Bre Redana dalam topik ‘Komodifikasi Diri’ di bawah judul ‘Dia di Teater Simulakra’ dalam rubrik Kehidupan, Kompas edisi Minggu, 11 Desember 2011 melihat Mall sebagai sebuah panggung teater untuk ‘Fashion’ kaum perempuan. Menurut Redana, Mall adalah panggung teater yang paling menarik dimana berlangsung terus menerus tak putus-putus penuh interaksi antara yang ditonton dan menonton. Di sana siapa pun melihat, ‘fashion’ sebagai penanda diri sudah tidak lagi terbatas pada pakaian, tetapi juga tubuh yang telah termodifikasi. Sebuah pemeranan yang total. Demikian kata Redana.
Sebagai sebuah panggung teater untuk ‘Fahsion’ dengan demikian Mall memang tidak terbantahkan. Di sana ditampil-tontonkan tentang atribut dan kostum perempuan. Namun, di sana kita menangkap pesan (hanya) sekadar sebagai etalase atas atribut-atribut itu. Jika lebih, imaji kita akan menangkap tentang ‘tubuh perempuan yang termodifikasi’. Imaji kita hanya berhenti di situ.
Menurut hemat penulis, panggung teater yang sesungguhnya adalah tubuh perempuan itu sendiri. Tulisan kecil ini, tidak bermaksud untuk mementahkan ‘amatan’ Redana tentang kehidupan perempuan di tengah gerak modernitas. Tetapi memberi catatan lain, sekaligus menegaskan siapa sesungguhnya perempuan di tengah gerak arus tersebut. Jika dikemas dengan tanya, penulis sebenarnya mau menjawab secuil tanya ‘Apakah itu tubuh perempuan di tengah arus gerak modernitas?’
Sesuatu di tubuh perempuan dari ujung kuku kaki hingga rambut di ubun-ubun adalah pelaku. Sesuatu yang vital yang menampilkan sisi sensualitasnya adalah pemeran utama. Sebagian yang lainnya adalah figuran. Semakin kuat paduan keindahan dan feminitas yang ditampilkan seorang perempuan dalam dan melalui kostum yang dilekatkan pada tubuhnya, atau meminjam istilah Bre Redana semakin ‘tubuh perempuan itu termodifikasi’ akan semakin kuat pesan yang mau disampaikan dalam alur ceritanya.
Tubuh perempuan dengan demikian adalah panggungnya. Dalam dan melalui panggung itu kita menangkap pesan yang mau disampaikan dalam tetater yang berjudul ‘Tubuh Perempuan’. Siapakah perempuan, sejauh dilihat-dimaknai dalam dan melalui tubuhnya yang termodifikasi atribut-atribut konstum dan asesoris seperti itulah tubuh perempuan.
Belakangan ‘tubuh perempuan’ sebagai panggung teater ditampil-tontonkan, dengan menampilkan ‘Payudara’ sebagai pelaku utama. Belakangan, ketika semua produsen pakaian dalam seperti ‘Victoria Secret’ menjadikan model perempuan berpayudara besar sebagai panggungnya. Selanjutnya produk-produk ‘tubuh (baca: payudara) termodifikasi’ itu dilemparkan ke etalase-etalase Mall dan butik untuk ditampil-tontonkan, HEMA, sebuah department store asal Belanda justru menampil-tontonkan modifikasinya untuk ‘tubuh perempuan’ yang tidak berpayudara besar atau bahkan tidak memiliki jaringan payudara di dadanya.
Tidak tanggung-tanggung, demi menjadikan ‘tubuh perempuan’ sebagai panggung, HEMA menganggendeng seorang model pria kelahiran Serbia berusia 20 tahun bernama Andrej Pejic untuk menampilkan push-up bra produknya. Lantaran ‘tubuh perempuan’-nya itu banyak orang yang terpikat, seorang ‘penonton’ perempuan mengatakan ‘jika seorang pria terlihat seksi dengan bra itu, pasti itu benar-benar bra yang bagus’. Tidak hanya itu, karena ‘tubuh perempuan’ Andrej yang memikat, desainer kondang Jean Paul Gaultier dan John Galliano berani untuk memakai jasanya.
Demikianlah peran ‘payudara termodifikasi’ yang ditampil-tontonkan pada panggung teater yang bernama ‘tubuh perempuan’. Bahkan demi bagian tubuh perempuan yang termodifikasi itu, siapa pun termasuk HEMA berani meminjam ‘tubuh perempuan’ seorang laki-laki Pejic sebagai panggung.
Dan tentang payudara sebagai pelaku sesungguhnya masih satu contoh cerita yang dipentaskan pada ‘tubuh perempuan’. Belum lagi jika menyorot ‘pelaku-pelaku’ lain semisal pantat (bokong), bibir, rambut, alis, kaki, jari-jari dan seterusnya yang melekat pada ‘tubuh perempuan’.
Kini, dalam pusaran dan kepungan gerak-arus modernitas sesungguhnya ‘tubuh perempuan’ semakin sulit untuk didefinisikan. Siapa dan apakah ‘tubuh perempuan’ itu? Bagi penulis, ‘tubuh perempuan’ adalah panggung teater yang sesungguhnya. Dalam dan melalui ‘tubuh perempuan’ kita menonton imaji-imaji yang tersaji dalam tubuh yang termodifikasi.
Dulu, bayangan penulis, ‘tubuh perempuan’ adalah berpayudara besar berukuran 36B. Namun sekarang, menawarkan yang tidak berpayudara. Lantas, di mana dan bagaimana kita berpegang dan bersandar jika ‘tubuh perempuan’ tidak berpayudara? Jawabannya adalah tunggu episode berikutnya ketika bagian-bagian tubuh perempuan menampilkan dirinya dalam panggung yang bernama ‘tetaer tubuh perempuan’











































3 tanggapan kepada “Payudara, Pada Teater Tubuh Perempuan”
cyntia
Desember 16th, 2011 pada 21:28
Wow…begitukah tubuh perempuan, indah
David Bansele
Desember 16th, 2011 pada 22:51
Mungkin salah satu definisi di antara beragam definisi tentang tubuh perempuan adalah Panggung teater atau pasar yang memadukan seni (keindahan) dan bisnis (kapitalisme)..
David Bansele
Desember 16th, 2011 pada 23:08
Mungkin salah satu dari berbagai definisi tentang tubuh perempuan adalah panggung teater atau pasar di mana pertemuan antara estetika dan bisnis (kapitalisme) saling mengawini…hehe