Seorang gadis remaja berwarna kulit eksotik, usianya delapan belas tahun, tubuhnya tinggi, berleher jenjang menopang bulatan wajahnya yang jelita. Gadis Flores Nusa Tenggara Timur itu tampak kian cantik lantaran ber-long dress cantik dengan motif tenun ikat Sikka Maumere. Seorang gadis remaja yang lain, mengenakan baju rajutan, di lehernya melintang selembar tais (selendang) ber-motif tenun ikat Tubaki Atambua. Senyumnya terpancar gembira. Seorang gadis remaja yang lain berkulit bening, kelahiran Kodi Sumba Barat. Remaja 15 tahun itu tidak membiarkan rambut lurusnya jatuh bergerai. Dengan kuncir bermotif kain tenun ikat asal daerahnya, ia satukan helai-an rambutnya.
Ketiganya tidak pernah berjanji untuk bertemu dalam satu panggung pementasan, sebagai idol baru Nusa Tenggara Timur. Ketiganya dihadirkan oleh rasa dan niat untuk menunjukkan identitas mereka. Bahwa mereka punya bakat dan datang dari latar cultural dan social yang kaya pesan dan makna. Dari sana mereka datang untuk menunjukkan kepada dunia, setidaknya di Indonesia, bahwa apa yang sudah sedang mereka hadirkan tidaklah klasik dan apalagi kolot atau ‘kampungan’.
“Bukan berarti Batik tidak bagus, tetapi karena aku dilahirkan di Nusa Tenggara Timur, mengapa tidak aku menunjukkan keunikan dan kekhasan budayaku” jelas Arin, remaja kelahiran Sikka Maumere. “Sama, sudah sejak kecil saya suka dengan motif tenun ikat Timor” tambah Andya, remaja kelahiran Kupang. “Jika bukan kita yang harus menunjukkan siapa kita, lalu mau siapa lagi?” tutup Lola, remaja kelahiran Sumba dengan tanya.
Maaf beribu maaf, kisah yang dirangkum dalam tiga paragraph di atas bukanlah kisah reportase nyata, tetapi sebuah rekaan, imajinasi penulis semata. Penulis hanya mencoba untuk membayangkan perihal kegandruangan remaja-remaja Nusa Tenggara Timur yang begitu jatuh cinta pada tenun ikat daerah asalnya. Bahwa dengan penuh percaya diri dan tanpa malu-malu, remaja-remaja Nusa Tenggara Timur mengenakan kain tenun ikat dalam beragam jenis modifikasi. Mereka tidak hanya mengenakan ketika harus mengikuti kegiatan-kegiatan adat dan budaya, pekerjaan kantoran, keagamaan tetapi juga sampai pada ketika ke pasar, rekreasi, atau pun sedang tidur.
Suatu ketika, penulis mencoba bertanya kepada beberapa orang remaja putri dan kepada yang lain bertanya melalui pesan pendek telephone (SMS), rata-rata menjawab malu, tidak percaya diri dan belum biasa. Bahkan ada yang secara terang-terangan mengatakan “Gak gaul”.
Penulis memaklumi beragam jawaban para sahabat, termasuk beberapa remaja di atas. Alasannya bukan hanya karena tidak pernah untuk dibiasakan atau belum ada yang memulai dan mempromosikan secara serius, tetapi juga yang jauh lebih mendasar adalah lantaran lemahnya pendidikan identitas budaya. Modernitas dan ‘kegaulan’ kian merasuk, sampai-sampai untuk mendefinisikan identitas budaya menjadi kabur. Gawatnya, di satu sisi terhadap sesuatu yang lain, yang baru (walaupun belum tentu buruk) diterima tanpa timbang, dan di sisi yang lain, sesuatu yang melekat sebagai ‘tradisi sehat’ distigma kolot dan kampungan.
Tidak sedikit memang yang berupaya untuk mempromosikan kekhasan dan keunikan budaya Nusa Tenggara Timur, secara khusus pesona tenun ikat-nya. Tetapi ke mana sasar promosi itu di arah tidak pernah menjawab kebutuhan generasi muda Nusa Tenggara Timur. Kebanyakan promotor mempromosikan kekhasan dan keunikan itu ke luar daerah, ke daerah lain sampai ke manca Negara. Lalu kapan ke anak-anak sendiri?
Tidak sedikit memang yang berupaya untuk menyelenggarakan event pementasan seni dan budaya, fashion show tenun ikat Nusa Tenggara Timur. Tetapi di mana dan kepada siapa semua itu dipertonton-tunjukkan? Bisa dihitung dengan jari event-event serupa itu dipertonton-tunjukkan kepada anak-anak sendiri dan di kampung-kampung sendiri. Untuk dibilang terkenal, khas dan unik, maka tidak tanggung-tanggung dipentaskan ke Amerika dan mungkin ke galaksi lain?
Catatan kecil ini sebenarnya adalah mimpi dan juga rindu yang mendalam perihal: Pertama, generasi muda Nusa Tenggara Timur klepek-klepek dengan hasil karya budaya dan adatnya sendiri, setidaknya tenun ikat. Kedua, dan itu dilakukan dengan cara membudayakan (mempromosikan) secara intensif lebih-lebih mulai dari kampung sendiri, kemudian ke kampung tetangga. Ketiga, segenap elemen masyarakat Nusa Tenggara Timur, (termasuk penulis) yang concern dengan ini, harus bersama-sama dengan cara kita masing-masing membantu memperkenalkannya kepada generasi muda, tidak hanya dengan teori tetapi juga dan kesaksian. Kenakan itu (tenun ikat) sebagai kenangan akan budaya sendiri.












































1 Trackbacks / Pingbacks
Petar Segrt Sebut PSSI Suka Ingkar Janji | ligaindonesia.biz Mei 13th, 2012 pada 02:47
[...] Blogpreneur IndonesiaGuru Besar ITB Sebut UN Sesat – sukemoOkto dan Tibo Berangkat ke PalestinaAgar Remaja NTT Klepek-Klepek Dengan Tenun Ikat Daerahnya body.custom-background { background-color: #f6ff09; } .set-header:after{ background-image: [...]