Oleh Lala Chalysta

Apakah jatuh cinta dan kemudian bercerai dan lantaran kecewa seorang dari pasangan itu menjadi pelacur atau gigolo adalah takdir? Apakah putus sekolah selanjutnya mendapat musibah kemudian bangkit dan hidup bergelimang harta adalah takdir? Apakah kekayaan dan kemewahan yang dalam sekejap raib diguncang gempa, lantas jatuh miskin dan mati tanpa nisan adalah takdir? Atau yang selalu diperbincangkan bahwa jodoh ada di tangan Tuhan, sehingga tanpa harus mencari seseorang (pasangan pencinta) itu datang dengan tiba-tiba. Apakah itu juga takdir?

Aku adalah satu dari sekian banyak orang yang tidak pernah percaya pada takdir. Bahwa setiap yang hidup dalam kehidupan sudah digaris-berikan. Bahwa segala sesuatu sudah diberi jawaban oleh Tuhan dan itu pasti. Bahwa tanpa menyertakan proses dan perjuangan manusia sebagai makhluk, segala sesuatu sudah sedang dan akan terjadi.

Bagiku, takdir adalah sebuah keyakinan yang semu dan bahkan me-luncas dari hakikat kehidupan itu sendir. Sebab, takdir bukan hanya membuat orang terlalu sombong untuk mengklaim keberhasilan sebagai anugerah yang tak tergadaikan yang diberikan kepadanya, tetapi juga membuat setiap penderitaan yang dialami (dan menimpa) makhluk hidup sebagai kepasrahan.

“Takdir yang sesungguhnya adalah bahwa kita diberi kehidupan dan dalam kehidupan kita berproses. Kehidupan yang berproses secara bebas namun bertanggungjawab (secara moral kepada Tuhan dan segenap makhluk semesta). Lantas selanjutnya, apa pun hasil dari proses tersebut, baik kegagalan maupun keberhasilan bukanlah takdir”

Yang kaya dan berjabatan akan menyebut dirinya kaya dan ber-ada, yang tampan dan cantik akan menyebut dirinya ‘inilah aku’, yang miskin dan terpinggirkan akan menyebut dirinya ‘inilah jalan hidupku’ demikian juga selanjutnya yang hidup enggan mati tak mau sudah barang tentu menahbiskan dirinya ‘sudah seperti ini, lalu mau bagaimana lagi’

Dengan demikian, bagiku, takdir yang diyakini sebagain orang sebagai ‘anugerah’, bagiku tidak lebih adalah biang dari dosa itu sendiri. Dosa bukan hanya kepada Tuhan yang menganugerahkan kehidupan sebagai medan ‘perjuangan’ tetapi juga dosa terhadap diri sendiri sebagai yang sudah merasa cukup diri menerima keadaan hanya pada satu kemungkinan yang diberi-sajikan kehidupan.

Padahal, bagiku, hidup dan kehidupan memberi-sajikan kepada setiap makhluk kemungkinan-kemungkinan atau lebih tepat disebut sebagai medan jawaban. Hidup dan kehidupan adalah upaya dan proses untuk menjawab kemungkinan-kemungkinan itu dengan cara masing-masing. Dan siapa pun yang percaya bahwa ada ‘takdir’ yang telah diberi-gariskan, memungkinkan kepada kehidupan bagi yang hidup untuk mengabaikan kemungkinan-kemungkinan lain.

About these ads