Pagi itu, Golo Codor masih dingin. Ujung Satar Tacik itu pun masih sepi. Tampak lima molas (gadis remaja) Manggarai berapat-rapat di balik pagar. Mata mereka jauh menatap ke seberang lembah. Menunggu matahari bangkit perlahan melintasi gumpalan kabut-awan. Sambil, sesekali membenarkan lipatan sarung. Sesekali menjawab panggilan telephone. Sesekali melepas kata. Pada saat yang sama senyum mereka mekar. Tawa mereka tetas.

Siapa molas-molas Manggarai? Mengapa harus di Satar Tacik? Mengapa harus pagi-pagi? dan mengapa harus dari balik pagar? Menjawab sederetan pertanyaan ini satu demi satu seperti sudah sedang membongkar kotak pandora, mencari isinya, selanjutnya memperlihatkan kepada semua, siapa pun, bahwa sesungguhnya beginilah molas-molas Manggarai, (pun gadis-gadis nusa tenggara timur) hadir-ada di tengah pusaran arus ‘urban’ yang cenderung sarkastis menyebut ‘kampungan’ terhadap potensi budaya daerah.

Pertama, Manggarai Raya dengan Labuan Bajo sebagai gerbangnya menarik untuk dikisah. Sebagai salah satu pintu gerbang, Manggarai harus memberi ciri dan tanda serupa apa Manggarai itu sendiri (yang adalah potensi sekaligus salah satu pilar budaya Nusa Tenggara Timur dan Indonesia). Identitas keberadaan dan budayanya harus ditunjukkan. Namun demikian, bukan sekedar ‘show’, karena jauh lebih penting dari itu adalah untuk menempatkan identitas dan cara beradanya secara bermartabat di pentas arus global.

Lantaran itulah molas-molas Manggarai dipilih untuk dihadirkan. Mereka dipilih bukan hanya karena sarung akrab dibalut-lipat-pinggang perempuan, tetapi karena sarung dan perempuan itu sendiri ‘mirip tapi tak sama’. Keduanya tidak hanya berproses dalam mengandung-melahirkan dan memberi warna pada kehidupan, tetapi juga pada saat yang sama menandakan tentang identitas yang rentan lantaran berulang digasak arus global. Dengan sengaja mereka dihadirkan dan diangkat, kemudian ditempatkan pada tempat yang bermartabat .

Kedua, Destinasi pariwisata di Manggarai Raya sebenarnya tidak hanya Komodo di Taman Nasional Komodo, dan keindahan bawah laut di sekitarnya sebagai destinasi pariwisata bahari. Tetapi juga ada potensi wisata darat, hutan, purbakala dan budaya. Namun sayang, sepertinya semua mata hanya tertuju kepada komodo dan areal bawah lautnya, dan ‘mengabaikan’ yang lain. Data menunjukkan, sebagai misal, pada Februari dan Maret 2011, jumlah kapal pesiar yang membawa wisatawan ke NTT khususnya Labuan Bajo berjumlah 30 unit, dengan rata-rata 300-450 wisatawan per kapal. Para wisatawan asing ini tidak menetap di hotel karena berada di dalam kapal. Mereka bergerak ke berbagai titik tujuan yang ditentukan agen perjalanan.

Apakah Labuan Bajo hanya terdapat komodo dan keindahan lautnya? Jawaban tentu saja tidak. Namun untuk mengurai sector pariwisata di Labuan Bajo sebenarnya bagai mengurai benang kusut. Hal ini menunjukan secara jelas selain lemahnya sisi promotif atas destinasi pariwisata lain di NTT, khususnya yang ada di Labuan Bajo dan sekitarnya, juga adalah karena tidak adanya system dan manajemen yang jelas dalam pengelolaan sektor pariwisata darat.

Sebagai misal, Batu Cermin yang hanya berjarak kurang lebih tiga kilo meter dari kota Labuan Bajo tampak sepi pengunjung. Gua batu yang elok lantaran penuh pendaran sinar matahari itu,  kemudian hanya menjadi serupa kuburan batu raksasa.  Lingkungan sekitarnya tidak tertata dengan baik. Loket informasinya pun terbengkalai. Hal serupa terjadi untuk destinasi pariwisata budaya di kampung adat Todo dan destinasi pariwisata purbakala Liang Bua Cibal.

Lantaran itulah Golo Codor dipilih untuk mewakili destinasi pariwisata darat yang lain yang menyebar di sekitar delapan penjuru mata angin Manggarai Raya. Golo Codor di ujung Bandara Satar Tacik, (Nama bandara di Ruteng sebelum berganti nama menjadi Bandara Frans Datus Lega) itu sebenarnya bukan tempat wisata yang popular, namun dia dipilih lantaran ketidakpopulerannya. Untuk selanjutnya diangkat-tunjuk bahwa sebenarnya Manggarai Raya secara khusus dan NTT secara umum memiliki varia tujuan wisata yang bukan hanya pantas, tetapi juga harus maksimal untuk dipopulerkan.

Ketiga,  sesi pemotretan itu dengan sengaja dipilih pagi hari, sebelum matahari terbit lantaran Pertama, alasan yang sangat sederhana yakni menunggu matahari terbit di ujung Satar Tacik kurang lebih sama indahnya seperti menyaksikan matahari merangkak naik di atas cadas danau Triwarna Kelimutu-Ende. Sinarnya tidak hanya perlahan pecah di atas kabut-awan tetapi kilau jingganya menyapa manja lembah sawahnya (persawahan Ruteng) dan atau wajah air (Triwarna danau Kelimutu).

Alasan kedua lebih simbolik. Memilih pagi hari dimaksudkan bahwa kebangkitan untuk mempopulerkan destinasi pariwisata tidak aji mumpung, hanya karena sebuah tempat tertentu lebih dahulu populer. Tetapi harus ditimbang matang, serempat dan bersinergi.  Hal lain adalah sebagai media ajar bahwa kesiapan untuk menampil-tunjukkan identitas cultural harus dimulai sejak usia dini, tidak harus menunggu ditemukan adanya pola-pola perong-rong-an dari arus globalisasi (yang lebih banyak negative ketimbang positif).

Keempat, Lantaran itu pula berbagai medium semisal: Golo Codor ujung bandara Satar Tacik sebagai tempat , remaja putri atau molas-molas sebagai subjek utama dan subjek-subjek lain semisal: telephone, pagar dan sarung serta selendang khas NTT dihadir-tampilkan dalam pemotretan. Kesemuanya tidak hanya menunjukkan perihal kekhasan identitas, keotentikan cultural (sarung dan selendang) yang harus dijaga dan tetap dipertahankan (disimbolkan dalam dan melalui pagar), tetapi juga harus ditunjuk-tampilkan ke hadapan dunia (melalui puncak Golo Codor) dalam dan melalui persentuhan (melalui telephone/komunikasi, pesawat/transportasi) bahwa kita sesungguhnya ada, dan bersedia tampil kompetitif, tanpa harus tunduk apalagi dijarah-direduksi oleh ‘nilai-nilai’ buah dari ketimpangan globalisasi dan arus modernisasi.

Singkatnya bahwa kita sebagai manusia, subjek utama sekaligus ‘pencipta’ indetitas social budaya, yang disimbolkan dalam dan melalui molas-molas Manggarai harus menunjukkan itu.  Jika bukan kita, lalu siapa lagi. Kalau bukan pagi-pagi sekali, lalu kapan lagi. Tidak harus orang lain menyuguh-saji siapa ‘aku ini’ di hadapan yang lain, tetapi diri kita sendiri. Pun tidak harus menunggu matahari meninggi kemudian pergi, jika ada pagi.

Untuk semua itulah maka sederean foto hasil jepretan Cypri Jehan Paju Dale, yang saya beri judul “Sepakat Cantik di Ujung Satar Tacik” dinarasi, beri isi. Walau mungkin di hadapan sebagian pembaca tidak mengerti, dan untung-untung kalau sebagian pembaca yang lain terima di hati. Namun yang pasti kita ‘sepakat’ bahwa ‘mempercantik’ jati diri cultural adalah sesuatu yang hakiki dalam kehadir-ada-an kita di tengah pusaran arusan globalisasi dan moderniasi yang katamu dan kata saya juga adalah ‘ngeri’.

 

About these ads