Siapakah kita sehingga dapat melukiskan keindahan Tuhan? Tidak seorang pun dari yang hidup dapat melukiskan serupa apa itu Tuhan. Jika kita dapat menyebut-Nya serupa apa Dia, maka kita akan melukiskan-Nya sejauh mata iman memandang. Merekam serupa apa keajaiban itu terpancar dari keindahan-keindahan perjumpaan iman. Jika kita dapat melukiskan-Nya, maka hanya sejauh rekaman yang tertetas dalam kata-kata madah, doa-doa syukur dan lantunan pujian.

Sejatinya, keindahan Tuhan tak terlukiskan dengan kata. Sekalipun iman kita lebih besar dari biji sesawi. Dan atau kepada kita diberikan perjumpaan yang berulang dalam ‘penampakan’. Tuhan adalah Tuhan. Satu kata yang tak terkatakan. Dialah Sang Kata. Dan yang dapat menjelaskan sejauh mana keindahan kata hanya Sang Kata itu sendiri. Siapa pun selain itu tak kuasa. Termasuk Salomo yang karena kerendahan hatinya, diberi harta hikmat dan kebijaksanaan oleh Tuhan.

Salomo dalam Kidung Agung, melukiskan perjumpaannya dengan Tuhan sebagaimana perjumpaan sepasang kekasih. Sekalipun Tuhan tak berjenis kelamin, entah laki, entah perempuan. Tak berbentuk rupa, entah sesosok atau sesuatu. Salomo menghadapkan kepada kita tentang keindahan relasinya dengan Tuhan. Sebuah ungkapan iman yang personal seorang Salomo dengan Tuhan.

Siapakah Tuhan bagi seorang Salomo. Jelas terbaca, dalam kata-kata yang berjejal metafora, Tuhan baginya adalah belahan jiwa, dan bahkan jiwanya sendiri. Namun hanya dalam dan melalui kata, keindahan serupa yang diiman-yakini terwakili. Salomo tak bisa melampaui itu.

Kata Salomo, melalui mempelai laki-laki, Tuhan serupa bunga mawar dari Saron. Kecantikannya tanpa cela dan tanpa cacat. Dia hitam tapi cantik. Kulitnya seperti kemah di Kedar, bentangan Tirai di Salma. Pesonanya adalah gambaran kota Tirza. Sintal tubuhnya serupa pohon kurma. Dia adalah sang perawan termurni, seperti kebun tertutup dan mata air bermeterai.

Kecantikan Tuhan tak terekam mata, melalui kata dapat dilukiskan sejauh yang diresap-percaya. Elok paras Tuhan. Kepalanya adalah bukit Karmel, dengan rambut merah lembayung jatuh menyisir gunung bagai kawanan kambing yang bergelombang turun menuju Gilead. Mata Tuhan serupa merpati, serupa bening telaga Hesydon. Hidungmu seperti menara di gunung Lebanon yang menghadap ke kota Damsyk. Bibirnya seperti seutas kirmizi memagari sebaris gigi yang bagaikan domba beranak kembar.

Dipangku pilar leher bagai menara daud, menara gading, kecantikan Tuhan menjadi sempurna dipadu pelipis seperti belahan buah delima. Pada sintal tubuh Tuhan yang bagai pohon korma melekat buah dada yang bagai dua anak rusa, seperti anak kembar kijang, seperti gugusan anggur. Perutnya bagaikan timbunan gandum berpagar bunga bakung. Pusarnya seperti cawan yang bulat. Lengkung pinggangnya bagai perhiasan tangan seniman. Bau tubuh Tuhan adalah hembusan hidung berbau apel.

Bagi Salomo, Tuhan adalah juga belahan jiwa serupa mempelai laki-laki. Melalui mulut mempelai perempuan, Tuhan dilukiskan berperawakan seperti gunung Libanon. Tuhan tampan dan gagah seperti kayu aras. Lincah dan gesit seperti kijang atau anak rusa. Kepalanya bagaikan emas. Rambutnya mengombak. Matanya bagai merpati pada batang air. Pipinya bagai bedeng rempah-rempah. Tangannya bundaran emas. Lengkung-jangkung tubuhnya adalah ukiran dari gading. Kakinya adalah tiang-tiang marmar putih.

Serupa itukah keindahan Tuhan? Tidak. Jauh melampaui yang dilukis-bayangkan Salomo. Tuhan adalah keindahan itu sendiri. Tidak ada kata yang dapat melukiskan keindahan Tuhan selain Sang Kata. Keindahan Tuhan adalah Keindahan Sang Kata. Sesungguhnya Tuhan adalah Kata itu sendiri.