Romba
Romba atau yang biasa dikenal dengan sebutan Mauromba adalah tempat kelahiranku. Tidak ada yang unik dari kampungku, pun tidak ada yang elok. Namun dari sana aku memulai jejak menjadi manusia yang terus menjadi.
Pada pesisirnya yang berbatu dengan deburan gelombang laut Sawu yang sesekali galak, aku belajar berenang. Belajar mengarungi kehidupan yang kadang tidak ramah dan bahkan bisa meluncaskan cita-cita. Dari sana aku belajar berjuang.
Pada lambaian nyiur dengan hawa laut yang segar, aku belajar untuk menjadi pribadi yang bisa keluar dari diri sendiri, terlibat dan melibatkan diri lantas menjadi bagian dari yang lain.
Pada keluargaku yang muslim, yang setiap hari menepikan harapan dan doa pada masjid kecil di pesisir laut aku belajar mendengarkan dan menerima perbedaan. Aku belajar tolerasnsi.
Pada arsitektur bangunan yang masih tersusun berundak-undak, yang tampak serupa tangga batu raksasa dengan rumah yang berhadap-hadapan aku belajar membangun komunikasi yang jujur dan terbuka.
Pada lapangan sepak bola yang sesekali menjadi padang bagi sekelompok ternak untuk merumput aku menemukan relasi sehat, yang tidak layak untuk saling meniadakan. Aku tidak hanya belajar menendang bola, tetapi juga belajar membiarkan kehidupan lain berjalan normal.
Pada sekolah dasar yang hampir tua aku belajar membaca dan menulis. Pada guru-guru yang tidak meminta jatah untuk menyebut mereka pahlawan, aku belajar tentang ketekunan dan tanggung jawab. Aku belajar bukan untuk menjadi cerdas, tetapi belajar menjadi diri sendiri.
Pada rumahku yang terletak di landai tebing, aku belajar mendaki. Aku belajar untuk terus menerus berjuang menggapai cita-cita. Seperti yang aku harapkan dan keluargaku impikan.
ASAL MUASAL KAMPUNG ROMBA
Kampung Lomba atau yang sering disebut Romba yang terletak di pesisir selatan Negekeo Flores Nusa Tenggara Timur, persisnya di wilayah bagian timur Kecamatan Keo Tengah memiliki asal muasal kisah yang menarik untuk diceritakan. Namun sebelum kisah di bawah ini dibaca, pertama-tama perlu diberi catatan awal bahwa kisah ini masih jauh dari sempurna, lantaran itu mesti harus didalami dan diteliti sungguh dengan kajian dan penelitian yang serius. Akhirnya, jauh dari sempurna kisah ini sengaja diangkat untuk diketahui-diingat, selanjutnya diberi masukan dan koreksi.
***
Alkisah, sebuah kampung yang terletak di pesisir selatan bukit Koto yang kemudian bernama Lomba (sekarang dikenal dengan nama-sebutan Romba) adalah hutan belantara dan tidak berpenghuni. Warga sekitarnya atau siapa pun yang melintasi atau melewati tempat tersebut menyebutnya sebagai tana ine mona, watu ame nggedhe atau tanah tidak berbunda, batu tak berayah.
Di pesisir pantai berbatu, hanya terdengar gelombang laut Sawu yang selalu menampar-nampar batu. Pada teluknya yang teduh tiada sebuah kapal pun yang merapat. Perahu-perahu nelayan dari arah timur seperti Tonggo dan Ende hanya melewatinya. Para nelayan seperti enggan melempar sauh.
Demikian juga di daratan, tampak masih hutan belantara. Dari pesisir berbatu hingga kaki bukit Koto terbentang hutan nan luas. Aneka pohon dan tumbuh-tumbuhan menyelimuti tempat tersebut. Hewan-hewan liar merajai hutannya, menguasai tanah dan menjadi tuan atas mata airnya.
Namun pada suatu hari, merapatlah sebuah kapal pinisi yang berpenumpang seorang bekas prajurit Sultan Hasanudin dari Makassar bersama dua saudarinya dan sejumlah pengawal. Bekas prajurit tersebut bernama Rogo Rabi.
Rogo Rabi adalah seorang pemuda yang gagah dan tampan. Walaupun dia dikenal sebagai seorang pemuda yang gagah karena kesaktiannya dan penampilannya yang mewah karena kekayaannya, dia dikenal pula sebagai pemuda yang angkuh. Hal inilah yang membuat kepribadian Rogo Rabi berbeda dengan kedua saudarinya. Kedua saudarinya kendatipun dikenal cantik, namun punya sikap dan kepribadian yang baik.
Kedatangan Rogo Rabi, kedua saudarinya berserta sejumlah pengawal memberi warna tersendiri di pesisir selatan bukit Koto itu. Mereka tidak hanya mendirikan pondok-pondok penginapan tetapi juga karena keseharian mereka seperti nelayan, memasak garam, kapur sirih dan bercocok tanam atau koe ne’e ae, muda ne’e dede akhirnya mereka ndi’i dimba, mera deta atau menetap.
Sebagai nelayan Rogo Rabi mengumpulkan banyak ikan. Dibantu oleh kedua saudarinya dan sejumlah pengawal, mereka membangun lapak-lapak untuk menjemur ikan. Namun, ketika ikan-ikan tersebut dijemurkan lomba atau insangnya tampak masih bergelantungan pada lapak-lapak tersebut. Orang-orang yang melewati lapak-lapak tersebut dan yang melihatnya lantas menyebut tempat dimana Rogo Rabi, kedua saudarinya dan pengawalnya menetap itu sebagai Lomba. Lantaran kisah itu dan sudah sejak itulah nama Lomba atau Romba itu muncul.
Lomba dengan demikian menjadi kian terkenal hingga ke kampung-kampung tetangga, seperti Daja, Tonggo dan Ende di sebelah timur, Udi Wodowatu, Mbae Nuamuri di sebelah barat, dan Giriwawo bahkan sampai Pau Toda (Pau Tola) di bagian utara.
Lantaran kian terkenal, kampung kecil yang bernama Lomba tidak hanya menjadi tempat persinggahan bagi orang-orang yang melintas atau lewat, tetapi juga menjadi satu pilar penting dalam jalur perdagangan barter ketika itu.
Banyak pedagang dari kampung-kampung tetangga yang akhirnya membangun hubungan dagang dengan Rogo Rabi. Mereka menukarkan hasil panen mereka seperti umbi-umbian, buah-buahan, sayur-sayuran dan beras serta sirih dan pinang dengan ikan, garam atau kapur sirih.
Salah seorang yang selalu bepergian dan menukarkan hasil kebunnya adalah Ejo Ke’o. Dia adalah seorang laki-laki yang berasal dari Pau Toda (sekarang Pau Tola), yang terletak di sebelah utara Lomba. Dia dikenal sebagai sosok laki-laki yang sederhana, santun, namun cerdas.
Suatu ketika, dia mengunjungi kediaman Rogo Rabi untuk menukarkan hasil kebunya dengan ikan, kapur sirih dan garam. Namun, proses tawar menawar yang sedang terjadi tiba-tiba berhenti, ketika Rogo Rabi mengoloknya ketika melihat sarung yang dikenakan Ejo Ke’o penuh sobekan dan tambalan.
Rogo Rabi mengatakan berulang kali bahwa ada banyak lipan di sarung Ejo Ke’o. Hal itu membuat Ejo Ke’o terperanjat, lantas dia mengebaskan sarungnya. Tetapi setelah berulang kali dikebas, lipan yang dimaksud tidak juga tampak. Ternyata, yang dimaksudkan Rogo Rabi dengan lipan adalah jahitan dan tambalan yang memenuhi sarung Ejo Ke’o.
Peristiwa itu membuat Ejo Ke’o tidak hanya malu tetapi juga marah. Kemarahan Ejo Ke’o bertambah, ketika hendak pulang meninggalkan Rogo Rabi, Ejo Ke’o melihat tempat yang sebelumnya didudukinya dibersihkan dengan air. Seakan-akan tempat tersebut kotor dan bau lantas harus dibersihkan. Melihat kejadian itu Ejo Ke’o lantas bersumpah bahwa ia akan kembali dan melakukan perlawanan terhadap Rogo Rabi karena telah menghinanya.
Dalam perjalanan pulang menuju Pau Toda, Ejo Ke’o menceritakan kepada orang-orang yang ditemuinya bahwa dia telah diperlakukan secara tidak sopan oleh Rogo Rabi. Demikian juga ketika Ejo Ke’o tiba di kampungnya. Ia menceritakan hal yang sama. Lantaran itu, bersama orang-orang di kampungnya, Ejo Ke’o merencanakan untuk menyerang Rogo Rabi.
Berita bahwa Ejo Ke’o akan menyerang Rogo Rabi akhirnya sampai juga ke telinga Rogo Rabi sendiri. Mendengar berita itu, Rogo Rabi pun membangun siasat untuk lebih dulu menyerang dan membunuh Ejo Ke’o sebelum dia diserang dan dibunuh.
Maka bergegaslah Rogo Rabi mengejar Ejo Ke’o. Tepatnya di Mbeku Nangge, tempat yang biasanya dilalui oleh Ejo Ke’o, Rogo Rabi menunggu. Di sana, persisnya di pinggir jalan dia bersembunyi di antara tumpukan daun kelapa. Sehingga, jika Ejo Ke’o melewati jalan tersebut, maka ia akan segera dibunuh.
Namun ketika dia sedang bersembunyi, datanglah seorang ibu yang sedang hamil tua yang sedang mencari babinya yang hilang. Perempuan hamil tersebut adalah istri Meo Sia, kepala kampung Mbeku Nangge. Ketika istri Meo Sia sampai pada tumpukan daun kelapa, tempat persembunyian Rogo Rabi, disangkanya, kalau-kalau di antara tumpukan daun kelapa itu adalah babinya yang yang hendak melahirkan.
Ketika ia mendekat, ia tidak mendengar suara endusan babi. Tetapi justru mencium bau wangi parfum Rogo Rabi. Karena Istri Meo Sia mengetahui tempat persembunyiannya dan merasa terusik, Rogo Rabi pun keluar dari tumpukan daun kelapa dan membunuh istri Meo Sia. Dengan sekali tebasan parang istri Meo Sia rebah ke tanah. Tubuhnya bersimbah darah. Dan mayatnya dibiarkan tergeletak di pinggir jalan. Setelah membunuh istri Meo Sia, Rogo Rabi pun kembali ke Lomba.
Mengetahui istrinya mati secara kejam, Meo Sia pun naik pitam. Bersama Ejo Ke’o yang sudah menyimpan dendam terhadap Rogo Rabi, Meo Sia pun membangun siasat untuk bersama-sama menyerang dan membunuh Rogo Rabi. Tetapi menyadari kekuatan dan kesaktian masing-masing berada di bawah kekuatan dan kesaktian Rogo Rabi, keduanya meminta bantuan kepada orang-orang di kampung-kampung tetangga melalui para tokohnya.
Keduanya lantas bertemu Rangga Ame Ari, kepala kampung Udi Wodowatu dan Todi Wawi kepala kampung Giriwawo. Rangga Ame Ari adalah paman kandung Todi Wawi. Keduanya memiliki kedudukan sosial yang tinggi di kampung masing-masing. Keduanya selain sebagai kepala kampung, juga merupakan kepala adat. Keduanya dikenal sebagai Mosa Ko’o Nua, Daki Ko’o Oda.
Kesepakatan pun terjadi bahwa mereka akan secara bersama-sama menyerang dan membunuh Rogo Rabi. Persoalan pribadi Ejo Ke’o dan Meo Sia terhadap Rogo Rabi akhirnya berubah menjadi persoalan identitas diri antara orang asli dan pendatang. Rogo Rabi yang merupakan seorang pendatang dianggap telah menodai identitas penghuni Koto pesisir selatan. Lantaran itu pendatang yang arogan dan sombong harus disingkirkan dan dibunuh.
Hasil pertemuan antara Ejo Ke’o dan Meo Sia dengan Rangga Ame Ari dan Todi Wawi melahirkan butir-butir kesepakatan yakni tidak hanya harus mengusir dan membunuh Rogo Rabi dari kaki Koto, serta selanjutnya tanah yang dikuasai Rogo Rabi harus direbut dan diambil kemudian dibagi secara adil. Tetapi juga melahirkan butir-butir kesepakatan yang lebih kongkret.
Kesepakatan kongkret itu berupa siasat-siasat. Siasat tersebut adalah pertama-pertama membangun hubungan kekerabatan dan atau keluarga dengan Rogo Rabi. Dan selanjutnya, melalui hubungan baik tersebut, mereka akan membunuh Rogo Rabi dengan lebih mudah.
Siasat pertama itu pun dimulai. Rangga Ame Ari dan Todi Wawi berpura-pura membangun kekerabatan dan atau hubungan kekeluargaan dengan Rogo Rabi. Hubungan kekerabatan dan atau kekeluargaan tersebut dilakukan dengan cara melamar dan menyunting saudari-saudari Rogo Rabi sebagai istri.
Mengetahui bahwa Rangga Ame Ari dan Todi Wawi akan melamar saudarinya, Rogo Rabi tidak hanya akan bersedia menerima lamaran dan pinangan, tetapi juga merasa tersanjung dengan lamaran tersebut. Lantaran yang melamar saudari-sudarinya adalah tokoh-tokoh penting yang punya kedudukan sosial yang tinggi dan memiliki harta kekayaan yang melimpah di kampung masing-masing.
Rangga Ame Ari akhirnya meminang dan memperistri saudari bungsu Rogo Rabi yang karena kecantikannya dikenal dan dianggil Boti Bartaso, sedangkan saudrinya yang lain yang bernama Ito Rabi dilamar dan dipersunting Todi Wawi. Bagi Rogo Rabi, pinangan ini diterima tidak sekedar sebagai jalinan kekerabatan dengan para tokoh, tetapi juga punya tujuan politis yakni merasa punya barisan kekuatan dan pertahanan yang cukup jika sesekali diserang oleh Ejo Ke’o dan atau Meo Sia.
Siasat kedua yang dilakukan keempat anak tanah adalah tidak melakukan penyerangan secara frontal atau dengan jalan kekerasan, tetapi melalui kunjungan kekerabatan. Atas kesepakatan bersama, mereka mengutus Rangga Ame Ari dan orang-orang kepercayaannya untuk menumpas tuntas Rogo Rabi dan pengawal-pengawalnya dengan cara melalui pesta bersama.
Pada suatu sore, menjelang malam, Rangga Ame Ari dan orang-orang kepercayaannya datang ke kampung Lomba. Karena kunjungan yang dimaksud adalah untuk mengadakan pesta bersama, maka Rangga Ame Ari membawa serta seekor kambing jantan dan satu tempayan tuak. Sesampai di Lomba, ternyata Rogo Rabi tidak berada di tempat. Dia sedang berada di Kedi Diru mengunjungi kekasihnya.
Namun demikian, acara pesta bersama tetap dilanjutkan. Sebagai bentuk penghormatan, Rangga Ame Ari dan orang-orang kepercayaannya menyiapkan makanan untuk para pengawal Rogo Rabi, demikian sebaliknya, para pengawal Rogo Rabi menyiapkan makanan untuk Rangga Ame Ari dan orang-orangnya.
Siasat Rangga Ame Ari pun muncul, orang-orang kepercayaannya mencampurkan tuak yang mereka bawa dengan racun, agar jika diminum bisa menimbulkan mabuk. Sedangkan daging kambing dimasak dengan campuran bumbu yang sangat pedas. Hal ini dimaksudkan agar semakin pedas, maka akan semakin menarik minat para pengawal Rogo Rabi untuk meminum tuak.
Ketika acara makan dimulai, tampak para pengawal Rogo Rabi menyantapnya dengan sangat lahap. Mereka tidak hanya ketagihan untuk menghabiskan daging kambing, tetapi juga ketagihan untuk menghabiskan tuak yang disediakan. Acara pesta tersebut berlangsung hingga dini hari, sampai semuanya mabuk.
Melihat situasi dan keadaan bahwa pengawal-pengawal Rogo Rabi sudah mabuk dan tidak sadarkan diri, Rangga Ame Ari memerintahkan orang-orangnya untuk membunuh semuanya. Setelah semuanya tewas dibunuh, rumah-rumah dan pondok tempat hunian Rogo Rabi dan para pengawalnya dibakar dan dimusnahkan. Api pun menyala berkobar dan asap membumbung tinggi. Hingga fajar menyingsing api masih menyala hebat.
Sementara itu, jauh di seberang bukit, persisnya di Kedi Diru, Rogo Rabi masih tertidur lelap. Sementara kekasihnya sudah bangun dan memulai kegiatan seperti biasa yakni membersihkan rumah. Namun, ketika sang kekasih sedang berada di bawah kolong rumah, secara tidak sengaja ia melihat ke arah barat, ke arah Lomba. Ia melihat ada asap yang mengepul tinggi.
Hal itu membuatnya panik, lantaran itu ia segera memberitahukan Rogo Rabi bahwa rumahnya dan rumah-rumah para pengawalnya di Lomba sudah terbakar. Dugaan Rogo Rabi adalah Ejo Ke’o dan atau Meo Sia yang telah membakar rumahnya. Tetapi ternyata tidak, mendengar dan mengetahui bahwa yang membakar rumahnya adalah iparnya sendiri, yakni Rangga Ame Ari, maka marahlah ia. Dengan segera ia mempersiapkan senjata dan perlengkapannya kemudian berlari dari Kedi Diru menuju Lomba.
Beberapa pengawal Rangga Ame Ari yang masih tersisa di kampung Lomba dibunuhnya, yang lainnya dikerjarnya sampai ke Udi Wodowatu. Perlawanan sengit pun terjadi antara Rogo Rabi dengan orang-orang Rangga Ame Ari. Di pihak Rangga Ame Ari banyak korban berjatuhan, sedangkan di pihak Rogo Rabi walau pun dihujani dengan senjata tajam seperti parang, panah dan tombak, ia tidak terluka sedikitpun.
Pertempuran itu walaupun tampak tidak seimbang tetapi tidak ada yang menyerah, hingga kedua belah pihak sama-sama lelah. Rogo Rabi yang sudah kelelahan akhirnya ditangkap oleh pasukan Rangga Ame Ari. Ia lantas disandera, diikat, disiksa, diparang dan ditombak tetapi lagi-lagi karena kesaktiannya, Rogo Rabi tidak mengalami luka sedikitpun.
Namun kesaktian Rogo Rabi tandas juga setelah Rangga Ame Ari meminta petunjuk para leluhur dengan bersumpah bahwa atas nama para leluhur Rogo Rabi akan mati juga. Sumpah ini disebut dengan istilah sua soda. Setelah melakukan sumpah, Rangga Ame Ari melempar Rogo Rabi hanya dengan sebuah batu kecil. Rogo Rabi pun tewas.
Tewasnya Rogo Rabi tidak hanya melegahkan Ejo Ke’o dan Meo Sia secara pribadi, tetapi secara sosio politis menegaskan tentang identitas dan jati diri tanah dan kampung pesisir selatan Koto. Bahwa pendatang yang angkuh, arogan dan bertindak kejam akan segera musnah.
Ketika situasi sudah tenang atau pada ketika sudah tanah keta watu ja, kesepakatan selanjutnya yakni membagikan wilayah yang sebelumnya dikuasai Rogo Rabi. Tanah yang dibagi adalah tanah Lomba, hasil perang yang disebut dengan istilah tana kote kaka, watu wawi mbambi.
Namun demikian, untuk Rangga Ame Ari dan Todi Wawi diberikan persyaratan lain bahwa istri mereka, yang merupakan saudari-saudari Rogo Rabi harus terlebih dahulu dibunuh. Hal ini dimaksudkan untuk melenyap-musnahkan secara tuntas keturunan dan darah Rogo Rabi.
Todi Wawi bersedia dan menerima persyaratan tersebut. Dan ia pun akhirnya membunuh Ito Rabi, namun Rangga Ame Ari tidak bersedia lantaran rasa cintanya kepada Boti Bertaso. Karena keputusannya tersebut, Rangga Ame Ari tidak mendapatkan sebidang tanah pun, ia hanya mendapatkan satu bakul atau mboda yang berisi emas. Namun dalam perjalanan pulang menuju Udi Wodowatu, Boti Bertaso meninggal dunia karena ditimpa batu yang longsor.
Tanah hasil perang akhirnya hanya dibagikan kepada Ejo Ke’o, Meo Sia dan Todi Wawi. Namun demikian mereka tidak mengolah tanah tersebut. Mengetahui bahwa tanah-tanah tersebut tidak diolah, maka Ata Bero, orang-orang keturunan Bheda Bajo, yang sebelumnya menetap di Nanga di atas kampung Daja meminta kepada Ejo Ke’o untuk mengolah tanah tersebut.
Sebagai satu keturunan dan bagian dari keluarga besar Pau Toda, maka Ejo Ke’o menerima permintaan tersebut. Maka menetaplah Ata Bero di Lomba. Karena mereka adalah orang yang pertama menetap di Lomba maka mereka disebut sebagai ata ta ndi’i mudu mera do’e atau orang-orang yang pertama menetap pada sebuah tempat.
Setelah dalam beberapa waktu lamanya Ata Bero menetap dan berbagai kegiatan keseharian mereka seperti bercocok tanam dan beternak menampakkan hasilnya, masalah mulai muncul. Masalah yang muncul adalah warga Pau Toda yang merasa memiliki tanah mulai datang dan memanen hasil panen dengan sesuka hati.
Melihat situasi yang meresahkan itu akhirnya Ata Bero melaporkan kejadian tersebut ke Ejo Ke’o. Ejo Ke’o pun akhirnya mengutus keponakannya sendiri, yakni Dede Dongga bersama seorang pengawal yang bernama Beo Bajo untuk menjaga dan mengawasi Lomba dengan tujuan untuk toru bero, bheke mere, bheja bhuku. Kedatangan dan kehadiran Dede Dongga membuat situasi kembali tenteram dan aman, Ata Bero bisa bercocok tanam dan beternak kembali tanpa ada gangguan.
Sementara itu Beo Bajo dan pengawalnya yang lain menetap di Kela. Di Kela, tugas dan wewenang Beo Bajo tidak hanya untuk menjadi benteng hidup kampung Lomba tetapi juga menjadi tempat persinggahan Ejo Ke’o. Nua Kela, bagi Ejo Ke’o dengan demikian berfungsi untuk nuka tudi, ndua lumbi.
Dede Dongga pun dalam beberapa waktu kemudian mulai membentuk struktur kampung secara lebih kuat. Dengan kapasitas dan wewenangnya sebagai ine tana ame watu dan atau ine mere ame dewa untuk Udu Mbuju Eko Lomba, Dede Dongga mulai merangkul orang-orang yang menetap di sekitarnya seperti Aji dan Dora yang sebelumnya tinggal di Ando, dekat Ua, untuk membentuk sebuah kampung yang lebih besar.
Sudah sejak itu, terbentuklah kampung lomba dengan warga yang terdiri atas ata bero sebelah timur, Aji dan Dora sebelah utara dan Dede Dongga sebelah barat. Selanjutnya posisi rumah-rumah dalam kampung yang terbentuk berdasarkan latar belakang posisi ini akhirnya ditetapkan sebagai berikut, Ata Bero disebut Bhisu Bero atau Bhisu Mena, keluarga Aji dan Dora disebut Bhisu Wawo Kota dan keluarga Dede Dongga sebagai kepala kampung disebut Bhisu Sao Mere.
***
Demikianlah kisah ringkas asal muasal kampung Lomba (Romba). Seperti yang dikemukakan pada bagian awal kisah ini bahwa, kisah yang baru disampaikan masih jauh dari sempurna. Lantaran itu mesti harus diteliti dan didalami secara serius melalui penelitian dan kajian budaya.












































12 tanggapan kepada “Romba”
Videlis Nuwa
Juli 14th, 2010 pada 22:21
Terima kasih, mudah2an media ini bermanfaat utk komunikasi sesama orang romba, yang mulai melalang buana di bumi nusantara ini.
Kris Bheda Somerpes
Juli 15th, 2010 pada 17:59
terima kasih woso om atas komentar dan tanggapannya
tanagekeo
Agustus 16th, 2010 pada 08:30
Kris, Jao waktu mona wosountuk blogging. Tapi sayaselalu mencari inspirasi diblogmu. Mauromba menyimpan kenangan yang selalu mengajakku pulang. Mari kita membangun Mauromba melalui ide dan saya harap kelak bisa dengan dana untuk menata kampung.
warta terbaik adalah warta damai, berbuat lebih berarti dari seribu kata. Kris telah melakukan itu. Salam
nasawewe
September 18th, 2010 pada 23:11
maaf numpang singgah nih, tulisan bagus…. jadi betah nih di ini blog…… gimn kabar nih….. salam kenal, saya anak nasawewe…………….
kris bheda somerpes
September 19th, 2010 pada 15:31
All..thnaks udah mampir, smoga kita bisa berbagi
Tanagekeo
Oktober 25th, 2010 pada 03:59
Oda kesa daka tau kapela St Raphael, Watungghegha kere lema napa jao sodho, moo mae legha bea.. terima kasih
Kris Bheda Somerpes
Oktober 25th, 2010 pada 11:22
modo om jao tunggu kabar puu ena om
mosatakeo
Februari 9th, 2012 pada 22:09
Ada kisah yang menjelaskan bahwa setelah perlawanan pada Rogo Rabi selesai, ada upacara selamatan yang disebut ‘kobi lunga’ dengan menyembelih krbau serta babi. Sebagai tanda kemenangan Ejo Keo, Rangga Ameari dan Todi Wawi masing-masing meledakkan meriam. secara bergilir. Tetapi Todi Wawi berkebratan melakukan sebelum ada keputusan atas haknya. Todi Wawi merasa telah berkorban bagi banyak orang. Isterinya sendiri Ito Rabi dibunuh setelah dikitari pada sebatang tiang di tengah kampung. Pada saat itu Ito Rabi dalam keadaan hamil. Maka diputuskan bahwa tanah Rogo Rabi yang sekarang Romba dikuasai oleh Ejo Keo. Dan tanah Ua diserahkan kepada Todi Wawi sebagai imbalan atas pengorbanan isteri dan anaknya. Maka Tanah Ua disebut ‘Tana Fai Watu Ana. Tanah ini yang diukuasai oleh orang Ua dan Jawa Wawo.
Karena Ejo Keo orang Kodiwuwu sebagai penguasa tanah Romba dan menyerahkan itu pada orang Romba, maka hubungan antara orang Koduwuwu dan Romba merupakan satu keluarga dan satu rumah adat.
Kris Bheda Somerpes
Februari 14th, 2012 pada 19:32
terima kasih om atas narasi pembanding ini………..saya akan mengumpulkan lebih banyak sumber
alfons no
Juni 11th, 2012 pada 10:30
trima kasih…kris, jao smntara cari-cari tentang cerita2 ato nu nange ko kita reta nua, dan jao tmukan di sini….woso ana kita ta negha ghewo cerita peka te…smoga so woso ta baca dan menimba kebijaksanaan-kebijaksanaan puu sira embu kajo kita…sukses…
El
Juli 13th, 2012 pada 19:52
Kak ada banyak hal yang menyimpan kisah menarik tentang Romba. Walau jarang saya ketahui secara detail namun kisah tentang kearifan lokal dan perjuangan putra-putri Romba yang tegar dalam menghadapi ganasnya gelombang menjadi hal menarik yang perlu diangkat. Saya masih ingat banyk kisah dari ayah saya (Putra Romba) yang harus berjalan kaki dari Romba menuju Ende untuk mengenyam pendidikan walau harus melewati “Besi Mele” yang menyimpan kisah misterius. Atau juga berjasanya motor “Cari Hidup” yang sekarang telah mengantar orang menjadi sukses di berbagai daerah. Salam Hangat saya kae dengan kehadiran blog ini. ” Joakim Pita Mbeu Crowd”
IRON GOA
Desember 13th, 2012 pada 14:22
MANTAP
1 Trackbacks / Pingbacks
Si Jelita Boti Bertaso, Cerita Rakyat Romba-NTT « JEJAK KATA BUANA Februari 23rd, 2012 pada 15:23
[...] Tentang SayaAlbum KeluargaFlores-NTTRombaNagekeoBuku-kuPenghargaanMy FaceKalender [...]