang dalam kehidupan social masyarakat. Kemalangan yang disebabkan karena seseorang telah kalah total dalam persaingan dan atau pertarungan hidup. Sebagai misal Hikayat Nasruwan Ade disinggung sebagai berikut:”Meutan areuta hanle makmu/Hanle soe eu hansoe teuka/Saleh hansoe le kheun Teungku/Gob hoi badu Sidalupa (Artinya secara bebas: Bila harta sirna kemakmuran pergi/Sanak-famili kawan pun tak hendak jumpa/Gelar kehormatan tak pantas lagi/Orang gelari dia  Sidalupa).

Sidalupa menjadi lambang absurditas manusia. Sebuah situasi yang dialami manusia dimana kemegahannya  telah berlalu, harta benda juga sirna. Tembahan lagi, anak serta suami atau isteri pun sudah meninggal dunia; mungkin pula sudah minggat dari sisinya. Dalam saat ketidakberdayaannya demikian, sanak keluarga pun menjauh, sementara kawan setia hanya tinggal bayang-bayang; bila matahari membakar Sidalupa. Selama menunggu panggilan ke alam baka, kehidupannya penuh derita. Sidalupa tak masuk hitungan; tidak dipedulikan orang. Sidalupa adalah gambaran manusia malang

Mengenang dan menggambarkan kemalangan manusia itu, seniman Aceh pada zaman dulu menampilkannya dalam dan lewat tarian dengan design kostum bagai orang terkutuk. Dimana seluruh tubuh penuh bulu yang simbolkan lewat anyaman tali ijuk di seluruh tubuh. Dengan wajah yang tidak berbentuk rupa yang disimbolkan dengan topeng sesosok makluk yang sulit untuk disebut sebagai topeng manusia. Dengan tarian yang tidak menampilkan sebagai sebuah tarian, tetapi hanya melenggak-lenggok, bergoyang dan melompat-lompat kecil.

Inilah gambaran (atau paham) tentang manusia absurd yang oleh generasi tua Aceh yang cerdas dan kreatif mengemasnya dalam bentuk tarian yang bernama Sidalupa. Namun pada zaman sekarang nyaris tidak pernah dikembang-wariskan lagi. Tarian-tarian Aceh yang bernuansa kreasi baru, paduan hip-hop-dangdut dengan gerakan-gerakan dasar tarian ranup lampuan dan atau meusekat telah mengambil posisi sentral tarian massa remaja Aceh kini. Dalam artian tertentu bisa dimaklumi bahwa tradisi butuh kontekstualisasi dan pandai membaca tanda-tanda zaman, namun kita tidak mesti lupa bahwa pada setiap tradisi budaya dan sejarah yang terekam dalam benda-benda pusaka dan tarian-tarian tradisional terpendam kandungan moral dan ajaran tentang kehidupan. Sebagai misal Sidalupa, yang sementara ini perlahan dilupakan.

Referensi rujukan/pembanding: http://tambeh.wordpress.com/2010/10/08/hikayat-aceh-bagaikan-sidalupa/

Manusia Anjing Patricia Piccinini

Pada 2007 beredar kabar dari wilayah Ristak Negara Amman (salah satu negara Teluk) tentang seorang ibu yang mengutuk anak kandungnya sendiri agar menjadi anjing. Kutukan sang ibu manjur. Anak perempuannya kemudian jatuh ke lantai lantas berubah wujud menjadi serupa sekor anjing. Cerita tentang ini, pada 2007 tidak hanya menjadi favorite news para bloger di tanah air tetapi juga termasuk para penjual gambar dan poster di metro mini. Publik menjadi percaya. Para orang tua menjadikan itu sebagai momen untuk menakuti anak-anak mereka: “Jangan melawan perintah orang tua”. Anak-anak pun merinding. Ciut. Ketika itu, durhaka bukan hanya menjadi momok yang menakutkan, tetapi sudah menjadi fakta yang tidak terbantahkan. “Buktinya ini, mau jadi anjing”.

Kabar dari Ristak, pelosok Negara Amman itu ternyata tidak benar. Kisah kutukan itu dan apalagi gambar perempuan serupa anjing yang menyusui anak-anaknya adalah rekaan yang disebar oleh entah. Sesungguhnya, gambar yang beredar adalah ‘Leather Landscape’ buah karya Patricia Piccinini, perupa perempuan kelahiran Freetown, Sierra Leone. Gambar tersebut merupakan gambar patung silikon yang pada 2003 dipamerkan Piccinini dalam ‘Venice Bienale’ di Australia.

Kita lupakan saja kisah kutukan di atas, sebab tidak menjadi sesuatu yang penting untuk dibahas dalam catatan kecil ini. Tentang hal itu pembaca bisa menemukannya di tempat dan halaman blog atau website yang lain, salah satunya di sini. Dalam catatan kecil ini, penulis mengajak pembaca untuk bertanya siapakah seorang Piccinini, selanjutnya mengapa dan atas alasan apa ia selalu menampilkan karya-karya unik dan absurd, semisal manusia serupa anjing.

Patricia Piccinini, seperti yang sudah disinggung secara singkat di atas adalah perempuan kelahiran Freetown Sierra Leone pada 1965. Pada 1972, ia hijrah dan menetap di Australia. Pada 1985 sampai 1988 Bachelor of Arts spesialisasi sejarah ekonomi pada  Australian National University. Pada  1989-1991 menempuh pendidikan di bidang seni lukis pada Victorian College of the Arts. Selanjutnya pada 1994-1996 menjadi koordinator The Basement Project Gallery.

Piccinini telah menghasilan berbagai jenis karya seni dan mengikuti berbagai jenis pameran baik yang dilaksanakan secara tunggal maupun yang turut serta dalam pameran bersama. Secara singkat penulis cukup menyebutkan beberapa pameran tunggal yang dilaksanakan dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Yakni, pada  2010 di  bawah tema ‘Relativity’, Piccinini memamerkan karya-karyanya di Art Gallery of Western Australia, Perth, Australia. Pada tahun yang sama, ia memamerkan karyanya di Leeahn Gallery, Daegu and Seoul, Korea.  Pada 2009, di bawah tema ‘Unforced Intimacies’, ia menyelenggarakan pameran di Tolarno Galleries, Melbourne, Australia. Pada tahun yang sama pula ia memamerkan karya-karyanya di Byblos Art Gallery, Verona, Italy dengan tema ‘Recent Work’. Dan di Tasmanian Museum and Art Gallery, Hobart, Australia dengan tema ‘Evolution’.

Selengkapnya tentang Piccinini: karya-karyanya, pameran, bibliografi, pun berbagai penghargaan dapat pembaca kunjung di sini. Semua karya dan ciptanya yang ditampilkan di berbagai pameran menampilkan tentang ‘absurditas’ keberadaan manusia. Manusia dimiripkan serupa binatang-binatang aneh, entah serupa anjing, entah serupa monyet, pun serupa tikus dan marmut. Karya-karyanya seperti melukiskan tentang sebuah kehidupan yang berbeda, yang tidak hanya unik dan khas, tetapi juga horor (menakutkan dan menyeramkan).

Tentang semua karyanya yang unik dan khas, pun aneh dan horor, Piccinini sebenarnya menjelaskan tentang tiga hal atau tema penting tentang kehidupan yang antara satu dengan yang lainnya saling terkait erat. Pertama, melalui patung-patung silikon binatang yang unik dan khas Piccinini mau mengatakan kepada kita bahwa teknologi bukanlah menjadi solusi pemecahan masalah atas lingkungan. Berbagai proses bioteknologi hanya menempatkan kehidupan pada ‘kehidupan yang lain’ dan imitatif. Seri patung silikon dan foto ‘Nature’s Little Helpers’ yang ditampilkan Piccinini menjelaskan itu secara tepat. Selanjutnya yang Kedua, bahwa berbagai hasil karya teknologi telah merampas dan mengambil alih peran dan tempat dalam kehidupan manusia. Karya patungnya yang diberi judul ‘The Bodyguard’ (untuk helm Golden Honeyeater)’ menjelaskan tentang hal itu. Dimana tampil manusia serupa monyet dengan baju berpunggung besi yang tangguh sebagai pelindung tubuh.

Ketiga adalah tentang bayi-bayi berwajah aneh. Entah bayi berbulu, berekor, serupa monyet atau tikus dan anjing pun yang tidak berbentuk rupa. Menurutnya bayi-bayi tersebut dengan sengaja ditampilkan mirip dan atau berdampingan dengan binatang aneh, sebenarnya mau menunjukkan bahwa kehidupan manusia serupa bayi yang rentan. Pada suatu kesempatan di tahun 2006 dalam pameran sketsa/lukisan tentang anak-anak Piccinini mengatakan: “Saya tertarik pada anak-anak untuk sejumlah alasan. Alasan yang utama bahwa seorang anak merupakan sebuah kemungkinan baik yang postif maupun yang negatif. Seorang bayi tidak dapat membuat penilaian. Bagi mereka, dunia adalah benar-benar baru – mereka membawa kebaikan-kebaikan dalam diri kita, mereka tidak memiliki harapan, dan dengan demikan kehadiran mereka bukan sesuatu yang mengancam. Lantaran itu kita harus merawat dan melindungi mereka”

Apa yang hendak dikatakan dalam tiga alasannya di atas jelas bahwa kehidupan tidak dapat dipaksakan seperti yang dipikirkan oleh manusia dengan berbagai rekayasa teknologi, kendatipun teknologi itu penting bagi manusia. Kehidupan harus berproses secara alamiah. Dalam prosesnya kehidupan itu rentan terhadap perubahan-perubahan ke arah  yang merusak dan tidak baik baik bagi tata kehidupan yang normal, lantaran itu kehidupan harus dirawat dan dijaga.

Driyakara Pada Sekelompok Anak

Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara SJ (lahir di Kedunggubah, Kaligesing, Purworejo, 13 Juni 1913 – meninggal di Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah, 11 Februari 1967 pada umur 53 tahun). Ajaran pokok Driyarkara yaitu "manusia adalah kawan bagi sesama". Manusia adalah rekan atau teman bagi sesamanya di dunia sosialitas ini (homo homini socius). Pikiran homo homini socius ini ditaruh untuk mengkritik, mengoreksi, dan memperbaiki sosialitas preman; sosialitas yang saling mengerkah, memangsa, dan saling membenci dalam homo homini lupus (sesama adalah serigala bagi manusia). Sampai tahun 1951 nama Driyarkara tidak dikenal. Hampir seluruh waktunya dia gunakan untuk studi secara intensif. Catatan harian yang ditulisnya sejak 1 Januari 1941 sampai awal tahun 1950 tidak pernah lepas dari persoalan aktual-mendesak yang dihadapi manusia, khususnya rakyat Indonesia. Karya publik awal tulisannya tidak langsung filosofis. Karya awalnya berupa catatan ringan dalam bahasa Jawa yang dimuat majalah Praba, sebuah mingguan berbahasa Jawa yang terbit di Yogyakarta. Disusul kemudian dengan Warung Podjok dengan nama samaran Pak Nala. Terbitnya majalah Basis tahun 1951 membuka peluang Driyarkara memperkenalkan ide-idenya ke masyarakat. Mulanya dengan nama Puruhita, kemudian dengan nama lengkap Driyarkara. Cara penyajiannya bergaya percakapan, setapak demi setapak membawa pembaca ke permenungan filosofis. Saat mengasuh Basis, Driyarkara diserahi tugas menjadi Dekan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Sanata Dharma, embrio IKIP Sanata Dharma. Pidato pertanggungjawabannya tentang kepentingan pendidikan guru memperoleh tanggapan luas, dan sejak saat itu (1955) selain dikenal sebagai filsuf juga seorang ahli pendidikan. Lewat tulisan, pidato, ceramah, dan kuliah, Driyarkara memberikan pencerahan proses pencarian jati diri bangsa. Misalnya, ketika gerakan mahasiswa marak pada tahun 1966, dialah pembela pertama hak mahasiswa dan pelajar untuk demonstrasi. Di tengah keadaan kritis dan buntu-mentok, dia tampil dengan gagasan menerobos lewat pemberian makna. Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Nicolaus_Driyarkara#Biografi

Sekelompok anak bermain sepak bola. Umur mereka berkisar sepuluh sampai dua belas tahun. Entah ke mana arah bola ditendang, tidak tentu arah. Mereka tertawa, ketika salah seorang dari mereka terjungkal atau terguling-guling di atas rumput. Ada saat dimana mereka beristirahat sejenak, ketika salah seorang dari mereka mengeluh lelah dan menjerit kesakitan. Mereka sudah selalu seperti itu setiap hari, sejak aku menjadi penghuni rumah di samping lapangan rumput kecil itu.

Sudah sejak itu, sejak Maret 2010, jika waktu tidak sedang sibuk betul, kadang aku bergabung bermain bersama mereka. Ketika aku larut dalam setiap permainan mereka, aku menemukan bahwa bukan maksud mereka bermain bola. Bukan maksud mereka pula untuk berolahraga dan mencari keringat. Kata Julham, salah satu dari mereka “kami Cuma mau ngumpul-ngumpul doang, soalnya kami adalah temanan”.

Aku tergugah, terkesima. Sekelompok anak yang sadar betul bahwa mereka tidak sedang bermain dengan permainan sepak bola, apalagi membiarkan sepak bola mempermainkan mereka. Mereka sudah sedang bermain untuk suatu maksud, bukan kalah menang, apalagi untuk sebuah taruhan tertentu, tetapi untuk menjadikannya sebagai media perjumpaan, integrasi dan kebersamaan, karena seperti kata Julham “kami adalah temanan”.

Sampai pada batas itu, aku teringat dengan Nikolaus Driyarkara, seorang filosof, yang juga menjadi penggagas berdirinya Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Menurut Diriyarkara permaian sesungguhnya bermartabat. Dalam “Permainan sebagai aktivisasi dinamika”, yakni untuk menuju pembebasan manusia (Filsafat Manusia, hal 79-86, terutama pedoman penutup pada hal 83-84). Begini Driyarkara merefleksikan hakikat permaianan dengan amat jernih:

“Bermainlah dalam permainan tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi permainan jangan dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidaksungguhannya, sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh lagi. Mainlah dengan eros, tetapi janganlah mau dipermainkan eros. Mainlah dengan agon tetapi jangan mau dipermainkan agon. Barang siapa mempermainkan permainan, akan menjadi permainan permainan. Bermainlah untuk bahagia tetapi janganlah mempermainkan bahagia”

Menarik untuk direfleksikan, bahwa sekelompok anak yang bermain bola, telah menjadikan permainan tersebut sebagai sebuah upaya pembebasan manusia untuk keluar dari dirinya sendiri dan menempatkannya dalam lingkup yang lebih luas sebagai makhluk sosial. Mereka dalam kepolosan dan keluguannya masing-masing telah menempatkan hakikat manusia sebagai makhluk yang sadar, bahwa mereka tidak hanya meng-aku, tetapi juga meng-kita.

Meminjam Driyarkara, seperti yang diuraikan Muji Sutrisno dalam ”Jejak Pikiran dan Sosok Driyarkara” (http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0402/19/opini/861953.htm) bahwa Jejak besar pertama pikiran Driyarkara adalah posisi manusia dengan eksistensinya sebagai pusat. Dalam Filsafat Manusia Driyarkara, “manusia adalah siapa yang ber-apa dan apa yang bersiapa”. Menurut Sutrisno, ke-siapa-annya diuraikan Driyarkara dalam kata-kata: manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya. Manusia adalah subyek atau persona yang sadar. Dinamika persona adalah rentetan tenunan subyek sadar diri dan subyek yang berbuat dan ber-apa untuk menampilkan siapanya di dunia ini. Dalam proses mendunia inilah, sebagai persona, manusia dunia dalam kebudayaan.

Sekelompk anak yang bermain bola di samping rumahku itu sadar betul bahwa mereka hendak mengatakan tentang diri mereka sendiri di hadapan teman-teman seklompoknya sebagai ”teman” atau ”rekan” bukan sebagai lawan apalagi sebagai musuh. Permainan sepak bola yang mereka mainkan bukan sebuah sebuah permainan yang dipersungguh. Mereka sadar betul bahwa kesungguhan permainan terletak pada ketidaksungguhannya.

Lantaran mereka menempatkan permainan tetap dalam wilayah ketidaksungguhan, maka mereka bisa menemukan hakikat kemanusiaan dalam permainan tersebut. Bahwa sesungguhnya antara Julham dan kawan-kawannya adalah teman, atau rekan atau sahabat atau kawan. Namun, bukan tidak mungkin, jika mereka mempersungguh permainan sepak bola yang mereka mainkan, maka hakikat sesungguhnya tentang kemanusiaan mereka sebagai makhluk sosial akan terabaikan.

Selamat bermain, dan marilah kita bermain bersama-sama, bukan untuk mempersungguh permainan yang kita mainkan, tetapi membangun integrasi, komunikasi dan kebersamaan. Bahwa aku dan sekelompok anak itu tidak hanya meng-aku, tetapi juga meng-kita.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: