Seratus lima puluh senandung Daud kusuluk. Tak hanya keindahan yang menyembul, tidak hanya rasa yang bergetar. Tulang-tulangku seperti mental dari sendi-sendi yang diikat urat. Tubuhku larut luluh bagai lilin dijilat pijar panas. Aku bagai hampa. Kosong. Karena yang disuguhkan adalah seratus lima puluh teguran. Seratus lima puluh nasehat. Seratus lima puluh sujud yang memaksaku harus bertekuk lutut di bawah ketidaksempurnaan.
Terlalu banyak salah yang kuperbuat. Terlalu banyak sesal yang kuingakari. Memetik dawai sepuluh tali, menabuh rebana dilatari tari putri-putri Sion aku tak kuasa. Di hadapanku bagai berdiri palu-palu yang kapan saja bisa jatuhkan vonis. Sebuah penghakiman yang membuatku ngeri. Tapi aku tak dapat lari.
Lalu siapakah mereka yang pantas memetik dawai sepuluh tali, menabuh rebana dan mekarkan puisi untuk senandungkan semua syair-syair Daud. Dari seratus lima puluh yang kusuluk, kepadaku diberi sepuluh kalimat penunjuk tentang sepuluh penyair. Sepuluh penyair yang tidak hanya bertutur kata jujur dan tulus, tetapi juga bersikap tabiat benar bermartabat.
Sepuluh penyair yang tidak hanya pandai memainkan dawai dan menabuh rebana, tetapi juga sanggup menjaga irama-iramanya menjadi kekuatan dan gerakan pendorong perubahan dalam kehidupan. Sepuluh penyair yang tidak membohongi diri, menuliskan syair sebagaimana yang dikatakan hati. Sepuluh penyair yang tidak pernah mementingkan diri, tetapi sebaliknya dalam relasi membagi cinta kasih. Sepuluh penyair itu adalah:
Penyair pertama, penyair yang berlaku tidak tercela.
Penyair kedua adalah penyair yang adil.
Penyair ketiga adalah penyair yang mengatakan kebenaran dengan segenap hati.
Penyair keempat adalah penyair yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya.
Penyair kelima adalah penyair yang tidak berbuat jahat kepada temannya.
Penyair keenam adalah penyair yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya.
Penyair ketujuh adalah penyair yang memuliakan orang yang takut akan-Nya.
Penyair kedelapan adalah penyair yang berpegang pada sumpah walaupun rugi
Penyair kesembilan adalah penyair yang tidak meminjamkan uang dengan makan riba dan
Penyair kesepuluh adalah penyair yang tidak menerima suap melawan orang yang bersalah.
Inilah sepuluh penyair yang diterima dalam kemah kehidupan-Nya, yang oleh Sang Kata pantas menjadi penyair-Nya. Sepuluh penyair di atas adalah para penyair yang menyair dengan dan dalam kesaksian. Panggung pementasan mereka dalah kehidupan yang sesungguhnya. Dan, jauh dari sekedar kata dan irama, para penyair yang demikian akan menjadikan kesahariannya sebagai sajak, lagu dan atau madah keadilan, kebenaran, kerendahan hati, ketulusan dan iman kepada Allah.
Keindahan syair yang diminta Sang Kata, bukan pada kata-kata, tetapi pada kata yang menjelma dalam keseharian hidup. Penyair dan menyair dengan demikian jelas berarti hidup rendah hati, jujur, tidak menyebar fitnah, tidak berbohong, tidak mencari kambing hitam, jauh dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Penyair dan meyair tidak ingkar janji dan apalagi bersumpah palsu. Penyair dan menyair adalah menjadikan Sang Kata sebagai inspirasi dalam kata dan kehidupan.
Catatan: Inspirasi tulisan ini adalah Kitab Mazmur










































