Tulisan yang ditandai ‘filsafat’

Gara-Gara Seniman Jalanan Aku Lulus Kuliah

Ini kisah masa lalu, namun pantas untuk dibagikan, bukan lantaran penting atau perlu, tetapi karena sesuatu yang mungkin itu bisa saja terjadi kapan dan di mana pun. Karena sesuatu yang mungkin selalu dicemaskan sebagai yang tidak mungkin, maka sudah sejak aku mengalami bahwa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin, sudah sejak itu aku selalu optimis bahwa dalam setiap peristiwa perjumpaan tidak ada yang tidak mungkin, jika tentang sesuatu itu diseriusi, ditekuni dan disungguhi. Kisah yang nyaris tidak mungkin itu adalah sebagai berikut.

Ketika itu aku masih kuliah. Anak kos. Ke kampus naik Metro Mini, kadang bayar, kadang tidak, tergantung rezeki dan juga niat baik. Kalau ada uang biasanya rambutku kelihatan lebih rapih, karena ada gatsby mini yang baru kubeli. Tapi kalau gondrongku dibiarkan terurai, itu artinya aku sudah sedang dijauhi rezeki. Gatsby mini di kamar mengering dan melihat air untuk basuhkan diri pun aku benci. Haha…cukup sudah. Aku malu membuka kisah usang ini. Jangan membuka aib sendiri, sesekali boleh adalah prinsipku yang pertama.

Nah, suatu hari di atas Metro Mini jurusan Kali Deres – Senen yang penuh sesak dengan penumpang, aku dihimpit hingga nyaris terjatuh. Aku didorong si gondrong yang tiba-tiba masuk. Seniman jalanan sialan, umpatku. Tapi rupanya dia ciut melihat wajahku yang jauh lebih seram dari tampangnya. (Maklum pada ketika itu rezekinya lagi jauh) ”Maaf” hanya sepatah kata itu yang meluncur dari mulutnya. Aku mengangguk. Sesama orang seram, miskin dan linglung dilarang saling berantem. Itu prinsipku yang kedua. Haha…

Dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk bernyanyi apalagi membawakan puisi, si seniman jalanan masih juga unjuk gigi. Tentu saja masalah perut yang memaksanya untuk bernyali, sekalipun situasi tidak mungkin. Beberapa puisi sudah ia bacakan, beberapa lagu sudah ia nyanyikan, tapi belum juga ia berhenti. Apakah dia hanya bernyanyi dan membawakan puisi tanpa mengedar kantong kosong untuk diisi seperak dua perak dari penumpang? Tanyaku dalam hati.

Akhirnya dia berhenti juga, kemudian turun dan menghilang di antara padatnya kendaraan kota. Lima tahun di Jakarta, baru pertama aku melihat seniman jalanan tidak meminta jasa suaranya. Ini menarik. Terlepas dari situasi Metro Mini yang tidak memungkinkan untuk itu, tetapi sekurang-kurangnya beberapa orang yang persis di sampingnya, termasuk aku, biasa ia tawari kantong kosong. Siapa tahu dari antara kami ada yang berbaik hati, kecuali aku. Haha, Ya…aku tidak bisa memberinya serecehpun karena pada ketika itu receh itu perlu dan penting sebagai nyawa ekonomi anak-anak kos seperti aku. Aku pikir Tuhan pun tidak mencatat ini sebagai dosa. Toh…aku pun kekurangan. Jika aku memiliki dua receh ketika itu, bukan tidak mungkin aku akan memberinya satu. Ini prinsipku ketiga, jangan memaksakan diri untuk berbuat baik sebelum berbaik hati dengan diri sendiri.

Di terminal Senen, penumpang mulai turun satu-satu. Sebagai anak muda aku membiarkan perempuan, bapak-bapak dan anak-anak turun lebih dahulu. Ini prinsipku yang keempat, menghargai perempuan. Setelah semuanya turun, kini giliranku. Namun belum juga aku beranjak, mataku tertumbuk pada gulungan kertas yang tergeletak di samping kaki kananku. Rasa ingin tahu, penasaran memaksaku untuk memungutnya kemudian membawanya pergi, setelah menengok kiri kanan seperti maling. Di bawah lapak buku yang agak teduh, aku mencoba membuka gulungan kertas itu. Ternyata lembaran-lembaran itu adalah milik si seniman jalanan. Terdapat beberapa puisi dan syair-syair lagu lengkap dengan referensinya, siapa pengarang dan penyairnya.

Membaca catatan tersebut aku merasa sangat berdosa. Lantaran itu adalah harta milik terbesar milik seniman jalanan. Namun bagaimana aku mengembalikannya. Jakarta begitu luas dan padat. Di seberang entah, si seniman mungkin sedang mencarinya, dan aku pun melakukan hal yang sama. Suatu saat pasti kami bertemu lagi, dan aku janji akan mengembalikannya. Toh aku bukan maling, aku akan mengembalikannya. Ini prinsipku yang kelima, jangan mengambil barang milik orang lain, sebab selain akan dicatat Tuhan sebagai dosa, juga akan dihajar massa. Aku tidak mau masuk neraka setelah dikeroyok banyak kepalan dan tendangan.

Di antara catatan syair dan pusi seniman jalanan itu, ada sekuplet syair yang menginspirasiku, yakni sebaris kata dari Gibran Kahlil Gibran ”Lihatlah diriku, sebuah kata yang maknanya samar-samar dan membingungkan; kadangkala tak bermakna; kadangkala bermakna banyak hal”. Sekuplet syair yang ditulis sang seniman jalanan dengan tinta biru. Pada ketika itu, di Metro Mini, dia dia tidak sempat membaca syair itu. Apakah ini pertanda bahwa aku yang akan membacanya, sebab kami mirip, sama-sama gondrong, sama-sama jorok, sama-sama sengsara. Candaku sendiri. Ini prinsipku yang keenam, kalau bertemu dengan orang yang mirip baik karakter, sifat maupun wajah dan penampilan, tidak salah untuk ditertawakan, sebab tidak ada yang dipersalah-marahkan.

Setibanya di kampus, aku menyodorkan kartu perpustakaan mencoba meminjam buku-buku Gibran. Di antara dua buku yang ada dan yang dibaca aku temukan sekuplet syair yang dikutip seniman jalanan itu pada tulisan Gibran yang berjudul Hari Kelahiranku, Martin L. Wolf (ed) Treasury of Kahlil Gibran (Risalah Karya Terbaik) Tarawang Press, Yogyakarta 2002, hal. 90. Hmmm….sudah sejak itu minatku pada syair dan sajak Gibran seperti kembali terbit setelah sekian lama sepi. Sebab pertama kali aku berkenalan dengan Gibran di sekolah menengah pertama dalam dan melalui ’Sang Nabi’. Sudah sejak itu aku tidak lagi berjumpa dengan Gibran, sampai ketika seniman jalanan itu mengantarku dalam dan melalui sekuplet syair itu.

Aku lantas berpikir mengapa tidak aku menulis skripsi tentang Gibran Kahlil Gibran? Siapa tahu keajaiban akan tercipta jika aku kembali menekuni Gibran. Keajaiban itu salah satunya, adalah aku bisa lulus kuliah dengan nilai memuaskan, setelah sekian lama terkatung-katung bagai tidak menentu. Kucoretkan dua tema pada ketika itu, setelah melumat buku-buku Gibran yang kuperoleh dari mana entah, pertama adalah tentang filsafat keindahan, mencoba menjawab substansi filosofis dalam dan dari syair dan sajak Gibran. Kedua adalah tentang apa, siapa dan bagaimana Gibran memandang Tuhan. Lantaran aku adalah mahasiswa teologi, dan kampusku, STF Driyarkara mewajibkan itu, maka tema kedua yang dipilih.

Ternyata, tidak diduga disejutui pula oleh dosen pembimbing, Dr. Al Andang Binawan, SJ. Di bawah judul ”Gibran Kahlil Gibran tentang ’Yesus Putra Manusia, Gambaran Allah Yang Personal dan Terlibat’ skripsi tersebut jadi juga dalam waktu empat bulan. Dan dihadapan penguji, Dr. Al Andang, SJ dan Dr. Sunarko, OFM aku menjawabnya dengan begitu mudah. Dr. Sunarko, OFM, dengan nada bercanda bertanya sebelum keduanya memberi jawaban apa aku lulus atau tidak, ’Kamu yakin lulus?” aku menjawab ’Sangat yakin romo”. ”Ya kamu lulus, skripsimu A” sambung Dr. Al Andang, SJ.

Amazing…sulit dipercaya. Sesuatu yang awalnya adalah tidak mungkin akhirnya menjadi mungkin. Seniman jalanan dengan caranya sendiri, telah membuka ruang kemerdekaan kepadaku. Namun aku masih berutang budi kepadanya, karena sampai kini aku tidak berjumpa dengannya lagi. Perjumpaanku di Metro Mini pada ketika itu adalah perjumpaan yang pertama dan terakhir. Selanjutnya kami berjumpa dalam mimpi-mimpi. Namun satu yang membuatku yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin, sekali lagi, jika diseriusi, ditekuni dan disungguhi. Ini prinsipku ketujuh dan terpenting. Bahwa segala sesuatu itu mungkin jika yakin kalau yang mungkin itu baik. Baik bagi diri sendiri dan orang lain.

Aku Yang Terlempar, Sekuplet Sajak Gitanjali

“Aku tidak menyadari saat ketika aku pertama menyeberangi ambang kehidupan” demikian sekuplet puisi dari  Rabinranath Tagore dalam Gitanjali-nya. Dan tentang ketaksadaran mula-mula kehidupan seorang anak manusia serupa itu, merupakan sesuatu yang alamiah. Siapa pun akan mengalami itu, jika hendak menyeberangi ambang kehidupan. Tidak hanya Tagore, tetapi juga kau dan aku.

Tagore melukiskan tentang pengalaman eksistensial manusia dalam kehidupan. Bahwa, di ambang kehidupan manusia, manusia seperti terlempar dari alam misteri menuju ke alam misteri yang lain, dari kegelapan yang satu ke kegelapan yang lain. Kehidupan seperti  terjadi begitu tiba-tiba, menyembul dari kandungan misteri yang satu menuju sebuah misteri yang lain yang juga tidak kita ketahui sebagai apa.

“Kekuatan apa yang membuatku keluar ke dalam misteri yang luas ini seperti sebuah kuncup dalam hutan di tengah malam!” kata Tagore. Dunia kehidupan awal manusia adalah misteri yang dilukiskan sebagai hutan, malam, gelap dan gulita. Dalam situasi tersebut manusia tidak dapat mendefinisikan dirinya. Manusia menyadari dirinya sebagai orang asing, sesuatu yang terlempar-dilemparkan ke dalam dunia.

“Ketika di pagi hari aku melihat pada cahaya aku merasakan dalam satu saat bahwa aku orang asing di dunia ini, bahwa hal gaib tanpa nama dan bentuk telah menangkapku dalam tangannya dalam bentuk ibuku sendiri”

Namun di tengah misteri dan situasi kertelemparan itu, manusia sesungguhnya adalah kuncup dan atau tunas yang secara eksistensial menjadi ada dalam kehidupan. Dan itu baru diketahui ketika proses kesadaran itu terjadi.

Sebagai kuncup, manusia menjadi hidup dan ada dalam kehidupan dengan tumbuh dan berkembang. manusia mencoba untuk menyibak misteri-misteri kehidupan, beralih dari ketidaktahuan menjadi tahu. Melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam keber-ada-annya, dengan ada-nya sendiri dan dengan ada-ada yang lain. Manusia memilih dan mencoba untuk memilahpisahkan mana yang sesuai dan baik baginya, dan mana yang tidak.

Inilah yang disebut sebagai proses kesadaran manusia dalam kehidupan. Sebuah proses yang tidak hanya berusaha untuk mempertanyakan dirinya sendiri sebagai apa dan siapa, tetapi juga mempertanyakan dari mana dan mau ke mana kehidupan datang dan diarahkan dalam misteri kehidupan yang luas dan tinggi, jauh dan dalam ini. Dan proses kesadaran manusia dalam kehidupan adalah sebuah proses yang berulang.

Kata Tagore “Aku mengira bahwa perjalananku telah tiba di akhirnya dan pada batas terakhir kekuatanku, bahwa jalan hidupku tertutup, bahwa bekal telah tandas dan waktu tiba untuk berlindung dalam kesunyian yang tidak dikenal. Namun, aku mendapatkan bahwa kehendakmu tidak mengenal akhir dalam diriku. Dan ketika kata-kata lama mati di lidah, melodi baru menyeruak dari hati ini; dan dimana jalan setapak lama telah hilang, negeri baru terungkap dengan pesonanya”

Socrates dan Yesus Tewas karena ‘Salah Ucap’

Kematian Sokrates – lukisan Jacques Louis David, 1787

Sokrates  tewas karena telah melakukan sebuah kesalahan fatal yakni ‘salah ucap’. Putra pasangan Sophroniskos (seorang pemahat batu) dan Phainarete (seorang bidan) ini tewas pada usia tujuh puluh tahun dengan cara meminum racun sebagaimana keputusan yang diterimanya dari pengadilan Athena dengan hasil voting 280 mendukung hukuman mati  dan 220 menolaknya.

Lelaki buruk muka, ‘pembenci’ dunia tulis-menulis, tetapi merupakan salah satu filsuf besar pertama dalam sejarah filsafat barat selain Aristoteles dan Plato ini tewas karena kalimatnya yang kurang lebih berbunyi “Dirinya adalah yang paling bijak karena dirinya tahu bahwa dia tidak bijaksana sedangkan mereka yang merasa bijak pada dasarnya adalah tidak bijak karena mereka tidak tahu kalau mereka tidak bijaksana”

Ucapannya itulah yang membuatnya mati. Bayangkan, terlepas dalam sejarah filsafat selanjutnya mengagungkan Socrates sebagai yang benar, Socrates mengklaim dirinya sebagai orang bijak dan mengatatakan elite politik dan sesepuh Athena sebagai yang bukan bijak. Dalam kultur patriarchi yang kental dan system social yang mendewakan prestise, segala ‘ucap’ atau ‘cuap-cuap’ harus dikontrol. Perlu adanya komunikasi yang efektif.

Yesus, anak Maria juga tewas karena ‘salah ucap’. Pria berdarah biru dari keturunan Daud ini dituduh karena dengan berani-beraninya menyebut dirinya Tuhan. Padahal, bagi Agama Yahudi  hanya ada Tuhan yang Maha Esa, pencipta dunia yang menyelamatkan bangsa Israel  dari penindasan di Mesir, dan yang menurunkan undang-undang Tuhan (taurat) kepada mereka selanjutnya memilih mereka sebagai cahaya kepada manusia sedunia.

Massa yang marah lantas menekan Pontius Pilatus, gubernur kerajaan Romawi agar Yesus harus dihabisi. Demi nyawa Yesus, Barabas, bandit dan penjahat kelas kakap direlakan warga untuk dibebaskan Pontius Pilatus. Dari tangan Pilatus kemudian Yesus diserahkan kepada warga untuk disalibkan. Karena ‘salah ucap’-nya itulah Yesus pun mati secara keji pada usia tiga puluh tiga tahun.

Terlepas dari apa yang dikatakan Socrates dan Yesus akhirnya menjadi kebenaran di kemudian hari. Sejarah filsafat barat mencatat Socrates sebagai filsuf cerdas dan buah pikirannya menjadi rujukan siapapun yang masuk dalam langgam filsafat. Demikian juga dengan sejarah orang beriman mencatat bahwa Yesus juga adalah Tuhan yang satu dan sama seperti Tuhan yang diyakini bangsa Yahudi.

Namun dalam konteks dan situasi ketika itu, ketika Socrates dan Yesus hidup dan ada di dunianya masing-masing, rupa-rupanya apa yang telah mereka ucapkan adalah boomerang bagi diri mereka sendiri. Pertanyaan yang akhirnya menjadi refleksi pribadi adalah tentang bagaimana membangun komunikasi dan relasi yang efektif dalam situasi dan konteks yang tepat. Satu dari seratus orang yang ‘salah ucap’ akhirnya dikagumi di kemudian hari. Socrates dan Yesus adalah satu dari seratus di ranah-nya masing-masing.

Namun, selebihnya, sembilan puluh sembilan orang lainnya akhirnya hanya menjadi jasad yang tidak berarti. Mungkin ini sebuah perbandingan yang tidak benar. Namun yang pasti bahwa, secara pribadi, saya belajar dari dua ‘salah ucap’ di atas untuk membangun komunikasi, relasi dan memberikan kesaksian yang efektif dalam situasi dan kondisi yang tepat, agar tidak mati sia-sia, karena saya bukan Socrates apalagi Yesus.

Driyakara Pada Sekelompok Anak

Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara SJ (lahir di Kedunggubah, Kaligesing, Purworejo, 13 Juni 1913 – meninggal di Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah, 11 Februari 1967 pada umur 53 tahun). Ajaran pokok Driyarkara yaitu "manusia adalah kawan bagi sesama". Manusia adalah rekan atau teman bagi sesamanya di dunia sosialitas ini (homo homini socius). Pikiran homo homini socius ini ditaruh untuk mengkritik, mengoreksi, dan memperbaiki sosialitas preman; sosialitas yang saling mengerkah, memangsa, dan saling membenci dalam homo homini lupus (sesama adalah serigala bagi manusia). Sampai tahun 1951 nama Driyarkara tidak dikenal. Hampir seluruh waktunya dia gunakan untuk studi secara intensif. Catatan harian yang ditulisnya sejak 1 Januari 1941 sampai awal tahun 1950 tidak pernah lepas dari persoalan aktual-mendesak yang dihadapi manusia, khususnya rakyat Indonesia. Karya publik awal tulisannya tidak langsung filosofis. Karya awalnya berupa catatan ringan dalam bahasa Jawa yang dimuat majalah Praba, sebuah mingguan berbahasa Jawa yang terbit di Yogyakarta. Disusul kemudian dengan Warung Podjok dengan nama samaran Pak Nala. Terbitnya majalah Basis tahun 1951 membuka peluang Driyarkara memperkenalkan ide-idenya ke masyarakat. Mulanya dengan nama Puruhita, kemudian dengan nama lengkap Driyarkara. Cara penyajiannya bergaya percakapan, setapak demi setapak membawa pembaca ke permenungan filosofis. Saat mengasuh Basis, Driyarkara diserahi tugas menjadi Dekan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Sanata Dharma, embrio IKIP Sanata Dharma. Pidato pertanggungjawabannya tentang kepentingan pendidikan guru memperoleh tanggapan luas, dan sejak saat itu (1955) selain dikenal sebagai filsuf juga seorang ahli pendidikan. Lewat tulisan, pidato, ceramah, dan kuliah, Driyarkara memberikan pencerahan proses pencarian jati diri bangsa. Misalnya, ketika gerakan mahasiswa marak pada tahun 1966, dialah pembela pertama hak mahasiswa dan pelajar untuk demonstrasi. Di tengah keadaan kritis dan buntu-mentok, dia tampil dengan gagasan menerobos lewat pemberian makna. Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Nicolaus_Driyarkara#Biografi

Sekelompok anak bermain sepak bola. Umur mereka berkisar sepuluh sampai dua belas tahun. Entah ke mana arah bola ditendang, tidak tentu arah. Mereka tertawa, ketika salah seorang dari mereka terjungkal atau terguling-guling di atas rumput. Ada saat dimana mereka beristirahat sejenak, ketika salah seorang dari mereka mengeluh lelah dan menjerit kesakitan. Mereka sudah selalu seperti itu setiap hari, sejak aku menjadi penghuni rumah di samping lapangan rumput kecil itu.

Sudah sejak itu, sejak Maret 2010, jika waktu tidak sedang sibuk betul, kadang aku bergabung bermain bersama mereka. Ketika aku larut dalam setiap permainan mereka, aku menemukan bahwa bukan maksud mereka bermain bola. Bukan maksud mereka pula untuk berolahraga dan mencari keringat. Kata Julham, salah satu dari mereka “kami Cuma mau ngumpul-ngumpul doang, soalnya kami adalah temanan”.

Aku tergugah, terkesima. Sekelompok anak yang sadar betul bahwa mereka tidak sedang bermain dengan permainan sepak bola, apalagi membiarkan sepak bola mempermainkan mereka. Mereka sudah sedang bermain untuk suatu maksud, bukan kalah menang, apalagi untuk sebuah taruhan tertentu, tetapi untuk menjadikannya sebagai media perjumpaan, integrasi dan kebersamaan, karena seperti kata Julham “kami adalah temanan”.

Sampai pada batas itu, aku teringat dengan Nikolaus Driyarkara, seorang filosof, yang juga menjadi penggagas berdirinya Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Menurut Diriyarkara permaian sesungguhnya bermartabat. Dalam “Permainan sebagai aktivisasi dinamika”, yakni untuk menuju pembebasan manusia (Filsafat Manusia, hal 79-86, terutama pedoman penutup pada hal 83-84). Begini Driyarkara merefleksikan hakikat permaianan dengan amat jernih:

“Bermainlah dalam permainan tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi permainan jangan dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidaksungguhannya, sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh lagi. Mainlah dengan eros, tetapi janganlah mau dipermainkan eros. Mainlah dengan agon tetapi jangan mau dipermainkan agon. Barang siapa mempermainkan permainan, akan menjadi permainan permainan. Bermainlah untuk bahagia tetapi janganlah mempermainkan bahagia”

Menarik untuk direfleksikan, bahwa sekelompok anak yang bermain bola, telah menjadikan permainan tersebut sebagai sebuah upaya pembebasan manusia untuk keluar dari dirinya sendiri dan menempatkannya dalam lingkup yang lebih luas sebagai makhluk sosial. Mereka dalam kepolosan dan keluguannya masing-masing telah menempatkan hakikat manusia sebagai makhluk yang sadar, bahwa mereka tidak hanya meng-aku, tetapi juga meng-kita.

Meminjam Driyarkara, seperti yang diuraikan Muji Sutrisno dalam ”Jejak Pikiran dan Sosok Driyarkara” (http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0402/19/opini/861953.htm) bahwa Jejak besar pertama pikiran Driyarkara adalah posisi manusia dengan eksistensinya sebagai pusat. Dalam Filsafat Manusia Driyarkara, “manusia adalah siapa yang ber-apa dan apa yang bersiapa”. Menurut Sutrisno, ke-siapa-annya diuraikan Driyarkara dalam kata-kata: manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya. Manusia adalah subyek atau persona yang sadar. Dinamika persona adalah rentetan tenunan subyek sadar diri dan subyek yang berbuat dan ber-apa untuk menampilkan siapanya di dunia ini. Dalam proses mendunia inilah, sebagai persona, manusia dunia dalam kebudayaan.

Sekelompk anak yang bermain bola di samping rumahku itu sadar betul bahwa mereka hendak mengatakan tentang diri mereka sendiri di hadapan teman-teman seklompoknya sebagai ”teman” atau ”rekan” bukan sebagai lawan apalagi sebagai musuh. Permainan sepak bola yang mereka mainkan bukan sebuah sebuah permainan yang dipersungguh. Mereka sadar betul bahwa kesungguhan permainan terletak pada ketidaksungguhannya.

Lantaran mereka menempatkan permainan tetap dalam wilayah ketidaksungguhan, maka mereka bisa menemukan hakikat kemanusiaan dalam permainan tersebut. Bahwa sesungguhnya antara Julham dan kawan-kawannya adalah teman, atau rekan atau sahabat atau kawan. Namun, bukan tidak mungkin, jika mereka mempersungguh permainan sepak bola yang mereka mainkan, maka hakikat sesungguhnya tentang kemanusiaan mereka sebagai makhluk sosial akan terabaikan.

Selamat bermain, dan marilah kita bermain bersama-sama, bukan untuk mempersungguh permainan yang kita mainkan, tetapi membangun integrasi, komunikasi dan kebersamaan. Bahwa aku dan sekelompok anak itu tidak hanya meng-aku, tetapi juga meng-kita.

Aku dan Secangkir Kopi Tuan Renatus Cartesius

René Descartes (Renatus Cartesius); lahir di La Haye, Perancis, 31 Maret 1596 – meninggal di Stockholm, Swedia, 11 Februari 1650 pada umur 53 tahun), juga dikenal sebagai Renatus Cartesius dalam literatur berbahasa Latin, merupakan seorang filsuf dan matematikawan Perancis. Karyanya yang terpenting ialah Discours de la méthode (1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641). Descartes, kadang dipanggil "Penemu Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika Modern", adalah salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan setelahnya, membawa mereka untuk membentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai rasionalisme kontinental, sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad ke-17 dan 18. Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir. Dalam bahasa Latin kalimat ini adalah: cogito ergo sum sedangkan dalam bahasa Perancis adalah: Je pense donc je suis. Keduanya artinya adalah: "Aku berpikir maka aku ada". (Ing: I think, therefore I am) Meski paling dikenal karena karya-karya filosofinya, dia juga telah terkenal sebagai pencipta sistem koordinat Kartesius, yang mempengaruhi perkembangan kalkulus modern. Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Descartes

Pada sebuah kamar, di Neubau, dekat kota Ulm Jerman, seorang lelaki setengah tua mendekam bagai terpenjara. Wajahnya sinis, senyumnya kecut, dahinya terus berkerut bergelombang kecil besar. Sesekali ia memejamkan mata, kemudian terbuka benderang, melempar pandang ke balik jendela. Namun, tidak berapa lama Ia kembali menarik kain jendela sambil melepas kata ”Aku butuh secangkir kopi”

Secangkir kopi itu pun datang, dibawa oleh seseorang atau sesuatu atau entah yang tidak aku kenal rupa wajahnya. Sang penghantar kopi bagai hampa. Aku menduga, mungkin apa yang sedang kuduga bisa salah, sang penghantar kopi itu adalah siluman. Ia tenggelam di balik larutan kopi pekat panas. Mewujud dalam kepulan-kepulan uap yang sulit ditebak kemana arah terbang.

Dari balik pintu yang setengah terbuka, aku terus memperhatikan. Ingin aku memandang dengan kedua belah mata, tetapi aku masih belum cukup usia. Aku masih sangat muda, dan bahkan belum tahu apa-apa. Tetapi aku tersintak. Dari balik kamar yang senyap, tiba-tiba terdengar suara ”Jangan melihat setengah-setengah, jika hendak menikmati kopi bersama, masuklah”

Kakiku bergetar. Langkahku pun berat. Perlahan aku membuka pintu kamar menuju setumpukan papan untuk memijakkan pantat. ”Siapa yang menyuruhmu duduk” Dadaku bagai meledak. Aku pun berdiri, sambil merapikan tumpukan papan yang runtuh. ”Dan siapa yang menyuruhmu berdiri” Aku menjadi tidak berdaya. Aku bagai orang kalah. Di dadapannya aku menjadi orang pesakitan, penuh salah dan dosa.

Di balik ciut aku mencoba berpikir. Berpikir tentang bagaimana seharusnya aku ada dihadapannya. Duduk atau berdiri. Berdiri atau duduk. Kedua-duanya salah. Aku pun berlutut. Ketika itu dia sedang membelakangiku. Namun sebelum ia berpaling, dengan sigap aku menelentangkan diri, bersembunyi di balik tumpukan papan. Aku tidur. ”Makhluk pengecut, tidak lebih dari seekor kecoak, tidur dan bersembunyi”

Dadaku berdetak kencang. Aku menjadi tidak sanggup bangunkan diri. Kedua kakiku bagai terkunci. Namun demikian aku merasa lebih nayaman dengan menidurkan diri. ”Bangun..bangun..bangun” suara itu kembali mengagetkanku. Spontan aku melompat, merobohkan tumpukan papan hingga mengenai cangkir kopinya. Jatuh dan pecah. Uapnya merayap-rayap di atas lantai papan berdebu.

Ia tidak lagi bersuara. Matanya menatapku lekat-lekat. Seperti sedang memperhatikan dengan saksama sejengkal demi sejengkal. Hawa kopi yang dihantar manusia tanpa rupa menyapu wajahnya, membuat matanya tampak kian tajam. Ia seperti sedang memenggal jari-jari kakiku. Memotong-motong pergelangan kaki. Melepaskan kelamin dan zakar. Mengulitiku. Memburai usus-ususku. Mencopot rusuk dan jantung. Menanggalkan kedua lenganku. Mencincang-cincang jari, mata, hidung, bibir dan telingaku. Menggunduli rambutku. Hingga aku menjadi bukan serupa manusia.

Dahinya berkerut, senyumnya kecut. Matanya kian tajam. ”Apakah engkau manuasia yang tadi mengtipku dengan sebelah mata?” tanyanya. Kemudian ia melanjutkan ”apakah aku salah melihatmu? bukankah engkau yang telah menumpahkan kopiku? Bukankah engkau yang tadi tertidur lantas terperanjat medengar makiku? Atau mungkin aku salah? Apa sebenarnya yang sedang aku lihat, jika bukan tentang manusia? Mengapa kehadirannya membuatku tidak pernah diam bertanya? Mengapa aku meragukan keberadaanmu? Mengapa aku harus berpikir tentangmu?. Mungkin aku harus memikirkan tentang secangkir kopi? Tentang sesuatu yang disebut kesedaran?

Dia terdiam. Aku tak beranjak. Di balik dadaku, aku hanya dapat berkeluh, mengapa aku harus hadir dan ada di hadapannya? Aku benar-benar tidak berdaya berhadapan dengan manusia setengah gila, manusia setengah waras. ”Aku bukan orang gila, aku bukan orang setengah waras, aku Renatus Cartesius” Lagi-lagi dadaku dibuatnya meledak. Mengapa dia dapat membaca umpatku. Mungkin aku salah dengar, atau mungkin juga tuan Renatus salah ucap.

Tiba-tiba dengan suara berat Tuan Renatus berujar perlahan ”Oh ya…ya…sekarang aku baru tahu” Ciutku setengah mereda. Tidak dia berkutat dengan apa dan siapa, nada suaranya tiba-tiba saja melemah jadi lembut. Kemudian Ia melanjutkan ”Saat aku mencermati dan berpikir bahwa engkau bukan manusia, kalaupun manusia tetapi manusia yang salah…pada saat itu aku menyadari kebenaran ini: Aku berpikir maka aku ada…sehingga aku merasa yakin aku bisa menerima kebenaran ini sebagai perinsip pertama filsafat yang tengah aku cari”

Aku atau secangkir kopi yang telah mengubah Tuan Renatus menjadi pribadi yang lembut dan santun? ”Cogito Ergo Sum, Aku berpikir maka Aku Ada” tiba-tiba Tuan Renatus melontarkan kata-kata itu. ”Kau dan secangkir kopi dan segala sesuatu telah menyiksaku hampir sepanjang hidupku. Dan baru sekarang aku menemukan hakikat ada-ku. Bahwa : Aku berpikir maka aku ada…sehingga aku merasa yakin aku bisa menerima kebenaran ini sebagai perinsip pertama filsafat yang tengah aku cari”. Jelasnya.

Berpikir? Tanyaku dalam hati. Mengapa harus berpikir? Mengapa dengan berpikir? Untuk apa berpikir? Sederatan kebingungan, ketidaktahuan, pun penasaran berkelebat dalam dadaku. Tiba-tiba Tuan Renatus kembali angkat bicara ”Aku tidak menerima apapun yang ada sebagai yang benar, termasuk kau, segala sesuatu dan secangkir kopi itu. Kalian semua seperti sedang menipuku. Maka untuk melihatnya sebagai sesuatu yang benar, aku harus memahaminya dengan jelas dan terpisah-pisah. Dan hanya yang bisa dipahami secara jelas dan terpisah-pisah itulah yang menjadi norma untuk menentukan kepastian dan kebenaran”

Kemudian Tuan Renatus melanjutkan, seperti sedang mengajarkan kepadaku sebuah dogma ”Aku telah meragukan semuanya, namun ada satu hal yang sama sekali tidak bisa diragukan lagi, sehingga harus diterima secara mutlak yakni kenyataan bahwa Aku yang sedang meragukan atau menyangsikan segala sesuatu itu ada”

Aku terkesima mendengarkan suaranya yang meyakinkan. Tetapi sebenarnya aku sendiri masih tidak berdaya. Masih tidak tahu apa-apa, tentang maksud dan tujuan dari yang diucapkannya. Tuan Renatus tahu tentang kebimbanganku. Ia mendekat dan mengajakku untuk melihat dengan benderang. Dua cangkir kopi tiba-tiba tersaji di hadapan kami. Manusia tanpa rupa yang kusebut siluman menghantarnya. Aku merinding.

”Jangan takut, si penghantar kopi itu adalah filsafat, sang sesuatu yang tenggelam dalam tanya sampai tidak berwujud badan. Jika engkau mau memahamiku dengan lebih dekat, memulailah dengan menemukannya. Carilah dia dimana hendak kau lontarkan tanya. Dan kepadamu dia hantarkan secangkir kopi, yang dalam pekatnya kau berenang menemukan jawaban”. Tuan Renatus menutup jumpa.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: