Di sudut kamar yang tidak seberapa luas, duduk berapat-rapat puluhan penulis dan pengarang yang datang entah dari mana. Mereka tidak hanya membawa kata, tetapi juga pesan. Katanya beragam, pun bervaria pesan. Ada yang menyengat rasa, menghentak dan pedas. Ada yang biasa-biasa. Sebagian yang lainnya elok dicerna, namun pada saat yang sama butuh energi untuk membedahnya.
Kujumpa pertama adalah Seno Gumira Ajidarma, kebetulan penulis ‘Trilogi Insiden’ (Timor-Timur) ini duduk di barisan paling depan. Di sudut kamar itu, dia membawa sekumpulan kata yang diberinya judul ‘Kisah Mata’ (Galang Press, 2002). Kisah Mata, katanya adalah sebuah produk tesis strata duanya pada Universitas Indonesia. Menariknya tentang tesis itu, ini menurut pengakuannya sendiri, bahwa dikemas ‘pura-pura ilmiah’. Tapi anda (pembaca) jangan percaya apa katanya. Seno memang begitu. Di kalangan penulis/pengarang di negeri ini, bagiku, Seno adalah produk unik-kreatif. Mengertinya butuh energi. Memahaminya butuh tenaga.
Hendak aku berbicara panjang lebar bersama Seno tentang ‘Kisah Mata’-nya. Tetapi mataku tiba-tiba berpaling ke sudut yang lain. Seorang putra Pekalongan, Gerge Junus Aditjondro mengangkat jari-jarinya, sambil geleng-geleng kepala dan memekik “Sungguh ironis, di satu sisi SBY meneriakkan anti KKN, tapi di sisi lain, keluarga besarnya malah membuat jejaring yang justru berpotensi membunuh suburkan virus KKN’.
Sumpah mati. Sederetan penulis yang lain, yang berhimpit-himpit di sekitarnya terperanjat. Ada yang merasa terbantu sementara yang lain tersiksa. Mengapa tidak, perihal korupsi berjejaring itu harus dibongkar. Katanya bukan tanpa fakta, Aditjondro membeber-sodorkan dalam ‘Membongkar Gurita Cikeas, Di Balik Skandal Bank Century” (Gakang Press, 2010). Kata-kata pedasnya yang dikemas dalam seratus delapan puluh tiga halaman itu laris manis dilahap pembaca baik yang setuju maupun yang tidak.
Kembali aku memandang Seno, dia tersenyum. Rupa-rupanya, dia tersenyum lantaran pekikan Aditjondro mengagetkan ruang senyap penulis tanah air. Dengan agak simbolik, walaupun sebenarnya apa yang hendak dikomentarinya tentang pekikan Aditjondro adalah ringkas-simpul ‘Saksi Mata’-nya bahwa ‘‘Memandang sebuah foto, artinya memandang melalui mata seorang fotografer. Tak pelak, seorang fotografer adalah seorang pengembara dalam semesta penampakan. Berjalan, memandang dan memotret. Sedangkan kita hanya tinggal membuka mata di depan foto untuk melihat pemandangan yang sama. Msalahnya, seberapa jauhkah para pemandang foto ini akan melihat juga segala sesuatu yang dilihat sang fotografer? Tepatnya, seberapa jauh mata kita terbuka, meskipun mata kita nyata-nyata ada di depan kita? Rupa-rupanya, mata yang terbuka saja belum cukup untuk memadang dunia. Seperti para fotografer, para pemandang foto pun harus berangkat mengembara dalam semesta penampakan itu, dan membingkai penampakannya sendiri”
Mendengar ‘ceramah’ singkat Seno, aku jadi mengerti sekarang. Apa yang sudah sedang dikemas-sodorkan Aditjondro dalam dan melalui ‘Membongkar Gurita Cikeas’nya adalah cara lain memandang realitas. Pada subjek yang sama yang disebut ‘korupsi’, Aditjondro memotret dalam dan melalui kata-kata. Dan kita yang menadang (pembaca) diminta turut serta dalam pengembaraan itu selanjutnya membingkainya entah sebagai apa, satu diantaranya adalah ‘bongkar’.
Rupa-rupanya, demikian maksud Seno menjelaskan ‘Kisah Mata’-nya kepadaku di sudut ruang itu. Walaupun yang dimaksudkan Seno mungkin lebih jauh dari pada itu, yakni soal dunia folosophi dari fotografi itu sendiri. Dan tentang itu, mesti dan harus mendengarkan dengan serius apa yang dikatakan Seno dalam seratus enam puluh ‘Kisah Mata’-nya.
Catatan: Tulisan kecil ini sebenarnya adalah sebuah dialog imajiner antara aku dan buku-buku yang tertumpuk di sudut kamarku.










































