Kata Bermata, Bukan Kata Hampa Sapa

“bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski telah kaukupas dengan ganas selembar demi selembar setiap hari”
Seorang penyair harus tewas (mati) dalam realitas, agar setiap kata yang ditorehkannya memberikan kehidupan dan keselamatan. Hanya dalam kematiannya, sang penyair berproses menenun kata-kata bermata, bukan kata hampa sapa. Kata-kata bermata itu akan menjadi jalan menuju perubahan. Dan seorang penyair harus selalu seperti itu. Aku meyakini itu dengan sungguh.
***
Bait-bait sajak Sapardi Djoko Damono membuatku terdiam beberapa saat. “bayangkan seandainya yang kau lihat di cermin pagi ini bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit yang sedikit berawan, yang menabur-naburkan angin di sela-sela bulunya” .
“bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu menukik ke atas kota kita dan mengibas-ibaskan asap pabrik dari bulu-bulunya”
“bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman rumahmu yang menggoda burung itu untuk hinggap di lengannya;
“bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski telah kaukupas dengan ganas selembar demi selembar setiap hari”
Bayangkan, adalah sebuah diam, sebuah senyap. Dalam senyap itu kau diajak melihat kau yang lain. Tentang wajahmu yang koyak, tubuhmu yang longsor, kakimu yang tercerabut, dan kepalamu yang menggelinding menukik jatuh dari jurang, lantas kemudian jatuh tertumbuk memecahkan cermin.
Dengan (dalam) murka, kau berteriak “pecahkan saja cermin itu, karena ia menghadirkan aku yang bukan aku”. Kepada siapa kau mengumpat? Kepada cermin kau kambinghitamkan. Buruk muka cermin dibelah. “Bayangkan Seandainya” adalah sebuah konteks dimana kau diajak merefleksikan tentang kau yang lain. Tentang seekor burung yang tidak bisa menari lagi. Seekor burung yang lelah terbang, karena tak jua menepi di ranting jati tapi justru hendak menukik masuk ke dalam dahan rambutan dalam rumahmu. Tentang tiada lagi turun hujan dan tandus yang menyiksa. Tentang alam yang tidak lagi memberikan kesejukkan, karena gerahnya asap pabrik kota-kota.
“Bayangkan Seandainya” adalah sajak senyap. Sudah berulang aku mencoba menembus batas bayang, mengais-ngais seluk beluk estetika Sapardi, sampai akhirnya aku menjumpai pesan dalam sepenggal kata tentang fakta lara, luka alam. Di dahapan sepenggal kata itu aku diajaknya untuk membayangkan, jika seandainya aku adalah alam. Aku yang terluka dan terkoyak oleh kelobaanku sendiri. Aku yang longsor karena aku gersang berpikir. Aku yang rapuh karena tercerabutnya aku dari hati nurani. Dadaku pasti terluka.
Tetapi di balik bayangan kelam di lubuk hati yang senyap, aku masih percaya, bahwa aku masih punya kata. Karena aku tidak membiarkan itu menjadi nyata, maka aku pun meraut pena dan menuliskan menjadi sebuah sajak metanoia. Tentang kata mata. Tentang kata yang bisa dijadikan jalan dan terang untuk sebuah perubahan. Bagiku, bagi kau dan alam. Bagi realitas.
Ketika penaku meruncing, ketetaskan sepenggal keyakinan “Ah, pena sang penyair itu, memperanakan kata-kata. Bukan kata-kata hampa sapa, tetapi kata-kata penuh mata yang menunjukkan jalan kepadaku. Yang membawaku berlari mendekapmu. Yang ditabur-taburkan burung dari langit, di sela-sela bulunya” Ketika sampai pada titik ini, aku tak lagi dihadapkan dengan dunia imajinasi, bayang-bayang dan apalagi “Bayangkan Seandainya”.
Tetapi, antara aku dan diriku sendiri, antara aku dan aku yang lain, antara aku dan alam, dalam realitas kami melarut dalam perjumpaan yang menghidupkan. Aku, kau, kita bercumbu. “Kucium dikau hadir dalam anak pena Sapardi DJoko Damono. Pada torehan tangan sang penyair. Pada sebaik puisi banyangkan seandainya. Bukan saja aroma rumput usai dipotong, yang selalu mengepul dari badanmu, yang kucium dari kata kata sang penyair. Tetapi kudekap dikau di sela-sela bulunya”
***
Tak ada kematian tanpa ada kebangkitan. Itu sejatinya hakikat sajak bagiku. Semakin senyap sang penyair bergumul dengan bayang, dia akan semakin menemukan makna. Sapardi Djoko Damono adalah penyair yang tewas karena ditikam kebisingan realitas, lantas, melalui sajak-sajaknya dia dibangkitkan, membangkitkan dan diselamatkan dan menyelamatkan realitas yang hancur. “Dikau yang ditaburkan, dikau yang tumbuh, dikau yang berbunga, dikau yang berbuah, lebat dan ranum”. Lantas, dengan sadar, lepas bayang, di hadapan cermin pagi ini (itu) kau melepas kata dengan senyum “Ah, pena sang penyair itu, memperanakan kata-kata. Bukan kata-kata hampa sapa, tetapi kata-kata penuh mata yang menunjukkan jalan kepadaku. Yang membawaku berlari mendekapmu. Yang ditabur-taburkan burung dari langit, di sela-sela bulunya”
Sumber: sajak Sapardi Djoko Damono ‘Bayangkan Seandainya’ dan sajak Aleks Aur “Kucium dikau hadir dalam anak pena Sapardi DJoko Damono” Gambar: http://wong168.wordpress.com/2009/10/11/










































