Tulisan yang ditandai ‘agama’

Cantiknya Gadis Aceh (bag. 2)

Pada 2008, nasib-takdir ternyata mengantarkan saya tiba di Meulaboh Aceh Barat. Di ‘bumi’ Teuku Umar Johan Pahlawan itu segala tanya yang pernah terbayang sudah sejak Sekolah Dasar yang selanjutnya (hampir lupa) lantaran mengendap sekian lama dalam benak akhirnya terjawab sudah. “Hmmm…ini toh gadis Aceh. Mengagumkan. Cantiknya gadis Aceh ternyata melampaui dari sekedar cantik secara fisik”

Well…mengapa saya mengatakan ‘Cantiknya Gadis Aceh melampaui dari sekedar cantik secara fisik’ jawabannya tunggal yakni karena mereka mengenakan busana muslim dengan jilbab sebagai ‘mahkota-nya’. Apa yang saya maksud dengan ‘busana Muslim dengan jilbab sebagai mahkotanya’ tidak sekedar sebagai kostum dan asesori pelengkap. Tetapi melampaui dari sekedar soal fisik tersebut, busana muslim merupakan gambaran diri, jadi diri dan identitas diri gadis atau perempuan Aceh.

Inilah cirri corak yang membedakan cantiknya gadis dan atau perempuan Aceh dengan cantiknya gadis atau perempuan lain di seantero Nusantara ini. ‘Cantiknya Gadis Aceh’ tidak hanya lantaran pendaran aura natural yang memang benar-benar cantik, tetapi juga karena dan harus ada aura kultural dan lebih dari itu adalah Islami.

Lantaran itu, saya berani berpendapat bahwa gadis Aceh disebut cantik jika dan hanya jika memenuhi syarat ini: yang beradab (moral cultural) dan berakhlak (moral Islami). Dan untuk itu harus diwujud-nyatakan dengan dan dalam berbusana muslim yang santun dengan jilbab sebagai ‘makhkotanya’. Titik, tanpa itu bagaimana mau membuktikan jati diri dalam praksisnya sebagai sebuah kesaksian?

Saya menekankan aspek di atas sebagai yang penting lantaran Aceh itu unik dan khas. Kekhasan dan keunikan Aceh terletak pada jati dirinya. Berbicara tentang Aceh berarti berbicara tentang Islam, melihat Aceh berarti melihat Islam, demikian sebaliknya. Islam dan ke-Islam-an begitu inkulturatif. Roh masyarakat Aceh adalah Islam. Inilah yang menjadi pembeda bagaimana masyarakat Aceh mengimani Allah dan mengamini Islam sebagai agama-Nya.

Namun kini, ‘Cantiknya Gadis Aceh’ sudah sedang berseteru dengan arus zaman. Di satu sisi arus menarik untuk tetap bertahan-berkiblat pada sejarah dan budaya yang Islami, yang sudah dari ‘sononya’ membentuk dan menjadikan Aceh dengan segala ke-Aceh-annya, namun pada saat yang sama arus ‘pasar’ menawarkan seakbrek pesona. Semakin kencang ‘pasar’ tawarkan pesona, semakin serius ke-Aceh-an dihayati. Berseteru selalu tentu saja tidak mungkin, karena berseteru adalah proses mengalahkan dan dikalahkan. Tentang itu masyarakat Aceh tentu saja tidak mau jika ke-Aceh-an digadaikan oleh pasar.

Lantaran itu, yang pasti adalah penting bagi gadis-gadis dan perempuan Aceh untuk menimbang dan menyari-pati mana nilai-nilai yang tepat benar untuknya sebagai seorang gadis Aceh. Apabila kurang-lebih tidak menyentuh ke-Aceh-an hendaklah tidak ditiru. Karena jika salah meniru, gadis-gadis dan perempuan Aceh tidak lagi disebut ‘Yang Cantik’.

Catatan Pembanding

Kontroversi Putri Indonesia 2009

 

Penobatan Putri Indonesia menimbulkan kontroversi. Hal ini berkaitan dengan pernyataan Putri Indonesia terpilih, Qory Sandioriva yang dianggap berbohong.

 

Pernyataan kontraversial itu berkaitan dengan pernyataan MC Charles Bonarsirait mengenai pemakaian jilbab yang dilontarkan padanya di atas panggung. Ketika itu Qory menjawab menanggalkan jilbab demi mengikuti kontes Putri Indonesia. Namun usai acara mahasiswi Sastra Prancis Universitas Indonesia ini sempat meralat pernyataannya.

 

Seperti diketahui di tahun-tahun sebelumnya perwakilan asal Nanggroe Aceh Darussalam selalu memakai jilbab saat mengikuti seleksi Putri Indonesia.

 

Dengan terpilihnya sebagai Putri Indonesia, maka perempuan 18 tahun itu akan mewakili Indonesia di ajang Miss Universe. Mengingat latar belakang Qory, keterwakilannya di kontes kecantikan dunia itu pun dipastikan akan menimbulkan kontroversi.

 

Sumber: http://www.detikhot.com/read/2009/10/12/120030/1219810/445/kontroversi-putri-indonesia-2009

 

Qory Sandiovira Bukan Cerminan Putri Aceh

 

Ulama Aceh merespon secara dingin kemenangan Qory Sandioriva – Wakil dari Propinsi Aceh, yang terpilih menjadi Puteri Indonesia 2009. Mereka menilai kemenangan Qory tak mencerminkan putri Bumi Serambi Mekah yang menerapkan syariat Islam. “Qory bukan cerminan putri Aceh. Untuk itu, ia tidak berhak mengatasnamakan rakyat Aceh. Ini sangat kita sesalkan,” kata Sekretaris Ulama Dayah Aceh (HUDA), Faisal Aly di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Sabtu (10/10), seperti dikutip ANTARA.

 

Faisal menambahkan, Qory tak mewakili Aceh karena belum pernah ada pemilihan Puteri Indonesia di sana. Sikap ini bukan berarti ulama apriori dengan putri Aceh. Hanya saja, menurut Faisal, sebaiknya tak menghilangkan jati diri sebagai putra daerah yang memiliki budaya Islam kuat.

 

Karena itu, Faisal mengimbau kepada para remaja putri agar selalu menjaga budaya Aceh yang kental dengan Islam. “Jangan mudah terpengaruh dengan budaya Barat yang sangat bertentangan dengan Islam. Saya rasa masih banyak cara lain untuk menjadi terkenal dengan tidak mengorbankan budaya daerah dan agama,” ucap Faisal.

 

Pada malam puncak Pemilihan Puteri Indonesia (PPI) 2009 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Sabtu malam, Qory mengalahkan dua finalis lainnya. Yakni, Zukhriatul Hafizah dari Sumatra Barat dan Isti Ayu Pratiwi dari Maluku Utara.

 

Sumber: http://www.infogue.com/viewstory/2009/10/11/kontroversi_putri_indonesia_2009_ulama_aceh_qory_bukan_cerminan_putri_aceh/?url=http://www.eriricaldo.com/hot-news/qory-sandiovira-bukan-cerminan-putri-aceh.html

Jangan Menyebut Nama Tuhan, Jika Pedangmu Menghujamku

Benarkah Tuhan mengizinkan manusia membunuh sesamanya? Dan apakah manusia yang satu disebut sebagai yang benar dan suci jika membunuh manusia yang lain yang disebut sebagai yang kafir, berdosa dan bersalah. Selanjutnya siapakah yang berani mengatakan yang lain sebagai benar dalam Tuhan dan yang lain salah di mata Tuhan, apakah manusia atau Tuhan itu sendiri?  Tidak akan ada jawaban yang benar-benar tuntas tentang pertanyaan-pertanyaan ini.

Semua orang dengan kemampuan isi kepalanya masing-masing, baik mereka yang disebut sebagai yang benar di mata Tuhan maupun mereka yang diklaim sebagai pecundang akan memberikan argemntasinya masing-masing. Bereferensi pada Kitab Suci dan atau Wahyu Ilahi, semuanya membentangkan gagasan-gagasannya. Entah benar, entah tidak, tentang keentahan itu selalu, hingga detik ini masih menjadi bahan perdebatan yang menarik.

Jika memang benar bahwa Tuhan sang Pencipta Alam Semesta, yang kita sebut sebagai Mahabaik, Mahapengampun, Mahacinta, Mahabijaksana, Mahatoleran, Mahapeduli mewahyukan ‘kalimat pembunuhan’ atas nama-Nya, maka pantaskah Tuhan yang demikian kita sebut sebagai Tuhan? Pantaskah kita beriman kepada Tuhan yang meringankan pedang dan gampang menumpahkan darah dalam dan melalui tangan-tangan manusia?

Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah mewahyukan keburukan-keburukan, kekejaman-kekejaman, tindakan-tindakan buruk, tindakan-tindakan kejam, kata-kata buruk, kata-kata kejam, sekalipun itu atas dan untuk kemuliaan nama-Nya.

Namun, sesungguhnya dari hati yang paling dalam, aku tidak akan pernah percaya jika Tuhan-lah yang menghendaki itu semua. Tuhan adalah Tuhan. Tuhan tidak pernah mengizinkan manusia, siapa pun dan agama apa pun dia untuk mengayunkan pedang dan menumpahkan darah sesama manusia yang lain. Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah mewahyukan keburukan-keburukan, kekejaman-kekejaman, tindakan-tindakan buruk, tindakan-tindakan kejam, kata-kata buruk, kata-kata kejam, sekalipun itu atas dan untuk kemuliaan nama-Nya.

Sesungguhnya, dan aku menyakini ini sungguh, bahwa semua tindakan pembunuhan, kekejaman, pemusnahan yang mengatasnamakan Tuhan adalah ulah manusia itu sendiri. Ulah manusia yang salah menggunakan tanggungjawab dan kebebasan yang diberikan Tuhan kepadanya. Ulah manusia yang menuhankan agama dan beriman kepada agama, bukan menjadikan agama sebagai jalan menuju Tuhan dan beriman kepada-Nya.

Kecenderungan manusia yang menuhankan agama adalah mereka yang mengklaim agamanya sebagai yang baik dan benar sementara agama yang lain sebagai yang salah dan tidak benar. Kecenderungan manusia yang beriman kepada agama adalah mereka yang mengatakan kepada sesamanya sebagai yang timpang, salah, kafir, sesat dan berdosa, lantas mereka menempatkan diri mereka sebagai yang suci, kudus dan pantas hidup di hadapan Tuhan.

Padahal sesungguhnya, agama itu bukan Tuhan. Tuhan adalah Tuhan. Agama sesungguhnya hanya merupakan suatu system dan prinsip kepercayaan kepada Tuhan, yang belum tentu system dan prinsip itu diterima oleh Tuhan sendiri. Mengapa? Karena system dan prinsip tersebut dirancang dan diciptakan oleh manusia yang kendatipun memiliki kebebasan tetapi terbatas, untuk selanjutnya menjadi sakral dan suci karena menarik Tuhan ke dalamnya.

Tentang semuanya ini, bagiku mesti dievaluasi dan direfleksikan secara sungguh. Bukan untuk mengatakan dan atau menyebut agama sebagai system dan prinsip kepercayaan yang salah, tetapi menjernihkannya selanjutnya menempatkannya sebagai yang bermartabat; sebagai jalan menuju perjumpaan dengan Tuhan yang diyakini dan diimani sebagai sang dan maha segala kebaikan.

Mendesaknya Pendidikan Toleransi dan Multikulturalisme

Indonesia tidak hanya dianugerahi Tuhan sebagai sebuah Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau (termasuk 9.634 pulau kecil yang belum diberi nama dan 6.000 pulau yang tidak berpenghuni) dengan tiga diantaranya merupakan pulau-pulau besar di dunia yakni Kalimantan (539.460 km2), Sumatera (473.606 km2) dan Papua (421.981 km2). Indonesia pun dikaruniani Tuhan lebih dari 740 suku bangsa/etnis, (dimana di Papua saja terdapat 270 suku) dengan ragam bahasa daerah, yaitu, 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa di Indonesia.[1]

Mengatapi keberagaman tersebut Indonesia sebagai bangsa memaklumkan ‘Bhineka Tunggal Ika. Sebuah Frasa teologis[2] yang berasal dari Jawa Kuno dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu” sebagai sebuah falsafah.

Di mana dan kapan saja sebagai bangsa kita mendengungkan itu, jika bukan dalam dan sebagai perayaan, frasa yang sama suluk menyelam dalam permenungan-permenungan sebagai khasanah falsafah bangsa. Tentang hal itu, sebagai sebuah bangsa, Indonesia pantas berbangga. Kamajemukan, keberagaman dilihat sebagai keutamaan bangsa. Sehingga selanjutnya tentang dan dalam keberagaman kehidupan beragama menetas kalimat ‘Ke-Tuhanan yang Maha Esa’.

Ke-Bhineka Tunggal Ika-an yang didengungkan dalam keseharian dan ‘Ke-Tuhanan yang Maha Esa’ yang ditempatkan sebagai poin pertama dalam Pancasila merupakan symbol sekaligus falsafah bangsa yang diyakini dapat mempersatukan keberagaman  tidak hanya suku, bahasa dan budaya, tetapi juga agama dan keanekaan ungkapan kepercayaan.

Namun untuk sampai menyadari dan memahami keanekaan semua dan keragaman segala itu sebagai khasanah dan keutamaan, sebagai bangsa kita harus mengandaikan ada kekuatan-kekuatan penopang, dua di antaranya yang penting adalah multikulturalisme dan tolerasi.

Saya dengan sengaja memilahkan dua pengandaian ini, karena pada hakikatnya antara keduanya tidak bisa disamapersiskan walaupun keduanya berada dalam wilayah pemahaman manusia (eksoterik). Roh multikulturalisme adalah hukum dan norma moral universal, sedangkan toleransi yang menjadi dasarnya adalah keyakinan bahwa Tuhan itu Esa. Lalu, mengapa kita mengandaikan kedua hal ini penting untuk menjaga keutuhan keberagaman? Jawabannya tunggal karena keberagaman adalah sesuatu yang bermartabat, dan karena keberagaman pula kehidupan ini menjadi bernyawa.

Masih ingat kisah menara Babel? Kesombongan dan kepongahan manusia untuk menyatukan semua dan segala kehidupan dalam satu kesatuan yang tidak terceraikan membuat Tuhan murka. Lantaran itu Tuhan menceraiberaikan semuanya. Manusia dan segala isi kehidupan yang lain dilepaspisahkan, selanjutnya menyebar dengan beragam ke seluruh muka bumi. Kutukan Tuhan ini-lah yang selanjutnya menjadi rahmat bagi kehidupan. Bahwa dalam keberagaman dan keanekaan, manusia dan segala isi kehidupan dimanta untuk saling menghargai dan menghormati, bukan sebaliknya saling memaksankan kehendak dan apalagi bertindak semena-mena.

Catatan sejarah, pengalaman keseharian dan refleksi atasnya seharusnya memberikan kita kesadaran lebih tentang dan atas makna keberagaman. Jika mau jujur, sebagai sebuah bangsa, sebenarnya kita lalai dalam memaknai keberagaman cultural dan agama sebagai sebagai yang bermartabat. Konflik antar suku, perang saudara, pertikaian antar agama yang mewarnai keseharian kehidupan kita sebagai bangsa menggambarkan dengan amat jelas minimnya pemahaman dan kesadaran kita akan makna keberagaman.

Bagi saya, adalah mendesak jika multikulturalisme dan toleransi tidak hanya direfleksikan dan apalagi didengungkan jika muncul masalah, tetapi walaupun jika tanpa masalah keduanya pun harus masuk ke dalam ‘ruang kelas’. Artinya sebagai sebagai nilai dan keutamaan dalam memahami keanekaan keduanya mesti diajarkan kepada generasi muda dan sejak usia dini.


[2] Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah Kakawin  Jawa Kuna yaitu Kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14. Kakawin ini istimewa karena mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha. Kutipan ini berasal dari pupuh 139, bait 5. Bait ini secara lengkap adalah sebagai berikut: Rwāneka dhātu winuwus Buddha Wiswa, Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Śiwatatwa tunggal, Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Di-Indonesiakan menjadi: Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda, Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belahlah itu, tetapi satu jualah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran. Lih. http://id.wikipedia.org/wiki/Bhinneka_Tunggal_Ika.

‘Perawan’ itu Mahal

Di halaman Facebook hari ini, kawan saya menautkan berita yang dilansir Kompas.Com dari Dailymail tentang  keberhasilan New Scotland Yard yang membongkar rencana untuk “menjual keperawanan” gadis-gadis muda London demi uang 50.000 poundsterling atau sekitar Rp 650 juta ke orang-orang Arab kaya.

Bagi saya ini bukan kisah baru, walau yang terjadi adalah di belahan negara lain yang bernama: Inggris. Di Indonesia, kasus serupa sudah sering dan bahkan masih berlangsung. Di beberapa tempat di tanah air, jual beli ‘perawan’ bahkan ada yang nyaris menjadi ‘budaya’.

Tentang itu, budaya bahkan seperti melazimkan, agama seperti tidak peduli dan negara apalagi, lepas tangan. Padahal, jika mau jujur tiga hal itu: budaya, agama dan negara, seharusnya menjadi punggawa kesejahteraan manusia baik lahir maupun bathin. Agar ‘keperawanan’ tidak tergadai, dan tubuh manusia tetap menjadi berkat yang tetap berada pada tempat yang bermartabat.

Namun, rupa-rupanya, ketiga hal itu: Agama, Budaya dan Negara kalah telak oleh sangarnya pasar (pusaran ekonomi global). Cengkramannya begitu kuat, sehingga keagungan budaya, kesakralan agama, dan kewibawaan negara tercerabut dari akar-akarnya. Sontoloyo…ketiganya terjerembab, terjebak dan akhirnya membeo.

Singkatnya, pasar jauh lebih superior. Untuk menunjukkan superioritasnya saya bisa menunjuk beberapa argumen bagaimana dalam kasus perdagangan manusia (jual-beli perawan) pasar jauh lebih ‘mengumat’ dari agama, jauh lebih ‘beradab’ dari budaya, dan jauh lebih ‘merakyat’ dari negara.

Bukti itu bisa ditelisik dari modusnya yang rupa-rupa. Di tanah air saya menemukan dua modus yang sangat sering digunakan, yakni atas nama pengiriman tenaga kerja, dan nikah siri. Namun jika ditelisik lebih jauh dua modus ini hanya sedikit yang diketahui.  Protokol Palermo misalnya, menyebutkan ada banyak varian lain untuk itu.

Saya mengutip itu pada ayat tiga Protokol Palermo yang menyebutkan definisi aktivitas transaksi meliputi: 1) perekrutan, 2) pengiriman, 3) pemindah-tanganan, 4) penampungan atau penerimaan orang.

Selanjutnya dilakukan secara paksa dan ancaman atau penggunaan kekuatan atau bentuk-bentuk pemaksaan lainya, seperti: 1) penculikan, 2) muslihat atau tipu daya. 3) penyalahgunaan kekuasaan 4) penyalahgunaan posisi rawan, 5) menggunakan pemberian atau penerimaan pembayaran (keuntungan) sehingga diperoleh persetujuan secara sadar (consent) dari orang yang memegang kontrol atas orang lainnya untuk tujuan eksploitasi.

‘Perawan’ itu mahal…tidak ada kata lain untuk melukiskannya selain kata-kata itu. Perawan menjadi begitu mahal (secara ekonomis) karena bisa dijual beli, bukan lantaran karena alasan kemiskinan secara ekonomis semata. Tetapi juga karena agama kehilangan kesakralannya, buadaya kehilangan keadabannya, juga negara kehilangan wibawanya.

Di hadapan pasar, sudah seperti yang saya katakan di awal, Sontoloyo…ketiganya terjerembab, terjebak dan akhirnya membeo. ‘Pasar’ sudah menjadi budaya, negara dan agama baru. Mungkinkah? Sudah ada tanda-tanda untuk itu…pasar jauh lebih ‘mengumat’ dari agama, pasar jauh lebih ‘beradab’ dari budaya, pun pula pasar jauh lebih ‘merakyat’ dari negara.

Kata-Kata Yang Terbantai

Ribuan buku betumpuk-tumpuk di atas meja panjang setinggi lutut. Tingginya membuatku ngeri, karena bagai gundukan kuburan mentah. Di antara gundukan itu menyembul sebatang tiang dengan papan nama ‘Diskon’ pada sisi yang lain bertulis ‘Obral’.

Seperti batu nisan, papan nama itu seakan memberi tanda akan kematian, bahwa buku-buku itu adalah korban pembantaian pasar: tidak laku atau tidak habis terjual. Papan nama itu seakan memberi komando agar cukup dengan lima sampai dua puluh lima ribu rupiah, kita dipanggil ‘ayo-ayo’ untuk kuburkan buku.

Aku menyaksikan korban pembantaian terbanyak bervarian komik, teenlit, kuliner, serta berbagai tips trik design dan tetek bengeknya. Aku saksikan juga korban lain bervarian filsafat, politik, ekonomi, sastra, sosial, bahasa dan budaya. Walau tidak banyak, tetapi itu sudah cukup bagiku untuk mengetahui bahwa refleksi politik, sosial, ekonomi, dan budaya seperti tak lagi mendalam. Demikian juga bahasa, sastra dan filsafat seperti tak lagi bermakna dan agung.

Dalam pusaran pasar semuanya terbantai: ‘diskon’ atau ‘obral’. Komik kehilangan jurus karate-nya. Pesan-pesan agung Budha dalam tumpukan seri Tapak Budha, bagai tak berarti. Teenlit kehilangan erotiknya. Sekarang pasar sedang memburu teenlit bergenre ‘alay’. Demikian juga dengan refleksi politik, sejarah dan budaya yang terekam dalam pisau analisisnya yang tajam seketika itu juga tumpul, pun mungkin (pula) dipandang karatan.

Sementara sastra, bahasa dan filsafat bagai tak bernyawa. Tidak se-agung sediakala, dimana ketika sastra dan filsafat lahir sejatinya sebagai media pencerah rasa. Bagai tak mencerdaskan semua karya intelektual itu terserak di bawah lantai  ubin tiga puluh kali tiga puluh senti meter.

“Seperti sampah”

‘Tapi, ah…di tangan pasar yang kejam, segala memoria adalah ‘tahi kucing’ alias tidak laku”

Sementara kesal itu memuncak, meledak-ledak dalam ruang dada, di sudut sebelah kanan, dekat kaca jendela, aku menyaksikan Les Mots-nya Jean Paul Sartre dipijak seorang perempuan bertubuh gempal.

“Oh Perempuan tambun, tidakkah kau tahu, yang sedang kau injak itu adalah kata-kata, yang direfleksikan dengan susah payah oleh seorang laki-laki sangar yang sangat mengagungkan buku?”

“Perempuan bongsor, tidakkah kau tahu, bagi pria yang kau injak itu, buku  adalah agamanya. Dan andai dia masih hidup dan sekarang hadir di Gramedia Matraman ini, maka dia akan menendangmu keluar jendela, karena kau telah menodai benda sucinya”

“Oh, ibu gendut, andai kau tahu itu’

Ingin aku melabraknya, tapi aku cukup tahu diri. Aku pasti terlempar ke luar jendela jika hendak macam-macam. Tebal tapak tangannya yang setebal Les Mots, jika diayunkan ke rusukku sudah cukup membuatku terpental ke lantai dasar.

“Ibu bongsor…kau persis seperti pasar. Tapak tanganmu menerima dan menelan apa saja yang kau mau, sejauh perutmu masih kosong. Tidak melihat itu bergizi dan bernutrisi atau tidak. Dan karena kau adalah pasar, maka aku yakin, perutmu tak akan pernah kosong. Dan yang kau pentingkan bukan isinya tapi banyaknya”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: