Semuanya berjilbab, anggun dan cantik. Delapan belas perempuan Aceh itu duduk berapat-rapat, mereka melepas kata tentang orang-orang, situasi-situasi, tempat-tempat, hasrat-hasrat, kehendak, kematian dan Tuhan. Di antara mereka, di sudut kamar itu, aku hadir mencoba menjadi seorang pendengar (red. Pembaca). Namun sebelumnya, aku bertanya sambil meminta izin, ‘’Boleh bergabung, mendengarkan semua kisah-kisah itu. Sebab aku ingin mengenal tempat-tempat di Aceh dari mulut perempuan?” pintaku. Seorang dari delapan belas perempuan itu menjawab “Lampion ini cukup untuk menerangi kita semua, termasuk Cutbang”
“Di balik bola matamu yang bergerak sambil berlari//tersimpan sejemput asa dan kata bermakna//walau tak pernah kau ucapkan kalimat cinta//namun, kutahu akulah yang kau cari dan damba// di balik sinar wajahmu yang keputihan//pancaran gelombang magnet menembus sanubariku//Hati, jiwa sampai ke perasaan terdalam// semoga kau tahu Cutbang…bahwa cintaku padamu//ada pancaran cinta ilahi” sambung Cut Januarita, salah seorang dari mereka.
Seperti berbalas sajak, aku menyambung “Bukan cintamu membawaku kemari// Pun bukan rindu yang mengantarku ke sini//tetapi nyala Lampion yang kau sulut//walau redup katamu//sungguh membuatku ingin tahu”
Mendengar itu, tidak hanya aku, kami semua tertawa. Kemudian kami larut dalam kata. Kata-kata tentang tempat-tempat dan situasinya. Tentang itu dari delapan belas perempuan Aceh itu punya kisah. Kisah yang menyentuh rasa, berkenang, menyisahkan rindu, pun tak luput meresahkan, menyakitkan dan trauma.
Adalah Siti Aisyah, perempuan kelahiran Meulaboh Aceh Barat yang mengawali kata-kata itu. Kepadaku, perempuan yang juga turut menjadi korban tsunami, 26 Desember 2004 ini memperkenalkan tentang kesan dan pesan dari tempat dan situasi di Aceh Barat dan Selatan.
Tentang Lhok Geudong, Siti Aisyah menuturkan tentang hasrat untuk kembali, tentang rindu. Tentang Pantai Ujung Karang Meulaboh, perempuan kelahiran 20 Desember 1972 itu melukiskan tentang keindahan senja. Tentang Lamainong, perempuan yang punya nama kecil Tessa ini mengishkan tentang cinta anak perawan, dan tentang Beutong Nagan Raya, perempuan yang suka bersyair ini menuturkan tentang air mata. Katanya tentang Beutong “Di antara gelutan angin gunung//kau masih bisa tersenyum//luka yang menganga//beutongku resah//betongku susah”
Siti Aisyah adalah satu dari delapan belas perempuan Aceh yang mengisahkan tentang tempat-tempat di Aceh sebelum tsunami melanda Nanggroe Aceh Darusallam. Sementara itu, pasca-tsunami dua perempuan lain, yakni Rosni Idham dan Hayati melukiskan itu dengan menarik. Rosni Idham, perempuan kelahiran Sawang Manee Nagan Raya, melukiskan Meulaboh yang luluh lantak akibat tsunami. Katanya “Kita pernah berbaring di bibirnya….kita pernah rebah di dadanya…kita pernah larut dalam dekapnya…kita pernah menangis di pucuk gelombangnya…kita pernah meraung dalam gelombang ganas menggulung….laut adalah kita//adalah guru yang memberi pelajaran berharga”
Selanjutnya Hayati, merindu keindahan dan keramaian Pantai Lhong kembali “jelang jelajah di hari selasa//menohok kabut temaram rasa//berliku jalan meliuk-liuk//kerap terlihat alammu tersenyum//Alhamdulillah…indahnya//jika tiada sentuhan duka//sempurna karunia//merambah alam pantai Lhong”
Hendak kudengar banyak kisah tentang tempat-tempat berkenang dari mulut delapan belas perumpuan itu. Tetapi, di sudut kamar itu, waktuku rupa-rupanya tidak cukup. Aku terlalu larut dalam kenangan dan kesedihan. Kata-kata mereka serupa nyala lampion, teduh dan merasa.
Menutup kisah tentang tempat-tempat, satu dari antara mereka, Wina Swi, mengantarkanku pergi dengan ‘Lampion’, tuturnya lembut “menyala ia sebelum sadar//menyentuhku//aku terbakar gelap//kertas-kertas jingga//batas nyala dan redup//mengasaplah aku//di antara pemuja kehilangan Tuhannya”. Sejenak aku berpaling, kemudian pergi. Kecantikan mereka, jilbab-jilbab jingganya, kata-katanya, membekas dalam kenangku.
Catatan:
- Catatan kecil ini adalah dialog imajiner penulis dengan para puisi penyair perempuan Aceh.
- Delapan belas perempuan yang dimaksud dalam catatan kecil di atas adalah penyair-penyair perempuan Aceh yang terekam dalam buku kumpulan puisi mereka, yang di-kumpul-edit oleh Sulaiman Tripa. Oleh sang editor kumpulan puisi itu diberi judul ‘Lampion’ (Lapena, 2007). Kutiban-kutiban Sajak di atas dikutib dari buku yang sama.
- Kedelapan belas penyair perempuan Aceh tersebut adalah adalah Armiati Langsa, Cut Januarita, Debra H. Yatim, Diana Roswota, Dhe’na, D. Kemalawati, Ernita Kahar, Faridha, Faridah Roni, Hayati, Rosni Idham, Rianda, Rita Dahlia, Siti Aisyah, Sitti Zainom Ismail, Ulis Zuska, Wina Swl, Yanimar W. Yusuf, Yenni Agustina










































