Raja Salomo, Pemimpin Pancasila-is (Renungan Sekenanya)
Kebijaksanaan Salomo tandas ditikam kata-kata cinta, godaan dan rayuan perempuan. Ia dicumbu tujuh ratus istri dari kaum bangsawan dan digerayangi tiga ratus gundik peliharaan. Di hadapan 1000 orang istrinya, Salomo adalah tambang harta karun bagi perempuan-perempuan itu, walau sebagian yang lain tetap menganggapnya sebagai ayah dari anak-anak, dan hamba Allah yang setia.
Tidak hanya itu, Salomo pun direnggut kesetiaannya dari Allah untuk berpaling kepada dewa-dewa palsu. Hikmat dan kebijaksanaanya bagai melayang lantaran dipaksa tunduk menyembah Asytoret dewi orang Sidon, Milkom dewa orang Amon, Kamos dewa orang Moab dan Molokh dewa bani Amon.
Lalu kita bertanya, adakah raja dan penguasa yang sebelumnya dan atau selanjutnya lebih sempurna dari seorang Salomo. Adakah raja dan penguasa yang lebih sempurna darinya jika membaca sil-silah sudah sejak Abraham sampai kepadanya, atau daripadanya sampai pembuangan ke Babel. Jawabannya tentu saja tidak, lantaran tak ada kesempurnaan terpatri dalam kehidupan selain hanya ada pada Allah.
Namun demikian, bagiku Salomo adalah raja dan penguasa yang pantas untuk diteladani. Sepanjang empat puluh tahun kekuasaannya, sebelum digantikan putranya Rehabeam, dia adalah raja yang menjalankan kekuasaan dengan hikmat dan kebijaksanaan. Tak setitik darah pun yang tercurah dari tangannya. Sebaliknya karena kebijaksanannya segenap rakyat yang menghuni sepanjang Efrat sampai Filistin bahkan sampai ke tapal batas Mesir tunduk kepadanya.
Sampai-ampai, karena hikmat dan kebijaksanaannya, Ratu negeri Syeba pun datang melayangkan pujian “Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu, tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan itu sampai aku datang dan melihatnya dengan dengan mataku sendiri; sungguh setengahnyapun belum dibertahukan kepadaku. Dalam hal hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar. Berbahagialah para istrimu, berbahagialah para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu!…”
Demikianlah Salomo, kepada Allah ia hanya meminta kata, memohon hikmat. “Berilah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara-perkara antara yang baik dan yang jahat…” hanya itu. Titik. Salomo tidak meminta umur yang panjang, kekayaan dan harta benda apalagi nyawa musuh-musuhnya.
Kata hikmat dan kebijaksanaan dibuktikan Salomo dalam kesaksian-kesaksian. Ketika Salomo membangun Bait Allah dan Istana kerajaan, tidak seorang pun dari rakyatnya yang menolak. Karena hikmat dan kebijaksanaanya sanggup memberikan kesejateraan kepada rakyatnya. Tidak seorang pun dari penduduk Israel yang dijadikan budak dan rodi. Sebaliknya rakyatnya diberikan lapangan pekerjaan. Ada yang menjadi prajurit, pegawai, perwira dan sebagian lainnya menjadi pembesar dan panglima.
Karena Salomo menjalankan kekuasaannya dengan berdasarkan pada “Ketuhanan yang maha esa”, menjunjung tinggi “Kemanusiaa yang adil dan beradab”, dan mengutamakan “Persatuan seluruh Israel” serta “dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan” maka yang tercipta adalah “Keadilan social bagi seluruh rakyat Israel”.
Adakah itu sebatas kata? Adakah itu sebatas janji belaka? Adakah itu sebatas undang-undang dasar? Tidak. Salomo melakukannya dalam keseharian kekuasaannya. Salomo, sekalipun pernah jatuh dalam salah, beristri seribu orang yang sebagian besar tidak setia kepadanya, dan tunduk menyembah sebentar kepada dewa-dewi pemikat, tetapi dia tetap dipuja dan dicacat sebagai pemimpin yang patut untuk dibanggakan. Dia dipuja karena hikmatnya, dan dipuji karena kebijaksanaannya. Dia berbuat dan tidak sebatas kata.


Menjelang pukul lima sore, Sabtu 5 November 2011, secarik karcis seharga lima ribu rupiah muncul dari balik jendela kaca buram. Aku mengambilnya segera, sambil tidak menghiraukan senyum laki-laki setengah perempuan di balik meja jaga itu. Di belakangku mengekor seorang perempuan muda tiga puluhan ber-rok jeans mini dengan lilitan sal abu-abu di lehernya. Sesekali perempuan berlipstik bening itu melepas batuk kecil. Aku membalas senyumnya setelah Ia melepas senyum manja.











































