Tulisan yang ditandai ‘islam’

“Puki mak, koq jadi begini…”

Pengalamannya begini

Ketika masih di Aceh, dalam berbagai kesempatan, secara spontan saya kadang melatah “Astaqfirullahalazim”, dan atau “Masyallah”. Sebagian sahabat saya yang muslim, yang mendengar kadang melontar kata-kalimat “Ah gaya lo, pake istiqfar-istiqfar segala lo?”.  Saya merenung, dan mereka tersenyum. Sungguh, saya tidak sadar. Berdosakah saya? Salahkah saya? Tidak baik-kah saya? Kurang ajarkah saya? Tidak sopankah saya?

Menjawab sederetan pertanyaan reflektif itu saya termengong-mengong, namun lantas berkesimpulan (tentu saja sebuah kesimpulan sementara) bahwa ini bukan sekedar dan melulu latah, sebuah kata-kalimat lepas spontan, tetapi sebuah tanda yang mau dimakna sebagai entah.

Lalu begini

Merefleksikan kata-kalimat yang lepas latah dalam keseharian komunikasi-relasi serupa berikut ini: “Mama mia!”, “Astaqfirullahalazim”, “Masyallah”, “Oh, Ibu!”, ‘Jesus Christ”, “Oh my God!”, “Puki mak”, “Ampun Tuhan”, “Aduh!”, “Ole…”, dan atau “Ampun DJ”, “Oi…mama!”, “Oh, No!” dan seterusnya sungguh menarik minat saya. Minat itu membuncah lantaran dua hal, pertama saya pernah mengalaminya dan kedua, saya dan juga anda tidak pernah menyadarinya dengan tanya ‘mengapa?”

Padahal selalu, setiap kita, saya dan anda, sadar atau tidak, pernah melepas salah satu dari kata-kalimat tersebut di atas dalam perjumpaan-perjumpaan kita dengan yang ‘asing’. Bukan hanya ketika berhadapan dengan situasi atau peristiwa yang mengejutkan, tetapi juga orang atau subjek yang ‘tidak biasa’. Entah  yang ‘tidak biasa’ atau ‘asing’ itu hadir sebagai yang mengagumkan, mempesona dan atau (maupun) yang aneh dan ‘bejat’ sekalipun.

Namun, lantaran hanya sekedar sebagai ungkapan ke-terkejut-an/keter-perajat-an, saya dan juga anda lantas tidak menyuluk-masuk untuk mencoba mencerna-maknainya. Apa yang mau saya katakan bukan perihal sadar atau tidak ketika kata-kalimat latah itu dilepas-lontar. Bukan pula lantaran kata-kalimat latah itu dilepas-lontar baik atau buruk dalam ber-komunikasi (perihal ini bisa ditelisik lebih jauh, namun lebih merupakan sebagai dampak).

Yang hendak ditelisik dalam dan melalui catatan kecil ini adalah kata-kalimat latah itu sebagai symbol dan tanda (tanda dan symbol yang dimaksudkan di sini bukan symbol dan tanda linguistis). Simbol dan tanda kepribadian, sejauhmana seseorang sebagai pribadi otonom berproses dalam hidup dan kehidupan. Jika hendak diringkas, latahan di atas merupakan salah satu letupan dari puncak-puncak internalisasi diri seseorang di hadapan dan dalam lingkungannya.

Mungkin begini

Ada debat yang menghebat dan tampaknya tak pernah berujung perihal factor-faktor pembentuk kepribadian manusia, sebagian pakar (lebih-lebih para sosiolog dan psikolog) menyebut pribadi manusia ditentukan oleh warisan biologis, sebagian lagi menyebut lingkungan fisik, sebagian lagi menyebut kebudayaan, yang lain pengalaman kelompok dan lain lagi menyebut pengalaman unik. Dua yang paling hebat, dalam mendebat bahkan sampai memakan waktu berabad-abad adalah perihal proses pembentukan kepribadian manusia antara apakah dipengaruhi ‘bawaan’ (bilogis-genetikal) ataukah oleh ‘asuhan’ (lingkungan social).

Amatan dan pengalaman personal penulis, pun dalam perjumpaan-perjumpaan dengan orang-orang dengan peristiwa-peristiwa kehidupan mereka memberikan kurang lebih gambaran kesimpulan demikian: bahwa factor biologis-genetikal tidak berperan penting dalam pembentukan kepribadian manusia. Justru yang mendominasi proses perkembangan kepribadian dan karakteristik manusia sebagai pribadi adalah sosialisasi (penyesuaian diri) yang berulang dengan lingkungan.

Perihal itu, penulis sependapat dengan dua sosiolog Paul B. Horton dan Chester L. Hunt (1994) yang menyatakan seorang bayi lahir ke dunia ini sebagai suatu organism kecil yang egois yang penuh dengan segala macam kebutuhan fisik. Kemudian ia menjadi seorang manusia dengan seperangkat sikap dan nilai, kesukaan dan ketidaksukaan, tujuan serta maksud, pola relasi, dan konsep yang mendalam serta konsisten tentang dirinya. Semua orang memperoleh semua itu melalui suatu proses yang kita sebut sosialisasi, yakni sebuah proses belajar yang mengubahnya dari seekor ‘binatang’ menjadi pribadi dengan kepribadian manusiawi. Ringkasnya adalah sebuah proses dengan mana seseorang menghayati (mendarah-dagingkan) norma-norma kelompok di mana ia hidup sehingga timbul-lahirlah diri yang unik.

“Puki Mak, Koq Jadi Begini”

Lantas demikian, jika direfleksikan sungguh letupan-lepasan kata-kalimat latah semisal “Puki Mak” dan atau “Mama mia!”, “Astaqfirullahalazim”, “Masyallah”, “Oh, Ibu!”, ‘Jesus Christ”, “Oh my God!”, “Anjing, babi, bangsat”, “Ampun Tuhan”, “Aduh!”, “Ole…”, dan atau “Ampun DJ”, “Oi…mama!”, “Oh, No!” dan seterusnya merupakan buah-buah dari proses internalisasi diri seseorang dengan lingkungannya.

Semakin buruk dan bobroknya sebuah lingkungan social dan atau lingkungan keluarga (sebagai unit social terkecil), bukan tidak mungkin akan membentuk kepribadian yang buruk pula. Penulis menjumpai sebuah keluarga yang setiap harinya mendiamkan pertentangan dan konflik internalnya dengan caci maki dan umpatan-umpatan kasar. Seorang suami memaki istrinya, istrinya membalasnya. Kepada anak-anaknya, mereka diamkan dengan maki. Dan karena takut ketahuan, anak-anaknya membalas seperti berbisik dengan makian yang sama.

Sebaliknya dalam lingkungan social yang bersih, yang menjunjung tinggi norma-norma kesopanan, kesantunan dan nilai-nilai agama, menjadi hal yang lazim kita dengar latahan-latahan yang santun sekalipun dikejutkan oleh peristiwa ‘asing’ yang amoral. Penulis menjumpai dan bahkan suluk ke dalam lingkungan social yang demikian ketika untuk sementara menetap di Meulaboh Nanggroe Aceh Darusallam. Sampai-sampai, kadang dengan tanpa sadar penulis melatah “Astaqfirullahalazim”, “Masyallah”.

Latahan yang demikian bahkan terbawa sampai ke Flores yang mayoritas penduduknya beragama Katholik. Sesama saudara penulis yang katholik termengong-mengong ketika mendengar latahan itu. Hal itu bisa dimaklumi, lantaran bukan hanya karena tidak terbiasa mendengarnya, tetapi juga lebih karena tidak pernah larut dalam perjumpaan-perjumpaan sebagaimana yang penulis alami.

Di antara lingkungan social seperti yang dilukiskan di atas, terdapat lingkungan social dan budaya profan. Bias modernitas menawarkan persentuhan-persentuhan dengan norma-norma moral universal, yang di satu sisi bukan hal yang buruk, dan di sisi yang lain tidak bersinggungan langsung dengan Tuhan dan atau agama mana pun. Letupan latahan semisal “Aduh!”, “Ole…”, dan atau “Ampun DJ”, “Oi…mama!”, “Oh, No!” menurut hemat penulis adalah buah-buah dari persinggungan seseorang dengan lingkungan yang demikian.

Begitukah?

“Astaqfirullahalazim, eh maaf”. Penulis tidak berani menjawab apakah amatan-pengalaman-analisis penulis persis atau tidak, berdasar atau tidak pada pengalaman mayoritas orang. Namun yang pasti bahwa, apa pun kata-kalimat latahan sebenarnya merupakan bukan sekedar sebagai latahan semata, tetapi merupakan buah dari internalisasi-sosialiasi diri. Sekalipun kita dilahirkan dari seorang ulama besar atau mantan pendeta, tetapi jika dalam persentuhan dan perjumpaan kita larut dalam lingkungan yang buruk secara social, maka bukan tidak mungkin kita akan didewasakan di dalamnya. Sebaliknya sekalipun kita dilahirkan oleh seorang pelacur atau dari ibu tidak berayah, tetapi lantaran dibesarkan dalam lingkungan yang menjunjung tinggi norma kesantunan, kita akan didewasakan sebagai pribadi yang matang.

Berhadapan dengan semua penjelasan di atas, secara khsus berangkat dari sebuah kisah latahan yang sederhana, sebagai pribadi yang sudah sedang berkembang mematang-dewasakan diri adalah penting untuk selalu awas dan bijak dalam menempatkan diri, menjumpai relasi dengan persentuhan-persentuhan social, agar sesuatu yang sederhana yang disebut latah tidak asal me-latah.

Cantiknya Gadis Aceh (bag. 1)

Seperti apakah gadis Aceh? Yang saya bayangkan sebagai sebuah jawaban sementara adalah bahwa gadis Aceh tidak hanya tangguh di medan laga dan cerdas di ruang kelas/kuliah, tetapi juga anggun di ruang public dan cantik di ranah privat/keluarga.

Pertanyaan dan juga bayangan atas jawabannya sudah muncul ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar jauh di pelosok Flores Nusa Tenggara Timur. Guru sejarah yang merangkap segala bidang studi pada ketika itu menunjukkan kepada kami anak-anak kelas lima dua gambar pahlawan nasional perempuan dari Aceh: Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia.

“Perempuan Aceh itu cantik-cantik, santun dan anggun karena selalu pake jilbab ” demikian kata guruku ketika itu. Dia tersenyum. Kawan-kawan saya yang muslim spontan berteriak “Nah makanya pake jilbab, biar cantik”. Teriakan itu membuat belasan gadis kecil lugu tampak tersipu malu. Kami terkekeh. “Tapi kenapa di dua gambar itu, Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia tidak pake jilbab?” tanya seorang teman perempuan. “Oh, ini rupanya bukan foto aslinya, ini kan lukisan” jawab guru mengelak “Tapi biasanya perempuan Aceh itu pake jilbab” lanjutnya. Kami mengangguk.

Itu kisah kecil masa lalu. Dan lantaran kisah itu dan dua wajah perempuan itu, entah mengapa membuat saya bangga dan kagum pada perempuan Aceh. Bagaimana tidak, terlukis dari wajah-wajah mereka, tidak hanya secara fisik terpendar aura kecantikan alami, tetapi juga ketangguhan dan kekokohan.

Yang membuat saya lebih kagum adalah bahwa keesokan harinya, setelah melihat dua gambar itu, belasan teman kelas saya yang kemudian mengenakan jilbab. Wajah mereka imut-imut, lucu-lucu membuat guru sejarah kami tersenyum dan guru agama geleng-geleng kepala.

Sebagai murid yang beragama katolik, bersama dua teman yang lain, kami bangga pada teman-teman sekolah dasar kami yang yang mayoritas muslim. Dua gambar, dan satu teriakan ternyata cukup ampuh menyadarkan sekaligus menegaskan tentang siapa sesungguhnya mereka.

Sekalipun itu pantulan sementara yang melahirkan motivasi yang mungkin belum sempurna, namun sesungguhnya itu modal penting untuk perubahan yang lebih besar. Gadis-gadis kecil yang lugu dari pelosok Flores Nusa Tenggara Timur telah menahbiskan diri. Mereka telah menunjukkan diri bahwa ‘kami juga mau seperti Cut Nyak Dhien, seperti Cut Meutia. Kami juga mau cantik dan tangguh seperti mereka, apalagi kami seagama, seiman dan sekeyaninan’

Bagian kedua di SINI

Kisah Kecil Masa Kecil

Penulis bersama para santri di Pasantren Babul Mukarammah Beutung Ateuh dalam kegiatan pendidikan integratif, pendidikan perdamaian

Saya mengawali catatan kecil ini dengan sebuah kesimpulan dan selanjutnya adalah rekomendasi kemudian baru akan mengisahkan pengalaman masa kecil saya.

Kesimpulan: Miskinnya pemahaman dan pengetahuan kita tentang agama lain membentuk asumsi dan pemahaman yang keliru tentang agama lain tersebut. Kita membuat pembenaran-pembenaran atas nama agama di atas asumsi-asumsi tanpa memandang resiko-resiko. Pengklaiman kebenaran atas dan dalam satu agama oleh penganutnya mencerminkan bahwa penguasaan wawasan dan pengetahuan atas agama lain tergolong minim. Minimnya pemahaman dan pengetahuan kita tentang agama lain tidak hanya membentuk dalam diri kita sikap dan semangat fanatisme tetapi juga dalam praksisnya mengambil jarak atas agama yang lain. Kita enggan untuk membangun tegur sapa, sinis, dan bahkan curiga dan membangun prasangka buruk.

Rekomendasi: Saya melihat bahwa munculnya pertikaian atas nama agama dan kepercayaan adalah juga merupakan buah dari minimnya pengetahuan kita tentang agama lain. Lantaran itulah pendidikan tolerasi, di samping pendidikan agama (sendiri yang pertama dan utama) menjadi penting. Pendidikan agama menjadi tiang utama penguatan iman dan ketaqwaan masing-masing pemeluk terhadap ajaran imannya. Sedangkan pendidikan toleransi memampukan peserta didik untuk memperluas wawasan dan menambah pengetahuan tentang keberadaan agama lain.

Kisah Masa Kecil: Saya dilahirkan di pesisir Flores Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Romba, Maunori Nageko, dari keluarga penganut agama katolik yang taat. Ketika Sekolah Dasar, saya belajar di sebuah Sekolah Dasar Katolik. Namun demikian murid katolik bisa dihitung dengan jari, karena mayoritasnya adalah murid yang beragama Islam. Ketika sampai kelas enam, murid beragama katolik hanya tiga orang termasuk saya, selebihnya yang berjumlah puluhan adalah yang beragama Islam.

Setiap hari kami berdoa mengawali dan menutup pelajaran sekolah dengan berdoa secara berganti-gantian. Jika pada pagi hari kami yang beragama Katolik mengawali dengan doa ‘Bapa Kami’ maka pada akhir mata pelajaran murid-murid yang beragama Islam melafalkan ayat-ayat pendek dari Al-Quran. Lantaran kebiasaan ini, murid beragama Islam sampai hafal betul barisan kalimat dalam doa ‘Bapa Kami’, ‘Salam Maria’ dan ‘Aku Percaya’ dan bahkan tangan kanan mereka enteng membuat tanda salib pada dahi, dada dan hati. Sebuah gerakan lincah yang santun. Demikian pun sebaliknya, kami dengan mudah menghafal dan melafalkan ayat-ayat pendek dari Al-Quran. Suara-suara kecil kami melambung tinggi, memberi warna beragam, bagai paduan suara.

Jika tidak ada guru agama (dari salah satu agama yang masuk mengajarkan mata pelajaran agama) kami diajarkan tentang toleransi dengan praktek mengunjungi Kapela (gedung gereja kecil di lingkungan yang kecil) dan atau Masjid untuk sekedar memperkenalkan ‘kesakralan’ masing-masing agama supaya dihargai dan dihormati. Saya mengenal kiblat, sajadah, imam, ustadz, kubah, mukena, magrib, takbir, sunat, haram, halal, istri nabi, dan putri kesayangan Nabi Muhammad Siti Fatimah Azzhara, dan seterusnya sudah sejak itu. Demikian pula sebaliknya, murid-murid yang beragama Islam tahu betul tentang Getsemani, kalvari, gua Maria, Yesus, Natal, Paskah, rasul, santo, santa dan seterusnya sudah sejak itu pula.

Pada hari raya masing-masing agama, baik Natal maupun Lebaran kami bersama-sama turut ambil bagian dengan membersihkan Kapela dan atau Masjid. Dalam perayaan-perayaan besar, kami langsungkan bersama, saya pernah menabuh rabana sambil melantunkan lagu-lagu Islam. Demikian juga murid-murid yang beragama Islam, mereka memasuki Kapela, duduk di bangku terdepan menyanyikan lagu-lagu dari Madah Bakti.

Demikian indahnya masa kecil itu, sampai suatu ketika, persis ketika saya mengajar para santri di Pasantren Babul Mukarammah Beutung Ateuh Nagan Raya Nanggroe Aceh Darusallam saya meneteskan air mata, melihat anak-anak yang serupa saya ketika saya masih enam atau tujuh tahun. Ketika itu kami begitu lugu dan polos, tetapi lingkungan, sekolah dan keluarga tidak pernah melarang bergaul dengan siapa pun. Tidak sepatah kata pun dan apalagi niat untuk memaksakan kehendak. Kami tidak saling menggangu.

Itulah satu-satunya harta terindah yang kami miliki sebagai investasi kebersamaan di tengah keberagaman. Kami tidak punya apa-apa selain itu. Kampung kami belum punya nyala listrik ketika itu. Masih tenang di bawah terang pelita. Belum ada signal handphone apalagi kendaraan bermotor. Tidak ada hasil bumi yang dibanggakan selain laut yang banyak ikan. Tetapi dalam keterbatasan-keterbatasan itu kami tumbuh damai dan sejahtera. Hingga kini, sampai ketika kampungku sudah berubah, harta terindah itu masih tetap terjaga sebagai yang paling indah. Kami tidak akan pernah menggadaikan itu dengan kepentingan-kepentingan.

Oh indahnya…hidup dalam perbedaan. Islam itu indah, dia juga benar di mata Allah dan dunia. Demikian juga Kristiani, dia juga indah, dan benar di mata Allah dan dunia. Mari kita saling memahami dan menghargai, walau dalam iman dan keyakinan ‘kau’ dan ‘aku’ tidak harus bersatu.

Catatan: Tulisan ini sebelumnya sudah diposting di sini

Azzahra (1)

Sudah sejak ia menjadi muslimah, hari-hari hidunya kian bergairah. Perpustakaan kampus tidak lagi menjadi ruang samadi. Taman kampus tak lagi menjadi tempat pelepasan gundah. Dewi dan Dinda, dua sahabatnya, tak lagi menjadi pelimpah beban. Kamarnya pun tidak lagi menjadi penjara.

Alam pun menjadi sahabat setia dimana segala kebahagiaan dibagikan. Ketika langit cerah, menggelantung penuh bintang, walau bulan redup, ia tetap setia memandang. Dari balik jendela tak jenuh ia menengadah melepaskan niat-niat. Ia meyakini sungguh alam dan Tuhan mengetahui segala rasa dan hasratnya.

Sepanjang hampir dua bulan itu, wajahnya kian cerah. Senyumnya kian menawan. Jelitanya menjadi kian tampak. Perubahan itu menjadikannya sebagai wanita terindah dan penuh bahagia. Keindahan dan kebahagiaan yang lahir dari jiwa yang ikhlas. Jiwa yang senantiasa mensyukuri nikmat Allah dalam dan untuk segala kehidupannya.

Demikianlah Sarah, kian hari hidupnya kian mekar bagai bunga. Ia tumbuh dan berkembang menjadi muslimah yang kian hari kian kaya dalam pengetahuan dan iman. Ia tekun beribadah, rajin menghafal dan melafalkan aya-ayat suci Al-Quran, pun pula tidak mengeluh melaksanakan amal kasih.

Pada pergaulan ia semakin diterima, baik di kampus maupun dalam lingkungan sosial masyarakat Malabiah. Ia tidak hanya dikenal sebagai pribadi yang cerdas, tetapi juga penyayang, ramah dan murah senyum. Pribadi yang solehah. Ia dikagumi setiap laki-laki, dicintai, tetapi juga disegani karena keramahan dan penampilannya yang santun.

Semuanya benar-benar berubah. Siapa pun bagai tak lagi mengenal sosok Sarah Ling. Bahkan, bukan hanya dirinya sendiri yang hampir melupakan nama itu. Nama Tionghoa yang diberikan orang tuanya 17 tahun silam. Tetapi juga, semua sahabat dan kenalannya. Semuanya bagai pergikan masa lalu itu.

“Azzahara”

Itulah nama yang dipilihnya ketika menjadi seorang muslimah. Dan sudah sejak itu pula ia dipanggil Zahra. Sebuah nama, yang oleh Ustazd Zainudin, guru agamanya, meramalkan akan menempatkannya sebagai salah satu ‘anggota keluarga’ kesayangan Nabi  Muhammad

“Aku ingin menjadi bagian dari keluarga Nabi. Menjadi seperti Siti Fatimah Azzahara, putri bungsu kesayangan Rasulallah s.a.w.” Tekad Sarah atas plihan namanya itu.

Demikian kisah mula-mula Sarah memilih mengganti namanya menjadi Azzhara. Nama itu tidak hanya memberikannya motivasi untuk menjadi pribadi yang tampil menawan dan jelita secara fisik, yang dalam pergaulannya selalu hadir bagai bunga yang mekar semerbak (az-zahara).

Tetapi juga menjadi pribadi yang selalu memancarkan pula kesetiaan dan ketaqwaan kepada Allah. Pribadi yang khusuk dan setia beribadah serta tekun menjalankan nilai-nilai islami. Ia hendak menjadi pribadi yang tulus berbagai kasih, pun pula sederhana serta tetap sabar dan tegar walau diterpa aneka badai masalah yang sudah dan mungkin bakal terjadi.

“Aku mau menjadi seperti Siti Fatimah Azzahra yang telah mengorbankan seluruh hayatnya untuk kepentingan Islam dan Ummatnya, baik dalam suka maupun dalam duka”

“Tidak hanya itu. Siti Fatimah digelari Al-Batuul, yaitu yang memusatkan perhatiannya pada ibadah atau tiada bandingnya dalam hal keutamaan, ilmu, akhlaq, adab, hasab dan nasab…Aku mau belajar menjadi seperti itu” Berulang Zahra memanjatkan niatnya itu. Pada setiap saat dan kapan saja.

Hanya Tuhan dan Alam Yang Tahu (20)

Tepat pukul 10 pagi, sehari sebelum 1 Syahwal 1431 Hijriyah, Sarah mengikrarkan syahadatnya, disaksikan Azam dan dua sahabatnya Dinda dan Dewi, serta keluarga besar pasantren Al Hidayah, Habib Ridzki, Umi Umayah, Nurillah, para pengasuh yang lain dan beberapa orang santri.

Di hadapan ustazd Zainudin dengan wajah tenang dan hati yang rela, Sarah menyatukan dirinya dalam agama Allah lewat dua kalimat syahadat.

Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh

Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah

wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh

dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah Rasul/utusan Allah

“Allahuakbar…” kata Sarah dalam hati. Beberapa menit setelah acara itu usai. Masjid Al Hidayah menjadi tempat terindah baginya di pagi hari itu. Pasantren keluarga Azam itu menjadi saksi bisu keajaibannya, yang disaksikan puluhan pasang mata penuh bahagia.

Tampak, wajah Dinda dan Dewi berkaca-kaca, melepas senyum haru. Keterkejutan dan ketakyakinan mereka terbasuh ketika itu. Habib Ridzki, Umi Umayah dan Nurillah turut berbahagia. Ustaz Zainudin, guru agama yang selama ramadhan mengajarkannya tentang islam kepadanya, tampak pula berbahagia.

Sementara Azam terpekur tunduk, larut dalam rasa yang masih terbelenggu ragu. Antara sesal, malu dan tak percaya melebur jadi satu.

“Sarah, aku turut berbahagia atas kebahagiaan yang kau alami. Semoga Allah senantiasa memberimu hidayah. Dan hari ini aku menjadi yakin, jika keyakinanmu itu adalah karena Ridho-nya dan bukan karena aku” Kata Azam dalam hatinya.

Di atas sajadah cinta dan totalitas penyerahan diri yang tulus kepada Allah, Sarah tak lelah memanjatkan terima kasihnya. Ia yakin dan percaya bahwa Allah-lah yang telah membukakan pintu baginya.

“Azam, segalanya telah berubah”  kata hati Sarah ketika pandangannya membentur wajah Azam. Azam mencoba untuk menatapnya lekat, tapi Sarah segera mengalihkan perhatiannya kepada sahabat dan rekannya yang lain, yang sedang mengucapkan salam. Tak kuasa Azam menahan malu dan haru. Ia pun berlalu, dengan wajah lesu, kemudian menghilang di balik pintu.

“Azam maafkah aku…ini bukan salahku. Aku dapat merasakan kelembutan dan kebaikan di matamu. Aku tahu semuanya adalah karenamu. Tapi tidak untuk hari ini dan hari-hari setelah hari ini. Karena sejatinya Allah adalah kekasihku”
Padangan Sarah mengantar kepergian Azam. Hendak ia mengejar untuk mengatakan semuanya, agar segala rasa itu tuntas tertumpah. Tapi hendak itu mengurungnya. Azam telah menghilang dan dia pun sudah dilingkari salam bahagia kawan dan sahabatnya.

Sarah pun larut dalam kebahagiaan dan kegembiraan itu, hingga hari meninggi, dan ketika ia harus kembali ke kamarnya yang sepi. Namun dari hati kecilnya yang paling dalam, Sarah masih menyimpan janji.

“Azam, aku akan mengatakan tentang semuanya. Mengapa aku menjadi berubah. Namun, perlu kau tahu, semuanya bukan karena aku membencimu. Tetapi justru, karena kau telah membuka mata hatiku dan mempertemukanku dengan kekasihku yang sungguh. Yaitu Allah saw”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: