Catatan ini sebagian besarnya adalah reportase imajiner. Namun demikian penulis menyisipkan sebagian kecil fakta. Fakta hasil reportase para kuli tinta, yang penulis sarikan dari berbagai sumber di media massa (Pos Kupang, MetrotvNews, Timorexpress, wartasemesta, dll) Sehingga jadinya campur aduk, kacau balau antara fakta dan fiksi. Antara keduanya ‘baku tindih’. Ke-kacau-balau-an itu setali tiga uang dengan proses pembangunan RSUD Komodo.

***

Taman Nasional Komodo di Manggarai Barat Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan komodo-nya telah menjadi salah satu destinasi pariwisata dunia, lantaran terpilih menjadi salah satu dari tujuh keajaiban alam dunia. Gayung bersambut, Manggarai Barat yang terletak di tepi barat Nusa Nipa (Flores) itu pun kini memiliki posisi penting. Setidaknya kota Labuan Bajo, ibu kota kabupaten ini, turut melambung namanya berubah wajah menjadi semacam gerbang sekaligus etalase pariwisata berkelas (bertaraf internasional).

Pemerintah rupanya cukup cermat membaca peluang itu, sehingga agenda pembangunan yang berorientasi pariwisata digiatkan. Satu kata-kalimat dilepas menjadi agenda utamanya dengan “leading sector pembangunan Manggarai Barat adalah pariwisata”. Destinasi pariwisata lain yang tersebar di Manggarai Barat, selain Taman Nasional Komodo dipromosikan. Salah satunya adalah Batu Cermin yang berjarak dua kilo meter dari kota Labuan Bajo.

Namun, rupa-rupanya upaya promosi pariwisata sebagai sector unggulan tidak ditopang oleh sector-sektor lain yang sesungguhnya (jauh lebih) vital, semisal kebutuhan akan air bersih, suplai pangan lokal dan rumah sakit.

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Komodo Labuan Bajo sudah sedang dibangun. Sampai sekarang sedang dalam proses. Proses pembangunannya serentak dari dalam dan luar lingkup bangunan. Dimana tampak rumput-rumput, semak belukar mulai bangun perlahan. Sebagian akar semak mulai memanjat tembok-temboknya. Sebagian yang lain mulai melubangi celah-celahnya. Tembok-tembok yang tidak rata mulai kembali diratakan secara perlahan, cat-cat putih perlahan mulai dikembalikan ke warna dan bau dasarnya. Warna abu. Bau tanah. Demikian juga besi-besi penopangnya, perlahan dilengkung seperti dahan-dahan pohon tumbang.

“Pembangunan RSUD Komodo telah dilaksanakan dalam 3 tahap dengan menelan dana APBD Kabupaten Manggarai Barat sekitar Rp 6 miliar. Akan tetapi pembangunan tidak tuntas, karena tersendatnya kucuran dana APBD, ditambah lagi mencuatnya sejumlah kasus hukum, seperti kasus dugaan korupsi pembagunan tahap pertama itu”

“Kami berencana akan membangun dan menutupi rumah sakit ini dengan sentuhan design alam yang unik dan khas” jelas Bapak Belukar, kepala tukang RUSD Komodo. “Karena sebagai daerah destinasi pariwisata bertaraf internasional, Labuan Bajo harus menunjukkan kekhasan dan keunikannya. Seperti restoran dan hotel yang tersebar di Labuan Bajo, design-nya bagus-bagus bukan?” kisahnya lebih lanjut.

Kesibukannya tidak hanya tampak di wajah para tukang seperti rumput, semak dan belukar tetapi juga pada lalu lintas ‘kendaraan’ (hewan peliharaan penduduk). Hewan-hewan peliharaan seperti kambing dan sapi setiap hari tampak hilir mudik memuat dan membongkar bahan bangunan (kotoran) di luar dan dalam bangunan setengah jadi itu. “Ini semacam suplemen, agar rumput-rumput dan semak belukar tetap kuat dan bersemangat dalam proses pembangunan gedung. Apalagi sekarang sudah masuk musim panas” kata salah seekor sapi yang beberapa waktu lalu luput dari tabrakan pesawat di bandara komodo.

“Oh itu, itu karena bandara tidak dikandang. Makanya kami satu rombongan masuk. Tapi okelah, itu kisah masa lalu saya. Saya sekarang fokus di sini” katanya “Pun di sekitar bandara sudah bukan wilayah kerja kami. Di sana sudah ada komodo yang menjaganya. Apakah anda tidak melihat patung komodo di depannya yang gagah dan perkasa itu” Lanjutnya dengan tanya.

Menarik memang. Dari kejauhan, calon RSUD yang terletak di Merombok desa Golo Bilas, yang berjarak hanya sepelempar batu dari kota Labuan Bajo itu, tampak hijau dan asri (walau sepi dan mencekam).

“Kita membangunnya dengan menggunakan bahan-bahan lokal dan low cost” kembali ditambah Bapak Belukar. Namun demikian proses pembangunannya membutuhkan waktu yang lama. Salah seorang suster rumah sakit yang biasa dipanggil Suster Ngesot yang ditugaskan oleh alam (baka) untuk memantau perkembangan pembangunan, ketika ditemui penulis, mengatakan bahwa pembangunannya membutuhkan waktu yang lama “Dana yang dikeluarkan oleh pemerintah sudah banyak dan rencananya akan diperbanyak, sampai sebanyak-banyaknya. Sampai muntah darah” jelas suster Ngesot.

Namun, ketika ditanya perihal mengapa proses pembangunannya belum juga tuntas hingga sekarang, Suster Ngesot menjelaskan bahwa ada berbagai hal. Dua hal serius diantaranya adalah ada indikasi korupsi dalam proses pembangunannya dan perubahan design bangunannya.

Perihal indikasi korupsi, sebelum 2011 sudah tericum ada indikasi korupsi. Lantaran itu Sejumlah saksi dan pejabat serta pihak yang terlibat pun dipanggil untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Buntutnya kepala dinas kesehatan dan rekanan pekerjaan proyek itu pun sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Selanjutnya adalah perihal design-nya yang unik dan khas. Perubahan design ini harus sesuai dengan perkembangan pertumbuhan semak belukar, maka membuat prosesnya tersendat “Tergantung musim. Kalau musim hujan, maka rumput, semak dan belukar akan cepat membangunnya, tetapi kalau musim panas, maka proses pengerjaannya akan terhambat”. Katanya.

“Tapi, kita lihat saja prosesnya, apakah sinar matahari yang panas bisa membantu menurunkan batu-batu yang ada di atasnya. Kalau dalam tenggang waktu yang ditetapkan dalam kontrak tidak sesuai target, maka bukan tidak mungkin bangunan ini akan dingesotkan hingga rata dengan tanah” katanya lebih lanjut.

Bukan tidak mungkin hal itu bakal terjadi. Sebab sebelumnya, warga desa Golo Bilas sudah mengancam akan membongkarnya jika proses pembangunannya tidak tuntas.

Sumber:

About these ads