Tulisan yang ditandai ‘kematian’

Aku Belajar Dari Mama, Kisah Si Janin Cantik

Dulu, aku janin, bakal manusia yang belum berbentuk rupa. Jari-jari kecilku masih tenggelam di balik lendir bening. Hidung, mata, telinga dan bibirku masih tersembunyi.  Jenis kelaminku pun belum terdeteksi.  Aku hanya setitik lendir. Aku masih misteri. Tetapi, walau belum berbentuk rupa, entah seperti papa atau mama, bukan aku tidak bahagia. kadang aku menari. Dalam rahim yang tidak seberapa luas, sesekali aku meloncat-mengalir ke sisi kiri, sesekali meloncat-menggelinding ke kanan. Jika lelah aku lelap. Ketika bangun, aku kembali  menari, mengalir dan menggelinding.

Andai Aku Kuat

Pada ketika itu, aku membayangkan andai aku cukup kuat, sudah kujadikan plasenta sebagai ayunan. Sambil membaca sajak-sajak cinta, menyanyi lagu-lagu kasih dan berdendang tembang-tembang sayang, aku akan bermain ayunan dari pagi hingga petang. Bahkan andai aku sudah bertulang dan jari-jari dan tangaku menyembul aku akan berani memanjat tebing rahim mamaku. Aku akan berpetualang mengunjungi tempat-tempat penting di dalam tubuh mamaku. Untuk sekedar tahu dan sekedar belajar mengerti.

Aku akan mengunjungi telapak kaki, hati, jantung, wajah dan kepala serta tangan mama. Di telapak kakinya, aku akan belajar mengerti kalau mama adalah segalanya. Di sana ada surga. Segala tanggungjawab, kepedulian, kasih sayang dan perjuangan tertumpu. Aku akan mengunjungi hatinya. Aku akan belajar bagaimana mencerna kehidupan. Aku akan belajar memahami kegetiran dengan sabar. Aku akan belajar bagaimana mama menyimpan luka, memendam rahasia.

Pada jantungnya, aku akan belajar menghargai kehidupan. Bagamana mama tidak henti-hentinya mendenyutkan kebahagiaan walau susah, sakit dan derita. Pada kepalanya aku akan belajar bagaimana mama berpikir tentang semua dan segala dalam kehidupan. Bagamana mama mengetahui sesuatu dan mencernanya dengan cerdas.

Pada wajahnya, aku akan belajar bagaimana mama menampil-pancarkan tentang kecantikan. Bagaimana mama menatap dengan lembut, tersenyum dengan santun dan menyapa dengan sahaja. Dan aku akan mengunjungi tangan dan jari-jari mama. Memahami bagaihama mama bekerja tanpa kenal lelah. Memahami bagaimana mama memapahku dalam bulatan rahim penuh bahagia.

Andai aku kuat aku akan berpetulang mengunjungi tempat-tempat itu. Aku tidak perlu membawa bekal, karena plasenta akan kutarik lebih panjang. Sehingga aku tidak kehabisanserat dan zat makanan dan meinuman.

Ketika Aku Kuat

Itu bayanganku ketika itu, ketika aku dibentuk dari cinta dan tak berbentuk rupa. Aku membayangkan itu beberapa hari sesudahnya.

Kini, ketika aku kian kuat akhirnya aku menuntaskan misiku. Aku berpetualangan dalam tubuh ibuku. Aku belajar mendengar ketika telingaku terbuka. Aku belajar tersenyum ketika kedua belah bibir mungilku mekar. Aku belajar berjalan ketika kedua kakiku menyembulkan jari-jarinya. Aku belajar meraba ketika jari-jari tanganku tumbuh.

Kadang aku belajar bergerak, aku belajar duduk dan berdiri. Tidur, melintang dan terjerembab. Aku begitu bahagia. Hati merahku, putih bersih, otak kecilku cerah benderang. Sebagai si janin yang cantik aku meniru mamaku ketika ia berdandan. Di depan cermin mata rasaku dapat melihat kalau mamaku tersenyum bahagia.

Ketika aku sudah kuat, dan menjelang hari-hari kelahiranku, kadang aku melamun. Aku seperti tak sudi pergi dari rahimnya yang nyaman, tetapi pada saat yang sama aku harus meninggalkan kenyamanan itu. Aku menangis. Aku merindu saat-saat seperti ini akan kembali. Aku merindu belaian dan kasih sayang mama.

Aku Menangis

Aku kuat, tapi pada saat yang sama sesungguhnya aku belum mampu apa-apa. Aku tidak tahu bakal apa yang akan terjadi ketika aku dilahirkan. Merenungi hari-hari itu, dan aku menangis. Mengapa?

Aku akan mengalami kegetiran dalam kehidupan. Aku akan mengalami kemelut dalam situasi dan suasana. Aku akan menghirup udara yang pengap, berjalan pada jalan yang nista, melihat pertentangan dan perang, mendengar sumpah serapah dan angkara murka. Aku akan mengalami semua dan segala tentang kehidupan.

Walau sesungguhnya aku tahu, dalam dekap ibuku dan dalam papahan papaku akan dibimbing-lindung agar tegar. Walaupun aku tahu kalau kehidupan tidak selamanya kejam. Ada cinta yang mekar di sana, ada harap yang bisa diperjuangkan dan ada sesama yang bisa dipeduli-mempeduli.

Lantaran itulah, kelahiran bagiku adalah peristiwa perpisahan dan perjumpaan yang tidak terlukiskan dengan kata. Dari rahim mama yang nyaman, aku dilepas untuk berjalan sendiri. Aku tidak akan lagi dipapah papa dan secara berulang didekap mama. Aku aku akan menjadi aku yang lain, dan bukan lagi janin. Dalam pelukan papa dan mama kehidupan yang belum kutahu serupa apa mereka, aku sesungguhnya ciut dan takut.

Menangis bagiku adalah kata-penyampaian yang tepat untuk melepas rasa. Aku merindu menjadi jadi janin tapi kehidupan baru merinduku untuk menjadi seorang pribadi.

Tsunami dalam Sejarah Dunia

Tsunami (bahasa Jepang: 津波; tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah berarti “ombak besar di pelabuhan”) adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut,longsor bawah laut, atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter.

Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombangtsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami.

Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih.

Sejarawan Yunani bernama Thucydides merupakan orang pertama yang mengaitkan tsunami dengan gempa bawah laut. Namun hingga abad ke-20, pengetahuan mengenai penyebab tsunami masih sangat minim. Penelitian masih terus dilakukan untuk memahami penyebab tsunami.

Teks-teks geologigeografi, dan oseanografi di masa lalu menyebut tsunami sebagai “gelombang laut seismik”.Beberapa kondisi meteorologis, seperti badai tropis, dapat menyebabkan gelombang badai yang disebut sebagai meteor tsunami yang ketinggiannya beberapa meter diatas gelombang laut normal. Ketika badai ini mencapai daratan, bentuknya bisa menyerupai tsunami, meski sebenarnya bukan tsunami. Gelombangnya bisa menggenangi daratan. Gelombang badai ini pernah menggenangi Burma (Myanmar) pada Mei 2008.

Wilayah di sekeliling Samudra Pasifik memiliki Pacific Tsunami Warning Centre (PTWC) yang mengeluarkan peringatan jika terdapat ancaman tsunami pada wilayah ini. Wilayah di sekelilingSamudera Hindia sedang membangun Indian Ocean Tsunami Warning System (IOTWS) yang akan berpusat di Indonesia. Bukti-bukti historis menunjukkan bahwa megatsunami mungkin saja terjadi, yang menyebabkan beberapa pulau dapat tenggelamjang sejarah. Kerugian ekonomi akibat gempa bumi dan tsunami yang berpusat di Samudera Hindia, dan menghancurkan Aceh, pada 2004 diperkirakan hanya US$10 miliar. Gempa yang berpusat di 130 km sebelah timur Sendai, Honshu, atau 373 km tenggara Tokyo pada kedalaman 24 km itu mengakibatkan tsunami yang menyapu kawasan pesisir Timur Laut Jepang.

Tsunami Dalam Lintasan Sejarah

Gempa bumi berkekuatan 9 Skala Richter mengguncang Jepang sekitar pukul 14.46 waktu setempat pada 11 Maret 2011, menurut data Badan Meteorologi Jepang merupakan yang terdahsyat dalam kurun waktu 140 tahun terakhir. Gempa ini bahkan melampaui gempa besar di Kanto, Honshu, pada 1 September 1923. Guncangan gempa berkekuatan 7,9 SR kala itu membunuh sedikitnya 140 ribu warga yang tengah berada di kawasan Tokyo.

Gempa besar terakhir melanda kawasan Kobe pada 1995 yang memicu kerugian ekonomi mencapai US$100 miliar. Ini diklaim sebagai bencana alam paling mahal sepanjang sejarah. Kerugian ekonomi akibat gempa bumi dan tsunami yang berpusat di Samudera Hindia, dan menghancurkan Aceh, pada 2004 diperkirakan hanya US$10 miliar. Gempa yang berpusat di 130 km sebelah timur Sendai, Honshu, atau 373 km tenggara Tokyo pada kedalaman 24 km itu mengakibatkan tsunami yang menyapu kawasan pesisir Timur Laut Jepang.

Di bawah ini merupakan catatan sejarah Tsunami yang dirangkum-ringkas dari berbagai sumber:

1.            6.000 SM Gugusan salju besar di Sisilia longsor dan jatuh ke laut. Longsor yang terjadi pada 8 ribu tahun lalu ini memicu bencana tsunami tersebar di Laut Mediterrania. Tidak ada catatan sejarah bencana ini. Hanya para ilmuwan geologi memperkirakan tsunami dengan kecepatan 320 kilometer per jam ini mencapai ketinggian gedung 10 lantai.

2.            426 SM: Teluk Maliakos, Yunani Timur
Inilah pertama kalinya orang menghubungkan tsunami dengan gempa yang terjadi sebelumnya.

3.            21 Juli 365: Alexandria, Mediterania Timur
Tsunami setinggi lebih dari 30 meter. Membunuh ribuan orang, kapal terhembalang ke daratan sejauh 3,2 kilometer.

4.            684: Hakuho, Jepang
Tsunami pertama yang tercatat di Jepang, setelah gempa 8,4 pada skala Richter.

5.            887: Ninna Nankai, Jepang
Tsunami melantakkan Kyoto. Pantai dan teluk Osaka rusak berat.

6.            1361: Shuhei Nankai, Jepang
Gempa 8,4 SR dan tsunami Nankaido menewaskan 660 orang, menghancurkan 1.700 rumah.

7.            1541: Nueva Cadiz, Venezuela
Kota Nueva Cádiz, yang berpenghuni 1.500 orang, disapu gempa dan tsunami.

8.            1605: Keich? Nankaido, Jepang
Gempa 8,1 SR dan tsunami 30 meter menenggelamkan 5.000 orang.

9.            1700: Pulau Vancouver, Kanada
Gempa Cascadia, yang berkekuatan 9 MW, menyebabkan tsunami besar yang merambat ke Pasifik Barat Laut hingga ke Jepang.

10.         1707: Jepang
Gempa 8,4 SR memicu tsunami 25,7 meter yang menghantam Kochi Prefecture, menghancurkan 29 ribu rumah dan menewaskan lebih dari 50 ribu orang.

11.         1 November 1755: Lisabon, Portugal
Tsunami setinggi 15 meter menewaskan ratusan ribu orang. Dalam empat jam, gelombang tsunami sampai ke Cornwall, Inggris, sejauh 1.600 kilometer.

12.         1771: Kepulauan Yaeyama, Okinawa, Jepang
Tsunami setinggi 85 meter menenggelamkan belasan ribu orang.

13.         1792: Gunung Unzen, Kyushu, Jepang
Letusan gunung api menyebabkan tanah longsor, yang menimbulkan tsunami setinggi 100 meter (megatsunami kecil).

14.         1833: Sumatera, Indonesia
Gempa berkekuatan 8,8-9,2 SR mengakibatkan tsunami besar yang menyapu pesisir barat Sumatera.

15.         1854: Nankai, Tokai, dan Kyushu, Jepang
Gempa Ansei terdiri atas dua gempa 8,4 SR dan satu gempa 7,4 SR dalam tiga hari, yang menghasilkan gelombang setinggi 28 meter dan menewaskan 100 ribu orang.

16.         1868: Kepulauan Hawaii
Gempa 7,5 SR memicu longsor Gunung Mauna Loa, yang memicu tsunami setinggi 18 meter. Tsunami menyapu semua rumah dan manusia di pulau itu.

17.         1868: Arica, Cile
Gempa 8,5 SR di palung laut Peru-Cile melahirkan tsunami yang menerjang pelabuhan Arica dan Peru, menewaskan 70 ribu orang.

18.         27 Agustus 1883: Krakatau, Selat Sunda, Indonesia
Muntahan magma Krakatau menyebabkan dasar laut runtuh dan menimbulkan tsunami hingga 40 meter di atas permukaan laut. Tsunami menerjang Samudra Hindia dan Pasifik hingga ke pantai barat Amerika dan Amerika Selatan.

19.         1896: Meiji Sanriku, Jepang
Tsunami mencapai 30 meter dan menewaskan 27 ribu orang.

20.         1923: Kanto, Jepang
Gempa besar Kanto meratakan Tokyo, Yokohama, dan sekitarnya, diikuti tsunami 12 meter.

21.         1958: Teluk Lituya, Alaska, Amerika
Gempa menyebabkan megatsunami setinggi 520 meter.

22.         1960: Valdivia, Cile
Gempa terbesar, 9,5 SR di lepas pantai Cile memicu tsunami paling dahsyat pada abad ke-20. Gelombang setinggi 25 meter menyebar ke Samudra Pasifik hingga pantai Sanriku, Jepang, 22 jam kemudian. Lebih dari 6.000 orang di seluruh dunia tewas.

23.         1964: Alaska, Amerika
Gempa 9,2 SR mengguncang Alaska, British Columbia, California, dan kota pantai di barat laut Pasifik serta menimbulkan tsunami lebih dari 30 meter.

24.         2004: Pantai barat Aceh, Samudra Hindia
Pada Minggu 26 Desember, gempa 9,1 SR menimbulkan tsunami besar yang menewaskan 166 ribu di Aceh dan 320 ribu orang dari delapan negara yang dilewati gelombang itu hingga ke Thailand, pantai timur India, Sri Lanka, bahkan pantai timur Afrika di Somalia, Kenya, dan Tanzania.

25.         2005: Nias, Indonesia
Gempa 8,7 SR di lepas pantai Nias menewaskan 1.300 orang.

26.         2006: Pangandaran, Indonesia
Gempa 7,7 SR mengguncang dasar Samudra Hindia, 200 km selatan Pangandaran, memicu gelombang tinggi hingga 6 meter di Pantai Cimerak. Sekitar 800 orang dilaporkan hilang.

27.         2007: Kepulauan Solomon
Gempa 8,1 SR dekat Kepulauan Solomon menimbulkan tsunami setinggi 5 meter, yang menyebar hingga ke Jepang, Selandia Baru, dan Hawaii.

28.         Jumad, 11 Maret 2011: Sendai, Jepang
Gempa kekuatan 9 SR di pesisir timur Honshu, Jepang, memicu tsunami setinggi 10 meter dan menyebar ke Samudra Pasifik.

Sumber dan Artikel terkait:

Sumber dan keterangan Gambar:

* http://foto.vivanews.com/read/3117-evakuasi-korban-gempa-bumi-dan-tsunami-jepang

* Tangan seorang pria yang tewas tertimpa reruntuhan akibat gempa bumi 9 SR yang mengguncang Jepang, Jumat, 11 Maret 2011. (AP Photo/Gregory Bull)

Inalilahi Wainailaihi Rojiun, Dia Mati Karena Merokok

“Masih kecil, jadi gak boleh ngerokok!” sebagian dari kita mungkin menegur serupa itu jika melihat dan mendapati seorang anak kecil merokok. “Eh…lihat deh, tuh anak, masih kecil dah ngerokok”  sebagian yang lain mungkin ada yang serupa itu. Tidak menegur, tetapi hanya melihat atau memperhatikan dengan heran.  Namun ada pula sebagian dari kita yang di satu sisi melarang, namun di sisi yang lain secara tidak sadar sudah sedang mengajari  anak kecil perihal merokok “Dek, tolong beli rokok buat kakak ya, tapi ingat kamu gak boleh merokok”.

“Ingat, kamu masih SMA, masih sekolah jadi belum pantas merokok”  kata orang tua kepada anak-anaknya. “Di sini sekolah, saya tidak melihat satu orang pun yang berani merokok di sini, kalau di luar jam sekolah silahkan” sebagian guru sekolah kadang melakukan pemakluman-pemakluman serupa itu. Namun, ada juga yang dengan tanpa ragu merekomendasikan  demikian: “Oh kamu boleh merokok, tidak apa-apa, biar masih sekolah, kamu sudah tampak dewasa. Tuh…sudah ada kumisnya”.

“Gue paling gak suka ama cowok yang merokok!” kata seorang cewek yang kebetulan masasiswi kepada cowoknya yang juga kebetulan mahasiswa. “Eh, jangan salah loh, cowok yang ngerokok itu macho lagi!” puji mahasiswi yang lain ketika sudah sedang nge-gosip bersama kawan-kawannya tentang kriteria cowok macho. Namun ada juga yang begini: “Mending kuliah dulu dech sampai kelar, baru lu ngerasain gimana nikmatnya hidup!”. Ada yang lebih parah “Busyet deh, kepala gue nyut-nyut, gak bisa bikin skripsi ne kalau gak ngerokok”

“Inalilahi wainailaihi rojiun, semoga asap-nya diterima di sisi Allah”

“Mending nabung tuh uang, beli rumah, ngelamar istri, jangan foya-foya” tegur kawan yang kebetulan tidak merokok. Maklum, sudah kerja. Dalam dunia kerja, salah satu tipe rekan kerja yang baik katanya seperti itu. Tapi tidak jarang pula, kawan yang tidak merokok melakukan pembiaran-pembiaran tanpa sadar lantaran demi menjaga tali persahabatan “Ya, gue bawa lu rokok entar, tenang aja. Teman yang baik selalu tau keutuhan temannya!”. Tentang rokok dan merokok sudah dilihat sebagai kebutuhan, bukan lagi kesenangan. “Gue butuh banget ne uang, pinjamin gue barang seratus ribu ya!” hmmm…jika mau jujur diantara seratus ribu itu pasti akan digunakan sebagian untuk membeli rokok.

“Pa, jangan ngerokok ah. Sudah sejak semalam batuk-batuk melulu. Papa sih bandel!” Istri yang baik. Menegur tapi pada saat yang bersamaan melepas senyum. Walau batuk-batuk, si papa pasti tersenyum pula. “Bibir papa koq bau asap, papa ngerokok lagi ya, kemarin kan dokter dah larang. Ah, papa, gimana sih” Ini lebih elok. Romantis-romantis gimana gitu. “Papa…mama gak mau ngelihat lagi papa merokok. Bukan ngajarin anak yang benar, malah merokok. Seperti gak tau aja merokok kan merugikan kesehatan” kata istri. Mencoba untuk bersikap tegas, dengan nada sedikit lebih galak.

“Pa, gimana sih rasanya ngerokok” tanya bocah kepada ayahnya. “Gak boleh tahu. Ini rahasia” Bocah kecil, masih bau kencur, masih ingusan, masih netek, masih ngompol, jalan masih digendong, makan masih disuapin, tetapi ingin tahunya besar tidak kepalang tanggung itu pasti akan cari tahu apa rahasianya. “Dede, gak boleh” tegur mama si bocah. Tetapi tidak mengatakan apa-apa setelah itu. Justru sebaliknya membiarkan si bocah tetap duduk di samping sang ayah yang sudah sedang asyik merokok. Si Bocah melotot. Penasaran.

“Inalilahi wainailaihi rojiun” segenap anggota keluarga, sahabat dan handai taulan terperanjat. “Kenapa?”. “Anak tetangga gue meninggal ditabrak pas pergi beli rokok!” kisah satu kisah. “Anak tetangga gue yang masih SMA meninggal gara-gara dipukulin ayahnya karena kedapatan merokok” kisah yang lain. “Teman kampus gue meninggal karena penyakit paru-paru” selanutnya dalam pengalaman yang lain “papa meninggal karena jantung”. Dan terakhir “Kakek meninggal karena TBC”

Lalu…lu nanya kapan boleh merokok? Merokok bukan pengalaman biologis serupa datang bulan atau mimpi basah. Bukan pula tunggu ketika tamat sekolah atau kuliah, kerja atau sudah menikah. Tentang rokok dan merokok jangan diberi waktu apalagi ruang ‘smooking area’. Singkatnya, jangan melakukan pembiaran-pembiaran yang tidak sehat, baik dalam tutur kata dan juga sikap, terhadap segala bentuk kehidupan yang jelas-jelas tidak sehat.

Tapi, entahlah…catatan ini hanya sebuah peringatan kecil yang mungkin tidak penting. Seperti asap yang lepas lalu, serupa itulah berbagai bentuk dan tindakan pelarangan terhadap kebiasaan dan tindakan yang disebut merokok. Dilarang melarang, katamu. Ya sudahlah…“Inalilahi wainailaihi rojiun, semoga asap-nya diterima di sisi Allah”.

Empat Kematian

Aku menyaksikan empat kematian yang berbeda di empat tempat berbeda dengan tingkat ketragisannya masing-masing.  Semuanya terjadi di awal tahun ini. Membayangkan kematian itu, menggetarkan aku. Mengapa tidak. Semuanya mati dengan cara yang hampir tidak dimengerti. Tidak dapat dibayangkan. Tidak dapat diprediksi. Serupa itukah kematian?

Kematian yang satu dihantam gelombang. Tubuhnya terjebak di antara karang. Sebagian tubuhnya adalah air. Di atas puing-puing yang ia duduki sebelum ia pergi, jazadnya dikuburkan tanpa nisan. Mungkin dalam sepinya ia memanggil, tapi tidak seorang pun yang peduli. Kematian tanpa air mata. Hanya ada kerinduan yang sekejap. Sedangkal itukah kehidupan?

Kematian yang kedua adalah yang terjatuh dari pegangan, dari ketinggian yang tidak seberapa. Tapi pijakan-pijakan sepatu yang mengenainya, membuat tengkoraknya retak, sebelah matanya pecah. Pupil dan kornea menyatu, tidak ada hitam dan tidak ada putih. Kelam. Kehidupan dan hidup itu sendiri adalah alibi. Kecerobohan dan ketidakhati-hatian telah membuat kehidupan yang lain tewas. Sejahat itukah kehidupan?

Jika kematian adalah pilihan yang lazim dimaklumi maka lebih baik mati, ketimbang harus membayangi kematian yang berkelebat kemudian pergi

Kematian yang ketiga adalah karena tidakpedulian. Di antara lalapan panas api dia berteriak minta dikasihani. Dia berontak melawan panas. Setengah tubuhnya kian gosong. Sendi-sendinya terlepas perlahan. Bau kelam. Bau darah. Bau tubuh. Semuanya menyatu lebur dalam hangus. Kematian serupa itu sungguh tragis. Dan lebih tragis adalah ketika mereka yang menyaksikan kematian serupa itu tidak peduli. Mereka hanya dapat berteriak dan memotret dengan mata-mata mereka. Selebihnya hanya sisahkan kisah ‘kasihan ya!’. Setidakpeduli itukah kehidupan?

Kematian keempat adalah kematian yang membuatku harus gugurkan air mata. Dia adalah sahabatku juga saudaraku. Sebentar ia terjebak di relung air, sudah itu mati. Sunggah kematian yang cepat. Kematian di tangan arus air yang lebut. Sungguh sangat tidak masuk akal. Kematian yang sulit untuk lupa. Bukan hanya tentang kematian itu sendiri, tetapi juga peristiwa kematian itu. Serupa itukah kehidupan? Begitu cepat berlalu, begitu cepat berpisah. Perjumpaan demi perjumpaan yang sudah kian lama terbangun serupa sarang semut. Rapuh. Runtuh. Pergi.

Empat kematian yang membuatku tidak habis merenungi diri. Apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Menyaksikan kematian serupa itu sungguh sangat membebani diri. Jika kematian adalah pilihan yang lazim dimaklumi maka lebih baik mati, ketimbang harus membayangi kematian yang berkelebat kemudian pergi. Ya Allah…

First Love Never Dies?

Cinta pertama tidak akan pernah mati. Dia akan tetap hidup. Katanya, selamanya. Berulang seseorang menyusun keping-keping cintanya yang luluh lebur, tetapi selalu saja runtuh. Mencoba seseorang membuka lembaran baru dan membangun kehidupan cinta yang baru, namun rapuh jua. Terlepas dari cinta pertamanya masih hidup atau sudah tiada, laki-laki atau perempuan, kehadiran kekasih dan belahan jiwanya yang sudah pergi ke entah, tampak masih nyata.

Gallian Shields melukiskan tentang kisah ketakbisalupaan cinta pertama itu dengan menarik. Dalam Immortal First Love Never Dies (Dastan Books;2010) Shields menghadirkan seorang Sebastian, pemuda misterius berwajah pucat dengan sepasang mata biru dan berambut hitam. Bagi Evie Johnson, Sebastian seperti berasal dari negeri dongeng yang kehadirannya membuat dadanya bergetar. Lantaran itu tidak heran, jika gadis berusia enam belas tahun ini akhirnya jatuh cinta kepada Sebastian. Namun sayang, Evie merasakan Sebastian menyembunyikan sesuatu tentang masa lalunya dan siapa dirinya yang sebenarnya. Dan inilah yang membuat Evie penasaran dan juga ciut. Semakin ia mencoba untuk mengungkap jati diri Sebastian yang kelam juga, pada saat yang sama perlahan menguak tabir masa lalunya yang juga akan menempatkan jiwanya dalam kecemasan yang mendalam.

Sesungguhnya, baik Sebastian maupun Evie menyimpan tentang sebuah masa lalu yang sulit lupa, yakni kisah tentang cinta yang tidak pernah mati. First love never dies. Di Wyldcliffe Abbey School yang dingin dan suram keduanya berkutat dengan masa lalu mereka masing-masing. Dapatkah mereka membunuh cinta pertama mereka, selanjutnya membuka lembaran baru dengan kehidupan cinta yang baru? Mampukah mereka menerima masa lalunya dengan ikhlas dengan mencoba perlahan melupkannya? Dalam Immortal First Love Never Dies, kita menemukan jawabannya.

Membaca Immortal First Love Never Dies selanjutnya mengalami pengalaman-pengalaman perjumpaan dengan kisah-kisah cinta pertama dengan orang-orang yang kukenal, sesungguhnya cinta pertama itu sangat menyiksa. Cinta pertama yang senantiasa dikenang, selalu diingat adalah jeruji bagi relasi cinta mereka. Bahkan untuk mereka, para pencinta yang selalu terjebak dalam ingatan akan cinta pertama aku menyebutnya sebagai para pembunuh cinta.

Sebab, mereka tidak hanya menyiksa diri mereka sendiri dengan cinta yang tidak pernah lupa. Mereka tidak hanya menutup diri sendiri untuk memahami dan mengenal cinta yang lain. Bahkan lebih dari itu, mereka secara perlahan membunuh hakikat cinta itu sendiri. Bahwa cinta itu tidak untuk dimiliki dan memiliki. Cinta sudah cukup untuk cinta. Menarik hakikat cinta itu ke dalam kenangan emosional dalam peristiwa yang disebut sebagai cinta pertama adalah adalah tindakan pemenjaraan, pengekangan dan bahkan pembunuhan atas cinta.

Lantas, bagaimana kita dapat membunuh cinta pertama agar dia dapat mati? Kematian, kata sebagian orang adalah pembunuh itu sendiri. Hanya dengan kematian cinta pertama itu meregang nyawa. Napas cinta dipenggal. Jiwanya lepas melayang ke dunia entah.

Sebagian yang lain mengajukan tanya pun jawaban. Haruskah kita menemukan pembunuhnya dalam diri para pencinta yang lain, yang hadir dalam kehidupan kita? Jika itu mungkin, maka itu adalah peristiwa unik yang hanya terjadi pada segelintir orang. Dan mereka yang dapat membunuh kenangan akan cinta pertama adalah orang-orang yang sabar, yang juga hadir sebagai pembunuh berjiwa besar, yang bersedia kalah walau disandera, yang bersedia disandera walau tewas dalam penyiksaan yang panjang.

Namun bagiku, bagaimana membunuh dan menemukan pembunuh yang sesungguhnya bagi kenangan atas pengalaman cinta pertama adalah diri sang pencinta itu sendiri. Ia harus membunuhnya dengan ikhlas dan perlahan melepaskannya terbaring tenang pada kotak sejarah masa lalu. Mengenang kisah cinta pertama dalam sosok kekasih pujaan bukan pekerjaan yang salah, sebab sejarah tidak dapat dipenggal. Namun, menghadirkan senantiasa sosok kekasih pujaannya dalam setiap perjumpaan dengan dan kepada setiap orang adalah dosa, sebab sejarah tidak pernah terulang.

Lantaran itu melepaskannya sebagai bagian dari kenangan, kemudian membangun lembaran baru dalam dan melalui perjumpaan yang tulus adalah perbuatan mulia dan terpuji. Dapatkah kita melakukan itu?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: