Tulisan yang ditandai ‘alam’

Azzahra, Perempuan Bercadar Mawar (6)

Tidak seperti biasa Nurillah terlambat memulai aktivitas rutinnya. Para santriwati sudah berkumpul. Dari ruangan terpisah Azam sesekali menyembulkan kepalanya, mencoba memastikan Nurillah sudah hadir atau belum. Namun, hingga  tiga puluh menit berlalu, Nurillah belum juga menunjukkan dirinya.

“Ya Allah, kemana Nurillah”

Azam mencoba menebak. Mungkin karena peristiwa kemarin sore. Mungkin Nurillah sudah mengetahui semuanya. Mungkin Nurillah kecewa. Sehingga memutuskan untung mengurung diri di dalam kamar, atau mungkin saja pergi ke Al Hikam.

“Asalamuallaikum adik-adik”

“Wallaiukum salam kakak”

Azam tersenyum. Nurillah akhirnya datang juga. Tetapi tidak seperti biasanya. Wajah Nurillah pagi itu tampak sembab, seperti baru saja menitihkan iar mata. Penampilannya pun biasa, tidak secantik hari-hari sebelumnya. Tampak seperti tidak berdandan.

Tetapi di hadapan santriwati, Nurillah tetap tampil seperti biasa. Ia meminta maaf atas keterlambatannya dan memberikan alasan yang cukup masuk akal, bahwa ia sedang mencari buku pelajaran yang entah di mana ia letakkan. Para santriwati memaklumi itu.

Sedang, di sebelah ruangan,  Azam menjadi tidak tenang.  Ia was-was. Hingga pelajaran pagi itu usai 30 puluh menit kemudian, Azam masih tampak cemas. Pun ketika Nurillah pergi meninggalkan para santriwati  tanpa mengucapkan salam kepadanya, hati Azam menjadi kian gundah.

Azam menyusulnya  hingga ke perpustakaan. Meminta Nurillah untuk mendengarkan duduk masalah yang sebenarnya. Azam semakin yakin jika karena peristiwa kemarin sore yang membuat Nurillah tampak tidak ramah pagi hari itu.

“Nurillah” sapanya.

Namun Nurillah tidak menjawab. Ia berdiri mematung. Matanya menatap lekat wajah Azam. Tampak jelas kemarahan di matanya.

“Nurillah”

Nurillah berlalu, menyisir rak-rak buku. Mencai-cari. Tidak peduli.

“Nurillah…Abang ingin mengatakan sesuatu tentang kemarin sore”

Nurillah berhenti.  Ia memalingkan wajah. Tetapi ia mencoba mengelak.

“Sudah jelas bang…Nurillah tahu apa yang terjadi antara bang Azam dan Zahra. Yang membuat Nurillah ingin tahu adalah mengapa abang tidak pernah jujur kepada Nurillah sebelumnya?”  wajahnya memerah. Kelembutannya seketika hilang.

“Nurillah, Zahra adalah kisah masa lalu abang. Sekarang  antara abang dan Zahra sudah tidak ada apa-apa lagi. Tetapi mengapa Nurillah menjadi marah seperti ini?” Azam mencoba menjelaskan.

“Jika benar Zahra adalah masa lalu abang, mengapa abang selalu cemas ketika berhadapan dengan Zahra. Mengapa tingkah dan tutur kata abang menjadi berbeda ketika berhadapan dengan Zahra. Mengapa Zahra meneteskan air matanya ketika Nurillah mengatakan akan menikah dengan Abang…Nurillah mohon suapaya abang jujur, sebelum semuanya terlanjur bang?”  pinta Nurillah memohon.

Azam  terdiam beberapa saat.  Mencoba  untuk tenang.

“Nurillah…dulu antara abang dan Zahra saling mencintai. Tetapi kemudian karena alasan keyakinan abang meninggalkannya. Nurillah tahu kan…kalau Zahra bukan seorang muslimah. Tidak mungkin abang memilihnya menjadi  kekasih. Namun, yang membuat abang selalu merasa cemas ketika berhadapan dengan Zahra adalah karena abang meninggalkan Zahra dalam ketidakpastian” Azam mencoba menjelaskan semuanya.

“Jangan pernah membohongi hati seorang wanita bang…Nurillah adalah juga seorang wanita. Nurillah tahu kalau abang masih mencintai Zahra. Apalagi sekarang Zahra sudah menjadi seorang muslimah. Bukankah itu semua karena abang? Abang telah memberi harapan yang besar kepadanya?”

Azam terdiam. Nurillah menghujamnya dengan bertubi pertanyaan.

“Nur….”

“Cukup bang…penjelasan abang sudah cukup buat Nurillah” Nurillah memotongnya

“Sekarang Nurillah minta kepada abang, supaya jujur kepada  Nurillah…apakah abang masih mencintai Zahra atau tidak?” lanjutnya dengan tanya.

“Nur…”

“Jawab bang….ya atau tidak” kejar Nurillah.

Nurillah tampak tidak sabar. Ia begitu gusar. Kelembutannya benar-benar hilang. Kecantikannya tiba-tiba raib.  Sifat asalinya sebagai wanita yang keras tampak begitu nyata.

Azam menatapnya lekat.  Bibirnya bergetar.  Ada kekesalan yang muncul dalam dadanya setelah melihat ketidaksabaran Nurillah. Ia tidak menyangka, kalau Nurillah begitu gusar. Karenanya, Azam mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Nurillah.

Azam membalikkan badannya kemudian pergi. Nurillah ditinggalkannya sendiri. Azam tidak peduli.

Azzahra, Perempuan Bercadar Mawar (5)

Malam tiba. Dengan tanya yang masih merasuk. Azam, Zahra dan Nurillah jatuh dalam pelukan malam dan berstereu dengan tanya-tanya itu. Tidak tenang. Ketiganya bergulat dengan diri mereka sendiri dalam sepi dan kesendirian. Ketiganya bergulat dengan rasa, tentang satu soal, cinta. Azam bergualat dengan ketakutan dan kecemasan. Nurillah bergulat dengan penasaran. Sedang Zahra bergulat dengan kenangan dan kepahitan.  Malam itu ketiga bersama berharap menemukan jalan.

***

Azam tak dapat lagi menyembunyikan rahasianya yang terdalam. Bahwa ia masih mencintai Zahra. Dan ia harus mengatakan itu dengan jujur kepada Zahra, bukan cuma supaya segala rasa terpendam itu lepas, tetapi juga supaya segala rahasia menjadi nyata. Namun, pada saat yang sama, Nurillah adalah kekasihnya. Dan tentang itu, ia tidak hanya telah memberikan harapan yang besar kepada Nurillah, tetapi karena relasi cinta yang sama, silatarim Al Hidayah dan Al Hikam tetap terjaga.

Pergulatannya kian memuncak ketika ia harus mengatakan semua rahasia ini kepda Zahra dan Nurillah.

“Ya Allah…aku tidak tahu apa yang mesti aku perbuat” Azam berpasrah. “Aku tidak akan melukai Nurillah, dan aku pun tidak akan membuat Zahra tetap menderita”  lanjutnya.

“Nurillah sedang berbahagia. Kelompak cintanya sedang mekar. Ia bagai bunga yang tumbuh segar dalam taman yang tepat. Dan karenanya, aku tidak hendak melukai kebagiaannya” Azam menimbang dengan rasa.

“Dan kau Zahra…cintamu masih tetap menyala, walau dalam ketidakpastian. Engkau telah melewati dengan sabar, melampaui apa yang dipikirkan manusia. Cintamu tulus, sayangmu lapang. Dan aku tidak hendak membuatmu terus menderita. Karena aku tahu semuanya adalah karena aku”

Nurillah dan Zahra, dua pribadi yang dengan caranya masing-masing memberikan keajaiban bagi Azam. Melukai dan atau menambah luka bagi salah seorang dari keduanya, adalah dosa yang tak terampuni. Dia bukan hanya disebut pecundang, tetapi juga lelaki tidak berguna.

“Haruskah aku memilih?” Tanya Azam kepada dirinya sendiri.

Tidak. Aku tidak sedang dihadapkan pada pilihan. Aku sedang diuji untuk menjadi ribadi yang tegas. Mengatakan tidak kepada yang satu, dan mengakui cinta kepada yang lain. Cinta memang tidak untuk dimiliki dan memiliki. Tetapi aku harus mengakui bahwa dalam diri keduanya, baik Zahra maupun Nurillah ada cinta yang menyala.

***

Di seberang kamar. Nurillah tampak murung. Ada sebuah rahasia dalam dadanya yang belum tuntas dijawab. Siapakah Zahra bagi Azam. Siapakah Azam bagi Zahra. Mengapa antara keduanya begitu dekat. Pandangan mata mereka begitu menyatu. Adakah keduanya punya masa lalu yang indah kemudian terluka.

Nurillah mencoba memutar kembali ingatannya. Ia melepaskan semua ingatan itu dalam tanya. Mengapa Zahra meminta Azam menjadi pendampingnya ketika menjadi seorang muslimah. Mengapa Zahra mengunjungi Al Hidayah dan ingin menjumpai Azam.  Mengapa, dalam saat-saat tertentu sikap Azam begitu dingin terhadapnya. Mengapa Azam selalu memancarkan wajah bersalah ketika berjumpa Zahra. Mengapa Zahra memandang Azam dengan begitu berharap.

“Astaqfirullahalazim” Nurillah beristiqfar.

Tidak. Nurillah mencoba mengusir semua dugaannya. Ia merasa bersalah telah mencurigai Zahra dan Azam, sebelum mengetahui segala rahasia. Azam tidak mungkin melukainya, demikian juga Zahra. Jika keduanya punya masa lalu yang indah. Itu adalah masa lalu mereka.

“Ya, itu bukan menjadi urusanku. Jika mereka pernah jatuh cinta. Itu adalah masa lalu mereka. Sekarang adalah sekarang. Dan itu tak akan pernah kembali” Nurillah mencoba menguatkan hatinya.

***

Malam yang kian larut, dari balik jendela kamar, Zahra melepas pandang ke langit lepas. Dingin gerimis menyapu wajahnya yang lunglai. Tapi ia tidak beranjak. Bersama gerimis yang jatuh perlahan, ia menitihkan air mata.

“Ya Allah..ya Rabb…terlalu sakit bagiku untuk melalui semuanya ini. Kau mengujiku bertubi. Kau mencobaiku berulang. Aku tahu itu. Aku meyakini itu dengan sungguh. Dari karena aku percaya kepada-Mu, bahwa Engkau pasti akan menolongku, maka aku berani memilih jalan ini”

Zahra membayangkan semuanya. Masa lalunya ketika kanak-kanak. Masa indahnya bersama Azam, juga dukanya. Kegembiaraan dan kebahagiaanya menjadi muslimah, juga air matanya melelwati pilihannya itu. Semuanya melebur menjadi satu dalam sakit.

“Ya Allah…Ya Rabb…bagaimana aku harus melupakan semua kisah indahku bersama Azam. Sudah kucoba untuk meninggalkannya dalam malam-malamku. Tetapi dalam mimi-mimpiku ia hadir menjadi nyata. Ia begitu dekat”

Wajah Zahra ian baswah, bukan hanya karena gerimis yang diterpa angin malam, tetapi juga karena air matanya yang berguguran. Hendak ia melupakan semua, melenyapkan segala duka. Tetapi duka itu serupa kian mendekat, menghujam-hujam dadanya.

“Ya Allah..Ya Rabb…berikan aku keikhlasan dan kerelaan untuk melupakan Azam. Biarkan Engkau mengajariku bagaimana aku harus mencintai-Mu, tanpa ia hadir mengganjal hari-hariku. Aku mau mencintai-Mu dengan tulus hati, tanpa harus diintip dengan masa lalu yang ngeri”

“Ya Allah…”

***

Malam itu, dalam kesendirian mereka. Ketiganya berseteru dengan rasa. Masing-masing melukiskan kisah mereka. Azam bergualat dengan ketakutan dan kecemasan. Nurillah bergulat dengan penasaran. Sedang Zahra bergulat dengan kenangan dan kepahitan.  Namun ketiganya punya jalan, ketiganya berpasrah kepada Allah.

Hanya Tuhan dan Alam Yang Tahu (21/selesai)

Religious Myspace Comments
MyNiceProfile.com

Idul Fitri adalah momen istimewa dimana segenap mukmin diajak kembali kepada dirinya sendiri, membersihkan hati dan membiarkan dirinya dimiliki Allah. Sarah meyakini itu sungguh. Penjelasan Ustazd Zainudin pada hari-hari belajarnya menguatkan keyakinan itu. Bahwa Idul Fitri adalah peristiwa fitrah bagi seoarang mukmin untuk bertemu dengan Allah. Sebuah momen perjumpaan yang ditunggu-tunggu oleh setiap mukmin setelah menjalankan puasa.

Seperti yang disimaknya dengan sungguh dari yang dituturkan Ustaz Zainudin, bahwa Idul Fitri mengandung tiga hal penting. Yakni pertama, bahwa Idul Fitri merupakan peristiwa rasa penuh harap kepada Allah. Harapan pada pengampunan dosa dan salah.

Sarah sudah melakukan pesan itu dengan sungguh. Puasa sudah dijalani dengan tekun dan serius. Ia menjalankan itu dengan tanpa celah. Kendati ia belum sepenuhnya menjadi muslimah, tetapi sepanjang bulan suci ramadhan, kekhusukan itu sudah dibuktikannya.

Momen Idul Fitri menjadi penting adalah juga sebagai kesempatan untuk melakukan evaluasi diri pada ibadah puasa yang telah dikerjakan. Apakah puasa yang dilakukan telah sarat dengan makna, atau hanya sekedar  menahan lapar dan haus semata.

Ustaz Zainudin selalu berpesan kepadanya “Di siang bulan Ramadhan kita berpuasa, tetapi hati kita, lidah kita tidak bisa ditahan dari perbuatan atau perkataan yang menyakitkan orang lain. Kita harus terhindar dari sabda Nabi SAW yang mengatakan banyak orang yang hanya sekedar berpuasa saja: Banyak sekali orang yang berpuasa, yang hanya puasanya sekedar menahan lapar dan dahaga“.”

Sarah pun menyadari itu sungguh. Segala risau dan kecemasan ia maklumi sebagai batu ujian Allah atasnya. Ia tidak hanya memaafkan dirinya sendiri, tetapi juga yang paling menyakitinya, yaitu Azam. Kekecewaan dan sakit hatinya atas Azam pupus. Dengan jiwa besar, Sarah memberikan pemaafan itu dengan ikhlas.

Selanjutnya yang ketiga adalah, seperti yang dipahami Sarah, momen Idul Fitri merupakan kesempatan untuk mempertahankan nilai kesucian yang sudah diraih. Ustaz Zainudin, guru agamanya yang baik hati dan penuh perhatian menjelaskan pula pesan itu kepadanya berulang:

“Kita diharapkan agar tidak kehilangan semangat dalam ibadah karena lewatnya bulan Ramadhan, ketaqwaan kepada Allah harus terus dilanjutkan hingga akhir hayat”

Firman Allah SWT: “Hai orang yang beriman, bertagwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kati kamu mati melainkan dalam keadaan ber-agama Islam ” (QS. Ali Imran: 102). Demikian Ustaz Zainudin mengutip ayat Quran, untuk menegaskan pesannya.

Namun bagi Sarah, Idul Fitri, 1 syahwal 1431 H, menjadi moment yang paling berbahagia. Selain ketiga pesan yang disampaikan Ustazd Zainudin dijalani dengan sungguh sebagai ungkapan penyerahan dirinya yang tulus kepada Allah.

Juga, hari-hari hidupnya menjadi lebih bermakna, karena Idul Fitri pada 1431 Hijriah merupakan yang pertama, terindah dan terbahagia. Menjadi yang pertama karena pada ketika itu, Sarah masuk dalam keluarga besar jemaat Islam, yang mengakui nabi besar Muhammad saw sebagai Rasul Allah.

Menjadi yang terindah dan terbahagia karena ia menjadi muslimah, persis pada bulan suci Ramadhan. Bagi Sarah, itu adalah momen yang tak terlukiskan dengan kata.

Hanya Tuhan dan Alam Yang Tahu (20)

Tepat pukul 10 pagi, sehari sebelum 1 Syahwal 1431 Hijriyah, Sarah mengikrarkan syahadatnya, disaksikan Azam dan dua sahabatnya Dinda dan Dewi, serta keluarga besar pasantren Al Hidayah, Habib Ridzki, Umi Umayah, Nurillah, para pengasuh yang lain dan beberapa orang santri.

Di hadapan ustazd Zainudin dengan wajah tenang dan hati yang rela, Sarah menyatukan dirinya dalam agama Allah lewat dua kalimat syahadat.

Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh

Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah

wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh

dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah Rasul/utusan Allah

“Allahuakbar…” kata Sarah dalam hati. Beberapa menit setelah acara itu usai. Masjid Al Hidayah menjadi tempat terindah baginya di pagi hari itu. Pasantren keluarga Azam itu menjadi saksi bisu keajaibannya, yang disaksikan puluhan pasang mata penuh bahagia.

Tampak, wajah Dinda dan Dewi berkaca-kaca, melepas senyum haru. Keterkejutan dan ketakyakinan mereka terbasuh ketika itu. Habib Ridzki, Umi Umayah dan Nurillah turut berbahagia. Ustaz Zainudin, guru agama yang selama ramadhan mengajarkannya tentang islam kepadanya, tampak pula berbahagia.

Sementara Azam terpekur tunduk, larut dalam rasa yang masih terbelenggu ragu. Antara sesal, malu dan tak percaya melebur jadi satu.

“Sarah, aku turut berbahagia atas kebahagiaan yang kau alami. Semoga Allah senantiasa memberimu hidayah. Dan hari ini aku menjadi yakin, jika keyakinanmu itu adalah karena Ridho-nya dan bukan karena aku” Kata Azam dalam hatinya.

Di atas sajadah cinta dan totalitas penyerahan diri yang tulus kepada Allah, Sarah tak lelah memanjatkan terima kasihnya. Ia yakin dan percaya bahwa Allah-lah yang telah membukakan pintu baginya.

“Azam, segalanya telah berubah”  kata hati Sarah ketika pandangannya membentur wajah Azam. Azam mencoba untuk menatapnya lekat, tapi Sarah segera mengalihkan perhatiannya kepada sahabat dan rekannya yang lain, yang sedang mengucapkan salam. Tak kuasa Azam menahan malu dan haru. Ia pun berlalu, dengan wajah lesu, kemudian menghilang di balik pintu.

“Azam maafkah aku…ini bukan salahku. Aku dapat merasakan kelembutan dan kebaikan di matamu. Aku tahu semuanya adalah karenamu. Tapi tidak untuk hari ini dan hari-hari setelah hari ini. Karena sejatinya Allah adalah kekasihku”
Padangan Sarah mengantar kepergian Azam. Hendak ia mengejar untuk mengatakan semuanya, agar segala rasa itu tuntas tertumpah. Tapi hendak itu mengurungnya. Azam telah menghilang dan dia pun sudah dilingkari salam bahagia kawan dan sahabatnya.

Sarah pun larut dalam kebahagiaan dan kegembiraan itu, hingga hari meninggi, dan ketika ia harus kembali ke kamarnya yang sepi. Namun dari hati kecilnya yang paling dalam, Sarah masih menyimpan janji.

“Azam, aku akan mengatakan tentang semuanya. Mengapa aku menjadi berubah. Namun, perlu kau tahu, semuanya bukan karena aku membencimu. Tetapi justru, karena kau telah membuka mata hatiku dan mempertemukanku dengan kekasihku yang sungguh. Yaitu Allah saw”

Hanya Tuhan dan Alam Yang Tahu (18)

Pesan Sarah yang disampaikan Dewi dan Dinda tentu saja mengejutkan Azam. Dadanya bergetar. Jiwanya berontak. Hendak ia menolak keputusan Sarah, dan mengatakan tidak atau jangan, tapi ia tidak kuasa. Ia tak dapat mengelaknya bukan hanya karena keputusan Sarah sudah bulat. Tetapi juga karena ia turut berperan dalam skenario kehidupan Sarah.

“Ya Allah, ke dalam tangan-Mu kupasrahkan semuanya…sebab segalanya hanya Engkau yang tahu ya Allah”

Sepanjang malam itu, Azam tak dapat memejamkan matanya. Bathinnya bergejolak. Bertubi-tubi datang pertanyaan yang tak tuntas dijawabnya.

“Sarah…apakah engkau yakin dengan keputusanmu? Sudahkah engkau perimbangkan segala resiko yang akan mendera hari-harimu? Apakah sudah engkau katakan tentang maksud dan tujuanmu kepada kedua orang tuamu? Jika hanya karena aku engkau mengucapkan syahadat, maka segalanya akan menjadi sia-sia. Sarah, aku berharap bukan karena aku, engkau menjatuhkan keputusan ini”

Pertanyaan-pertanyaan itu datang silih berganti. Membentur-bentur ruang kepalanya. Mencabik-cabik hatinya. Hendak ia bertafakur dalam khusuk, tetapi bathinnya meronta. Hendak ia pejamkan mata, tetapi kegelisahan itu membangunkannya.

“Ya Allah…ya Rabb” Azam berpasrah. Di kamarnya, ia berjalan bagai mengelilingi kabah. Tasbih di tangannya tak ia lepaskan, walau bukan untuk apa-apa, selain menjadi pelepas kesal. Sesekali ia memandang keluar jendela. Tak ada siapa, tak ada apa. Gelap.

“Sarah…seharusnya bukan sekarang….bukan sekarang…bukan sekarang… Aku tahu kau akan melakukan itu. Dari hati kecilku yang paling dalam aku tahu kau akan memilih jalan ini. Aku pun tahu kalau kau tak akan pernah ingkar janji. Tetapi…. tetapi mengapa engkau melakukannya begitu cepat?

“Dari hati kecilku yang paling dalam, aku berjanji bahwa aku tak akan pernah meninggalkamu. Tentang itu aku bersumpah…namun demikian aku berharap, semoga bukan karena aku, engkau mengambil keputusan ini. Sebab itu akan menjadi penghalang bagimu”

“Ya Allah…ya Rabb…. ke dalam tangan-Mu kupasrahkan semuanya…sebab segalanya hanya Engkau yang tahu ya Allah”

Gelisah Azam kian memuncak. Kescemasan kian mendera jiwanya. Ia benar-benar tak kuasa atas semua tanya yang menerjangnya. Segala sendi pada raganya bagai terlepas. Kepalanya berdenyut.

Namun ia berusaha untuk tetap tenang. Beberapa saat ia terdiam. Mengosongkan segala tanya dari ruang kepalanya. Ia menyudahi perjalannya mengelilingi kamar. Menarik kursi dan menjejakkan duduknya. Azam mencoba menenangkan jiwanya. Melepaskan kecemasannya perlahan. Ia pejamkan mata, menarik napas panjang.

“Ya Allah….ya Allah…ya Allah” Kemudia Azam kembali diam. Larut dalam sepi malam.

“Sarah…engkau pasti sudah sangat membenciku. Dan oleh karena itu bukan karena aku, engkau memutuskan ini. Tetapi mengapa engkau memintaku untuk menjadi pendampingmu. Ya…ya…aku yakin, engkau mau mengatakan kepadaku bahwa bukan karena aku. Ya, aku meyakini itu”  Keraguan masih menyembul dari ruang kepalanya.

“Sarah…menjadi seorang muslim berarti hanya mempercayai Allâh sebagai satu-satunya Allah. Itulah hakikat syahadat yang sesungguhnya dan utama. Allah adalah Tuhan dalam arti sesuatu yang menjadi motivasi atau menjadi tujuan seseorang. Jadi dengan mengikrarkan syahadat, seorang muslim memantapkan diri untuk menjadikan hanya Allah sebagai tujuan, motivasi, dan jalan hidup”

“Sarah…syahadat juga merupakan pengakuan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allâh. Dengan mengikrarkan kalimat ini seorang muslim memantapkan diri untuk meyakini ajaran Allâh seperti yang disampaikan melalui Muhammad saw, seperti misalnya meyakini hadits-hadits Muhammad saw. Termasuk di dalamnya adalah tidak mempercayai nabi siapa pun setelah Muhammad saw”

Azam mencoba menguraikan sejatinya maksud syahadat. Sekedar untuk menenangkan jiwanya yang resah. Dan membangun keyakinan kalau-kalau, Sarah memutuskan untuk mengucakan syahadat adalah karena alasan seperti yang dimaksud kebanyakan mukmin.

“Sarah…bukan karena aku, bukan? Karena demi Allah dan Nabi-Nya, maka besok, sehari sebelum 1 Syahwal 1431 H, tepat jam 10, seperti yang kau sampaikan, aku akan mendampingimu”

Dari tempat duduknya, Azam menengadah. Memanjatkan doa. Memohon pertolongan dan petunjuk Allah. Kemudian, dengan gontai ia pindahkan tubuhnya yang lelah ke atas ranjang. Bukan untuk pejamkan mata. Karena subuh sebentar lagi datang. Azam hanya melepaskan lelahnya. Setelah sepanjang malam bergulat dengan kecemasan, dan sekian pertanyaan yang tak tuntas dijawab.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: