Tulisan yang ditandai ‘korupsi’

Tikus-Tikus Kamar (3/Selesai)

Suatu pagi aku membunuh seekor tikus di kamarku. Seekor tikus sebesar jempol kaki. Aku membunuhnya dengan cara menendangnya. Itu kisah pada suatu pagi itu. Suatu pagi yang masih menyisahkan kantuk.

Tapi malam tadi aku menemuinya lagi. Seperti bangkit dari debu, diiringi empat serdadu pengawal, tikus itu menghampiriku.  Aku menduga ia datang menyerangku, karena ia lengkap membawa empat tikus terbaik sebagai pengawal. Tetapi ternyata bukan. Tikus itu membawa pesan “Datanglah ke pesta pernikahan putri kepala istana kami. Kepala istana mengundang anda sebagai tamu kehormatan”.

Tanpa basa-basi aku mengangguk. Sumpah. Betapa bangganya aku pada malam hari itu mendengar kalimat ‘’Mengundang anda sebagai tamu kehormatan”. Kehormatan yang luar bisa besar. Di dunia manusia, aku tidak pernah dihargai serupa itu. Datang dan diundang dengan setengah membungkuk. Hanya, baru pada malam itu, tikus kecil itu dengan sangat santun mengundangku. Aku tersanjung bagai raja.

Tetapi sesungguhnya pada saat yang sama aku ciut. Keraguanku kambuh. Jangan-jangan ini adalah kebaikan yang semu, karena aku telah mengobrak-abrik sepak terjang mereka. Jangan-jangan mereka mengundangku, kemudian mengeratku lantas menjadi hidangan yang istimewa di acara resepsi pernikahan putri kepala istana.

Akal bulusku tumbuh. Aku membeli perangkap setengah kali setengah meter. Aku mengemasnya dengan indah, menyampulnya dengan kertas kado. Sebagai kado yang nanti diberikan kepada pasangan pengantin. Aku tidak peduli, sekalipun aku sudah dilarang oleh pembawa pesan agar jangan membawa buah tangan atau kado atau apa pun. ‘’Jangan membawa kado apa pun, karena kepala istana tidak hendak menerima apa pun selain kehadiran anda yang tulus”

Bohong. Tikus-tikus itu mau menjebakku. Kataku. Manusia koq mau di-tikus-in. Dengan menenteng kado aku bergegas menelusuri perjalanan bawah kamar yang menegangkan. Sepanjang perjalanan tidak ada seekor tikus pun yang kujumpa. Lorong-lorongnya lengang. Senyap.

Baru di ujung lorong terjauh, entah di kedalaman berapa meter di bawah lantai kamarku tampak seberkas terang. Semakin aku mendekat, terangnya makin benderang dan kegaduhan terdengar kencang. Ketika pintu lorong itu dibuka, ya Tuhan, istana yang sempurna. Megah tak terlukiskan dengan kata. Aku membayangkan pada ketika itu, jika jiwaku sedang bergoncang, mungkin saja aku sudah jatuh pingsan. Tetapi aku beruntung, jiwaku cukup matang untuk menahan keter-peranjat-an itu, lantas hanya mulutku yang ternganga-nganga sehingga kado yang kupegang erat terlepas dari genggaman.

Mengapa tidak. Bayangkan. Sapuan mataku melayang-menyapu. Kemilu cahaya lepas pendar menyapa dinding dan lantai istana berlapis emas. Seribu lampu warna-warni menerangi langit-langit istana. Tak ada satu sudut pun yang gelap. Terang benderang. Pilar-pilar penyangga adalah gading-gading. Kursi dan meja tersusun atas batangan emas. Tidak hanya itu, ribuan tikus berdandan tampan dan cantik. Senyum dan tawa mereka memabukan-memesona. Segala jenis makanan menumpuk di meja-meja makan yang bertebaran sepanjang tepi ruangan. Segala jenis minuman pun demikian.

Akhirnya pandangan mataku berhenti pada sebuah kursi. Sebuah kursi di barisan paling depan yang bertulis namaku di bagian atasnya, dibawahnya tertera sepanggal kalimat “Sebagai tamu kehormatan kami”. Seekor tikus mengajakku menghampiri kursi itu, selanjutnya mempersilahkan aku duduk.

Tiba-tiba suasana jadi senyap. Gemerincing lonceng dari singgasana mendiamkan ribuan tikus, tamu udangan, termasuk aku. Tampak serombongan orang keluar dari pintu utama yang sudah terbuka. Rupa-rupanya itu dia kepala istana, seekor tikus sebesar betis orang dewasa. Ya Tuhan. Itu dia rupanya. Aku tidak pernah melihat sebelumnya tikus sebongsor itu.

Mataku menatap lekat sang kepala istana. Mengagumkan. Ia tampak berwibawa. Dia dihormati dan dihargai. Untuk meletakkan kakinya di atas singgasana, dibutuhkan dua ekor tikus kecil. Luar biasa. Tidak lama berselang, serombongan tikus yang lain muncul dari balik pintu yang sama. Didahului para dayang-dayang, diikuti sepasang pengantin, disusul sebarisan pengawal.

Nah…betapa terperanjatnya aku, ketika melihat tikus yang adalah pengantin pria itu. Dialah tikus yang telah kutendang hingga tewas pada suatu pagi itu. Tikus itu melepas senyum ke arahku. Gigi-gigi runcingnya tampak. Sumpah. Aku benar-benar merinding. Bayangkan jika tikus menampakkan gigi-giginya. Kita tidak pernah tahu itu senyum atau marah. Tapi, pada malam hari itu aku mencoba paham, kalau tikus kecil yang kubayangkan sudah jadi debu tanah itu sedang melepas salam dalam senyuman.

Suasana masih senyap. Ribuan tikus itu tidak beranjak, bergeser pun tidak. Segala aktivitas berhenti. Seperti sudah sedang menunggu aba-aba. Dari atas singgasana, sang kepala istana bangun perlahan. Seorang pengawal memberikan selembar catatan. Sepertinya sang kepala istana akan berkata-kata.

Sebelum ia memulai berkata entah tentang apa, sorot matanya yang tajam menyapu rata ruangan hingga suluk ke sudut-sudut terjauh. Aku kian merinding. Pegangan kursi kuramas erat. Aku yakin, jika tatapannya menyorot ke arahku, maka remuklah sudah pegangan kursi yang terbuat dari emas itu. Ternyata benar. Praakkkkkk…patah. Aku terpelanting ke lantai.

Baru ketika itu aku sadar. Kalau segenap suasana. Segenap rasa yang tumpah. Segala yang disaksikan, yang dilihat dan dirasakan pada malam itu adalah mimpi belaka. Baru ketika itu aku sadar. Kalau selimut dan tubuhku jatuh tertumbuk di lantai kamar. Hugfffffff…seperti fakta, ternyata fiksi.

Tikus-Tikus Kamar (2)

Sebenarnya aku tidak pernah bangun sepagi ini. Apalagi jam lima. Tapi, lagi-lagi karena tikus. Pagi itu, ujung jempol kakiku terasa geli, seekor tikus, entah mencium atau menjilat, aku tidak tahu. Tapi usapan dan juga seperti jilatan itu terasa mengganggu.

Kudiamkan napas, menyalurkan semua tenaga ke ujung kaki kanan. Tenaga yang sudah kusimpan sepanjang malam dalam tidur yang panjang. Aku merentangkan jari-jari kaki perlahan. Sangkaku, tikus itu beranjak. Tetapi ternyata kian terasa elusannya dan atau jilatannya.

Tidak membuang waktu. Kemudian menendang. Mampus, kena kau! Seekor tikus melayang menghantam langit kamar. Di atas meja bacaku tikus sebesar jempol kakiku itu mendarat. Tubuhnya lemas. Dari mulutnya yang setengah menganga keliur liur merah. Aku memperhatikan dengan saksama. Menyentuh dengan ujung tongkat patah. Terasa, tikus itu hanya serupa daging. Tulang-tulangnya koyak, remuk.

Selamat pagi kawan, maafkan aku, karena aku telah membuatmu mati dengan tidak hormat. Lagi-lagi aku mengumpat. Sekarang, aku memberikan kesempatan kepadamu untuk siulan. Itu pun jika bisa. Tapi, jika tidak, maka bau kematiamu sudah menjadi pesan  buat gerombolanmu untuk tidak lagi datang mengganggu tidurku.

Tapi sayang, lima belas menit sudah, tikus naas itu tidak juga siuman. Tamatlah riwayatnya. Kukaitkan ekornya diujung tongkat. Kuseret dia keluar kamar, bagai menyeret penjahat. Membekas di atas lantai jalur penyiksaan menuju perapian, tempat sampah. Di sana, aku akan membuatnya menjadi debu tanah. Semoga bau kematiannya, bau tanahnya, bau debunya menjadi berita yang menggemparkan. Harapku.

Setelah semuanya menjadi debu tanah, aku beranjak kembali ke kamar. Kembali aku bentangkan selimut, menuntaskan kantuk yang masih sedikit tersisa. Sebelum benar-benar lelap, kulebarkan Koran Kompas (Rabu, 23 November 2011) yang tergelak di samping bantal. Pada halaman empat, terbaca judul besar ‘’Hatta Cium Kening Ibas”. Belum kubaca isinya, tetapi aku sudah terperanjat. ‘Cium’ kosa kata yang menarik di pagi hari itu, karena sebelumnya, tikus ‘mencium’ jempol kakiku.

Kegundahanku menyembul dalam tanya-tanya. Jangan-jangan tikus itu mencium jempol kakiku dengan tulus, karena aku telah memberi gerombolannya makanan. Tetapi mengapa ia harus mencium jempol kakiku jika itu benar atas dasar sayang. Seharusnya dia mencium keningku.

Tapi mau apa dikata, dunia tikus dan manusia terlampau jauh berbeda. Hanya bahasa ‘berpura-pura damai’ yang bisa membuat relasi dan atau hubungan antara manusia dan tikus terjembatani. Walau sesungguhnya, semua itu adalah semu, karena ‘berpura-pura damai’ adalah sebenarnya dalam perjumpaan itu antara aku dan tikus sudah sedang saling membunuh.

Berita lain, pada halaman yang sama, yang membuatku lebih terperanjat terbaca pada judul “Melanggar Kode Etik, Dua Hakim Diberhentikan”. Oh Tuhan, ada apa dengan hakim-hakim ini. Penasaranku memuncak, mataku yang setengah kantuk menyapu isi berita hingga berhenti pada “….MKH (Majelis Kehormatan Hakim) menilai Hakim Dwi Djanuwanto terbukti melanggar kode etik, yaitu melakukan perbuatan asusila…” Asusila? Tanyaku. Di akhir berita dijelaskan lebih lanjut “…Hakim Dwi Djanuwanto diberhentikan dengan tidak hormat karena MKH menilai yang bersangkutan telah mengulangi perbuatannya, berbelit-belit dan tidak menyesal…”

Membayangkan bagaimana aku menjatuhkan vonis mati pada tikus di pagi itu, aku jadi takut. Aku sudah main hakim sendiri. Seharusnya aku memasukkan tikus itu ke dalam sangkar, menginterogasinya, mendengar pleidoinya, dan memanggil saksi-saksi sebelum kakiku menendangnya. Jika demikian prosesnya, maka aku akan melanggar kode etik penghakimanku sendiri. Karena aku tidak mau mengulangi perbuatan sama, yakni mengampuni tikus. Aku tidak mau terbelit-belit, taat prosedur. Dan membunuhnya aku tidak menyesal.

Pagi hari itu, koran yang saya baca berhenti sampai di situ. Bentangan Koran itu menutupi mukaku. Kantuk menjemputku. Dan aku bermimpi.

Tikus-Tikus Kamar (1)

Apakah aku harus membunuh tikus-tikus ini sampai mati, mencincang-cincang tubuhnya, kemudian membakarnya jadi abu agar kamar ini tidak lagi menjadi  ‘lumbung padi’ bagi mereka. Ini pertanyaan terakhirku, setelah aku kehabisan daya, tuntas cara untuk mengusir mereka jauh-jauh.

Pertanyaan itu kedengarannya memang kejam (dalam konteks) sebagai sesama makhluk yang memiliki hak hidup yang sama di hadapan kehidupan. Tetapi mau apa dikata, jika hak hidupku yang damai diganggu. Mengapa tidak aku melanggar aturan hak asasi universal itu.

Bayangkan, sudah kuusir pada siang-siang. Ketika moncong mulutnya baru saja nongol di samping pintu. Sudah kututup semua jalur, kusekat semua cela, kurapatkan renggangan pintu dan jendela, kutempel-paku kasa kawat pada tiga lubang angin.

Tapi segerombolan tikus beragam ukuran itu masih saja tahu di mana lubang dan cela yang luput dari yang kutahu. Kadang, tiba-tiba sudah merangkak perlahan di antara buku-buku. Tiba-tiba keluar dari tas pakaian. Yang lain melintas di bawah kaki meja bacaku kemudian lari terbirit-birit dan lenyap. Entah. Entah dari mana mereka datang, dan entah kemana mereka pergi. Ingin tahuku tandas juga.

Pada suatu malam ketika aku benar-benar lelah karena seharian mencari cela-lubang dan menutupinya, tiba-tiba terdengar ada sesuatu yang jatuh dari  meja bacaku. Aku tahu, seekor dari segerobolan tikus itu sudah menggesernya. Perlahan aku mengintip dari balik selimut. Tetapi yang disasar tidak kutemukan. Larinya, rupa-rupanya lebih cepat dari kecepatan mataku. ‘’Tikus yang gesit, malam ini aku memaafkanmu, sampai jumpa besok pagi’’. Kataku dalam hati. Aku pun tertidur tapi tanpa mimpi. Lelah melumatku.

Pagi. Jam enam. Ketika mataku buka, bertebaran di lantai kamar potongan-potongan kertas. Barisan paragraf yang kucatat tangan tentang ‘Korupsi Sebagai Kejahatan Kelas Berat’ ludes. Pena yang kugunakan untuk mencatat tampak tergeletak di antaranya. Di tepi tempat tidur, tali sandal jepitku putus. ‘’Tikus sialan, oke, sekarang kita memulai perang yang sesungguhnya’’. Sumpahku.

Kurangkai kawat-kawat jadi serupa bujur sangkar, kugantungkan tiga mata kail dengan tiga umpan potongan ikan segar. Kutaruh dengan hati-hati di bawah tempat tidur, sambil berharap satu, dua atau tiga bahkan entah berapa dari tikus-tikus itu kena batunya. Istilah kerennya ‘jera’. ‘’Mampus lu’’, Kemudian aku pergi.

Tetapi rupa-rupanya aku masih terlalu bodoh bagi segerobolan tikus itu. Pintu kawat bujur sangkar itu menganga. Bahkan terbanting ke tepi tembok. Tiga potongan ikan raib. Mata kailnya bersih dan licin. Ini sebuah penghinaan. Kataku. Mengapa tidak, bukan hanya tidak kena jerat, tetapi juga perangkap itu pun terjungkal. Licinnya mata kail menunjukkan dengan amat jelas, segerombolan tikus itu telah menjilatnya. Hmmm

Murkaku tiba. Dibalut tanya aku bersumpah. Apakah aku harus membunuh tikus-tikus ini sampai mati, mencincang-cincang tubuhnya, kemudian membakarnya jadi abu agar kamarku tidak lagi menjadi  ‘lumbung padi’ bagi mereka. Agar mereka tidak lagi mengerat buku-buku, baju-baju, celana-celana, kasur, bantal dan kulit kakiku. Aku memang harus membunuh mereka sebelum mereka membunuhku.

Sebuah siang. Kutunggu dengan sepotong kayu berujung sebaris paku yang sudah kupersiapkan sambil melepas maki. ‘’Tikus-tikus, kepala kalian akan berdarah-darah hari ini. Ini adalah hari pengadilan terakhir. Dimana vonis mati kujatuhkan. Katakan kepada saudara dan kenalanmu agar mempersiapkan peti mati dan secabikan kafan’’

Seekor tikus melompat dari balik kasur. Dengan agak terperanjat aku melayangkan tongkat. Tapi tebasanku tidak mengenai sasaran. Seekor tikus sebesar kepalan tanganku lari luputkan diri. Sebelum hilang terbirit-birit, seperti mengejek, ia berhenti sejenak. Kuayunkan lagi tongkat kayu itu sekuat tenaga. Kuyakin tubuhnya koyak. Tetapi kembali tidak mengenai sasaran.

Barisan paku di kepala tongkat terbenam di lantai, memecahkan ubin yang sebelumnya sudah retak. Tongkat di tanganku patah jadi dua. Aku terperanjat. Mengapa tidak. Di bawah lantai kamar tempat aku beristirahat-lepaskan lelah. Tempat aku melakukan semua dan segala, dari membaca sampai menulis, dari berdoa sampai memikirkan dosa, dari berdandan sampai telanjang menganga lubang-lubang.

Lubang-lubang tikus. Aku baru mengetahuinya hari itu. Demikian juga dengan jalan tikus. Aku pun baru mengetahui siang hari itu juga. Lubang-lubang yang rapi, dengan jalur-jalur yang saling menghubungkan antara satu dengan yang lainnya secara rapi pula. Lubang dan jalur yang senyap dan kedap suara.

Oh Tuhan. Tidak ada seorang arsitek pun di dunia ini yang bisa membuat terowongan-terowongan bawah tanah dengan begitu bagus dan kokoh seperti yang dibuat segerombolan tikus-tikus itu. Entah sejak kapan mereka membangun system jaringan bawah kamarku. Entah, aku tidak tahu.

Aku kemudian jadi merinding ketika membayangkan jika suatu saat aku dan segenap isi kamarku ambruk. Aku jadi ciut dengan segerombolan tikus itu. Mereka rupa-rupanya berada dalam posisi yang lebih menguntungkan daripadaku. Sekalipun aku mengagung-agungkan doa, mendewakan buku-buku, menghormati pakaian-pakaian, dan menghargai tempat tidurku, tapi jika segerombolan tikus itu sepakat meruntuhkan lantai kamarku, maka aku pun ambruk.

Sumpahku jadi ragu-ragu. Apakah aku masih melanjutkan misiku, menuntaskan tikus-tikus itu satu-satu? Atau apakah aku harus memberi mereka makan dan merawatnya agar menjadi binatang peliharaan dan sahabat? Oh ya, aku tidak perlu menjawabnya, sudah kutemukan caraku yang baru. Berdamai untuk sementara waktu, kemudian dalam pelukanku aku akan menghilangkan mereka satu-satu.

Tak ada cara yang lebih gagah, tak ada daya yang lebih megah, tak ada tongkat pengadilan yang lebih mematikan, pun tak ada sangkar penjara yang lebih membuat jera selain berpura-pura baik, berpura-pura damai, berpura-pura tidak peduli, walau sesungguhnya dalam perjumpaan yang pura-pura itu kita sudah sedang saling membunuh.

“Mau dibilang fiksi silahkan, mau dibilang fakta terserah….”

(Seno Gumuria Ajidarma)

Radang Payudara, Radang Moralitas

Catatan kecil ini tidak panjang, hanya selembar kertas A4 satu setengah spasi. Catatan ini pun dibuat tergesa-gesa, tepatnya adalah merupakan percikan spontanitas semata. Dia berkelebat dalam benak, kemudian mencoba untuk dipasang-sambungkan dengan aneka peristiwa, lantas dicoba-rangkai jadi sebuah catatan. Di bawah judul ‘Oh Bahayanya Radang Payudara Melinda Dee’ saya mencoba untuk sedikit ‘meremas-remas’ payudara itu dalam kata.

Tahukah anda bahwa ‘Radang Payudara Melinda Dee’ adalah potret yang tepat untuk melukiskan kasus korupsi yang menimpa bangsa kita.

Mula-mula dibayangkan demikian. Payudara adalah ‘barang vital’, (dan tentang ini tidak terbantahkan kebenarannya). Dia adalah bagian dari salah satu mahkota terindah milik kaum perempuan selain keperawanan (demikian kata orang, yang juga tidak terbantah kebenarannya). Tetapi ketika ‘barang vital’ itu diterjang sakit karena ulah yang disengaja (pasang silikon agar payudara tampak kencang), bukan hanya sang perempuan yang akan kehilangan keindahan dan mahkota, tetapi juga bisa menyebabkan kehilangan nyawa (mati).

Nah…lantaran sakit dan radang payudara itu menimpa Melinda Dee, tersangka penilapan duit nasabah Citibank, maka untuk melukiskan ‘radang payudara’ sebagai ‘Radang korupsi’ yang menimpa bangsa kita menjadi elok untuk dibicarakan. Mengapa tidak?

Korupsi itu adalah sakit akut yang diderita bangsa ini yang dibuat dengan tahu dan mau (menilap uang agar dompet pribadi tambah kencang). Dan sakit yang disengaja itu menyengat serta membuat luka sendi paling vital dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yakni keindahan dan mahkota moralitas kita sebagai Indonesia yang berbudaya, beragama dan beradab. Jika moralitas kita sebagai Indonesia yang berbudaya, beragama dan beradab diterjang sakit yang demikian, bukan hanya ke-Indonesia-an kita yang kehilangan keindahannya, tetapi juga bisa menyebabkan kehancuran identitas.

Akan melahirkan bahaya bukan? Tentu saja sangat berbahaya. Menarik kan membahas topik seperti ini, tentu saja menarik.

Namun demikian, ketertarikan saya untuk membahas topik ini bukan hanya soal ‘Radang payudara’ dan ‘Radang korupsi’ yang sudah sedang terjadi baik menimpa Melinda Dee maupun menimpa Indonesia. Ketertarikan saya yang lain adalah soal bagaimana proses ‘penyembuhannya’. Tentang hal ini, tampak agak timpang. Bangsa kita rupa-rupanya tidak melihat dan tidak pernah mau melihat bahwa moralitas kehidupan berbangsa itu sebagai sebuah barang vital dan atau mahkota. Lantaran itu, bukan hanya lamban menangani masalah korupsi, tetapi juga tampak melakukan pembiaran-pembiaran sehingga sakit dan radang itu menjadi akut. Ini repotnya.

Padahal kita sudah punya contoh kongkret bagaimana proses menyembuhkan ‘Radang payudara Melinda Dee’. Bagaimana pihak rumah sakit dan kepolisian bergerak cepat dalam proses penyembuhannya.

Dicacat portal berita Detik.news (Selasa, 07/06/2011) bahwa Rumah Sakit Pusat Polri RS Soekanto merapatkan rencana operasi terhadap tersangka kasus penilapan duit nasabah Citibank. Rapat juga membahas tim dokter yang akan diturunkan nanti. “Secara pasti kapan operasi dilakukan terhadap Malinda belum ditentukan, hari ini baru akan dirapatkan,” kata Kepala Bidang Pelayanan RS Polri, Kombes Ibu Hajar, kepada wartawan, Selasa (7/6). Kondisi Malinda sendiri sampai dengan hari ini masih dalam tahap pemantauan tim dokter. “Masih dicek terus kondisinya,” ujar Ibnu.

Rapat hari ini yang juga dihadiri Kepala Rumah Sakit, selain mengagendakan jadwal operasi terhadap Malinda, juga akan dibahas tim dokter yang akan turun tangan terkait penyakit yang diderita Malinda. “Siapa saja dan apa saja timnya akan disampaikan juga dirapat nanti. Kita harus persiapkan secara profesional,” tutur Ibnu. Ibnu memastikan tim dokter yang akan terjun menangani operasi Malinda didatangkan dari dalam negeri. “Semuanya dari Indonesia. Tidak ada dari luar,” katanya.

Bayangkan….coba bayangkan….kalau tentang ‘Payudara’ bangsa ini bergerak cepat: rapat mendadak, tim dokter khusus dan secara serius ditangani oleh tim medis dalam negeri. Tetapi alamak…coba saja kalau soal ‘korupsi’ lelet kan? Tapi mudah-mudahan bukan karena ‘Payudara’ yang membuat bangsa kita bergerak cepat, tetapi proses penyembuhannya yang segera agar Melinda Dee dapat segera pula diproses secara hukum. Semoga sembuh Melinda Dee, semoga sehat bangsaku. Amin

Mr. A Itu Adalah Mr. Anjing

Benar-benar melelahkan menjadi warga bangsa ini. Selalu dan setiap saat kita selalu disuguhkan dengan berita yang tidak elok untuk didengar. Bahkan, berita yang tidak elok itu muncul hampir merata di semua bidang kehidupan bangsa ini.

Di bidang penegakan hukum yang pasti selalu didengar adalah korupsi. Di bidang penegakan hak asasi manusia yang selalu kita dengar adalah ‘tangisan’ tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Di bidang agama yang didengar adalah menjamurnya aliran sesat dan kerusuhan antar aliran kepercayaan/agama. Di bidang ketahanan Negara ada NII (Negara Islam Indonesia) yang mencoba merong-rong ‘kesaktian’ Pancasila. Di bidang olahraga, ada kisruh di tubuh PSSI. Di bidang kesehatan ada busung lapar dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Di bidang ekonomi dan sosial ada ‘air mata’ kemiskinan dan ketidakadilan sosial. Di bidang pendidikan ada kontroversi tentang kelulusan.

Mr. A adalah Mr. Anjing. Ketika Mr. Anjing menggonggong, seharusnya Mr. Kafilah berlalu terus. Tetapi aneh dan konyolnya di negeri ini justru pepatah itu diganti, ketika Mr. Anjing Menggonggong, Mr. Kafilah pun balas menggong.

Bahkan, yang paling konyol adalah di bidang komunikasi, ada SMS gelap. Ini benar-benar konyol. Dan soal yang satu ini dalam beberapa pekan terakhir menjadi berita yang selalu kita dengar. Berita ini tidak hanya membuat kita tidak hanya lelah, tetapi juga membuat kita dipaksakan untuk mengumpat tanpa sasar.

Bayangkan, hanya gara-gara sepotong SMS bohong yang berasal dari seseorang yang bernama ‘Nazarudin’, dan kemudian disebut ‘sebenarnya’ berasal dari Mr. A, para politisi dan petinggi negeri ini menjadi gaduh. Sampai-sampai mengabaikan dan melupakan soal-soal yang lebih besar dan krusial.

Aneh dan konyol. Benar-benar memalukan punya petinggi dan politisi di negeri ini yang sewot dengan masalah pribadi yang muncul hanya dari sepotong SMS bohong, padahal mereka dipilih bukan untuk mengurusi masalah dan soal pribadi. Mereka dipilih untuk mengurusi ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’. Tetapi faktanya tidak berbicara demikian………hugfffffff melelahkan!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: