Gara-Gara Seniman Jalanan Aku Lulus Kuliah
Ini kisah masa lalu, namun pantas untuk dibagikan, bukan lantaran penting atau perlu, tetapi karena sesuatu yang mungkin itu bisa saja terjadi kapan dan di mana pun. Karena sesuatu yang mungkin selalu dicemaskan sebagai yang tidak mungkin, maka sudah sejak aku mengalami bahwa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin, sudah sejak itu aku selalu optimis bahwa dalam setiap peristiwa perjumpaan tidak ada yang tidak mungkin, jika tentang sesuatu itu diseriusi, ditekuni dan disungguhi. Kisah yang nyaris tidak mungkin itu adalah sebagai berikut.
Ketika itu aku masih kuliah. Anak kos. Ke kampus naik Metro Mini, kadang bayar, kadang tidak, tergantung rezeki dan juga niat baik. Kalau ada uang biasanya rambutku kelihatan lebih rapih, karena ada gatsby mini yang baru kubeli. Tapi kalau gondrongku dibiarkan terurai, itu artinya aku sudah sedang dijauhi rezeki. Gatsby mini di kamar mengering dan melihat air untuk basuhkan diri pun aku benci. Haha…cukup sudah. Aku malu membuka kisah usang ini. Jangan membuka aib sendiri, sesekali boleh adalah prinsipku yang pertama.
Nah, suatu hari di atas Metro Mini jurusan Kali Deres – Senen yang penuh sesak dengan penumpang, aku dihimpit hingga nyaris terjatuh. Aku didorong si gondrong yang tiba-tiba masuk. Seniman jalanan sialan, umpatku. Tapi rupanya dia ciut melihat wajahku yang jauh lebih seram dari tampangnya. (Maklum pada ketika itu rezekinya lagi jauh) ”Maaf” hanya sepatah kata itu yang meluncur dari mulutnya. Aku mengangguk. Sesama orang seram, miskin dan linglung dilarang saling berantem. Itu prinsipku yang kedua. Haha…
Dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk bernyanyi apalagi membawakan puisi, si seniman jalanan masih juga unjuk gigi. Tentu saja masalah perut yang memaksanya untuk bernyali, sekalipun situasi tidak mungkin. Beberapa puisi sudah ia bacakan, beberapa lagu sudah ia nyanyikan, tapi belum juga ia berhenti. Apakah dia hanya bernyanyi dan membawakan puisi tanpa mengedar kantong kosong untuk diisi seperak dua perak dari penumpang? Tanyaku dalam hati.
Akhirnya dia berhenti juga, kemudian turun dan menghilang di antara padatnya kendaraan kota. Lima tahun di Jakarta, baru pertama aku melihat seniman jalanan tidak meminta jasa suaranya. Ini menarik. Terlepas dari situasi Metro Mini yang tidak memungkinkan untuk itu, tetapi sekurang-kurangnya beberapa orang yang persis di sampingnya, termasuk aku, biasa ia tawari kantong kosong. Siapa tahu dari antara kami ada yang berbaik hati, kecuali aku. Haha, Ya…aku tidak bisa memberinya serecehpun karena pada ketika itu receh itu perlu dan penting sebagai nyawa ekonomi anak-anak kos seperti aku. Aku pikir Tuhan pun tidak mencatat ini sebagai dosa. Toh…aku pun kekurangan. Jika aku memiliki dua receh ketika itu, bukan tidak mungkin aku akan memberinya satu. Ini prinsipku ketiga, jangan memaksakan diri untuk berbuat baik sebelum berbaik hati dengan diri sendiri.
Di terminal Senen, penumpang mulai turun satu-satu. Sebagai anak muda aku membiarkan perempuan, bapak-bapak dan anak-anak turun lebih dahulu. Ini prinsipku yang keempat, menghargai perempuan. Setelah semuanya turun, kini giliranku. Namun belum juga aku beranjak, mataku tertumbuk pada gulungan kertas yang tergeletak di samping kaki kananku. Rasa ingin tahu, penasaran memaksaku untuk memungutnya kemudian membawanya pergi, setelah menengok kiri kanan seperti maling. Di bawah lapak buku yang agak teduh, aku mencoba membuka gulungan kertas itu. Ternyata lembaran-lembaran itu adalah milik si seniman jalanan. Terdapat beberapa puisi dan syair-syair lagu lengkap dengan referensinya, siapa pengarang dan penyairnya.
