Tulisan yang ditandai ‘kopi’

Aku dan Secangkir Kopi Tuan Renatus Cartesius

René Descartes (Renatus Cartesius); lahir di La Haye, Perancis, 31 Maret 1596 – meninggal di Stockholm, Swedia, 11 Februari 1650 pada umur 53 tahun), juga dikenal sebagai Renatus Cartesius dalam literatur berbahasa Latin, merupakan seorang filsuf dan matematikawan Perancis. Karyanya yang terpenting ialah Discours de la méthode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641). Descartes, kadang dipanggil "Penemu Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika Modern", adalah salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, membawa mereka untuk membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai rasionalisme kontinental, sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad ke-17 dan 18. Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir. Dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo sum sedangkan dalam bahasa Perancis adalah: Je pense donc je suis. Keduanya artinya adalah: "Aku berpikir maka aku ada". (Ing: I think, therefore I am) Meski paling dikenal karena karya-karya filosofinya, dia juga telah terkenal sebagai pencipta sistem koordinat Kartesius, yang mempengaruhi perkembangan kalkulus modern. Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Descartes

Pada sebuah kamar, di Neubau, dekat kota Ulm Jerman, seorang lelaki setengah tua mendekam bagai terpenjara. Wajahnya sinis, senyumnya kecut, dahinya terus berkerut bergelombang kecil besar. Sesekali ia memejamkan mata, kemudian terbuka benderang, melempar pandang ke balik jendela. Namun, tidak berapa lama Ia kembali menarik kain jendela sambil melepas kata ”Aku butuh secangkir kopi”

Secangkir kopi itu pun datang, dibawa oleh seseorang atau sesuatu atau entah yang tidak aku kenal rupa wajahnya. Sang penghantar kopi bagai hampa. Aku menduga, mungkin apa yang sedang kuduga bisa salah, sang penghantar kopi itu adalah siluman. Ia tenggelam di balik larutan kopi pekat panas. Mewujud dalam kepulan-kepulan uap yang sulit ditebak kemana arah terbang.

Dari balik pintu yang setengah terbuka, aku terus memperhatikan. Ingin aku memandang dengan kedua belah mata, tetapi aku masih belum cukup usia. Aku masih sangat muda, dan bahkan belum tahu apa-apa. Tetapi aku tersintak. Dari balik kamar yang senyap, tiba-tiba terdengar suara ”Jangan melihat setengah-setengah, jika hendak menikmati kopi bersama, masuklah”

Kakiku bergetar. Langkahku pun berat. Perlahan aku membuka pintu kamar menuju setumpukan papan untuk memijakkan pantat. ”Siapa yang menyuruhmu duduk” Dadaku bagai meledak. Aku pun berdiri, sambil merapikan tumpukan papan yang runtuh. ”Dan siapa yang menyuruhmu berdiri” Aku menjadi tidak berdaya. Aku bagai orang kalah. Di dadapannya aku menjadi orang pesakitan, penuh salah dan dosa.

Di balik ciut aku mencoba berpikir. Berpikir tentang bagaimana seharusnya aku ada dihadapannya. Duduk atau berdiri. Berdiri atau duduk. Kedua-duanya salah. Aku pun berlutut. Ketika itu dia sedang membelakangiku. Namun sebelum ia berpaling, dengan sigap aku menelentangkan diri, bersembunyi di balik tumpukan papan. Aku tidur. ”Makhluk pengecut, tidak lebih dari seekor kecoak, tidur dan bersembunyi”

Dadaku berdetak kencang. Aku menjadi tidak sanggup bangunkan diri. Kedua kakiku bagai terkunci. Namun demikian aku merasa lebih nayaman dengan menidurkan diri. ”Bangun..bangun..bangun” suara itu kembali mengagetkanku. Spontan aku melompat, merobohkan tumpukan papan hingga mengenai cangkir kopinya. Jatuh dan pecah. Uapnya merayap-rayap di atas lantai papan berdebu.

Ia tidak lagi bersuara. Matanya menatapku lekat-lekat. Seperti sedang memperhatikan dengan saksama sejengkal demi sejengkal. Hawa kopi yang dihantar manusia tanpa rupa menyapu wajahnya, membuat matanya tampak kian tajam. Ia seperti sedang memenggal jari-jari kakiku. Memotong-motong pergelangan kaki. Melepaskan kelamin dan zakar. Mengulitiku. Memburai usus-ususku. Mencopot rusuk dan jantung. Menanggalkan kedua lenganku. Mencincang-cincang jari, mata, hidung, bibir dan telingaku. Menggunduli rambutku. Hingga aku menjadi bukan serupa manusia.

Dahinya berkerut, senyumnya kecut. Matanya kian tajam. ”Apakah engkau manuasia yang tadi mengtipku dengan sebelah mata?” tanyanya. Kemudian ia melanjutkan ”apakah aku salah melihatmu? bukankah engkau yang telah menumpahkan kopiku? Bukankah engkau yang tadi tertidur lantas terperanjat medengar makiku? Atau mungkin aku salah? Apa sebenarnya yang sedang aku lihat, jika bukan tentang manusia? Mengapa kehadirannya membuatku tidak pernah diam bertanya? Mengapa aku meragukan keberadaanmu? Mengapa aku harus berpikir tentangmu?. Mungkin aku harus memikirkan tentang secangkir kopi? Tentang sesuatu yang disebut kesedaran?

Dia terdiam. Aku tak beranjak. Di balik dadaku, aku hanya dapat berkeluh, mengapa aku harus hadir dan ada di hadapannya? Aku benar-benar tidak berdaya berhadapan dengan manusia setengah gila, manusia setengah waras. ”Aku bukan orang gila, aku bukan orang setengah waras, aku Renatus Cartesius” Lagi-lagi dadaku dibuatnya meledak. Mengapa dia dapat membaca umpatku. Mungkin aku salah dengar, atau mungkin juga tuan Renatus salah ucap.

Tiba-tiba dengan suara berat Tuan Renatus berujar perlahan ”Oh ya…ya…sekarang aku baru tahu” Ciutku setengah mereda. Tidak dia berkutat dengan apa dan siapa, nada suaranya tiba-tiba saja melemah jadi lembut. Kemudian Ia melanjutkan ”Saat aku mencermati dan berpikir bahwa engkau bukan manusia, kalaupun manusia tetapi manusia yang salah…pada saat itu aku menyadari kebenaran ini: Aku berpikir maka aku ada…sehingga aku merasa yakin aku bisa menerima kebenaran ini sebagai perinsip pertama filsafat yang tengah aku cari”

Aku atau secangkir kopi yang telah mengubah Tuan Renatus menjadi pribadi yang lembut dan santun? ”Cogito Ergo Sum, Aku berpikir maka Aku Ada” tiba-tiba Tuan Renatus melontarkan kata-kata itu. ”Kau dan secangkir kopi dan segala sesuatu telah menyiksaku hampir sepanjang hidupku. Dan baru sekarang aku menemukan hakikat ada-ku. Bahwa : Aku berpikir maka aku ada…sehingga aku merasa yakin aku bisa menerima kebenaran ini sebagai perinsip pertama filsafat yang tengah aku cari”. Jelasnya.

Berpikir? Tanyaku dalam hati. Mengapa harus berpikir? Mengapa dengan berpikir? Untuk apa berpikir? Sederatan kebingungan, ketidaktahuan, pun penasaran berkelebat dalam dadaku. Tiba-tiba Tuan Renatus kembali angkat bicara ”Aku tidak menerima apapun yang ada sebagai yang benar, termasuk kau, segala sesuatu dan secangkir kopi itu. Kalian semua seperti sedang menipuku. Maka untuk melihatnya sebagai sesuatu yang benar, aku harus memahaminya dengan jelas dan terpisah-pisah. Dan hanya yang bisa dipahami secara jelas dan terpisah-pisah itulah yang menjadi norma untuk menentukan kepastian dan kebenaran”

Kemudian Tuan Renatus melanjutkan, seperti sedang mengajarkan kepadaku sebuah dogma ”Aku telah meragukan semuanya, namun ada satu hal yang sama sekali tidak bisa diragukan lagi, sehingga harus diterima secara mutlak yakni kenyataan bahwa Aku yang sedang meragukan atau menyangsikan segala sesuatu itu ada”

Aku terkesima mendengarkan suaranya yang meyakinkan. Tetapi sebenarnya aku sendiri masih tidak berdaya. Masih tidak tahu apa-apa, tentang maksud dan tujuan dari yang diucapkannya. Tuan Renatus tahu tentang kebimbanganku. Ia mendekat dan mengajakku untuk melihat dengan benderang. Dua cangkir kopi tiba-tiba tersaji di hadapan kami. Manusia tanpa rupa yang kusebut siluman menghantarnya. Aku merinding.

”Jangan takut, si penghantar kopi itu adalah filsafat, sang sesuatu yang tenggelam dalam tanya sampai tidak berwujud badan. Jika engkau mau memahamiku dengan lebih dekat, memulailah dengan menemukannya. Carilah dia dimana hendak kau lontarkan tanya. Dan kepadamu dia hantarkan secangkir kopi, yang dalam pekatnya kau berenang menemukan jawaban”. Tuan Renatus menutup jumpa.

Bau Zapatista Di Uap Kopi Javaro

Kaum Perempuan dalam pemberontakan Zapatista

Setelah aku suluk dalam kata-kata ini: ” Kopi instan! Pergi kau pengkhianat! Jangan kau nodai kelezatan kopi murni! Jangan kau kangkangi ibu-ibu petani kopi yang saban pagi mendendangkan lagu nikmat kopi murni untuk suaminya!” Seketika itu juga aku teringat apa yang pernah dikatakan Noam Chomsky dalam Memeras Rakyat-nya (1999).

Rekaman aktivis politik terkemuka dunia dan profesor linguistik ini, sepertinya hampir benar bahwa ”protes masyarakat pribumi di Chiapas hanyalah gambaran sepintas mengenai ’bom waktu’ yang akan segera meledak, bukan hanya di Meksiko” tetapi juga di Indonesia, oleh aku dan kau para petani kecil yang terkangkangi birahi ’neoliberalisme’

Di Chiapas, pada hari tahun baru, 1 Januari 1994, kaum pribumi Indian Mayan bersama kaum militer Zapatista (Ejército Zapatista de Liberación Nacional, EZLN) dan di dukung oleh Gereja menyalakkan senjata. ”Kita adalah produk perjuangan selama lima ratus tahun” demikian dinyatakan dalam deklarasi Zapatista. Perjuangan hari ini adalah ”untuk mendapatkan pekerjaan, tanah, pemukiman, makanan, layanan kesehatan, pendidikan, kemerdekaan, kebebasan, demokrasi, keadilan, dan perdamaian”.

Aku temukan bau perjuangan zapatista itu di uap kopi Javaro. ”Sekelebat harapan akan pembebasan berkelindang dalam uapnya, di tengah malam itu. Angin yang tengah berkata-kata lewat ventilasi huma mungil, membangunkan penaku untuk menyulam kata-kata dan bernyanyi tentang sekelebat harapan akan pembebasan”

Di Chiapas, Gereja bersaksi, yang menjadi latar pemberontakan dan perlawanan kaum Zapatista adalah ”marjinalisasi total, kemiskinan dan frustasi setelah bertahun-tahun berusaha memperbaiki keadaan”. Ketika itu, penandatanganan North America Free Trade Aggreement (NAFTA) hanya merupakan puncak atas penderitan yang sudah sekian lama diderita suku Indian di Chiapas.

Penandatanganan tersebut bagi kaum militer Zapatista disebut sebagai ’hukuman mati’ bagi suku Mayan Indian, dan hadiah bagi orang kaya. Yang selanjutnya menurut Chomsky, hal ini tentunya akan memperdalam jurang perbedaan antara segelintir orang kaya dan masa yang menderita serta menghancurkan masyarakat pribumi yang tinggal tersisa sedikit.

Aku terkesima oleh kata-kata Chomsky. Di ruang kepalaku meletup-letup tanya tentang kopi instan, tentang para pembuat kopi instan. Tentang kopi instan yang bercampur bahan-bahan kimia. Tentang penindasan para pembuat kopi instan atas lesung-lesung kopi asli tak terisi. Tentang instantisme kopi instan di hadapan keringat dan peluh proses para petani kopi. Sampai pada neoliberalisme dan pemakluman negara atas pasar bebas. Rapuhnya demokrasi karena penjajahan ekonomi. Juga tentang sialnya petani Indonesia karena kaum kapitalis yang loba dan tamak.

Hendak aku angkat senjata seperti kaum Zapatista. Tetapi di tanganku hanya ada sebatang pena. Aku mendadak sunyi. Aku pun mabuk. Bukan oleh cafein kopi Luwak yang tinggal setengah cangkir, tetapi oleh sekelebat harapan pembebasan yang berkelindan dalam uapnya, yang akan disulam angin dan pena, di ladang-ladang kopi. Bau Zapatista di uap kopi terasa menyengat. Meledak-ledak mau pecah.

”Kopi instan! Pergi kau pengkhianat! Jangan kau nodai kelezatan kopi murni! Jangan kau kangkangi ibu-ibu petani kopi yang saban pagi mendendangkan lagu nikmat kopi murni untuk suaminya!” Bau zapatista menyalak dalam dadaku. Membayangkan ibu-ibu petani kopi yang ’terperkosa’ para ’pembuat kopi instan’. Aku ingin menjadi lebih galak dari Zapatista.

Tetapi, dalam dadaku aku masih punya cara. Pemberontakan Zapatista, hampir pasti akan meledak jika para petani kopi menyerukan revolusi. Namun itu, bukan caraku, walau mungkin suatu saat akan meledak di negeri ini. Namun di tengah malam itu, aku tidak mau tumpahkan peluru.

Kepada kaumku, yang terdampar di ladang-ladang kopi, aku menyapa dengan lapang dada “Mari kawan….kita menyeduh kebahagiaan untuk petani-petani kopi, dalam cangkir-cangkir kopi murni, pilihlah, pilihlah kawan, arabika, robusta, luwak. Pilihlah, pilihlah kawan, semua asli dari tanah kita. Asli buah tarian tangan ibu-ibu petani kopi, pada lesung-lesung kayu. Pun asli dari dubur luwak yang menari di dahan-dahan rimba”

Sekelebat bau Zapatista akan harapan pembebasan dalam uap kopi Javaro itu menjadi melunak. Bau itu menyuluk dalam tarian permainan anak-anak petani kopi. Di ladang-ladang kopi, anak-anak semat-menyemat bunga kopi pada telinga. Saat itu, cangkir-cangkir kopi murni meleleh, merembes ke segala ceruk dan lekuk semesta seraya mengapungkan angin dan pena yang terus menyulam kata-kata, tentang sekelebat harapan pembebasan di sisah uap kopi Javaro.

Sumber Naskah

1. Sajak Aleksander Aur: Sekelebat Harapan dalam Uap Kopi

2. Kopi Javaro: http://javarocoffee.blogspot.com/

3. Pemberontakan Zapatista: http://id.wikipedia.org/wiki/Tentara_Pembebasan_Nasional_Zapatista#Sejarah_singkat

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: