Tulisan yang ditandai ‘budaya’

Cantiknya Gadis Aceh (bag. 2)

Pada 2008, nasib-takdir ternyata mengantarkan saya tiba di Meulaboh Aceh Barat. Di ‘bumi’ Teuku Umar Johan Pahlawan itu segala tanya yang pernah terbayang sudah sejak Sekolah Dasar yang selanjutnya (hampir lupa) lantaran mengendap sekian lama dalam benak akhirnya terjawab sudah. “Hmmm…ini toh gadis Aceh. Mengagumkan. Cantiknya gadis Aceh ternyata melampaui dari sekedar cantik secara fisik”

Well…mengapa saya mengatakan ‘Cantiknya Gadis Aceh melampaui dari sekedar cantik secara fisik’ jawabannya tunggal yakni karena mereka mengenakan busana muslim dengan jilbab sebagai ‘mahkota-nya’. Apa yang saya maksud dengan ‘busana Muslim dengan jilbab sebagai mahkotanya’ tidak sekedar sebagai kostum dan asesori pelengkap. Tetapi melampaui dari sekedar soal fisik tersebut, busana muslim merupakan gambaran diri, jadi diri dan identitas diri gadis atau perempuan Aceh.

Inilah cirri corak yang membedakan cantiknya gadis dan atau perempuan Aceh dengan cantiknya gadis atau perempuan lain di seantero Nusantara ini. ‘Cantiknya Gadis Aceh’ tidak hanya lantaran pendaran aura natural yang memang benar-benar cantik, tetapi juga karena dan harus ada aura kultural dan lebih dari itu adalah Islami.

Lantaran itu, saya berani berpendapat bahwa gadis Aceh disebut cantik jika dan hanya jika memenuhi syarat ini: yang beradab (moral cultural) dan berakhlak (moral Islami). Dan untuk itu harus diwujud-nyatakan dengan dan dalam berbusana muslim yang santun dengan jilbab sebagai ‘makhkotanya’. Titik, tanpa itu bagaimana mau membuktikan jati diri dalam praksisnya sebagai sebuah kesaksian?

Saya menekankan aspek di atas sebagai yang penting lantaran Aceh itu unik dan khas. Kekhasan dan keunikan Aceh terletak pada jati dirinya. Berbicara tentang Aceh berarti berbicara tentang Islam, melihat Aceh berarti melihat Islam, demikian sebaliknya. Islam dan ke-Islam-an begitu inkulturatif. Roh masyarakat Aceh adalah Islam. Inilah yang menjadi pembeda bagaimana masyarakat Aceh mengimani Allah dan mengamini Islam sebagai agama-Nya.

Namun kini, ‘Cantiknya Gadis Aceh’ sudah sedang berseteru dengan arus zaman. Di satu sisi arus menarik untuk tetap bertahan-berkiblat pada sejarah dan budaya yang Islami, yang sudah dari ‘sononya’ membentuk dan menjadikan Aceh dengan segala ke-Aceh-annya, namun pada saat yang sama arus ‘pasar’ menawarkan seakbrek pesona. Semakin kencang ‘pasar’ tawarkan pesona, semakin serius ke-Aceh-an dihayati. Berseteru selalu tentu saja tidak mungkin, karena berseteru adalah proses mengalahkan dan dikalahkan. Tentang itu masyarakat Aceh tentu saja tidak mau jika ke-Aceh-an digadaikan oleh pasar.

Lantaran itu, yang pasti adalah penting bagi gadis-gadis dan perempuan Aceh untuk menimbang dan menyari-pati mana nilai-nilai yang tepat benar untuknya sebagai seorang gadis Aceh. Apabila kurang-lebih tidak menyentuh ke-Aceh-an hendaklah tidak ditiru. Karena jika salah meniru, gadis-gadis dan perempuan Aceh tidak lagi disebut ‘Yang Cantik’.

Catatan Pembanding

Kontroversi Putri Indonesia 2009

 

Penobatan Putri Indonesia menimbulkan kontroversi. Hal ini berkaitan dengan pernyataan Putri Indonesia terpilih, Qory Sandioriva yang dianggap berbohong.

 

Pernyataan kontraversial itu berkaitan dengan pernyataan MC Charles Bonarsirait mengenai pemakaian jilbab yang dilontarkan padanya di atas panggung. Ketika itu Qory menjawab menanggalkan jilbab demi mengikuti kontes Putri Indonesia. Namun usai acara mahasiswi Sastra Prancis Universitas Indonesia ini sempat meralat pernyataannya.

 

Seperti diketahui di tahun-tahun sebelumnya perwakilan asal Nanggroe Aceh Darussalam selalu memakai jilbab saat mengikuti seleksi Putri Indonesia.

 

Dengan terpilihnya sebagai Putri Indonesia, maka perempuan 18 tahun itu akan mewakili Indonesia di ajang Miss Universe. Mengingat latar belakang Qory, keterwakilannya di kontes kecantikan dunia itu pun dipastikan akan menimbulkan kontroversi.

 

Sumber: http://www.detikhot.com/read/2009/10/12/120030/1219810/445/kontroversi-putri-indonesia-2009

 

Qory Sandiovira Bukan Cerminan Putri Aceh

 

Ulama Aceh merespon secara dingin kemenangan Qory Sandioriva – Wakil dari Propinsi Aceh, yang terpilih menjadi Puteri Indonesia 2009. Mereka menilai kemenangan Qory tak mencerminkan putri Bumi Serambi Mekah yang menerapkan syariat Islam. “Qory bukan cerminan putri Aceh. Untuk itu, ia tidak berhak mengatasnamakan rakyat Aceh. Ini sangat kita sesalkan,” kata Sekretaris Ulama Dayah Aceh (HUDA), Faisal Aly di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Sabtu (10/10), seperti dikutip ANTARA.

 

Faisal menambahkan, Qory tak mewakili Aceh karena belum pernah ada pemilihan Puteri Indonesia di sana. Sikap ini bukan berarti ulama apriori dengan putri Aceh. Hanya saja, menurut Faisal, sebaiknya tak menghilangkan jati diri sebagai putra daerah yang memiliki budaya Islam kuat.

 

Karena itu, Faisal mengimbau kepada para remaja putri agar selalu menjaga budaya Aceh yang kental dengan Islam. “Jangan mudah terpengaruh dengan budaya Barat yang sangat bertentangan dengan Islam. Saya rasa masih banyak cara lain untuk menjadi terkenal dengan tidak mengorbankan budaya daerah dan agama,” ucap Faisal.

 

Pada malam puncak Pemilihan Puteri Indonesia (PPI) 2009 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Sabtu malam, Qory mengalahkan dua finalis lainnya. Yakni, Zukhriatul Hafizah dari Sumatra Barat dan Isti Ayu Pratiwi dari Maluku Utara.

 

Sumber: http://www.infogue.com/viewstory/2009/10/11/kontroversi_putri_indonesia_2009_ulama_aceh_qory_bukan_cerminan_putri_aceh/?url=http://www.eriricaldo.com/hot-news/qory-sandiovira-bukan-cerminan-putri-aceh.html

Ini Aceh Bung, Bukan London!

Kasus Razia terhadap kelompok anak muda punk yang dilakukan pemerintah kota Banda Aceh pada Jumat, 11 Pebruari 2011 masih menyisahkan kontroversi. Kontroversi bermula ketika Center For Human Rights and Democration Defender (Pusat Pembela Hak Asasi Manusia dan Demokrasi) mengeluarkan tudingan bahwa tindakan yang dilakukan pemerintah kota  Banda Aceh tersebut telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

Seperti dilansir The Globe Journal  (11/2/2011) Zulfikar Muhammad,  Direktur Center For Human Rights and Democration Defender mengatakan tindakan tersebut bertentangan dengan kebebasan berekspresi dan berkumpul yang sering juga disebut hak untuk bertahan sebagai upaya mempertahankan nilai-nilai demokrasi. “Setiap manusia dijamin oleh Negara untuk memiliki wadah dalam menyampaikan nilai-nilai kebenaran yang dimilikinya,” tegasnya. Lebih lanjut Zulfikar menjelaskan “Berilah kesempatan kepada mereka dalam menyampaikan aspirasinya disebuah forum diskusi, bukan malah merazia dengan sewenang-wenang seperti mencukur rambut, mengintimidasi dengan kata, menangkap secara serampangan dam lain-lain. Kami menilai pemerintah Aceh sampai saat ini, belum bisa menghormati hak-hak masyarakat yang beragam,”

Penegasan Ini sebagaimana termaktub dalam The International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), dan Indonesia adalah salah satu Negara yang telah meratifikasi konvensi ini. Hak untuk kebebasan berekspresi diabadikan dalam hukum internasional dalam Pasal 19 dari Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR). Termasuk kebebasan untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi melalui media apapun, tanpa batasan. Ini juga merupakan alat penting untuk berkumpul secara damai, sebagaimana dimaksud oleh Pasal 21 ICCPR.

Resolusi Hak Asasi Manusia PBB  menyatakan bahwa tidak pernah diperbolehkan bagi pemerintah manapun untuk membatasi demonstrasi damai dan kegiatan politik, termasuk berekspresi untuk demokrasi. Hadirnya kelompok punk di Aceh, harus dimaknai sebagai perkembangan pemahaman demokrasi di Aceh. bukan malah, pemerintah menggunakan kekuasaannya untuk mengintimidasi kelompok ini agar hilang dari Aceh.

Tanpa diminta untuk menanggapi kontroversi ini, saya sebagai pendatang (yang non Muslim) dan yang sementara ini menetap di Aceh merasa memiliki tanggungjawab moral untuk memberikan alternative penyelesaian. Kendatipun dengan jujur saya katakana bahwa bahwa saya memihak Gubernur dan pemerintah kota banda Aceh. Tindakan pemerintah kota Banda Aceh sangat tepat.

Bahkan jika dimintai pendapat, sebagai seorang yang untuk sementara waktu menjadi warga Aceh, saya akan mengatakan kepada punkers (sebutan untuk anak-anak Punk) ‘Ini Aceh bung, bukan London!’ selanjutnya kepada para pegiat HAM yang menentang dan melakukan protes akan diajukan pertanyaan ‘Apakah prinsip HAM yang disebut universal itu harus mengabaikan kearifan local, kebiasaan dan tradisi sehat sebuah wilayah tertentu, serta nilai-nilai budaya dan moral-moral agama wilayah tertentu?”

Benar bahwa prinsip HAM bersifat universal/umum karena diyakini bahwa beberapa hak dimiliki tanpa perbedaan ras, bangsa atau jenis kelamin. Selanjutnya HAM juga bersifat supralegal, yang artinya tidak bergantung pada adanya undang-undang dasar, kekuasaan pemerintah bahkan memiliki kewenangan lebih tinggi. Namun perlu dicatat bahwa dalam penerapannya prinsip-prinsip ini tidak mesti mengabaikan diskusi-komunikasi dan bertindak seolah-olah kebajikan-kebijakan local atau wilayah budaya tertentu tidak ada. Mengabaikan konteks budaya dan tradisinya, lebih-lebih keutamaan-keutamaan moral sebuah budaya (juga) merupakan tindakan pelanggaran HAM.

Kita kembali ke kasus Razia Punk di Aceh sebagai misal. Jika pemerintah mengambil langkah tegas dengan (maaf) menggaruk  punkers selanjutnya menggunduli kepalanya satu-satu, kita: pengamat, pendatang, masyarakat/rakyat, lebih-lebih para pegiat HAM harus terlebih dahulu melihat situasi dan kondisi wilayah, tradisi dan budaya, keutamaan-keutamaan dan kearifan local sebelum mengajukan dan atau mengemukakan pernyataan.

Hemat saya, langkah dan tindakan yang telah diambil pemerintah sungguh sangat tepat. Hal berangkat dari beberapa argument dasar. Pertama, saya menilik dari sisi sejarah. Bahwa tiga puluhan tahun lebih masyarakat Aceh hidup dalam situasi yang benar-benar tidak menggambarkan bahwa masyarakat Aceh butuh diakui hak-hak dasarnya. Konflik panjang tersebut telah mengabaikan prinsip HAM universal masyarakat Aceh. Hak persamaan hidup diracuni oleh intimidasi dan provokasi. Hak milik pribadi dalam kelompok social dicuri dan digadai. Hak untuk turut berpartisipasi dalam kebebasan sipil dan politik dicurigai sebagai kemauan untuk merdeka dan berpisah. Hak yang berkenaan dengan masalah social diceraiberaikan oleh senjata dan tebaran kata kecut.

Sekarang, baru enam tahun masyarakat Aceh keluar dari kekelaman itu dan mulai membangun diri seperti yang dikehendakinya. Masyarakat Aceh dalam hal ini pemerintah sudah sedang membangun system dan tata aturan yang sesuai. Syariat Islam kembali ditegakkan, jati diri kembali dipulihkan, luka dan trauma perlahan disembuhkan. Dan tentang semua ini butuh proses yang sebenarnya tidak singkat. Lantaran itu jika mengatakan menegakkan HAM, lantas HAM yang bagaimana? HAM harus disesuikan dengan arus proses masyarakat Aceh yang sedang bangkit dan tumbuh. Bagi saya, dalam situasi dan konteks masyarakat Aceh yang seperti ini Punk dan juga Pankers adalah racun. Jadi pantas untuk dibasmi.

Kedua, untuk sementara ini Aceh sudah sedang mencari potensi-potensi dasar yang terkandung dalam tradisi dan sejarah yang sudah nyaris hilang diamuk konflik. Aceh sudah sedang menyembuhkan luka. Ada banyak hal yang hilang dari tradisi sehat Aceh lantaran pupus dimakan peluru. Merasa kehilangan akan sesuatu yang disebut ‘keacehan’ itu tampak sangat besar dialami oleh generasi remaja. Dalam situasi dan kondisi dimana ketika mereka sudah sedang mencari identitas diri, masyarakat adat dan tetua Aceh, pemerintah dan juga elemen dan unsur agama bahu membahu memberikan contoh dan model, menghadirkan aturan dan hukum, membangunkan kebiasaan dan tradisi sehat.

Hal ini dimaksudkan agar supaya generasi muda Aceh bisa belajar mengenal dan mengalami ke-Aceh-annya. Tradisi Punk dan Pankers bukan tradisi Aceh. Dan tentang itu untuk sementara ini tidak pantas hadir dan ada di Aceh. ‘Ini Aceh Bung, Bukan London’ Jika ditempat lain pegiat HAM merasa kesal dan sebal lantaran tindakan pemerintah yang merazia Punk, oh itu silahkan. Saya pun bisa menganggukkan kepala, mungkin ya melanggar HAM. Tetapi (belum) dan lebih disebut tidak untuk di Aceh. Generasi muda Aceh sudah sedang mencari model-model islami dan yang berakhlak, berbudaya dan bermartabat. Menurut hemat saya, Pun dengan punkers-nua secara sosiologis bukan  reference group yang tepat bagi mereka.

Inilah dua alasan yang menurut hemat saya pantas untuk direfleksikan bersama. Bahwa HAM kendatipun berprinsip universal dan supralegal, dalam penerapannya harus ‘tahu diri’ dalam membaca teks dan konteks wilayah dan budaya tertentu, pun termasuk mempertimbangkan tradisi dan sejarah. Aceh berbeda dengan tempat lain. Aceh bukan Jakarta, apalagi London bunda Punk alias Skinhead dilahirkan.

Jangan Melupakan Sidalupa!

Dua sosok menyeramkan bagai orang hutan tiba-tiba meyeruak masuk ke pentas. Sebagian penonton terperanjat, sebagian yang lain melepas senyum dan tawa. Di hadapan penonton, keduanya bergoyang-goyang, sesekali menggeleng dan menganggukkan kepala, sesekali bergoyang seperti hendak melompat. Tepuk tangan pecah mengusir senyap malam itu. Tepuk tangan ter-riuh yang didengar sepanjang pementasan berlangsung. Kehadiran dua sosok itu begitu istimewa lantaran tampilannya yang unik dan khas. Bertopeng. Sebagian penonton yang mayoritas remaja lantas melempar tanya: tarian apakah ini?

Itulah tarian Sidalupa yang dibawakan oleh dua penari dari desa Cot Murong dan Suak Trieng kecamatan Woyla Aceh Barat pada Desember 2006. Sudah sejak itu, (di belahan Aceh Barat) saya tidak pernah mendengar dan bahkan menyaksikan lagi Sidalupa ditampil-pentaskan. Sidalupa tampaknya sudah dilupakan, sementara jika itu ditampil-pentaskan selalu generasi penerus Aceh menjadi ingat akan sejarah kehidupan manusia. Tidak hanya sejarah kehidupan manusia Aceh tetapi juga sejarah kehidupan manusia pada umumnya.

Dalam hikayat Aceh, Sidalupa berulang kali disebut sebagai gambaran tentang kemalangan nasib seseorang dalam kehidupan social masyarakat. Kemalangan yang disebabkan karena seseorang telah kalah total dalam persaingan dan atau pertarungan hidup. Sebagai misal Hikayat Nasruwan Ade disinggung sebagai berikut:”Meutan areuta hanle makmu/Hanle soe eu hansoe teuka/Saleh hansoe le kheun Teungku/Gob hoi badu Sidalupa (Artinya secara bebas: Bila harta sirna kemakmuran pergi/Sanak-famili kawan pun tak hendak jumpa/Gelar kehormatan tak pantas lagi/Orang gelari dia  Sidalupa).

Sidalupa menjadi lambang absurditas manusia. Sebuah situasi yang dialami manusia dimana kemegahannya  telah berlalu, harta benda juga sirna. Tembahan lagi, anak serta suami atau isteri pun sudah meninggal dunia; mungkin pula sudah minggat dari sisinya. Dalam saat ketidakberdayaannya demikian, sanak keluarga pun menjauh, sementara kawan setia hanya tinggal bayang-bayang; bila matahari membakar Sidalupa. Selama menunggu panggilan ke alam baka, kehidupannya penuh derita. Sidalupa tak masuk hitungan; tidak dipedulikan orang. Sidalupa adalah gambaran manusia malang

Mengenang dan menggambarkan kemalangan manusia itu, seniman Aceh pada zaman dulu menampilkannya dalam dan lewat tarian dengan design kostum bagai orang terkutuk. Dimana seluruh tubuh penuh bulu yang simbolkan lewat anyaman tali ijuk di seluruh tubuh. Dengan wajah yang tidak berbentuk rupa yang disimbolkan dengan topeng sesosok makluk yang sulit untuk disebut sebagai topeng manusia. Dengan tarian yang tidak menampilkan sebagai sebuah tarian, tetapi hanya melenggak-lenggok, bergoyang dan melompat-lompat kecil.

Inilah gambaran (atau paham) tentang manusia absurd yang oleh generasi tua Aceh yang cerdas dan kreatif mengemasnya dalam bentuk tarian yang bernama Sidalupa. Namun pada zaman sekarang nyaris tidak pernah dikembang-wariskan lagi. Tarian-tarian Aceh yang bernuansa kreasi baru, paduan hip-hop-dangdut dengan gerakan-gerakan dasar tarian ranup lampuan dan atau meusekat telah mengambil posisi sentral tarian massa remaja Aceh kini. Dalam artian tertentu bisa dimaklumi bahwa tradisi butuh kontekstualisasi dan pandai membaca tanda-tanda zaman, namun kita tidak mesti lupa bahwa pada setiap tradisi budaya dan sejarah yang terekam dalam benda-benda pusaka dan tarian-tarian tradisional terpendam kandungan moral dan ajaran tentang kehidupan. Sebagai misal Sidalupa, yang sementara ini perlahan dilupakan.

Referensi rujukan/pembanding: http://tambeh.wordpress.com/2010/10/08/hikayat-aceh-bagaikan-sidalupa/

Sejarah Rapai Cebrek

Jari-jarinya masih lincah memasukan nilon di antara dua bilah bambu seukuran lidi, padahal matanya sudah tidak seberapa terang. Penyakit mata yang dideritanya sudah sejak lama membuatnya lebih banyak berdiam diri di rumah, meluputkan diri dari tamparan matahari. Jari-jarinya masih bermain. Sesekali ia menunduk, megamatinya dalam jarak dekat, mencoba memastikan kerapiannya. Selalu seperti itu, dalam rumah yang berukuran kurang lebih lima kali enam meter itu, ia menyelesaikan bubu-bubu ikan.

Beberapa bubu ikan yang sudah dirampungkannya di gantung di atas plafon, yang lain dibiarkan menumpuk di sudut ruangan. Di antara sekian bubu ikan yang digantung, tampak sebuah benda bulat dibalut sarung putih terikat pada sebuah tiang. Bungkusan bulat berwarna putih itu tampak usang berdebu. Sebaris kata yang tertera ‘She Lagee’ terbaca samar-samar. “Ya, itu dia Rapai Cebrek, terakhir dibawa keluar Palimbungan pada waktu pementasan teater She Lagee di Jakarta pada tahun 2008’

Syech Usman, demikian ia biasa disapa memulai kisah tentang rapai Cebrek. Generasi kelima  pewaris tunggal Rapai Cebrek yang sudah berusia hampir empat abad ini memulai mengisahkan itu sambil merapikan bubu di tangannya. Di desa Palimbungan kec. Kawai XVI kabupaten Aceh Barat, syech kelahiran 1 Juli 1960 ini menetap dan diamanatkan ayahnya Syech Basah untuk menjaga Rapai Cebrek dan mewariskan sejarah tarian rapai duablah (dua belas) yang nyaris punah.

Pada mulanya. Kisah Syech Usman. Sebatang pohon Cebrek tua tumbang melintang membelah krueng (sungai) Palimbungan. Haji Ben, yang kebetulan melintas di tepi krueng tidak membiarkan Cebrek itu hanyut. Beliau memotong selanjutnya membentuknya menjadi kerangka rapai. Kulit rapai diambilnya dari kulit seekor kambing jantan ‘bule seribe’ (berbulu seribu). Maksudnya kambing yang memiliki bulu bercorak banyak atau banyak warna.

“Sudah sejak Haji Ben membuat rapai dari pohon Cebrek dan dipentaskan dalam setiap tarian rapai duablah, grup tari Haji Ben tidak pernah kalah, selalu menang, sehingga membuatnya sangat terkenal di Aceh Barat’ kata Syech Usman. “Sudah sejak itu diyakini Rapai Cebrek memiliki kekuatan tersendiri” lanjutnya.

Sejarah Warisan Rapai Cebrek, Sebuah Sejarah Keluarga

Generasi

Nama

Posisi

Posisi Dalam Keluarga

Usia (+/-) Keturunan

1

Haji Ben Penemu Anak Sulung 80-an tahun Aceh Utara

2

Sulaiman Pase Pewaris Anak Sulung Haji Ben 90-an tahun Lahir di Palimbungan

3

Khalifah Ben Pewaris Anak Sulung Sulaiman Pase 70-an tahun Lahir di Palimbungan

4

Syech Basah Pewaris Anak Sulung Khalifah Ben 80-an tahun Lahir di Palimbungan

5

Syech Usman Pewaris Anak Sulung Syech Basah masih hidup Lahir di Palimbungan
6

anak perempuan masih hidup/lahir dan besar di Palimbungan

Namun, ketika rapai Cebrek sampai ke generasi Syech Usman, Syech Usman tidak pernah menggunakannya lagi untuk ditabuh. “Kecuali kalau ada hajatan di gampoeng,  maka saya akan menggunakannya. Dan itu pun ditabuh secara perlahan sebanyak tujuh kali di telinga orang yang melaksanakan hajatan seperti penikahan atau sunatan’.

Tiba-tiba Syech Usman melepaskan anyaman bubunya. Ia menghela napas panjang. “Tapi, saya tidak punya anak laki-laki. Tiga anak saya adalah perempuan. Apakah ini artinya sudah habis masanya?” tanya Syech Usman dengan mata berkaca. Rapai Duablah sepertinya tidak lagi diminati generasi muda zaman sekarang. Dua belas syair yang diturunkan oleh Abdul Khadir Jailani yang menjadi iringan tabuhan rapai duablah sepertinya perlahan-lahan kehilangan gemanya.

“Banyak anak-anak muda sekarang yang berlatih rapai, tetapi semangat dan roh yang ada di dalam rapai belum seluruhnya diserap” keluh Syech Usman. Namun demikian tentang Rapai Cebrek Syech Usman mempunyai keyakinan “Tapi saya yakin, tentang rapai Cebrek, walaupun sampai ke tangan anak-anak saya yang perempuan, saya yakin mereka bisa melanjutkan dan meneruskan kekuatan Rapai Cebrek ini. Mereka bisa menjaga kedewasaan gampoeng Palimbungan ini”

Bubu yang tergeletak di sisi kanannya diambilnya kembali. Syech Usman melanjutkan pekerjaannya. Saya kembali dengan dada sesak, membayangkan tentang ‘keaksakralan’ budaya yang nyaris hilang. Pertanyaannya adalah mengapa generasi muda Aceh tidak mewarisi tradisi serupa ini?

Naskah lengkapnya silahkan didownload di sini:

Rapai Cebrek berusia 400 tahun

Sepucuk Surat Untuk Facebookers Indonesia

Kepada yang tercinta facebookers Indonesia, tua-muda, laki-laki dan perempuan di mana saja berada. Saya agak terperanjat ternyata pengguna Facebook asal Indonesia rupanya terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Seperti dilansir vivanews.com (14/01/2011) berdasarkan catatan firma strategi marketing Candytech baru-baru ini, pengguna Facebook asal Indonesia hampir mencapai 34 juta, tepatnya 33.920.020 anggota. Melalui statistik portal Socialbakers (sebelumnya Facebakers), Candytech mencatat pengguna aktif bulanan Facebook telah mencapai 596 juta anggota. Dari jumlah tersebut mayoritas penggunanya adalah kaum muda dan remaja baik laki-laki maupun perempuan.

Sebagai sebuah media jaringan social yang mengusung visi ‘membantu anda terhubung dan berbagi dengan orang-orang dalam kehidupan anda’ Facebook sesungguhnya telah memberi ruang bagi kita dalam kehidupan untuk berkespresi, bersilaturahmi, berkelakar dan berbagi cerita. Saya bahkan mengucapkan banyak syukur dan berbahagia, karena melalui facebook saya akhirnya dapat bertemu dengan kawan-kawan lama ketika masih di sekolah dasar. Saya kira, facebookers Indonesia yang lain pun mengalami hal yang serupa.

Namun sayang sebagian dari kita, facebookers (pengguna facebook) Indonesia tercinta, telah menyalahgunakan media jejaring social tersebut untuk menuai keburukan-keburukan, semisal menyebarkan informasi palsu atau penipuan, melakukan kegiatan kriminal, menyebarkan berbagai bentuk media pornografi serta bahkan saling menghina Tuhan dan Nabi suci agama-agama. Poin terakhir, yakni tentang penghinaan terhadap agama dan nabi suci kian hari kian mencemaskan. Dengan bahasa yang kasar dan tidak sopan, facebookers membantai Tuhan dan nabi. Tentang hal itu saya tidak hanya temukan pada dinding-dinding status, tetapi juga terurai mengalir dalam komentar-komentar yang panjang penuh caci maki. Tuhan dan Nabi benar-benar bagai dibantai.

Facebookers Indonesia yang tercinta. Di satu sisi, kita tidak dapat mengelak gemuruh teknologi informasi ini, namun di sisi yang lain sepantasnya kita harus awas dalam penggunaannya. Fakta sudah membuktikan bahwa bangsa ini cukup rentan dengan berbagai peristiwa dan kondisi yang meresahkan. Konflik antar suku dan agama kadang muncul tiba-tiba hanya karena salah paham dan provokasi yang berulang. Kasus pemerkosaan dan penipuan terjadi di mana-mana, baik dalam skala kecil sekedar soal ekonomi ‘perut’ dan hasrat ‘seks’ sampai ke tingkat terumit yakni dalam masalah social dan politik serupa korupsi dan perang kepentingan para elite.

Terbaca jelas bahwa Indonesia adalah Negara yang familiar dengan masalah yang sesungguhnya dapat diselesaikan dengan mudah jika kejujuran dan keterbukaan dikedepankan. Namun sayang, bagai bertepuk sebelah tangan, pembangunan jati diri bangsa bagai raga hidup tanpa jiwa. Lantaran itu adalah baik, jika sebagai warga bangsa, secara khusus facebookers Indonesia menyadari ini dengan sungguh. Bahwa dengan menggunakan facebook secara baik dan benar, sekurang-kurangnya kita telah membantu ‘menyembuhkan’ relasi dan ikatan sosial bangsa ini. Kita pulihkan jati diri bangsa, bangungkan kembali budaya bersahabat dan tenggang rasa, peduli dan peka serta saling hormat menghormati.

Facebookers Indonesia yang tercinta, jumlah kita sangat signifikan, karena hampir mencapai 34 juta, tepatnya 33.920.020 anggota. Jika setiap dari kita menggunakan facebook secara baik dan benar seperti maksud yang saya sebutkan di atas, percayalah Indonesia akan berbahagia dan kita pun bangga, sekalipun yang kita sumbangkan adalah sebaris kalimat kecil ‘Indonesia Sehat dan Sejahtera’.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: