Soal Gigitan Komodo (2)
Sudah sejak 1974 hingga catatan ini dibuat pada Mei 2013 korban gigitan Komodo di Taman Nasional Komodo Manggarai Barat Nusa Tenggara Timur sudah mencapai 28 orang. Lima orang diantaranya tewas mengenaskan[1]. Kelima orang itu adalah Baron Rudolf (turis asing), digigit di Loh Liang, Pulau Komodo, pada 1974; Abu Bakar (WNI), digigit di Kampung Rinca pada 1981; seorang anak 7 tahun (WNI), digigit di Kampung Rinca pada 1987; Mansyur (WNI), digigit saat sedang buang air besar di Kampung Komodo pada Mei 2007; dan Anwar (WNI), digigit ketika sedang berburu di Loh Srikaya pada Maret 2009.[2]
Empat korban terakhir terjadi di tiga bulan pertama 2013[3]. Peristiwa pertama terjadi pada 5 Februari 2013: komodo menggigit Main dan Usman, dua orang petugas BTNK di Loh Buaya Pulau Rinca. Main mengalami luka robek pada pergelangan kaki kiri berukuran 10 x 2 cm, bagian bawah mata kaki kiri 7 x 3 cm dan bagian belakang betis kaki kiri 7 x 3 cm. Sedangkan Usman mengalami luka robek pada kaki kiri sebanyak 7 titik.
Selanjutnya pada 19 Februari 2013: komodo menggigit Abdurahman (25), petugas naturalist guide asal Terang-Manggarai Barat, di Loh Buaya Pulau Rinca. Akibatnya, kaki kiri dan kanannya mengalami luka robek. Terakhir terjadi pada 9 Maret 2013: Haisa (83), warga Pulau Rinca, digigit komodo hingga mengalami tiga luka di tangan kanannya sehingga pembuluh darah kecil pada telapak tangannya robek.
Dari semua kasus penyerangan di atas, berdasarkan berbagai informasi yang dikumpulkan dan cerita yang beredar ditemu-jelaskan dua sebab utama mengapa Komodo melakukan penyerangan terhadap para warga.
Pertama, tidak dapat disangkal bahwa komodo secara alamiah dikenal sebagai binatang pemangsa[4]. Ber-insting predator. Komodo adalah karnivor nomor satu dalam system rantai makannya. Walaupun mereka kebanyakan makan daging bangkai, penelitian menunjukkan bahwa mereka juga memangsa binatang hidup dengan cara mengendap-endap diikuti dengan serangan tiba-tiba terhadap korbannya. Ketika mangsa itu tiba di dekat tempat sembunyi komodo, hewan ini segera menyerangnya pada sisi bawah tubuh atau tenggorokan. Komodo dapat menemukan mangsanya dengan menggunakan penciumannya yang tajam, yang dapat menemukan binatang mati atau sekarat pada jarak hingga 9,5 kilometer.
Mangsa biawak komodo amat bervariasi, mencakup aneka avertebrata, reptil lain (termasuk pula komodo yang bertubuh lebih kecil), burung dan telurnya, mamalia kecil, monyet, babi hutan, kambing, rusa, kuda, dan kerbau. Komodo muda memangsa serangga, telur, cecak, dan mamalia kecil. Kadang-kadang komodo juga memangsa manusia dan mayat yang digali dari lubang makam yang dangkal. Kebiasaan ini menyebabkan penduduk pulau Komodo menghindari tanah berpasir dan memilih mengubur jenazah di tanah liat, serta menutupi atasnya dengan batu-batu agar tak dapat digali komodo.
Ada pula yang menduga bahwa komodo berevolusi untuk memangsa gajah kerdilStegodon yang pernah hidup di Flores. Komodo juga pernah teramati ketika mengejutkan dan menakuti rusa-rusa betina yang tengah hamil, dengan harapan agar keguguran dan bangkai janinnya dapat dimangsa, suatu perilaku yang juga didapati pada predator besar di Afrika.
Kedua, human error. Peristiwa penyerangan komodo terhadap warga atau penduduk sekitar Taman Nasional Komodo bisa juga disebabkan karena keteledoran manusia itu sendiri. Perihal itu seperti terjadi pada Ibu Tima (72), warga Pulau Rinca, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, pada Kamis oktober 2012.[5] Saat itu, Ibu Tima hendak ke kebunnya mengambil daun untuk makanan ternak (kambingnya) tetapi tiba-tiba dia diserang oleh Komodo.
Laporan Muhamad Arok, Kaur Umum Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo bahwa Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) yang menjadi penyebab terjadinya gigitan itu. Sebab, petugas BTNK menggantung daging kambing di empat titik yang dijadikan target penangkapan komodo sehari sebelumnya. Padahal, empat titik itu sangat dekat dengan pemukiman dan tempat aktivitas warga setempat. Bahkan di dua titik, tempatnya hanya sekitar lima meter dari salah satu rumah penduduk yang bernama Baco Ahmad (47).
Sebagai pemerintah desa, kata Muhamad, ia telah memberikan masukan kepada petugas BTNK saat hendak memasang perangkap agar perangkapnya dipasang di tempat yang sedikit jauh dari pemukiman dan aktivitas warga. Namun, kata Muhamad, pihak BTNK menolak usulan tersebut. Mereka tetap memasang keempat perangkap tersebut di dekat pemukiman warga dan tempat aktivitas masyarakat sehari-hari. Jaraknya hanya sekitar lima meter hingga 20 meter.
Ide catatan ini muncul pada suatu hari di penghujung April 2013. Berawal dari kisah seorang kawan yang akan melancong ke kawasan Taman Nasional Komodo. Pada malam sebelum terbang ke Labuan Bajo dari bandara Frans Seda Maumere dia mengajukan sederetan pertanyaan yang menggemaskan otak:
















































