Tulisan yang ditandai ‘gila’

Tentang Gila, Orang Gila dan Kegilaan

Sulit bagiku untuk mendefinisikan apa sesungguhnya yang dimaksud dengan kata ‘gila’, apalagi ketika ‘gila’ yang dimaksud adalah orang. Orang gila. Dalam Wikipeda Indonesia disebutkan gila (Inggris: insanity atau madness), adalah istilah umum tentang gangguan jiwa yang parah. Secara historis, konsep ini telah digunakan dalam berbagai cara. Di lingkungan dunia medis lebih sering digunakan istilah gangguan jiwa.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa gila atau ke-gila-an sebagai hilangnya suatu pikiran dikarenakan penyebabnya oleh stres atau ada masalah pribadi yg dialami oleh seseorang yang tidak waras tersebut. (Hal ini) Yang mengakibatkan pikiran yang tidak terkendali dan akhirnya menjadi berpikiran tidak waras, berperilaku aneh (tak wajar layaknya manusia biasa). (http://id.wikipedia.org/wiki/Gila).

Namun bagiku, definisi di atas tidak terlalu memuaskan. Bukan karena tidak komprehensif lantaran terlalu umum, tetapi lebih karena pengalaman perjumpaanku dengan sesuatu yang disebut gila pada orang-orang yang disebut ‘gila’. Dalam perjumpaanku dengan mereka, aku akhirnya menjadi sangsi dengan semua definisi tentang itu. Pernah aku berjumpa dengan seorang lelaki. Dia orang normal, cerdas dan selalu berdandan rapi. Tetapi dalam diskusi dia selalu membanggakan dirinya sebagai orang paling gila. “Gila gak gue, dalam waktu sekejap gue raup lima belas juta” katanya. Pada kesempatan lain, “Gila gak gue, gini-gini gue pernah tidur di kuburan”.

Orang gila yang lain. Di jantung kota Pontianak pada pertengahan 2006, aku berjumpa dengan seorang gadis, yang juga (kebetulan kata orang di sekitarnya) menyebutnya sebagai orang gila. Kepada siapa pun dan dengan siapa pun dia selalu tersenyum. Senyumnya ramah, sungguh menawan, barisan gigi putihnya tampak elok dipandang. Siapa pun yang berpapasan dengan gadis peranakan Dayak ini, sudah pasti akan sangat sulit menolak membalas senyumannya. Siapa pun pasti nyeletuk ‘wah cewek cantik senyum ama ague”, tetapi setelah mengetahui kalau yang tersnyum kepadamu adalah orang gila, maka celetukanmu akan berubah dengan sidikit mengenyit dahi “wah, kenapa orang cantik begini bisa gila?”

Namun, dari sekian banyak orang gila yang kujumpai, ada dua ‘orang gila’ yang menurutku paling berkesan. Pertama, aku bertemu dengan seorang lelaki lima puluhan tahun yang biasa dipanggil Lud. Tubuhnku kurus, kulitnya hitam. Penampakan wajahnya lusuh, demikian juga dandanannya. Lantaran itu, warga gang Penggalang Matraman Jakarta Timur, menyebutnya sebagai orang ‘gila’. Namun, aku menjadi sangsi dengan sebutan itu, lantaran perilaku dan karakter Lud yang justru lebih waras dan sadar dari manusia yang disebut normal. Setiap hari, tanpa alpa, dia membersihkan taman dan menyiram bunga di sepanjang gang Penggalang. Tanaman yang mati digantinya dengan yang baru. Dia tidak membiarkan sehari pun bunga-bunga itu kerontang.

Dalam artian mana dia disebut sebagai orang gila? Jika disebut sebagai orang gila, mengapa Lud menjadi lebih peduli pada lingkungan dan kehidupan. Lud lebih sadar untuk terlibat dan melibatkan diri pada keindahan. Pantaskah kita menyebut manusia yang peduli pada lingkungan sekitar kita sebut sebagai orang gila hanya karena ‘mungkin’ wajahnya lusuh dan dandanannya yang menjijikkan?

Kedua, aku bertemu dengan seorang lelaki berusia tiga puluhan tahun. Mus, demikian dia biasa dipanggil, di lingkungan Beutong Ateuh Nagan raya Nanggore Aceh Darusallam. Pria kelahiran Leuksemawe ini terdampar di Beutong Ateuh lantaran diserahkan orang tuanya agar dapat menjadi santri pada Pasantren Babul Mukarammah. Tujuannya cuma satu, agar dengan menenangkan diri dan selalu dekat dengan Allah, Mus bisa sembuh dari gangguan jiwa.

Bagiku, Mus bukan orang gila, tetapi orang unik dank has hanya saja berlagak gila. Suatu ketika dalam keadaan terpasung, dia memanggilku mendekat. Dalam jarak sekian senti meter, dia membisikkan sesuatu di telinga yang mebuatku terperanjat. “Mengapa saya dipasung, padahal saya tidak gila, yang gila adalah jiwa saya”. Aku mundur beberapa langkah, lalu mengamatinya dengan saksama. Dalam hati menyembul-nyembul aneka tanya. Apakah aku tidak salah dengar? Mengapa dia mengatakan dirinya tidak gila? Apakah benar bukan dirinya yang dipasung? Apakah ada orang gila yang sesadar seperti Mus? Jangan-jangan hantu?

Lebih mengejutkan, pada akhir April 2010, ketika aku kembali ke Beutoh Ateuh, aku tidak menemukan Mus lagi. Di sana hanya ditemukan sepatu sebelah kiri yang dipasung. Aku menjadi penasaran, siapa gerangan yang memasung sepatu tersebut. Aku pun mencobai menjumpai Mus. Di sebuah kedai kopi desa Blang Puuk, aku menemukannya sedang makan. Melihatku dia tersenuym “saya bosan hidup, maka saya makan” demikian katanya.

Aku pun tertawa geli. Jika memang hendak mati, mengapa harus makan. Sulit bagiku untuk menyebut Mus sebagai orang gila, sebab mungkin saja Mus punya argumentasi tersendiri yang sulit untuk dibantahkan. “Mus, koq Cuma tinggal sepatunya di di Tanjungan?” Tanyaku ingin tahu. “Oh, memang bukan saya yang gila, tetapi sepatu itu, maka saya pasung dia”. Jelas Mus dengan mata berbinar-binar.

Sepatu? Sepatu yang gila? Mengapa Mus mengatakan kalau sepatu itu gila? Apakah aku sedang berhadapan dengan orang gila, atau sebenarnya aku sendiri yang gila? Mengapa orang yang disebut gila, selalu menjadi lebih kretaif dalam menjawab setiap pertanyaan dalam lalu lintas kehidupan ini, ketimbang manusia normal? Sampai-sampai aku sendiri terpekur berpikir, tentang gila, orang gila atau kegilaan adalah sesuatu yang cerdas, yang melampaui sesuatu yang dianggap atau disebut normal. Mungkin saja tentang gila, orang gila, atau kegialaan, adalah sesuatu yang lebih maju beberapa langkah di hadapan semua yang normal.

Tentang gila, orang gila atau kegialaan adalah bukan tidak waras. Bukan pula tidak normal apalagi didefinisikan sebagai bukan manusia. Mereka orang gila, atau sesuatu yang disebut sebagai sesuatu yang gila atau kegialaan adalah sesuatu atau sebuah ranah yang mau tidak mau harus kita masuki, jejaki dan salami kedalaman. Aku bahkan dengan ‘nakal’ berpikiran seperti itu. Semoga aku tidak sedang gila. Jika ‘ya’, maka aku bersykur, karena aku sudah memasuki wilayah itu dengan sadar.

Sesuatu Antara Anjing dan Wilfried Ebitstein

Dalam sejarah filsafat barat Sokrates (470-399 SM) merupakan filsuf yang berpengaruh. Ajarannya yang terkenal adalah tentang pengenalan akan eudaimonia atau akan ‘yang baik’ yang bisa didefinisikan sebagai kebahagiaan. Dan ini merupakan sebuah keutamaan. Meskipun Sokrates tidak mendirikan sekolah dan menciptakan mazhab, dalam perkembangan filsafat Yunani selanjutnya muncul dua kelompok yang mengaku mengikuti ajarannya. Dua kelompok tersebut adalah mazhab hedonis yang terkenal dengan ajaran hedonisme-nya, dan mazhab sinis yang terkenal dengan sinisme-nya. Hedonisme dengan tokohnya yang terkenal Aristippos (435-355 SM) menyetujui pendapat Sokrates bahwa keutamaan adalah mencari ‘yang baik’ atau kebahagiaan dengan kesenangan (hedone). Maksudnya kesenangan badani dan bukan saja kesenangan rohani. Jadi anjuran untuk hidup ‘yang baik’ berkaitan erat dengan suatu kerangka pengertian rasional tentang kenikmatan baik secara emosional maupun badaniah. Sementara itu, Sinisme beranggapan bahwa manusia memiliki keutamaan bila rela melepaskan diri dari kesenangan duniawi. Diogenes dari Sinope (412-323 SM) misalnya rela hidup di dalam gentong (kolong jembatan) untuk menunjukkan sikap radikalnya melawan kenikmatan dan kehormatan. Simbol filsafat Diogenes adalah seekor anjing, yang dalam bahasa Yunani disebut Kyon. Dari kata ‘kyon’ kemudian di-Inggriskan menjadi cynic (sinis) atau cynicism (sinisme). Jadi secara etimologi (berdasarkan asal usul katanya) anjing sama dengan sinis sama dengan kyon. Menurut Diogenes anjing sangat tepat untuk dijadikan simbol filsafatnya, karena sangat dekat dengan hidup masyarakat sebagai hewan peliharaan. Kendati demikian keberadaan anjing bisa saja ‘menggonggong’ bahkan ‘menggigit’ siapapun. Hal yang sama dimaksudkan untuk sinismenya yang kadang tidak hanya menegur atau mengoreksi realitas, tapi bahkan lebih dari itu membongkar sebuah kemapanan.

Buat apa belajar filsafat? Pada zaman Yunani antik, filsafat lahir secara sederhana dan vulgar sebagai anjing yang selalu menggonggong dan menggigit penindasan yang didasarkan pada irasionalitas. Jika hari ini, di depan wajah para pecinta filsafat, penindasan yang irasional hadir dengan gegap-gempita, apakah masih layak filsafat hanya dipelajari demi gaya hidup, keren-isasi, pelepasan dari perut lapar dan pencapaian harga diri?. Demikian cuplikan profile grup ’Anjing Gila’ pada halaman facebook.

Lebih lanjut admin grup ’Anjing Gila’ meminta: ”Oleh karena itu, silakan tulis permenungan filosofis saudara-saudara” Aku tersintak. Bukankah sudah kau tanya untuk apa aku belajar filsafat? Ketersintakan itu justru tidak membuatku lari, aku mencoba mengacung janji. Bahwa filsafat itu penting walau engkau bertanya sinis lantas hadir serupa binatang yang bernama anjing yang tidak hanya sekedar melolong di malam hari, tetapi juga menampik dan bila perlu menggigit, mencabik-cabik dan meremuk segala tulang.

”Anjing”

Dalam sejarah filsafat barat Sokrates (470-399 SM) merupakan filsuf yang berpengaruh. Ajarannya yang terkenal adalah tentang pengenalan akan eudaimonia atau akan ‘yang baik’ yang bisa didefinisikan sebagai kebahagiaan. Dan ini merupakan sebuah keutamaan.

Meskipun Sokrates tidak mendirikan sekolah dan menciptakan mazhab, dalam perkembangan filsafat Yunani selanjutnya muncul dua kelompok yang mengaku mengikuti ajarannya. Dua kelompok tersebut adalah mazhab hedonis yang terkenal dengan ajaran hedonisme-nya, dan mazhab sinis yang terkenal dengan sinisme-nya.

Hedonisme dengan tokohnya yang terkenal Aristippos (435-355 SM) menyetujui pendapat Sokrates bahwa keutamaan adalah mencari ‘yang baik’ atau kebahagiaan dengan kesenangan (hedone). Maksudnya kesenangan badani dan bukan saja kesenangan rohani. Jadi anjuran untuk hidup ‘yang baik’ berkaitan erat dengan suatu kerangka pengertian rasional tentang kenikmatan baik secara emosional maupun badaniah.

Sementara itu, Sinisme beranggapan bahwa manusia memiliki keutamaan bila rela melepaskan diri dari kesenangan duniawi. Diogenes dari Sinope (412-323 SM) misalnya rela hidup di dalam gentong (kolong jembatan) untuk menunjukkan sikap radikalnya melawan kenikmatan dan kehormatan. Simbol filsafat Diogenes adalah seekor anjing, yang dalam bahasa Yunani disebut Kyon. Dari kata ‘kyon’ kemudian di-Inggriskan menjadi cynic (sinis) atau cynicism (sinisme). Jadi secara etimologi (berdasarkan asal usul katanya) anjing sama dengan sinis sama dengan kyon.

Menurut Diogenes anjing sangat tepat untuk dijadikan simbol filsafatnya, karena sangat dekat dengan hidup masyarakat sebagai hewan peliharaan. Kendati demikian keberadaan anjing bisa saja ‘menggonggong’ bahkan ‘menggigit’ siapapun. Hal yang sama dimaksudkan untuk sinismenya yang kadang tidak hanya menegur atau mengoreksi realitas, tapi bahkan lebih dari itu membongkar sebuah kemapanan.

’Bukan Anjing Mati’

Mulanya adalah ’Bukan Anjing Mati” sebuah grup pada halaman Facebook yang digagas oleh beberapa alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, mereka adalah: Aleks Aur, Rangga Utumo, Albert Lasar, Paskalis Bataona, dan saya sendiri. Visi yang digariskan adalah memang sebuah sinisme. Namun tidak seradikal ’Si Anjing’ Diogenes.

Sinisme yang diperjuangkan ’Bukan Anjing Mati’ adalah penyeletukan atas realitas. Peristiwa-peristiwa keseharian yang tercecer dalam realitas, mulai dari jalanan, naik bus, berdesak-desakan. Masuk ke kedai, warung dan pasar: minum kopi, makan bakso, merokok dan mengopi. Terus menelusuri jalan hingga rumah dan kamar: jalanan, pengemis, trotoar, bantal, cinta, anak dan sejarah. Menyinggung Ke isu politik, seperti kekuasaan, negara, korupsi. Pula, mencerna ruang paling sakral: sembahyang, doa, iman, keyakinan sambil membongkar-bongkar teks kitab suci. Sampai akhirnya suluk dalam ruang tersembunyi ’tabu’ yakni seksualitas, kelamin dan selangkangan.

’Bukan Anjing Mati’ adalah sebuah upaya penjernihan atas peristiwa keseharian yang direfleksikan secara benderang dalam kaca mata filsafat. Filsafat mencoba memberi makna dengan menafsirkan dan mengintepretasi setiap kejadian dan peristiwa keseharian untuk kemudian ditempatkan sebagai sesuatu yang bermartabat. Apa pun peristiwa keseharian itu, filsafat mencoba menelisik memberi isi, bahwa sesungguhnya ’kebiasa-biasaan’ yang sering dan bahkan selalu manusia alami: lihat, dengar, rasa, sejatinya bermartabat.

Dalam perspektif ”Bukan Anjing Mati” martabat setiap peristiwa keseharian adalah bahwa semuanya memiliki nilai dan maknanya tersendiri, entah untuk peristiwa keseharian itu sendiri, maupun untuk manusia sebagai individu, makhluk sosial dan pun lingkungan semesta dan sesuatu yang melampauinya.

Lantaran itu jika dimintai merefleksikan keseharian, ”Bukan Anjing Mati’ menjadi lebih cenderung percaya bahwa esensi selalu mendahului eksistensi. Keberadaan yang terpenggal-penggal dalam peristiwa keseharian dimaknai, dijernihkan dan diberi tempat pada tempat yang sebenarnya berdasarkan makna dan nilai yang terkandung di dalamnya.

’Anjing Gila’

Namun, selanjutnya muncul ”Anjing Gila”. Seorang kawan yang bernama Wilfried Ebitstein, yang mendefinisikan kembali ’Bukan Anjing Mati” menjadi bukan hanya sekedar galak, tetapi kegalakannya menjadi hilang ingatan. Gila. Hemat saya, Wilfried Ebitstein, tidak hanya berupaya untuk mengembalikan esensi yang sesungguhnya dari Anjing kepada tuannya Diogenes, tetapi memberi ’suplemen’ kegilaan, yang menurut Ebitstein diseut seagai ’ontis’.

Sebelum menelusuri maksud Wilfried Ebitstein sang pembabtis ’Anjing Gila” terlebih dahulu saya mengutip sepenggal dari Gunawan Muhamad (GM), (Tempo-Online, tertanggal 07 Juni 2004) Dalam catatannya yang berjudul ’Si Anjing’ GM menulis demikian:

”Ia (Diogenes adalah) seorang penampik yang radikal. Ia memilih untuk tak punya apa pun. Ambisinya yang terbesar adalah untuk tak punya ambisi. Anak bankir dari wilayah Ionia ini (si ayah diketahui memalsukan uang dan diharuskan meninggalkan Sinop) akhirnya jadi seorang yang hidup seperti pertapa. Ditolaknya kekayaan dan tak diharapkannya penghargaan orang lain. Yang pokok, baginya, adalah auterkeia, “swasembada”.

GM melanjutkan ”Setiap hari ia berjubah kasar, bertongkat, dan membawa kantong. Ia hidup dari derma sedapatnya. Bila ia minta makanan kepada seseorang, ia selalu bertanya adakah orang itu telah memberikan sesuatu kepada orang lain; bila belum, ia akan meminta agar dirinya janganlah jadi penerima terakhir. Kenikmatan hidup dijauhinya dengan ekstrem: ia akan bergulung di pasir yang terik di musim panas dan memeluk patung yang tertutupi salju di musim dingin. Terkadang ia tinggal di sebuah bilik kecil yang disediakan salah seorang temannya, atau, bila itu tak ada, ia akan tidur di pendopo Kuil Zeus di Athena atau di dalam pithos, bak besar di Metroum, kuil ibu dewa-dewa”

Jelas, dalam konteks inilah Wilfried Ebitsteiin menempatkan maksud dari ’Anjing Gila”. Namun demikian, kesan saya pribadi, Ebistein rupa-rupanya mencoba untuk melampaui Diogenes. ’Anjing Gila’ tidak hanya mencoba untuk menampik secara radikal, tetapi juga terus menggonggong dan menggigit bila perlu. Menggigit dengan tanpa ampun. Mencabik-cabik, mengoyak-ngoyak hingga meremukkan tulang-tulangnya.

Setelah ”Anjing Gila”, Lalu Apa? Pertanyaan ini menarik untuk dijawab. Dan ini, lagi-lagi, adalah kesan saya pribadi, bahwa Wilfried Ebitstein telah merasuki, elokya memberi suplemen ’Anjing’ Diogenes dengan makanan Marxisme. Ebitstein, rupa-rupanya, sudah sedang memanggul palu perubahan nan radikal. Gagasan-gagsannya tidak sekedar sinis, tetapi juga mengumpat dan memaki. Ia tidak hanya menggonggong, tetapi juga mencabik-cabik tubuh sosial manusia.

Di tangan Ebitstein ’Anjing’ Diogenes ditafsirkan secara baru: ’Roh Kudus’ diturunkannya menjadi api dan jiwa revolusi, demikian pula ’Sang Kristus” dipandangnya sebagai kaum proletar yang tidak harus tinggal diam dan diinjak, tetapi harus berani menyerukan dan bertindak revolusioner. Sementara kebangkitan Tuhan dapat dikatakan sebagai kemenangan kaum ’anjing gila’.

Saya mengutip beberapa kalimat yang dilontarkan Wilfried Ebitstein pada halaman status ’Anjing Gila”.

Suaatu ketika Ebistein menulis, menyarakan peringatan: ”Anjing jangan kehilangan gongongannya”. Inilah sifat ’Anjing’ dalam filsafat. Diharuskan untuk selalu terjaga dan berjaga.

Pada status yang lain, Ebitstein menyoal terorisme. Terorisme tidak dipandangnya hanya sekedar peledakan dan penyerangan yang serampangan. Tetapi juga manyoal ideologi Terorisme. Dalam keseharian sifat pemaksaan kehendak baik dalam mimbar oorasi politis sampai pada altar kotbah ditafsirkannya sebagai tabiat teroris. Perhatikan status ini:

”Beberapa teroris dilaporkan tertembak. Teroris sering dikenal sebagai kaum fundamentalis pengusung ideologi2 picik yg tidak segan-segan meledakkan diri di depan orang lain. Tetapi terorisme bukan hanya dalam bentuk seperti itu. Yang seperti itu menjalar terbiarkan karena yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari diiyakan. Terorisme su muncul dalam bentuk pemaksaan2 kehendak untuk mengikuti suatu ideologi yg tidak terbuka untuk dikritik atau dibantah. Bentuk-bentuk itu spt: pemaksaan untuk demo, pemaksaan suatu mata kuliah, pemaksaan moralitas dalam kotbah-kotbah, dll.”

Pada ketika yang lain, Ebistein menyentil secara retoris dengan meminjam kalimat Ampuh Soekarno: ”Adakah Lenin ketika dia mendirikan negara Soviet Rusia merdeka telah mempunyai Dnepprprostoff, dan yang maha besar di sungai Dneppr? Apa ia telah mempunyai radio station yang menyundul ke angkasa? Apa ia telah mempunyai kereta-kereta api cukup untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang Rusia pada waktu Lenin mendirikan Soviet-Rusia merdeka telah dapat membaca dan menulis? Tidak, Tuan-tuan yang terhormat! [Bung Karno - Pidato BPUPKI 1 Juni 1945] Selamat ulang tahun untuk Antonio Vivaldi”

Selanjutnya Ebistein mendarat lagi, tapi terus menggonggong. Gonggonggannya keras pedas. Dengan lantang Ia menyebutkan, meminjam istilah Ananta Toer, ketidakpedulian sosial sebagai pelacur dan tindakan yang membiarkan keburukan dan kemunafikan merajalela sebagai pelacuran:

”Saya kemarin turun ke jalan bersama nona dan 10 teman Al Mubarok. Yang mengherankan adalah orang-orang cerdik pandai macam profesor doktor di STF atau para penerima beasiswa filsafat itu tidak buat apa-apa. Padahal, yang hilang adalah uang sebesar 6,7 trilyun. Kami yang pergi ini adalah orang-orang yang bodoh dengan otak yang berisi cacing dan sampah mungkin, dengan perut yang hanya mampu diisi nasi jelek sehari satu kali saja. Tetapi kami peduli dan kami cuma bisa teriak saja. Ah, buat orang-orang cerdik pandai itu, ini saya kasih pesan: “Mendapat upah karena menyenangkan orang lain yang tidak punya persangkutan dengan kata hati sendiri, kan itu dalam seni namanya pelacuran?” ”Pramoedya Ananta Toer – Anak Semua Bangsa)”

Sebetulnya, Ebitstein memang ’Gila’. Dan karena kegilaannya dia terus menggonggong. Yang menjadi pembeda adalah bahwa ia ’Gila’ dengan sadar. Perhatikan statusnya yang satu ini:

Apa gunannya anda belajar filsafat ketika mata anda tertutp menyaksikan penindasan yang sedng menimpa bangsa ini, apakah anda mau disebut sebagai bangsa barbar, apakah anda mau disebut sebagai anjing yang kehilangan gonggongannyan, dan macan yang kehilangan taringnya. tentu anda tidak mau kan. tapi mengapa anda tidak melangkah kendatipun ada resiko bahwa langkah anda akan dihentikan dengan panser dan senapan anjing-anjing penjaga gerbang DPR. tentu anda menolakkan, maka lakukanlah”

Tidak disebutkan secara jelas apa siapa yang dimaksudkan dengan kata ’Kamu’ di sini. Tetapi yang jelas bahwa kepada yang peduli, yang mau berpihak, yang juga yang tinggal diam dan berpura-pura tidak peduli dimintakan untuk menggonggong. Selamat Menggonggong.

Orgasme Sang Pelacur Tuhan

 

slide15“Aku dilahirkan sebagai seorang anak perempuan katolik pada 28 Oktober 1938, pukul empat lewat tujuh menit sore, di kota kecil Belanda bernama Tilburg. Kelahiranku merupakan pengalaman pertama bagi mamaku dan adalah pengalamannya paling buruk. Kehadiranku ke dunia adalah pengalaman dosa asal pertamaku, artinya aku terlalu jahat untuk dikecup sampai setelah pembabtisan”

Demikian tutur seorang pelacur membuka pengakuan ‘dosanya’ dalam God’s Callgirl (yang di-Indonesiakan menjadi Sang Pelacur Tuhan oleh Voila Books: 2004). Selanjutnya, sepanjang lima ratusan halaman tulisannya akan dijumpai runtutan peristiwa nyata yang menarik tapi mengharukan.

Dialah  anak seorang tentara yang tegap-tampan dan seorang ibu yang selalu mengeluh berat badan bertambah. Ketika masa kanak-kanak, Carla tumbuh dengan ceria. Ia juga lucu. Namun suatu ketika dalam usianya yang masih kanak-kanak pula, Carla kecil terjebak dalam nafsu bejat sang ayah, orang yang paling dipujanya. Keperawanan telah diambil dari ketidaktahuan masa kanak-kanaknya. Lantaran itu, Carla tumbuh dalam dusta, karena peristiwa hitam itu dibungkamnya.

Rasa tidak dapat dipendam, apalagi jika setiap detik meronta-bergejolak. Pada usia 12 tahun Carla hijrah ke Australia membawa serta derita yang sudah menjadi ‘cacat pusaka’.  Di usia 18 tahun, Carla mencoba mencari celah untuk keluar biar derita sedikit tertumpah. Ia masuk biara dan menjadi seorang biarawati. Dari balik jubahnya yang santun, setiap saat ia mengadu kepada Tuhan. Namun, Tuhan bagai tiada, jiwanya pun terus bergejolak. Rentangan 22 tahun dalam biara bagai mendekam dalam sangkar yang sempit. Akhirnya Carla pun memilih untuk ‘bebas’. Ia meninggalkan kehidupan membiaranya, ketika itu usianya menginjak 31 tahun.

Namun bagai menegakkan benang basah, kebebasan yang diraihnya roboh seketika. Bahtera rumah tangga yang dibangunnya bersama si tukang listrik James akhirnya kandas juga. Yang tersisa hanya selapis derita di wajah kehidupan Caroline putri mereka yang masih belia. Sudah sejak itu selapis demi selapis duka menumpuk, meninggi. Carla tak dapat mengelak, rasa itu pun akhirnya meledak juga di Stella Exchort Agency, sebuah rumah bordil berkedok agen pelayanan jasa.

Di sana, di Exchort, Carla menjadi perempuan yang berbeda. Ia menjadi bebas bukan hanya untuk dirinya sendiri yang bebas, tetapi juga demi kebebasan itu sendiri. Tidak ragu-ragu ia bertelentang telanjang di atas ranjang walau dengan dada yang berdebar-debar. Carla akhirnya menjadi terbiasa untuk pulas di balik dekapan setiap lelaki hidung belang. Jiwanya yang resah tak lagi bergejolak. Walau mungkin nyeri itu tetap ada. Tetapi kebebasan yang yang didapatnya adalah kebebasan. Sebuah anugerah Tuhan yang paling nikmat. Carla pun menyadari kalau dirinya adalah seorang ‘Pelacur Tuhan’ yang disebutnya sebagai esensi dari ekspresi kesungguhan hidup dan kehidupan.

“Pelacur ‘Tuhan’ berbahagia” tuturnya lebih lanjut “Dengan para klienku apa yang sering kali tak tercapai dalam sebuah pernikahan: sebuah kehidupan di mana esensiku yang paling dalam menemukan ekspresi. Aku adalah dewi yang diberkati yang mengambil madu dari ‘Tuhan’-nya dalam bentuk banyak pria” (hal. 446)

Demikanlah kisah nyata seorang Carla van Raay, sang Pelacur ‘Tuhan’. Kebebasan yang diperolehnya telah sanggup menghapus luka lama, termasuk kebejatan sang ayah yang pernah mencipratkan setitik noda di wajah kehidupannya. Kebejatan itu dimaafkannya dengan tulus, dan Carla pun menganggapnya sebagai berkah yang tak terkira. Kebejatan itu dibasuh dengan kata-kata maafnya yang santun di akhir pengakuannya.

“…Kau kini mati, dan itu tak mengapa.Tak mengapa kau mencintai sebaik yang kau ketahui dan tak bisa memenuhi harapanku. Tak apa-apa. Kini kau adalah malaikat istimewaku, aku haturkan terima kasihku padamu, papa tercinta” (hal. 585)

Air mata jatuh membasahi halaman terakhir pengakuannya yang mengharukan. Tidak hanya kejujuran yang telah terungkap, tetapi lebih dari itu Carla telah mempertaruhkan keberaniannya. Kejujuran dan keberaniannya telah membawa pergi Carla dalam kehidupan yang berbeda, kehidupan yang dipilihnya dengan bebas, menjadi sang Pelacur ‘Tuhan’.

Namun buat kita, rupa-rupanya kita tidak dapat mengukur kejujuran dan keberanian Carla hanya dengan membaca secara tuntas pengakuannya yang tertuang dalam God’s Callgirl-nya. Belajar dari Carla dalam menutur kisah, kita belajar menyembul fakta dengan jujur, terbuka dan berani. Mungkin pengalaman kita lebih kelam dan dahsyat. Di hadapan keengganan kita untuk menyingkap selubung ketakutan, God’s Callgirl menitip pesan buat kita.

“Jangan membuang setiap kisah ke kotak masa lalu. Bangunkan pena, telentangkan kertas, tuangkan rasamu dengan jujur dan berani. Setiap kata yang kau tulis mungkin akan terasa nyeri, mendebarkan atau bahkan membuahkan air mata. Tapi jika di ujung penamu kau lecutkan sebuah tulus, sudah mungkin kisah yang kau tutur akan mengejutkan. Hanya kekaguman yang terlontar dari benak pembacamu ‘kejujuran itu menakutkan’ sebagaimana sang ‘Pelacur Tuhan’ telah membuktikannya…orgasme”

Di Balik Gila

madman-cover21“Kembali ke kamarmu” aku tertarik dengan untaian kata itu. Kata-kata yang tidak keluar dari mulut seorang waras, tetapi dari seorang ‘gila’ yang bernama Lud setelah aku memberikannya selembar uang seribu. Mengapa Lud menyuruhku kembali ke kamar, sementara aku hendak menuju kantor di Mardani Raya.

Aku diamkan ‘kegilaannya’ tetapi pengalaman perjumpaan itu begitu menyengat rasa. Langkah kakiku berbalik arah menuju kamar. Antara bingung dan tetap bertanya berjatuhanlah titik-titik renungan.

“Kembali ke kamarmu” tangan saya bergetar ketika hendak membuka gagang pintu. Kubuka perlahan, terdengar engsel karatan berderak. Seekor tikus kecil meloncak terperanjat ke balik meja baca. Asbak rokok jatuh menghantam wajah lantai. Berantakan. Puntung-puntung rokok mengenai buku yang berserakan seperti berlomba mau membaca kata.

Asap mengepul. Aku menghembuskan asap rokok berulang kali sebelum kutarik kursi berkaki roda. “Aku sudah di kamar” kataku dalam hati menjawab permintaan Lud. Asap meliuk memanjat dinding kamar. Kubiarkan hempasan angin mengganggu ariku. Semetara mataku menyapu bersih segala seluk beluk kamar. “Mengapa aku harus kembali ke kamar” tanyaku ingin tahu.

“Ya inilah kamarku”

Di belakangku buku-buku menumpuk seperti sampah. Serakkan kertas buram penuh coretan tindih-menindih sampai sebagian yang lain tertidur di atas kasur kusam. Meniduri tidurku. Merebut mimpi-mimpiku.

Di sisi sebelah kiri pakaian-pakaian kotor meringis minta dicuci. Mereka tergeletak mungkin sudah enam hari yang lalu. Penderitaan mereka penuh misteri terlukis seperti wajah pieta yang tertempel di dinding kamar. Air mata jatuh dari wajah bunda, mengenai luka lambung putranya yang setengah sembuh. Aku membiarkan pakaian-pakaian itu jadi kuburan luka, derita dan air mata.

Di sisi sebelah kanan targantung potret wajahku sendiri dengan sebaris puisi disampingnya. “Tuhan…datanglah..tindih dan setubuhilah aku…hingga lendir zakar-Mu membuahi rahimku. Sebab aku mau menjadi ibu untuk anak-anak-Mu” demikian bunyi puisiku itu. Di bawah lantai, persis dibawah potret itu serpihan-serpihan kaca bertumpuk. Wajahku pecah terpenggal-penggal seluas bidang keing-keping cermin.

Di depanku di atas meja berderet-deret botol air mineral yang habis isinya. Sebuah gelas kaca dengan ampas kopi berminggu-minggu mengendap. Jamur putih yang mungkin mengandung racun pekat menggerogoti wajah gelas itu. Dadaku jadi bergetar, lambung dan paru-paruku jangan-jangan serupa itu.

Di bawah kaki meja bacaku, tampak debu-debu saling memeluk. Empat kaki kursiku ingin menendang kumal dan dekil-dekil debu itu. Tetapi pelukan itu sudah sangat menyatu. Di sisi yang lain puntung-puntung rokok tampak seru mengadu. Berlomba-lomba menggerus isi buku. Yang sepuntung berdiskusi dengan Johan Galtung tentang studi perdamaian. Yang sepuntung lagi berdebat tentang jiwa-jiwa pemberontak-nya Kahlil Gibran. Yang lain membedah tesis mengabdi pada kebenarannya Sudarminta. Sementara yang satunya lagi membaca kitab suci. Belum menyebut yang lain, mereka berseteru dengan waktu mengemut elok cerita Ananta Toer dan menyusu sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri.

Mataku penat. Aku terpejam. Kucium bau menyengat. Kudengar suara memecah. Tubuhku berontak. Jangan-jangan aku sudah benar-benar menjadi orang gila. “Kembali ke kamarmu” suara Lud seperti sabda, aku terperanjat. Tetapi rupa-rupanya juga tidak. “The Madmen” kata itu tiba-tiba berkelebat masuk merasuk ke dalam benak. Itu suara Kahlil Gibran “Kegilaan adalah langkah pertama ke arah sifat yang tanpa pamrih. Jadilah gila dan katakan kepada kami apa yang tersembunyi di balik tirai kenormalan. Tujuan dari kehidupan adalah untuk menuntun kita mendekati rahasia-rahasia itu dan kegialaan adalah satu-satunya cara untuk memahami rahasia-rahasia itu”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: