Setiap hari kami berdoa mengawali dan menutup pelajaran sekolah dengan berdoa secara berganti-gantian. Jika pada pagi hari kami yang beragama Katolik mengawali dengan doa ‘Bapa Kami’ maka pada akhir mata pelajaran murid-murid yang beragama Islam melafalkan ayat-ayat pendek dari Al-Quran. Lantaran kebiasaan ini, murid beragama Islam sampai hafal betul barisan kalimat dalam doa ‘Bapa Kami’, ‘Salam Maria’ dan ‘Aku Percaya’ dan bahkan tangan kanan mereka enteng membuat tanda salib pada dahi, dada dan hati. Sebuah gerakan lincah yang santun. Demikian pun sebaliknya, kami dengan mudah menghafal dan melafalkan ayat-ayat pendek dari Al-Quran. Suara-suara kecil kami melambung tinggi, memberi warna beragam, bagai paduan suara.

Jika tidak ada guru agama (dari salah satu agama yang masuk mengajarkan mata pelajaran agama) kami diajarkan tentang toleransi dengan praktek mengunjungi Kapela (gedung gereja kecil di lingkungan yang kecil) dan atau Masjid untuk sekedar memperkenalkan ‘kesakralan’ masing-masing agama supaya dihargai dan dihormati. Saya mengenal kiblat, sajadah, imam, ustadz, kubah, mukena, magrib, takbir, sunat, haram, halal, istri nabi, dan putri kesayangan Nabi Muhammad Siti Fatimah Azzhara, dan seterusnya sudah sejak itu. Demikian pula sebaliknya, murid-murid yang beragama Islam tahu betul tentang Getsemani, kalvari, gua Maria, Yesus, Natal, Paskah, rasul, santo, santa dan seterusnya sudah sejak itu pula. (baca selengkapnya)

 

Keyakinan akan kenangan, pengalaman dan pemahaman itulah yang akhirnya menjadi kekuatan bagi saya ketika saya menetap (untuk sementara) di Meulaboh Aceh Barat. Keyakinan itu tidak hanya memperkokoh pemahaman dan konsep tentang cara berelasi dan bergaul sebagai minoritas di tengah mayoritas Muslim, tetapi juga dalam praksisnya saya serupa kembali ke masa usia Sekolah Dasar. Walau pun dalam banyak hal berbeda.

Satu kenangan yang membekas dan akhirnya selalu berulang pada hari-hariku di Meulaboh Aceh Barat adalah kembali terbiasa untuk mengucapkan salam “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”. Selalu dan senantiasa saya mengucapkan salam itu dalam perjumpaan-perjumpaan saya dengan siapa dan kapan saja. Demikian juga sebaliknya jika saya kedatangan tamu, baik yang belum saya kenal maupun para sahabat, jika dari depan pintu ucapan salam itu meluncur, maka spontan saya akan membalasnya “Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh”. (baca selengkapnya)