Posts tagged ‘cerita rakyat indonesia’

Manfaat Mendongeng Sebelum Tidur

Bocah-bocah di Padang Sumatera Barat pasti mengenal sosok anak durhaka yang bernama Malin Kundang. Bocah-bocah di Parahiyangan Jawa Barat pasti kenal betul sosok Sangkuriang dalam dongeng asal muasal gunung Tangkuban Perahu. Bocah-bocah di Silahan Tapanuli Utara pasti mengenal sosok Datu Dalu dan adiknya Sangmaima dalam kisah asal mula danau Si Losung dan Si Pinggan. Demikian juga dengan bocah-bocah dari Madura, mereka pasti kenal dengan prajurit tangkas dan tampan yang akhirnya dinobatkan oleh raja Majapahit menjadi adipati Sumenep yakni Joko Tole.

Itu hanya sebagian kecil cerita rakyat dan atau kisah dongeng yang kita kenal. Menariknya adalah bahwa semua dongeng dan cerita rakyat yang tumbuh di bumi nusantara selalu mengandung pesan dan makna yang mendalam bukan hanya tentang keyakinan dalam berelasi antar sesama manusia, dalam membangun motivasi, memupuk semangat perjuangan, kerekatan social, memupuk nilai kemanusiaan, dan lingkungan hidup, tetapi juga perihal bangunan personal dalam relasi manusia dengan Sang Pencipta. Lantaran kaya akan makna itulah para orang tua merasa penting untuk mendongeng.

Saya mencatat ada empat manfaat yang didapat seorang bocah ketika mendengar sang ibu atau bapak mendongeng dan atau mengisahkan cerita-cerita rakyat:  Pertama, tujuan pertama dan utama, yang lazim dilakukan para orang tua adalah agar bocah segera menutup mata dan tidur lebih awal. Kedua, adalah agar si bocah dapat menangkap maksud cerita selanjutnya melaksaksanakan pesan yang hendak disampaikan.

Ketiga, mendongeng adalah bentuk investasi akademik bagi seorang bocah. Pada ketika bocah, sang bocah mungkin tampak hanya merekam ‘sambil lalu’ tentang apa yang dikisahkan, namun jika diurai secara psikologis, sebenarnya secara perlahan terpola dalam kepala sang bocah perihal gagasan-gagasan cerita, alur dan jalan cerita, konflik dan penyelesaiannya serta relevansinya. Apalagi jika mendongeng dalam keluarga dilakukan sebagai kegiatan yang rutin dan berulang, bukan tidak mungkin pada saat yang sama sang bocah sudah sedang diajarkan bagaimana cara membaca dan menuliskan kisah, menangkap gagasan dan mengisahkannya kembali.

Keempat adalah agar warisan dan tradisi ‘bertutur’ tidak segera hilang. Mendongeng selain menjadi media ajar dan penyampai pesan, juga merupakan gelanggang pewarisan tradisi bercerita dan berkisah secara lisan. Di tengah arus globalisasi, dimana mata lebih banyak bekerja untuk menonton dan memperhatikan, mendongeng menjadi penting untuk penyeimbang agar para bocah dilatih-ajar untuk lebih banyak mendengarkan dan selanjutkan mempraktikan (melaksanakan).

Kelima, tentu saja dalam dan melalui dongeng dan mendongeng, sang bocah lebih menghargai martabat bangsa, menghormati budaya dan tradisi, ringkasnya menjadi pribadi yang berwawasan nusantara. Dalam dan melalui dongeng anak-anak dihantar-ajak mengelilingi rimba pesan dan warisan makna budaya bangsa. Bocah-bocah dihantar-ajak membuka pandangan untuk tidak hanya mengelilingi tempat-tempat di berbagai pelosok nusantara, tetapi juga pada saat yang sama menghargai perbedaan budaya dan tradisi sehat bangsa.

Itulah lima tujuan yang menurut hemat saya menjadi kekuatan utama dalam dongeng dan mendongeng. Melampaui dari sekedar penyampaikan pesan, sebagai bocah saya dihantar-ajak mengelilingi rimba tradisi dan budaya, adat dan kebiasaan sesama saudara saya di berbagai pelosok dan belahan Nusantara.

Akhir kata, sebagai penutup catatan ini, saya hendak membagikan dua kisah atau dongeng dari Rongga Manggarai Flores Nusa Tenggara Timur yang saya salin kembali dari NUNU NANGE NGAJA RONGGA (CERITA BAHASA RONGGA/STORIES FROM RONGGA) yang disunting-sari oleh I Wayan Arka dam Ivan Ture, (Diterbitkan pertama kali tahun 2007 oleh Departemen Linguistik, Research School of Pacific and Asian Studies, The Australian National University, Canberra ACT 260, Australia).

Ana Ta Pota (Anak Yang Hilang)

Dahulu kala ada sepasang suami istri, dengan anak semata wayang, nona Milo. Mereka tinggal di kebun. Pada siang hari mereka menyiangi rumput. Sedangkan nona Milo tidur sendiri di pondok. Tidak lama kemudian datanglah Orang Utan membawa pergi anak itu. Seekor kera yang berada di pinggiran kebun melihat kejadian tersebut. Karena merasa lapar, suami dan istri itupun pulang ke pondoknya.

Sesampainya di pondok mereka tidak melihat anaknya, lalu mereka mencarinya ke sekeliling kebun. Kemudian mereka bertemu dengan seekor kera. Tanya Kera, “Kalian sedang mencari apa?” Jawab mereka, “Kami sedang mencari anak kami yang hilang”. Jawab Kera, “Tadi saya melihat seorang ibu tua, susunya panjang, sedang menggendong seorang anak gadis menuju ke hutan rimba. Mereka lalu meminta Kera menunjukkan jalan menuju ke hutan yang dimaksud.

Mereka berangkat pagi buta, naik gunung turun gunung. Sampailah mereka di sebuah dataran di sebuah bukit. Di sana ada sebuah batu Rongga yang besar. Dari kejauhan mereka mendengar suara Orang Utan, “Terbukalah kau batu, terbukalah, biarkan anak ini masuk lalu tertutuplah engkau kembali” Setibanya di sana suami istri itu mendapatkan anaknya sudah berada di dalam batu. Merekapun menangis sejadinya, karena itu Kera merasa iba lalu dia berkata, “Saya akan pergi mencari bantuan” “Baiklah”, Kata mereka.

Kera pun lalu pergi meminta bantuan kepada Kerbau, Kuda, dan Landak, katanya kepada mereka, ”Saya datang kemari meminta bantuan kalian untuk menjungkir batu di hutan sebelah sana”. “Untuk apa dijungkir?” Tanya mereka “Ada seorang anak gadis yang diculik oleh Orang Utan dan di masukkan ke dalam liang sebuah batu, yang kemudian batu itu tertutup rapat.” jawab kera itu “Baiklah, tapi apa imbalannya kalau kami bisa melakukannya?” Jawab Kera, “Kata orang tua anak itu, barang siapa yang bisa menyelamatkan anaknya akan di berikan sesuatu yang tidak ada di dunia ini”.

Kemudian mereka diantar untuk bertemu dengan orang tua nona Milo. Orang tua nona Milo merasa sangat senang, lalu berkata, “Tolonglah kami untuk menjungkir batu ini.” Kemudian dilanjutkan dengan nyanyian katanya, “Tuan Kerbau oh tuan Kerbau tolong tandukkan batu ini”. Dengan segenap kekuatanya ditubruklah batu itu, namun sayang gagal. Karena gagal mereka meminta bantuan tuan Kuda. Lalu dia kembali bernyanyi, “Tuan Kuda, oh tuan Kuda tendanglah batu ini” Setelah ditendang-tendang, namun gagal juga. Lalu dilanjutkan oleh Babi yang ternyata gagal juga.

Semua mereka yang ada di situ  tidak dapat membantu untuk mencungkil batu itu. Tinggalah landak yang belum melakukannya. Ibu itu meminta bantuan landak sambil bernyanyi, “Tuan Landak, oh tuan landak, cungkilah batu ini” Usaha tuan landak ternyata berhasil. Nona Milo berhasil dikeluarkan dari lubang itu dan diapun selamat. Karena Landak berhasil, dia diberikan hadiah berupa istana dalam tanah. Itulah sebabnya sampai sekarang mengapa babi landak suka tinggal dalam lubang batu ataupun tanah.

 

Nenek Ete

Suaminya Meo bernama kakek Mbadhu. Ketika kakek Mbadhu pergi berdagang, istrinya hamil tiga bulan. Dia berpesan apabila anak yang lahir perempuan, maka bunuh dia, dan apabila laki-laki peliharalah dia, agar menemani dia berdagang nanti. Sembilan bulan kemudian, Meo melahirkan anak perempuan. Karena sayang anaknya, maka ditukarkan dengan membunuh seekor anjing. Anaknya dititipkan pada nenek Ete yang tinggal di sungai Kia.

Bulan Oktober kakek Mbadhu pulang berdagang. Ketika sampai di rumahnya, dia bertanya kepada Meo, “Kamu melahirkan anak perempuan atau laki-laki”, tanya kakek Mbadhu “E, anak perempuan”, jawab Meo.

Karena lahir anak perempuan kakek Mbadhu marah. Kemudian dia meminta daging anak tersebut. Lalu Meo memberi daging anjing yang ditukarkannya tadi. Karena kakek Mbadhu tidak mengetahuinya, maka langsung dimakannya. Setelah itu, ia terkena penyakit kudis, dan dia tidak lagi pergi berdagang.

Di kemudian hari orang memberitahu Mbadhu, bahwa Meo menukar anaknya dengan daging anjing. Sebelum Mbadhu tahu, anak tersebut sudah menjadi gadis remaja. Ketika Meo datang, Mbadu bertanya dan disertai tamparan. Karena takut ditampar lagi, Meo memberitahukan semuanya. Lalu Mbadhu menyuruhnya untuk memanggil anaknya di rumah Embu Ete. Sesampainya Meo disana dia memanggil, “Hai anakku kesinilah dulu, ayo ikut bersamaku.” Lalu anaknya menjawab “Untuk apa Ibu, saya tidak akan pergi”.

Karena anaknya tidak mau, Meo langsung pulang. Sesampainya Meo di rumah, suaminya sangat marah, lalu Meo dipukuli lagi oleh kakek Mbadhu. Empat belas hari kemudian,. anaknya pulang diantar oleh Embu Ete ke rumah kakek Mbadhu. Melihat kedatangannya, Meo menangis karena kasihan anaknya. Ketika sudah bertemu, mereka langsung pergi mencari tempat untuk membunuh anak tersebut. Waktu dalam perjalanan, anaknya bertanya, “Bapak, tempatnya di sini atau di mana?” “E, di sana pohon mengkudu, di Batu datar”, jawab ayahnya. Sesampainya di Batu datar, anaknya bertanya lagi, “Bapak bagaimana dengan posisi terlentang ataukah telungkup”. Ayahnya menjawab “Tidur terlentang saja”.

Setelah itu, dia membunuh anaknya, dicincang-cincang dagingnya lalu dia mengambil hatinya untuk dimakan. Jasad anaknya dibiarkan begitu saja. Sampai di rumah dia menyuruh Embu Ete untuk pergi mengambil jasad anaknya itu tadi. Tapi Embu Ete mencari burung elang untuk meminta bantuannya, dengan berkata, “Hai burunng elang, bisakah kamu membantu saya untuk mengambil jasad cucuku, di batu yang datar itu?” Burung elang menjawab, “Baiklah, saya akan membantu kamu. Tapi apakah saya bisa atau tidak?”

Burung elangpun mencoba melakukannya. Tapi dia tidak berhasil. Karena burung elang tidak berhasil, embu Ete meminta bantuan elang merah. Burung elang mau membantunya tapi dia meminta imbalan dari Embu ete, katanya, “Saya bisa melakukannya. Tapi apa imbalan untuk saya?” Jawab Embu Ete, “Baiklah, saya akan berikan kamu hadiah, asalkan kamu berhasil dulu.”

Saat itu juga burung elang terbang untuk mengambil jasad yang ada di atas batu datar itu. Diapun berhasil membawa jasat itu, tetapi jasat itu sudah bauh dan membusuk. Kakek Mbadhu terharu melihat jasad anaknya itu dan diapun menangis. Setelah itu Embu Ete mengambil jasad itu dan membungkusnya dengan daun pisang yang sudah disiapkannya. Dia menaruhnya di atas loteng rumah. Agar jasad itu tidak membau lagi, dia membuat api di bawahnya lalu mengipasngipas

jasad tersebut.

Beberapa jam kemudian, dia membuka bungkusan itu. Betapa kagetnya dia saat melihat jasad itu telah berubah menjadi seekor ulat. Dia mengipas terus dan akhirnnya ulat itu berubah menjadi manusia, dan berkata, “Nenek, badan saya panas sekali.” Embu ete memberi pisang kepada anak itu untuk dimakan, tetapi anak itu tidak bisa memakannya. Embu Ete pun membungkus lagi anak tersebut. Dia menjerit kepanasan. Lalu Embu Ete membuka lagi bungkusan itu dan akhirnya anak itu mau memakan pisang dan bubur yang diberikan embu Ete. Embu Etepun memakaikan pakaian kepada anak itu. Ketika anak tersebut sudah dewasa, nenek Ete menyuruh anak itu kerumah orang tuanya. Katanya, “Cucuku, pergilah kamu menengok orang tuamu dulu” Diapun pergi kerumah orang tuanya. Sampai di sana dia hanya menjumpai ibunya. Ibunya sangat senang bercampur kaget. anaknya dan mencuci rambut anak itu sebagai ungkapan rasa syukur.

Saat dia sedang mencuci rambut anaknya, suaminya datang. Anak itu lansung bersembunyi. Saat dia menyuruh istrinya untuk membuatkannya kopi, diam-diam anaknya menaruh racun dalam minuman itu. Beberapa saat kemudian, ayahnyapun mati karena keracunan. Setelah ayahnya meninggal, anak itu tinggal bersama ibunya.

Suatu hari embu Ete datang memberi cincin emas untuk cucunya itu. Selain cincin, embu Ete juga memberikan emas yang banyak. Akhirya cucunya menjadi kaya raya. Beberapa hari kemudian, burung elang merah datang menagih janjinya kepada embu Ete, katanya, “Nek, nenek dulu pernah berjanji akan memberikan saya hadiah kalau saya bisa melakukan tugasku” “Saya ingin memberikan kamu seekor kerbau” Jawab nenek Ete. “Tapi saya tidak punya tangan untuk mengangkatnya”, kata elang itu. “Kalau begitu saya tukarkan dengan padi?”, nenek itu bertanya. Burung elang itu menolaknya karena dia tidak biasa memakan padi .

Akhirnya nenek itu berkata, “Kalau begitu, apa yang kamu inginkan sekarang?” “Saya menginginkan tiga belas ekor anak ayam yang disimpan dalam sangkar”, jawab elang itu Nenek itu mengabulkan permintaannya, tapi dia hanya mampu memberikan sepuluh sangkar ayam saja. Tapi sampai sekarang, tiga sangkar yang sisa itu belum juga diberikan oleh nenek Ete.

Itulah sebabnya mengapa burung elang suka memakan anak ayam, karena embu Ete belum melunasi utangnya, yaitu tiga sangkar ayam anak.

Kunjungi pula 1001 Cerita Anak Nusantara di halaman blog dan website ini:

Cerita Rakyat Nusantara

Legenda Kita

Dongeng

Cerita Rakyat Indonesia

Cerita Anak

Cerita Asli Indonesia

Kumpulan Cerita Rakyat Indonesia

Flolktales Nusantara

Budaya Bangsa Cerita Rakyat

Cerita Rakyat Rongga Flores NTT

Ketika Aditya Melawan Kutuk Air Susu si Emak

Tidak mengakui ibu kandung sebagai bunda yang telah mengandung-lahirkan adalah dosa-salah terbesar seorang anak manusia laki-laki dan perempuan. Itu sama halnya, (dengan) secara teologis berarti menampik makna ‘penciptaan’ dalam diri setiap manusia dan secara filosofis berarti menolak eksistensi pribadi manusia yang sesungguhnya sebagai ‘ibu’ bagi keberlanjutan kehidupan. Sederetan adagium semisal ‘Surga terletak di bawah kaki ibu’, ‘kasih ibu sepanjang jalan’,  dan seterusnya sesungguhnya tidak sekedar adagium kosong tanpa makna, tetapi mengandung makna teologis-filosofis di atas.

Dalam praksisnya, secara etis-moral, justru menjadi lebih bernyawa. Bahwa setiap manusia tidak hanya diminta-tuntut untuk tidak hanya mengakuinya sebagai ibu yang melahir-besarkan kita dan kehidupan, tetapi juga menempatkan ibu dalam tempat yang bermartabat. Lantaran itu tidak heran jika muncul ajaran-ajaran moral perihal vital dan bahkan sakralnya peran ibu dalam kehidupan. Ajaran-ajaran tersebut tidak hanya meletup-lejit dari mulut kaum feminis dan pembela hak asasi manusia, tetapi juga mulut para penutur-penutur dongeng, termasuk ibu kita sendiri yang ketika kita bocah, selalu setia  mendongeng.

Masih Ingat Dua Dongeng Ini?

Mande Rubayah terhenyak, air matanya jatuh. Lututnya pun tunduk menumbuk debu. Dengan tangan menengadah, sepenggal doa yang bagai sumpah terucap “Anak muda, jika kau adalah anakku yang kuberi nama Malin Kundang, yang kukandung selama Sembilan bulan sepuluh hari. Dan kubesarkan dengan cucuran air susuku, maka terkutuklah engkau” kemudia ia melanjutkan “Ya Allah ya Tuhanku, Engkau lebih tahu hukuman apa yang harus kau berikan kepada anak durhaka ini! Anak yang telah mencaci maki ibunya sendiri! Menghina ibu kandung di hadapan istrinya dan orang banyak! Ya Allah tunjukkanlah kebesaran-Mu”.

Sumpah itu akhirnya terjawab juga. Di teluk Air Manis, kapal pesiar yang mewah milik Malin Kundang hancur diamuk badai gelombang. Sudah ia berteriak “Emak…..ampuni akuuuu…cabut kutukanmu……..!” tapi nasi sudah menjadi bubur, rasa sakit hati seorang ibu tua telah berubah menjadi kekuatan alam yang dasyat. Malin kundang terhempas dan terbuang jadi batu. Suaranya menggema menampar karang-karang.

Pada suatu hari, hiduplah sebuah keluarga di pesisir pantai wilayah Sumatra. Keluarga itu mempunyai seorang anak yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keluarga mereka sangat memprihatinkan, maka ayah malin memutuskan untuk pergi ke negeri seberang.

Besar harapan malin dan ibunya, suatu hari nanti ayahnya pulang dengan membawa uang banyak yang nantinya dapat untuk membeli keperluan sehari-hari. Setelah berbulan-bulan lamanya ternyata ayah malin tidak kunjung datang, dan akhirnya pupuslah harapan Malin Kundang dan ibunya.

Setelah Malin Kundang beranjak dewasa, ia berpikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Akhirnya Malin Kundang ikut berlayar bersama dengan seorang nahkoda kapal dagang di kampung halamannya yang sudah sukses.

Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Malin belajar dengan tekun tentang perkapalan pada teman-temannya yang lebih berpengalaman, dan akhirnya dia sangat mahir dalam hal perkapalan.

Banyak pulau sudah dikunjunginya, sampai dengan suatu hari di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, karena ketika peristiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang ditolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu, masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia disambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. “Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?”, katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh. “Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku”, kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura-pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang-camping. “Wanita itu ibumu?”, Tanya istri Malin Kundang. “Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura-pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan harta ku”, sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan diperlakukan semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata “Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu”. Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.

Cerita Rakyat “Malin Kundang” ini diceritakan kembali oleh Kak Ghulam Pramudiana

 

Sumber:

http://www.ceritaanak.org/index.php?option=com_content&view=article&id=58:cerita-rakyat-malin-kundang&catid=36:cerita-rakyat&Itemid=56

Tidak hanya Malin Kundang di tanah Minang yang tutup usia lantaran dikutuk sumpah ‘air susu’ sang Emak. Di daerah Sumatera Timur, khususnya di Labuhan Batu ada pula kisah tentang Si Kantan. Seorang pemuda tampan yang pernah miskin-melarat namun akhirnya hidup dalam kemewahan. Di tengah gelimangan harta itu, Kantan menjadi lupa diri jika ia masih punya ibu, sekalipun miskin. “Kantan…! Kau sudah durhaka, Nak. Kau tidak percaya ini ibu kandungmu…kau lupa pada ibu yang telah melahirkanku!” kemudian sang ibu melanjutkan “Baiklah Kantan, Engkau telah durhaka. Apabila engkau memang benar anak kandungku, inilah tandanya, Kantan…!” Ujar sang emak sambil memegang dadanya. Tiba-tiba memerciklah air susu dari dada renta itu.

Serupa Malin Kundang, Si Kantan pun mengalami nasib yang sama. Kapal Si Kantan  yang baru saja bergerak hendak memutar haluan, tiba-tiba berguncang diterjang gelombang. Jerit dan tangis terdengar menggema seisi geladak kapal. Tidak lama kemudian kapal kapal yang telah dipenuhi air itu tenggelam bersama si Kantan yang durhaka. Tidak ada seorang pun yang selamat, selain hanya sepenggal pantun terus menggema melegenda “Antara Bilah dengan Panai, di tengah-tengah Pulau Kantan. Karena ulah dan perangai, di situlah binasa badan”.

 

Alkisah, pada zaman dahulu kala, di tepi sebuah sungai di daerah Labuhan Batu, Sumatera Utara, hiduplah seorang janda tua bersama seorang anak laki-lakinya bernama si Kantan. Mereka tinggal di sebuah gubuk kecil yang sudah reot. Ayah si Kantan, sudah lama meninggal dunia. Sejak itu, ibu si Kantan-lah yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Si Kantan adalah anak yang rajin dan tekun bekerja. Setiap hari ia membantu ibunya mencari kayu bakar di hutan untuk dijual ke pasar.

Pada suatu malam, ibu si Kantan bermimpi didatangi oleh seorang kakek tua yang tidak dikenalnya. Dalam mimpinya, kakek tua itu menyuruhnya pergi menggali tanah di sebuah tempat di dalam hutan. Pada pagi harinya, ia menceritakan mimpinya tersebut kepada si Kantan. “Wah, itu mimpi yang bagus, Bu! Sebaiknya kita laksanakan petunjuknya. Siapa tahu ini bisa mengubah nasib kita,” ujar si Kantan.

Maka, ibu dan anak itu pergi ke hutan dengan membawa linggis. Sesampainya di hutan, ibu si Kantan berusaha mengingat-ingat petunjuk yang diterima dari kakek tua di dalam mimpinya. “Benar, Anakku! Tempatnya persis di sini!” seru ibu Kantan dengan yakinnya. “Baiklah, Bu! Semoga ingatan ibu tidak keliru,” kata si Kantan.

Si Kantan pun mulai menggali tanah di bawah sebuah pohon yang besar dengan penuh semangat. Setelah menggali sedalam dua kaki, si Kantan pun menemukan sebuah benda yang terbungkus kain putih yang sudah usang.

“Bu, saya menemukannya!”

“Benda apakah itu, Nak?” tanya sang ibu penasaran.

“Entahlah, Bu!” jawab si Kantan.

Tanpa berpikir panjang, benda panjang yang terbungkus kain itu segera dibukanya. Ternyata benda itu sebuah tongkat emas yang berhiaskan permata.

“Lihatlah, Bu! Benda ini sangat luar biasa.”

“Benar, Anakku! Barangkali Tuhan ingin mengubah nasib kita yang telah lama menderita ini.”

Setelah itu, mereka pun pulang dengan membawa tongkat emas itu. Sesampainya di gubuk, sang ibu menghendaki agar benda itu dijual saja. Hasilnya akan digunakan untuk membeli rumah baru dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Tapi, Ibu! Siapa yang sanggup membeli benda yang sangat berharga ini?” tanya si Kantan.“Benar juga katamu, Nak! Penduduk di desa ini rata-rata hanya petani biasa, yang penghasilannya pas-pasan. Bagaimana jika kamu jual saja di pulau lain?” usul ibu si Kantan. Si Kantan menerima usulan ibunya dengan senang hati. Namun, di sisi lain, ia sangat sedih karena akan meninggalkan ibunya yang sudah tua itu sendirian.  

Keesokan harinya, si Kantan pun berpamitan kepada ibunya. “Jaga diri baik-baik, ya Bu! Setelah benda ini terjual, Kantan akan segera kembali menemui ibu,” ucap si Kantan kepada ibunya. “Baiklah, Anakku! Berangkatlah dan hati-hati di jalan! Jangan lupa cepat kembali kalau sudah berhasil,” seru sang ibu. “Baiklah, Bu! Kantan berangkat!” pamit si Kantan sambil mencium tangan ibunya. Tiba-tiba suasana haru menyelimuti hati ibu dan anak itu. Tak terasa, sang ibu meneteskan air mata, lalu dipeluknya anak satu-satunya itu dengan erat-erat. “Nak, Jangan lupakan ibumu di sini. Cepatlah kembali!” pesan sang ibu. “Iya, Bu! Kantan berjanji kembali secepatnya,” jawab si Kantan membalas pelukan ibunya.   

Setelah itu, berangkatlah si Kantan dengan sebuah tongkang menyusuri Sungai Barumun menuju laut lepas, dan seterusnya pergi ke Malaka. Berhari-hari sudah si Kantan terombang-ambing oleh gelombang di tengah laut. Meskipun perjalanan itu menguras tenaga dan membosankan, namun hal itu tidaklah membuat niat si Kantan surut. Ia yakin bahwa hasil dari penjualan tongkat emas itu akan mengubah nasibnya menjadi lebih baik.

Setibanya di Malaka, ia pun segera menawarkan kepada para pedagang di sana. Seluruh pedagang di kota itu sudah ia tawari, namun tak seorang pun yang sanggup membelinya. Ia pun berniat kembali ke kampung halamannya tanpa membawa hasil. Dalam perjalanan menuju ke pelabuhan, ia bertemu dengan beberapa hulu balang dari Kerajaan Malaka yang sedang berkeliling ronda di kota itu.

“Hai, Anak Muda! Benda apa yang sedang kamu bawa itu?” tanya salah seorang hulu balang.

“Tongkat Emas, Tuan!” jawab si Kantan. Lalu ia menceritakan maksud kedatangannya ke kota itu.

“Bagaimana jika benda itu kamu tawarkan kepada raja kami? Siapa tahu beliau tertarik,” hulu balang lainnya menawarkan.

Si Kantan menerima tawaran itu. Ia kemudian dibawa untuk menghadap kepada sang raja. Setibanya di istana, para hulu balang melaporkan kepada raja, bahwa pemuda miskin itu ingin menjual sebuah benda yang sangat berharga. Sang Raja kemudian mengamati benda itu. “Aduhai, istimewa sekali benda ini,” gumam Baginda Raja.

Setelah itu, ia berkata kepada si Kantan, “Hai, Anak Muda! Aku sangat tertarik dengan tongkat emas engkau ini. Tapi, aku tidak ingin membelinya dengan uang. Bagaimana jika engkau tinggal di istana ini dan aku jadikan menantuku?” sang Raja menawarkan.

“Ampun, Baginda! Jika itu kehendak Baginda, hamba menerima tawaran itu,” jawab si Kantan sambil memberi hormat.

Seminggu kemudian, si Kantan pun dinikahkan dengan putri raja yang cantik jelita. Pesta pernikahannya dilangsungkan dengan sangat meriah. Sejak itu, si Kantan resmi menjadi anggota keluarga istana Kerajaan Malaka. Ia bersama istrinya hidup bahagia di istana. Kehidupan yang serba mewah membuat si Kantan lupa kepada ibunya yang sudah tua dan hidup sendirian di kampung. Sementara itu, sang istri selalu mendesak ingin bertemu mertuanya dan ingin melihat kampung halaman suaminya. “Kanda… !

Kapan Kanda akan mengajak Dinda untuk menemui ibu di kampung?” tanya sang istri. Mula-mula si Kantan enggan mengabulkan permintaan istrinya dengan alasan sibuk mengurus istana. Namun, karena didesak terus oleh istrinya dan direstui oleh Baginda Raja, maka si Kantan pun tidak bisa mengelak lagi. “Baiklah, Dinda! Besok pagi kita berangkat,” janji si Kantan kepada istrinya.

Dengan menggunakan kapal pribadinya yang besar dan mewah, si Kantan dan istrinya beserta puluhan prajurit istana berlayar menuju Pulau Sumatera. Setelah berhari-hari mengarungi Selat Malaka, akhirnya kapal si Kantan berlabuh di kota kecil, Labuhan Bilik, yang terletak di muara Sungai Barumun. Penduduk setempat sangat terkejut dengan kehadiran kapal sebesar itu. Mereka pun berdatangan ke pelabuhan ingin melihatnya dari dekat.

 “Waaah, megah sekali kapal itu! Tapi, siapa pemiliknya?” kata seorang penduduk penasaran.

“Hai, lihat itu!” seru penduduk lainnya sambil menunjuk ke arah seorang laki-laki gagah bersama seorang wanita cantik berdiri di anjungan kapal.

“Bukankah laki-laki itu si Kantan?” tanya seorang penduduk mengenali si Kantan.  

“Benar! Ia adalah si Kantan, pemuda yang tinggal di gubuk di tepi sungai itu,” kata seorang penduduk yang juga mengenal si Kantan.

Maka tersiarlah kabar bahwa si Kantan telah menjadi kaya-raya, bagai seorang raja dengan kapalnya yang besar dan megah. Akhirnya, kabar kedatangan si Kantan pun terdengar oleh ibunya. Perempuan tua itu sangat gembira, karena anak yang ditunggu-tunggunya selama bertahun-tahun telah kembali. Saat menerima berita itu, ia memutuskan untuk menunggu anaknya dengan sabar di gubuk reotnya. Namun, setelah beberapa lama menunggu, anak yang dirindukannya tak kunjung datang. Akhirnya, ibu tua itu memutuskan untuk menyusul anaknya di pelabuhan.

Dengan menggunakan sampan, janda tua itu menyusuri Sungai Barumun menuju pelabuhan tempat kapal si Kantan berlabuh. Ia sudah tidak sabar lagi ingin memeluk anak yang sangat disayanginya itu. Dengan sekuat tenaga, ia mengayuh sampannya lebih cepat lagi. Akhirnya, tampaklah dari kejauhan sebuah kapal besar sedang bersandar di pelabuhan. “Jika benar kata orang-orang, kapal itu pasti milik si Kantan anakku,” pikir janda tua itu. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia terus mengayuh sampannya mendekati kapal megah itu.

Ketika sampan yang dinaiki sudah semakin dekat dengan kapal besar itu, ia segera memanggil anaknya. “Kantaaan… !!! Kantaaan… !!!  Kantan anakkuuuuu… !!!”

Mendengar suara teriakan dari luar kapal, istri si Kantan pun bertanya kepada si Kantan,

“Kanda! Suara siapakah yang memanggil-manggil nama Kanda?”

“Ah, itu hanya orang gila,” jawab si Kantan pura-pura tidak peduli, walaupun sebenarnya ia sangat mengenal bahwa suara itu adalah suara ibunya. Namun, ia malu memperkenalkan istrinya dengan ibunya yang miskin lagi tua itu.

Panggilan si ibu kembali terdengar semakin dekat.

“Kantan, Anakku!!! Kamu di mana… ?”

“Ini ibumu datang, Nak!” teriak sang ibu.

Maka semakin yakinlah istri si Kantan, kalau yang memanggil suaminya itu adalah mertuanya. Ia semakin penasaran ingin melihat ibu mertuanya yang sudah lama ia rindukan. Ia pun segera lari keluar kapal, tapi disusul oleh si Kantan. Dari anjungan kapal, tampaklah oleh mereka seorang perempuan tua yang sedang mendayung sampan ke arah kapalnya.

 “Kantaaan…Anakku! Aku ini ibumu yang telah kau tinggalkan dulu,” teriak ibu tua itu.

“Hei, perempuan jelek! Enak saja mengaku-ngaku sebagai ibuku. Aku tidak punya ibu seburuk kamu!” hardik si Kantan dengan kesal.

“Tenang, Kanda! Siapa tahu wanita itu benar ibu Kanda. Sepertinya ia sangat mengenal Kanda,” sahut sang istri menenangkan suaminya.

“Tidak, Istriku! Ia bukan ibuku. Ibuku masih muda dan cantik,” bantah si Kantan.

“Hei, orang tua gila! Jangan dekati kapalku. Dasar perempuan pembawa sial!” si Kantan kembali mencaci-maki ibunya.

“Pengawal! Usir dia dari sini!” perintah si Kantan.

Setelah beberapa pengawal mengusir perempuan tua itu, si Kantan kembali memerintahkan pengawalnya untuk memutar haluan kapal dan kembali ke Malaka.

Sementera itu, perempuan tua itu bagai disambar petir melihat perilaku anak kesayangannya, yang sungguh di luar dugaan. Dadanya terasa sesak, air matanya pun tak terbendung lagi. Dengan sisa tenaganya, ia mengayuh sampannya kembali ke gubuknya dengan perasaan hancur-lebur. Ia sangat sedih karena telah diusir oleh anak kandungnya sendiri. Dengan deraian air mata, ia pun berdoa, “Ya Tuhan, anak itu telah mendurhakai ibunya yang telah melahirkan dan membesarkannya ini. Berilah ia pelajaran, agar ia menjadi anak yang tahu berbakti kepada orang tua!”

Baru saja ucapan itu lepas dari mulut sang ibu, tiba-tiba petir menyambar, hujan badai yang sangat dahsyat pun datang. Tak berapa lama, air Sungai Barumun pun bergulung-gulung lalu menghantam kapal si Kantan dengan bertubi-tubi. Tak ayal lagi, kapal besar yang megah itu pun tenggelam ke dasar Sungai Barumun. Seluruh awak kapal tak dapat menyelamatkan diri, termasuk si Kantan dan istrinya. Setelah kapal itu sudah tak tampak lagi, suasana kembali tenang seperti semula.

Beberapa hari kemudian, muncullah sebuah pulau kecil di tempat kejadian itu, yaitu tepatnya di tengah-tengah Sungai Barumun dan berhadapan dengan kota Labuhan Bilik. Kemudian pulau itu oleh masyarakat setempat diberi nama Pulau Si Kantan.

 

Sumber:

http://dongengceritarakyat.blogspot.com/2011/03/asal-mula-pulau-si-kantan.html

Ketika Aditya Melawan Kutuk Air Susu si Emak

Dua dongeng di atas, mengingatkan aku pada Sinar dan Aditya. Dua bocah yang dalam hidupnya mencoba ‘melawan kutuk air susu si emak’. Keduanya bukan bocah pecundang. Keduanya bukan Malin Kundang dan Kantan. Keduanya mengalami sungguh getirnya kehidupan sebagaimana kegetiran yang dialami emak mereka masing-masing. Keduanya tidak hanya mamaknai secara sungguh makna adagium ‘kasih ibu sepanjang jalan’ dan atau ‘surga terletak di bawah kaki ibu’ tetapi juga pada saat yang sama dengan cara mereka masing-masing berjuang sekuat tenaga menyelamatkan gambaran dan citra penciptaan dalam kehidupan ini yakni Ibu.

Sinar, bocah kelas satu Sekolah Dasar Tondo Pata, Polewali Mandar, Sulawesi Selatan, membuat kita kagum. Banyak orang menyegutnya sebagai bocah terhebat lantaran tidak kenal lelah dan melepas keluh saat membantu ibunya. Setiap hari usai pulang sekolah, Sinar sendirian mengurus ibunya yang lumpuh. Sejak menderita lumpuh, kakak Sinar pergi merantau untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sang suami yang merantau ke Malaysia juga tidak ada kabar beritanya. Tinggalah Sinar seorang diri yang setia menemani ibunya. Sinar sungguh menjadi pelita bagi Emaknya.

Tidak hanya Sinar di Polewali Mandar, ada juga Muhammad Aditya di Gunung Kidul Nganjuk. Adit, demikian bocah 5 tahun itu biasa disapa, Dia menjadi perawat ibunya saat sang ayah menjalankan aktivitas pekerjaan di luar kota. Mulai dari membersihkan rumah, mencuci dan menjemur pakaian, hingga menyiapkan air mandi untuk sang ibu yang hanya bisa terbaring di kasur, dengan tulus dilakukannya. “Subhanallah. Kalau Adit tidak melakukan ini, saya tidak tahu bagaimana kehidupan ini bisa saya jalani,” kata Sunarti, ibu kandung Adit. Adit adalah anak satu-satunya yang dimiliki Sunarti dari pernikahannya dengan suami kedua yakni Rudi (45) asal Jombang. Dari pernikahan pertamanya wanita asal Tambak Sawah, Sidoarjo dikaruniai 3 anak laki-laki, yang saat ini sudah tinggal terpisah darinya.

wahai ananda kekasih bunda,

janganlah durhaka kepada ibu bapa

tunjuk ajarnya janganlah lupa

supaya hidup aman sentosa

Durhaka itu Dongeng

Apa yang hendak dikatakan dalam catatan kecil ini adalah bahwa berbakti kepada orang tua, lebih-lebih kepada ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan kita adalah fakta yang harus dilaksanakan oleh siapa pun. Hal ini diharus-wajibkan bukan hanya karena tuntutan moral-etis kehidupan, tetapi juga secara teologis dan filosofis adalah penting untuk dijadikan landasan peradaban.

Durhaka sesungguhnya dan seharusnya hanya ada dalam dunia dongeng, bukanlah fakta. Sekedar sebagai dongeng, semisal Malin Kundang dan Kantan, agar setiap kita paham dan sadar bahwa berbagai tindakan yang buruk terhadap orang tua tidak pantas untuk ditiru-terapkan dalam kehidupan. Sebaliknya yang perlu diteladani adalah fakta serupa yang dialami Sinar dan Aditya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 102 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: