Tulisan dari ‘Jejak Profile’ Kategori

Sava, Nelayan Cilik dari Labuan Bajo

Orang Bugis-Makassar punya pepatah “Le’ba kusoronna biseangku, kucampa’na sombalakku, tamassaile punna teai labuang” (Bila perahu telah kudorong, layar telah terkembang, takkan ku berpaling kalau bukan labuhan yang kutuju). Pepatah ini tidak hanya bermakna motivatif perihal komitmen dan konsistensi pada prinsip hidup, tetapi juga memberi cirri cultural bahwa orang-orang Bugis adalah pelaut-pelaut ulung.

Perihal itu –sebgaai pelaut– adalah fakta yang tak terbantahkan, karena kepiawaian suku Bugis dalam mengarungi  samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun tidak hanya menyebar di seantero pelosok Nusantara, tetapi juga hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka.

Di tempat-tempat tersebut mereka tidak hanya menjadi perintis dan penguasa pesisir, tetapi juga menjadi pelaut dan nelayan yang telaten. Selanjutnya bagai tak berkembar, mereka tidak hanya identik dengan kehidupan nelayan, tetapi juga tidak tertandingi oleh suku mana pun di nusantara. Bergenerasi mereka membuat perahu, mendorongnya ke laut, membentangkan layar, dan hanya berpaling dan kembali ke labuahan jika telah mendapatkan ikan.

Di Labuan Bajo tepi barat pulau Flores Nusa Tenggara Timur, generasi ke sekian dari perantau Bugis-Makassar adalah Savarudin. Walau usianya masih tujuh tahun dan masih duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Labuan Bajo. Namun, jiwa petualangannya sebagai penakluk samudra sudah tumbuh-diasah. “saya bisa memancing” katanya. “saya juga bisa bantu-bantu ayah melempar sauh dan menariknya kembali” lanjutnya.

Ardi, sang ayah tidak bisa memaksa anaknya untuk tidak turut serta jika melaut. “Dia mau sendiri. Sudah sejak lima tahun dia ikut-ikut dengan saya kalau saya pergi melaut. Kalau tidak diajak dia menangis” jelas Ardi. “Biar ombak besar dan menginap di pulau, dia tetap ikut”. Tambahnya. “Bahkan sampai pulau sibayur dia ikut”.

Well…bukan tanpa maksud sang bocah yang bercita-cita jadi tentara ini ikut melaut bersama ayahnya. “Kalau dapat ikan saya jual untuk tambah-tambah biaya sekolah” akunya. Hal itu diakui sang ayah. Dengan penghasilan rata-rata mencapai 40.000 sampai 70.000 perhari, lelaki berusia 30-an tahun keturunan perantau Bugis-Makassar ini bisa menyisihkan sebagiannya untuk biaya sekolah Sava.

“Kalau tidak jadi tentara saya mau jadi nelayan. Dan saya akan tetap jadi nelayan seperti ayah” kata Sava. Pernyataan ini seperti membenarkan pepatah leluhurnya di atas. Bahwa bukan hanya perihal niat dan itikad untuk terus setia pada tradisi, tetapi juga kesanggupannya untuk mempersiapkan diri sejak usia dini. Jika hendak memuji, Sava, demikian nelayan cilik ini biasa dipanggil adalah satu dari sekian bocah yang tidak mau menyerah pada nasib. Dan terlepas dari situasi ekonomi yang membelit keluarganya, Sava sejatinya telah mencoba untuk belajar mandiri, walau melalui jalan yang oleh kebanyakan bocah dianggap ‘ngeri’ dan oleh sebagian orang dewasa ‘tak habis pikir’.

Irshad Manji: “Aku Seorang Lesbian” (Riwayat Hidup dan Bukunya Yang Bikin Gempar)

Acara diskusi buku Irshad Manji di Yayasan LkiS Pusat Kajian Islam dan Transformasi Sosial, Surowajan, Banguntapan, Bantul dibubarkan paksa oleh sekelompok massa dari Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Rabu (09/5/2012. Alasan pembubaran tersebut lantaran apa yang sudah sedang ‘disebarluaskan’ Irshad Manji bertentangan dengan ajaran agama Islam. Tambahan pula, perempuan cantik pernah mengaku bahwa dia adalah seorang lesbian. Di bawah ini, sekelumit siapa Irshad Manji dan isi bukunya yang bikin geger “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini (Faith Without Fear: A Challenge to Islam Today)

Siapakah Irshad Manji

This slideshow requires JavaScript.

IRSHAD MANJI diberi julukan “Mimpi Terburuk bagi Osama bin Laden”. Dan dia menerima hal itu sebagai pujian. Buku bestseller dia, Beriman Tanpa Rasa Takut, diterbitkan di beberapa negara, antara lain: Pakistan, Turki, Irak, dan India. Di mana pun bukunya dilarang, Irshad masih bisa menyapa para pembaca dengan mengirimkan terjemahan-terjemahan yang bisa diakses secara gratis di website-nya.

Kolom-kolomnya didistribusikan ke seluruh dunia oleh Sindikat New York Times dan dia tengah memproduksi sebuah film dokumenter yang didasarkan pada buku ini. Irshad adalah seorang mentor bagi para mahasiswa muda, spesialisasinya dalam bidang hak asasi manusia dan kebijakan publik, pada the Pierre Trudeau Foundation di Montreal, Kanada.

Dia juga duduk di dewan editorial antar-iman pada majalah Seventeen, yang bermarkas di New York. Selain itu, dia merintis berdirinya Project Ijtihad, sebuah lembaga yang akan membantu para muslim muda untuk memimpin reformasi liberal Islam. Melihat kepemimpinan dan prestasi Irshad, Oprah Winfrey menghargainya dengan Chutzpah Award atas “keberanian, tekad, ketegasan, dan keyakinannya”.  Majalah Ms. menabalkan Irshad sebagai “Feminis Abad 21”. Maclean’s memberinya penghargaan Honor Roll di tahun 2004 sebagai “Orang Kanada yang Sangat Berpengaruh”.

Dan pada Hari Perempuan Internasional tahun 2005, The Jakarta Post mengakui Irshad sebagai satu dari tiga muslimah yang mampu menciptakan perubahan positif dalam Islam. Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi website Irshad Manji: www.irshadmanji.com. Satu dari tiga muslimah dunia yang menciptakan perubahan positif dalam Islam.

Dan Bukunya Yang Menggemparkan

Sumber catatan/buku/gambar : https://www.irshadmanji.com/

Puisi atau Sajak Tidak Sekedar Sekumpulan Kata Indah

Demikian juga bukanlah sekedar menghiraukan pesan, isi, dan tema. Itu kata-komentar penyair O, Amuk, Kapak, Sutardji Calzoum Bachri dalam esai pendeknya yang berjudul ‘Perihal sajak yang tidak dimuat’ dalam Bentara Kompas (Gelak Esai & Ombak Sajak Anno, Bentara Kompas, 2001). Katanya, meskipun sudah ribuan sajak yang sampai ke ‘Bentara’, namun sangat sedikit yang layak dimuat. Karena sajak, hanya semacam ‘sekumpulan’ kata indah, pun pula hanya semacam potret.

Sajak atau puisi boleh semacam potret, namun bukan sekedar potret datar. Harus selalu ada nilai plus yang ditawarkan. Yang plus itu adalah memberikan perhatian maksimal pada cara pengungkapan bahasanya. Artinya, puisi harus menghiraukan puisi itu sendiri, dan harus meraih roh puisi itu sendiri.

“Jika engkau sengaja meniatkan puisimu kosong dari tema dan pesan, sekedar elaborasi ungkapan atau kata-kata, bahkan sekedar bunyian dari kata-kata namun jika engkau membuatnya padu, intens, terkontrol, menarik dan cantik serta unik dan luar biasa, saya yakin pembaca akan segera sibuk mencarikan tema atau pesan untuk sajakmu yang kau klaim kosong tema atau tanpa makna itu. Engkau tinggal ongkang-onkang senyum dan ketawa, sementara pembaca dan kritikus ikhlas gembira memeras keringat hati dan otaknya untuk mencarikan pesan atau makna pada sajakmu itu” demikian kata Sutardji.

Sekedar sebagai contoh saya mengangkat dua sajak di bawah ini, yang menurut hemat pembaca ‘tidak laku’ (kurang lebih begitu). Dua sajak itu adalah sajak-sajak saya sendiri. Kedua sajak itu saya tulis pada 2004, tetapi oleh seorang sahabat yang ‘jago bikin’ sajak mengatakan ‘Puisi apa itu?” dan seorang sahabat yang lain lagi, yang juga jago bikin sajak mengatakan ‘’kenapa engkau suka sekali dengan lendir. Sedikit-sedikit sanggama, sedikit-sedikit ngentot, sedikit-sedikit nafsu birahi’’ katanya.

Ya Shallam

Anjing kau!

Babi  kau!

Bangsat kau!

Biadab kau!

Setan kau!

Puki mak kau!

Ngentot kau!

Dilempar mengepung diriku

Aku merinding

Nurani berapi

Meletuskan kata-kata mati

Yang lebih tajam dari belati

(Pebruari 2004)

 

Setubuh Malam

Pada malam menggigil

Dan menjadi hangat diselimut mimpi

Aku ditindih bugil putih

Leleh lendirnya terasa hangat

Membasahi selangkanganku

Kami bersatu di ruang sepi

Menyantap nafsu birahi

Tanpa cinta,

Tanpa ikatan

Tanpa dosa

Hingga kubangun esok pagi

Mandi basah membaptisku

Di ruang sadar seperti sedia kala

(April 2004)

Pada 2004, saya merasa, apa yang saya sebut sebagai puisi sudah seperti itu. Sekumpulan kata ‘berpesan’, tetapi membacanya lagi dan lagi, rupa-rupanya tidak cukup mengandung ‘pesan’ saja. Sebuah puisi harus, meminjam kalimat Sutardji, memiliki nilai plus. Yakni serangkai kata yang padu, intens, terkontrol, menarik dan cantik serta unik dan luar biasa.

Jujur saja, sebagai seorang ‘anak manusia’ yang lahir tanpa bakat bikin sajak, tetapi yang baru mau belajar menulis sajak atau puisi, untuk sampai ‘menggenapkan titah tuan Sutardji’ butuh waktu dan proses yang panjang.

Well, untuk itu, sebagai bagian dari proses belajar menulis sajak, simak baik-baik tiga sajak Sutardji berikut ini:

 

Pot ( 1970 )

Pot apa pot itu pot kaukah pot aku

Pot pot pot

Yang jawab pot pot pot pot kaukah pot itu

Yang jawab pot pot pot pot kaukah pot aku

Pot pot pot

Potapa potitu potkaukah potaku ?

Belajar Membaca

Kakiku luka
Luka kakiku
Kakikau lukakah
Lukakah kakikau
Kalau kakikau luka
Kakiku luka
Lukakaukah kakiku
Kalau lukaku lukakau
Kakiku kakikaukah
Kakikaukah kakiku
Kakiku luka kaku
Kalau lukaku lukakau
Lukakakukakiku lukakakukakikaukah
Lukakakukakikaukah lukakakukakiku

Sepisaupi

Sepisau luka sepisau duri
Sepikul dosa sepukau sepi
Sepisau duka serisau diri
Sepisau sepi sepisau nyanyi

Sepisaupa sepisaupi
Sepisapanya sepikau sepi
Sepisaupa sepisaupi
Sepikul diri keranjang diri

Sepisaupa sepisaupi
Sepisaupa sepisaupi
Sepisaupa sepisaupi
Sampai pisauNya ke dalam nyanyi

Simak-baca-cerna tiga sajak di atas. Adakah pesan yang mau disampaikan kepada pembaca dengan sajak-sajak tersebut? Adakah yang dapat menjelaskan arti atau makna dari sekuplet ini ‘‘Potapa potitu potkaukah potaku?’’ atau sekuplet ini ‘‘Lukakakukakiku lukakakukakikaukah//Lukakakukakikaukah lukakakukakiku” atau sekuplet yang ini “Sampai pisauNya ke dalam nyanyi”.

Sebagaimana anda yang sudah sedang belajar, seperti itulah saya. Namun yang pasti bahwa belajar menulis sajak adalah belajar menuliskan rasa kata yang tidak hanya indah didengar, punya pesan yang mendalam, dan atau mengantarkan tema tertentu ke pembaca, tetapi juga harus sampai menangkap roh kata itu sendiri. Serangkai kata yang padu, intens, terkontrol, menarik dan cantik serta unik dan luar biasa. Seperti apakah itu, berpuisilah…

Raja Salomo, Pemimpin Pancasila-is (Renungan Sekenanya)

Kebijaksanaan Salomo tandas ditikam kata-kata cinta, godaan dan rayuan perempuan. Ia dicumbu tujuh ratus istri dari kaum bangsawan dan digerayangi tiga ratus gundik peliharaan. Di hadapan 1000 orang istrinya, Salomo adalah tambang harta karun bagi perempuan-perempuan itu, walau sebagian yang lain tetap menganggapnya sebagai ayah dari anak-anak, dan hamba Allah yang setia.

Tidak hanya itu, Salomo pun direnggut kesetiaannya dari Allah untuk berpaling kepada dewa-dewa palsu. Hikmat dan kebijaksanaanya bagai melayang lantaran dipaksa tunduk menyembah Asytoret dewi orang Sidon, Milkom dewa orang Amon, Kamos dewa orang Moab dan Molokh dewa bani Amon.

Lalu kita bertanya, adakah raja dan penguasa yang sebelumnya dan atau selanjutnya lebih sempurna dari seorang Salomo. Adakah raja dan penguasa yang lebih sempurna darinya jika membaca sil-silah sudah sejak Abraham sampai kepadanya, atau daripadanya sampai pembuangan ke Babel. Jawabannya tentu saja tidak, lantaran tak ada kesempurnaan terpatri dalam kehidupan selain hanya ada pada Allah.

Namun demikian, bagiku Salomo adalah raja dan penguasa yang pantas untuk diteladani. Sepanjang empat puluh tahun kekuasaannya, sebelum digantikan putranya Rehabeam, dia adalah raja yang menjalankan kekuasaan dengan hikmat dan kebijaksanaan. Tak setitik darah pun yang tercurah dari tangannya. Sebaliknya karena kebijaksanannya segenap rakyat yang menghuni sepanjang Efrat sampai Filistin bahkan sampai ke tapal batas Mesir tunduk kepadanya.

Sampai-ampai, karena hikmat dan kebijaksanaannya, Ratu negeri Syeba pun datang melayangkan pujian “Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu, tetapi aku tidak percaya perkataan-perkataan itu sampai aku datang dan melihatnya dengan dengan mataku sendiri; sungguh setengahnyapun belum dibertahukan kepadaku. Dalam hal hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar. Berbahagialah para istrimu, berbahagialah para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu!…”

Demikianlah Salomo, kepada Allah ia hanya meminta kata, memohon hikmat. “Berilah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara-perkara antara yang baik dan yang jahat…” hanya itu. Titik. Salomo tidak meminta umur yang panjang, kekayaan dan harta benda apalagi nyawa musuh-musuhnya.

Kata hikmat dan kebijaksanaan dibuktikan Salomo dalam kesaksian-kesaksian. Ketika Salomo membangun Bait Allah dan Istana kerajaan, tidak seorang pun dari rakyatnya yang menolak. Karena hikmat dan kebijaksanaanya sanggup memberikan kesejateraan kepada rakyatnya. Tidak seorang pun dari penduduk Israel yang dijadikan budak dan rodi. Sebaliknya rakyatnya diberikan lapangan pekerjaan. Ada yang menjadi prajurit, pegawai, perwira dan sebagian lainnya menjadi pembesar dan panglima.

Karena Salomo menjalankan kekuasaannya dengan berdasarkan pada “Ketuhanan yang maha esa”, menjunjung tinggi “Kemanusiaa yang adil dan beradab”, dan mengutamakan “Persatuan seluruh Israel” serta “dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanaan” maka yang tercipta adalah “Keadilan social bagi seluruh rakyat Israel”.

Adakah itu sebatas kata? Adakah itu sebatas janji belaka? Adakah itu sebatas undang-undang dasar? Tidak. Salomo melakukannya dalam keseharian kekuasaannya. Salomo, sekalipun pernah jatuh dalam salah, beristri seribu orang yang sebagian besar tidak setia kepadanya, dan tunduk menyembah sebentar kepada dewa-dewi pemikat, tetapi dia tetap dipuja dan dicacat sebagai pemimpin yang patut untuk dibanggakan. Dia dipuja karena hikmatnya, dan dipuji karena kebijaksanaannya. Dia berbuat dan tidak sebatas kata.

Umbu Landu Paringgi dan ‘Yang Lain’, Sebuah Ingatan

Umbu Landu Paranggi. Aku sudah (pernah) mendengar nama itu ketika Sekolah Menengah Pertama. Aku mengenalnya sekedar sebagai nama yang tidak bermakna. Sekedar sebagai, katanya ‘penyair’, yang lahir pada 10 Agustus 1945 di Sumba Nusa Tenggara Timur yang pernah melahirkan sederet puisi ini dan itu. Itu saja tidak lebih.

Namun sekarang, semuanya nyaris tandas tidak berbekas, yang tersisa hanya ampas pekat-gulita. Mengingat menembus dasar ingatan bukan hanya melelahkan, tetapi juga tidak kuasa. Bayangkan, tidak hanya Umbu Landu Paranggi yang hilang dari ingatan, bahkan siapa pengarang Layar Terkembang, Salah Asuhan, dan Atheis saja nyaris aku lupa.

Kebetulan. Kebetulan sekali sekuplet dari ‘Doa, kepada pemeluk teguh’ yang digubah Chairil Anwar pada 13 November 1943 yang berbunyi ‘Tuhanku, dalam termangu, aku masih menyebut nama-Mu’ masih kusimpan dalam ingatan. Jika tidak, sudah barang tentu aku akan serupa berjalan dalam rimba bayang-bayang. Menjadi lupa-lupa ingat, ingat-ingat lupa.

Mengapa Lupa

Lupa-lupa ingat dan atau ingat-ingat lupa adalah sesungguhnya lupa. Kelupaan yang yang demikian lantaran, pertama, hanya mengingatnya sebagai sekedarnya, sepintas lalu, karena tidak membayangkan untuk mengingatnya. Dan apalagi untuk merekamnya sungguh. Selanjutnya yang kedua, adalah karena miskinnya ruang apresiasi dan terbatasnya imajinasi dalam mengecap puisi dan atau sajak.

Poin kedua ini yang akan kuperjelas, bahwa pada ketika Sekolah Menengah Pertama aku hanya disodor-kasih teks-teks sastra untuk membaca yang kemudian dalam ujian akan ditanya. Aku lulus atau tidak dalam mata pelajaran bahasa dan sastra ditentukan sejauh mana aku menghafal semua nama-nama besar dengan identitas asal dan tanggal lahirnya (seperti di Kartu Tanda Penduduk) lengkap dengan karya-karya besar mereka.

Aku tidak diberi ruang untuk berimajinasi dan atau mengapresiasi karya-karya besar penyair dan sastrawan Indonesia. Pada ketika itu aku hanya mengagumi mereka sebagai penyair-penyair dan sastrawan-sastrawan hebat “Wow, jelek-jelek dari NTT pernah lahir seorang Umbu Landu Paranggi yang adalah seorang penyair”. Kurang lebih demikian aku berbangga diri. Hanya sebatas itu, tidak lebih.

Melawan Lupa

Menghafal, (sekurang-kurangnya pengalamanku), dalam proses belajar sastra adalah sebuah kesalahan terbesar. Tidak mengapa jika itu dimaksudkan hanya untuk (sekedar sebagai) ‘ingin tahu’. Tetapi seharusnya tidak menjadi ‘ingin tahu’ yang sekedar ‘asal tahu’. Ingin tahu yang serupa itu sudah barang tentu tidak cukup.

Membaca sebuah karya sastra adalah sebuah proses pembacaan ganda. Kita tidak hanya disodor-kasih untuk menangkap yang tersurat, tetapi juga suluk hingga yang tersirat dalam kata dan kalimat. Kata Profesor Nyoman Kutha Ratna dalam ‘Sastra dan Cultural Studies, Representasi Fiksi dan Fakta’ (Pustaka: 2010, hal. 419) membaca karya sastra berarti harus memecahkan dua  gejala sekaligus, yaitu bahasa dan sastra itu sendiri.

Mungkin terlalu panjang untuk sebuah roman dan atau novel, sepenggal sajak saja, yang kita bilang ‘sekuplet’ atau ‘sebaris’ mengandung beragam makna, sehingga membutuhkan ruang tafsir yang cukup. Sebagai misal, aku mencoba memaknai “Mantra Pengantar”-nya Umbu Landu Paringgi di bawah ini.

ucapan melati

dimekarkan matahari

udara bakti

disemburkan matahati

maka para pengisap sezarrah

gelombang lengang

menanam ini sembahyang dialog

sawah ladang

maka adalah cuka duka

lupa luka

jantung hari

bahagia beta

alpa sendiri

bikin bikin puisi

ucapan melati

pergelaran matahari

udara bakti

persembahan matahati

Pada ketika Sekolah Menengah Pertama, sajak Umbu Landu Paringgi yang dimuat di halaman 1 harian Nusa tanggal 31 Desember 1997  di atas kubaca dengan mendayu-dayu di depan kelas, tanpa kumengerti apa makna yang terselubung dalam teks dan konteks lahirnya sajak tersebut. Aku terjebak dalam kata-kata indahnya, kemudian melukiskan keindahan indah itu dalam pengucapakan yang elok.

Namun, sayang pada ketika itu aku tidak digiring untuk melampaui yang terbaca dan tertulis. Baru aku paham sekarang bahwa, melampaui dari sekedar teks, ‘Mantra Pengantar’ adalah sebuah energi. Sebuah proses perjalanan penciptaan yang mengagumkan.

Umbu Landu Paranggi tidak hanya harus suluk dalam sunyi, mengalami keterasingan, tetapi juga bahkan harus ‘tewas’ secara bahagia ‘bahagia beta’ di dalam kesenyapan diri ‘alpa diri’ hanya untuk melahirkan kata sajak ‘bikin bikin puisi’ yang pada akhirnya dijadikan sebagai persembahan tulus kepada kehidupan ‘persembahan matahari’ agar terang benderang dalam kehidupan.

Membaca Yang Tidak Sekedar Membaca

Lantaran itu, untuk tidak mengulang kesalahan yang sudah pernah dibuat dan pernah kualami. Seharusnya proses ajar dan belajar sastra di Sekolah Mengenah Pertama dievaluasi. Kepada semua anak (murid dan siswa) mestinya diberi ruang untuk mengeksplorasi, mengapreasiasi dan menafsirkan karya sastra dalam dan melalui dalam dan melalui pengenalan-pengenalan pada kerangka/metode apresiasi sastra yang sederhana.

Membaca sekedar sebagai membaca saja tidak cukup apalagi mencatat dan kemudian menghafalnya. Ruang kepala mereka (siswa/murid) harus lowong untuk mengisi mimpi, imajinasi, penafsiran dan apreasiasi. Agar apa yang mereka baca, apa yang seharusnya sekedar mereka tahu, catat dan ingat menjadi sungguh-sungguh ‘ingat dan tahu’.

Apalagi, sekarang semua anak (murid dan siswa) nyaris melek media. Zaman digitalisasi. Tambahan lagi berbekal pikiran sehat karena makan manakan bergisi empat sehat lima sempurna, kubayangkan pemahaman dan pengetahuan mereka tentang sesuatu yang baru dari petualangan keingintahuan mereka pasti sangat dasyat.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: