Saya adalah Pena Putra Dewa dilahirkan di Romba-Maunori-Nagekeo Flores Nusa Tenggara Timur pada hari Kamis sore, 25 April 1981 dengan nama lengkap Kris Bheda Somerpes. Saya dilahirkan dari seorang ayah pensiunan guru sekolah dasar dan seorang ibu yang setia menjadi ibu rumah tangga. Dari tiga bersaudara, seorang perempuan dan dua laki-laki, saya adalah yang sulung.

Saya menamatkan Sekolah Dasar pada tahun 1993 di SDK Daja, kemudian melanjutkan ke Seminari Menengah Pertama dan Menengah Umum St. Johanes Berchmans Toda-Belu Mataloko Ngada. Sebelum menjadi perantau dan musafir saya sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta.

Pernah menetap di Meulaboh Aceh Barat hingga 2010 ketika bergabung dengan SUNSPIRIT For Justice and Peace (http://forjusticeandpeace.wordpress.com), bekerja sebagai sahabat dan keluarga para petani, perempuan dan anak-anak korban konflik dan tsunami. Akhirnya sekarang, pulang kampung dan menetap di Labuan Bajo – Manggarai Barat Flores Nusa Tenggara Timur sebagai seorang pemulung kata.

***


Merefleksikan Cita-Cita

Ketika masih sekolah dasar kelas tiga pada Sekolah Dasar Katolik Daja, Keo Tengah Nagekeo Flores NTT, Bapak Guru Bahasa Indonesiaku ketika itu, Bapak Abdulah Daki (Alm) menanyakan kepada kami, 23 anak kecil yang lugu, tentang cita-cita. Ada-ada saja jawaban yang dilontarkan ketika itu, lebih tepat dibilang sekenanya saja. Namanya juga anak-anak, tokoh atau figure panutan yang terlintas dalam benak menjadi acuan untuk dijadikan angan-angan.

Seoarang kawan mengatakan dia bercita-cita ingin menjadi nelayan karena ayahnya juga seorang nelayan. Seorang yang lain bercita-cita ingin menjadi dokter, alasannya karena dia takut disuntik, jadi lebih baik menyuntik orang lain. Seorang teman wanita ingin bercita-cita jadi pramugri, biar tampak cantik. Di sebelahnya seorang teman laki-laki mengatakan ia ingin jadi pilot, agar di kampung ada landasan pesawat terbang.

Ketika sampai pada giliranku, aku mengatakan aku punya dua pilihan, jika bukan jadi seorang pastor maka saya akan menjadi seorang wartawan. Memilih menjadi pastor lantaran, kata orang, makan enak kemana-mana disajikan makanan lezat. Jadi, maaf saja, awalnya, bukan untuk menjadi mempelai Tuhan, tetapi mengejar makan enak. Namun cita-cita itu akhirnya pupus ketika memasuki seminari tinggi. Setahun sebelum menjalani tahun orientasi pastoral, aku harus gulung tikar. Tapi alasannya lebih karena pergulatan pribadi, bukan karena lelah mencari makanan lezat.

Pilihan lain, menjadi wartawan. Ini satu-satunya cita-cita yang tertinggal. Gagal jadi pastor banting setir jadi wartawan. Melamar ke sana dan ke mari, akhirnya mampir sebentar ke Koran Rakyat Merdeka. Sebulan magang, menjadi penunggu setia gedung bundar di kompleks Kejaksaan Agung, hanya untuk mencatat apa yang keluar dari mulut Hendarman Supandji yang ketika itu jadi Jampidsus walaupun mungkin beliau hanya mengatakan ‘no comment’.

Di akhir masa magang, ketika memasuki wawancara akhir. Dengan sopan manajemen Rakyat Merdeka mengatakan “Belum lulus kuliah ya?”. Haha..aku tahu persis maksud pertanyaan itu. Jadi sampai kini aku tidak pernah datang lagi ke Rakyat Merdeka. Karena aku harus menyelesaikan kuliah yang tertunda, setelah setahun cuti cari uang, dari tukang sapu dan ngepel kaca di sebuah hotel di kawasan Kota sampai jadi wartawan magang sebulan di gedung bundar Blok M.

Pupuskah semua cita-cita? Apakah aku gagal meraih impian? Menjawab dua pertanyaan ini berarti aku dituntut untuk merefleksikan tentang cita-cita sebagai sebuah pergulatan.

Sebagai seorang pastor dan juga wartawan yang sesungguhnya aku gagal. Tetapi belajar dari keduanya, dalam proses perjalanan hidupku, aku menemukan makna, bahwa dalam hal dan kesempatan tertentu aku menjadi seperti seorang pastor. Aku terlibat dan mau melibatkan diri di tengah realitas dalam komunitas demi sebuah impian ‘masyarakat sejahtera’. Dalam hal dan kesempatan tertentu aku pun menjadi serupa wartawan, melalui media sederhana aku menuliskan fakta dan peristiwa, mengkomunikasikan fakta dengan benar agar diketahui dan dicerna.

Semuanya itu menjadi terlaksana manakala aku menjadi seorang aktivis yang kerjanya jalan-jalan kelar masuk kampung. Keluar masuk, bergaul, tidur, makan minum bersama dengan orang-orang kampung seperti di kampungku. Jadi aktivis aku menjadi begitu berbahagia. Aku bisa melayani dengan total untuk tujuan kebaikan dan kesejahteraan. Pun pula aku menuliskan dan melaporkan fakta untuk tujuan yang sama.

Semuanya berawal dari cita-cita, belajar dari perjalanan hidupku yang baru sebentar, aku menyadari sungguh bahwa tidak ada cita-cita yang seratus persen gagal. Karena dalam bentuk dan media yang berbeda cita-citaku terealisasi.

***

krisbheda@gmail.com, somerpes.sunspirit@gmail.com, kb.sunspirit@gmail.com.