Tulisan dari ‘Jejak Non Fiksi’ Kategori

Soal Gigitan Komodo (2)

AaaaSudah sejak 1974 hingga catatan ini dibuat pada Mei 2013 korban gigitan Komodo di Taman Nasional Komodo Manggarai Barat  Nusa Tenggara Timur sudah mencapai 28 orang. Lima orang diantaranya tewas mengenaskan[1]. Kelima orang itu adalah Baron Rudolf (turis asing), digigit di Loh Liang, Pulau Komodo, pada 1974; Abu Bakar (WNI), digigit di Kampung Rinca pada 1981; seorang anak 7 tahun (WNI), digigit di Kampung Rinca pada 1987; Mansyur (WNI), digigit saat sedang buang air besar di Kampung Komodo pada Mei 2007; dan Anwar (WNI), digigit ketika sedang berburu di Loh Srikaya pada Maret 2009.[2]

Empat korban terakhir terjadi di tiga bulan pertama 2013[3]. Peristiwa pertama terjadi pada 5 Februari 2013: komodo menggigit Main dan Usman, dua orang petugas BTNK di Loh Buaya Pulau Rinca. Main mengalami luka robek pada pergelangan kaki kiri berukuran 10 x 2 cm, bagian bawah mata kaki kiri 7 x 3 cm dan bagian belakang betis kaki kiri 7 x 3 cm. Sedangkan Usman mengalami luka robek pada kaki kiri sebanyak 7 titik.

Selanjutnya pada 19 Februari 2013: komodo menggigit Abdurahman (25), petugas naturalist guide asal Terang-Manggarai Barat, di Loh Buaya Pulau Rinca. Akibatnya, kaki kiri dan kanannya mengalami luka robek. Terakhir terjadi pada 9 Maret 2013: Haisa (83), warga Pulau Rinca, digigit komodo hingga mengalami tiga luka di tangan kanannya sehingga pembuluh darah kecil pada telapak tangannya robek.

Dari semua kasus penyerangan di atas, berdasarkan berbagai informasi yang dikumpulkan dan cerita yang beredar ditemu-jelaskan dua sebab utama mengapa Komodo melakukan penyerangan terhadap para warga.

Pertama, tidak dapat disangkal bahwa komodo secara alamiah dikenal sebagai binatang pemangsa[4]. Ber-insting predator. Komodo adalah karnivor nomor satu dalam system  rantai makannya. Walaupun mereka kebanyakan makan daging bangkai, penelitian menunjukkan bahwa mereka juga memangsa binatang hidup dengan cara mengendap-endap diikuti dengan serangan tiba-tiba terhadap korbannya. Ketika mangsa itu tiba di dekat tempat sembunyi komodo, hewan ini segera menyerangnya pada sisi bawah tubuh atau tenggorokan. Komodo dapat menemukan mangsanya dengan menggunakan penciumannya yang tajam, yang dapat menemukan binatang mati atau sekarat pada jarak hingga 9,5 kilometer.

Mangsa biawak komodo amat bervariasi, mencakup aneka avertebrata, reptil lain (termasuk pula komodo yang bertubuh lebih kecil), burung dan telurnya, mamalia kecil, monyet, babi hutan, kambing, rusa, kuda, dan kerbau. Komodo muda memangsa serangga, telur, cecak, dan mamalia kecil. Kadang-kadang komodo juga memangsa manusia dan mayat yang digali dari lubang makam yang dangkal. Kebiasaan ini menyebabkan penduduk pulau Komodo menghindari tanah berpasir dan memilih mengubur jenazah di tanah liat, serta menutupi atasnya dengan batu-batu agar tak dapat digali komodo.

Ada pula yang menduga bahwa komodo berevolusi untuk memangsa gajah kerdilStegodon yang pernah hidup di Flores. Komodo juga pernah teramati ketika mengejutkan dan menakuti rusa-rusa betina yang tengah hamil, dengan harapan agar keguguran dan bangkai janinnya dapat dimangsa, suatu perilaku yang juga didapati pada predator besar di Afrika.

Kedua, human error. Peristiwa penyerangan komodo terhadap warga atau penduduk sekitar Taman Nasional Komodo bisa juga disebabkan karena keteledoran manusia itu sendiri. Perihal itu seperti terjadi pada  Ibu Tima (72), warga Pulau Rinca, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, pada Kamis oktober 2012.[5] Saat itu, Ibu Tima hendak ke kebunnya mengambil daun untuk makanan ternak (kambingnya) tetapi tiba-tiba dia diserang oleh Komodo.aaaaaaa

Laporan Muhamad Arok, Kaur Umum Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo bahwa  Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) yang menjadi penyebab terjadinya gigitan itu. Sebab, petugas BTNK menggantung daging kambing di empat titik yang dijadikan target penangkapan komodo sehari sebelumnya. Padahal, empat titik itu sangat dekat dengan pemukiman dan tempat aktivitas warga setempat. Bahkan di dua titik, tempatnya hanya sekitar lima meter dari salah satu rumah penduduk yang bernama Baco Ahmad (47).

Sebagai pemerintah desa, kata Muhamad, ia telah memberikan masukan kepada petugas BTNK saat hendak memasang perangkap agar perangkapnya dipasang di tempat yang sedikit jauh dari pemukiman dan aktivitas warga. Namun, kata Muhamad,  pihak BTNK menolak usulan tersebut. Mereka tetap memasang keempat perangkap tersebut di dekat pemukiman warga dan tempat aktivitas masyarakat sehari-hari. Jaraknya hanya sekitar lima meter hingga 20 meter.


[1] Sumber lain menyebutkan 8 orang tewas ‘diembat’ komodo

[2] Kompas.com Senin, 15 Oktober 2012

[5]TRIBUNnews.com – Jum, 12 Okt 2012

Soal Gigitan Komodo (1)

 

3396611-komodo-dragons-eating-wild-buffalo-rinca-island-indonesiaIde catatan ini muncul pada suatu hari di penghujung April 2013. Berawal dari kisah seorang kawan yang akan melancong ke kawasan Taman Nasional Komodo. Pada malam sebelum terbang ke Labuan Bajo dari bandara Frans Seda Maumere dia mengajukan sederetan pertanyaan yang menggemaskan otak:

Ternyata ada legenda tentang komodo ya, kalau komodo dan masyarakat komodo adalah saudara kembar? Wah berarti masuk wilayah komodo pasti akan sangat mistis, saya membayangkan seperti kita memasuki zaman purbakala?  Oh ya…bagaimana sih hubungan masyarakat komodo dan komodo sampai sekarang ini? Dengar-dengar, kalau perempuan yang lagi haid (menstruasi) tidak boleh ke Komodo atau Rinca, nanti bisa diterkam komodo, lalu bagaimana dengan perempuan di Komodo dan Rinca yang haid atau menstruasi, apa diterkam juga?

Saya diam. Menjawab sederetan pertanyaan teman saya di atas bukan pekerjaan yang mudah. Pun, terlalu sayang untuk dijawab ‘tipu-tipu’, lantaran kawan saya harus membutuhkan informasi yang kurang lebih memadai walau tidak maksimal. Untuk tidak membuatnya lebih lama pusing dan mencegah agar saya pun tidak terlalu lama pening, saya memutuskan untuk memberikan informasi yang kurang lebih membuatnya penasaran “Kawan pergi saja dulu, di sana baru kawan temukan sendiri jawabannya”.   

Walau dalam hati kecil saya menyesali jawaban saya sendiri, karena sebenarnya apa yang nantinya ditemukan kawan saya sebenarnya akan jauh dari yang dibayangkannya. Sebab jika mau jujur, tangkapan mata pengunjung, termasuk kawan saya nantinya akan menemukan komodo sekedar sebagai binatang yang tidak menarik untuk ditonton, demikian juga penduduknya yang secara perlahan ‘dianak-tirikan’.komodo.article

Walau sekedar sebagai mitos atau legenda, keduanya bukan lagi tampak sebagai saudara kandung yang lahir dari rahim yang sama, tetapi lebih tepat disebut sebagai dua ‘sosok’ yang masing-masingnya bersaing untuk diperhatikan bahkan disayangi. Di satu sisi komodo sudah ditarik keluar dari habitatnya agar dengan mudah diperlihat-tontonkan pengunjung, di sisi yang lain penduduknya bahkan lingkungan alamnya dirasionalisir dengan berbagai medium pemberdayaan dan konservasi agar terkesan dipedulikan untuk tidak disebut seimbang secara alamiah.

Dan itu jelas berarti kita tidak akan mengalami aura atau suasana mistis, sebaliknya miris dan tragis. Kita tidak akan menemukan relasi yang harmoni antara satwa, manusia dan alam sekitarnya yang secara alamiah terbangun. Di mana ketiganya saling peduli, topang menopang bahkah hakikatnya bersama berziarah menuju Sang Pencipta. Sebaliknya yang akan tampak adalah ketiganya disekat-sekat oleh berbagai arus perubahan yang syarat kepentingan. Kita tidak akan disajikan lagi  pandangan yang elok perihal kesetaraan strata semesta, tetapi yang akan cungul adalah ketimpangan dimana yang satu ditinggikan dan yang lain di-pura-pura untuk ditinggikan agar tampak sejajar, seimbang dan sederajat.

Perihal semua ini memang harus dilihat dengan mata hati nurani. Sebab kaca mata yang lain tidak akan membantu dalam banyak hal. Lantaran itu, dan untuk semua alasan itu, saya membuat catatan ini. Catatan-catatan yang coba saya rangkum dari berbagai sumber.

Well….agar terkesan sistematis, saya akan mengawali kisah ini dengan peristiwa-peristiwa penyerangan komodo terhadap manusia termasuk masyarakat komodo dan juga Rinca. Dengan sengaja saya mengawali catatan ini dengan peristiwa penyerangan sebenarnya untuk menunjukkan apa yang paling tampak dan mencolok perihal kerenggangan relasi, disharmoni dan ketimpangan itu. Tentu saja akan dimulai dengan mengangkat sebab-sebab yang normal seperti sebagaimana diberita-tuturkan.

Selanjutnya menelisik sebab lain yang mungkin bisa diberi landasan argumentasi. Lantaran itu sederetan pertanyaan lanjutan dimunculkan: adakah berbagai kasus penyerangan yang menimpa manusia lebih-lebih masyarakat komodo ada kaitan dengan pudarnya keyakinan akan nilai-nilai genealogis masyarakat komodo dan komodo? Atau hilangnya keyakinan cultural-kosmik bahwa komodo dan masyarakat komodo harus saling melindungi dan menjaga?

Singkatn5550_13196238452905ya sejauh mana kata-kalimat peringatan Empu Najo yang melegenda “Jangan kau bunuh Orah (Komodo), dia adalah saudarimu (Gerong),” sungguh ‘membekas’ dalam relasi keseharian antara masyarakat Komodo dan Komodo sampai hari ini? Jika tidak, pertanyaan selanjutnya yang hendak dijawab dalam tulisan ini adalah adakah sebab-sebab internal dan eksternal yang mempengaruhi pudarnya bahkan hilangnya keyakinan cultural-kosmik tersebut? Jika demikian bagaimana seharusnya upaya membangun relasi yang harmonis antara masyarakat komodo dan alamnya termasuk satwa?.

 

Sumber gambar:

Atas: http://www.123rf.com/photo_3396611_komodo-dragons-eating-wild-buffalo-rinca-island-indonesia.html

Tengah: http://www.guardian.co.uk/world/2013/feb/06/komodo-dragon-attack

Bawah: http://www.travbuddy.com/photos/blogs/5362104

Roh Yang Sama Dari Akademia Plato Sampai Sekolah Demokrasi Labuan Bajo

 

Sebagian Peserta Sekolah Demokrasi Manggarai Barat

Jangan biarkan rakyat mengetahui hal-hal penting” demikian pemerintahan Athena yang dipimpin kaum Tyranoi  menunjukkan arogansi kekuasaannya[1]. Pada ketika itu, dalam masa pemerintahan kaum despotis ini, rakyat adalah budak. Lantaran itu bukan kapasitas para budak untuk merangsek ruang politik para pemimpin apalagi ingin mengetahui sepak terjangnya.

Penguasa adalah manusia setengah dewa bahkan dewa. Dan para budak harus tunduk-taat kepada penguasa. Bila perlu harus selalu bersimpuh. Akibatnya, bukan hanya nilai-nilai kemanusiaan yang dipenggal, medium politik seperti demokrasi[2] pun dijagal. Siapa pun dia yang berada di luar lingkaran kekuasaan sang penguasa akan ‘dibunuh’ hak-haknya jika berani bergagas-terobos.

Sokrates (470 SM399 SM)[3] filsuf putra Sophroniskos, seorang pemahat patung dan batu adalah salah satu korbannya. Lantaran gagasannya tentang sebuah hal ‘penting’ yakni  kebenaran yang selalu digalinya melalui debat yang panjang dan mendalam, dia harus tewas diujung telunjuk 280 pemenang voting.

Dan Plato (427 SM347 SM)[4], sang murid dan juga (mungkin) salah satu dari 220 orang yang kalah voting ketika itu sangat membenci system politik dan kekuasaan seperti itu. Baginya, kematian Socrates tidak hanya bagian dari cacat sejarah perihal ketidakadilan peradilan tetapi juga lebih dari itu adalah kematian nilai dan keutamaan (yang sudah sedang diperjuangkan gurunya).

Sekolah Akademia

Lantaran itulah pada sekitar tahun 387 SM, dengan visi besar ‘filsuf yang meninggal ketika sedang menulis’[5] ini mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama Akademia. Sebuah perguruan tinggi pertama di dunia yang yang didirikan melampaui dari sekedar penghormatan terhadap Sokrates sang guru, yakni melanjutkan perjuangan mengetengahkan keutamaan dalam segala bidang kehidupan kepada segenap warga polis.

Hemat saya, Akademia hadir pada ketika itu seperti mau menjungkirbalikkan pernyataan kaum Tyranoi  bahwa rakyat tidak harus disumbat telinganya, dipasung kaki-tangannya dan dibisukan suaranya, tetapi sebaliknya harus mendengar, mengejar dan mengetahui hal-hal penting. Rakyat tidak hanya harus beraksi untuk menerobos masuk ruang ‘privat poltik’ para politisi dan lingkaran kekuasaanya, tetapi juga harus mengetahui kebobrokan penguasa.

Rakyat tidak hanya harus tunduk dan patuh, tetapi juga harus berdiri untuk disadarkan selanjutnya mempertanyakan siapakah dirinya dengan segala keistimewaan lahir dan batin di hadapan tubuh social dan politik yang rapuh. Singkatnya, Plato menghendaki ada perubahan pola pikir, kesadaran dan bahkan pola laku bahwa sejatinya siapa pun bermartabat, lebih-lebih secara politis.

Perihal ajaran-ajarannya mengental dalam empat dialog politiknya: Gorgias, Republic, Statesman dan Laws. Salah satunya adalah sebuah simile tentang kapal yang dicatatnya dalam  Republic seperti menghujam amorialitas kekuasaan dan kesewenangan penguasa. Menurut Plato, sebagaiamana seorang juru mudi wajib memerhatikan langit, bintang-bintang dan angin agar benar-benar menguasai kapal, begitu pula seorang negarawan harus memiliki pengetahuan tentang wilayah forma, wilayah paradigma-paradigma rohani yang ada di luar ruang dan waktu bila benar-benar ingin memenuhi syarat untuk menguasai sebuah polis.[6]

Raja Filsuf

Siapakah seorang negarawan menurut Plato? Dari simile kapal negara di atas Plato sebenarnya menunjuk kepada seorang raja filsuf[7]. Raja filsuf adalah filsuf sekaligus penguasa. Seorang raja filsuf bukan filsuf biasa melainkan pribadi cemerlang yang berbakat dan berpendidikan sehingga mampu memasuki wilayah forma yang ada di luar waktu dan ruang – wilayah realitas dan alam. Puncak dari wilayah forma adalah kebaikan yang menjadi sumber wujud dan kebenaran forma lain.

Sehingga tak pelak, menurut Plato, hanya seorang raja filsuf sejati yang tahu apa yang benar-benar baik dan cara meraihnya. Jika mengidealkan keadilan, seorang raja filsuf tidak hanya benar-benar tahu tentang konsep keadilan, tetapi juga dia tahu bagaimana mengupayakan keadilan di tengah warga polis. Demikian halnya jika mengidealkan kesajahteraan, kemakmuran, keterbukaan dan transparansi, keberpihakan dan seterusnya, sang raja filsuf dapat punya menjadi eksekutornya.

Singkatnya apa yang diiedealkan adalah keuatamaan-keutamaan. Dan perihal keutamaan tidak hanya menjadi cita-cita tetapi juga kebutuhan ril setiap warga polis dalam keseharian. Lantaran Semua orang mengupayakan hal yang benar-benar baik, bukan hanya yang tampak baik saja maka siapa pun akan mau dan dengan jiwa besar (tanpa paksaan) akan diperintah oleh seorang raja filsuf.

Yang Dibayangkan dari Sekolah Demokrasi

Well…sungguh sekedar membayangkan. Dan jujur saja, catatan kecil ini tidak dimaksudkan untuk membayangkan Sekolah Demokrasi memirip-dimiripkan Akademia. Apalagi membayangkan pula akan lahir para raja filsuf dari sekolah yang sama. Namun, yang sudah sedang saya bayangkan adalah ada semangat ke-akademia-an yang ditumbuh-perjuangkan, keutamaan-keuatamaan demokrasi yang dimaju-kedepankan dan  pola pikir kritis yang diproduksikan serta pola laku yang peka-peduli pada keadaan social politik sekitar.

Benar bahwa system politik kita baik di tingkat lokal sampai pusat tidak menganut tiranisme dan para politisinya bukanlah kaum despotis. Namun fakta bahwa demokrasi berkembang begitu lamban bahkan berjalan di tempat perlu ditelisik-tanya dengan kritis: mengapa, apa penyebabnya dan seperti apa peran kita memperjuangkannya.

Kita bisa memulai dengan semangat ini: bahwa rakyat, segenap demos di sekitar kita termasuk kita sendiri perlu untuk tidak hanya harus mengetahui hal-hal penting yang berkaitan dengan keutamaan-keutamaan demokrasi, tetapi juga menjadi agen atau actor demokrasi itu sendiri. Singkatnya adalah kita diminta untuk menjadi demos yang sadar politik.

Sadar politik dalam konteks demokrasi mengutip Soetandyo Wignjosoebroto[8] adanya kesadaran para warga bahwa sesungguhnya mereka adalah insan-insan politik. Insan politik yang tidak hanya memperoleh jaminan perlindungan hak akan tetapi juga jaminan termanfaatkannya hak-hak warga negara, terakuinya hak-hak mereka yang asasi, untuk berperan serta dalam kegiatan politik baik secara langsung maupun tidak langsung dalam setiap aktivitas penyelenggaraan dan/atau pelestarian kehidupan bernegara.  

Konsep inilah yang menjadi roh dan semangat yang diperjuangkan Plato dalam dan melalui Akademia-nya pun kini, di Sekolah Demokrasi. Bahwa para demos yang lahir dari Sekolah Demokrasi dapat secara sungguh tidak hanya memahami konsep demokrasi, menemukan keutamaan-keutamaan yang terkandung di dalamnya, tetapi juga pada saat yang sama menjadi pelaku yang terampil berdemokrasi dalam kehidupan riil.

Dan untuk itu para demos tidak harus menjadi seorang politisi apalagi raja filsuf. Pun dalam setiap aktivitas politiknya tidak harus gegap gempita naik panggung politik yang besar. Lantaran sadar politik dalam konteks demokrasi mengandaikan adanya inisiatif pribadi, maka mesti pula dimulai dari diri sendiri dan dari hal-hal kecil. Sebagai misal apa itu-ini? Jangan kopi paste tulisan ini tanpa se-izin penulis. Ha ha hai….


[2] Walaupun selanjutnya Plato menyangsikan dan bahkan membenci demokrasi itu sendiri. Lantaran di tangan penguasa, demokrasi dipretelin tidak berbentuk menjadi system pemerintahan paling buruk dari semua system pemerintahan yang ada. Seperti dijabarkan Mark Moss dalam “A Critical Account of Plato’s Critique of Democracy“, ada tiga alasan mengapa Plato mengecam demokrasi. Pertama, demokrasi mengarah kepada “aturan gerombolan”. Dengan kekuasaannya, ia menjadi kaki tangan “pencari kenikmatan” yang bertujuan mengeruk kepuasan dari hasrat sesaat. Kedua, demokrasi mengarah kepada aturan yang dikendalikan kaum pandir berketerampilan retorika, namun tidak berpengetahuan benar. Ketiga, ia mengarah kepada ketidaksepakatan dan pertikaian yang secara intrinsik buruk dan harus dihindarkan. Bahkan, demokrasi, kata Plato, lebih dekat dan cenderung menuju tirani. Aristoteles, yang kerap berseberangan dengan Plato dalam wacana politik dan kemasyarakatan, pun nyaris sejalan tatkala menyinggung sistem pemerintahan ini. Murid Plato ini melihat demokrasi sebagai bentuk kemunduran dari politeia. Nilai maksimumnya hanya setingkat di atas tirani dan oligarki. Lih. Selengkapnya di http://anindityowicaksono.blogspot.com/2008/11/menantikan-sang-filsuf-raja.html

[5] Penggambaran Cicero atas Plato sebagai seorang penulis produktif, sampai-sampai Cicero mengatakan Plato scribend est mortuus (Plato meninggal ketika sedang menulis)

[6] Dlm. Gerald F. Gaus & Chandran Kukathas ‘Handbook Teori Politik’ Nusamedia, 2012 hal. 703-710

[7] Ibid. hal. 706

[8] Dalam ‘Perkembangan Pemikiran dan Praktik Demokrasi’ Seri Modul Simpul Demokrasi Komunitas Indonesia Untuk Demokrasi

Ketika SBY Bermain Twitter

BHzG0FdCMAA4nhy.jpg large

“Halo Indonesia. Saya bergabung ke dunia twitter untuk ikut berbagi sapa, pandangan dan inspirasi. Salam kenal. *SBY*,” tulis SBY dalam akun @SBYudhoyono, Sabtu (13/4). Sapaan ini adalah kicauan pertama SBY di akun twitternya. Tidak lama berselang, 150 ribu orang menjadi followernya. Saya pribadi tidak terkejut, sebaliknya kagum.

Mengapa tidak, SBY dan pembisiknya cukup cerdas membaca ‘waktu luang’. Saya menyebutnya sebagai waktu luang politik.

Di tengah hiruk pikuk perang elite politik menjelang 2014 dan berbondong-bondongnya para politisi blusukan ke kantong-kantong massa justru SBY yang katanya tidak punya waktu mengurus partai lantaran kesibukannya sebagai kepala negara justru ‘nongkrong depan laptop main twitter’.

Pertanyaannya adalah apa kata ‘dunia’ ketika SBY bermain twitter? Jawabannya adalah ini: Pertama, SBY mau mengatakan bahwa di zaman digitalisasi seperti ini, blusukan bisa lewat dunia maya. Blusukan paling hemat. Seperti mau mengatakan dan mengajarkan kepada semua pemimpin bahwa ongkos perjalanan dinas bisa ber-paspor ‘negara sebelah’ alias dunia maya. Kedua, menariknya SBY mengemasnya dalam kata dan gambar yang sangat menyapa. Tidak ada kesan dari kicauannya yang mencermin-muatkan unsur politis. Sebaliknya SBY menampilkan kata dan gambarnya sebagai suami bagi istri, ayah bagi anak-anak dan opa bagi cucu-cucunya. Saya menyebutnya ‘Orang kebanyakan banget gitu loh?’.

sby blusukan

Ketiga, ini medium paling instan menampilkan kesan dan sampaikan pesan. Kesannya adalah bahwa SBY itu me-warga dan pesannya adalah SBY itu juga seperti kita-kita yang punya salah dan dosa. Perihal ini tampak dalam satu kicauannya “Difoto cucu tercinta, Aira…”. Di sana tampak Aira sedang memotret opa-nya.

Keempat, terakhir, tak ada TV twitter pun jadi. Beberapa pemimpin politik di negeri ini punya TV, Nasdem-Surya Paloh punya Media Indonesia dan MetroTV, Golkar-Aburizal Bakrie punya TVOne. Yang, sekalipun tidak punya media, namun tidak banyak didera soal. Sementara Demokrat-SBY dihujam kritik-sinis kanan kiri. Lalu bagaimana cara pulihkan diri? Membangun image, bangun negeri seperti membangun rumah tangga sendiri dan bangun bangsa semendekat mungkin dengan warga. Dan untuk itu tak bisa lewat TV atau Koran mainstream. Karena keduanya tidak punya, twitter jadi. Selain gratis, top markotop punya.

BHzMEnjCIAA9i5N.jpg large

Catatan : Foto di atas diambil dari twitter pak SBY

Apakah Manusia Itu Ayam Gundul?

manusia

Manusia adalah makhluk yang tak terdefinisikan sekali pun harus diserahkan ke tangan seorang filsuf. Pernah Sokrates memberi penjelasan tetapi selanjutnya diperdebatkan, lalu Plato mencoba menyoal perihal makna tertinggi keberadaan manusia. Descartes mencoba menyelami esensi atau hakekatnya, Kierkegaard dan Sarte menohok sisi eksistensi dan ada pula yang berkutat dengan tubuh seperti Gabriel Marcel, selanjutnya dan seterusnya.

 

Sampai suatu ketika disimpulkan, sebagai sebuah kesimpulan yang mentah, bahwa manusia sesungguhnya adalah misteri. Lantaran semakin kita menjelaskan tentang siapa itu manusia, semakin kita memasuki lorong gelap ke-takmengerti-an. Ada anekdot di Sekolah Akademia Plato perihal ketak-mengerti-an itu.

 

Salah seorang murid Plato yang paling kurang ajar di Sekolah Akademia adalah Aristoteles. Ke-kurang-ajaran itu muncul dalam pertanyaannya tentang siapa itu manusia. Suatu hari  Aristoteles bertanya kepada Plato gurunya tentang apa itu manusia. Plato kemudian menjawab ‘’manusia itu adalah binatang/hewan yang berkaki dua’’. Keesokan harinya Aristoteles membawa seekor ayam lalu menyodorkannya ‘’inikah yang guru maksud manusia? 

 

Sudah barang tentu Plato terperanjat. Dalam hati kecil mungkin Plato mengumpat ‘sialan’. Agar tidak dibilang guru yang bodoh, Plato kemudian mere-definisi manusia. Kata Plato kepada Aristoteles ‘’Manusia adalah hewan berkaki dua dan tidak berbulu’’.

 

Mendengar jawaban Plato, Aristoteles pun tidak kehilangan akal. Keesokan harinya ia kembali ke Akademia dengan membawa ayam yang sama tetapi dengan bulu-bulu yang sudah dicabuti. Di hadapan Plato, Aristoteles kembali bertanya sambil menunjukkan ayam gundul itu ‘’Apakah ini yang guru maksud tentang manusia?

 

Pertanyaan terakhir itu tidak lagi dijawab Plato sampai hari ini. Entah selanjutnya Aristoteles apakan ayam gundul itu. Dan Plato berekasi serupa apa. Namun yang pasti bahwa sejatinya manusia adalah misteri. Sebuah konsep gelap yang sesak dengan tanya.

 

Catatan: Sumber gambar: http://robotikmtr.blogspot.com/2013/01/10-misteri-otak-manusia-yang-belum.html

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: