<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>JEJAK KATA BUANA</title>
	<atom:link href="http://krisbheda.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://krisbheda.wordpress.com</link>
	<description>Berpetualang Dalam Rimba Kata</description>
	<lastBuildDate>Wed, 21 Dec 2011 13:17:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='krisbheda.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/869f6884f23ae79292406c4d7a87ae77?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>JEJAK KATA BUANA</title>
		<link>http://krisbheda.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://krisbheda.wordpress.com/osd.xml" title="JEJAK KATA BUANA" />
	<atom:link rel='hub' href='http://krisbheda.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Makna Menulis Bergaya ‘Dogy Style’ dan ‘69’</title>
		<link>http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/21/makna-menulis-bergaya-dogy-style-dan-69/</link>
		<comments>http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/21/makna-menulis-bergaya-dogy-style-dan-69/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 13:17:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kris Bheda Somerpes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Usil]]></category>
		<category><![CDATA[belajar menulis]]></category>
		<category><![CDATA[menulis adalah doa]]></category>
		<category><![CDATA[menulis bergaya dogy style dan 69]]></category>
		<category><![CDATA[menulis itu berpetualang]]></category>
		<category><![CDATA[menulis itu membebaskan]]></category>
		<category><![CDATA[menulis itu menyembuhkan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://krisbheda.wordpress.com/?p=3301</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada pekerjaan yang paling membahagiakan selain menulis. Menulis tentang apa saja, termasuk menulis sesuatu yang seharusnya tidak perlu untuk ditulis. Tentang orang-orang, benda-benda, malam, siang, kaki, akar, mimpi basah dan seterusnya. Termasuk menulis dengan gaya tulisan apa saja, termasuk dengan gaya penulisan yang aku sendiri tidak mengerti untuk disebutkan sebagai bergaya apa. Sampai suatu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=krisbheda.wordpress.com&amp;blog=5586684&amp;post=3301&amp;subd=krisbheda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong></strong><a href="http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/21/makna-menulis-bergaya-dogy-style-dan-69/menulis_/" rel="attachment wp-att-3303"><img class="alignleft size-medium wp-image-3303" title="menulis_" src="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/menulis_.gif?w=300&#038;h=295" alt="" width="300" height="295" /></a>Tidak ada pekerjaan yang paling membahagiakan selain menulis. Menulis tentang apa saja, termasuk menulis sesuatu yang seharusnya tidak perlu untuk ditulis. Tentang orang-orang, benda-benda, malam, siang, kaki, akar, mimpi basah dan seterusnya. Termasuk menulis dengan gaya tulisan apa saja, termasuk dengan gaya penulisan yang aku sendiri tidak mengerti untuk disebutkan sebagai bergaya apa. Sampai suatu ketika, seorang sahabat bertanya apa gaya tulisan favoritmu, sumpah, aku bingung menjawabnya, sehingga dengan spontan aku menjawab saja ‘aku suka gaya <em>dogy style</em> dan atau <em>69</em>’</p>
<p style="text-align:justify;">Dia terperanjat. Dia merapatkan matanya kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Bukankah itu gaya adegan dalam film esek-esek? Tanyanya. Aku pun akhirnya terpingkal-pingkal juga, karena merasa lucu dengan jawabanku sendiri. Namun kemudian aku menjelaskan bahwa ‘menulis adalah juga merupakan persentuhan yang intim dengan sesuatu, dengan peristiwa-peristiwa, orang-orang, benda-benda dan keadaan-keadaan. Menyentuh-intim semua hal itu akan melahirkan kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata. Kau menyebutnya sebagai orgasme ketika menonton-peragakan <em>dogy style</em> dan atau <em>69</em>, tetapi bagiku melampaui itu adalah pembebasan dan doa’</p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p style="text-align:justify;">Jujur saja, sampai hari ini, setelah kembali membaca tulisan-tulisanku di blog ini, aku tidak dapat menyimpulkan sebenarnya sudah sedang menulis dengan menggunakan ‘gaya penulisan apa’ dan apalagi tentang ‘apa yang aku tulis’. Aku menulis tentang apa saja, dengan gaya penulisan yang menurutku nyaman untuk ditulis. Kadang aku bercerita, kadang aku berpuisi, kadang aku ber-sok akademisi, penyair, sastrawan dan seterusnya, sampai kadang aku sendiri tidak tahu apa-apa.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun demikian, apa pun bentuk tulisan yang kutulis, dan apa pun tema tulisannya membawa banyak manfaat dalam lingkup kehidupanku sebagai subjek yang otonom, sebagai pribadi. Dalam kesempatan ini aku cukup diri menyebut beberapa manfaat yang paling berpengaruh terhadap perkembangan pribadi sampai sejauh ini. Yakni  <strong><em>pertama</em></strong>, menulis itu membebaskan. Hanya dengan menulis aku dapat keluar dari diri sendiri. Aku keluar melepaskan diri dari beban pikiran, melepaskan diri dari ‘kemumetan’ situasi yang membelenggu, melepaskan diri dari ‘kementokan’ pencarian alternatif refleksi, bahkan sekaligus melepaskan diri dari keterbatasan-keterbatasan diri sebagai seorang manusia biasa. Menulis dengan demikian serupa bercermin diri.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika sudah sedang stress, aku menulis tentang stress. Ketika sudah sedang sakit, aku menulis tentang sakit. Ketika sudah sedang jatuh cinta aku akan menulis tentang cinta. Ketika sudah sedang bingung aku akan menulis tentang bingung. Ketika  menulis tentang mimpi basah atau melihat perempuan haid, aku akan menulis tentang itu. Menulis bagiku tidak hanya membebaskan diri dari keterbatasan dan belenggu, tetapi dengan demikian melepaskan diri dari sakit dan itu menyembuhkan. Itulah poin <strong><em>kedua,</em></strong> menulis itu menyembuhkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Ketiga,</em></strong> menulis itu menemukan. Ketika aku menulis entah tentang apa, aku adalah raja, penguasa dan dan bahkan penemu atas sesuatu itu. Aku tidak hanya menjadi penguasa atas imaji-imajiku sendiri tentang sesuatu, atau penguasa atas peristiwa-peristiwa yang sudah terekam dalam kepala, tetapi juga penemu yang dapat dengan ‘seenak perut’ menetaskannya dalam tulisan entah sebagai apa dan dalam bentuk serupa apa. Sehingga ketika temuan itu terbaca dalam sebuah tulisan yang bergaya entah, aku merasakan sudah menemukan sebuah pencapaian atas sesuatu itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Keempat</em></strong>, menulis itu sebuah petualangan dan perjalanan yang mengasyikkan. Ya, seperti berjalan melampaui ribuan mil jauhnya. Melewati pulau-pulau, laut dan selat, hutan dan gunung, siang dan malam, bahkan sampai-sampai menembus batas ruang dan waktu. Dalam dan dengan menulis aku menemukan  semuanya dan membangun komunikasi dengannya. Padahal hanya dalam kata aku bertualang, dalam rimba kalimat aku terjebak dan dalam samudera paragraf daya terdampar. Kemudian dari atas bukit aku menulis ‘Oh, haleluya’</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Kelima,</em></strong> menulis itu berdoa. Dalam dan melalui menulis aku berdoa. Dan bahkan aku berpikir dengan menulis aku sesungguhnya sedang berdoa. Menulis adalah penyatuanku dengan Dia. Proses penyatuan itu adalah  sebagaimana yang diajarkan Budha Gautama, mengosongkan diri. Bahwa di hadapan Tuhan kita bukan siapa-siapa selain sesuatu yang kosong-hampa. Menulis adalah adalah menunduk dan menuliskan ‘sesuatu di atas tanah’ seperti yang diajarkan Yesus. Kita tidak tahu Yesus menulis tentang apa di atas tanah, tetapi bayanganku Yesus menulis tentang semua, tentang segala, sehingga membuat orang di sekitarnya mengerti kemudian pergi meninggalkannya satu persatu dari yang tertua sampai yang muda. Mereka pergi bukan karena membenci, tetapi pergi untuk berbuat seperti yang ditulis Yesus di atas tanah, yang entah tentang apa. Aku kadang menulis sebagai yang dikatakan Nabi Muhammad, ‘bacalah’. Bagiku menulis adalah membaca yang berulang, dalam kesaksian-kesaksian. Demikianlah, menulis bagiku adalah berdoa. Dan dalam dan melalui menulis aku berdoa.</p>
<p style="text-align:center;" align="center">***</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai pada tahap itu, aku kadang membayangkan makna dan gaya penulisan bergaya ‘dogy style’ dan ‘69’ dan atau apa pun gayanya sampai sekalipun tak bergaya apa-apa bahwa menulis adalah sebuah pekerjaan yang menyasyikkan, membahagiakan dan sangat bermartabat. Tidak menulis dengan demikian adalah pengabaian atas proses pembebasan, refleksi dan martabat manusia kita di hadapan alam, manusia dan Tuhan. Akhirullkalam, semua yang tercatat di sini adalah kata-kalimatku, dan aku tidak tahu apa kata-kalimatmu.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/21/makna-menulis-bergaya-dogy-style-dan-69/jejak-kata-buana-9/" rel="attachment wp-att-3302"><img class="aligncenter size-medium wp-image-3302" title="jejak kata buana" src="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/jejak-kata-buana.jpg?w=300&#038;h=75" alt="" width="300" height="75" /></a></p>
<br />Filed under: <a href='http://krisbheda.wordpress.com/category/jejak-non-fiksi/jejak-usil/'>Jejak Usil</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/krisbheda.wordpress.com/3301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/krisbheda.wordpress.com/3301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/krisbheda.wordpress.com/3301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/krisbheda.wordpress.com/3301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/krisbheda.wordpress.com/3301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/krisbheda.wordpress.com/3301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/krisbheda.wordpress.com/3301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/krisbheda.wordpress.com/3301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/krisbheda.wordpress.com/3301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/krisbheda.wordpress.com/3301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/krisbheda.wordpress.com/3301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/krisbheda.wordpress.com/3301/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/krisbheda.wordpress.com/3301/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/krisbheda.wordpress.com/3301/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=krisbheda.wordpress.com&amp;blog=5586684&amp;post=3301&amp;subd=krisbheda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/21/makna-menulis-bergaya-dogy-style-dan-69/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.657382 121.079370</georss:point>
		<geo:lat>-8.657382</geo:lat>
		<geo:long>121.079370</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1e74891a37b0aacd80f181d07e40eea0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kris Kheda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/menulis_.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">menulis_</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/jejak-kata-buana.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">jejak kata buana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Payudara, Pada Teater Tubuh Perempuan</title>
		<link>http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/16/payudara-pada-teater-tubuh-perempuan/</link>
		<comments>http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/16/payudara-pada-teater-tubuh-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Dec 2011 13:20:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kris Bheda Somerpes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Usil]]></category>
		<category><![CDATA[andrej pejic]]></category>
		<category><![CDATA[Hema departement store]]></category>
		<category><![CDATA[model fashion laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[payudara]]></category>
		<category><![CDATA[teater tubuh perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh termodifikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://krisbheda.wordpress.com/?p=3295</guid>
		<description><![CDATA[Bre Redana dalam topik ‘Komodifikasi Diri’ di bawah judul ‘Dia di Teater Simulakra’ dalam rubrik Kehidupan, Kompas edisi Minggu, 11 Desember 2011 melihat Mall sebagai sebuah panggung teater untuk ‘Fashion’ kaum perempuan. Menurut Redana, Mall adalah panggung teater yang paling menarik dimana berlangsung terus menerus tak putus-putus penuh interaksi antara yang ditonton dan menonton. Di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=krisbheda.wordpress.com&amp;blog=5586684&amp;post=3295&amp;subd=krisbheda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Tahoma,serif;"><a href="http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/16/payudara-pada-teater-tubuh-perempuan/01-044/" rel="attachment wp-att-3296"><img class="alignleft size-medium wp-image-3296" title="01-044" src="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/01-044.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a>Bre Redana dalam topik ‘Komodifikasi Diri’ di bawah judul ‘Dia di Teater Simulakra’ dalam rubrik Kehidupan, Kompas edisi Minggu, 11 Desember 2011 melihat Mall sebagai sebuah panggung teater untuk ‘Fashion’ kaum perempuan. Menurut Redana, Mall adalah panggung teater yang paling menarik dimana berlangsung terus menerus tak putus-putus penuh interaksi antara yang ditonton dan menonton. Di sana siapa pun melihat, ‘fashion’ sebagai penanda diri sudah tidak lagi terbatas pada pakaian, tetapi juga tubuh yang telah termodifikasi. Sebuah pemeranan yang total. Demikian kata Redana.</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Tahoma,serif;">Sebagai sebuah panggung teater untuk ‘Fahsion’ dengan demikian Mall memang tidak terbantahkan. Di sana ditampil-tontonkan tentang atribut dan kostum perempuan. Namun, di sana kita menangkap pesan (hanya) sekadar sebagai etalase atas atribut-atribut itu. Jika lebih, imaji kita akan menangkap tentang ‘tubuh perempuan yang termodifikasi’. Imaji kita hanya berhenti di situ. </span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Tahoma,serif;">Menurut hemat penulis, panggung teater yang sesungguhnya adalah tubuh perempuan itu sendiri. Tulisan kecil ini, tidak bermaksud untuk mementahkan ‘amatan’ Redana tentang kehidupan perempuan di tengah gerak modernitas. Tetapi memberi catatan lain, sekaligus menegaskan siapa sesungguhnya perempuan di tengah gerak arus tersebut. Jika dikemas dengan tanya, penulis sebenarnya mau menjawab secuil tanya ‘Apakah itu tubuh perempuan di tengah arus gerak modernitas?’ </span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Tahoma,serif;">Sesuatu di tubuh perempuan dari ujung kuku kaki hingga rambut di ubun-ubun adalah pelaku. Sesuatu yang vital yang menampilkan sisi sensualitasnya adalah pemeran utama. Sebagian yang lainnya adalah figuran. Semakin kuat paduan keindahan dan feminitas yang ditampilkan seorang perempuan dalam dan melalui kostum yang dilekatkan pada tubuhnya, atau meminjam istilah Bre Redana semakin ‘tubuh perempuan itu termodifikasi’ akan semakin kuat pesan yang mau disampaikan dalam alur ceritanya. </span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Tahoma,serif;">Tubuh perempuan dengan demikian adalah panggungnya. Dalam dan melalui panggung itu kita menangkap pesan yang mau disampaikan dalam tetater yang berjudul ‘Tubuh Perempuan’. Siapakah perempuan, sejauh dilihat-dimaknai dalam dan melalui tubuhnya yang termodifikasi atribut-atribut konstum dan asesoris seperti itulah tubuh perempuan. </span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Tahoma,serif;">Belakangan ‘tubuh perempuan’ sebagai panggung teater ditampil-tontonkan, dengan menampilkan ‘Payudara’ sebagai pelaku utama. Belakangan, ketika semua produsen pakaian dalam seperti ‘Victoria Secret’ menjadikan model perempuan berpayudara besar sebagai panggungnya. Selanjutnya produk-produk ‘tubuh (baca: payudara) termodifikasi’ itu dilemparkan ke etalase-etalase Mall dan butik untuk ditampil-tontonkan, <a href="http://www.mirror.co.uk/news/top-stories/2011/12/14/dutch-fashion-chain-hema-uses-androgynous-model-andrej-pejic-in-new-push-up-bra-advert-115875-23631986/">HEMA</a>, sebuah </span><span style="font-family:Tahoma,serif;"><em>department store</em></span><span style="font-family:Tahoma,serif;"> asal Belanda justru menampil-tontonkan modifikasinya untuk ‘tubuh perempuan’ yang tidak berpayudara besar atau bahkan tidak memiliki jaringan payudara di dadanya.</span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Tahoma,serif;">Tidak tanggung-tanggung, demi menjadikan ‘tubuh perempuan’ sebagai panggung, HEMA menganggendeng seorang model pria kelahiran Serbia berusia 20 tahun bernama <a href="http://models.com/people/andrej-pejic">Andrej Pejic</a> untuk menampilkan </span><span style="font-family:Tahoma,serif;"><em>push-up bra</em></span><span style="font-family:Tahoma,serif;"> produknya. Lantaran ‘tubuh perempuan’-nya itu banyak orang yang terpikat, seorang ‘penonton’ perempuan mengatakan ‘jika seorang pria terlihat seksi dengan bra itu, pasti itu benar-benar bra yang bagus’. Tidak hanya itu, karena ‘tubuh perempuan’ Andrej yang memikat, desainer kondang Jean Paul Gaultier dan John Galliano berani untuk memakai jasanya. </span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Tahoma,serif;">Demikianlah peran ‘payudara termodifikasi’ yang ditampil-tontonkan pada panggung teater yang bernama ‘tubuh perempuan’. Bahkan demi bagian tubuh perempuan yang termodifikasi itu, siapa pun termasuk HEMA berani meminjam ‘tubuh perempuan’ seorang laki-laki Pejic sebagai panggung. </span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Tahoma,serif;">Dan tentang payudara sebagai pelaku sesungguhnya masih satu contoh cerita yang dipentaskan pada ‘tubuh perempuan’. Belum lagi jika menyorot ‘pelaku-pelaku’ lain semisal pantat (bokong), bibir, rambut, alis, kaki, jari-jari dan seterusnya yang melekat pada ‘tubuh perempuan’. </span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Tahoma,serif;">Kini, dalam pusaran dan kepungan gerak-arus modernitas sesungguhnya ‘tubuh perempuan’ semakin sulit untuk didefinisikan. Siapa dan apakah ‘tubuh perempuan’ itu? Bagi penulis, ‘tubuh perempuan’ adalah panggung teater yang sesungguhnya. Dalam dan melalui ‘tubuh perempuan’ kita menonton imaji-imaji yang tersaji dalam tubuh yang termodifikasi. </span></p>
<p style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-family:Tahoma,serif;">Dulu, bayangan penulis, ‘tubuh perempuan’ adalah berpayudara besar berukuran 36B. Namun sekarang, menawarkan yang tidak berpayudara. Lantas, di mana dan bagaimana kita berpegang dan bersandar jika ‘tubuh perempuan’ tidak berpayudara? Jawabannya adalah tunggu episode berikutnya ketika bagian-bagian tubuh perempuan menampilkan dirinya dalam panggung yang bernama ‘tetaer tubuh perempuan’</span></p>
<br />Filed under: <a href='http://krisbheda.wordpress.com/category/jejak-non-fiksi/jejak-usil/'>Jejak Usil</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/krisbheda.wordpress.com/3295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/krisbheda.wordpress.com/3295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/krisbheda.wordpress.com/3295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/krisbheda.wordpress.com/3295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/krisbheda.wordpress.com/3295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/krisbheda.wordpress.com/3295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/krisbheda.wordpress.com/3295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/krisbheda.wordpress.com/3295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/krisbheda.wordpress.com/3295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/krisbheda.wordpress.com/3295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/krisbheda.wordpress.com/3295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/krisbheda.wordpress.com/3295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/krisbheda.wordpress.com/3295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/krisbheda.wordpress.com/3295/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=krisbheda.wordpress.com&amp;blog=5586684&amp;post=3295&amp;subd=krisbheda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/16/payudara-pada-teater-tubuh-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<georss:point>-8.657382 121.079370</georss:point>
		<geo:lat>-8.657382</geo:lat>
		<geo:long>121.079370</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1e74891a37b0aacd80f181d07e40eea0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kris Kheda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/01-044.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">01-044</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apah Akan Lahir Sondangisme dan Kaum Sondang?</title>
		<link>http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/11/apah-akan-lahir-sondangisme-dan-kaum-sondang/</link>
		<comments>http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/11/apah-akan-lahir-sondangisme-dan-kaum-sondang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 13:21:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kris Bheda Somerpes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Opini]]></category>
		<category><![CDATA[kaum sondang]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi sampai mati]]></category>
		<category><![CDATA[sondang hutagalung]]></category>
		<category><![CDATA[sondangisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://krisbheda.wordpress.com/?p=3288</guid>
		<description><![CDATA[Apakah akan segera lahir paham dan aliran politik atau sebut saja semacam pilar gerakan di negeri ini yang memalumkan dirinya, kelompok dan atau organisasinya dengan mengusung sondangisme, lantas mereka yang mengusung sondangisme disebut kaum Sondang atau Sondangis. Akan atau tidak akan, saya pikir waktu yang akan membuktikan, namun yang pasti bahwa ketika segenap warga bangsa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=krisbheda.wordpress.com&amp;blog=5586684&amp;post=3288&amp;subd=krisbheda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/11/apah-akan-lahir-sondangisme-dan-kaum-sondang/revolusi/" rel="attachment wp-att-3289"><img class="alignleft size-medium wp-image-3289" title="revolusi" src="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/revolusi.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a>Apakah akan segera lahir paham dan aliran politik atau sebut saja semacam pilar gerakan di negeri ini yang memalumkan dirinya, kelompok dan atau organisasinya dengan mengusung sondangisme, lantas mereka yang mengusung sondangisme disebut kaum Sondang atau Sondangis.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan atau tidak akan, saya pikir waktu yang akan membuktikan, namun yang pasti bahwa ketika segenap warga bangsa benar-benar frustasi, <em>mentok-mampet</em> mencari alternative menghadapi situasi social politik yang tidak sudah mendera tanah airnya, maka mereka yang disebut sebagai kaum Sondang atau Sondangis akan tampil memaklumkan diri dalam aksi dan demontrasi entah lewat aksi bakar diri, penggal kepala sendiri, atau menghujam dirinya sendiri dengan belati hingga mati.</p>
<p style="text-align:justify;">Peletak dasar sondangisme jelas Sondang Hutagalung, mahasiswa semester akhir Fakultas Hukum Universitas Bung Karno, yang nekat bakar diri di depan Istana Negara pada 7 Desember 2011, dan tiga hari kemudian menghembuskan napasnya yang terakhir karena luka bakar yang ngeri. Aksi bakar dirinya menjadi bukti bukan hanya karena <em>mentok-mampet</em> mencari alternative menghadapi situasi social politik yang tak pernah tuntas, tetapi juga sekaligus sebagai tamparan bagi elite politik bangsanya agar sudi dengar dan peduli pada tangisan anak-anak negeri yang secara social-ekonomi kian terjepit.</p>
<p style="text-align:justify;">Pilar perjuangan sondangisme adalah revolusi sampai mati. Mati bunuh diri secara sadar, tahu dan mau. Kaum Sondang atau Sondangis beraksi bukan untuk mempopulerkan diri dan apalagi cari sensasi. Tetapi untuk memaklumkan kepada publik, secara khusus kepada elite politik negeri, perihal perjuangan merebut keadilan dan kebenaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Lantaran itu pilar penting Sondangisme mengandaikan ada nyali yang kuat, melampaui dari sekedar berani. Karena kaum Sondang dan Sondangis dalam aksinya memaklumkan kepada kaumnya agar juga rela mati, tanpa harus melukai orang lain. Mereka rela mati demi sebuah komunitas bangsa, entah warga bangsa menerimanya sebagai ‘martir’ atau tidak. Perihal itu kaum Sondang atau Sondangis rupa-rupanya tidak peduli.</p>
<p style="text-align:justify;">Sondangisme lahir dari sebuah refleksi yang panjang atas pengalaman kekalahan, kepahitan, derita dan bahkan penindasan-penindasan baik fisik maupun politis. Jika mau jujur, rupa-rupanya Sondangisme lahir karena sebuah <em>memoria passionis</em>, dan dalam melalui aksi bakar diri menjadi puncak dari perjuangan sekaligus melepaskan diri dari kenenangan-kenangan menyakitkan yang direfleksikan secara matang dan mendalam.</p>
<p style="text-align:justify;">Berangkat dari perjalanan refleksi yang panjang dan mendalam itu, Sondangisme sudah barang tentu diusung oleh mereka yang cerdas, karena tidak hanya mencoba mengendap setiap kenangan secara bijak, tetapi juga berani mengambil resiko atas akhir dari perjuangannya yakni kematian. Jadi kaum Sondangi atau Sondangis bukan orang bodoh, tetapi mereka bisa aja lahir dari kalangan mahasiswa, akademisi, para aktivis dan pegiat gerakan social.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya, pada akhirnya Sondangisme tidak mementingkan kedudukan secara politik dan social dalam perjuangannya. Sondangis dan kaum Sondang tidak berambisi merebut tampuk politik tertentu apalagi berjuang untuk meraih kursi kekuasaan. Sondangis hanya hadir dan memaklumkan diri untuk dijadikan sebagai suara bagi segenap kaum tak bersuara supaya didengar, dilihat, dimengerti dan dipahami, singkatnya disadarkan bahwa sebuah bangsa dalam segala sendi kehidupan sudah sedang digerogoti sakit yang akut, rapuh dan goyah.</p>
<p style="text-align:justify;">Sondangisme, dalam dan melalui aksi kaum Sondang atau Sondangis tampaknya memang hadir sangat ekstrem. Tetapi akan lahir atau tidak aliran dan gerakan semacam itu, akan terbukti atau tidak, dalam perjalanan waktu selanjutnya kehadiran mereka sudah cukup memberi tanda bahwa sesungguhnya sebagian dari warga bangsa ini sudah sedang frustasi, <em>mentok-mampet</em> mencari alternative menghadapi situasi social politik yang tidak sudah/tuntas mendera.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#99cc00;"><em>Catatan</em>: Sebelumnya tulisan ini sudah dimuat di</span> <a href="http://politik.kompasiana.com/2011/12/11/akankah-lahir-sondangisme-dan-sondangis-kaum-sondang/">Kompasiana</a></strong></p>
<br />Filed under: <a href='http://krisbheda.wordpress.com/category/jejak-non-fiksi/jejak-opini/'>Jejak Opini</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/krisbheda.wordpress.com/3288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/krisbheda.wordpress.com/3288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/krisbheda.wordpress.com/3288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/krisbheda.wordpress.com/3288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/krisbheda.wordpress.com/3288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/krisbheda.wordpress.com/3288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/krisbheda.wordpress.com/3288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/krisbheda.wordpress.com/3288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/krisbheda.wordpress.com/3288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/krisbheda.wordpress.com/3288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/krisbheda.wordpress.com/3288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/krisbheda.wordpress.com/3288/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/krisbheda.wordpress.com/3288/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/krisbheda.wordpress.com/3288/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=krisbheda.wordpress.com&amp;blog=5586684&amp;post=3288&amp;subd=krisbheda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/11/apah-akan-lahir-sondangisme-dan-kaum-sondang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>-8.657382 121.079370</georss:point>
		<geo:lat>-8.657382</geo:lat>
		<geo:long>121.079370</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1e74891a37b0aacd80f181d07e40eea0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kris Kheda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/revolusi.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">revolusi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sondang ‘Sadar’ Pulang, Nunun ‘Pikun’ Kembali, Saatnya Samad ‘Badik’ Beraksi</title>
		<link>http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/11/sondang-sadar-pulang-nunun-pikun-kembali-saatnya-samad-badik-beraksi/</link>
		<comments>http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/11/sondang-sadar-pulang-nunun-pikun-kembali-saatnya-samad-badik-beraksi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 06:04:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kris Bheda Somerpes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Opini]]></category>
		<category><![CDATA[abraham samad]]></category>
		<category><![CDATA[hari ham 10 desember]]></category>
		<category><![CDATA[hari ham sedunia]]></category>
		<category><![CDATA[koruposi]]></category>
		<category><![CDATA[nunun ‘pikun’ kembali]]></category>
		<category><![CDATA[nunun nurbaeti]]></category>
		<category><![CDATA[nunun pikun dan janji badik]]></category>
		<category><![CDATA[pembaerantasan korupsi]]></category>
		<category><![CDATA[penegakan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[revolusi sondang]]></category>
		<category><![CDATA[saatnya samad ‘badik’ beraksi]]></category>
		<category><![CDATA[sondang ‘sadar’ pulang]]></category>
		<category><![CDATA[sondang hutagalung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://krisbheda.wordpress.com/?p=3279</guid>
		<description><![CDATA[Pukul 17.45 WIB, Sondang Hutagalung menghembuskan napasnya yang terakhir di ruang intensive care unit (ICU) rumah sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta Pusat. Mahasiswa Universitas Bung Karno dan juga aktivis ini akhirnya berpulang ke Yang Maha Kuasa setelah tiga hari mengalami koma karena menderita luka bakar yang parah. Pada hari yang sama 10 Desember 2011, persis ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=krisbheda.wordpress.com&amp;blog=5586684&amp;post=3279&amp;subd=krisbheda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pukul 17.45 WIB, Sondang Hutagalung menghembuskan napasnya yang terakhir di ruang <em>intensive care unit</em> (ICU) rumah sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta Pusat. Mahasiswa Universitas Bung Karno dan juga aktivis ini akhirnya berpulang ke Yang Maha Kuasa setelah tiga hari mengalami koma karena menderita luka bakar yang parah. Pada hari yang sama 10 Desember 2011, persis ketika dunia merayakan Hari Hak Asasi Manusia, tepat pukul 18.45 WIB, Nunun Nurbaeti Darajatun pun tiba di Indonesia. Istri anggota DPR RI dari fraksi PKS, Adang Darajatun ini kembali setelah, sudah sejak pukul 19.06 WIB pada Selasa 23 Februari 2011 terbang menggunakan pesawat Lufthansa LH 0779 tujuan Frankfurt Jerman.</p>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#99cc00;"><strong>Revolusi, Pesan Sondang Sebelum Pulang</strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/11/sondang-sadar-pulang-nunun-pikun-kembali-saatnya-samad-badik-beraksi/1323524995_b/" rel="attachment wp-att-3282"><img class="alignleft size-medium wp-image-3282" title="1323524995_b" src="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/1323524995_b.jpg?w=300&#038;h=266" alt="" width="300" height="266" /></a>Sondang pulang dengan tubuh penuh luka. Kata dokter dan perawat, derita luka bakar parah yang menimpa Sondang lebih dari 90 persen sehingga tipis kemungkinan selamat. Aksi heroik Sondang, demonstrasi yang dilakuan dengan ‘sadar’ melalui aksi bakar diri di depan istana Negara sampai pada kepergiannya yang abadi, membuka mata kita semua anak-anak negeri bahwa (mungkin) hanya dengan revolusi segala ke-tak-becus-an yang menggerogoti republic ini bisa diatasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa tidak? Sebagian dari kita mungkin geleng-geleng kepala atas ‘kenekatan’ Sondang. Lantaran apa yang sudah dilakukan Sondang baru pertama terjadi di Republik ini (mungkin sejak Nusantara menguasai Nusantara). Tapi jika hendak disuluk secara bijak, ‘kenekatan’ Sondang merupakan jawaban sekaligus ‘ledakan’ amarah dan frustasi anak-anak negeri ini atas situasi yang ‘tak becus itu’.</p>
<p style="text-align:justify;">Korupsi mengerat merata, meminjam istilah Budiarto Shambazy, di tiga cabang kekuasaan negeri ini: eksekutif, legislatif dan yudikatif dari pusat sampai ke daerah. Tulis Shambazy, di Kompas edisi 10 Desember kolom Politik-ekonomi bahwa tikus-tikus koruptor menguasai ketiga cabang kekuasaan (itu). Korupsi tidak lagi sekedar mengentit alias mengais-ngais dari anggaran belanja, tetapi juga menjarah anggaran untuk dibagi-bagikan sejak ia ditetapkan oleh eksekutuf dan yudikatif.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika, tiga cabang kekuasaan itu bertabiat ‘bangsat’, bayangkanlah apa yang akhirnya diterima masyarakat, warga bangsa? Kemiskinan tidak akan pernah sudah, ketidakadilan akan menjadi cerita abadi, konflik dan perpecahan atas nama suku dan agama akan menjadi laten, hukum digadai, Singkatnya, hak-hak dasar manusia (HAM) sebagai warga bangsa diinjak dan diperkosa. Hal itu bisa terbaca pada butir-butir pancasila yang selalu dipelintir, dan undang-undang dasar yang nyaris tidak dipercayai, apalagi diamalkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Revolusi. Hanya itu pesan Sondang Hutagalung. Aksi nekat bakar dirinya adalah makna atas pesan itu. Orde (baru) sudah berganti reformasi, tetapi ketidakpastian tetap menjadi-jadi. Mungkin sekarang saatnya anak-anak negeri harus berpikir agak heroic, bahwa hanya dengan ‘revolusi’ ketidakmungkinan menjadi mungkin.</p>
<p style="text-align:justify;">
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#99cc00;"><strong>Nunun Kembali, Pura-Pura Pikun Lagi?</strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/11/sondang-sadar-pulang-nunun-pikun-kembali-saatnya-samad-badik-beraksi/p01-nunun-afs-main-story/" rel="attachment wp-att-3281"><img class="alignleft size-full wp-image-3281" title="p01-nunun---afs.main story" src="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/p01-nunun-afs-main-story.jpg?w=570" alt=""   /></a>Nunun akhirnya pulang dari rumah sewaannya di distrik Saphan Sung, 18 KM dari kota Bangkok (setelah dibekuk Interpol pada Rabu malam 7 Desember 2011) dan dijemput Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ketika tiba dan keluar dari pintu kargo bandara, buronan KPK itu tidak hanya disambut oleh keluarga dan barisan pagar betis polisi, tetapi juga katanya (KPK sudah mempersiapkan tim dokter) untuk memeriksa Nunun. Buronan KPK terkait kasus suap DGS Bank Indonesia ini akan diperiksa tim dokter, selain untuk memastikan kondisi kesehatannya, juga supaya bisa memastikan kepada publik kalau ibu tiga anak ini tidak pikun lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebab seperti diketahui, dalam kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Bank Indonesia tahun 2004 yang dimenangkan Miranda Swaray Gultom, Nunun adalah saksi kuncinya. Nunun disebut sebagai tersangka karena menjadi fasilitator pemberi suap lewat anak buahnya, Arie Malang Judo. Namun dengan alasan sakit lupa berat alias pikun Nunun sama sekali tidak memenuhi panggilan pengadilan. Padahal, Sumarni, mantan sekretaris Nunun di PT Wahana Esa Sembada mengatakan di depan para hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada 05 Februari 2011 bahwa selama 14 tahun dirinya bekerja dengan Nunun, tidak pernah sekalipun melihat kelakuan aneh Nunun yang menampakkan gelagat orang yang sedang menderita penyakit lupa ingatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pura-pura pikun. Hanya itu yang (barangkali) menjadi kecemasan public tanah air atas kembalinya Nunun. Ke-pikun-an itu juga menjadi kecemasan public atas proses hukum yang nantinya berlangsung. Tidak hanya untuk kasus Nunun tetapi juga untuk semua kasus korupsi yang mendera-derita negeri ini. Pelaku dan atau tersangka akan ‘pura-pura pikun’ ketika dipanggil ke pengadilan untuk melanjutkan proses persidangan. Pada saat yang sama, aparat penegak hukum pun bisa saja berpura-pura pikun, lupa-lupa ingat, ingat-ingat lupa atas setiap proses peradilan yang seharusnya menjadi tanggung jawanya agar segera dituntaskan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mudah-mudahan kecemasan public tidak terbukti. Tetapi, jika kasus Nunun dan berbagai kasus korupsi lainnya terbengkalai, karena alasannya ini dan itu, sehingga prosesnya ditunda lagi dan lagi. Maka sudah barang tentu ‘pura-pura pikun’ (bukan pikun) itu sebenarnya penyakit yang hanya ada di negeri ini.</p>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#99cc00;"><strong>Menunggu Aksi ‘Badik’ Abraham Samad</strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/11/sondang-sadar-pulang-nunun-pikun-kembali-saatnya-samad-badik-beraksi/20111202_ketua__kpk_abraham_samad/" rel="attachment wp-att-3280"><img class="alignleft size-medium wp-image-3280" title="20111202_Ketua__KPK_Abraham_Samad" src="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/20111202_ketua__kpk_abraham_samad.jpg?w=300&#038;h=296" alt="" width="300" height="296" /></a>Pulangnya Sondang adalah persembahan totalitas perjuangan anak-anak negeri. Kembalinya Nunun yang semoga saja tidak pikun lagi adalah kado hari Hak Asasi Manusia sekaligus kado akhir tahun buat negeri ini. Keduanya berkait-erat karena menyoal problem yang sama, berjuang sampai mati bangun negeri yang adil sejahtera, dengan pertama-tama berantas korupsi sampai ke akar-akarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah banyak wacana yang dilontarkan warga bangsa ini untuk membasmi korupsi, mulai dari sekedar ucapan main-main namun terkesan sinis sampai aksi serius dan mati seperti yang dilakukan Sondang. Ketua Umum PP Muhammadyah, Din Syamsudin pada April 2008 mewacanakan hukuman mati untuk para koruptor. Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD lain lagi, pada November 2011 politisi yang terkenal blak-blakan ini mengajukan rekomendasi agar para koruptor di tempatkan dalam sebuah kebun yang serupa kebun binatang. Wacana terakhir dan sekaligus aksi nyata adalah ‘bakar diri’ yang dilakukan Sondang. Pesannya jelas, revolusi sampai mati.</p>
<p style="text-align:justify;">Di antara sekian banyak wacana, munculah Abraham Samad. Pimpinan Komisi Pemberantasan terpilih. Di pundaknya dibebani janji-janji, tak hanya janjinya sendiri, tetapi janji-janji anak republic ini. Kepada pria kelahiran Makasar 27 November 1966 ini, kita berharap aksi yang lebih nyata. Kita tidak hanya berharap wacana apa yang dilontarkannya, tetapi bagaimana wacana itu berproses dalam tindakan nyata.</p>
<p style="text-align:justify;">Kepadanya, melalui Masyarakat Anti Korupsi (KMAK) Sulewesi Selatan telah diberikan sebilah badik sepanjang 15 cm sebagai kado atas terpilihnya sebagai ketua KPK yang baru. Kado itu diserahkan oleh bocah kelas 3 Sekolah Dasar, Agus Sutomo, yang mungkin belum mengerti apa artinya korupsi. Hari itu, 9 Desember 2011, dengan badik di tangan Abraham Samad mengacungkan janji ke lambung langit  “Amanah ini tidak saya sia-siakan. Sekali lagi saya katakana siap mewakafkan diri untuk membersihkan Indonesia dari korupsi” Masih dengan badik digenggaman jari-jarinya “Indonesia terpuruk karena tingginya korupsi. Jika terlena dan membiarkan korupsi berjalan terus, bangsa ini akan makin tertinggal”</p>
<p style="text-align:justify;">Ya, Abraham Samad sudah mengacungkan janji. Di tangannya sudah ada badik. Simbol keseriusan dan keberanian, tak pandang bulu apalagi tebang pilih, tetapi atas nama hokum ‘menikam’ siapa pun yang  bersalah. Dalam aksinya kita berharap Abraham Samad tidak menjadi ‘banci’. Tetapi sebaliknya jantan dan berani. Dalam aksinya, kita berharap Abraham Samad bercermin diri dari Sondang, untuk berjuang sampai mati. Pun menampilkan gambaran diri yang berbeda dari Nunun, bahwa dalam memberantas korupsi sikap ‘pura-pura pikun’ adalah tabiat yang tidak hanya tidak terpuji tetapi ‘bangsat’.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#99cc00;"><em><strong>Catatan:</strong></em></span> Sebelumnya tulisan ini sudah diposting di <a href="http://politik.kompasiana.com/2011/12/11/sondang-%E2%80%98sadar%E2%80%99-pulang-nunun-%E2%80%98pikun%E2%80%99-kembali-saatnya-samad-%E2%80%98badik%E2%80%99-beraksi/">Kompasiana</a></p>
<br />Filed under: <a href='http://krisbheda.wordpress.com/category/jejak-non-fiksi/jejak-opini/'>Jejak Opini</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/krisbheda.wordpress.com/3279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/krisbheda.wordpress.com/3279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/krisbheda.wordpress.com/3279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/krisbheda.wordpress.com/3279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/krisbheda.wordpress.com/3279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/krisbheda.wordpress.com/3279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/krisbheda.wordpress.com/3279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/krisbheda.wordpress.com/3279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/krisbheda.wordpress.com/3279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/krisbheda.wordpress.com/3279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/krisbheda.wordpress.com/3279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/krisbheda.wordpress.com/3279/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/krisbheda.wordpress.com/3279/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/krisbheda.wordpress.com/3279/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=krisbheda.wordpress.com&amp;blog=5586684&amp;post=3279&amp;subd=krisbheda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/11/sondang-sadar-pulang-nunun-pikun-kembali-saatnya-samad-badik-beraksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-8.657382 121.079370</georss:point>
		<geo:lat>-8.657382</geo:lat>
		<geo:long>121.079370</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1e74891a37b0aacd80f181d07e40eea0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kris Kheda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/1323524995_b.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">1323524995_b</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/p01-nunun-afs-main-story.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">p01-nunun---afs.main story</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/20111202_ketua__kpk_abraham_samad.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">20111202_Ketua__KPK_Abraham_Samad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Ini Rahasia, Jangan Bilang Siapa-Siapa Ya?&#8221;</title>
		<link>http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/10/ini-rahasia-jangan-bilang-siapa-siapa-ya/</link>
		<comments>http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/10/ini-rahasia-jangan-bilang-siapa-siapa-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 06:17:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kris Bheda Somerpes</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jejak Usil]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[makna rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[jangan bilang siapa-siapa]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu misteri]]></category>
		<category><![CDATA[apa itu rahasia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://krisbheda.wordpress.com/?p=3274</guid>
		<description><![CDATA[Aku baru menikah. Menikah seminggu yang lalu. Aku punya kisah, tetapi tidak akan kuceritakan kepada siapa pun. Titik. Ini adalah masalahku. Kepada keluarga, sahabat dekat, teman kantor, mantan teman sekolah, bekas teman kuliah, guru-guruku, dosen, pembimbing, bahkan sampai ke ruang pengakuan dosa pun aku tidak akan mengatakannya. Sekali kubilang tidak, ya tidak. Tetapi “Off the [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=krisbheda.wordpress.com&amp;blog=5586684&amp;post=3274&amp;subd=krisbheda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/10/ini-rahasia-jangan-bilang-siapa-siapa-ya/anak-gosip-4d897d5e19260/" rel="attachment wp-att-3275"><img class="alignleft size-medium wp-image-3275" title="anak-gosip-4d897d5e19260" src="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/anak-gosip-4d897d5e19260.jpg?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a>Aku baru menikah. Menikah seminggu yang lalu. Aku punya kisah, tetapi tidak akan kuceritakan kepada siapa pun. Titik. Ini adalah masalahku. Kepada keluarga, sahabat dekat, teman kantor, mantan teman sekolah, bekas teman kuliah, guru-guruku, dosen, pembimbing, bahkan sampai ke ruang pengakuan dosa pun aku tidak akan mengatakannya. Sekali kubilang tidak, ya tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi “Off the record ya, jangan katakan ke siapa pun. Saya hanya mengatakan ini kepadamu sebagai sahabatku”. Tiba-tiba dalam suasana yang entah, kepada sahabat kumenceritakan kisah itu. Sebuah kisah aib, kuceritakan tanpa malu, tanpa takut. Bebanku bagai terbang melayang. Sahabatku mengangguk. “Ya, ya, saya janji. Saya tidak akan menceritakan kepada siapa pun. Hanya kita berdua yang tahu”.</p>
<p style="text-align:justify;">Sahabatku itu mungkin merenung, dalam hatinya ia berkata, tidak baik masalah itu di simpan sendiri. Setiap soal harus dibagi agar mudah mencari solusi. Apalagi soal serupa itu rumit dan pelik. Semakin banyak yang tahu semakin baik. Solusinya pasti akan terang benderang.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, demi alasan moral, pada situasi yang entah “Ada problem besar nih, tapi kamu harus janji jangan mengatakan kepada siapa-siapa ya, soalnya kalau sampai orang tahu kasihan dia. Dia pasti malu”. Kata sahabatku. “Sumpah demi Tuhan, demi nama baik kamu dan sahabatmu, saya tidak akan menceritakan kepada siapa-siapa” sahut sahabat dari sahabatku.</p>
<p style="text-align:justify;">Sahabat dari sahabatku membawa pulang kisah jujur yang perlahan menjadi garing, sudah menjadi lucu kering. Bahkan tidak menjadi berarti. Sehingga dengan tanpa beban apa pun, walau tetap ‘demi menjaga rahasia’ sahabat dari sahabatku itu bercerita kepada emaknya “Ma, tapi ini rahasia ya, jangan bilang ke siapa-siapa, ma janji ya” si emak hanya mengangguk sambil mencatat saldo akhir iuran arisan. Tetapi telinga si emak lekat menangkap kisah baru itu sambil senyum-senyum.</p>
<p style="text-align:justify;">Dua hari kemudian si Emak hadir di acara arisan. Di sela acara, ketika rehat, si Emak berbagi cerita. Sepuluh ibu pasang telinga “Tapi jangan cerita kepada siapa-siapa ya, ini rahasia, cukup kita kelompok ibu-ibu di sini saja yang tahu” sepuluh ibu itu mengangguk, sambil yang seorang ‘’ya, kita harus jaga rahasia” ibu yang lain “masalah apa?” dan ibu yang lain lagi “apa masalahnya”</p>
<p style="text-align:justify;">Cerita rahasia itu akhirnya menyebar ke sepuluh pasang telinga. Ke telinga-telinga ibu-ibu arisan. Ada yang janda, ada yang sudah bersuami, ada yang minta cerai, ada yang kawin lagi, ada yang sudah punya cucu, ada yang genit, ada yang banyak bicara, ada yang setengah pendiam, dan ada yang lain lagi. Tapi mereka satu dalam suara ‘suka bagi-bagi cerita’.</p>
<p style="text-align:justify;">Pulang arisan, sebagian dari ibu-ibu itu ada yang ke pasar, katanya mau belanja sayuran. Sebagian ada yang mengunjungi sanak saudara, kata silaturahim. Seorang ke salon, katanya suntik silikon. Seorang yang lain ke tempat pesta, katanya mau berdansa. Dalam katanya-katanya itu, cerita baru itu pasti tersebar walau ‘’ini rahasia, yang penting kita berdua saja yang tahu”.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan satu dari ibu arisan itu punya cucu. Setelah pulang petik sayur di kebun belakang rumah ia mempersiapkan masakan untuk malam hari. Sedikit lodeh, ikan asin, sambal terasi, dan tentu saja seperiuk nasi. Setelah masak, si nenek merehat di serambi, persis ketika itu si cucu baru pulang main boa kasti.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nenek punya cerita, tapi janji dulu jangan bilang ke siapa-siapa ya”. Si cucu yang belum benar-benar tenang karena masih kelelahan, mengangguk perlahan. “Cerita apa nek”. Si cucu pun pasang kuping. Sesekali ia menggeleng-geleng kepala, mengangguk-angguk. Sejenak ia merenung kemudian pergi membasuh diri.</p>
<p style="text-align:justify;">Esok hari di sekolah. Kebetulan, di kelas enam, kelasnya Si cucu kebagian tugas bahasa Indonesia dengan topik pembahasan ‘Latihan Mengarang Cerita”. Dan kebetulan pula si cucu baru mendapatkan cerita segar dari neneknya kemarin sore. Tanpa membuang-buang waktu, si cucu menumpahkan semuanya ke dalam kertas. Di akhir cerita, si cucu menulis, “Ibu guru, jangan bilang ke siapa-siapa ya. Cerita ini cukup saya dan ibu saja yang tahu”.</p>
<p style="text-align:justify;">Di rumah. Sang ibu muda yang cantik, guru bahasa Indonesia si cucu sudah selesai mandi. Tapi sampai setengah jam sesudahnya suaminya belum juga tampak batang hidungnya. Sambil menunggu suaminya pulang, di beranda rumah sang ibu guru membaca cerita-cerita karangan muridnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tiba di lembaran cerita si cucu, sang ibu guru mengangguk-angguk “Kisah ini sangat menyentuh. Alurnya mengalir, tokoh-tokohnya jelas, isinya jujur dan polos”. Kata sang ibu guru. Tidak berapa lama, sang suami pun tiba. Baru saja sang suami menaiki anak tangga. Sang ibu guru muda itu berteriak “Pa, sini”.</p>
<p style="text-align:justify;">Sang suami mendekat “Ada satu anak di sekolah mama, sangat cerdas, dia bisa melukiskan kisah dengan sangat menarik, mama kasih dia nilai 10”. Jelas sang ibu guru, suaminya mengangguk-angguk. “Bagus ma, anak-anak yang cerdas harus diberi nilai yang bagus” timpal suaminya “tapi ceritanya tentang apa ma, jangan-jangan…” lanjutnya. “Ssttt….jangan ribut-ribut. Ini cerita rahasia, hanya kita berdua yang tahu”. Potong sang istri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sang suami penasaran. Ia mengambil kertas cerita itu dan membacanya. Sepintas membaca, belum juga tuntas, sang suami berkomentar “Oh my God, ini benar-benar cerita yang sangat rahasia. Tolong ma, jangan ceritakan ke siapa-siapa ya, pleaseeeeeeeeeee, cukup kita berdua yang tahu”. Kemudian menghilang ke balik pintu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kamar tidur, sambil melepaskan pakaian kerjanya satu-satu, sang suami tak lelah memohon “Tuhan, hamba-Mu memohon ampun, aku menyesal atas dosaku ini, dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tuhan, ini rahasiaku, semoga hanya Engkau yang tahu” dalam bingung yang sungguh, sang suami seperti mendengar suara Tuhan yang lembut “Jangan takut, rahasia ini hanya kita berdua yang tahu”. Jawab istrinya dari balik pintu.</p>
<p style="text-align:justify;">Di surga Tuhan geleng-geleng kepala.</p>
<br />Filed under: <a href='http://krisbheda.wordpress.com/category/jejak-non-fiksi/jejak-usil/'>Jejak Usil</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/krisbheda.wordpress.com/3274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/krisbheda.wordpress.com/3274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/krisbheda.wordpress.com/3274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/krisbheda.wordpress.com/3274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/krisbheda.wordpress.com/3274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/krisbheda.wordpress.com/3274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/krisbheda.wordpress.com/3274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/krisbheda.wordpress.com/3274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/krisbheda.wordpress.com/3274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/krisbheda.wordpress.com/3274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/krisbheda.wordpress.com/3274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/krisbheda.wordpress.com/3274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/krisbheda.wordpress.com/3274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/krisbheda.wordpress.com/3274/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=krisbheda.wordpress.com&amp;blog=5586684&amp;post=3274&amp;subd=krisbheda&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://krisbheda.wordpress.com/2011/12/10/ini-rahasia-jangan-bilang-siapa-siapa-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		<georss:point>-8.657382 121.079370</georss:point>
		<geo:lat>-8.657382</geo:lat>
		<geo:long>121.079370</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1e74891a37b0aacd80f181d07e40eea0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Kris Kheda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://krisbheda.files.wordpress.com/2011/12/anak-gosip-4d897d5e19260.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">anak-gosip-4d897d5e19260</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
