Tulisan yang ditandai ‘Beutung Ateuh’

Merakayan Paskah Di Pasantren Babul Mukarammah Beutung Ateuh

Di Nanggroe Aceh Darusallam, mendengar nama tempat Beutung Ateuh Nagan Raya, secara khusus pasantren Babul Mukarammah yang terletak di desa Blang Meurandeh (salah satu desa di antara empat desa di pemukiman tersebut), yang terlintas dalam benak kebanyakan orang Aceh adalah dua hal. Pertama, tentang  pembantain terhadap Abu Bantaqiah dan 55 santri yang dilakukan aparat TNI pada 23 Juli 1999 lantaran ‘dituduh’ terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka.  Peristiwa ini dikenal dengan sebutan ‘Tragedi Beutung Ateuh’. Dan kedua adalah tentang gerakan jubah putih yang digagas Abu Bantaqiah sudah sejak 1988 yang oleh Majelis Ulama Aceh dianggap sebagai aliran sesat dalam Islam.

Dengan dua peristiwa dan kenangan tersebut sudah barangtentu membicarakan dan apalagi mengunjungi Beutung Ateuh adalah  sebuah tindakan yang awas. Awas lantaran ‘takut salah bicara’ dan pula awas nanti di-omong ikut ‘aliran sesat’. Sampai-sampai ketika saya hendak menuliskan sejarah singkat pemukiman Beutung Ateuh, putra almarhum Abu Bantaqiah, yakni Abu Malikun Saleh penerus pengasuh pondok Pasantren Babul Mukarammah meminta untuk “Lebih baik jangan, saya tidak mau kalian terlibat jauh dengan urusan tentang Beutung Ateuh, biarkan saya yang menanggung semuanya jika sesuatu terjadi”.

Cemas, ragu, awas dan bahkan takut. Demikian perasaan yang timbul di bulan-bulan pertama di tahun 2008 ketika mengunjungi Pasantren Babul Mukarammah. Dengan dua kejadian di atas siapa pun, apalagi termasuk saya yang beragama Kristen Katolik, berani tinggal untuk beberapa hari, apalagi beberapa minggu tentu akan beresiko besar terhadap keselamatan jiwa. Namun tentang kecemasan-kecemasan yang muncul itu, secara perlahan akhirnya hilang jua. Kata Abu Malikun Saleh “Sejauh kalian berbuat yang benar, untuk apa takut. Kita hanya harus takut kepada Allah” itu saja pesan pengingatnya.

Well…Bukan isi catatan ini untuk menarasikan sederetan kisah menarik di Beutung Ateuh. Catatan ini coba fokuskan isi pada kisah tentang pengalaman saya sebagai seorang Kristen Katolik ‘merayakan misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus (bisa disebut Paskah) di sebuah Pasantren’ pada 2009; dan pasantren itu adalah Pasantren Babul Mukarammah yang sudah digambarkan sedikit pada bagian awal.

Hari Kamis Putih

Kamis Putih adalah hari Kamis sebelum Paskah, pada hari raya pecan suci ini umat Kristen mempunyai ‘kebiasaan sehat’ (tradisi) untuk memperingati Perjamuan Malam Terakhir yang dipimpin oleh Yesus. Hari ini adalah salah satu hari terpenting dalam kalender Gereja Katolik Roma. Ini adalah hari pertama dari hari raya Paskah, yang dimulai pada pukul 6 sore, dan berlangsung 7 hari.Hari Kamis Putih ini juga disebut Kamis Suci.

Ritus Perjamuan Malam setelah ini pada setiap misa atau kebaktian diperingati perayaan ekaristi atau perjamuan kudus. Pada misa malam yang sama, seorang pemimpin ibadat (pastor) juga mencuci kaki umat sebagai peringatan Yesus yang mencuci kaki para murid-Nya dalam perjamuan terakhir-Nya, sebuah bentuk pelayanan Yesus di dunia sebelum kematian-Nya.

Dan pada Kamis Putih atau Kamis Suci itu, kurang lebih pukul tiga sore hari, berasama dua orang teman Adi AR dan Ismail Majid (keduanya adalah teman kantor) kami tiba di Pasantren Babul Mukarammah Beutung Ateuh. Kami disambut balutan kabut putih, suara lari arus aliran sungai Beutung yang berwarna jernih, dan senyum-senyum  yang terbit dari barisan dua belah bibir yang ramah berhati.

“Wah, tidak ke Gereja untuk paskah ya?” tanya Abu Malikun Saleh menyambut kedatangan kami. “Abu, saya mau merakayan paskah di kebun saja”. Mendegar jawaban itu Abu terkekeh. “Berarti kebun itu jemaatmu?” tanya Abu lagi. “Bukan Abu, saya umatnya dan segala sesuatu di kebun itu pemimpin perayaan”. Dengan agak serius, Abu menimpal “Betul, beriman kepada Allah jauh lebih penting daripada beragama, walaupun punya agama itu bukan tidak perlu”. Saya termenung. “Pening lo sekarang” ceplos Ismail Majid sambil tertawa. Tampak Adi AR senyum-senyum.

Kemudian sambil mencicipi kopi khas Aceh dan sepiring umbi goreng, seabrek cerita lepas berlanjut hingga makan malam. Abu Malikun menceritakan banyak hal, walaupun sebagian besar poin-nya adalah tentang bagaimana seharusnya dunia Islam dan Kristen itu hidup bersalaman dan berkeselamatan. Sambil menunjuk ke pojok kiri dinding, ke arah gambar silsilah para Nabi Allah sudah sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad SAW, Abu menjelaskan

“Tiga agama besar di dunia ini: Yahudi, Kristiani dan Islam punya satu keturunan yang sama, yakni dari Adam. Kitab Zabur, Injil dan Al-Quran menuliskan tentang ajaran Allah yang sama. Lalu, untuk apa kita berperang membawa agama, lalu menyebut atas nama Allah. Allah tidak mengajarkan kita untuk berperang, tetapi memberi pengampunan dan melayani”

“Jadi, kalau pak Kris misalnya datang ke Pasantren, kami terima. Sekalipun pak Kris beragama Katolik. Karena Allah yang diimani pak Kris sama dengan Allah yang saya imani. Hanya, memang jalan kita berbeda. Agamamu, agamamu, agamaku, agamaku. Mari kita hidup rukun dan damai, jalan sama-sama, sambil saling belajar dan menerima satu sama lain”

Pengalaman Kamis Putih yang menarik, sebuah perayaan kamis suci yang menurut saya paling menyentuh rasa. Seorang Abu Malikun Saleh, pemimpin pondok pasantren yang distigma sebagai salah satu pencetus ‘aliran sesat’ ternyata punya pandangan yang terbuka dan damai. Tidak membeda-bedakan apa agamamu dan apa agamaku. Dalam Allah kita adalah satu ‘darah dan daging sama’.

Inilah momen perjumpaan yang menurut hemat saya harus dengan jiwa besar untuk diterima. Mengakui keyakinan dan kepercayaan agama lain, sambil tetap setia menjalankan agama masing-masing. Inilah yang disebut sebagai pelayanan yang sesungguhnya. Mau merendah dan menerima, mau berbagi dan mendengar. Ya, seperti Yesus yang mau membasuh kaki para murid-Nya. Yesus tahu dan mau bahwa pelayanan yang sesungguhnya adalah menjadi bagian dari kehidupan umat manusia. Tanpa itu, pelayananan adalah ‘omong kosong’.

Hari Jumad Agung

Hari Jumad, pada ketika makan siang. “Pak Kris tidak boleh makan daging, karena hari ini hari jumad puasa”. Saya terperanjat. Mengapa tidak. Abu Malikun Saleh kurang lebih tahu tentang jumad puasa. Sebuah jumad yang dalam masa prapaskah yang sering saya langgar, bukan karena mau lupa, tetapi karena kadang lupa-lupa ingat. “Abu, mau makan daging atau tidak, selama saya di pasantren ini, sepertinya setiap hari adalah hari puasa”. Tampak Abu mengangguk-angguk.

“Inti puasa bagi saya” jelas Abu “adalah makan apa adanya. Jangan meminta lebih dari kemampuan dan keadaan yang kita punyai. Kalau kita hanya punya cabe dan nasi, ya makan itu. Jangan menunggu harus ada daging ayam. Kalau mau daging ayam, ya, pelihara ayam”. Penjelasan yang singkat, padat dan jelas. Mudah dimengerti dan masuk akal.

“Inti dari puasa juga adalah juga supaya mengurangi perbuatan dosa” kata Abu lebih lanjut “Karena kalau kita punya kesediaan hanya seperti ini, hanya ada cabe dan nasi, tetapi mau makan daging ayam, lalu kadang hanya supaya makan daging ayam, orang pergi curi ayam. Jangan membuat Allah menderita hanya karena dosa-dosa kita yang disengaja”

Wow…penjelasan sekaligus nasehat Abu bagi saya sesungguhnya adalah jantung dari Jumad Agung. Dalam tradisi Gereja Katolik, Hari Jumad Agung merupakan hari mengenangkan wafat Tuhan Yesus Kristus di kayu salib. Pada hari Jumad Agung, Gereja tidak merayakan Ekaristi, karena Gereja meyakini bahwa Ekaristi merupakan sakramen Paskah Kristus, sakramen keselamatan, artinya dalam Ekaristi Gereja mengenangkan/merayakan wafat dan kebangkitan Kristus yang menyelamatkan manusia dari dosa dan maut.

Yesus mati di Kayu Salib karena dosa-dosa manusia. Yesus mau menjadi manusia sama seperti saya dan manusia yang lain, salah satunya adalah karena mau menyelamatkan dosa yang telah saya dan sesama manusia yang lain perbuat. Kalimat Abu “Jangan membuat Allah menderita hanya karena dosa-dosa kita yang disengaja” membuat saya memahami sungguh bahwa sadar atau tidak, disengaja atau tidak melakukan kesalahan dan dosa bukan hanya merugikan diri kita sendiri, tetapi juga merugikan relasi kita dengan Allah.

“Membuat Allah menderita” saya maknai sebagai membuat jarak dengan Allah. Meninggalkan Allah. Melupakan-Nya. Dan yang membuat jarak, meninggalkan dan melupakan Allah adalah karena kalalaian, kesalahan dan dosa kita. Dan Puasa adalah salah satu solusinya bagaimana kita mendekatkan jarak dengan Allah. Kita menyadari siapa kita di hadapan Allah, sambil bersyukur atas anugerah yang diberikan-Nya kepada kita.

Pernyataan yang lain dan terakhir dari Abu yang membuat saya merasa Jumad Agung di Pasantren menjadi lebih bermakna adalah ini “Hidup kita ini puasa, kalau kita menyadari bahwa sebenarnya kita tidak punya apa-apa di hadapan Allah. Segala kekayaan yang diberikan kepada manusia adalah titipan Allah saja. Tidak lebih. Dan kalau ada yang mengatakan kekayaan adalah miliknya. Dia bukan hanya berdosa, tetapi juga merebut hak Allah yang seharusnya diberikan kepada orang lain. Bahasa manusianya adalah mencuri” Tak butuh penjelasan tambahan apalagi penafsiran lebih lanjut. Sudah cukup jelas.

Minggu Paskah

Hari Minggu Paskah. Pada ketika kecil, masih kanak-kanak, saya sudah di gereja dan duduk paling depan di barisan anak-anak. Ketika umat berlutut, kami berlutut. Ketika umat duduk kami duduk, sebagian yang lain lanjutkan tidur. Dan ketika semua umat berdiri, kami pun turut berdiri. Seperti itu. Selalu. Katanya, ajaran Gereja sudah begitu. Begitu sudah.

Sampai ketika saya di Aceh, pengalaman ke Gereja menjadi jarang. Bukan lantaran di Aceh, secara khusus tidak terdapat kapela atau gereja, tetapi saya mengucapkan maaf terlebih dalu bahwa “Saya tidak merasa bertemu Allah seperti yang saya imani jika harus ke gedung gereja”. Allah tersentuh dan menyentuh saya adalah dalam relasi dengan sesama umat Muslim. Ketika saya mendengarkan mereka, memahami mereka, menjadi bagian dari mereka, saya seakan-akan menemukan Yesus sebagaimana yang saya imani. Yesus yang membicarakan ikan, lembu, jala,  yang suka ke danau, yang suka ke kebun, yang suka ke bukit dan makan bersama, singkatnya Yesus yang terlibat dan mau melibatkan diri saya temukan di di luar Gereja di Aceh.

Salah satunya adalah di Beutung Ateuh. Dan pada hari Minggu Paskah itu, Abu Malikun Saleh mengajarkan saya bagaimana seharusnya menyebut dan mengingat nama Allah. Yakni dalam dan melalui ‘Zikir Nabi Isa’. “Jangan pernah menyangka bahwa Islam tidak mengingat Nabi Isa. Kami pun berzikir kepadanya” katanya.

Namun sebelum saya akan menceritakan serupa apa bunyi zikir itu, terlebih dahulu saya menjelaskan secara singkat perihal zikir itu sendiri. Zikir (atau Dzikir) artinya mengingat Allah di antaranya dengan menyebut dan memuji nama Allah. Zikir adalah satu kewajiban. Dalilnya adalah: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” [QS Al Ahzab 33:41]

Dalam Islam, tidak berzikir akan mengakibatkan seseorang jadi orang yang rugi. “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” [QS Al Munaafiquun 63:9]

Allah mengingat orang yang mengingatNya. “Karena itu, ingatlah Aku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” [Al Baqarah:152]

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS Ali 'Imran 3:190-191]

Dengan berzikir hati menjadi tenteram. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [QS 13:28]

Di antara zikir yang utama adalah Laa ilaaha illallahu (Tidak ada Tuhan selain Allah). “Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: ‘Zikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallahu” [HR Turmudzi]

‘Rasulullah bersabda : ‘Sesungguhnya aku berkata bahwa kalimat : ‘Subhanallah, wal hamdulillah, wa Laa Ilaaha Illallah, wallahu akbar’ (Maha Suci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan Allah Maha Besar) itu lebih kusukai daripada apa yang dibawa oleh matahari terbit.’ (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam Islam, Zikir yang umum setelah salat wajib 5 waktu adalah tasbih (“Subhanallahu”) 33x, tahmid (“Alhamdulillah”) 33x, dan takbir (“Allahu akbar”) 33x. tentang Zikir.

Well… Demikianlah landasan teologis dari Zikir dalam Islam. “Jadi sekalipun kalian Katolik, kalian sesungguhnya harus juga mengingat dan menyebut nama nabi Isa dalam keseharian hidup” kata Abu. “Nabi Isa diyakini diciptakan dari Roh Kudus” kata Abu mulai menjelaskan “Jadi, zikir nabi Isa adalah “Ya hailailalah, nabi Isa Ruhul Allah” (demikian kurang lebih sejauh yang saya rekam)

Saya mencoba dengan senang hati untuk melafalkan zikir itu secara berulang. Walaupun pada awal-awal harus melipat kaki hingga pegal ketika saya melafalkan itu. Sungguh sangat menarik dan menyentuh rasa. Terlepas dari Gereja Katolik Roma menganggap ini tidak pantas atau pantas, saya mengalami sungguh bahwa dalam dan melalui Islam saya menemukan Yesus sebagaimana yang saya imani, sekalipun saya tidak harus menjadi seorang muslim.

“Tapi jangan dipraktekkan ya di luar pasantren, dengan mengingat Allah-mu, hatimu pasti tenang” Demikian pesan Abu suatu ketika.

Kisah Kecil Masa Kecil

Penulis bersama para santri di Pasantren Babul Mukarammah Beutung Ateuh dalam kegiatan pendidikan integratif, pendidikan perdamaian

Saya mengawali catatan kecil ini dengan sebuah kesimpulan dan selanjutnya adalah rekomendasi kemudian baru akan mengisahkan pengalaman masa kecil saya.

Kesimpulan: Miskinnya pemahaman dan pengetahuan kita tentang agama lain membentuk asumsi dan pemahaman yang keliru tentang agama lain tersebut. Kita membuat pembenaran-pembenaran atas nama agama di atas asumsi-asumsi tanpa memandang resiko-resiko. Pengklaiman kebenaran atas dan dalam satu agama oleh penganutnya mencerminkan bahwa penguasaan wawasan dan pengetahuan atas agama lain tergolong minim. Minimnya pemahaman dan pengetahuan kita tentang agama lain tidak hanya membentuk dalam diri kita sikap dan semangat fanatisme tetapi juga dalam praksisnya mengambil jarak atas agama yang lain. Kita enggan untuk membangun tegur sapa, sinis, dan bahkan curiga dan membangun prasangka buruk.

Rekomendasi: Saya melihat bahwa munculnya pertikaian atas nama agama dan kepercayaan adalah juga merupakan buah dari minimnya pengetahuan kita tentang agama lain. Lantaran itulah pendidikan tolerasi, di samping pendidikan agama (sendiri yang pertama dan utama) menjadi penting. Pendidikan agama menjadi tiang utama penguatan iman dan ketaqwaan masing-masing pemeluk terhadap ajaran imannya. Sedangkan pendidikan toleransi memampukan peserta didik untuk memperluas wawasan dan menambah pengetahuan tentang keberadaan agama lain.

Kisah Masa Kecil: Saya dilahirkan di pesisir Flores Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Romba, Maunori Nageko, dari keluarga penganut agama katolik yang taat. Ketika Sekolah Dasar, saya belajar di sebuah Sekolah Dasar Katolik. Namun demikian murid katolik bisa dihitung dengan jari, karena mayoritasnya adalah murid yang beragama Islam. Ketika sampai kelas enam, murid beragama katolik hanya tiga orang termasuk saya, selebihnya yang berjumlah puluhan adalah yang beragama Islam.

Setiap hari kami berdoa mengawali dan menutup pelajaran sekolah dengan berdoa secara berganti-gantian. Jika pada pagi hari kami yang beragama Katolik mengawali dengan doa ‘Bapa Kami’ maka pada akhir mata pelajaran murid-murid yang beragama Islam melafalkan ayat-ayat pendek dari Al-Quran. Lantaran kebiasaan ini, murid beragama Islam sampai hafal betul barisan kalimat dalam doa ‘Bapa Kami’, ‘Salam Maria’ dan ‘Aku Percaya’ dan bahkan tangan kanan mereka enteng membuat tanda salib pada dahi, dada dan hati. Sebuah gerakan lincah yang santun. Demikian pun sebaliknya, kami dengan mudah menghafal dan melafalkan ayat-ayat pendek dari Al-Quran. Suara-suara kecil kami melambung tinggi, memberi warna beragam, bagai paduan suara.

Jika tidak ada guru agama (dari salah satu agama yang masuk mengajarkan mata pelajaran agama) kami diajarkan tentang toleransi dengan praktek mengunjungi Kapela (gedung gereja kecil di lingkungan yang kecil) dan atau Masjid untuk sekedar memperkenalkan ‘kesakralan’ masing-masing agama supaya dihargai dan dihormati. Saya mengenal kiblat, sajadah, imam, ustadz, kubah, mukena, magrib, takbir, sunat, haram, halal, istri nabi, dan putri kesayangan Nabi Muhammad Siti Fatimah Azzhara, dan seterusnya sudah sejak itu. Demikian pula sebaliknya, murid-murid yang beragama Islam tahu betul tentang Getsemani, kalvari, gua Maria, Yesus, Natal, Paskah, rasul, santo, santa dan seterusnya sudah sejak itu pula.

Pada hari raya masing-masing agama, baik Natal maupun Lebaran kami bersama-sama turut ambil bagian dengan membersihkan Kapela dan atau Masjid. Dalam perayaan-perayaan besar, kami langsungkan bersama, saya pernah menabuh rabana sambil melantunkan lagu-lagu Islam. Demikian juga murid-murid yang beragama Islam, mereka memasuki Kapela, duduk di bangku terdepan menyanyikan lagu-lagu dari Madah Bakti.

Demikian indahnya masa kecil itu, sampai suatu ketika, persis ketika saya mengajar para santri di Pasantren Babul Mukarammah Beutung Ateuh Nagan Raya Nanggroe Aceh Darusallam saya meneteskan air mata, melihat anak-anak yang serupa saya ketika saya masih enam atau tujuh tahun. Ketika itu kami begitu lugu dan polos, tetapi lingkungan, sekolah dan keluarga tidak pernah melarang bergaul dengan siapa pun. Tidak sepatah kata pun dan apalagi niat untuk memaksakan kehendak. Kami tidak saling menggangu.

Itulah satu-satunya harta terindah yang kami miliki sebagai investasi kebersamaan di tengah keberagaman. Kami tidak punya apa-apa selain itu. Kampung kami belum punya nyala listrik ketika itu. Masih tenang di bawah terang pelita. Belum ada signal handphone apalagi kendaraan bermotor. Tidak ada hasil bumi yang dibanggakan selain laut yang banyak ikan. Tetapi dalam keterbatasan-keterbatasan itu kami tumbuh damai dan sejahtera. Hingga kini, sampai ketika kampungku sudah berubah, harta terindah itu masih tetap terjaga sebagai yang paling indah. Kami tidak akan pernah menggadaikan itu dengan kepentingan-kepentingan.

Oh indahnya…hidup dalam perbedaan. Islam itu indah, dia juga benar di mata Allah dan dunia. Demikian juga Kristiani, dia juga indah, dan benar di mata Allah dan dunia. Mari kita saling memahami dan menghargai, walau dalam iman dan keyakinan ‘kau’ dan ‘aku’ tidak harus bersatu.

Catatan: Tulisan ini sebelumnya sudah diposting di sini

Kisah Hutan Hujan Tropis, Tentang Relasi Yang Lupa

Seorang nelayan laut tawar melempar jala di sungai Beutung Ateuh. Foto diambil pada awal Februari 2010 di Beutung Ateuh Nangan Raya Nanggroe Aceh Darusallam

Pernahkah engkau baca, kisah seorang anak yang menarikan pena pada batang batang kayu tentang desah angin yang bercumbu dengan daun-daun? Pernahkah engkau lihat gurat erotik pena seorang anak pada helai-helai jamur kuping tentang angin yang tengah disundut syahwat dan ingin mencumbu bunga anggrek hitam? Pernahkah engkau dengar lagu sendu seorang anak yang penanya macet kala sedang menulis puisi tentang kesedihan seekor nuri yang sedang masuk angin?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mengingatkanku pada kisah Abu Malikul Aziz, pemimpin podok pasantren Babul Mukarammah di desa Blang Meurandeh Beutung Ateuh Nagan Raya tentang relasi manusia dengan alam. ”Dulu, ketika saya masih kecil” Abu memulai kisahnya, ”Saya tidak takut dengan harimau, saya dan anak-anak seusia saya, bahkan bisa bermain dengan binatang itu. Antara manusia dan satwa hidup saling menghormati dan damai” kisah Abu. Berhenti sejenak Abu melanjutkan cerita ”Tapi sekarang, semuanya sudah berubah, gajah menyerang rumah penduduk dan Harimau memangsa manusia. Manusia sudah khilaf, tidak lagi melihat alam sebagai sahabat, tetapi sebagai musuh yang mesti dimusnahkan” kata Abu menutup cerita.

Aku tertegun penuh kagum. Aku kagum pada kisah masa kecil Abu yang penuh imajinasi. Sulit bagiku untuk melukiskan perjumpaan masa kecil Abu dan alam yang begitu dekat. Aku pun kagum pada keindahan Beutung Ateuh. Sebuah lembah subur di landai bukit barisan, yang dilingkupi rimbuan hutan Ulu Masen dan Leuser. Aku menjadi lebih kagum pada puisi, ketika aku melukiskan kedekatan perjumpaan alam dan manusia. Tentang desah angin yang bercumbu dengan daun-daun. Tentang angin yang suluk dalam katup anggrek dan tentang kisah sedih Nuri yang pinta dilipur.

Kisah masa kecil Abu adalah sebuah kisah penuh imajinasi. Kisah yang pada masaku menjadi angan, menjadi cita-cita. Ingin kukembalikan kisah masa kecil itu, tetapi yang ada dihadapannku hanya sebatang pena kayu meringis di atas meja tandus. Sekarang, adalah saat yang tepat bagiku untuk melukiskan imajinasi tentang kedekatan-kedekatan manusia dan alam. Tentang bagaimana seharusnya aku melihat, membaca dan mengalami kelembutan jiwa alam. Agar pena itu menjadi bernyawa.

Di tepi Leuser suatu ketika, di bawah gugur daun mentah anggrek biru tua aku membaca kisah alam. Kepadaku alam berkisah tentang sebuah kisah lebam yang berjejak di catatan-catatan harian. Sesuatu yang mengemuka miris adalah kisah tentang sesuatu yang lupa dalam relasi perjumpaan antara manusia dengannya.

”Manusia tampak begitu pongah di hadapanku. Aku dilihat bukan sebagai mitra kehidupan, tetapi sebaliknya dipandang sebagai lahan jarahan. Aku, Leuser dan Ulu Masen adalah dua contoh paru-paru dunia yang terancam dan bakal berubah jadi gurun sahara pada puluhan tahun yang akan datang. Pembalakan liar dan penebangan yang serampangan meninggalkan luka yang mendalam bagi kehidupan satwa yang sudah tenteram terjaga sejak ribuan tahun silam. Tidak hanya itu, aroma anginku tidak lagi berbau magis. Kemistisanku terperkosa oleh kelobaan manusia”

Aku tersintak membaca catatan harian itu. Catatan yang berjejak pada hamparan lahan gundul penuh sesak bau amis satwa mati. Ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Bahwa kita memang sedang lupa, bahwa kita memang tidak sedang bersahabat dengan alam. Kita sudah mengembara menjauhinya. Kita sudah sedang melupakannya sebagai bagian dari kehidupan kita sendiri.

Sederet tanya untuk kita ingat pantas diajukan di akhir kiah ini: Pernahkah engkau baca, kisah seorang anak yang menarikan pena pada batang batang kayu tentang desah angin yang bercumbu dengan daun-daun? Pernahkah engkau lihat gurat erotik pena seorang anak pada helai-helai jamur kuping tentang angin yang tengah disundut syahwat dan ingin mencumbu bunga anggrek hitam? Pernahkah engkau dengar lagu sendu seorang anak yang penanya macet kala sedang menulis puisi tentang kesedihan seekor nuri yang sedang masuk angin?

Catatan: tulisan kecil ini adalah apresiasi atas sajak Aleks Aur ‘Hutan Hujan Tropis’

Senyumenangis

Gambar ini diambil pada Februari 2010. Seorang peserta didik pendidikan perdamaian di Pasantren babul Mukarammah Beutung Ateuh, Nagan raya, nanggroe Aceh Darusallam

Senyumenangis. Saya menunggu berhari-hari hanya untuk mendapatkan gambar yang menurut saya paling menyentuh. Di balik gambar ini sebenarnya ada kisah yang ‘sakit’. Pendidikan dasar di Beutung Ateuh Nagan raya benar-benar jauh dari jamahan pembanguan. Banyak anak usia sekolah dasar belum bisa membaca dan menulis. Tetapi satu kebanggaan yang saya alami selama perjumpaan saya dengan mereka adalah optimisme dan keyakinan untuk terus berbenah dan berubah.

Beutung Ateuh Menyeberangi Jembatan Perubahan

Jembatan Gantung di desa Blang Meurandeh Beutung Ateuh Nagan Raya.

”Jam sepuluh malam sampai jam tiga pagi biasanya ada signal” kisah Tgk. Syariff sambil menunjukkan Sonny Ericson yang baru dibelinya. Antara masih percaya dan tidak. Bukankah di sini tidak ada signal pemancar? Bukankah kita mesti ke jalan menuju PT? Bukankah di atas gunung sana baru ada signal? Berkecamuk aneka pertanyaan yang sulit untuk dipercaya.

Saya tidak terlalu yakin karena tiga bulan lalu, di akhir tahun, 2009, bersama Tgk. Syariff kami harus menempuh perjalanan 5 km lagi ke arah Takengon jika hendak mendapatkan signal. Di sana pun, bukan berarti signal dengan mudah didapatkan, kami harus memasuki semak atau merayap-rayap di pinggiran tebing. Jika sudah mendapatkan signal, tangan kami menjadi sangat kaku, tidak bia bergerak, karena sedikit saja bergerak signal menghilang. Itu kisah di tahun 2009.

”Tidak perlu lagi ke sana, di sini juga sudah ada signal” kata Tgk. Syarif lagi. Tidak seperti biasanya Tgk. Syarif berbicara atau mengisahkan sesuatu dengan sangat meyakinkan seperti ini. Lantas, terbersit keyakinan, karena sesekali saja santri berambut gondrong dan bertubuh kurus ini berbicara, dan hanya sesuatu yang serius yang akan diceritakan atau dikatannya. ”Oh ya….yang benar saja pa teungku” reaksi saya ketika itu.

Ternyata benar. Seuasai makan malam di rumah Abu Malikun Aziz, handphone saya berdering. Sebuah pesan singkat masuk. Baru saya benar-benar yakin. Entah dari mana datanganya gelombang signal telephone itu. Sebab faktanya, di Beutung Ateuh sampai ketika itu, awal Februari 2010, tidak ada satu pemancar signal pun. Tetapi yang pasti, di jam-jam seperti itu banyak warga Beutung Ateuh yang mengaktifkan handphone mereka.  Mereka bebas menelphone ke mana saja. Sulit dipercaya, tetapi itulah fakta.

”Pa Teungku, wah bagus ya kalau begitu, kita tidak mesti ke gunung sana lagi, dari sini saja kita sudah bisa menelphone ke mana saja”  saya membuka cerita.

”Ya, tapi masih belum stabil juga signalnya, ya, pelan-pelan. Lama-lama juga nanti penuh. Di sini listrik juga kan hanya malam, dan itu pun tergantung debit air. Kalau airnya banyak, listriknya nyala, tetapi kalau airnya kurang, ya, padam”  jawab Tgk. Syariff. ”Walau bagaimana pun Beutung sudah berubah, di Tanjungan sudah ada jembatan layang. Juga Sekolah Dasar sudah mulai aktif”  lanjutnya.

Tahun 2010 adalah tahun perubahan bagi Beutung Ateuh. Kisah signal telephone hanya satu kisah dari sekian kisah perubahan yang lain. Satu di antaranya adalah sudah mulai aktifnya Sekolah Dasar Negeri Beutung Ateuh di desa Blang Meurandeh. Semoga dengan perubahan yang terjadi, walau pun berjalan perlahan, akses komunikasi, informasi dan lebih-lebih, askses pendidikan di Beutung Ateuh semakin terbuka dan menyapa lebih luas.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: