Tulisan yang ditandai ‘Kahlil Gibran’

Gara-Gara Seniman Jalanan Aku Lulus Kuliah

Ini kisah masa lalu, namun pantas untuk dibagikan, bukan lantaran penting atau perlu, tetapi karena sesuatu yang mungkin itu bisa saja terjadi kapan dan di mana pun. Karena sesuatu yang mungkin selalu dicemaskan sebagai yang tidak mungkin, maka sudah sejak aku mengalami bahwa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin, sudah sejak itu aku selalu optimis bahwa dalam setiap peristiwa perjumpaan tidak ada yang tidak mungkin, jika tentang sesuatu itu diseriusi, ditekuni dan disungguhi. Kisah yang nyaris tidak mungkin itu adalah sebagai berikut.

Ketika itu aku masih kuliah. Anak kos. Ke kampus naik Metro Mini, kadang bayar, kadang tidak, tergantung rezeki dan juga niat baik. Kalau ada uang biasanya rambutku kelihatan lebih rapih, karena ada gatsby mini yang baru kubeli. Tapi kalau gondrongku dibiarkan terurai, itu artinya aku sudah sedang dijauhi rezeki. Gatsby mini di kamar mengering dan melihat air untuk basuhkan diri pun aku benci. Haha…cukup sudah. Aku malu membuka kisah usang ini. Jangan membuka aib sendiri, sesekali boleh adalah prinsipku yang pertama.

Nah, suatu hari di atas Metro Mini jurusan Kali Deres – Senen yang penuh sesak dengan penumpang, aku dihimpit hingga nyaris terjatuh. Aku didorong si gondrong yang tiba-tiba masuk. Seniman jalanan sialan, umpatku. Tapi rupanya dia ciut melihat wajahku yang jauh lebih seram dari tampangnya. (Maklum pada ketika itu rezekinya lagi jauh) ”Maaf” hanya sepatah kata itu yang meluncur dari mulutnya. Aku mengangguk. Sesama orang seram, miskin dan linglung dilarang saling berantem. Itu prinsipku yang kedua. Haha…

Dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk bernyanyi apalagi membawakan puisi, si seniman jalanan masih juga unjuk gigi. Tentu saja masalah perut yang memaksanya untuk bernyali, sekalipun situasi tidak mungkin. Beberapa puisi sudah ia bacakan, beberapa lagu sudah ia nyanyikan, tapi belum juga ia berhenti. Apakah dia hanya bernyanyi dan membawakan puisi tanpa mengedar kantong kosong untuk diisi seperak dua perak dari penumpang? Tanyaku dalam hati.

Akhirnya dia berhenti juga, kemudian turun dan menghilang di antara padatnya kendaraan kota. Lima tahun di Jakarta, baru pertama aku melihat seniman jalanan tidak meminta jasa suaranya. Ini menarik. Terlepas dari situasi Metro Mini yang tidak memungkinkan untuk itu, tetapi sekurang-kurangnya beberapa orang yang persis di sampingnya, termasuk aku, biasa ia tawari kantong kosong. Siapa tahu dari antara kami ada yang berbaik hati, kecuali aku. Haha, Ya…aku tidak bisa memberinya serecehpun karena pada ketika itu receh itu perlu dan penting sebagai nyawa ekonomi anak-anak kos seperti aku. Aku pikir Tuhan pun tidak mencatat ini sebagai dosa. Toh…aku pun kekurangan. Jika aku memiliki dua receh ketika itu, bukan tidak mungkin aku akan memberinya satu. Ini prinsipku ketiga, jangan memaksakan diri untuk berbuat baik sebelum berbaik hati dengan diri sendiri.

Di terminal Senen, penumpang mulai turun satu-satu. Sebagai anak muda aku membiarkan perempuan, bapak-bapak dan anak-anak turun lebih dahulu. Ini prinsipku yang keempat, menghargai perempuan. Setelah semuanya turun, kini giliranku. Namun belum juga aku beranjak, mataku tertumbuk pada gulungan kertas yang tergeletak di samping kaki kananku. Rasa ingin tahu, penasaran memaksaku untuk memungutnya kemudian membawanya pergi, setelah menengok kiri kanan seperti maling. Di bawah lapak buku yang agak teduh, aku mencoba membuka gulungan kertas itu. Ternyata lembaran-lembaran itu adalah milik si seniman jalanan. Terdapat beberapa puisi dan syair-syair lagu lengkap dengan referensinya, siapa pengarang dan penyairnya.

Membaca catatan tersebut aku merasa sangat berdosa. Lantaran itu adalah harta milik terbesar milik seniman jalanan. Namun bagaimana aku mengembalikannya. Jakarta begitu luas dan padat. Di seberang entah, si seniman mungkin sedang mencarinya, dan aku pun melakukan hal yang sama. Suatu saat pasti kami bertemu lagi, dan aku janji akan mengembalikannya. Toh aku bukan maling, aku akan mengembalikannya. Ini prinsipku yang kelima, jangan mengambil barang milik orang lain, sebab selain akan dicatat Tuhan sebagai dosa, juga akan dihajar massa. Aku tidak mau masuk neraka setelah dikeroyok banyak kepalan dan tendangan.

Di antara catatan syair dan pusi seniman jalanan itu, ada sekuplet syair yang menginspirasiku, yakni sebaris kata dari Gibran Kahlil Gibran ”Lihatlah diriku, sebuah kata yang maknanya samar-samar dan membingungkan; kadangkala tak bermakna; kadangkala bermakna banyak hal”. Sekuplet syair yang ditulis sang seniman jalanan dengan tinta biru. Pada ketika itu, di Metro Mini, dia dia tidak sempat membaca syair itu. Apakah ini pertanda bahwa aku yang akan membacanya, sebab kami mirip, sama-sama gondrong, sama-sama jorok, sama-sama sengsara. Candaku sendiri. Ini prinsipku yang keenam, kalau bertemu dengan orang yang mirip baik karakter, sifat maupun wajah dan penampilan, tidak salah untuk ditertawakan, sebab tidak ada yang dipersalah-marahkan.

Setibanya di kampus, aku menyodorkan kartu perpustakaan mencoba meminjam buku-buku Gibran. Di antara dua buku yang ada dan yang dibaca aku temukan sekuplet syair yang dikutip seniman jalanan itu pada tulisan Gibran yang berjudul Hari Kelahiranku, Martin L. Wolf (ed) Treasury of Kahlil Gibran (Risalah Karya Terbaik) Tarawang Press, Yogyakarta 2002, hal. 90. Hmmm….sudah sejak itu minatku pada syair dan sajak Gibran seperti kembali terbit setelah sekian lama sepi. Sebab pertama kali aku berkenalan dengan Gibran di sekolah menengah pertama dalam dan melalui ’Sang Nabi’. Sudah sejak itu aku tidak lagi berjumpa dengan Gibran, sampai ketika seniman jalanan itu mengantarku dalam dan melalui sekuplet syair itu.

Aku lantas berpikir mengapa tidak aku menulis skripsi tentang Gibran Kahlil Gibran? Siapa tahu keajaiban akan tercipta jika aku kembali menekuni Gibran. Keajaiban itu salah satunya, adalah aku bisa lulus kuliah dengan nilai memuaskan, setelah sekian lama terkatung-katung bagai tidak menentu. Kucoretkan dua tema pada ketika itu, setelah melumat buku-buku Gibran yang kuperoleh dari mana entah, pertama adalah tentang filsafat keindahan, mencoba menjawab substansi filosofis dalam dan dari syair dan sajak Gibran. Kedua adalah tentang apa, siapa dan bagaimana Gibran memandang Tuhan. Lantaran aku adalah mahasiswa teologi, dan kampusku, STF Driyarkara mewajibkan itu, maka tema kedua yang dipilih.

Ternyata, tidak diduga disejutui pula oleh dosen pembimbing, Dr. Al Andang Binawan, SJ. Di bawah judul ”Gibran Kahlil Gibran tentang ’Yesus Putra Manusia, Gambaran Allah Yang Personal dan Terlibat’ skripsi tersebut jadi juga dalam waktu empat bulan. Dan dihadapan penguji, Dr. Al Andang, SJ dan Dr. Sunarko, OFM aku menjawabnya dengan begitu mudah. Dr. Sunarko, OFM, dengan nada bercanda bertanya sebelum keduanya memberi jawaban apa aku lulus atau tidak, ’Kamu yakin lulus?” aku menjawab ’Sangat yakin romo”. ”Ya kamu lulus, skripsimu A” sambung Dr. Al Andang, SJ.

Amazing…sulit dipercaya. Sesuatu yang awalnya adalah tidak mungkin akhirnya menjadi mungkin. Seniman jalanan dengan caranya sendiri, telah membuka ruang kemerdekaan kepadaku. Namun aku masih berutang budi kepadanya, karena sampai kini aku tidak berjumpa dengannya lagi. Perjumpaanku di Metro Mini pada ketika itu adalah perjumpaan yang pertama dan terakhir. Selanjutnya kami berjumpa dalam mimpi-mimpi. Namun satu yang membuatku yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin, sekali lagi, jika diseriusi, ditekuni dan disungguhi. Ini prinsipku ketujuh dan terpenting. Bahwa segala sesuatu itu mungkin jika yakin kalau yang mungkin itu baik. Baik bagi diri sendiri dan orang lain.

Gibran Kahlil Gibran

Gibran Kahlil Gibran adalah lelaki yang sepanjang hidupnya diliputi kesepian yang mendalam. Hari-harinya dihujam selalu oleh tanya, rindu, perhatian dan kasih sayang. Semua karyanya, baik yang terekam dalam kata, maupun yang membias dalam kanvas, bahkan tentang dirinya sendiri sesungguhnya adalah ‘lamentasi’ tentang rindu yang memendam, sepi yang tak tertahankan dan rahasia yang tidak pernah disibakkan akan dan tentang sesuatu. Ada tiga hal yang menjadi dasar kesimpulan ini.

Pertama, membaca karya-karya Gibran kita disuguhkan dengan bentangan kalimat-kalimat indah. Rangkaian katanya elok, tuturannya yang nan lentur. Lantaran itu tidak heran jika banyak pembaca mengutip sekuplet dari sajaknya atau sepenggal dari kalimatnya untuk menunjukkan kepada pasangan mereka tentang arti percintaan. Bahkan sebagaian pembaca yang lain dengan berani mengatakan jika Gibran adalah guru cinta.

Namun, perlu dicatat bahwa Gibran mengurai cinta tidak pertama-tama untuk tujuan dan maksud pemenuhan relasi antar manusia, tetapi yang pertama dan utama adalah untuk pemenuhan relasi personalnya dengan Tuhan. Bagi Gibran karena Tuhan adalah Mahacinta maka cinta itu harus diberi-pancarkan kepada semesta. Dalam hidup dan kehidupannya, Gibran merindukan cinta itu, relasi yang tulus dan personal, seperti bangunan relasi antara dirinya dengan Tuhan yang diimaninya.

Hal ini terungkap jelas dalam tulisannya yang berjudul Cinta Keindahan Kesunyian, (Yogyakarta, Bentang Budaya, 1999, hal. 72-74) “Cinta membimbingku mendekati-Mu namun kemudian kegelisahan membawaku menjauhinya. Aku telah meninggalkan pembaringanku, cinta, karena takut pada hantu kelupaan yang bersembunyi di balik selimut kantuk. Bangun, bangun, cintaku, dan dengarkan aku. Aku mendengarkan-Mu, kekasihku! Aku mendengar panggilan-Mu dari dalam lautan dan merasakan kelembutan sayap-sayap-Mu. Aku telah menginggalkan pembaringanku dan berjalan di atas rerumputan. Embun malam membasahi kaki dan keliman pakaianku, di sini aku berdiri di bawah bunga-bunga pohon Almond, memperhatikan ruh-Mu.”

Jadi tidak heran jika sepanjang hidupnya, kendatipun Gibran bertelur-tutur tentang cinta, namun tidak seorang pun dari semua wanita yang dikenalnya dia nikahi. Terlepas dari alasan manusiawi tentang cinta, pacaran dan pernikahan, yang membuat Gibran memilih untuk menyindiri, lebih dari itu sesungguhnya ada kerinduan yang begitu besar dalam diri Gibran tentang cinta yang sesungguhnya. Aku melihat pilihan Gibran sebagai sebuah kekeliruan yang besar. Tetapi itulah Gibran, dia tidak hendak menodai kesempurnaan cinta hanya karena sebuah kecemasan bahwa dia tidak yakin cinta yang dibangunnya  bersama sang kekasih akan bertahan. (Catatan: Sebelumnya tentang ini sudah diposting di sini)

Kedua, memperhatikan sketsa dan lukisan-lukisan Gibran kita akan disuguhkan dengan objek-objek tentang tubuh telanjang. Bahkan menurutku, tubuh-tubuh telanjang adalah warna lukisan dan sketsa Kahlil Gibran. Melalui dan dalam lukisan-lukisannya kita dapat menafsirkan bahwa ada hasrat yang lebih yang sedang digapai Gibran. Ada kerinduaan yang terpendam akan kepolosan, ketulusan dan kesahajaan kehidupan. Melampaui dari sekedar tubuh yang telanjang, sebenarnya Gibran sudah sedang menampilkan tentang hakikat kehidupan itu sendiri.

“Karena hidup itu telanjang. Badan telanjang itu adalah lambang kehidupan yang paling sejati dan paling mulia. Kalau aku menggambar gunung berbentuk setumpuk badan manusia atau menulis air terjun berupa badan-badan manusia yang berjatuhan, maka itu tidak lain karena aku melihat gunung sebagai himpunan benda hidup, dan air terjun sebagai pemicu arus kehiduban” Demikian kata Gibran, ketika ditanyaMarry Haskell, mengapa Gibran suka melukis tubuh-tubuh telanjang. (Catatan: sebelumnya tulisan ini sudah diposting di sini)

Ketiga, membaca tulisan-tulisan Gibran selanjutnya memperhatikan lukisan dan sketsanya, aku menyimpulkan sekali lagi bahwa Gibran bukan hanya menjadikan hidup dan kehidupan sebagai pencarian tanpa henti, tetapi juga Gibran itu sendiri mewakili sebuah proses pencarian. Gibran adalah pendaman kerinduan itu sendiri, yang dalam dan melalui karya-karyanya sudah sedang mencari kesempurnaan keabadian. Dalam perspektif ini, sulit bagi siapapun untuk mendefiniskan siapa sesungguhnya Gibran. Gibran adalah konsep tentang pencarian, gagasan tentang perjumpaan-perjumpaan. Gibran adalah kata.

“Lihatlah diriku, sebuah kata yang maknanya samar-samar dan membingungkan; kadangkala tak bermakna; kadangkala bermakna banyak hal” Demikianlah Gibran mendefinisikan dirinya (dlm. Hari Kelahiranku, Martin L. Wolf (ed) Treasury of Kahlil Gibran(Risalah Karya Terbaik) Tarawang Press, Yogyakarta 2002, hal. 90). Ia menyebut dirinya sebagai kata. Mengapa Gibran harus mengidentikan dirinya sebagai kata? Tentunya tidak sebatas kata sebagaimana terbaca dalam kamus bahasa sebagai sebuah unsur bahasa terkecil yang merupakan perwujudan kesatuan pikiran dan perasaan. Tampaknya ada makna tersembunyi yang mau disampaikan Gibran melalui arti kata tersebut.

Dapat digambarkan bahwa kata yang dimaksudkan Gibran merupakan buah gagasan dan pikiran yang terbaca dalam tulisan-tulisannya, yang melaluinya meninggalkan ambiguitas penafsiran di kalangan pembaca dan komentator. Dalam dan melalui kata, Gibran mengungkapkan banyak hal, dengan banyak cara. Gibran dapat melantunkan kedukaan dengan riang, kegembiraan dengan air mata dan amarah dinyanyikannya. Di ujung penanya kata mencair, melebur berpadu-utuh dengan rasa dan nalar jadi sebuah bahasa ungkap yang hidup, segar, teduh, menyengat dan membakar jiwa.

’Lihatlah diriku, sebuah kata…’ seakan-akan menjadi ajakan untuk sebuah pemaknaan yang dibiarkan lepas-bebas untuk ditafsirkan. Lantaran itu tidak heran jika Gibran dalam artian tertentu dimaknai sebagai kata yang bermakna dalam banyak hal. Ada yang menyebut Gibran sebagai mistikus, penyair, sastrawan, filsuf, agamawan, pencinta damai, nabi bahkan ada yang menyebutnya sebagai manusia abadi. Penamaan dan sebutan itu merupakan kesimpulan yang masuk akal dari kata yang dituangkannya dalam tulisan-tulisannya. Tidak jarang pula melalui kata yang sama Gibran dipandang sebagai pemberontak, kafir, revolusioner dan pendurhaka. Gibran diidentikan dengan kata yang tidak bermakna, tidak memiliki arti bagi kehidupan, selain hadir tidak lebih sebagaiorang gila yang diabaikan.

Namun semua penamaan, sebutan dan pemaknaan atas kata tentang Gibran masih menyisahkan tanya mungkinkah seluruh sifat-sifat itu ada pada seorang manusia Gibran? Inilah Gibran yang hadir sebagai sebuahkata yang maknanya samar-samar dan membingungkan. Gibran dalam dan melalui dirinya yang sama merupkankata yang takterkatakan, samar-samar dan bahkan membingungkan. (Catatan: sebelumnya tulisan ini sudah diposting di sini)

Pada Senyummu Kusemai Rindu

Sepucuk surat melayang diterbangkan Merpati. Di tepi meja baca May Ziadah terbaca sepenggal kalimat “dahimu, Mariam, ya, dekatkan padaku. Ada sekuntum mawar putih dalam hatiku yang ingin kusemaikan di dekat dahimu. Betapa manisnya cinta bila mawar itu gemetar menahan malu …” May Ziadah bergetar membaca sepotong pinta cinta itu. Sepotong pengakuan dari Gibran Kahlil Gibran, sang penyendiri Lebanon yang dalam kata-katanya berpetualang menepi mencari cinta.

May Ziadah tidak lama larut dalam rasa. Sebentar pejamkan mata. Sastrawati yang cantik ini menggerakkan jari-jarinya, menggenggam pena dan menuliskan sebaris cinta “Saya tenggelam di bawah cakrawala nun jauh di sana, dan di sela awan-awan senja yang bentuknya nan mempesona, muncullah sekunar bintang. Bintang Johar, Dewi Cinta. Dalam hati aku bertanya, apakah bintang itu juga dihuni oleh insan seperti kita, yang saling mencintai dan mendendam rindu …?”

Pena May Ziadah terjatuh. Raganya bagai lunglai, ditimpa berulang oleh rindu. Kepada Merpati yang sama ia titipkan sepucuk surat balasan. Merpati pun membawa pesan rindu jauh menempuh jurang-jurang badai dan samudera, melewati malam-malam panjang, mengarungi hari-hari dalam bisu. Namun, di tangan Merpati yang tulus itu, rindu mereka bertemu.

Selalu seperti itu, antara Gibran Kahlil Gibran dan May Ziadah menjaga rindu, memupuk cinta. Keduanya tidak pernah sanggup untuk memiliki dan dimiliki. Cinta seperti hanya cukup untuk cinta. Cinta bagai tidak untuk dimiliki dan memiliki. Keduanya menjalin cinta hanya dalam surat-surat itu, dalam rindu itu, dalam mimpi-mimpi itu, dalam harap-harap itu. Sampai keduanya sama-sama jatuh sakit dan meninggal dunia, Gibran Kahlil Gibran tidak pernah melihat rupa wajah May Zaidah serupa apa. Demikian juga May Ziadah tidak pernah melihat serupa apa sosok lelaki pujaannya.

Jika aku membaca ‘Letter’s Love’-nya Kahlil Gibran terbersit dalam ingatku, dalam bayangku, dalam kenangku tentang sesungguhnya hakikat cinta. Bahwa cinta bukan untuk dimiliki dan memiliki. Cinta cukup untuk cinta. Sekalipun aku mencintai seseorang karena merindu pada senyumnya, pada ayunya, pada gemulainya, pada tuturnya, pada tingkahnya, sesungguhnya tentang cinta serupa itu adalah tulus.

Melampaui dari sekedar cinta sepasang kekasih, Kahlil Gibran dan May Ziadah dalam dan melalui surat-surat cinta mereka, telah mengajarkan kepadaku tentang hakikat cinta dalam kehidupan. Bahwa sekalipun aku tidak mengenal siapa pun, cinta harus aku berikan sebagai sebuah kewajiban.

Dimanakah cinta serupa itu diletak? Tidak harus kepada siapa dan dimana, tetapi dalam hati. Dalam diri kita sendiri. Namun bukan pula kita memendamnya sebagai senjata, yang secara berulang akan membunuh kita perlahan. Selalu harus kita berikan kepada siapa pun dan dimana pun dalam dan melalui buah-buah kasih dan sayang. Semakin kita mencintai dengan tulus, semakin kita memberi diri kita sendiri agar menjadi berguna bagi orang lain. Sekalipun aku, kau dan atau kita tidak saling memiliki. Semakin kita mencintai dengan sungguh, semakin kita ditawan oleh kebaikan-kebaikan, perhatian-perhatian dan kasih sayang dari orang lain.

Melampaui dari sekedar cinta sepasang kekasih, Kahlil Gibran dan May Ziadah dalam dan melalui surat-surat cinta mereka, telah mengajarkan kepadaku tentang hakikat cinta dalam kehidupan. Bahwa sekalipun aku tidak mengenal siapa pun, cinta harus aku berikan sebagai sebuah kewajiban. Aku harus selalu memberinya tanpa pamrih. Aku harus selalu memberinya dengan ikhlas sungguh. Agar antara kau dan aku, kita, hidup dalam cinta, sekalipun kita tidak akan pernah saling berjumpa dalam cinta seperti yang dimengerti kebanyakan orang sebagai kekasih.

Senyummu yang selalu kau tulis dalam rinduku, sudah cukup bagiku untuk mengerti tentang cinta yang sesungguhnya. Seperti Gibran dan Ziadah yang mencobai berulang memaknai itu dalam surat-surat mereka.

Tubuh-Tubuh Telanjang

“Karena hidup itu telanjang. Badan telanjang itu adalah lambang kehidupan yang paling sejati dan paling mulia. Kalau aku menggambar gunung berbentuk setumpuk badan manusia atau menulis air terjun berupa badan-badan manusia yang berjatuhan, maka itu tidak lain karena aku melihat gunung sebagai himpunan benda hidup, dan air terjun sebagai pemicu arus kehiduban”

Tiga tubuh telanjang dengan wajah tertunduk melepaskan cengkraman nasibnya. Mereka memasuki alam tanpa batas dengan telanjang. Pada momen yang lain, tampak lima tubuh telanjang menari riang dalam keasliannya, sedang jasad terkubur tenang di di bawah nisan.

Tubuh telanjang yang lain menampakkan keelokannya. Montok dadanya menantang rasa. Matanya dibiarkan setengah terpejam dengan bibir yang setengah merekah. Tangannya menyanggul rambut terurai, tampak jenjang lehernya yang memesona. Inilah Autum, musim gugur.

Tubuh-tubuh telanjang adalah warna lukisan dan sketsa Kahlil Gibran. Seperti hendak keluar dari kemapanan, Gibran melejitkan rasa yang sulit untuk dilukiskan dalam sepenggal kata. Kekaguman yang menghentak ruang rasa memberi warna bahwa lukisan Gibran tidak dapat ditafsirkan tanpa kehatian-hatian cara pandang. Antara mistis dan abstrak, antara moralitas dan filsafat melebur kental dalam lukisan dan sketsa-sketsanya.

Suatu ketika, Marry Haskell, wanita yang sangat mengagumi Gibran dan dengan diam-diam juga mencintainya, bertanya kepadanya mengapa harus selalu melukis dengan latar tubuh-tubuh telanjang.

“Karena hidup itu telanjang. Badan telanjang itu adalah lambang kehidupan yang paling sejati dan paling mulia. Kalau aku menggambar gunung berbentuk setumpuk badan manusia atau menulis air terjun berupa badan-badan manusia yang berjatuhan, maka itu tidak lain karena aku melihat gunung sebagai himpunan benda hidup, dan air terjun sebagai pemicu arus kehiduban”

Jawaban Gibran di atas menyiratkan beberapa hal. Pertama, lukisannya mengatakan tentang realitas kehidupan. Kedua, kehidupan itu adalah telanjang, polos dan suci. Ketiga, kesucian itu mengisyaratkan kedekatan manusia dengan sang Pencipta. Keempat, kehidupan itu harus dijaga dan dirawat. Kelima, segala sesuatu yang ada di muka bumi ini adalah makluk hidup, yang semuanya sedang berziarah menuju sang Pencipta.

Itulah kehidupan, melalui tubuh-tubuh telanjang kita dapat bercermin ‘muka’ bahwa kehidupan sesungguhnya adalah mulia. Mengapa kita harus berdusta?

Menutup tulisan kecil ini, saya mengutip sepenggal pernyataan dari Prof. Mudji Sutrisno “Dalam estetika tubuh dengan nakedness atau telanjang bugil, penonjolan erotika, perangsangan sensual birahi yang merangsang pemirsa ditampilkan vulgar. Maka karya seni dengan estetika nakedness dinilai rendah dengan alasan belum diendapkan oleh senimannya untuk ditampilkan dengan “hening reflektif”…sedangkan estetika tubuh nudity atau kepolosan telanjang sudah lewat pengendapan si seniman dan pengheningan nuansa reflektif sehingga tampil polos sama seperti bayi-bayi lahir telanjang polos dan kita semua pernah mempunyai foto-foto semasa bayi polos telanjang” (Mudji Sutrisno, “Estetika Tubuh”, artikel dalam Kompas, minggu 30 Oktober 2005, hal 27).

Keterangan: Sebagian besar lukisan gibran menjadi ilustrasi tulisannya, baik puisi, prosa mapun novel. Selengkapnya bisa melihat lukisan-lukisan Gibran ada di www.arab2.com atau www.kahlil.org. Tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di http://www.wikimu.com/news/displaynews.aspx?id=4077

Menjelang Hari Kelahiranku

Menjelang hari kelahiranku, tidak ada sesuatu yang lebih, selain aku memikirkan tentang diriku sebagai sesuatu kata. Definisi atau lebih tepat penggamabaran Gibran Kahlil Gibran tentang dirinya sendiri sebagai kata, sungguh sangat menyentuh dan menginspirasiku. “Lihatlah diriku, sebuah kata yang maknanya samar-samar dan membingungkan; kadangkala tak bermakna; kadangkala bermakna dalam banyak hal”

Yang hendak aku tegaskan dalam kalimat Gibran di atas bukan tentang bermakna atau tidak bermaknanya diriku di hadapan realitas penafsiran. Tetapi tentang kata itu sendiri. Tentang sesuatu yang bisa lahir dan mati, bisa berproses dan tumbuh, beranak pinak dan berkembang biak, bisa mengungkapkan dan meluapkan tentang apa saja, pun bisa diam dan mendiamkan apa saja.

Jika aku menyadari sungguh, aku adalah kata, bukan kata bermakna atau bermakna samar-samar dan atau tidak bermakna. Tetapi tentang kata yang bisa menumpahkan pikiran dan rasa.  Tentang kekayaan kata, dan bermartabatnya dia dalam proses menjadi diriku sendiri.

Bagiku, kata itu mengagumkan, sesuatu yang kadang bisa dilukiskan dengan mudah, tetapi kadang menyulitkan hingga aku harus mendiamkannya. Dalam dan melalui kata aku menemukan siapa sesungguhnya diriku sendiri. Bahwa sesungguhnya aku tidak lebih sebagai sesuatu kata.

Menjelang hari kelahiranku. Selalu setiap saat seperti hari-hari ini, aku selalu menjumpai diriku sendiri dalam kata yang sulit untuk dilukiskan. Setiap kata yang tertuang, dan tutur yang terlontar, selalu terasa hambar. Pada setiap doa dan dalam hening sembahyang, Tuhan yang dipuja aku titipkan kata sepi senyap, “Tuhan, jangan ganggu aku, biarkan aku sendiri tampa-Mu, sehari ini saja”

Sebab, aku mau memaknai makna keterlemparanku ke dalam dunia. Serupa apakah itu. Dan tentang itu aku tak sanggup mengucapkan kata, apalagi menuliskannya dengan rasa. Jika Gibran Kahlil Gibran menggambarkan dirinya sebagai sesuatu kata yang kadang bermakna samar-samar, dan atau kadangkala bermakna dalam banyak hal. Aku justru menggambarkan diriku sendiri sebagai  sebagai kata yang secara terus menerus menemukan pemaknaan. Dan bagiku hanya dalam keterlemparan ke dalam realitas aku menjadi bermakna.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: