Apa yang menarik dari sebuah ‘kata’, jika kita hendak memperbincangkannya? Tentu saja jawabannya tunggal, yakni menyoal makna atas ‘kata’ yang bersangkutan. Tentang kata ‘cinta’ misalnya, tidak menarik untuk dibahas jika tidak menyembulkan beragam makna. Salah satu misalnya berkaitan dengan cinta sebagai hakikat kehidupan, atau cinta dalam pemaknaan yang lebih elok-erotik semisal cinta itu buta. Hal yang sama adalah pada kata ‘mati’. Ia menjadi menarik untuk diperbincangkan lantaran makna kata ‘mati’ yang jika tak sanggup untuk menelisiknya bisa menggetarkan eksistensi ‘hidup’ kehidupan.
Demikianlah rahasia terdalam dari kata dan atau kata-kata. Berpetualang dalam rimbanya, kita tidak hanya akan berjumpa dengan rimbunan kata yang dibentuk berbentuk rupa, tetapi juga suasana atau situasi dimana kita diminta untuk mencecap-rasa-nya sehingga menjadi bermakna.
Memaknai sebuah kata dan atau kata-kata dengan demikian adalah upaya dan juga proses penafsiran, yang dalam ruang dan medium penafsiran kita menempatkan kata subagai sentra atau subjek. Sebuah penafsiran yang bisa saja menurut kita tidak bermakna apa-apa, namun kadang memberi makna untuk sesuatu yang tertentu. Atau memang sangat bermakna, namun menjadi hambar bagi yang lain. Dalam ruang dan tanur penafsiran kata dicerna-lebur untuk ditemu-jumpakan maknanya. Walau sesungguhnya dalam ruang tersebut pemaknaan atas kata adalah jamak.
Untuk sampai kepada keputusan bahwa sebuah kata atau kata-kata itu bermakna atau tidak, tidak cukup kita menempatkan diri kita sebagai sekedar seorang pembaca. Tetapi jauh dari sekedar sebagai pembaca, kita harus bersedia menjadi pemakna.
Menjadi seorang pembaca, kita dengan sadar atau tidak hanya menempatkan diri kita sekedar sebagai penerima informasi. Kita, sekalipun masuk ke dalam rimbunan kata, kita berusaha untuk tetap mengambil jarak bahwa apa yang terbaca serupa itulah maknanya. Seorang pembaca dengan demikian adalah seseorang yang hanya mengetahui tentang sesuatu yang terpantul dalam kata atau kata-kata, tetapi tidak berusaha untuk menyelami makna atas sesuatu tersebut.
Namun, selanjutnya, menjadi pemakna adalah petualang kata yang sesungguhnya. Seorang pemakna tidak hanya seorang pembaca, tetapi juga penafsir. Terhadap kata dan atau kata-kata, ia membangun komunikasi, dialog. Bangunan komunikasi dan dialog bagi seorang pemakna bukan hanya berhenti pada kata (teks), tetapi juga turut suluk dalam situasi dan suasana bahkan sejarah (konteks) dimana kata itu tercipta bentuk.
Pun, tidak hanya itu, seorang pemakna adalah mereka yang membiarkan kata yang terbaca dibiarkan bebas untuk mendefinisikan dirinya, tanpa melakukan pembakuan dan apalagi pengklaiman bahwa makna atas kata yang terbaca adalah tunggal.











