Membaca catatan tersebut aku merasa sangat berdosa. Lantaran itu adalah harta milik terbesar milik seniman jalanan. Namun bagaimana aku mengembalikannya. Jakarta begitu luas dan padat. Di seberang entah, si seniman mungkin sedang mencarinya, dan aku pun melakukan hal yang sama. Suatu saat pasti kami bertemu lagi, dan aku janji akan mengembalikannya. Toh aku bukan maling, aku akan mengembalikannya. Ini prinsipku yang kelima, jangan mengambil barang milik orang lain, sebab selain akan dicatat Tuhan sebagai dosa, juga akan dihajar massa. Aku tidak mau masuk neraka setelah dikeroyok banyak kepalan dan tendangan.
Di antara catatan syair dan pusi seniman jalanan itu, ada sekuplet syair yang menginspirasiku, yakni sebaris kata dari Gibran Kahlil Gibran ”Lihatlah diriku, sebuah kata yang maknanya samar-samar dan membingungkan; kadangkala tak bermakna; kadangkala bermakna banyak hal”. Sekuplet syair yang ditulis sang seniman jalanan dengan tinta biru. Pada ketika itu, di Metro Mini, dia dia tidak sempat membaca syair itu. Apakah ini pertanda bahwa aku yang akan membacanya, sebab kami mirip, sama-sama gondrong, sama-sama jorok, sama-sama sengsara. Candaku sendiri. Ini prinsipku yang keenam, kalau bertemu dengan orang yang mirip baik karakter, sifat maupun wajah dan penampilan, tidak salah untuk ditertawakan, sebab tidak ada yang dipersalah-marahkan.
Setibanya di kampus, aku menyodorkan kartu perpustakaan mencoba meminjam buku-buku Gibran. Di antara dua buku yang ada dan yang dibaca aku temukan sekuplet syair yang dikutip seniman jalanan itu pada tulisan Gibran yang berjudul Hari Kelahiranku, Martin L. Wolf (ed) Treasury of Kahlil Gibran (Risalah Karya Terbaik) Tarawang Press, Yogyakarta 2002, hal. 90. Hmmm….sudah sejak itu minatku pada syair dan sajak Gibran seperti kembali terbit setelah sekian lama sepi. Sebab pertama kali aku berkenalan dengan Gibran di sekolah menengah pertama dalam dan melalui ’Sang Nabi’. Sudah sejak itu aku tidak lagi berjumpa dengan Gibran, sampai ketika seniman jalanan itu mengantarku dalam dan melalui sekuplet syair itu.
Aku lantas berpikir mengapa tidak aku menulis skripsi tentang Gibran Kahlil Gibran? Siapa tahu keajaiban akan tercipta jika aku kembali menekuni Gibran. Keajaiban itu salah satunya, adalah aku bisa lulus kuliah dengan nilai memuaskan, setelah sekian lama terkatung-katung bagai tidak menentu. Kucoretkan dua tema pada ketika itu, setelah melumat buku-buku Gibran yang kuperoleh dari mana entah, pertama adalah tentang filsafat keindahan, mencoba menjawab substansi filosofis dalam dan dari syair dan sajak Gibran. Kedua adalah tentang apa, siapa dan bagaimana Gibran memandang Tuhan. Lantaran aku adalah mahasiswa teologi, dan kampusku, STF Driyarkara mewajibkan itu, maka tema kedua yang dipilih.
Ternyata, tidak diduga disejutui pula oleh dosen pembimbing, Dr. Al Andang Binawan, SJ. Di bawah judul ”Gibran Kahlil Gibran tentang ’Yesus Putra Manusia, Gambaran Allah Yang Personal dan Terlibat’ skripsi tersebut jadi juga dalam waktu empat bulan. Dan dihadapan penguji, Dr. Al Andang, SJ dan Dr. Sunarko, OFM aku menjawabnya dengan begitu mudah. Dr. Sunarko, OFM, dengan nada bercanda bertanya sebelum keduanya memberi jawaban apa aku lulus atau tidak, ’Kamu yakin lulus?” aku menjawab ’Sangat yakin romo”. ”Ya kamu lulus, skripsimu A” sambung Dr. Al Andang, SJ.
Amazing…sulit dipercaya. Sesuatu yang awalnya adalah tidak mungkin akhirnya menjadi mungkin. Seniman jalanan dengan caranya sendiri, telah membuka ruang kemerdekaan kepadaku. Namun aku masih berutang budi kepadanya, karena sampai kini aku tidak berjumpa dengannya lagi. Perjumpaanku di Metro Mini pada ketika itu adalah perjumpaan yang pertama dan terakhir. Selanjutnya kami berjumpa dalam mimpi-mimpi. Namun satu yang membuatku yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin, sekali lagi, jika diseriusi, ditekuni dan disungguhi. Ini prinsipku ketujuh dan terpenting. Bahwa segala sesuatu itu mungkin jika yakin kalau yang mungkin itu baik. Baik bagi diri sendiri dan orang lain.















































