Tulisan dari ‘Jejak Syair’ Kategori

Pena Allah Dari Cedar

Siapakah Kahlil Gibran? Ada yang menyebut Gibran sebagai mistikus, penyair, sastrawan, filsuf, agamawan, pencinta damai, nabi bahkan ada yang menyebutnya sebagai manusia abadi. Penamaan dan sebutan itu merupakan kesimpulan yang masuk akal dari kata yang dituangkannya dalam tulisan-tulisannya.  Tidak jarang pula melalui kata yang sama Gibran dipandang sebagai pemberontak, kafir, revolusioner dan pendurhaka. Gibran diidentikan [...]

Kontal Kantil Kata

Antara selangkangan dan surga Kata dilepas berayun-ayun Siapa memakna? Aku pun kau pun

Sebuah ‘Novel-Novelan’ (Setengah Jadi)

Dalam diam, kata-kata itu meletup-letup. Melapangkan rongga dada. “Azam, kaukah di sana? yang selalu menyapaku dalam diam? jika kau merindu, mengapa kau harus pergi? Jika kau ingin menyapaku, mengapa harus selalu dalam gulita?” Keluh itu melepaskan Sarah ke luar jendela. Matanya melayang jauh ke gelap malam. Angin kecil menampar ari langsatnya. “Bulan” Ya…bulan. Saksi tentang [...]

Merah Sajak, Putih Puisi

Terdengar bising mula-mula, pada ketika semua jatuh dalam lelap. Sesekali teriakan, sesekali umpatan, sesekali makian, sesekali tertawa. Sesekali dentuman, sesekali ambrukan, sesekali pecahan, sesekali tabrakan. Sesekali tangisan, sesekali lengkingan, sesekali lolongan. Lalu senyap, seperti mati, sunyi. Dan dia yang biasa melihat menembus semua, mengatakan “Aku masih tertidur di dekat pelita, masih mengeram kata”. Padahal seharusnya, [...]

Siapakah Aku?

“Lihatlah diriku, sebuah kata yang maknanya samar-samar dan membingungkan; kadangkala tak bermakna; kadangkala bermakna banyak hal” Demikianlah Gibran mendefinisikan dirinya (dlm. Hari Kelahiranku, Martin L. Wolf (ed) Treasury of Kahlil Gibran (Risalah Karya Terbaik) Tarawang Press, Yogyakarta 2002, hal. 90). Ia menyebut dirinya sebagai kata. Mengapa Gibran harus mengidentikan dirinya sebagai kata? Tentunya tidak sebatas [...]

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.652 pengikut lainnya.