Tulisan dari ‘Jejak Syair’ Kategori

Terbius Wangi Sepotong Tubuh

dasar

Ini kisah kini, ketika pribadi demi pribadi dikepung dan selanjutnya ditawari  gombalan erotis-konsumeristis. Pribadi dengan tubuhnya yang kompleks dan mulia lantas terpecah dalam fragmen-fragmen yang mudah didefinisikan, walaupun dipahami tidak berdasar.

Telinga akan disebut sebagai telinga tidak hanya lantaran mampu mendengar suara jiwa dan rintihan kemanusiaan, tetapi juga (mungkin jauh lebih dimengerti dan dipahami jika) di sana menggelantung sepecah berlian.

Pun demikian dengan hidung, rambut, bibir, pelipis, buah dada, pantat, betis, jari-jari sampai kepada kelamin dan lendirnya akan menjadi mudah dimengerti dan dipahami lantaran menjadi fragmen-fragmen yang terlepas.

Berbagai kasus pelecehan seksual semisal pemerkosaan dan pencabulan yang bahkan merebak sampai ke desa yang menjunjung tinggi solidaritas sanak family menjadi indikasi paling jelas bahwa manusia sudah tidak lebih dari sepotong tubuh.

Sepotong tubuh yang bisa dengan semena-sema disetubuhi dan dicabuli jika tidak sekedar dicolek dan disentuh-raba. Tubuh yang direduksi menjadi sekedar pelampiasan nafsu birahi adalah tubuh yang dengan sengaja dialienasi dari aku-nya manusia.

Bentuk pereduksian cara pandang yang demikian adalah bias dari kedangkalan pemaknaan manusia atas dirinya sendiri sebagai manusia. Dan sebabnya kompleks. Perihal itu bisa dirunut mulai dari kemiskinan karakter dan moralitas pribadi sampai kepada cacat-cela tubuh sosial.

Padahal sejatinya manusia tidak sebatas tubuh, apalagi hanya sekedar sebagai potongan-potongan tubuh. Namun, mau apa dikata, wangi sepotong tubuh mudah untuk diindrai, ketimbang harus mencium kemanusiaan manusia.

Itu sebabnya kian hari manusia kian teralienasi dari dirinya sendiri. Menjadi pribadi-pribadi yang terfragmentasi sekedar sebagai potongan-potongan tubuh yang mudah untuk didefinisikan sebagai siapa itu ‘aku’ manusia, walau namun pada saat yang sama menjadi kian rentan untuk dinodai.

Pada Gerimis Malam Ini

1418057i7h2go0ck5Baru pada malam ini setelah beberapa minggu menghilang, gerimis itu datang lagi. Ia tidak datang sendiri. Bersama halilintar dan mata petir. Ketiganya sehati, entah datang membawa rezeki atau entah sampaikan pesan sebelum seterusnya pergi.

Namun satu yang pasti, ketiganya, lebih-lebih gerimis memberi kesan yang berarti. Ia melukiskan sebuah puisi himne. Sebuah doa yang dipohonkan semesta yang hidup kepada Sang Pemberi.

Segenap semesta menengadah. Bangkit dari mati. Tumbuh dari sunyi. Kembang dari senyap. Bagaimana tidak mau dipuji, pada ketika gerimis itu kembali, ditabuh gelegar halilintar dengan kedipan mata petir tampak siluet kembang malam mekarkan mahkotanya. Sebelum-sebelumnya dia sembunyi.

Bulatan gerimis yang mengenai ujung kelopaknya menggelinding lalu jatuh. Jatuhnya bersama gugur daun tua  yang meletakkan tidurnya perlahan. Angin tidak meniupkan keduanya ke tengah arus air. Keduanya dibiarkan lelap di pangkal akar kembang. Berayun-ayun lalu diam. Berayun-ayun lagi, lalu diam lagi.

Terdegar pula gesekan ranting yang serupa menepuk riang. Kepakan kelelawar dan atau burung malam tiba-tiba dilepas lalu diam. Pun halau dendang katak mengubah malam jadi kian meriah, disela syair jangkrik yang memilih jauh lebih  melengking.

Di tempat terpisah, di akar batangan pohon beringin, sebarisan semut hitam berjejal-jejal luputkan diri. Mencari ruang-ruang samadi. Seperti aku, yang menatap sepi dari balik jendela kamar empat persegi. Aku tidak berpuisi, cukup diri mengangguk-angguk dalam hati. Bahwa semesta yang hidup itu simphoni.

Gerimis yang datang melukis malam ini, seperti sudah sedang diutus untuk memberi arti bahwa kehidupan itu masih berdenyut. Masih punya hati.

Lantas, seperti mengubah himne menjadi satir, aku menjadi benci setiap pada noda manusia yang dibuat siang-siang hari. Bahwa betapa bebalnya kehidupan ini jika kian hari kian tak pernah saling peduli. Ketika kehidupan saling patah mematah, cabut mencabut, iris mengiris, umpat mengumpat dan tebang menebang.

Padahal sejatinya setiap gerak semesta, sekalipun yang mati seperti batu sesungguhnya berdenyut. Saling memberi arti. Betapa manjanya mata petir mengedip. Betapa syahdunya gerimis menetas. Betapa gagahnya halilitar membangunkan semesta.

Dan aku, dari balik jendela, pada malam ketika gerimis itu kembali, hanya bisa berdoa dengan benci. Bahwa Tuhan seharusnya tidak usah memberi jika kehidupan tidak pernah mau peduli pada dirinya sendiri.

Bulan Melukis Malam

ujung malam

Serupa kuas bilah sinar bulan jatuh menyembam di atas bentangan malam. Hendak melukis pekat. Selalu serupa itu jika purnama mekar. Melalui celah-celah pohon, antara daun dan semak-semak pernama lepaskan bilah sinarnya. Menangkap sunyi untuk selanjutnya mengurainya jadi refleksi.

Begini biasanya. Pada sunyi, bulan melukis doa. Pada semesta yang lelap bulan melukis harmoni. Melukis tarikan napas alam. Melukis kehidupan. Melukiskan cinta. Melukiskan jejak Tuhan. Singkatnya, setiap bilah sinarnya, bulan merefleksikan penciptaan.

Namun malam itu, jari-jari angin merusak semuanya. Meniupkan daun-daun, menarik awan-awan jadi mendung. Membelahnya jadi hujan. Menjeritkan dahan dan ranting. Membangunkan burung tertidur. Menciptakan cekam. Membuatkan seram. Dan sederetan kerusakan itu, angin malam pada malam itu adalah vandalistis. Perusak karya agung kesunyian.

Angin yang beringas mengguncang sunyi malam yang tenang. Dan bulan membenci itu. Lantaran jari-jari sinarnya pecah. Biasnya berantakan. Percikan tak mengenai malam. Terlempar di antara ranting dan dahan, daun dan bunga, lumpur dan rawa yang terus menari dan mengalir menodai harmoni.

Wiuh…bentangan malam pun berubah rupa jadi kanvas yang koyak. Serupa tumpahan warna yang melukiskan kekacauan, perang, penjarahan dan penindasan. Yang terbaca adalah kekelaman. Dan aku, dalam tidur yang terus terjaga, melumat sajak yang juga terasa kelam “waktu tidur//tak ada yang menjamin//kau bisa bangun lagi//tidur// adalah persiapan buat tidur yang lebih lelap”.

Sekuplet sajak dari “Di ujung ranjang’’ Subagio Sastrowardyo ini tidak hanya mengisahkan tentang remangnya kelam, tetapi juga perihal sisi lain dari gelap yang disebut kematian. Gelap yang disebakan oleh angin yang tiba-tiba hadir serupa malaikat pencabut nyawa. Merusak refleksi bulan, merenggut hening malam dan mencabut nyawa kehidupan.

Tentang Daun Pintu dan Tentang Daun Jendela

Selembar daun pintu kamar tidur biasanya tidak lebih lebar dari delapan puluh sentimeter. Sebuah ukuran normal bagi penyekat ruang intim, ruang kehidupan pribadi. Dengan tinggi kurang lebih dua ratus sentimeter dan ketebalan lima sentimeter ruang intim itu sudah cukup nyaman jika ditutup. Apalagi untuk hadirkan diri sebagaimana yang dikehendaki masing-masing pribadi.

Pun jika ada dua bilah jendela berterali. Selebar luas apa pun jendela itu, sebuah kamar tidur tetap masih cukup nyaman untuk melukiskan diri. Semua rahasia akan dijaring sarinya melewati lubang angin kemudian ampasnya terbang pergi. Yang tertinggal adalah jejak-jejak refleksi yang mematri di langit-langit. Jadi prinsip, jika bukan jadi harap, jadi mimpi.

Dalam tutupan selembar pintu itu, pun sekatan dua bilah jendela segala kisah paling pribadi dibentang terang benderang. Tidak hanya kisah-kisah tentang kehidupan dan keberlanjutannya dalam dan melalui segala dimensinya, tetapi juga kisah tentang sesuatu yang reflektif, transendensial yang dalam bayang (mungkin) melayang-layang pada langit kamar.

Pun symbol-symbol. Symbol kelahiran, kehidupan dan keber-ada-an yang melekat pada debu ruang, lambang perjumpaan kita dengan dunia yang melekat pada ketelanjangan pun segala jenis balutan pakaian, dan tanda kehancuran, dosa yang melekat pada sisi gelap kamar lantaran tak terjangkau terang menyatu-lebur jadi satu dengan segala symbol harapan dan keyakinan yang melekat pada langit-langit kamar dengan lampu sebagai titiknya.

Lantaran itu, setiap pribadi menjadi sadar bahwa tidak hanya diminta untuk me-mengerti kamar tidurnya sebagai perpanjangan dirinya, tetapi jauh melampaui itu adalah dunia dirinya sendiri. Sehingga tidak dapat disangkal bahwa dalam ruang yang bernama kamar tidur, dunia yang dipandang luas dan dalam, tinggi dan jauh, tak terlukis-katakan menjadi: di satu sisi mudah untuk dipahami dan dimengerti namun pada saat yang sama menyisahkan misteri.

Sesuatu yang misteri dari dan tentang kamar tidur hanya dapat didengar pun direkam, dilihat dan dipandang serta ditelisik mengerti oleh daun pintu dan jendela, selain daripada itu tak kuasa.

Daun pintu serupa lidah yang mengabarkan keberadaan kita, hakikat diri sejauh mana menjadi manusia yang sadar dengan dirinya sendiri. Daun pintu pun melihat dan memperlihatkan itu. Dia adalah mata yang berkata.

Dan daun jendela menjadi serupa telinga yang menampung segala harap dan hasrat diri, merekamnya secara paripurna semua-segala tentang kita dan (walau) pada saat yang sama melihat dan memperlihatkannya secara terang benderang. Dia adalah mata yang mendengar.

 

 

 

Karena Cinta

Peristiwa tentang cinta selalu melahirkan kisah. Kisah yang membuat anda berpikir berulang tentang hidup anda, bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga hari esok sebagaimana yang anda pikirkan hari ini. Berpendar-pendar dalam ruang kepala anda tentang segenap cerita, seluruh peristiwa dan semua kisah, sampai pada suatu sempat, sebuah saat anda menemukan serupa apa anda di hadapan cinta.

Anda mungkin termasuk dalam sebagian orang yang tidak menyoal cinta secara serius. Di lingkup hidup anda, cinta bisa datang dan pergi. Sekejap cinta menyinggahi, kemudian terbang entah ke mana rimba. Peduli amat, demikian katamu. Cinta yang dialami serupa itu bukan karena cinta telah membuat anda dibenci dan membenci. Pun bukan lantaran pengalaman kehidupan anda telah disesaki oleh cinta. Tetapi lantaran anda belum secara sungguh memahami apa artinya cinta.

 Atau anda adalah bagian dari mereka yang disanjung karena cinta. Peristiwa tentang cinta nyata dan dasyat. Cinta yang demikian tidak hanya meletakkan anda pada lingkup yang berbahagia, tetapi juga membuat-jadi anda serupa primadona dan idola. Peduli pada cinta, demikian katamu. Cinta yang dialami serupa itu bukan karena cinta telah membuat anda menjadi tuan atas cinta. Pun bukan lantaran beruntung karena kedasyatannya menyentuh ruang rasa anda. Tetapi lantaran anda belum secara sungguh memahami apa artinya cinta.

Dan atau anda adalah termasuk dalam beberapa orang yang terhempas dengan keras. Lantaran cinta anda dihujam berulang oleh kisah-kisah kusam. Lantaran cinta anda dihajar senantiasa oleh cerita-cerita gelap. Anda jatuh dan kemudian terjerembab dan lepuh. Lusuh dalam kenangan, lunglai dalam berharap, dan mati dalam mimpi. Cinta tidak mempedulikanku, demikian katamu. Cinta yang dialami serupa itu bukan karena cinta telah membuat anda mati harap, patah asa. Pun bukan lantaran anda tidak sedang beruntung karena didepak berulang oleh kisah kelam. Tetapi lantaran anda belum secara sungguh memahami apa artinya cinta.

“Cinta itu hanya dapat dimaknai dengan jiwa, dimengerti dengan rasa, dipandang dengan matahati, dilakukan dengan tulus, selanjutnya diraut-tajam secara berulang dengan refleksi”

Cinta melampaui segala rasa yang pernah dan sudah sedang dialami oleh siapa pun, termasuk anda dan saya. Bergulat gelut dengan cinta adalah bergulat gelut dengan misteri. Cinta itu jauh dipandang, walau sesungguhnya ia melayang-layang dalam setiap bola mata pencinta. Cinta itu sedekat air mata, sedekat senyum, walau sesungguhnya dalam bayang ia bergentayang. Cinta itu dekat sekaligus jauh, luka sekaligus sembuh, senyum sekaligus luka.

Melampaui segala rasa, semua pengalaman, segala kisah, seluruh peristiwa tentang apa pun, cinta adalah cinta. Cinta hanya untuk cinta, sekalipun dicintai atau tidak, mencintai atau tidak oleh siapa pun. Cinta itu cukup diri. Dalam cinta ditemukan pendaran segala warna, meletakannya hanya pada ‘ke-tak-apa-apa-an’ adalah kesialan, hanya pada kebahagiaan adalah ketimpangan, dan hanya pada kedukaan adalah kejanggalan.

Cinta itu hanya dapat dimaknai dengan jiwa, dimengerti dengan rasa, dipandang dengan matahati, dilakukan dengan tulus, selanjutnya diraut-tajam secara berulang dengan refleksi. Semakin jelas dan terpilah pisah untuk masuk-suluk dalam diri, mengerti-pahami-nya secara berulang maka semakin jelas benderang kita memaknai cinta.

Mengalami cinta serupa itu, kita (saya dan anda) akan temukan luka pun ada suka, sehingga ‘peduli amat’ tentang cinta pun terpental tandas. Sebagaimana kita memaknai diri, serupa itu kita mengerti apa artinya cinta. Cinta membuat kita melayang jauh ke langit bahagia untuk memberi kita catatan kisah bahwa duka begitu dekat. Demikian juga cinta melemparkan kita ke jurang terjal nan kelam untuk memberi kita catatan kisah bahwa kebangkitan begitu dekat. Ya…serupa itulah cinta, serupa anda dan juga saya menjadi diri sendiri.

 

 

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 89 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: