Sebuah Novel-novelan…

Dalam diam, kata-kata itu meletup-letup. Melapangkan rongga dada. “Azam, kaukah di sana? yang selalu menyapaku dalam diam? jika kau merindu, mengapa kau harus pergi? Jika kau ingin menyapaku, mengapa harus selalu dalam gulita?” Keluh itu melepaskan Sarah ke luar jendela. Matanya melayang jauh ke gelap malam. Angin kecil menampar ari langsatnya.

“Bulan” Ya…bulan. Saksi tentang cinta yang selalu jujur menghadirkan kisah. Azam tidak dapat mengelabui kisah cinta yang pernah dibangun. Bulan menuturkan itu. malam menyaksikan semuanya. Dan pada lembaran catatan harian sudah dicatat semuanya. Pada halaman empat belas catatan harian, di ujung tinta jingga, tertulis sepenggal kalimat “Hanya Alam dan Tuhan yang tahu”

Namun, pada pusaran rasa, Sarah melinglung. Hingga ia benamkan tubuh pada guyuran air mandian. Sarah masih membayangkan cerita bulan, tentang kejujuran cinta. malam tak pernah berdusta, walau dia gulita. Bulan tak pernah berbohong, walau diselimuti mendung.