
Dengan segelas kopi, aku menyadari bahwa setiap kata yang berkelebat dalam ruang kepalaku adalah makna. Setiap pertanyaan yang selalu tidak puas untuk dijawab, adalah sebuah kesempatan untuk memberikan ruang kesadaran kepadaku untuk berulang berpikir, melihat dan merasa. Dengan terus berulang aku berpikir, melihat dan merasa, aku menyadari bahwa sesungguhnya aku ada.
Tentang segelas kopi, aku tak pernah sudah untuk bercerita. Selalu saja, jika kedua belah bibirku menyentuh pada bibir gelas minuman pekat itu, yang berkelebat dalam benakku adalah tentang kata. Tentang kata apa saja. Kadang berkelebat kata-kata menyengat rasa, menggelora peperangan dan pemberontakan. Namun di lain sempat, berkelebat sebaris syair manis, tentang romantika, yang mengalun-alun kata cinta.
Pernah, karena segelas kopi pekat, berkelebat dalam benakku pemberontakan para petani kopi Indonesia. Dalam ‘Bau Zapatista di Uap Kopi Javaro’ aku menangkap kemarahan Noam Chomsky atas neoliberalisme dan kapitalisme. Aku pun turut angkat senjata, berlari ke tangah-tengah pasar bebas sambil mengumpat-umpat “Neoliberalisme, mengapa kau kangkangi petani kecilku”.
Pernah pula, karena segelas kopi yang sama, aku dipaksanakan menafsirkan sebuah fakta tentang ‘Kedai Kopi” sebagai sebuah “Ruang Publik’. Aku dihantar masuk ke dalam keseharian kedai kopi untuk memaknai secara lebih mendalam tentang makna perjumpaan manusia. Bahwa, dengan amat benderang aku menyaksikan kedai kopi sebagai minatur ruang sosial. Aku tidak hanya menemukan beragam tema perjumpaan manusia, tetapi juga tentang kepedulian manusia sebagai makhluk sosial.
Lantas, tentang segelas kopi aku pun bertanya: mengapa aku tak pernah sudah bercerita tentangnya? Mengapa dari segelas kopi selalu ada peristiwa yang menghadirkan cerita? Mengapa selalu, setiap saat berhadapan dengan segelas kopi yang berkelebat dalam ruang kepalaku adalah pertanyaan tentang sesuatu? Pertanyaan-pertanyaan yang selalu tidak puas bagiku untuk menjawabnya.
Jika aku menganggap bahwa setiap pertanyaan yang terlontar dapat aku jawab, maka di hadapan segelas kopi yang lain, jawaban itu bisa saja terpatahkan. Tentang segelas kopi aku selalu menemukan kata yang seolah-seolah tidak puas untuk dikisahkan. Aku seakan selalu dihadapakan pada peristiwa yang memaksaku untuk terus bercerita. Semakin setiap kata itu berkelebat, aku menyadari bahwa aku semakin menemukan diriku sendiri dalam realitas.
***
Tentang itu aku punya cerita. Setelah sekian lama alpa mengunjungi simpang Sentosa Meulaboh Aceh Barat, akhirnya aku kembali datang mencicipi segelas kopi kocok. Segelas adonan kental bau amis yang hampir tak berbekas wanginya dalam ingatanku. Dan baru sekarang, pada malam pukul dua puluh empat, Selasa tiga puluh maret dua ribu sepuluh, kembali dia hadir di hadapanku. Wajahnya tidak berubah, masih kuning langsat. Gelora nafsunya pun masih membara. Itu terbaca dari kepulan uapnya mengepul-ngepul bagai pecinta minta dijamah. Bola busanya satu persatu pecah, bagai rambut sanggul basah yang diurai, jatuh menetas jadi cairan yang memenuhi segelas kaca.
Seteguk aku mencumbuinya dari bibir gelas. Kentalnya menempel pada pori-pori lidah. Pekat. Terus mengalir menelusuri rongga tenggrokan. Hingga, seperti bermuara pada dada, terasa hangat. Lantas, menyerap masuk ke semua seluk urat tubuh. Tidak lama berselang, dia membalas menjamahku. Perlahan sampai akhirnya memucak pada pelupaan atas larut malam.
Dia penuh semangat, dia mengaduk-aduk ruang kepalaku. Aku seperti dipaksakan untuk terus berpikir, terus merenung dan bertanya tentang sesuatu. Sesuatu yang tak kupikirkan sebelumnya tiba-tiba berkelabat keluar kepala. Aku seperti menjadi manusia paling waras di dunia, yang bisa memikirkan tentang apa saja termasuk tentang apa yang dipikirkan orang gila. Namun, sementara aku berpikir tentang sesuatu, aku seperti semakin mengambil jarak atas sesuatu itu. Ketika aku berpikir tentang diriku sendiri, aku seperti hendak keluar dari diriku sendiri. Aku mau melihat diriku dari jauh, agar menjadi lebih utuh dan sempurna.
Dan adonan kental itu yang masih tersisah setengah gelas, seperti berhamburan keluar: Kuning telur, ampas, bubuk, hitam, susu putih, abu-abu, air panas, kental, sendok pengaduk, besi, gelas kaca, dan bening. Aku seakan dipaksakan untuk terus melihat, memandang dan menyaksikan tentang sesuatu yang tercecer dan terburai. Aku seperti sedang diajak masuk mengalami serpihan-serpihan kehidupan. Namun, aku tidak sekedar melihat. Aku menyadari sungguh bahwa yang sedang kulihat bukan sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi antara satu dengan yang lainnya saling bersinggungan, mendekat dan menyatu.
Aromanya pun amis, wangi, basi, asin, manis, pahit mengepul-ngepul menyengat. Aku seperti diajak untuk menggauli ketidaktahuan warna rasa. Sebuah warna rasa yang tidak sanggup aku katakan. Aku seakan-akan diminta untuk terus merasakan tentang sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan. Semakin aku mencoba untuk mengelak untuk tidak mengendus bau amis itu, pada saat yang sama saya seperti sedang masuk ke dalam rasa tanpa kata. Semakin aku menolak, baunya semakin menyengat. Semakin aku menghindar, baunya semakin dalam kuhirupkan.
***
Baik berpikir, melihat dan merasa aku menyadari bahwa aku ada. Aku ada sebagai sebuah subjek yang sedang berhadapan dengan sesuatu yang harus dipecahkan, diamati, dan dirasakan. Aku ada sebagai pribadi yang otonom, yang sadar, yang selalu berjaga dan terjaga, sehingga dengan tahu dan mau mencoba untuk selalu memaknai sesuatu. Lantas, tentang segelas kopi, selalu dihadirkan kepadaku peristiwa yang menghadirkan cerita untuk dikisahkan. Dengan segelas kopi, aku menyadari bahwa setiap kata yang berkelebat dalam ruang kepalaku adalah makna. Setiap pertanyaan yang selalu tidak puas untuk dijawab, adalah sebuah kesempatan untuk memberikan ruang kesadaran kepadaku untuk berulang berpikir, melihat dan merasa. Dengan terus berulang aku berpikir, melihat dan merasa, aku menyadari bahwa sesungguhnya aku ada.
Aku ada untuk mengisahkan tentang segala kata. Bukan hanya tentang kata-kata menyengat rasa, menggelora peperangan dan pemberontakan. Bukan pula, hanya tentang sebaris syair manis, tentang romantika, yang mengalun-alun kata cinta. Tetapi tentang sesuatu. Realitas.
-8.657382
121.079370
Bagikan artikel di atas melalui: