Lembaran Penelitian dan kajian yang mendalam dari Cypri Jehan Paju Dale dan John Djonga tentang Papua yang akhirnya dibukukan dengan judul “Paradoks Papua, Pola-Pola Ketidakadilan Sosial, Pelanggaran Hak Atas Pembangunan dan Kegagalan Kebijakan Afirmatif dengan Fokus di Kabupaten Keerom” (Sunspirit/YTHP/Foker LSM Papua, 2011) sudah berulang dibahas-seminar, pun sudah ada yang mengomentarinya. Salah satu diantaranya adalah Steph Tupeng Witin, SVD, alumnus Magister Jurnalistik IISIP Jakarta dalam Koran Jakarta yang berjudul ‘Ziarah Intelektual Ke Papua’ (Selasa, 27 Maret 2012).

Lantaran itu, saya pikir saya cukup diri untuk tidak mengomentari isinya. Walaupun sebenarnya untuk membahasnya sudah barang tentu akan melahirkan komentar yang selalu menarik. Apalagi kajian ini tentang Papua. Tentang kehidupan yang belum benar tenang. Relevansinya pasti aktual, dan jika hendak disbanding-bandingkan dengan kabupaten dan atau kota lain di Papua, maka lembaran kajian itu menarik untuk dijadikan referensi galian-studi lebih lanjut.

Sebab, membaca ‘Paradoks Papua’ siapa pun, lebih-lebih ‘pembaca’ (pembaca dan peneliti tentang) Papua akan disuguhi pertanyaan yang tentu saja menggelitik “Apakah akan ditemukan Pola-Pola Ketidakadilan Sosial, Pelanggaran Hak Atas Pembangunan dan Kegagalan Kebijakan Afirmatif di kabupaten lain di Papua, selain di Keerom?”

Jawabannya, antara ya dan tidak. Dan itu bukan kapasitas saya. Saya bukan seorang peneliti, apalagi ahli Papua. Saya hanya tukang catat, tukang tulis yang belum tentu dimengerti apalagi masuk akal untuk dipahami. Jika ada remah-remah kata yang tersisa dari ucapan orang, atau percikan warna dari warna dibiaskan peristiwa maka saya akan mencoba memungutnya dan menuliskannya. Semboyan catatan saya jelas “Mencacat yang terhempas dan menulis yang terbuang”

Well, dari buku ‘Paradoks Papua’ belum ada yang menulis dengan agak nakal tentang foto-foto ilustrasi di dalamnya. Walau pun belum tentu mengena-sapa, maka dengan agak berani (sedikit nekat) catatan kecil ini mencoba untuk merabanya. (Walau) Namun satu yang pasti, foto utama yang pada ‘Paradoks Papua’ dipilih menjadi cover buku, oleh penulisnya sendiri, Cypri Jehan Paju Dale mengatakan “Foto ini menunjukkan secara jelas tentang ketidakadilan dan diskriminasi terhadap orang asli Papua”.

Saya mengangguk. Betapa tidak. Foto monumen itu menarasikan tentang orang-orang asli Papua menggotong mangkuk besar berwarna emas, yang di dalamnya terdapat seorang tentara yang lengkap dengan senjata dan sebilah bamboo runcing yang pada ujungnya terikat bendera merah putih. Pertanyaanya, apa maksud patung/monumen ini? Yang paling santun untuk diterjemahkan tentu saja adalah orang asli Papua harus mendukung tentara dalam menjaga perdamaian.

Tetapi mengapa harus ada yang dipikul dan yang lain memikul. Mengapa orang asli Papua menggotong tentara? Apakah tentara adalah ‘segalanya’ bagi orang asli Papua, sehingga harus digotong seperti seorang raja. Sampai-sampai dalam kata pengantar ‘Paradoks Papua’ Cypri Jehan Paju Dale mengajukan tanya “Indonesia-kah yang di atas itu Aparat keamanan dan POLRI-kah? Papua-kah yang di bawah itu? Orang asli Papua atau semua penduduk di tanah Papua?

Bagi saya monumen yang sepertinya menjadi ‘ikon’ kota Jayapura itu bukan hanya merupakan bentuk penindasan yang sengaja untuk dibuat-pertontonkan, tetapi juga merupakan perendahan terhadap harkat dan martabat manusia orang asli Papua. Terlepas dari apakah tentara patung itu adalah asli Papua atau tidak.

Potret kedua dalam ‘Paradoks Papua’ yang bikin ‘gemes’ adalah foto ilustrasi pada halaman 21 yakni sebuah foto monument di DENZIPUR 10 KODAM XVII/CENDRAWASIH, Wamena, Jayapura. Menjadi keterangan atas foto itu sang penulis menulis dengan tanya “Sebuah perpaduan pembangunan dan militer?”

Sebuah monumen atau patung tank tentara dengan moncong rudalnya diganti oleh lengan buldoser. Tahukah anda, buldoser digunakan untuk apa? Jika bukan untuk meroboh-gusurkan tanah, membongkar cadas dan batu, merobohkan rumah jika ada penggusuran maka tentu saja menumbangkan pohon-pohon dan memporak-porandakan hutan. Buldoser bukan untuk pembangunan, tetapi untuk penghancuran. Buldoser tidak dapat membangun apa-apa, tetapi jika untuk meruntuhkan boleh jadi.

Pantung atau monumen itu menjelaskan dengan amat jelas tentang ‘ideologi’ pembangunan di tanah Papua. Kata-kalimat agung ‘Pembangunan’ di Papua sesungguhnya adalah semu. Seperti singa berbulu domba, serupa itu tank bermoncong buldoser. Pembangunan yang diagung-dengungkan sesungguhnya jauh panggang dari api. Jika anda membaca ‘Paradoks Papua’ anda akan menjadi tahu bahwa orang asli Papua sesungguhnya hanya mendapat ‘ampas’ dari kue pembangunan itu sendiri.

Tidak hanya itu, justru sebaliknya, seperti sudah jatuh tertimpa tangga, orang asli Papua justru dipinggirkan, hak-hak mereka atas pembangunan dikerdilkan bahkan ‘ditumpas’. Mereka tidak hanya tidak kebagian akses jalan, tetapi juga tidak kebagian tenaga medis dan gedung sekolah yang memadai.

Data dalam ‘Paradoks Papua’ menunjukkan komposisi penududuk Papua dan Non-Papua di setiap distrik di kabupaten Keerom tak berbanding bahkan penduduk asli Papua perlahan berkurang (sudah ditulis TabloidJubi online). Tampak jelas bahwa  konsentrasi penduduk non-Papua berpusat hanya di Arso (69%) dan Skanto (87%) yang jaraknya hanya sepelemparnya batu dari kota Jayapura. Sementara itu penduduk asli Papua terkonsentrasi di Towe (mencapai 99%) yang notabene jauh dari Jayapura sebagai kota Propinsi dan Arso sebagai kota Kabupaten.

Di Towe, hanya terdapat Sekolah Dasar, pendidikan lanjutannya kosong. Demikian juga dengan listrik dan jalan raya. Listrik dan akses jalan di Towe bukan hanya tidak memadai (jalan) tetapi juga tidak ada (listrik). Inikah pembangunan?

Bukti teranyar. Berita Foto Kompas, Senin, 30 April 2012, menjelaskan itu secara terang. Bayangkan, dalam sebuah honai (rumah adat Papua), seperti di atas tebaran jerami, tiga pelajar: Selinus Haluk, Kelitus Wetipo dan Patris Lany bentangkan lembaran catatan. Ketiganya belajar hanya diterangi sinar lilin. Hanya itu. Tidak hanya tanpa listrik, pun tak bermeja dan kursi. Namun, ketiganya tampak serius, khusus menunduk melumat halaman-halaman catatan masing-masing. Itu baru kisah dari Kampung Wouma, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua yang kebetulan dijepret Agus Susanto (wartawan Kompas), belum lagi di tempat lain. Ngeri.

Foto ketiga dan ini adalah foto terakhir yang harus saya komentari. Karena hemat saya, ini penting. Foto yang saya maksud adalah bukan foto orang, bukan pula monumen tetapi foto logo FOKER LSM PAPUA yang ada di cover belakang buku. Foto ini menggelitik saya, karena menampilkan gambar logo semacam ‘’siput’’ (saya pikir pasti punya nama khas Papua, hanya saya tidak tahu apa namanya) dan di-design dengan warna hitam putih.

Menyuluk-pandang foto logo FOKER LSMS PAPUA saya jadi membayangkan jika ‘siput’ itu berjenis Hinea Brasiliana, (bukan siput Felle makanan khas orang Sentani hehe). Hinea Brasiliana adalah sejenis siput yang mengeluarkan cahaya dari cangkangnya. Cahaya yang dikeluarkan Hinea Brasiliana dipancarkan secara tiba tiba dan akan membuat pemangsanya terkejut. ini membuat siput memiliki waktu untuk masuk bersembunyi kedalam cangkang.

Keunikan spesies ini diselidiki oleh dua ilmuwan dari Scripps Institution of Oceanography di UC San Diego, Dimitri Deheyn dan Nerida Wilson. Melalui penelitian mereka, para peneliti menemukan bahwa cara Hinea Brasiliana memancarkan cahaya hijau dengan cara yang unik ketika berhadapan dengan predator adalah seperti kepiting dan udang saat berenang. Wilson mengatakan, “Hal ini sangat jarang siput dasar laut mengeluarkan cahaya. lebih mengejutkan ketika mengetahui siput ini dapat menggunakan shell untuk mengoptimalkan cahaya yang mereka hasilkan”

Paragraf penutup saya adalah satu, semua foto monument dan atau apa pun yang tampak dan baca adalah foto. Masih begitu banyak yang tak tampak dan tak terbaca untuk melihat Papua secara lebih jelas. Jika siapa pun tidak dapat melihatnya untuk dikaji, diimplementasikan, dikembangkan demi dan untuk ‘Papua Tanah Damai’ maka seharusnya FOKER LSM PAPUA bersama semua elemen (dan secara khusus saya menawarkan Gereja setempat)  untuk menjadi terang dalam kegelapan ‘perjuangan’ menuju Papua Tanah Damai. FOKER LSM PAPUA harus menjadi lebih ‘Hinea Brasiliana’. Lebih terang, lebih bercahaya. Salam dan semoga.

About these ads