Antropolog Catherine Allerton dalam suplemen National Geographic edisi Indonesia terbitan Desember 2008, melukiskan Wae Rebo, sebuah desa di dataran tinggi Manggarai bagian selatan dengan amat menarik. Disebut menarik, lantaran Allerton tidak hanya menyuguhkan kekayaan budaya dalam bentuk rumah adat, tenun ikat dan upacara serta ritus adatnya dengan detail tetapi juga lingkungan dan suasananya.

Kisahnya, di sana, ia tidak hanya mengalami penerimaan yang luar biasa sebagai saudara, tetapi juga bahkan membuatnya betah. Sampai-sampai tanpa ragu, pada tahun 2005, ia menyertakan putri sulungnya Olive untuk menjejakkan kaki di Wae Rebo.

Tentang Wae Rebo memang banyak yang kepincut berat, tidak hanya Allerton sebagai seorang peneliti, wisatawan biasa pun, baik domestic maupun asing pasti akan mengunjuginya jika hendak bertualang ke Manggarai pedalaman. Sebab mereka ingin tahu secara lebih dekat serupa apa Wae Rebo dengan segala keunikan dan kekhasaanya.

Namun sebaliknya dengan Todo, desa yang juga letaknya tidak jauh dari Wae Rebo (bahkan untuk sampai ke Wae Rebo harus melwati Todo) . Sekalipun sejarah mencatat bahwa Todo merupakan salah satu pusat kerajaan tertua di Manggarai, namun gemanya tidak seramai Wae Rebo. Salah satu mungkin adalah manajemen promosi yang tidak dikelola dengan baik, dan pada saat yang sama Todo yang dulu berbeda dengan sekarang.

Tidak tahu serupa apa Todo yang dulu, namun kesan penulis, satu-satunya cirri khas kampung Todo adalah Niang Todo, sebuah rumah adat berbentuk bundar beratap jerami yang diketahui merupakan istana raja Todo tempo dulu, selebihnya adalah rumah-rumah berdinding dan beratap penuh sentuhan modern.  Jika mau jujur, kampung Todo hanya menunjukkan rumah adat itu sebagai bukti sejarah, selebihnya adalah kisah-kisah lisan yang tercerai berai.

Lantaran itu tidak heran jika Bapak Agus, salah satu sesepuh kampung Todo yang juga menjadi penerus tradisi Todo mengatakan bahwa Todo mulai dilupakan. “Banyak orang langsung ke Wae Rebo, mereka tidak tahu kalau dulunya Todo adalah pusatnya”. Akunya. “Salah satu cara untuk mengangkat kembali Todo adalah dengan menuliskannya kembali, dan yang menulis itu adalah kami sendiri” katanya lebih lanjut.

Mengapa bapak Agus sebagai sesepuh mau menulis sejarah kerajaannya sendiri? “Karena sudah banyak yang meneliti dan menulis tentang Todo, tetapi tidak ada satu orang pun yang kembali memberikan hasil penelitian dan tulisannya kepada kami. Sehingga kami tidak tahu mereka menulis tentang apa, dan apakah mereka menulisnya dengan benar atau tidak. Kalau ada hasilnya kami bisa koreksi kalau salah” tutupnya.

About these ads