Tahun 1999, ketika menjalani masa ‘’live in’’ selama dua minggu di pusat Rekreasi dan Rehabilitasi Anak Cacat dan Orang Kusta St. Damian Binongko Labuan Bajo Manggarai Barat, Pantai Pede dan Pantai Binongko masih jauh dari ramai.
Pantai Pede yang terletak di sebelah selatan Labuan Bajo, pada ketika itu masih sesak dengan belukar. Pasir putihnya masih terjaga. Lautnya pun masih jernih. Demikian juga Pantai Binongko yang di sebelah utara. Di bawah belukar bakau yang rimbun-rindang, bersama belasan anak cacat dan orang kusta, kami berenang dan menyelam. Sesekali kami mengayuh sampan. Tampak dari permukaan laut yang tenang hamparan terumbu karang, rumah ikan, rumput laut, koloni makhluk ‘tak kenal nama’ bermain gembira. Sungguh sangat manjakan mata.
Dua belas tahun kemudian, 2011, (tentu saja bukan waktu yang singkat) Pantai Pede bukan lagi menjadi tempat yang asyik. Sekalipun sekarang, Pantai Pede telah ditata menjadi ruang public dan taman rekreasi, pantai berpasir putih itu berubah kadi cokelat dan nyaris kehilangan keindahannya. Ketika pasang tiba, selat yang tenang itu menampakkan “keindahannya”. Namun, ketika beranjak surut, mata yang memandang pun terbelalak. Sampah plastic, sampah kain dan pakaian bekas serta potongan kayu bertebaran memenuhi pesisirnya.
“Jorok sekali ini pantai” kata seorang wisawatan (baca:pengunjung) lokal. Namun tidak lama berselang, walau masih mengumpat, ia benamkan diri di antara sampah. Istri dan anak-anaknya turut serta, bersama puluhan pengunjung yang lain. “Mau di mana lagi kita mandi laut, kita bukan bule yang kaya, mereka bisa mandi di (pulau) Bidadari atau di pulau-pulau itu (menunjuk kea rah laut), tapi kita terpaksa mandi di sini” katanya lebih lanjut.
Jauh lebih ‘jorok’ dari Pantai Pede, Pantai Binongko bukan hanya telah kehilangan keindahannya, tetapi telah menjadi ‘tempat sampah’. “Laut sudah tidak sehat, ini pantai sudah tidak bisa dijadikan sebagai tempat rehabilitasi saya punya anak-anak” kata Suster Virgula SSPS, (mantan) kepala pusat rekreasi dan rehabilitasi anak cacat dan orang kusta St. Damian Binongko beberapa saat sebelum kembali ke Jerman. “Karena saya melihat sudah tidak beres dengan ini pantai, maka saya mulai bikin kolam renang air laut untuk mereka (anak cacat dan orang kusta”. Jelasnya.
Lalu, Ini ‘dosa’ Siapa?
Pantai Pede dan Pantai Binongko adalah dua selat berpesisir pantai putih yang indah. Dipadu laut yang tenang dan dangkal, tidak jarang (dan bahkan kian ramai) penduduk lokal di sekitar Labuan Bajo mengunjunginya. Jika bukan untuk ‘bakar-bakar ikan’ (rekreasi) maka sudah barang tentu untuk memotret-rekam sunset.
Namun, sampah yang merusak pemandangan dan membuat keruh jernih laut menjadi masalah tersendiri. Ini ‘dosa’ siapa? Jawabannya adalah ‘dosa’ pemerintah dan hampir ‘segenap’ penduduk Labuan Bajo.
Pertama, Labuan Bajo bukan kota yang rata. Kotanya mengikuti tekstur tanah yang berbukit-gunung. Ketika musim penghujan tiba, banyak sampah sudah barang tentu dihanyut arus menuju Laut. Itu pun kalau sampai ke laut, jika tidak, maka akan tersendat di tikungan sungai berawa. Salah satunya adalah di Jembatan Wa’e Kemiri Labuan Bajo. Banyak sampah plastic mengambang di atas rawa. Kedua, Pemerintah rupa-rupanya sudah berusaha terjaga. Tempat sampah berwarna ‘merah-hijau’ sudah tampak memenuhi jalan dan tikungan. Namun, lantaran tidak dibarengi dengan ketegasan, maka tempat sampah akhirnya menjadi sampah itu sendiri.
Ketiga, Kata salah seorang anggota DPR Manggarai Barat (of the record) “Labuan Bajo sebenarnya belum siap menjadi kota pariwisata, kalau pun sudah terlanjur, masyarakatnya tidak didorong untuk siap. Salah satu faktanya, belum ada kesadaran untuk menjaga kota ini menjadi kota yang indah untuk dipandang. Banyak sampah bertumpukan di mana-mana” keluhnya “Labuan Bajo, Keajaiban yang Aneh”. Katanya dengan sinis.
Keempat, Penduduk di sekitar Pesisir Kota Labuan Bajo terbilang padat. Hamparan perumahan, hotel, restoran, kedai, kantor, pasar berapat-tumpuk memadati ruang antara Kampung Ujung sampai Jembatan Wa’e Kemiri-Pede. Sampai-sampai serupa ada rumah di atas rumah. Sehingga nyaris tidak kebagian tempat sampah dan kamar wc. Padat dan sumpek. Satu-satunya solusi ‘pembuangan akhir’ sepertinya hanya laut.
Kelima, bicara tentang sampah di Labuan Bajo adalah kompleks. Dan karena itu, kesalahannya bukan hanya diletakkan pada pundak pemerintah atau penduduk pesisir pantai. Tetapi pada segenap warga, semua orang, siapa pun, termasuk saya.
Akhirulkallam
Merindu Pantai Pede yang dulu, mengingini Pantai Binongko yang lalu. Seperti sebelum tahun 1999. Agar kembali berenang bersama ikan, bukan bersama sampah. Solusinya tunggal bersama-sama ‘sadar lingkungan’ dengan memulai dari diri sendiri untuk tidak membuang sampah sembarangan.












































