Tulisan yang ditandai ‘cinta’

Jangan Benci Mantan Kekasih, Karena Dia ‘Kan Tetap Berarti

Mengetahui bahwa mantan kekasihnya telah dipinang dan dipersunting pencinta yang lain, pesona wajahnya tiba-tiba bermuram durja. Para sahabatnya bersahut-sahutan berpendapat. Seorang mencemooh ‘’seharusnya engkau tidak lekas meninggalkannya, jika memang masih berangan-angan’’.  Seseorang yang lain dengan pedas melepas kata ‘penyeselan selalu mendahului keberuntungan. Dan itu bodoh’. Lalu yang lain berkata dengan sinis sambil terkekeh-kekeh “tuing…tuing…tuing, buanglah mantanmu pada tempatnya”.

Mengapa harus bermuram durja. Rupa-rupanya ada penyesalan yang menggelantung. Sebagai misal, mungkin lantaran pemaafan yang belum tuntas untuk disampaikan. Atau salam yang belum sempat diberikan. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah sederetan pertanyaan kecil dari sebuah pertanyaan fundamental, bahwa kekecawaan, penyesalan adalah karena kekasih, sekali pun dia adalah mantan merupakan sesuatu yang sacramental (tanda dan symbol akan seuatu yang lebih, lain dan penting pun mendesak)

Mantan kekasih (dan apalagi kekasih), bagi seorang pencinta adalah kekuatan yang ada di luar dirinya. Kekuatan yang tidak hanya memberikan energy yang lebih dalam proses untuk kembali memahami diri, untuk menemukan hakikat keberadaannya sebagai anugerah. Tetapi juga motivasi yang kuat yang mendorong agar setiap pencinta mampu menghadirkan dirinya secara manusiawi dalam dunia.

Mantan kekasih (dan apalagi kekasih) adalah ‘aku’ yang lain. Terhadap ‘aku’ yang lain, kita tak sanggup membencinya. Semakin selalu kita membencinya, semakin selalu dicinta. Semakin selalu untuk dilupakan, semakin selalu hadir dan ada dalam bayang. Itulah sebabnya, mantan kekasih (dan apalagi kekasih) tidak akan pernah terusik dari ruang kenangan. Dia hadir dan ada, akrab dan menjiwai.

Namun cinta menjadi dangkal, lantaran cinta yang mempertemukan sepasang kekasih mengabaikan kekuatan ilahiah yang sudah sejak dijadi-adakan terpatri dalam setiap pribadi. Akibatnya, cinta hanya cipandang sekedar sebagai persentuhan-persentuhan emosional, perjumpaan-perjumpaan inderawi.  Sehingga, jika perjumpaan dan persentuhan itu kandas, yang diinderai hanyalah bau tubuh, yang dirasa hanya wangi pesona.

Padahal, jauh melampaui dari sekedar persentuhan emosi dan perjumpaan inderawi, cinta menarik setiap pencinta untuk menemukan kelebihan-kelebihan, kekuatan-kekuatan, energy dan motivasi dalam dan melalui kekasihnya. Lantaran itu, adalah manusiawi jika seseorang tiba-tiba bermuram durja kalau mendengar dan atau mengetahui mantan kekasihnya dipinang dan dipersunting kekasih yang lain.

Mengapa? Karena sebagian kekuatan yang dulunya pernah diperjuang-pertahankan telah hilang. Dan yang tertinggal adalah kenangan yang menyesakkan. Momen-momen serupa itu kadang membuat seorang pencinta matang dan dewasa dalam menentukan pilihan. Kaukah kekasihku ataukah yang lain. Kau atau yang lain, tetap sama-sama sacramental. Dan hanya yang terpilih yang terberkati.

Amazing Love

Aku dibiarkan terlunta di kesendirian. Menjawab sejuta tanya di lautan kehidupan yang kian tidak menentu. Sebagai perempuan aku tersiksa. Sebagai perempuan aku terluka. Andai tidak ada janji yang diberikan pada ketika itu, mungkin aku menjadi perempuan yang tidak mengapa. Tetapi sejarah tidak dapat diulang. Tentang segala luka dan semua derita, terpaksa aku harus mencari penyembuhan. Dengan ikhlas aku mencoba untuk melupakan semua, walau sesungguhnya tentang segala kenangan masih membekas begitu indah dan jelas.

Aku bukan perempuan yang ditinggalkan. Hanya sepatah kata itu yang menyisahkan gembira dalam dadaku. Aku perempuan yang kuat. Hanya sepatah kata itu yang memberikan aku terang. Aku perempuan yang tegar. Hanya sepatah kata itu yang memberikan aku jalan keluar. Andai tidak, aku mungkin menjadi perempuan paling sial karena tidak dapat menjawab kepungan kegundahan.

Aku tidak akan pernah mengutukmu sebagai lelaki pecundang, karena telah melepaskan aku dengan sia-sia. Aku menyadari itu sungguh, bahwa pilihanmu bukan untukku. Aku bukan wanita terindah bagimu. Kendati dalam janjimu dulu, engkau mengatakan aku adalah mawar dalam kehidupanmu. Tapi, itu kisah yang dulu. Sekarang, semuanya sudah berubah, jadi debu.

Dengan tulus, aku telah memaafkanmu. Dengan ikhlas, aku pun menerima seluruh diriku sebagai perempuan yang berbahagia. Bahwa sesungguhnya aku bukan perempuan yang ditinggalkan, tetapi manusia bermartabat yang telah engkau tempatkan pada tempat yang benar. Aku mau menjadi diriku sendiri. Menjadi seperti yang kurindu, menjadi seperti yang kuimpi.

Aku menyadari sungguh, bahwa perpisahan bukan akhir dari segala cerita. Bukan ujung dari sebuah perjumpaan. Tetapi sebaliknya nyawa bagi sebuah permulaan. Awal dari sebuah perjumpaan yang lain. Aku merefleksikan banyak hal tentang pengalaman perjumpaan itu. Sesungguhnya setiap kisah harus dimulai dari diri sendiri. Aku harus suluk ke dalam diri sendiri. Aku harus memasuki relung terjauh dari kalbuku. Aku harus menyibak semak-semak soalku, mengurainya jadi jalan menuju perjumpaan yang lain.

Tidak ada kata yang lebih tepat selain ucapan terima kasih penuh ikhlas untuk sebuah perpisahan yang sakit. Karena perpisahan itu, karena sakit itu, aku semakin mengalami bahwa kian hari aku kian matang. Selalu setiap sempat dan saat, aku serupa disembuhkan selalu dan lagi. Semakin aku suluk dengan diriku sendiri, semakin aku menemukan diriku bermartabat, bukan hanya untukku tetapi juga untuk hidup dan kehidupan. Itulah aku, aku bukan perempuan yang ditinggalkan, tetapi sebaliknya aku perempuan yang kau tempatkan pada tempat yang tepat dan bermartabat. Untuk dan tentang ini, aku tidak pernah sudah mengatakan ‘aku sayang kamu’ sekalipun kau pergi meninggalkan aku untuk seterusnya.

Amazing……..

Gibran Kahlil Gibran

Gibran Kahlil Gibran adalah lelaki yang sepanjang hidupnya diliputi kesepian yang mendalam. Hari-harinya dihujam selalu oleh tanya, rindu, perhatian dan kasih sayang. Semua karyanya, baik yang terekam dalam kata, maupun yang membias dalam kanvas, bahkan tentang dirinya sendiri sesungguhnya adalah ‘lamentasi’ tentang rindu yang memendam, sepi yang tak tertahankan dan rahasia yang tidak pernah disibakkan akan dan tentang sesuatu. Ada tiga hal yang menjadi dasar kesimpulan ini.

Pertama, membaca karya-karya Gibran kita disuguhkan dengan bentangan kalimat-kalimat indah. Rangkaian katanya elok, tuturannya yang nan lentur. Lantaran itu tidak heran jika banyak pembaca mengutip sekuplet dari sajaknya atau sepenggal dari kalimatnya untuk menunjukkan kepada pasangan mereka tentang arti percintaan. Bahkan sebagaian pembaca yang lain dengan berani mengatakan jika Gibran adalah guru cinta.

Namun, perlu dicatat bahwa Gibran mengurai cinta tidak pertama-tama untuk tujuan dan maksud pemenuhan relasi antar manusia, tetapi yang pertama dan utama adalah untuk pemenuhan relasi personalnya dengan Tuhan. Bagi Gibran karena Tuhan adalah Mahacinta maka cinta itu harus diberi-pancarkan kepada semesta. Dalam hidup dan kehidupannya, Gibran merindukan cinta itu, relasi yang tulus dan personal, seperti bangunan relasi antara dirinya dengan Tuhan yang diimaninya.

Hal ini terungkap jelas dalam tulisannya yang berjudul Cinta Keindahan Kesunyian, (Yogyakarta, Bentang Budaya, 1999, hal. 72-74) “Cinta membimbingku mendekati-Mu namun kemudian kegelisahan membawaku menjauhinya. Aku telah meninggalkan pembaringanku, cinta, karena takut pada hantu kelupaan yang bersembunyi di balik selimut kantuk. Bangun, bangun, cintaku, dan dengarkan aku. Aku mendengarkan-Mu, kekasihku! Aku mendengar panggilan-Mu dari dalam lautan dan merasakan kelembutan sayap-sayap-Mu. Aku telah menginggalkan pembaringanku dan berjalan di atas rerumputan. Embun malam membasahi kaki dan keliman pakaianku, di sini aku berdiri di bawah bunga-bunga pohon Almond, memperhatikan ruh-Mu.”

Jadi tidak heran jika sepanjang hidupnya, kendatipun Gibran bertelur-tutur tentang cinta, namun tidak seorang pun dari semua wanita yang dikenalnya dia nikahi. Terlepas dari alasan manusiawi tentang cinta, pacaran dan pernikahan, yang membuat Gibran memilih untuk menyindiri, lebih dari itu sesungguhnya ada kerinduan yang begitu besar dalam diri Gibran tentang cinta yang sesungguhnya. Aku melihat pilihan Gibran sebagai sebuah kekeliruan yang besar. Tetapi itulah Gibran, dia tidak hendak menodai kesempurnaan cinta hanya karena sebuah kecemasan bahwa dia tidak yakin cinta yang dibangunnya  bersama sang kekasih akan bertahan. (Catatan: Sebelumnya tentang ini sudah diposting di sini)

Kedua, memperhatikan sketsa dan lukisan-lukisan Gibran kita akan disuguhkan dengan objek-objek tentang tubuh telanjang. Bahkan menurutku, tubuh-tubuh telanjang adalah warna lukisan dan sketsa Kahlil Gibran. Melalui dan dalam lukisan-lukisannya kita dapat menafsirkan bahwa ada hasrat yang lebih yang sedang digapai Gibran. Ada kerinduaan yang terpendam akan kepolosan, ketulusan dan kesahajaan kehidupan. Melampaui dari sekedar tubuh yang telanjang, sebenarnya Gibran sudah sedang menampilkan tentang hakikat kehidupan itu sendiri.

“Karena hidup itu telanjang. Badan telanjang itu adalah lambang kehidupan yang paling sejati dan paling mulia. Kalau aku menggambar gunung berbentuk setumpuk badan manusia atau menulis air terjun berupa badan-badan manusia yang berjatuhan, maka itu tidak lain karena aku melihat gunung sebagai himpunan benda hidup, dan air terjun sebagai pemicu arus kehiduban” Demikian kata Gibran, ketika ditanyaMarry Haskell, mengapa Gibran suka melukis tubuh-tubuh telanjang. (Catatan: sebelumnya tulisan ini sudah diposting di sini)

Ketiga, membaca tulisan-tulisan Gibran selanjutnya memperhatikan lukisan dan sketsanya, aku menyimpulkan sekali lagi bahwa Gibran bukan hanya menjadikan hidup dan kehidupan sebagai pencarian tanpa henti, tetapi juga Gibran itu sendiri mewakili sebuah proses pencarian. Gibran adalah pendaman kerinduan itu sendiri, yang dalam dan melalui karya-karyanya sudah sedang mencari kesempurnaan keabadian. Dalam perspektif ini, sulit bagi siapapun untuk mendefiniskan siapa sesungguhnya Gibran. Gibran adalah konsep tentang pencarian, gagasan tentang perjumpaan-perjumpaan. Gibran adalah kata.

“Lihatlah diriku, sebuah kata yang maknanya samar-samar dan membingungkan; kadangkala tak bermakna; kadangkala bermakna banyak hal” Demikianlah Gibran mendefinisikan dirinya (dlm. Hari Kelahiranku, Martin L. Wolf (ed) Treasury of Kahlil Gibran(Risalah Karya Terbaik) Tarawang Press, Yogyakarta 2002, hal. 90). Ia menyebut dirinya sebagai kata. Mengapa Gibran harus mengidentikan dirinya sebagai kata? Tentunya tidak sebatas kata sebagaimana terbaca dalam kamus bahasa sebagai sebuah unsur bahasa terkecil yang merupakan perwujudan kesatuan pikiran dan perasaan. Tampaknya ada makna tersembunyi yang mau disampaikan Gibran melalui arti kata tersebut.

Dapat digambarkan bahwa kata yang dimaksudkan Gibran merupakan buah gagasan dan pikiran yang terbaca dalam tulisan-tulisannya, yang melaluinya meninggalkan ambiguitas penafsiran di kalangan pembaca dan komentator. Dalam dan melalui kata, Gibran mengungkapkan banyak hal, dengan banyak cara. Gibran dapat melantunkan kedukaan dengan riang, kegembiraan dengan air mata dan amarah dinyanyikannya. Di ujung penanya kata mencair, melebur berpadu-utuh dengan rasa dan nalar jadi sebuah bahasa ungkap yang hidup, segar, teduh, menyengat dan membakar jiwa.

’Lihatlah diriku, sebuah kata…’ seakan-akan menjadi ajakan untuk sebuah pemaknaan yang dibiarkan lepas-bebas untuk ditafsirkan. Lantaran itu tidak heran jika Gibran dalam artian tertentu dimaknai sebagai kata yang bermakna dalam banyak hal. Ada yang menyebut Gibran sebagai mistikus, penyair, sastrawan, filsuf, agamawan, pencinta damai, nabi bahkan ada yang menyebutnya sebagai manusia abadi. Penamaan dan sebutan itu merupakan kesimpulan yang masuk akal dari kata yang dituangkannya dalam tulisan-tulisannya. Tidak jarang pula melalui kata yang sama Gibran dipandang sebagai pemberontak, kafir, revolusioner dan pendurhaka. Gibran diidentikan dengan kata yang tidak bermakna, tidak memiliki arti bagi kehidupan, selain hadir tidak lebih sebagaiorang gila yang diabaikan.

Namun semua penamaan, sebutan dan pemaknaan atas kata tentang Gibran masih menyisahkan tanya mungkinkah seluruh sifat-sifat itu ada pada seorang manusia Gibran? Inilah Gibran yang hadir sebagai sebuahkata yang maknanya samar-samar dan membingungkan. Gibran dalam dan melalui dirinya yang sama merupkankata yang takterkatakan, samar-samar dan bahkan membingungkan. (Catatan: sebelumnya tulisan ini sudah diposting di sini)

Orgasme, Cipta Gairah Ruang Imajinasi

Di bawah judul Dahaga Yang Lebih, Sebuah Sketsa tentang Erotik, Hardiman melukiskan erotik sebagai ritual interaksi personal dalam ruang intim. Dalam erotik ada penangguhan pelepasan hasrat dan pengabulannya, pencapaian kepuasan dan munculnya gairah baru, sebuah lingkaran hasrat akan tubuh yang akan dinikmatinya itu tak habis-habisnya menghasilkan dahaga baru.

Singkatnya, menurut Hardiman, erotik lebih daripada sekadar interaksi hormonal. Ia adalah interaksi personal dalam ruang intim yang tercipta oleh pengalaman kebertubuhan. Lantaran itu erotik juga merupakan permainan gairah dalam ruang imajinasi.

Ritual Kebertubuhan

Pengalaman kebertubuhan adalah sebuah ritual. Ritual itu berawal dari saling memandang dengan senyum (yang kadang genit). Lantas, mendekat dan sepasang pencinta merapatkan bibir, memagut, merasa dan menelan kehangatan. Elusan pada rambut, meraba, menyentuh, membuka kancing baju perlahan satu-satu, mendorong, menindih, mendesah, memejamkan mata, memeluk, bercengkarama dalam telanjang, mengejang, orgasme, lantas mengerang panjang dan akhirnya lelah-terkulai. Selesai.

Ritual itu bisa berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, bisa juga dalam sekejap. Dalam rentang waktu itu setiap pencinta mengarungi sebuah pengalaman yang tak terlukiskan. Sebuah ritual yang pada ujungnya menyisahkan paradoks. Ada keserentakan yang terjadi antara kepuasan dan ketidakpuasan, antara kenikmatan pada yang lebih dan ketakberdayaan, antara pesona yang jelas dalam ruang imajinasi dan keterbatasan penggambarannya.

Mengapa? Apa yang dirasakan ketika sepasang pencinta melaksanakan ritual itu sampai memuncak pada orgasme? Jawabannya beragam, ada yang melukiskan sebagai surga-dunia, nikmat, indah, bahagia, enak, dan ada yang hanya menjawab dengan ‘oh..oh..’. Ada pula yang tidak menjawab apa-apa, karena yang dirasakan dan dialaminya adalah sebuah pengalaman hampa kata, ‘hmm….em…tak dapat saya lukiskan dengan kata-kata, pokoknya…hm..hm..’ Inilah pengalaman personal, yang jawabannya hanya ada dalam ruang imajinasi sang pencinta.

Pertanyaan saya lebih lanjut adalah apa yang ada dalam ruang imajinasi sang pencinta itu? Tulisan ini mencoba untuk menemukan kandungan pengalaman hampa kata tersebut, sambil mencoba untuk menjelaskan tentang orgasme sesksual, cinta dan nafsu.

Dalam sekejap ribuan sperma menerobos masuk, berdesakan menelusuri dinding sanggama, saling menyisihkan, akhirnya hanya satu yang lolos, menyelam lebih ke dalam dan melebur bersama sel ovum. Ketika ritual itu sedang berlangsung tampak sang pencinta bagai kesurupan mengejang-ngejangkan ototnya sambil mengeluarkan kata dan kalimat yang patah, yang tidak dimengerti maksudnya. Inilah yang disebut sebagai orgasme. Pengalaman kebertubuhan.

Orgasme, di samping merupakan cipta hormonal, tetapi juga merupakan cipta imajinasi. Di sini keduanya berbenturan. Secara hormonal, orgasme terpuaskan. Ada pelepasan hasrat. Di sini seksualitas menunjukkan sang pencinta sebagai binatang. Binatang yang puas karena apa yang diusahakannya diperolehnya. Pada tataran ini orgasme merupakan puncak dari ritual hubungan seksual. Orgasme didefinisikan sebagai kepuasan. Sebuah penampakan dari orgasme dalam ruang imajinasi. Dalam tataran hormonal, orgasme seksual dapat didefinisikan.

Akan tetapi dalam ruang imajinasi, orgasme sebenarnya hanya merupakan penampakan dari ketidakjelasan. Ketika sang pencinta sedang bercinta, yang sedang bergolak dalam ruang imajinasinya adalah sesuatu yang tidak dapat dilukiskan, ketidakpuasan, ketidaksempurnaan, dan juga ketidakjelasan.

Orgasme Dalam Ruang Imajinasi

Dalam ruang imajinasi orgasme seksual memiliki sesuatu yang “lebih”. Yang “lebih” itu tidak hanya kesempurnaan tetapi juga ketidaksempurnaan, kepuasan serentak juga ketidakpuasan, kenikmatan tetapi juga kesengsaraan. Orgasme yang terjadi secara hormonal hanya merupakan sebuah kenikmatan, kepuasan yang lolos dari pertentangan dasyat dalam ruang imaginasi.

Dalam ruang imajinasi paradoks itu berlangsung terus. Kesempurnaan melawan ketidaksempurnaan, kepuasan melawan keterbatasan, kelemahan melawan kekuatan dan seterusnya. Paradoks ini membuat ruang imajinasi sang pencinta senantiasa hidup. Paradoks ini pulalah yang mendorong sang pencinta untuk merasa tertarik pada kekasihnya.

Paradoks inilah yang membuat sepasang kekasih melebur dalam cinta. Paradoks ini juga memisahkan dua pribadi pencinta karena nafsu. Paradoks ini pulalah yang menenteramkan dunia. Paradoks ini pulalah yang membuat dunia tercabik-cabik. Paradoks ini pulalah – dalam konteks ini – yang membuat orgasme sesksual menjadi ritual yang tak terpuaskan.

Kesadaran Sang Pencinta

Orgasme seksual cipta gairah ruang imajinasi adalah sebuah bahan mentah, yang bersifat netral. Pengendali utama, yang berusaha untuk menciptakan orgasme seksual itu punya tempat yang jelas dan benar adalah kesadaran sang pencinta.

Ada dua medan penampakannya, yakni cinta dan nafsu. Kesadaran yang dikendalikan atas dasar cinta mampu menempatkan orgasme seksual dari ruang imajinasi itu secara benar dan jelas. Sedangkan yang dikendalikan oleh nafsu, orgasme seksual akan melahirkan malapetaka.

Rusaknya ritual kebertubuhan karena pengendali utamanya adalah nafsu. Di sini orgasme seksual dipandang sebagai pengkhianatan atas erotisme yang merupakan medan suci dalam ritual kebertubuhan. Pemerkosaan, bercinta dengan paksa, sodomi dan berbagai macam tindakan pelecehan seksual merupakan bukti nyata pengkhianatan pada erotisme. Kebencian, trauma, pembunuhan, balas demdam, marah dan sikap tidak menghargai merupakan dosa erotisme.

Sedangkan ritual kebertubuhan yang berlandaskan pada cinta merupakan pemurnian atas erotisme. Di sini, orgasme sesksual diterima sebagai sebuah kepuasan, karena ada penyerahan diri, kepasrahan yang tulus, yang terjadi di antara sepasang pencinta. Hubungan seksual antara sepasang suami istri merupakan bukti nyata orgasme seksual atas dasar cinta.

Orgasme Sebagai Pengutuhan

Akhirnya orgasme dalam erotisme juga merupakan sebuah pengutuhan. Pengalaman kebertubuhan atas dasar cinta itu sendiri merupakan pengutuhan. Ketakterlukiskan tentang orgasme dalam ruang imajinasi ditampakkan dalam bentuk orgasme seksual hormonal, membuktikan bahwa ada pengutuhan. Pengutuhan karena terjadi peleburan di antara sepasang pencinta. Orgasme seksual membuktikan secara jelas bahwa dua orang pencinta menjadi satu dalam ikatan cinta. Mereka tidak lagi dua melainkan satu.

Tetapi perlu dicatat bahwa orgasme seksual cipta gairah ruang imajinasi adalah sesuatu yang labil dan netral. Orgasme seksual atas dasar cinta melahirkan pengutuhan, sedangkan yang berlandaskan pada nafsu menceraikan. Pilihannya ada pada sang pencinta***.

***Kepustakaan :Awalnya tulisan ini dibuat karena “Orgazmo” sebuah film komedi porno yang oleh Los Angeles Times dijuluki sebagai ‘Bissfuly outrageuous’. Sebagai sebuah film komedi tentu yang ditampilkan adalah plesetan atas realitas, bahwa orgasme tidak hanya dapat terjadi harus dengan berhubungan badan, tetapi juga dengan Orgasmorator sejenis alat pembangkit gairah seks yang berpuncak pada orgasme. Dari sini lahirlah sebuah pertanyaan yang cukup serius ‘apa itu orgasme?. Jawaban atas pertanyaan inilah yang melahirkan tulisan kecil ini. Untuk memperkokoh argumentasi maka penulis mencoba mengelaborasi lebih lanjut uraian dosen filsafat saya pada STF Driyarkara,Franky Budi Hardiman tentang erotisme yang dimuat dalam Bentara Kompas, edisi Rabu 2 Juni 2004.

Aku Yang Terlempar, Sekuplet Sajak Gitanjali

“Aku tidak menyadari saat ketika aku pertama menyeberangi ambang kehidupan” demikian sekuplet puisi dari  Rabinranath Tagore dalam Gitanjali-nya. Dan tentang ketaksadaran mula-mula kehidupan seorang anak manusia serupa itu, merupakan sesuatu yang alamiah. Siapa pun akan mengalami itu, jika hendak menyeberangi ambang kehidupan. Tidak hanya Tagore, tetapi juga kau dan aku.

Tagore melukiskan tentang pengalaman eksistensial manusia dalam kehidupan. Bahwa, di ambang kehidupan manusia, manusia seperti terlempar dari alam misteri menuju ke alam misteri yang lain, dari kegelapan yang satu ke kegelapan yang lain. Kehidupan seperti  terjadi begitu tiba-tiba, menyembul dari kandungan misteri yang satu menuju sebuah misteri yang lain yang juga tidak kita ketahui sebagai apa.

“Kekuatan apa yang membuatku keluar ke dalam misteri yang luas ini seperti sebuah kuncup dalam hutan di tengah malam!” kata Tagore. Dunia kehidupan awal manusia adalah misteri yang dilukiskan sebagai hutan, malam, gelap dan gulita. Dalam situasi tersebut manusia tidak dapat mendefinisikan dirinya. Manusia menyadari dirinya sebagai orang asing, sesuatu yang terlempar-dilemparkan ke dalam dunia.

“Ketika di pagi hari aku melihat pada cahaya aku merasakan dalam satu saat bahwa aku orang asing di dunia ini, bahwa hal gaib tanpa nama dan bentuk telah menangkapku dalam tangannya dalam bentuk ibuku sendiri”

Namun di tengah misteri dan situasi kertelemparan itu, manusia sesungguhnya adalah kuncup dan atau tunas yang secara eksistensial menjadi ada dalam kehidupan. Dan itu baru diketahui ketika proses kesadaran itu terjadi.

Sebagai kuncup, manusia menjadi hidup dan ada dalam kehidupan dengan tumbuh dan berkembang. manusia mencoba untuk menyibak misteri-misteri kehidupan, beralih dari ketidaktahuan menjadi tahu. Melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam keber-ada-annya, dengan ada-nya sendiri dan dengan ada-ada yang lain. Manusia memilih dan mencoba untuk memilahpisahkan mana yang sesuai dan baik baginya, dan mana yang tidak.

Inilah yang disebut sebagai proses kesadaran manusia dalam kehidupan. Sebuah proses yang tidak hanya berusaha untuk mempertanyakan dirinya sendiri sebagai apa dan siapa, tetapi juga mempertanyakan dari mana dan mau ke mana kehidupan datang dan diarahkan dalam misteri kehidupan yang luas dan tinggi, jauh dan dalam ini. Dan proses kesadaran manusia dalam kehidupan adalah sebuah proses yang berulang.

Kata Tagore “Aku mengira bahwa perjalananku telah tiba di akhirnya dan pada batas terakhir kekuatanku, bahwa jalan hidupku tertutup, bahwa bekal telah tandas dan waktu tiba untuk berlindung dalam kesunyian yang tidak dikenal. Namun, aku mendapatkan bahwa kehendakmu tidak mengenal akhir dalam diriku. Dan ketika kata-kata lama mati di lidah, melodi baru menyeruak dari hati ini; dan dimana jalan setapak lama telah hilang, negeri baru terungkap dengan pesonanya”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: