Konon, di zaman dahulu, seorang putri naga menikah dengan Empu Najo. Sepasang bayi kembar lahir. Tak semuanya berwujud manusia –seorang bayi laki-laki yang diberi nama Gerong, dan seekor komodo betina yang kemudian diberi nama Orah.
Gerong dan Orah lalu dibesarkan secara terpisah. Suatu hari, saat Gerong dewasa sedang berburu ia bertemu Orah –kembarannya. Senjata siap ia hunuskan. Namun, tiba-tiba muncullah sosok ibunya yang gaib. “Jangan kau bunuh, dia adalah saudarimu,” demikian ucapan sang ibu.
***
Demikianlah legenda masyarakat Komodo perihal hubungan mereka dengan satwa Komodo. Sebuah hubungan dan kedekatan yang khas dan unik. Menyebut sebagai ‘saudara dan saudari’ dengan demikian tidak hanya menyiratkan keharmonisan relasi, tetapi juga kesetaraan di hadapan alam.
Namun dalam perjalanan waktu, hubungan kedekatan, relasi ‘personal’ antara masyarakat komodo dengan komodo sebagai saudari mereka kian renggang. Kerenggangan, lebih tepat disebut sebagai ‘direnggangkan’ disebabkan karena ‘terlalu banyak campur tangan pihak luar’ yang dengan alasan memajukan pariwisata lantas mengabaikan sisi sosiologis-kosmik-kultural masyarakat komodo dengan komodo-nya.
Entah sadar atau tidak, entah tahu atau tidak tahu, sengaja atau tidak, proses mempopulerkan ‘keajaiban’ komodo ke seantero dunia tidak mengikutsertakan sisi kemanusiaan masyarakat di dalam lingkungan Taman Nasional Komodo. Masyarakat komodo dan sekitarnya tidak hanya tidak diperhatikan, tetapi juga secara perlahan ‘dimusnahkan’.
Banyak kalangan, termasuk pemerintah dan investor merasa cukup diri dengan berhenti pada kepedulian secara ekonomi. Padahal pembangunan manusia, dan secara lebih khusus penguatan identitas kemanusiaan masyarakat komodo tidak hanya diukur dengan uang (ekonomi). Dan faktanya, itulah yang terjadi. Masyarakat komodo tidak hanya kalah pamor dari saudarinya sendiri, tetapi secara perlahan mulai dipenggal-penggal dan kemudian digadai dengan uang. Identitas mereka dicerai-berai dengan pedang pariwisata.
***
Suara ibu Gerong dan saudarinya Orah “SBY, Jangan Kau Bunuh Orah”. Andai SBY tahu bagaimana dekatnya hubungan masyarakat komodo dengan komodo, maka sudah barang tentu dia tidak melakukan sebuah kesepakatan ‘bodoh’ dengan Cina. Namun, lantaran kedengkulan berpikir dengan hanya memandang komodo sekedar sebagai cinderamata (dan mungkin juga uang), maka dengan enteng memberi paraf kesepakatan.
Kesepakatan pertukaran yang merupakan bagian dari nota kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dan Cina, yang ditandatangani kedua Negara dalam kunjungan SBY ke Cina pada Maret 2012 itu, (sekalipun tidak terealisasi karena derasnya penolakan) namun, penulis berpikir, merupakan sebuah tindakan yang sangat kejam dari seorang SBY. Sebab SBY tidak hanya telah berusaha melakukan rencana ‘pembunuhan’ terhadap Orah, saudari masyarakat komodo, tetapi juga mencederai sisi sosio-kosmik-kultur masyarakat komodo. Teganya…teganya…teganya
Catatan: Dari berbagai sumber











































