Tulisan dari ‘Jejak Usil’ Kategori

Ketika SBY Bermain Twitter

BHzG0FdCMAA4nhy.jpg large

“Halo Indonesia. Saya bergabung ke dunia twitter untuk ikut berbagi sapa, pandangan dan inspirasi. Salam kenal. *SBY*,” tulis SBY dalam akun @SBYudhoyono, Sabtu (13/4). Sapaan ini adalah kicauan pertama SBY di akun twitternya. Tidak lama berselang, 150 ribu orang menjadi followernya. Saya pribadi tidak terkejut, sebaliknya kagum.

Mengapa tidak, SBY dan pembisiknya cukup cerdas membaca ‘waktu luang’. Saya menyebutnya sebagai waktu luang politik.

Di tengah hiruk pikuk perang elite politik menjelang 2014 dan berbondong-bondongnya para politisi blusukan ke kantong-kantong massa justru SBY yang katanya tidak punya waktu mengurus partai lantaran kesibukannya sebagai kepala negara justru ‘nongkrong depan laptop main twitter’.

Pertanyaannya adalah apa kata ‘dunia’ ketika SBY bermain twitter? Jawabannya adalah ini: Pertama, SBY mau mengatakan bahwa di zaman digitalisasi seperti ini, blusukan bisa lewat dunia maya. Blusukan paling hemat. Seperti mau mengatakan dan mengajarkan kepada semua pemimpin bahwa ongkos perjalanan dinas bisa ber-paspor ‘negara sebelah’ alias dunia maya. Kedua, menariknya SBY mengemasnya dalam kata dan gambar yang sangat menyapa. Tidak ada kesan dari kicauannya yang mencermin-muatkan unsur politis. Sebaliknya SBY menampilkan kata dan gambarnya sebagai suami bagi istri, ayah bagi anak-anak dan opa bagi cucu-cucunya. Saya menyebutnya ‘Orang kebanyakan banget gitu loh?’.

sby blusukan

Ketiga, ini medium paling instan menampilkan kesan dan sampaikan pesan. Kesannya adalah bahwa SBY itu me-warga dan pesannya adalah SBY itu juga seperti kita-kita yang punya salah dan dosa. Perihal ini tampak dalam satu kicauannya “Difoto cucu tercinta, Aira…”. Di sana tampak Aira sedang memotret opa-nya.

Keempat, terakhir, tak ada TV twitter pun jadi. Beberapa pemimpin politik di negeri ini punya TV, Nasdem-Surya Paloh punya Media Indonesia dan MetroTV, Golkar-Aburizal Bakrie punya TVOne. Yang, sekalipun tidak punya media, namun tidak banyak didera soal. Sementara Demokrat-SBY dihujam kritik-sinis kanan kiri. Lalu bagaimana cara pulihkan diri? Membangun image, bangun negeri seperti membangun rumah tangga sendiri dan bangun bangsa semendekat mungkin dengan warga. Dan untuk itu tak bisa lewat TV atau Koran mainstream. Karena keduanya tidak punya, twitter jadi. Selain gratis, top markotop punya.

BHzMEnjCIAA9i5N.jpg large

Catatan : Foto di atas diambil dari twitter pak SBY

Apakah Manusia Itu Ayam Gundul?

manusia

Manusia adalah makhluk yang tak terdefinisikan sekali pun harus diserahkan ke tangan seorang filsuf. Pernah Sokrates memberi penjelasan tetapi selanjutnya diperdebatkan, lalu Plato mencoba menyoal perihal makna tertinggi keberadaan manusia. Descartes mencoba menyelami esensi atau hakekatnya, Kierkegaard dan Sarte menohok sisi eksistensi dan ada pula yang berkutat dengan tubuh seperti Gabriel Marcel, selanjutnya dan seterusnya.

 

Sampai suatu ketika disimpulkan, sebagai sebuah kesimpulan yang mentah, bahwa manusia sesungguhnya adalah misteri. Lantaran semakin kita menjelaskan tentang siapa itu manusia, semakin kita memasuki lorong gelap ke-takmengerti-an. Ada anekdot di Sekolah Akademia Plato perihal ketak-mengerti-an itu.

 

Salah seorang murid Plato yang paling kurang ajar di Sekolah Akademia adalah Aristoteles. Ke-kurang-ajaran itu muncul dalam pertanyaannya tentang siapa itu manusia. Suatu hari  Aristoteles bertanya kepada Plato gurunya tentang apa itu manusia. Plato kemudian menjawab ‘’manusia itu adalah binatang/hewan yang berkaki dua’’. Keesokan harinya Aristoteles membawa seekor ayam lalu menyodorkannya ‘’inikah yang guru maksud manusia? 

 

Sudah barang tentu Plato terperanjat. Dalam hati kecil mungkin Plato mengumpat ‘sialan’. Agar tidak dibilang guru yang bodoh, Plato kemudian mere-definisi manusia. Kata Plato kepada Aristoteles ‘’Manusia adalah hewan berkaki dua dan tidak berbulu’’.

 

Mendengar jawaban Plato, Aristoteles pun tidak kehilangan akal. Keesokan harinya ia kembali ke Akademia dengan membawa ayam yang sama tetapi dengan bulu-bulu yang sudah dicabuti. Di hadapan Plato, Aristoteles kembali bertanya sambil menunjukkan ayam gundul itu ‘’Apakah ini yang guru maksud tentang manusia?

 

Pertanyaan terakhir itu tidak lagi dijawab Plato sampai hari ini. Entah selanjutnya Aristoteles apakan ayam gundul itu. Dan Plato berekasi serupa apa. Namun yang pasti bahwa sejatinya manusia adalah misteri. Sebuah konsep gelap yang sesak dengan tanya.

 

Catatan: Sumber gambar: http://robotikmtr.blogspot.com/2013/01/10-misteri-otak-manusia-yang-belum.html

Jejak Kata Buana: 2012 In Review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

19,000 people fit into the new Barclays Center to see Jay-Z perform. This blog was viewed about 96.000 times in 2012. If it were a concert at the Barclays Center, it would take about 5 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Tempatnya Para “Pecuncang”

Ke mana anda harus menemukan para “pecundang” atau mereka yang karena kreatifitas dan inovasi menawarkan, memberikan dan menciptakan perubahan kepada kehidupan? Di manakah anda menemukan manusia berkarakter seperti itu, baik yang tampil dalam senyap dan bijak, maupun dengan sikap  ‘merah’ dan  berlagak revolusioner? Pun, di manakah anda menemukan ‘’gerombolan’’ orang-orang itu yang walau tak bersenjata tetap mampu memenggal segala kepala dan bahkan di antara mereka saling membunuh lantas me-lahir-ubah sejarah?

Sederetan pertanyaan di atas adalah modifikasi lanjutan atas pertanyaan seorang sahabat yang meminta saya untuk menunjukkan di manakah tempat dalam peta dunia yang paling menakutkan lantaran terdapat segerombolan hantu dan atau se-kampung-an pembantai dengan lapisan sistuasi dan kondisi yang ‘’menyeramkan”.

Diajak bermain teka-teki serupa itu, jari telunjuk saya seharusnya dengan mudah menunjuk Kastil Bran yang terletak di Transylvania, salah satu kota di bagian barat Romania. Di kisahkan pada abad ke-14 dari Kastil tersebut lahirlah para vampire, yang kemudian beranak-pinak lantas menguasai seluruh penjuru kota. Di sana bukan hanya kematian yang menjadi biasa, tetapi situasi kelam pun jelas terasa.

Saya pun seharusnya dengan mudah menunjuk genangan laut yang terletak di antara Miami, Bermuda dan San Juan (Puerto Rico) yang biasa disebut segi Segitiga Bermuda lantaran kisah menyeramkan yang terbaca-edar. Atau bahkan dengan amat enteng seharusnya saya menunjuk ke hamparan padang, gunung, sungai, laut yang terbentang di Timur Tengah. Tak sepi dari berita, wilayah kota di Timur Tengah tidak pernah tenteram. Israel dan Palestina, tempat di mana janji Tuhan tumpah ke atas dunia justru menjadi ladang pembantaian yang tak pernah tuntas dikisahkan.

Namun, tempat-tempat yang hendak ditunjuk di atas rupa-rupanya terlalu mudah untuk ditunjuk-jelaskan. Sampai akhirnya dengan spontan saya menjawab sesungguhnya tidak ada tempat yang paling menyeramkan di dalam peta dunia jika ukuran ke-seram-annya adalah fakta bahwa ada hantu, darah dan gelindingan kepala-kepala terpenggal. Sebab ukuran itu terlalu mudah untuk ditakar dan dinilai.

Akhirnya saya menjatuhkan jari telunjuk dan menunjuk ke semua hamparan peta dunia sambil mengatakan “dalam kapasitasnya masing-masing, baik besar ataupun kecil para pembantai itu hadir dalam setiap kota dan bahkan desa di seluruh penjuru dunia”. Sahabat saya terperanjat “apa maksudnya?”. Kembali saya menjawab dengan sebuah jawaban tunggal yakni di ‘’jika anda hendak mengetahui di mana tempat para “pecundang” itu berada, anda seharusnya mengunjungi Perpustakaan”.

Mengapa perpustakaan? Sebab di sana, kita (saya dan anda) menemukan segala orang dengan segala gagasannya. Dari rak-rak buku kita mendengar dalam senyap nyanyian, rayuan bahkan teriakan dan ratapan. Pada lembaran-lembaran kata kita menjumpa segala kisah yang tidak hanya membucah rasa tetapi juga mengajak anda mengangkat ‘parang’ untuk memenggal segala kepala kelaziman yang vakum, tetapi juga di antara mereka saling membantai lantaran berbeda pendapat tentang pengalaman kehidupan.

Dengan pena-pena mengacung kita, saya dan anda akan berjumpa dengan Alberth Camus, Jean Paul Sartre, pun Friederich Nietzsche dan kawanan se-karakter lainnya yang tak segan mengobok-obok ruang pikir, pun mencungkil mata hati siapa pun agar tersadar dari kebiasaan dan bahkan keyakinan. Kita pun masih akan berjumpa Anthony Giddens, Francis Fukuyama, Samuel Huntington dan ribuan yang lainnya yang dengan caranya masing-masing memporakporandakan ruang dan sekat social, ekonomi, politik dan budaya.

kita juga tak luput berjumpa dengan Tabindranhat Tagore, Kahlil Gibran, Ali Syariati, Abul a’la al Maududi, Dan Brown, Ernest Hamingway dan masih banyak yang lainnya yang tidak lelah mengganggu ruang imajinasi kita. Memendar-mendarkan rasa, menularkan jiwa dan bahkan semangat sampai harus lesatkan hasrat.

Di sana pula, di perpustakaan,  dalam ruang yang mungkin tidak seberapa luas dan lebar, kita dihujam berulang oleh runcingnya pena. Kata-kata yang terbaca dalam setiap lembaran halaman terbang menampar ruang sadar kita untuk tidak hanya bangun bentuk-kan gagas, tetapi juga telurkan peristiwa. Di sanalah kita menemukan para “pecundang” itu berjejal-jejal memenggal kesadaran kita, kesadaran-kesadaran mereka sendiri. Agar “pembantaian” yang dialami melahirkan perubahan yang berkelanjutan.

Waspada ‘Turis’ Bermuka Teroris (Catatan Menyongsong Sail Komodo 2013)

Bagai menonton bocah main petasan, kita hanya mengusir ‘Main jauh-jauh, jangan di sini. Ganggu saja orang tidur’. Ketika petasan itu meledak dan mengenai jari-jari si bocah, kita lalu mengingatkan ‘Kan, sudah dibilang, kalau main petasan mesti hati-hati’. Tiga hari kemudian si bocah sudah sembuh dari sakit dan terdengar petasan bunyi kembali. Tetapi, kita bagai tidak peduli, masih tidur seperti orang mati. Setiap bunyi besar kecil selanjutnya dimengerti sebagai petasan lagi dan lagi.

Kita baru terperanjat dan pasang aksi siaga-buru-sergap ketika ‘petasan’ yang sesungguhnya meledak dan memenggal tubuh sebagian kita yang lain. Ketika itu tahun 2002, dimana tiga ledakan mengguncang Bali. Sejumlah 202 korban yang mayoritas warga negara Australia tewas dan 300 orang lainnya luka-luka. Selanjutnya, susul menyusul berbagai ledakan dalam skala besar dan kecil di berbagai tempat dan daerah. Kemudian siklus itu kembali ke Bali pada 2005. Tercatat 22 orang tewas dan 102 lainnya luka-luka akibat ledakan yang terjadi di R.AJA’s Bar dan Restaurant, Kuta Square, daerah Pantai Kuta dan di Nyoman Café Jimbaran.

Sudah sejak itu, kita baru benar terjaga. Pelaku teror tak lelah dikejar, terorisme pun tak tandas dibahas. Pasukan siaga pasang kuda-kuda, Undang-Undang pun tak tunda ditanda-tangan. Namun, bagai bermain petak umpet dengan siluman, kita tak hanya kelabakan tapi nyaris tak mengendus bau badan teroris itu serupa apa. Mereka, bagai berkelebat dalam bayang. Tampaknya seperti sudah habis dimampus senjata, tetapi masih berkecambah dan bergentayangan. Tampaknya, mereka seperti sangat jauh, tetapi ‘ternyata’ ada dan dekat di sekitar kita.

Kehadiran siluman serupa itu mestinya membuat kita awas. Satu dekade ke depan Labuan Bajo, Manggarai Barat Flores Nusa Tenggara Timur bukan tidak mungkin akan menjadi salah satu pintu gerbang Nusa Tenggara Timur tersibuk.

Tiga catatan mentah yang bisa diangkat adalah pertama, jumlah arus perahu nelayan, kapal laut dan pinisi, pesawat, termasuk orang dan barang nyaris hilir mudik hampir dua puluh empat jam (siang malam), dengan aneka kepentingan dan agenda. Apalagi jika melihat gerbang pelabuhan yang nayris bisa dibuka entah siapa dan mana sempat.

Penulis kadang ciut sendiri. Dan perihal itu memang harus hati-hati, sebab tanpa kita sadari, bom rakitan bisa saja menyelinap dalam semangka dan atau dirakit semirip buah apel yang entah datang dari mana rimba. Belum juga buah semangka itu pajang-mejeng di pasar Cewondereng tiba-tiba saja sudah meledak dan memakan korban jiwa.

Lalu kita ternganga-nganga. “Wah hebat juga ya para teroris, bisa masukan amunisi ke dalam semangka”. Kekaguman yang terlambat, dan lebih sial adalah kekaguman itu muncul pada saat korban sudah berjatuhan. Ngeri….

Kedua, terpilihnya taman nasional komodo dengan komodo-nya sebagai salah satu dari tujuh keajaiban alam dunia telah menarik minat wisatawan baik domestik maupun manca Negara. Sepanjang Juli sampai (mungkin) Oktober setiap tahunya, pesisir Labuan Bajo ‘penuh sesak’ dengan para turis. Sebagai misal, jalur jalan paling ramai di Labuan Bajo yang terentang antara Kampung Ujung sampai café dan resto Tree Top bahkan sampai simpang Pede dipadati tidak hanya kendaraan tetapi juga para turis domestic dan manca negara.

Amatan mata penulis jadi merinding. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi ini fakta. Membayangkan Bali yang dalam sekejap luluh lantak lantaran diledak bom rakitan, membuat penulis ciut. Apalagi ketika dalam bayang itu, amatan mata penulis menyapu wajah para wisatawan dan warga pesisir Labuan Bajo yang tampaknya tidak terusik dengan trauma itu pada siang-siang yang riang dan malam-malam yang panjang. Dalam riang dan santai, senda gurau dan cerah-ceria, semuanya larut dalam canda dan suara masing-masing.

Dengan agak nakal, penulis membayangkan, kematian tidak mengenal untung dan malang. Dia datang dengan begitu tiba-tiba. Dan apalagi jika kematian itu dibuat dengan sengaja oleh mereka yang ‘tak berperikemanusiaan’, maka betapa kejamnya kesenangan, kebahagiaan dan keriangan. Padahal sejatinya, segala kebahagiaan seharusnya hidup jauh lebih lama sebelum dijemput ajal, bukan penyesalan apalagi trauma.

Namun, semua kecemasan yang tidak beralasan di atas sudah barang tentu adalah buah dari ketakutan yang berlebihan. Padahal sesungguhnya tidak apa-apa. Sebab sebagian besar warga Labuan Bajo yakin bahwa aparat telah bekerja dalam ‘senyap’ demi menjaga kemanan dan ketenteraman warganya.

Namun sekedar sebuah anjuran yang tidak mengada-ada, penulis mohon diri untuk mengatakan ini: menyambut Sail Komodo 2013, perihal masalah keamanan dan ketentaraman public bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat keamanan, tetapi siapa pun dan apa pun hidup. Lantaran itu mari kita bahu membahu, menjaga entah dengan cara apa pun yang penting sesuai aturan hukum, plus peace.

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: