Labuan Bajo adalah Kota Wisata. Tentang itu tak dapat disangkal. Popularitas biawak purba Komodo dan keindahan bawah laut di antara ratusan pulau melambungkan nama kota di tepi barat pulau Flores-NTT itu sampai ke seantero dunia. Gayung bersambut pemerintah setempat pun manelurkan gagasan besar dengan menjadikan pariwisata sebagai leading sector.
Wisatawan, baik asing maupun lokal, berdatangan silih berganti. Pada saat yang sama hotel, kafe dan resto bermunculan. Harga tanah dan bangunan kian mahal. Tebing-tebing di pesisir pantai laris manis, sekalipun seharga milyaran rupiah. Tidak hanya itu, produk pangan (sembako) pun kian membanjiri pasar Labuan bajo. Bagai baru bangun dari tidur yang panjang, Manggarai Barat, secara khusus Labuan Bajo terperanjat.
Jika mau jujur, Manggarai Barat sebenarnya belum benar-benar siap untuk menyambut kehadir-ada-annya yang kian popular. Namun mau apa dikata, semuanya sudah terjadi. Satu-satunya solusi yang harus mendesak digagas-tindak adalah mengikuti proses dan pada saat yang sama bergandengan tangan, besinergi membangun Manggarai Barat dalam berbagai sector kehidupan, tidak hanya sector pariwisata yang menjadi leading sektornya.
Sedikit Catatan Kecil Dari Pasar
“Semua kebutuhan pokok di pasaran Labuan Bajo sebagian besar didatangkan dari luar Labuan Bajo. Dan yang paling banyak adalah dari Bima”. Aku Filomena Abdiwati Divini pengelola Kafe dan Resto Rumah Baku Peduli di Labuan Bajo Flores Nusa Tenggara Timur. Perihal membludaknya kebutuhan dasar atau pokok di Labuan Bajo yang didatangkan dari luar daerah sebagaimana yang dikisahkan Filomena sebenarnya bukan cerita baru. Dan perihal itu hampir pasti ‘diamini’ oleh warga Labuan Bajo, apalagi ibu rumah tangga dan para pengelola kafe dan resto serta hotel.
Berdasarkan pantauan penulis di tiga titik pasar yang tersebar di Labuan Bajo: Pasar Lama, Pasar Baru dan Pasar Cewo Ndereng, hanya terdapat kurang lebih 10 persen kebutuhan pokok yang dihasilkan oleh warga setempat dan sekitarnya (daratan Flores). Selebihnya adalah didatangkan dari Bima, Makassar dan Bali. Grafis di bawah ini hanya sedikit contoh yang bisa penulis tampilkan sebagai bukti.
Padahal, jika dilihat dari luas lahan, Kabupaten Manggarai Barat memiliki kawasan pertanian basah seluas 19.493 ha dan 40.575 untuk lahan kering yang tersebar di semua kecamatan, seperti Kecamatan Lembor, Sano Nggoang, Komodo, Kuwus dan Macang Pacar. Namun di atas hamparan lahan tersebut produk pangan untuk kebutuhan pokok warga pun tidak tercukupi.
Beragam alasan bermunculan jika ditanyakan. Beberapa alasan yang mengemuka adalah gagal panen dan belum maksimal untuk dikelola. Ibu Mande (57) misalnya, salah seorang petani dan juga pedagang hasil kebun di Pasar Baru Labuan Bajo, ketika ditanyai penulis perihal membludaknya produk pangan import mengatakan bahwa mayoritas petani di Manggarai Barat tidak menanam sayur-sayuran dalam kapasitas besar “Kami hanya tanam sedikit-sedikit saja. Paling-paling hanya di sekitar rumah”. Katanya “Belum lagi kami di Kaper kekuarangan air, makanya untuk sayur-sayuran pun kami siram pake air PAM” tambahnya. “Dan juga, bibit dan pupuk mahal sekali, makanya kami tanam sedikit-sedikit saja, ya, untuk kebutuhan sehari-hari. Lebihnya baru dijual” kata perempuan yang tiap hari menjual hasil kebunnya seperti daun sup dan cabe rawit di Pasar Baru.
Keluh ibu Mande ada benarnya, pantauan penulis di wilayah sekitar Labuan Bajo, termasuk di Kaper maupun di Merombok dan Nggorang, memang tidak tampak lahan yang dalam kapasitas besar digunakan untuk kebun sayur dan apalagi buah-buahan. Walaupun di Nggorang terdapat beberapa petani sayur yang berasal dari Bima yang secara rutin memproduksi sayur-sayuran, namun jika hanya itu memang tidak cukup untuk memenuhi ribuan penduduk Labuan Bajo.
Sederetan pertanyaan pun bermunculan, salah satu di antaranya adalah bagaimanakah langkah kongkret yang memang harus diupayakan oleh segenap warga Manggarai Barat, secara khusus Labuan Bajo agar serbuan kebutuhan pokok yang didatangkan dari luar dipangkas sehingga tidak mengeluh ‘Mahal’. Apa yang telah diupayakan pemerintah dan stakeholders yang lain supaya sector pertanian di Manggarai Barat ditumbuh-hidupkan, dengan demikian selanjutnya dapat bersaing dengan produk yang datang luar? Atau jangan-jangan warga Manggarai Barat, secara khusus Labuan Bajo akan tetap bergantung pada Bima, Bali dan Makassar hanya untuk kebutuhan ‘perutnya’?











































