Tulisan yang ditandai ‘aku’

Ketika Aku Serupa Sepatu

Walau tidak harus disamapersiskan, namun jika hendak memperbandingkan aku dengan apa atau siapa, maka aku akan lebih memilih menjadi serupa sepasang sepatu. Pilihan ini diambil lantaran karena dua kisah. Kisah pertama adalah karena ke mana pun aku pergi, aku selalu mengenakan sepatu. Sepatu bagiku tidak hanya pelindung bagi kulit tapakku yang mudah lepuh, tetapi juga melepas jejak yang sangat membekas pada tanah. Pada jejak-jejaknya terlahir cerita dan kisah yang sulit untuk dilupakan, bukan hanya tentang apa, tetapi juga tentang siapa.

Kisah kedua adalah karena di sudut sebuah rumah kutemukan banyak sepatu terjungkal-jungkal. Sepatu-sepatu itu saling tindih menindih, tending menendang, injak menginjak hingga tidak ada ruang bagi mereka untuk bebas berjajar membentuk barisan berpasang-pasangan. Mereka telah dijadikan tidak lebih sebagai rongsokan, sebagai sampah yang pantas untuk digeletakkan di rak bambu rumah itu.

Lantan dua kisah itu, ibaku jatuh. Dalam ibaku, kumerenungkan sungguh bahwa sepatu sesungguhnya adalah hidupku. Di tengah pusaran kehidupan yang kian kejam oleh peristiwa-peristiwa yang datang tidak terduga, aku kadang linglung jatuh rapuh. Di tengah kesibukan dan kebisingan globalisasi informasi dan ekonomi pasar, nomad pemuja tubuh, petarung kapital, pendaki karier dan penjilat kekuasaan mengubur kecemasan eksistensial dalam kesibukan, aku lantas bertanya siapakah sesungguhnya aku.

Sepakat atau tidak, sudah barang tentu tentang gemuruh diri ini tidak banyak yang sepakat, walau mungkin dari sekian banyak orang ada yang sepakat walau sedikit-sebagian

Pada ketika itu aku  jawaban tentang sepatu kutemukan. Aku serupa sepatu, aku hidup dan ada, sekalipun aku terjebak pada lumpur dan terjerembab pada tanah. Kehidupan, lantas, menjadi bernyawa ketika aku bergulat dengan derita-derita dan berenang dalam linangan air mata. Kata Albert Camus, kehidupan itu absurd dan tak bermakna. Tetapi bagiku dalam ketakbermaknaan kutemukan sejatinya kehidupan. Tidak hanya bermakna dalam satu hal, tetapi juga dalam banyak, tentang kehidupan yang kini dan di sini, juga tentang kehidupan pada tempat dan dunia yang lain.

Aku lantas berbangga menjadi diriku sendiri. Bahwa dalam keterlemparan dan ketakberdayaan kehidupan, aku menjadi bermartabat. Dalam situasi itu, kakiku mengajakku pergi melintasi langit, mengarungi dalamnya samudera, mengukir langit di tepi aurora. Tujuan bukan untuk siapa dan apa, tetapi untuk menjadi diriku sendiri, sebagaimana yang sudah dianugerahkan Tuhan kepada saya.

Sepakat atau tidak, sudah barang tentu tentang gemuruh diri ini tidak banyak yang sepakat, walau mungkin dari sekian banyak orang ada yang sepakat walau sedikit-sebagian. Namun jika hendak menyelami kedalaman eksistensi sepatu, kita rupa-rupanya baru menyadari bahwa sepatu itu adalah aku-nya kita yang lain. Tentang ini, kita tidak dapat mengerti dan apalagi memahaminya sungguh, sebelum kita bergulat dengan sepasang sepatu pada kaki kita masing-masing.

Luna Maya, Biarkan Kupu-Kupumu Terbang

Untuk Luna Maya, aku mengatakan dia bukan orang berdosa. Sebab aku bukan Tuhan yang bisa mengatakan itu. Jika aku ditanya, apa kalimat yang tepat untuk mendefinisikan tindakan cinta terlarangnya bersama Ariel, aku hanya akan mengatakan bahwa Luna adalah salah satu dari sekian banyak orang yang ‘kawin di luar nikah’.

Tentang tindakannya itu, aku hanya mengatakan bahwa perbuatan itu sebagai tidak baik, karena secara terang benderang melanggar norma moral universal. Bahkan jika mau diurutkan tentang ketidakbaikan yang terjadi di tanah air, tindakan Luna Maya termasuk dalam kategori ‘agak mending’. Sebab masih ada yang lebih bejat dari Luna, yakni mereka yang memperkosa rakyat dengan ‘tipu-tipu’ politis, dengan ‘maling-maling’ korupsi.

Namun, dalam catatan kecil ini bukan tentang ‘kawin di luar nikah’ Luna Maya atau (apalagi) tentang ‘tipu-tipu’ politis dan ‘maling-maling’ korupsi para elite politik. Yang akan kukata-kisahkan adalah tentang satu hal yang positif dan atau yang bail dari Luna Maya. Pertama, ia sudah mengatakan maaf secara terbuka, kemudian kemudian ia mau kembali kepada jalan yang benar.

Mengapa baik? Karena mengatakan dan atau mengaku salah di hadapan khalayak adalah perbuatan yang butuh nyali besar. Di tengah kekecutan situasi, dan sindrom budaya tidak tahu malu, mengakui bahwa telah keluru dan salah adalah sesuatu yang ‘alergi’. Adalah lebih baik mengatakan tidak dengan konsekuensi tersiksa secara psikologis, ketimbang harus mengatakan ‘Maaf, saya telah melakukan itu’

Selanjutnya adalah tentang ‘kembalinya’ Luna Maya pada keseharian dalam rutinitasnya sebagai seorang artis. Siapa pun akan memaklumi itu, walau mungkin Luna sendiri masih tersiksa secara berulang oleh malu yang ia derita. Tapi bagiku tidak mengapa. Malunya adalah manusiawi. Deritanya adalah juga manusia. Menyembuhkan emosi dan luka bathin bukan pekerjaan karbitan, semisal mengubah kopral jadi kapolri dalam waktu hanya dua tiga hari.

“Luna Maya, aku masih ingat dengan kupu-kupu atau (mungkin) bukan di pinggulmu. Tentang itu sangat menyita mata. Sampai suatu saat, seperti hari ini, aku menuliskan itu dalam kalimat: lupakan kupu-kupu itu, biarkan dia terbang, sekarang saatnya anda meraih mimpimu”

Kini, Ariyo Wahab dan Rahmania Arunita secara tidak langsung telah ‘menyelamatkan’ Luna Maya dari rasa malu yang mendalam. Dalam  Nathalie’s Instinct, sebuah film pendek berdurasi 10 menit yang diangkat dari cerpen Basic Instinct karya Rachmania Arunita, sang sutradara, Ariyo Wahab menjadikan Luna Maya sebagai perempuan yang bermartabat. Sebagai Natalie, Luna dihadapkan dengan sebuah pertanyaan eksistensial ‘Siapakah saya dan mengapa aku harus berada di sini?”

Terlepas dari Luna Maya sebagai Natalie, pertanyaan tersebut di atas sesungguhnya dapat mengetuk hati Luna Maya sebagai pribadi yang pernah berbuat salah. Pertanyaan yang harus direfelsikan secara matang dan sungguh, sebagai momen penting menuju perubahan yang lebih besar dalam karir keartisannya. Pertanyaan yang sama seharusnya mengetuk hati kita semua sebagai warga bangsa, agar kita senantiasa sadar akan ‘keberdosaan’ kita. Bahwa sejatinya di tengah situasi hampa budaya malu, kita diajak untuk mencoba menunjukkan diri, berjiwa besar, mangatakan sebagai ‘yang salah’ atas kehidupan kita sendiri, keluarga, lingkungan, bangsa dan tanah air.

“Luna Maya, aku masih teringat dengan kupu-kupu atau bukan di pinggulmu. Tentang itu sangat menyita mata. Sampai suatu saat aku berujar, lupakan kupu-kupu itu, biarkan dia terbang, sekarang saatnya anda meraih mimpimu”

Sekelumit Tentang Nathalie’s Instinct

Ia kembali teringat lagi dengan pembicaraannya dengan Christine yang telah membuatnya berada disini, menghadapi 15 orang pria berganti-ganti dan menghabiskan waktu 8 menit bersama pria yang punya style yang sama dan kehidupan yang rata-rata sama, seperti yang dituliskan Nathalie di persyaratan jodoh yang dia inginkan.

Dan berkat pikiran yang melayang-layang, akhirnya 8 menit itu pun selesai sudah. Ketika Nathalie keluar dari restoran, Christine sudah menantinya. Nathalie langsung menyatakan bahwa speed dating adalah kesalahan, sama seperti keyakinan bahwa ada pria yang tepat untuknya seperti yang ia inginkan.

Tapi tiba-tiba Eric, teman kerja Arthur –pacar Christine muncul. Tiba-tiba Nathalie “merasakannya”. Dalam pembicaraan yang singkat, ada chemistry antara Nathalie dan Eric. Malah Christine tiba-tiba seperti tak ada. Malam itu, Nathalie dan Eric berbagi taksi bersama-sama.

Sekelebat Angin

Ada hasrat yang lebih, bukan hanya tentang kemampuan untuk berpikir tetapi juga keinginan untuk merasa. Manusia mengalami itu. Semua manusia, tampa kecuali. Seorang gila sekalipun. Pada saat-saat tertentu, aku kadang terjebak dalam situasi ini. Tentang sesuatu yang lebih. Aku ingin berpikir melampaui sekedar apa yang terpikirkan dan dipikirkan. Aku pun ingin merasakan apa yang tidak pernah kurasakan.

Dalam keseharian, dalam kenyataan, sesuatu yang lebih itu selalu terbentur dalam ruang dan waktu. Sesuatu yang lebih selalu seperti dipagar-pagar waktu, dan disekat-sekat ruang. Sesuatu yang tak terelakkan. Tak terbantahkan oleh manusia manapun.

Namun hanya dalam kata, aku menemukan sesuatu yang lebih, baik tentang apa yang kupikirkan dan apa yang aku rasakan tertampung. Bahkan Meluap-luap. Dalam setiap kata, dalam rimba kalimat, aku selalu menemukan titik pencarian itu. Hanya dalam kata aku serupa angin, berkelebat dalam liukan huruf dan angka, tanda-tanda baca, kalimat dan frasa. Hanya dalam kata, aku kadang menemukan diriku sendiri mampu, walau dalam pada saat-saat tertentu aku menemukan diriku tidak bermakna.

Tetapi dalam kata, dalam rimba kalimat, aku berpetualang, menemukan diriku sendiri. Aku kira, tidak hanya aku, tidak juga kau. Dalam kata sesuatu yang lebih diperjumpakan, dipertemukan, dan mewujudkan dirinya.

Driyakara Pada Sekelompok Anak

Prof. Dr. Nicolaus Driyarkara SJ (lahir di Kedunggubah, Kaligesing, Purworejo, 13 Juni 1913 – meninggal di Girisonta, Ungaran, Jawa Tengah, 11 Februari 1967 pada umur 53 tahun). Ajaran pokok Driyarkara yaitu "manusia adalah kawan bagi sesama". Manusia adalah rekan atau teman bagi sesamanya di dunia sosialitas ini (homo homini socius). Pikiran homo homini socius ini ditaruh untuk mengkritik, mengoreksi, dan memperbaiki sosialitas preman; sosialitas yang saling mengerkah, memangsa, dan saling membenci dalam homo homini lupus (sesama adalah serigala bagi manusia). Sampai tahun 1951 nama Driyarkara tidak dikenal. Hampir seluruh waktunya dia gunakan untuk studi secara intensif. Catatan harian yang ditulisnya sejak 1 Januari 1941 sampai awal tahun 1950 tidak pernah lepas dari persoalan aktual-mendesak yang dihadapi manusia, khususnya rakyat Indonesia. Karya publik awal tulisannya tidak langsung filosofis. Karya awalnya berupa catatan ringan dalam bahasa Jawa yang dimuat majalah Praba, sebuah mingguan berbahasa Jawa yang terbit di Yogyakarta. Disusul kemudian dengan Warung Podjok dengan nama samaran Pak Nala. Terbitnya majalah Basis tahun 1951 membuka peluang Driyarkara memperkenalkan ide-idenya ke masyarakat. Mulanya dengan nama Puruhita, kemudian dengan nama lengkap Driyarkara. Cara penyajiannya bergaya percakapan, setapak demi setapak membawa pembaca ke permenungan filosofis. Saat mengasuh Basis, Driyarkara diserahi tugas menjadi Dekan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Sanata Dharma, embrio IKIP Sanata Dharma. Pidato pertanggungjawabannya tentang kepentingan pendidikan guru memperoleh tanggapan luas, dan sejak saat itu (1955) selain dikenal sebagai filsuf juga seorang ahli pendidikan. Lewat tulisan, pidato, ceramah, dan kuliah, Driyarkara memberikan pencerahan proses pencarian jati diri bangsa. Misalnya, ketika gerakan mahasiswa marak pada tahun 1966, dialah pembela pertama hak mahasiswa dan pelajar untuk demonstrasi. Di tengah keadaan kritis dan buntu-mentok, dia tampil dengan gagasan menerobos lewat pemberian makna. Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Nicolaus_Driyarkara#Biografi

Sekelompok anak bermain sepak bola. Umur mereka berkisar sepuluh sampai dua belas tahun. Entah ke mana arah bola ditendang, tidak tentu arah. Mereka tertawa, ketika salah seorang dari mereka terjungkal atau terguling-guling di atas rumput. Ada saat dimana mereka beristirahat sejenak, ketika salah seorang dari mereka mengeluh lelah dan menjerit kesakitan. Mereka sudah selalu seperti itu setiap hari, sejak aku menjadi penghuni rumah di samping lapangan rumput kecil itu.

Sudah sejak itu, sejak Maret 2010, jika waktu tidak sedang sibuk betul, kadang aku bergabung bermain bersama mereka. Ketika aku larut dalam setiap permainan mereka, aku menemukan bahwa bukan maksud mereka bermain bola. Bukan maksud mereka pula untuk berolahraga dan mencari keringat. Kata Julham, salah satu dari mereka “kami Cuma mau ngumpul-ngumpul doang, soalnya kami adalah temanan”.

Aku tergugah, terkesima. Sekelompok anak yang sadar betul bahwa mereka tidak sedang bermain dengan permainan sepak bola, apalagi membiarkan sepak bola mempermainkan mereka. Mereka sudah sedang bermain untuk suatu maksud, bukan kalah menang, apalagi untuk sebuah taruhan tertentu, tetapi untuk menjadikannya sebagai media perjumpaan, integrasi dan kebersamaan, karena seperti kata Julham “kami adalah temanan”.

Sampai pada batas itu, aku teringat dengan Nikolaus Driyarkara, seorang filosof, yang juga menjadi penggagas berdirinya Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Menurut Diriyarkara permaian sesungguhnya bermartabat. Dalam “Permainan sebagai aktivisasi dinamika”, yakni untuk menuju pembebasan manusia (Filsafat Manusia, hal 79-86, terutama pedoman penutup pada hal 83-84). Begini Driyarkara merefleksikan hakikat permaianan dengan amat jernih:

“Bermainlah dalam permainan tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi permainan jangan dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidaksungguhannya, sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh lagi. Mainlah dengan eros, tetapi janganlah mau dipermainkan eros. Mainlah dengan agon tetapi jangan mau dipermainkan agon. Barang siapa mempermainkan permainan, akan menjadi permainan permainan. Bermainlah untuk bahagia tetapi janganlah mempermainkan bahagia”

Menarik untuk direfleksikan, bahwa sekelompok anak yang bermain bola, telah menjadikan permainan tersebut sebagai sebuah upaya pembebasan manusia untuk keluar dari dirinya sendiri dan menempatkannya dalam lingkup yang lebih luas sebagai makhluk sosial. Mereka dalam kepolosan dan keluguannya masing-masing telah menempatkan hakikat manusia sebagai makhluk yang sadar, bahwa mereka tidak hanya meng-aku, tetapi juga meng-kita.

Meminjam Driyarkara, seperti yang diuraikan Muji Sutrisno dalam ”Jejak Pikiran dan Sosok Driyarkara” (http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0402/19/opini/861953.htm) bahwa Jejak besar pertama pikiran Driyarkara adalah posisi manusia dengan eksistensinya sebagai pusat. Dalam Filsafat Manusia Driyarkara, “manusia adalah siapa yang ber-apa dan apa yang bersiapa”. Menurut Sutrisno, ke-siapa-annya diuraikan Driyarkara dalam kata-kata: manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya. Manusia adalah subyek atau persona yang sadar. Dinamika persona adalah rentetan tenunan subyek sadar diri dan subyek yang berbuat dan ber-apa untuk menampilkan siapanya di dunia ini. Dalam proses mendunia inilah, sebagai persona, manusia dunia dalam kebudayaan.

Sekelompk anak yang bermain bola di samping rumahku itu sadar betul bahwa mereka hendak mengatakan tentang diri mereka sendiri di hadapan teman-teman seklompoknya sebagai ”teman” atau ”rekan” bukan sebagai lawan apalagi sebagai musuh. Permainan sepak bola yang mereka mainkan bukan sebuah sebuah permainan yang dipersungguh. Mereka sadar betul bahwa kesungguhan permainan terletak pada ketidaksungguhannya.

Lantaran mereka menempatkan permainan tetap dalam wilayah ketidaksungguhan, maka mereka bisa menemukan hakikat kemanusiaan dalam permainan tersebut. Bahwa sesungguhnya antara Julham dan kawan-kawannya adalah teman, atau rekan atau sahabat atau kawan. Namun, bukan tidak mungkin, jika mereka mempersungguh permainan sepak bola yang mereka mainkan, maka hakikat sesungguhnya tentang kemanusiaan mereka sebagai makhluk sosial akan terabaikan.

Selamat bermain, dan marilah kita bermain bersama-sama, bukan untuk mempersungguh permainan yang kita mainkan, tetapi membangun integrasi, komunikasi dan kebersamaan. Bahwa aku dan sekelompok anak itu tidak hanya meng-aku, tetapi juga meng-kita.

Aku Pada Segelas Kopi Kocok

Dengan segelas kopi, aku menyadari bahwa setiap kata yang berkelebat dalam ruang kepalaku adalah makna. Setiap pertanyaan yang selalu tidak puas untuk dijawab, adalah sebuah kesempatan untuk memberikan ruang kesadaran kepadaku untuk berulang berpikir, melihat dan merasa. Dengan terus berulang aku berpikir, melihat dan merasa, aku menyadari bahwa sesungguhnya aku ada.

Tentang segelas kopi, aku tak pernah sudah untuk bercerita. Selalu saja, jika kedua belah bibirku menyentuh pada bibir gelas minuman pekat itu, yang berkelebat dalam benakku adalah tentang kata. Tentang kata apa saja. Kadang berkelebat kata-kata menyengat rasa, menggelora peperangan dan pemberontakan. Namun di lain sempat, berkelebat sebaris syair manis, tentang romantika, yang mengalun-alun kata cinta.

Pernah, karena segelas kopi pekat, berkelebat dalam benakku pemberontakan para petani kopi Indonesia. Dalam ‘Bau Zapatista di Uap Kopi Javaro’ aku menangkap kemarahan Noam Chomsky atas neoliberalisme dan kapitalisme. Aku pun turut angkat senjata, berlari ke tangah-tengah pasar bebas sambil mengumpat-umpat “Neoliberalisme, mengapa kau kangkangi petani kecilku”.

Pernah pula, karena segelas kopi yang sama, aku dipaksanakan menafsirkan sebuah fakta tentang ‘Kedai Kopi” sebagai sebuah “Ruang Publik’. Aku dihantar masuk ke dalam keseharian kedai kopi untuk memaknai secara lebih mendalam tentang makna perjumpaan manusia. Bahwa, dengan amat benderang aku menyaksikan kedai kopi sebagai minatur ruang sosial. Aku tidak hanya menemukan beragam tema perjumpaan manusia, tetapi juga tentang kepedulian manusia sebagai makhluk sosial.

Lantas, tentang segelas kopi aku pun bertanya: mengapa aku tak pernah sudah bercerita tentangnya? Mengapa dari segelas kopi selalu ada peristiwa yang menghadirkan cerita? Mengapa selalu, setiap saat berhadapan dengan segelas kopi yang berkelebat dalam ruang kepalaku adalah pertanyaan tentang sesuatu? Pertanyaan-pertanyaan yang selalu tidak puas bagiku untuk menjawabnya.

Jika aku menganggap bahwa setiap pertanyaan yang terlontar dapat aku jawab, maka di hadapan segelas kopi yang lain, jawaban itu bisa saja terpatahkan. Tentang segelas kopi aku selalu menemukan kata yang seolah-seolah tidak puas untuk dikisahkan. Aku seakan selalu dihadapakan pada peristiwa yang memaksaku untuk terus bercerita. Semakin setiap kata itu berkelebat, aku menyadari bahwa aku semakin menemukan diriku sendiri dalam realitas.

***

Tentang itu aku punya cerita. Setelah sekian lama alpa mengunjungi simpang Sentosa Meulaboh Aceh Barat, akhirnya aku kembali datang mencicipi segelas kopi kocok. Segelas adonan kental bau amis yang hampir tak berbekas wanginya dalam ingatanku. Dan baru sekarang, pada malam pukul dua puluh empat, Selasa tiga puluh maret dua ribu sepuluh, kembali dia hadir di hadapanku. Wajahnya tidak berubah, masih kuning langsat. Gelora nafsunya pun masih membara. Itu terbaca dari kepulan uapnya mengepul-ngepul bagai pecinta minta dijamah. Bola busanya satu persatu pecah, bagai rambut sanggul basah yang diurai, jatuh menetas jadi cairan yang memenuhi segelas kaca.

Seteguk aku mencumbuinya dari bibir gelas. Kentalnya menempel pada pori-pori lidah. Pekat. Terus mengalir menelusuri rongga tenggrokan. Hingga, seperti bermuara pada dada, terasa hangat. Lantas, menyerap masuk ke semua seluk urat tubuh. Tidak lama berselang, dia membalas menjamahku. Perlahan sampai akhirnya memucak pada pelupaan atas larut malam.

Dia penuh semangat, dia mengaduk-aduk ruang kepalaku. Aku seperti dipaksakan untuk terus berpikir, terus merenung dan bertanya tentang sesuatu. Sesuatu yang tak kupikirkan sebelumnya tiba-tiba berkelabat keluar kepala. Aku seperti menjadi manusia paling waras di dunia, yang bisa memikirkan tentang apa saja termasuk tentang apa yang dipikirkan orang gila. Namun, sementara aku berpikir tentang sesuatu, aku seperti semakin mengambil jarak atas sesuatu itu. Ketika aku berpikir tentang diriku sendiri, aku seperti hendak keluar dari diriku sendiri. Aku mau melihat diriku dari jauh, agar menjadi lebih utuh dan sempurna.

Dan adonan kental itu yang masih tersisah setengah gelas, seperti berhamburan keluar: Kuning telur, ampas, bubuk, hitam, susu putih, abu-abu, air panas, kental, sendok pengaduk, besi, gelas kaca, dan bening. Aku seakan dipaksakan untuk terus melihat, memandang dan menyaksikan tentang sesuatu yang tercecer dan terburai. Aku seperti sedang diajak masuk mengalami serpihan-serpihan kehidupan. Namun, aku tidak sekedar melihat. Aku menyadari sungguh bahwa yang sedang kulihat bukan sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi antara satu dengan yang lainnya saling bersinggungan, mendekat dan menyatu.

Aromanya pun amis, wangi, basi, asin, manis, pahit mengepul-ngepul menyengat. Aku seperti diajak untuk menggauli ketidaktahuan warna rasa. Sebuah warna rasa yang tidak sanggup aku katakan. Aku seakan-akan diminta untuk terus merasakan tentang sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan. Semakin aku mencoba untuk mengelak untuk tidak mengendus bau amis itu, pada saat yang sama saya seperti sedang masuk ke dalam rasa tanpa kata. Semakin aku menolak, baunya semakin menyengat. Semakin aku menghindar, baunya semakin dalam kuhirupkan.

***

Baik berpikir, melihat dan merasa aku menyadari bahwa aku ada. Aku ada sebagai sebuah subjek yang sedang berhadapan dengan sesuatu yang harus dipecahkan, diamati, dan dirasakan. Aku ada sebagai pribadi yang otonom, yang sadar, yang selalu berjaga dan terjaga, sehingga dengan tahu dan mau mencoba untuk selalu memaknai sesuatu. Lantas, tentang segelas kopi, selalu dihadirkan kepadaku peristiwa yang menghadirkan cerita untuk dikisahkan. Dengan segelas kopi, aku menyadari bahwa setiap kata yang berkelebat dalam ruang kepalaku adalah makna. Setiap pertanyaan yang selalu tidak puas untuk dijawab, adalah sebuah kesempatan untuk memberikan ruang kesadaran kepadaku untuk berulang berpikir, melihat dan merasa. Dengan terus berulang aku berpikir, melihat dan merasa, aku menyadari bahwa sesungguhnya aku ada.

Aku ada untuk mengisahkan tentang segala kata. Bukan hanya tentang kata-kata menyengat rasa, menggelora peperangan dan pemberontakan. Bukan pula, hanya tentang sebaris syair manis, tentang romantika, yang mengalun-alun kata cinta. Tetapi tentang sesuatu. Realitas.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: